Close Menu
Suara BSDKSuara BSDK
  • Beranda
  • Artikel
  • Berita
  • Features
  • Sosok
  • Filsafat
  • Roman
  • Satire
  • Video

Subscribe to Updates

Get the latest creative news from FooBar about art, design and business.

What's Hot

Kiat Membangun Dan Menguatkan Integritas Di Dunia Peradilan

10 February 2026 • 23:08 WIB

Integritas Peradilan Dalam Angka: Ketua Mahkamah Agung Buka Data Kepercayaan Publik Dan Tegaskan Zero Tolerance

10 February 2026 • 21:58 WIB

Bentuk Konkret Pengaruh Pelaksanaan Peradilan Dalam Mewujudkan Kesejahteraan Rakyat

10 February 2026 • 21:12 WIB
Instagram YouTube
Suara BSDKSuara BSDK
Deskripsi Gambar
  • Beranda
  • Artikel
  • Berita
  • Features
  • Sosok
  • Filsafat
  • Roman
  • Satire
  • Video
Suara BSDKSuara BSDK
Deskripsi Gambar
  • Beranda
  • Artikel
  • Berita
  • Features
  • Sosok
  • Filsafat
  • Roman
  • Satire
  • Video
Home » Reductio Ad Absurdum: Ketika Realitas Menolak Kontradiksi
Features Filsafat

Reductio Ad Absurdum: Ketika Realitas Menolak Kontradiksi

Yasin PrasetiaYasin Prasetia16 January 2026 • 12:45 WIB4 Mins Read
Share
Facebook Twitter Threads Telegram WhatsApp

“Reductio Ad Absurdum, yang sangat dicintai Euclid, adalah salah satu senjata matematikawan paling ampuh. Keampuhannya jauh melampaui gambit apapun dalam permainan catur.” (G.H. Hardy)

Bertrand Russell, seorang filsuf asal Inggris mengemukakan sebuah paradoks terkenal yang kemudian disebut sebagai paradoks tukang cukur. Sebuah pertanyaan menarik muncul dalam konteks ini, apakah tukang cukur yang “hanya mencukur orang yang tidak mencukur dirinya sendiri” akan mencukur dirinya sendiri? Jika seseorang mengajukan klaim tukang cukur itu akan mencukur dirinya sendiri, maka berdasarkan aturan, dia tidak akan mencukur dirinya sendiri karena ia “hanya mencukur orang yang tidak mencukur dirinya sendiri”. Kontradiksi ini harus dihindari sehingga klaim bahwa tukang cukur itu akan mencukur dirinya sendiri harus ditolak. Demikianlah reductio ad absurdum digunakan dalam upaya membatalkan sebuah klaim.

Reductio ad absurdum dikenal sebagai metode logika dan argumentasi untuk menyanggah suatu klaim atau pernyataan dengan menunjukkan jika pernyataan itu benar, maka akan mengarah kepada kesimpulan yang kontradiktif, konyol, atau absurd. Ketika kita akan menolak sebuah klaim dengan metode reductio ad absurdum, kita perlu asumsikan klaim tersebut benar. Kita kemudian mengembangkan logika dari asumsi tersebut hingga mencapai kesimpulan yang kontradiktif, konyol, atau absurd. Dari situ kita bisa menyimpulkan bahwa klaim tersebut harus ditolak.

Prinsip reductio ad absurdum berdiri tegak dalam sistem logika Aristoteles yang bersifat kaku. Dalam sistem logika Aristoteles, pernyataan tidak diizinkan benar dan salah secara bersamaan. Prinsip ini sangat mudah diterima dalam kehidupan sehari-hari yang bersifat makroskopis, karena seseorang tidak mungkin berada di Jakarta sekaligus berada di luar Jakarta secara bersamaan. Secara sederhana, realitas tidak mengizinkan adanya kontradiksi.

Baca Juga  Filsafat yang Menggetarkan Nurani: Hakim Indonesia Menyelami Makna Kehidupan, Kebenaran, dan Keadilan

Walaupun prinsip reductio ad absurdum tampak sangat kuat, namun ia tidak bisa sembarangan digunakan di setiap kondisi. Dalam konteks pembuktian di persidangan, fakta empiris tidak bersifat tertutup. Informasi juga bisa tidak tersedia, disembunyikan, salah catat, atau ambigu secara makna. Oleh karena itu, prinsip reductio ad absurdum tidak bisa digunakan sebagai alat bukti, namun ia bisa digunakan sebagai alat yang ampuh untuk menguji konsistensi argumen dan alat penyaring klaim. Jika suatu rangkaian argumen menghasilkan kontradiksi internal atau bertentangan dengan prinsip umum, maka klaim itu gugur secara rasional bahkan sebelum bukti lengkap ada. 

