Close Menu
Suara BSDKSuara BSDK
  • Beranda
  • Artikel
  • Berita
  • Features
  • Sosok
  • Filsafat
  • Roman
  • Satire
  • Video

Subscribe to Updates

Get the latest creative news from FooBar about art, design and business.

What's Hot

PT TUN Surabaya Bahas Desain Peradilan Pajak

11 June 2026 • 11:24 WIB

Menguji Diri Dengan Pujian

11 June 2026 • 09:26 WIB

BSDK MA Terima Kunjungan Zanzibar Judiciary Office, Bahas Peradilan Keluarga dan Mediasi

10 June 2026 • 14:42 WIB
Instagram YouTube
Suara BSDKSuara BSDK
Deskripsi Gambar
  • Beranda
  • Artikel
  • Berita
  • Features
  • Sosok
  • Filsafat
  • Roman
  • Satire
  • Video
Suara BSDKSuara BSDK
Deskripsi Gambar
  • Beranda
  • Artikel
  • Berita
  • Features
  • Sosok
  • Filsafat
  • Roman
  • Satire
  • Video
Home » Menguji Diri Dengan Pujian
Artikel

Menguji Diri Dengan Pujian

Irwan RosadyIrwan Rosady11 June 2026 • 09:26 WIB8 Mins Read
Share
Facebook Twitter Threads Telegram WhatsApp

Irwan Rosady, Chongqing, 11 Juni 2026

Di tahun ini saya berusia 43 tahun. Sebagian orang menyebut usia ini sebagai salah satu fase terbaik dalam hidup seseorang: usia ketika pengalaman mulai matang, tenaga masih cukup kuat, pikiran mulai lebih tenang, dan arah hidup terasa lebih jelas. Mungkin saya termasuk salah satu orang yang beruntung. Karier berjalan baik, kebutuhan hidup tercukupi, keluarga menjadi sumber kebahagiaan, istri yang cantik dan setia mendampingi, seorang anak laki-laki yang cerdas dan rupawan, seorang anak perempuan yang cantik dan berprestasi, kesehatan yang masih terjaga, banyak nikmat lain yang tidak mungkin saya hitung satu per satu.

Banyak orang mengatakan bahwa saya sedang berada di puncak kehidupan. Ada yang menyebutnya puncak karir, ada yang menyebutnya masa panen, ada pula yang mengatakan bahwa saya sedang menikmati buah dari kerja keras panjang. Pujian datang dari berbagai arah. Kalimat-kalimat baik diucapkan kepada saya. Sebagian terdengar tulus, sebagian terdengar membesarkan hati, sebagian lainnya mungkin hanya basa-basi sosial. Tetapi semuanya memiliki satu kesamaan, ia mengetuk pintu hati manusia bernama ego.

Pada titik ini, saya dan Anda bisa saja memiliki perspektif yang berbeda. Bisa jadi Anda membaca tulisan ini dan berkata, “Bukankah ini sedang mempertontonkan keangkuhan?” Bisa jadi Anda menilai bahwa saya sedang memamerkan keberhasilan, keluarga, jabatan, dan kenyamanan hidup. Saya tidak akan marah atas penilaian itu, pun saya juga tidak akan tersinggung. Sebab justru di situlah letak perenungan saya. Saya sedang menguji diri saya sendiri dengan pujian. Ya, dengan pujian.

Selama ini kita sering mengira bahwa ujian hidup selalu datang dalam bentuk kesusahan, sakit, kekurangan, kehilangan, kegagalan, pengkhianatan, atau hinaan. Kita merasa diuji ketika hidup menekan kita sampai ke titik paling rendah. Tetapi semakin lama saya hidup, semakin saya menyadari bahwa ujian paling halus justru sering datang dalam bentuk yang indah. Ia datang sebagai keberhasilan. Ia datang sebagai pengakuan. Ia datang sebagai tepuk tangan. Ia datang sebagai kalimat, “Anda hebat.” Ia datang dalam posisi yang terhormat. Ia datang sebagai penghormatan orang lain yang perlahan-lahan bisa membuat kita lupa bahwa semua yang kita miliki hanyalah titipan.

