Malang— Ketua Mahkamah Agung Republik Indonesia secara resmi membuka Kejuaraan Nasional Tenis Beregu Ke-XX Piala Ketua Mahkamah Agung RI Tahun 2026 di Stadion Gajayana, Malang, Sabtu, 13 Juni 2026. Pembukaan berlangsung meriah dan diikuti ribuan peserta serta kontingen dari berbagai satuan kerja peradilan di seluruh Indonesia.
Rangkaian pembukaan diawali dengan defile kontingen yang memenuhi lapangan Stadion Gajayana. Beragam atribut daerah dan identitas satuan kerja mewarnai suasana kegiatan, sekaligus memperlihatkan kebersamaan keluarga besar peradilan dari seluruh penjuru Tanah Air.
Dalam laporannya, Ketua Panitia, Yanto menyampaikan bahwa kejuaraan berlangsung pada 12–16 Juni 2026 dan diikuti lebih dari 1.300 peserta. Kegiatan tersebut tidak hanya menjadi ajang pertandingan, tetapi juga sarana mempererat silaturahmi, membangun energi positif, serta memperkuat persatuan dan kebersamaan warga peradilan.

Sementara dalam sambutannya sebagai Ketua Pusat PTWP, Prim Haryadi menegaskan bahwa Tema yang diusung dalam perhelatan tahun ini menegaskan semangat untuk bersatu, bangkit bersama, dan menghadapi berbagai tantangan zaman. Tema tersebut bukan sekadar slogan, melainkan refleksi semangat keluarga besar peradilan untuk terus memperkuat soliditas, kreativitas, sportivitas, dan integritas dalam pelaksanaan tugas.
Pembukaan kejuaraan juga dihadiri Gubernur Jawa Timur, Khofifah Indar Parawansa. Kehadiran pemerintah daerah menjadi bentuk dukungan terhadap penyelenggaraan kegiatan olahraga berskala nasional yang mempertemukan aparatur peradilan dari berbagai daerah.
Dalam sambutannya, Ketua Mahkamah Agung, Prof Sunarto menegaskan bahwa tenis telah menjadi olahraga yang mentradisi di lingkungan warga peradilan selama kurang lebih empat dekade. Tradisi tersebut tidak hanya menghadirkan kompetisi, tetapi juga menjadi ruang untuk membangun persaudaraan, karakter, dan nilai-nilai yang relevan dengan pelaksanaan tugas peradilan.
Menurut Ketua Mahkamah Agung, bertanding pada hakikatnya bukan semata-mata soal kalah atau menang. Hal yang lebih penting adalah memahami dan menikmati setiap proses pertandingan, menghormati lawan, serta menerima apa pun hasil akhirnya.
“Dalam pertandingan, kita harus mampu menikmati proses, menghormati lawan, dan menjunjung tinggi sportivitas, baik di dalam maupun di luar lapangan,” ujarnya.
Ketua Mahkamah Agung menekankan bahwa nilai sportivitas memiliki relevansi langsung dengan tugas aparatur peradilan. Sebagaimana seorang pemain menghormati keputusan wasit, aparatur peradilan juga harus menghormati hukum, menaati aturan, serta bersedia menerima konsekuensi dari setiap tindakan dan keputusan yang diambil.

Kemenangan yang sesungguhnya, lanjutnya, tidak hanya diperoleh melalui hasil pertandingan. Kemenangan juga tercapai ketika seseorang mampu mengalahkan ego, menahan diri, serta tetap menjaga kehormatan dan integritas dalam setiap keadaan. Kejuaraan nasional ini karena itu harus dijadikan momentum untuk memperbaiki dan meningkatkan integritas, baik pada tingkat individu maupun kelembagaan. Integritas di lapangan tercermin dari keberanian menutup setiap peluang untuk berbuat curang. Dalam pelaksanaan tugas peradilan, integritas diuji ketika aparatur mampu bertahan dari tekanan, kepentingan, dan berbagai godaan yang datang dari para pihak.
Ketua Mahkamah Agung mengingatkan bahwa satu poin yang diperoleh melalui kecurangan tidak akan menghadirkan kehormatan maupun keberkahan. Prinsip serupa juga berlaku dalam pekerjaan dan pelaksanaan tugas peradilan.
“Dalam pertandingan, satu poin yang diperoleh dengan cara curang tidak akan mendapatkan kehormatan dan keberkahan. Demikian pula dalam pekerjaan, keberhasilan yang dicapai melalui kecurangan tidak memiliki kehormatan,” tegasnya.
Olahraga, menurut Ketua Mahkamah Agung, mengajarkan disiplin, kesabaran, ketekunan, dan komitmen yang kuat. Nilai-nilai tersebut sangat dibutuhkan dalam membangun badan peradilan yang kuat, berintegritas, dan dipercaya masyarakat.
Kejuaraan ini diharapkan tidak hanya melahirkan para pemenang di lapangan, tetapi juga memperkuat persaudaraan dan kesadaran kolektif seluruh warga peradilan. Dari Stadion Gajayana, semangat sportivitas diharapkan terus dibawa ke ruang kerja dan ruang sidang sebagai bagian dari ikhtiar mewujudkan peradilan yang bersih, profesional, dan bermartabat.
Untuk Mendapatkan Berita Terbaru Suara BSDK, Follow Channel WhatsApp:
SUARABSDKMARI

