Hari ini, tepat 125 tahun lalu (6 Juni 1901) seorang tokoh besar dalam sejarah bangsa dan dunia lahir. Ia adalah Bung Karno, salah seorang founding fathers Indonesia, yang juga dikenal dengan ragam pemikirannya yang mendunia. Putra Sang Fajar tersebut, sering menjadi inisiator berbagai forum internasional dalam menentang anti kolonialisme dan terbangunnya kesetaraan dunia.
Tidak hanya pandai menggorganisir massa dan menggelorakan semangat rakyat lewat pidato-pidatonya, ia juga dikenal seorang polygot yang menguasai berbagai bahasa asing. Kepribadiannya unik, sikapnya tegas dan pemikirannya tajam khususnya dalam menghantam jantung kolonialisme. Teguhnya sikap anti kolonialisme, terbangun sejak Soekarno muda sebagaimana tertuang dalam buku “di Bawah Bendera Revolusi”.
Namun, sisi lain ia dikenal juga sebagai pemimpin yang mencintai keindahan. Bahkan riwayat menceritakan Bung Karno turun langsung menyiram dan merawat tanaman di lingkungan istana negara, termasuk hafal nama-nama latin tanaman dimaksud. Kecintaanya terhadap seni dan keindahan, membuat perasaannya halus dalam menyelesaikan suatu persoalan yang terjadi, meskipun seolah bertentangan dengan sikapnya dalam masalah lainnya.
Satu peristiwa yang cukup menarik, ketika Bung Karno memberikan amnesti kepada Allen Pope, pilot pesawat Amerika dan juga agen CIA yang sebelumnya divonis hukuman mati oleh pengadilan, karena membantu pemberontakan Permesta dengan menjatuhkan berbagai bom di wilayah timur Indonesia.
Isteri Pope, minta kepada Bung Karno dan menangis mencurahkan seluruh kesedihannya, serta memohon agar suaminya diampuni. Demikian juga ibu Pope dan saudara perempuannya datang mengunjungi Soekarno dengan sedu sedan. Tangis ketiga orang tersebut, membuat Soekarno terenyuh dan tidak dapat menahanan perasanannya.
Pada akhirnya setelah Pope, keluar dari rumah sakit dan diselamatkan nyawanya oleh dokter-dokter Indonesia, tanpa mengamputasi kakinya. Kemudian saat, Pope dibawa ke penjara untuk menunggu eksekusi matinya. Bung Karno menyampaikan pesan kepadanya, “atas kemurahan hati presiden engkau diberi ampun”.
Dalam pesan Bung Karno kepada Pope disampaikan “sekarang kembalilah engkau ke Amerika, jangan memperlihatkan diri di muka umum dan membuat cerita sensasi di surat kabar. Pulang saja, sembunyikan dirimu dan kami akan melupakan semua yang telah terjadi”.
Pope patuh terhadap pesan Bung Karno dan ia kembali ke Amerika, tanpa melakukan tindakan sensasional di hadapan media. Ia dimaafkan dan diberikan ampun oleh Presiden, meskipun keterlibatannya membantu pemberontakan yang berlangsung 3 tahun tetapi dikenang masyarakat Indonesia.
Demikianlah salah satu penggalan peristiwa kemanusiaan di dalam buku Bung Karno Penyambung Lidah Rakyat Indonesia.
Sebagai informasi buku yang menjadi bacaan wajib penikmat sejarah Indonesia tersebut, terdiri dari 498 halaman berisikan ragam cerita penting dalam kehidupan Presiden RI pertama dan disertai beberapa foto bersejarah. Buku dimaksud, merangkum hasil wawancara jurnalis asing bernama Cindy Adams dengan Presiden Soekarno.
Buku Bung Karno Penyambung Lidah Rakyat Indonesia, yang diterbitkan oleh Ketut Masagung Corporation juga terdapat dalam berbagai bahasa asing seperti Inggris, Arab, Jepang dan Cina.
Untuk Mendapatkan Berita Terbaru Suara BSDK, Follow Channel WhatsApp: SUARABSDKMARI