Pujian adalah racun yang manis. Ia tidak langsung membunuh, tetapi perlahan bisa melumpuhkan kesadaran. Saat dicela, manusia biasanya waspada. Ia segera membela diri, memperbaiki diri, atau setidaknya merasa terganggu. Tetapi saat dipuji, manusia sering membuka pintu selebar-lebarnya. Pujian masuk tanpa permisi, duduk di ruang paling dalam, lalu membisikkan kalimat berbahaya, “Mungkin memang engkau lebih baik dari orang lain”, dari sinilah kesombongan bisa tumbuh tanpa suara.

Saya tidak sedang mengatakan bahwa pujian selalu buruk. Pujian yang tulus bisa menjadi energi, penguat, dan bentuk penghargaan atas kerja keras. Anak-anak membutuhkan pujian agar percaya diri. Pasangan membutuhkan apresiasi agar merasa dihargai. Seorang pekerja membutuhkan pengakuan agar tahu bahwa jerih payahnya tidak sia-sia. Namun, bagi orang yang sedang berada pada posisi nyaman, pujian harus diperlakukan dengan hati-hati. Ia tidak boleh diminum sekaligus. Ia harus disaring dengan kesadaran.

Surat An-Najm ayat 32 mengingatkan agar manusia tidak menganggap dirinya suci, begitu pula dengan Surat Luqman ayat 18 memberi pesan agar manusia tidak berjalan di bumi dengan kesombongan, manusia diingatkan agar tidak merasa dirinya suci, sebab hanya Tuhan yang paling mengetahui siapa yang benar-benar bertakwa. Pesan ini sangat dalam. Manusia sering kali hanya melihat permukaan, jabatan, pakaian, rumah, gelar, prestasi, dan cara bicara. Tetapi Tuhan melihat sesuatu yang tidak terlihat oleh manusia, niat, keikhlasan, rasa takut, rasa syukur, dan pergulatan batin yang tersembunyi. Karena itu, ketika orang lain memuji kita, pertanyaan yang lebih penting bukanlah, “Apakah mereka benar?” melainkan, “Apakah Allah ridha?”

Amsal 27:21 menyatakan bahwa manusia diuji oleh pujian, Matius 6:1 mengingatkan agar kebajikan tidak dilakukan sekadar untuk dilihat orang, terdapat kebijaksanaan yang sangat tajam sebagaimana perak diuji dengan tempat peleburan dan emas diuji dengan perapian, demikian pula manusia diuji oleh pujian. Kalimat ini menunjukkan bahwa pujian bukan sekadar hadiah sosial, tetapi alat penguji karakter. Orang yang belum selesai dengan dirinya akan mengubah pujian menjadi panggung. Orang yang matang akan mengubah pujian menjadi cermin. Panggung membuat seseorang ingin dilihat. Cermin membuat seseorang ingin memperbaiki diri.

Dalam ajaran Hindu, Bhagavad Gita Bhagavad Gita 2:47 menekankan kewajiban berbuat tanpa keterikatan pada hasil, sedangkan Bhagavad Gita 12:13 menekankan sikap tanpa iri, rendah hati, dan seimbang dalam suka-duka, mengingatkan manusia untuk menjalankan kewajiban tanpa terikat secara berlebihan pada buah dari pekerjaannya. Ini adalah pesan yang bagi siapa pun yang sedang berada dalam dunia prestasi. Kita bekerja, berjuang, belajar, memimpin, dan melayani, tetapi kita tidak boleh menjadi hamba dari hasil, pengakuan, atau tepuk tangan. Ketika manusia terlalu melekat pada hasil, ia mudah kecewa saat gagal dan mudah sombong saat berhasil. Padahal tugas utama manusia adalah berbuat sebaik mungkin, lalu menyerahkan hasilnya kepada kebijaksanaan yang lebih tinggi.