Sebuah prinsip yang perlu diperhatikan dalam penerapan metode ini adalah absennya informasi tidak berarti menjadi kebenaran negasi. Dalam konteks apapun, kita tidak boleh menyangkal pernyataan seseorang hanya karena ketiadaan bukti empiris. Namun, kita boleh berkata: “Jika P benar maka akan terjadi Q. Tapi Q mustahil terjadi atau bertentangan dengan fakta tetap. Jadi, P tidak mungkin benar”. 

Penjelasan sebelumnya mempertegas bahwa logika Aristoteles memang cocok dengan kehidupan manusia, namun tidak seluruhnya. Ada wilayah tertentu dalam ranah kehidupan manusia yang penuh ketidakpastian, bersifat probabilistik, serta penuh intensi tersembunyi dan konflik makna. Apakah berarti kontradiksi bisa sah dan legal dalam kehidupan manusia? Tentu sangat bisa, namun ini bukan karena realitas mengizinkan kontradiksi, namun karena norma tidak sama dengan realitas. Selain itu, sistem norma bekerja pada pluralitas level seperti hirarki norma, ruang lingkup norma (lex specialis vs lex generalis), waktu berlakunya hingga tujuannya. Jadi, bisa dikatakan bahwa kontradiksi ini hanya terjadi pada level normatif-institusional, bukan pada level ontologis. Ini menjelaskan mengapa dua hal yang bertentangan bisa sama-sama sah dalam suatu sistem norma. Sekali lagi, ini bukan pelanggaran logika Aristoteles, karena sah menurut norma tidak berarti benar secara ontologis.

Baca Juga  Menjadi Cerdas dan Berintegritas: Perjalanan Pribadi Menyelami Filsafat Tiongkok

Reductio ad absurdum yang berada dalam domain logika Aristotelian bisa berperan dalam mendeteksi ketegangan internal, memaksa eksplisitnya asumsi normatif, hingga membatasi manipulasi. Secara persis, ia tidak memutus, namun ia menelanjangi. Oleh karena itu, metode ini cocok digunakan sebagai kritik atau satire terhadap sistem politik, birokrasi, atau norma yang apabila diteruskan ternyata absurd sekali. Karena sifatnya yang frontal dan kaku, sistem logika Aristoteles dengan seperangkat alatnya bisa digunakan di level fakta dan inferensi, namun begitu kita masuk sistem norma, logika digantikan oleh hermeneutika dan kebijaksanaan praktis.

Pada akhirnya, saya teringat sebuah nasihat dari seorang profesor ketika mengajar mata kuliah Filsafat Matematika. Beliau berkata: “Ingat, logika tidak menjamin kebenaran. Logika hanya alat untuk menjamin kesahihan dalam penarikan kesimpulan. Benar atau tidaknya kesimpulan bergantung dari kebenaran premis-premisnya.”

yasin prasetia
Yasin Prasetia
Pengembang Teknologi Pembelajaran Badan Strajak Diklat Kumdil
Yasin Prasetia
Kontributor
Yasin Prasetia
Pengembang Teknologi Pembelajaran Badan Strajak Diklat Kumdil

Untuk Mendapatkan Berita Terbaru Suara BSDK, Follow Channel WhatsApp: SUARABSDKMARI

filsafat
Share. Facebook Twitter Threads Telegram WhatsApp Copy Link

Related Posts

Integritas Peradilan Dalam Angka: Ketua Mahkamah Agung Buka Data Kepercayaan Publik Dan Tegaskan Zero Tolerance

10 February 2026 • 21:58 WIB

Bentuk Konkret Pengaruh Pelaksanaan Peradilan Dalam Mewujudkan Kesejahteraan Rakyat

10 February 2026 • 21:12 WIB

Sistem Pengawasan “No Mercy” Untuk Melayakkan Kesejahteraan Finansial Hakim

10 February 2026 • 21:03 WIB
Leave A Reply

Demo
Top Posts

Integritas Peradilan Dalam Angka: Ketua Mahkamah Agung Buka Data Kepercayaan Publik Dan Tegaskan Zero Tolerance

10 February 2026 • 21:58 WIB

Bentuk Konkret Pengaruh Pelaksanaan Peradilan Dalam Mewujudkan Kesejahteraan Rakyat