Dalam ajaran Buddha, Dhammapada 81 menggambarkan orang bijak seperti batu karang yang tidak terguncang oleh pujian maupun celaan, terdapat gambaran indah tentang orang bijak yang tidak terguncang oleh pujian maupun celaan, seperti batu karang yang tidak goyah diterpa angin. Ini bukan berarti orang bijak tidak memiliki perasaan. Ini berarti ia tidak menyerahkan pusat dirinya kepada suara orang lain. Ia tidak terbang terlalu tinggi ketika dipuji, dan tidak hancur ketika dicela. Ia tetap berdiri di tempat yang sama: tempat kesadaran, tempat pengendalian diri, tempat kejernihan batin.

Dalam falsafah Indonesia, kita mengenal ilmu padi. Semakin berisi, semakin merunduk. Padi yang kosong berdiri tegak, tetapi padi yang berisi justru menunduk. Alam mengajarkan bahwa kematangan tidak selalu tampak sebagai ketinggian, tetapi sering tampak sebagai kerendahan hati. Orang yang benar-benar berisi tidak sibuk membuktikan bahwa dirinya berisi. Ia cukup memberi manfaat. Ia cukup menjadi teduh. Ia cukup hadir tanpa harus selalu menjelaskan siapa dirinya.

Ajaran Ki Hajar Dewantara juga memberi pelajaran penting. Ing Ngarso San Tuladha, Ing Madya Mangun Karso, Tut Wuri Handayani. Di depan memberi teladan, di tengah membangun semangat, dan di belakang memberi dorongan. Bagi saya, ini bukan hanya semboyan pendidikan, tetapi juga filsafat hidup. Semakin tinggi posisi seseorang, semakin besar kewajibannya untuk menjadi teladan. Semakin banyak orang menghormatinya, semakin besar tanggung jawabnya untuk tidak menyalahgunakan penghormatan itu. Sebab kehormatan bukan lisensi untuk merasa lebih tinggi, melainkan amanah untuk membuat orang lain ikut bertumbuh.

Dalam tradisi China, Konfusius mengajarkan bahwa manusia utama sederhana dalam ucapan, tetapi melampaui dalam tindakan. Ajaran ini masih sangat relevan dalam dunia yang semakin ramai oleh pencitraan. Hari ini, orang bisa terlihat hebat sebelum benar-benar bekerja. Orang bisa terlihat bijak sebelum benar-benar matang. Orang bisa terlihat berhasil sebelum benar-benar memberi manfaat. Konfusius mengingatkan bahwa kualitas manusia tidak terutama diukur dari seberapa indah ia berbicara tentang dirinya, tetapi dari seberapa jauh tindakannya membawa kebaikan.

Karena itu, saya ingin menjadikan pujian sebagai laboratorium batin. Setiap kali dipuji, saya ingin bertanya kepada diri sendiri, apakah pujian ini membuat saya lebih bersyukur atau lebih merasa besar? Apakah pujian ini membuat saya lebih rajin memperbaiki diri atau justru merasa cukup? Apakah pujian ini membuat saya lebih dekat kepada Tuhan atau lebih dekat kepada ego? Apakah pujian ini membuat saya lebih mencintai keluarga, lebih menghormati orang lain, lebih rendah hati kepada sesama, atau justru membuat saya diam-diam merasa lebih tinggi?

Saya juga ingin mengingat bahwa semua yang saya miliki hari ini bisa berubah. Dan Allah bisa dengan mudah mengambilnya kembali kapan saja. Jabatan bisa berganti. Kesehatan bisa menurun. Anak-anak akan tumbuh dengan jalan hidupnya masing-masing. Kekayaan bisa datang dan pergi. Pujian bisa berubah menjadi kritik. Orang yang hari ini mengangkat kita besok akan dengan cepat melupakan kita. Maka, sangat berbahaya jika pusat kebahagiaan diletakkan pada sesuatu yang mudah berubah. Hidup akan lebih tenang jika pusatnya adalah syukur, bukan tepuk tangan.

Pada akhirnya, saya menulis ini bukan untuk mengatakan bahwa saya telah berhasil rendah hati. Justru sebaliknya, saya menulis ini karena saya takut gagal. Saya takut pujian membuat saya lupa diri. Saya takut kenyamanan membuat saya kehilangan kepekaan. Saya takut keberhasilan membuat saya merasa tidak lagi membutuhkan nasihat. Saya takut dihormati manusia tetapi kehilangan ketulusan di hadapan Tuhan. Tulisan ini adalah self reminder bagi diri saya sendiri, jangan mabuk oleh pujian.

“Pujian boleh datang, tetapi ia tidak boleh menjadi rumah. Ia hanya tamu. Sambut seperlunya, dengarkan secukupnya, lalu kembalikan semuanya kepada Yang Maha Memberi. Jika pujian itu benar, jadikan ia alasan untuk bersyukur. Jika pujian itu berlebihan, jadikan ia peringatan untuk berhati-hati.” Jika pujian itu tidak layak kita terima, jadikan ia doa agar suatu hari kita benar-benar pantas menjadi pribadi yang lebih baik dari yang orang lain sangka.

Di usia 43 tahun ini, mungkin benar saya sedang berada pada fase yang baik. Tetapi fase baik bukan alasan untuk merasa selesai. Justru fase baik adalah saat paling penting untuk menjaga diri. Sebab manusia tidak hanya diuji ketika ia jatuh. Manusia juga diuji ketika ia berdiri tegak. Manusia tidak hanya diuji ketika ia kehilangan. Manusia juga diuji ketika ia memiliki. Manusia tidak hanya diuji ketika ia dicela. Manusia juga diuji ketika ia dipuji.

Dan mungkin, di situlah rahasia kedewasaan hidup, mampu menerima pujian tanpa kehilangan kerendahan hati, mampu menikmati keberhasilan tanpa melupakan asal-usul, mampu berdiri di tempat tinggi tanpa memandang rendah siapa pun, dan mampu berkata kepada diri sendiri setiap hari “Aku bukan pemilik semua ini. Aku hanya penjaga sementara. Maka jangan sombong, jangan lengah, dan jangan lupa bersyukur.”

Irwan Rosady
Kontributor
Irwan Rosady
Wakil Ketua Pengadilan Negeri Pandegelang

Untuk Mendapatkan Berita Terbaru Suara BSDK, Follow Channel WhatsApp: SUARABSDKMARI

Ego Integritas Diri Kedewasaan Hidup Kerendahan Hati Pujian Refleksi Diri Spiritualitas Syukur
Leave A Reply

Share. Facebook Twitter Threads Telegram WhatsApp Copy Link

Related Posts

INTEGRITAS DIGITAL ASN: BENTENG KEPERCAYAAN PUBLIK DI ERA ARTIFICIAL INTELLIGENCE

10 June 2026 • 13:46 WIB

Diam Bukan Damai: Membaca Silent Treatment sebagai Alasan Perceraian

10 June 2026 • 12:18 WIB

KUHP Nasional dan Ikhtiar Menjinakkan Main Hakim Sendiri

9 June 2026 • 16:00 WIB
Demo
Top Posts

Peradilan Militer Bukan Ruang Gelap: Menepis Narasi Impunitas dengan Fakta dan Akuntabilitas

9 May 2026 • 18:38 WIB

NJA India, JTC Indonesia, dan Jalan Belajar Seorang Hakim

4 May 2026 • 09:43 WIB

Bagaimana Cara Hakim dan Lembaga Peradilan menghadapi Trial By Media “Sebuah Pembelajaran dari India”

2 May 2026 • 16:11 WIB

5 Hal Menarik dalam Sistem Peradilan India yang Tidak Ditemukan di Indonesia

1 May 2026 • 13:20 WIB
Don't Miss

PT TUN Surabaya Bahas Desain Peradilan Pajak

By Redpel SuaraBSDK11 June 2026 • 11:24 WIB0

SURABAYA – Pusat Strategi Kebijakan Hukum dan Peradilan Mahkamah Agung Republik Indonesia bersama Pengadilan Tinggi…