10 February 2026 • 21:12 WIB

Sistem Pengawasan “No Mercy” Untuk Melayakkan Kesejahteraan Finansial Hakim

10 February 2026 • 21:03 WIB

Alarm Integritas Menyala, Ketua Mahkamah Agung Minta Hakim Bercermin Dan Berbenah

10 February 2026 • 20:53 WIB
Don't Miss

Kiat Membangun Dan Menguatkan Integritas Di Dunia Peradilan

By Marsekal Muda TNI Dr. Yuwono Agung Nugroho, S.H., M.H.10 February 2026 • 23:08 WIB0

Penguatan integritas aparatur peradilan merupakan fondasi utama bagi terwujudnya lembaga peradilan yang dipercaya publik. Integritas…

Integritas Peradilan Dalam Angka: Ketua Mahkamah Agung Buka Data Kepercayaan Publik Dan Tegaskan Zero Tolerance

10 February 2026 • 21:58 WIB

Bentuk Konkret Pengaruh Pelaksanaan Peradilan Dalam Mewujudkan Kesejahteraan Rakyat

10 February 2026 • 21:12 WIB

Sistem Pengawasan “No Mercy” Untuk Melayakkan Kesejahteraan Finansial Hakim

10 February 2026 • 21:03 WIB
Stay In Touch
  • Facebook
  • YouTube
  • TikTok
  • WhatsApp
  • Twitter
  • Instagram
Top Trending
Demo

Recent Posts

  • Kiat Membangun Dan Menguatkan Integritas Di Dunia Peradilan
  • Integritas Peradilan Dalam Angka: Ketua Mahkamah Agung Buka Data Kepercayaan Publik Dan Tegaskan Zero Tolerance
  • Bentuk Konkret Pengaruh Pelaksanaan Peradilan Dalam Mewujudkan Kesejahteraan Rakyat
  • Sistem Pengawasan “No Mercy” Untuk Melayakkan Kesejahteraan Finansial Hakim
  • Alarm Integritas Menyala, Ketua Mahkamah Agung Minta Hakim Bercermin Dan Berbenah

Recent Comments

No comments to show.
Hubungi Kami

Badan Strategi Kebijakan dan Pendidikan dan Pelatihan Hukum dan Peradilan Hukum dan Peradilan
Mahkamah Agung RI

Kantor: Jl. Cikopo Selatan Desa Sukamaju, Kec. Megamendung
Bogor, Jawa Barat 16770

Kirimkan reportase berita, opini, features dan artikel lainnya ke email suarabsdk.com :  redpelsuarabsdk@gmail.com