Menguji Diri Dengan Pujian

11 June 2026 • 09:26 WIB

BSDK MA Terima Kunjungan Zanzibar Judiciary Office, Bahas Peradilan Keluarga dan Mediasi

10 June 2026 • 14:42 WIB

INTEGRITAS DIGITAL ASN: BENTENG KEPERCAYAAN PUBLIK DI ERA ARTIFICIAL INTELLIGENCE

10 June 2026 • 13:46 WIB
Stay In Touch
  • Facebook
  • YouTube
  • TikTok
  • WhatsApp
  • Twitter
  • Instagram
Top Trending
Demo

Recent Posts

  • PT TUN Surabaya Bahas Desain Peradilan Pajak
  • Menguji Diri Dengan Pujian
  • BSDK MA Terima Kunjungan Zanzibar Judiciary Office, Bahas Peradilan Keluarga dan Mediasi
  • INTEGRITAS DIGITAL ASN: BENTENG KEPERCAYAAN PUBLIK DI ERA ARTIFICIAL INTELLIGENCE
  • Menuju Malang, Ketua PTA Kepri Lepas Kontingen PTWP Daerah ke Kejurnas Tenis Beregu Piala Ketua MA RI Tahun 2026

Recent Comments

  1. KIAT MEMBANGUN DAN MENGUATKAN INTEGRITAS DI DUNIA PERADILAN – Pengadilan Militer II-11 Yogyakarta on Kiat Membangun Dan Menguatkan Integritas Di Dunia Peradilan
  2. TITIAN PANJANG PENGABDIAN PRAJURIT SETIA HINGGA AKHIR – Pengadilan Militer II-11 Yogyakarta on Titian Panjang Pengabdian Prajurit Setia Hingga Akhir
  3. Reinterpretasi Asas Ne Bis In Idem dalam Tindak Pidana Pencucian Uang: Sebuah Diskurus praktik Peradilan Kontemporer Suara BSDK Artikel on Blind Spot dalam Sistem Peradilan Pidana: Aspek “Perbuatan yang Didakwakan” dalam Konstruksi Surat Dakwaan
  4. Tipisnya Hidup dan Kematian dalam Perjalanan dari Jabalpur ke Bhopal: “Ketika Tasbih Mengalahkan Klakson” Suara BSDK Liputan Khusus Kegiatan BSDK Kerjasama dengan National Judicial Academy on Catatan Perjalanan: Dari Bhopal ke Jabalpur, “Roller Coaster” Darat Menuju Madhya Pradesh High Court
  5. Analisis Batas Fungsi Pengawasan DPR dan Prinsip Judicial Independence dalam Seruan Komisi III pada Kasus Vonis Bebas Amsal Sitepu - LP2KI FH-UH on Batas Kewenangan Konstitusional: Antara Fungsi Pengawasan DPR dan Kemandirian Kekuasaan Kehakiman
Hubungi Kami

Badan Strategi Kebijakan dan Pendidikan dan Pelatihan Hukum dan Peradilan Hukum dan Peradilan
Mahkamah Agung RI

Kantor: Jl. Cikopo Selatan Desa Sukamaju, Kec. Megamendung
Bogor, Jawa Barat 16770

Kirimkan reportase berita, opini, features dan artikel lainnya ke email suarabsdk.com : 
redpelsuarabsdk@gmail.com

Telepon: (0251) 8249520, 8249522, 8249531, 8249539

Kategori
Beranda Artikel Berita Features Sosok KRITERIA TULISAN
Filsafat Roman Satire Video BALACADAS
Connect With Us
  • Instagram
  • YouTube
  • WhatsApp
Aplikasi Internal
Logo 1 Logo 2 Logo 3 Logo 3
Logo 4 Logo 4 Logo 4 Logo 5 Logo 5
Kontributor
  • Avatar photo Ahmad Junaedi
  • Avatar photo Mohammad Khairul Muqorobin
  • Avatar photo Aman
  • Avatar photo Irvan Mawardi
  • Avatar photo Cecep Mustafa
  • Avatar photo Ari Gunawan
  • Avatar photo Muamar Azmar Mahmud Farig
  • Avatar photo Khoiruddin Hasibuan
  • Avatar photo Syailendra Anantya Prawira
  • Avatar photo Muhammad Adiguna Bimasakti
  • Avatar photo Muhammad Rizqi Hengki
  • Avatar photo Agus Digdo Nugroho
  • Avatar photo Syamsul Arief
  • Avatar photo Maria Fransiska Walintukan
  • Avatar photo Ghesa Agnanto Hutomo
  • Avatar photo Jatmiko Wirawan
  • Avatar photo Taufikurrahman
  • Avatar photo Dahlan Suherlan
  • Avatar photo Cik Basir
  • Avatar photo Yudhistira Ary Prabowo
  • Avatar photo Zulfahmi
  • Avatar photo Timbul Bonardo Siahaan
  • Avatar photo Unggul Senoaji
  • Avatar photo M. Natsir Asnawi
  • Avatar photo Muhammad Hanif Ramadhan
  • Avatar photo Syihabuddin
  • Avatar photo Eliyas Eko Setyo
  • Avatar photo Galang Adhe Sukma
  • Avatar photo Harun Maulana
  • Avatar photo I Gusti Lanang Ngurah Sidemen Putra
  • Avatar photo Sriti Hesti Astiti
  • Avatar photo Ahmad Syahrus Sikti
  • Avatar photo Abdi Munawar Daeng Mangagang
  • Avatar photo Anton Ahmad Sogiri
  • Avatar photo Firzi Ramadhan
  • Avatar photo Adji Prakoso
  • Avatar photo Iqbal Lazuardi
  • Avatar photo Riki Perdana Raya Waruwu
  • Avatar photo Sudiyo
  • Avatar photo Letkol Chk Agustono, S.H., M.H.
  • Avatar photo Ganjar Prima Anggara
  • Avatar photo Jarkasih
  • Avatar photo Khoiriyah Roihan
  • Avatar photo Redaktur SuaraBSDK
  • Avatar photo Dr. Syofyan Iskandar, S.H., M.H.
  • Avatar photo Tri Indroyono
  • Avatar photo Yoshito Siburian
  • Avatar photo Afifah Dwiandini
  • Avatar photo Anisa Yustikaningtiyas
  • Avatar photo Ardiansyah Iksaniyah Putra
  • Avatar photo Binsar Parlindungan Tampubolon
  • Avatar photo Garin Purna Sanjaya
  • Avatar photo Henri Setiawan
  • Avatar photo Irwan Rosady
  • Avatar photo Johanes
  • Avatar photo Layla Windy Puspita Sari
  • Avatar photo Marsudin Nainggolan
  • Avatar photo Marulam J Sembiring
  • Avatar photo Rafi Muhammad Ave
  • Avatar photo Teguh Setiyawan
  • Avatar photo Yasin Prasetia
  • Avatar photo Muhamad Zaky Albana
  • Avatar photo Abdul Azis Ali Ramdlani
  • Avatar photo Ang Rijal Amin
  • Avatar photo Dedi Putra
  • Avatar photo Hermanto
  • Avatar photo Indarka PP
  • Avatar photo Irene Cristna Silalahi
  • Avatar photo Nugraha Medica Prakasa
  • Avatar photo K.G. Raegen
  • Avatar photo Ria Marsella
  • Avatar photo Rikatama Budiyantie
  • Avatar photo Sahram
  • Avatar photo Siti Nadhiroh
  • Avatar photo Sugiarto
  • Avatar photo Audrey Kartika Putri