Telepon: (0251) 8249520, 8249522, 8249531, 8249539

Kategori
Beranda Artikel Berita Features Sosok
Filsafat Roman Satire Video
Connect With Us
  • Instagram
  • YouTube
  • WhatsApp
Aplikasi Internal
Logo 1 Logo 2 Logo 3 Logo 3
Logo 4 Logo 4 Logo 4 Logo 5 Logo 5
Kontributor
  • Avatar photo Agus Digdo Nugroho
  • Avatar photo Irvan Mawardi
  • Avatar photo Cecep Mustafa
  • Avatar photo Taufikurrahman
  • Avatar photo Ari Gunawan
  • Avatar photo Syamsul Arief
  • Avatar photo Mohammad Khairul Muqorobin
  • Avatar photo Muhammad Adiguna Bimasakti
  • Avatar photo Timbul Bonardo Siahaan
  • Avatar photo Khoiruddin Hasibuan
  • Avatar photo Syailendra Anantya Prawira
  • Avatar photo Rafi Muhammad Ave
  • Avatar photo Muamar Azmar Mahmud Farig
  • Avatar photo Harun Maulana
  • Avatar photo M. Natsir Asnawi
  • Avatar photo Eliyas Eko Setyo
  • Avatar photo Syihabuddin
  • Avatar photo Indarka PP
  • Avatar photo Irwan Rosady
  • Avatar photo Jatmiko Wirawan
  • Avatar photo Maria Fransiska Walintukan
  • Avatar photo Marsudin Nainggolan
  • Avatar photo Nugraha Medica Prakasa
  • Avatar photo K.G. Raegen
  • Avatar photo Redaktur SuaraBSDK
  • Avatar photo Rikatama Budiyantie
  • Avatar photo Teguh Setiyawan
  • Avatar photo Abdul Azis Ali Ramdlani
  • Avatar photo Ahmad Junaedi
  • Avatar photo Anton Ahmad Sogiri
  • Avatar photo Cik Basir
  • Avatar photo Epri Wahyudi
  • Avatar photo Fariz Prasetyo Aji
  • Avatar photo Firzi Ramadhan
  • Avatar photo Ghesa Agnanto Hutomo
  • Avatar photo Jarkasih
  • Avatar photo Muhammad Hanif Ramadhan
  • Avatar photo H .A.S Pudjoharsoyo
  • Avatar photo Riki Perdana Raya Waruwu
  • Avatar photo Sahram
  • Avatar photo Umar Dani
  • Avatar photo Unggul Senoaji
  • Avatar photo Yasin Prasetia
  • Avatar photo Muhamad Zaky Albana
  • Avatar photo Abiandri Fikri Akbar
  • Avatar photo Binsar Parlindungan Tampubolon
  • Avatar photo Buang Yusuf
  • Avatar photo Dedi Putra
  • Avatar photo Fauzan Prasetya
  • Avatar photo Fauzan Arrasyid
  • Avatar photo Ganjar Prima Anggara
  • Avatar photo Gerry Geovant Supranata Kaban
  • Avatar photo Idik Saeful Bahri
  • Avatar photo Khoirul Anwar
  • Avatar photo Nugraha Wisnu Wijaya
  • Avatar photo Ria Marsella
  • Avatar photo Ahmad Syahrus Sikti
  • Avatar photo Tri Indroyono
  • Avatar photo Yoshito Siburian
  • Avatar photo Abdul Ghani
  • Avatar photo Abdul Hadi
  • Avatar photo Agus Suharsono
  • Avatar photo Ahmad Fuad Noor Ghufron
  • Avatar photo Ahmad Rizza Habibi
  • Avatar photo Anderson Peruzzi Simanjuntak
  • Avatar photo Anna Yulina
  • Avatar photo Ardiansyah Iksaniyah Putra
  • Avatar photo Mayor Chk Arif Dwi Prasetyo
  • Avatar photo Arsyawal
  • Avatar photo Audrey Kartika Putri
  • Avatar photo Bony Daniel
  • Avatar photo Budi Hermanto
  • Avatar photo Budi Suhariyanto
  • Avatar photo Effendi Mukhtar
  • Avatar photo Enrico Simanjuntak
  • Avatar photo Fahri Bachmid
  • Avatar photo Fahri Gunawan Siagian
  • Avatar photo Fajar Widodo
  • Avatar photo Febry Indra Gunawan
  • Avatar photo Fery Rochmad Ramadhan
  • Avatar photo Fitriyel Hanif
  • Avatar photo Friska Ariesta Aritedi
  • Avatar photo Gerry Michael Purba
  • Avatar photo Gineng Pratidina
  • Avatar photo Hartanto Ariesyandi
  • Avatar photo Hastuti
  • Avatar photo Henri Setiawan
  • Avatar photo Herjuna Praba Wiesesa
  • Avatar photo Ibnu Abas Ali
  • Avatar photo I Made Sukadana
  • Avatar photo Iqbal Lazuardi
  • Avatar photo Ira Soniawati
  • Avatar photo Irene Cristna Silalahi
  • Avatar photo Muhammad Irfansyah
  • Avatar photo Jusran Ipandi
  • Avatar photo Khoerul Umam
  • Avatar photo Layla Windy Puspita Sari
  • Avatar photo Marwanto
  • Avatar photo Marzha Tweedo Dikky Paraanugrah
  • Avatar photo Maulana Aulia
  • Avatar photo Muhammad Amin Putra
  • Avatar photo Novritsar Hasintongan Pakpahan
  • Avatar photo Nur Latifah Hanum
  • Avatar photo Putra Nova A.S
  • Avatar photo Putri Pebrianti
  • Avatar photo R. Deddy Harryanto
  • Avatar photo Raden Heru Wibowo Sukaten
  • Avatar photo Radityo Muhammad Harseno
  • Avatar photo Rahimulhuda Rizki Alwi
  • Avatar photo Rahmi Fattah
  • Avatar photo Rangga Lukita Desnata
  • Avatar photo Sbong Sinarok Martin, S.H., M.H.
  • Avatar photo Slamet Turhamun
  • Avatar photo Sobandi
  • Avatar photo Sudiyo
  • Avatar photo Yudhistira Ary Prabowo
  • Avatar photo Marsekal Muda TNI Dr. Yuwono Agung Nugroho, S.H., M.H.
  • Avatar photo Dr. Zulfahmi, S.H., M.Hum.
Lihat semua kontributor →

Type above and press Enter to search. Press Esc to cancel.