  • Avatar photo Bintoro Wisnu Prasojo, S.H.
  • Avatar photo Bismo Jiwo Agung
  • Avatar photo Buang Yusuf
  • Avatar photo Dewi Maharati
  • Avatar photo Epri Wahyudi
  • Avatar photo Fariz Prasetyo Aji
  • Avatar photo Febby Fajrurrahman
  • Avatar photo Febry Indra Gunawan Sitorus
  • Avatar photo Fitriyel Hanif
  • Avatar photo Gerry Michael Purba
  • Avatar photo Itsnaatul Lathifah
  • Avatar photo Muhammad Amin Putra
  • Avatar photo Rangga Lukita Desnata
  • Avatar photo Silveria Supanti
  • Avatar photo Trisoko Sugeng Sulistyo
  • Avatar photo Umar Dani
  • Avatar photo Yusuf Sodhiqin
  • Avatar photo Abiandri Fikri Akbar
  • Avatar photo Abi Zaky Azizi
  • Avatar photo Achmad Pratomo
  • Avatar photo Ahmad Fuad Noor Ghufron
  • Avatar photo Ahmad Faiz Shobir Alfikri
  • Avatar photo Andi Akram
  • Avatar photo Arsyawal
  • Avatar photo Bagus Partha Wijaya
  • Avatar photo Bayu Akbar Wicaksono
  • Avatar photo Cok Istri Bhagawanthi Pemayun
  • Avatar photo David Pasaribu
  • Avatar photo Dendi Sutiyoso
  • Avatar photo Edi Hudiata
  • Avatar photo Enrico Simanjuntak
  • Avatar photo Fauzan Prasetya
  • Avatar photo Fauzan Arrasyid
  • Avatar photo Fery Rochmad Ramadhan
  • Avatar photo Gerry Geovant Supranata Kaban
  • Avatar photo Hartanto Ariesyandi
  • Avatar photo Herjuna Praba Wiesesa
  • Avatar photo Idik Saeful Bahri
  • Avatar photo Khoirul Anwar
  • Avatar photo Mentari Wahyudihati
  • Avatar photo Muhamad Iqbal
  • Avatar photo Novritsar Hasintongan Pakpahan
  • Avatar photo Nugraha Wisnu Wijaya
  • Avatar photo Raden Anggara Kurniawan
  • Avatar photo Raden Heru Wibowo Sukaten
  • Avatar photo Rahimulhuda Rizki Alwi
  • Avatar photo Rahmad Ramadhan Hasibuan
  • Avatar photo Ranggi Adiwangsa Yusron
  • Avatar photo Samsul Zakaria
  • Avatar photo Dr. Saut Erwin Hartono A. Munthe, S.H., M.H.
  • Avatar photo Yudhi Reksa Perdana
  • Avatar photo Abdul Ghani
  • Avatar photo Dr. Drs. H. Abdul Hadi, M.H.I.
  • Avatar photo Ach. Jufri
  • Avatar photo Achmad Fikri Oslami, S.H.I., M.H.I.
  • Avatar photo Adimas Leo Firmansah
  • Avatar photo Agenda Citra Muhammad
  • Avatar photo Agus Suharsono
  • Avatar photo Ahmad Efendi
  • Avatar photo Ahmad Rizza Habibi
  • Avatar photo Alep Priyoambodo
  • Avatar photo Alfajar Nugraha
  • Avatar photo Anderson Peruzzi Simanjuntak
  • Avatar photo Andhika Prayoga
  • Avatar photo Andi Aswandi Tashar
  • Avatar photo Andrie Gunawan
  • Avatar photo Anggi Permana
  • Avatar photo Anna Yulina
  • Avatar photo Annisa Nur Alam
  • Avatar photo Arief Sapto Nugroho
  • Avatar photo Arie Fitriansyah
  • Avatar photo Mayor Chk Arif Dwi Prasetyo
  • Avatar photo Armansyah
  • Avatar photo Aryaniek Andayani
  • Avatar photo Ashhab Triono
  • Avatar photo Aulia Rochmani Lazuardi
  • Avatar photo Bilma Diffika
  • Avatar photo Bony Daniel
  • Avatar photo Budi Hermanto
  • Avatar photo Budi Suhariyanto
  • Avatar photo Christopher Hutapea
  • Avatar photo Deka Rachman Budihanto
  • Avatar photo Effendi Mukhtar
  • Avatar photo Egia Rasido Tarigan
  • Avatar photo Eka Sentausa
  • Avatar photo Fahri Bachmid
  • Avatar photo Fahri Gunawan Siagian
  • Avatar photo Fajar Widodo
  • Avatar photo Fatkul Mujib, S.H.I., M.H.
  • Avatar photo Febriansyah Rozarius
  • Avatar photo Friska Ariesta Aritedi
  • Avatar photo Gineng Pratidina
  • Avatar photo Hastuti
  • Avatar photo Hendro Yatmoko
  • Avatar photo Ibnu Abas Ali
  • Avatar photo I Made Sukadana
  • Indra Tua Hasangapon Harahap
  • Avatar photo Ira Soniawati
  • Avatar photo Irfan Dibar
  • Avatar photo Muhammad Irfansyah
  • Avatar photo Letkol Kum Irwan Tasri, S.H., M.H., M.Han.
  • Avatar photo Iwan Lamganda Manalu
  • Avatar photo Jusran Ipandi
  • Avatar photo Karell Mawla Ibnu Kamali
  • Avatar photo Khaimi
  • Avatar photo Khoerul Umam
  • Avatar photo Linora Rohayu
  • Avatar photo Assc. Prof. Dr. Mardi Candra, S.Ag., M.Ag., M.H., CPM., CPArb.
  • Avatar photo Marwan Ibrahim Piinga
  • Avatar photo Marwanto
  • Avatar photo Marzha Tweedo Dikky Paraanugrah
  • Avatar photo Maulana Aulia
  • Avatar photo Maulia Martwenty Ine
  • Avatar photo Mira Maulidar
  • Avatar photo Misbahul Anwar
  • Avatar photo Muhamad Fadillah
  • Avatar photo Muhamad Ilham Azizul Haq
  • Avatar photo Muhamad Ridwan
  • Avatar photo Muhammad Fadllullah
  • Avatar photo Muhammad Irfan Syahputra
  • Avatar photo Muhammad Muhyi Arrasyid, S.Psi.
  • Avatar photo Muhammad Bagus Tri Prasetyo
  • Avatar photo Murdian
  • Avatar photo Nia Chasanah
  • Avatar photo Niko Wijaya
  • Avatar photo Nisrina Irbah Sati
  • Avatar photo Letkol CHK Nur Sakdi, S.H, M.H.
  • Avatar photo Nur Latifah Hanum
  • Avatar photo Pita Permatasari
  • Avatar photo H .A.S Pudjoharsoyo
  • Avatar photo Putra Nova A.S
  • Avatar photo Putri Pebrianti
  • Avatar photo R. Deddy Harryanto
  • Avatar photo Radityo Muhammad Harseno
  • Avatar photo Rahmi Fattah
  • Avatar photo Randy Viyatadhika
  • Avatar photo Ratih Gumilang
  • Avatar photo Reindra Jasper H. Sinaga, S.H. Hakim Pengadilan Negeri Tanjung Balai Karimun
  • Avatar photo Muh Ridha Hakim
  • Avatar photo Rizal Abdurrahman
  • Avatar photo Rizal Arif Fitria
  • Avatar photo Romi Hardhika
  • Avatar photo Sandro Imanuel Sijabat
  • Avatar photo Sbong Sinarok Martin, S.H., M.H.
  • Avatar photo Selexta Apriliani
  • Avatar photo Septia Putri Riko
  • Avatar photo Septriono Situmorang
  • Avatar photo Siti Anis
  • Avatar photo Slamet Turhamun
  • Avatar photo Sobandi
  • Avatar photo Stefanus Dwi Putra Medisa
  • Avatar photo Subiyatno
  • Avatar photo Tri Baginda Kaisar Abdul Gafur
  • Avatar photo Tri Cahya Indra Permana
  • Avatar photo Urif Syarifudin
  • Avatar photo Wanda Rara Farezha,S.H.
  • Avatar photo Wienda Kresnantyo
  • Avatar photo Yoshelsa Wardhana
  • Avatar photo Yukiatiqa Afifah
  • Avatar photo Marsekal Muda TNI Dr. Yuwono Agung Nugroho, S.H., M.H.
Lihat semua kontributor →

Type above and press Enter to search. Press Esc to cancel.