Malam di Megamendung selalu punya cara sendiri untuk membuat seseorang berpikir.
Di antara dinginnya udara pegunungan dan kesibukan pelatihan, Ananta duduk bersama Rendra setelah seluruh rangkaian kegiatan selesai. Di tangan mereka ada catatan materi pelatihan, tetapi di pikiran mereka ada pertanyaan yang lebih besar: tentang tanggung jawab, tentang kebenaran, dan tentang arti sebuah integritas.
Rendra membuka percakapan.
“Tan, pernah dengar lagu Batas Cahaya dari SID?”
Ananta tersenyum.
“Pernah. Lagu itu seperti mengingatkan manusia bahwa dalam hidup selalu ada pilihan. Ada batas antara terang dan gelap, antara kebenaran dan kebohongan.”
Rendra mengangguk.
“Dan menurutku, itu sangat dekat dengan tugas kita.”
Karena menjadi Panitera/Panitera Pengganti bukan hanya tentang menyelesaikan pekerjaan.
Bukan hanya tentang mengetik berita acara.
Bukan hanya tentang memastikan berkas berpindah dari satu meja ke meja berikutnya.
Lebih dari itu, Panitera/Panitera Pengganti berada pada posisi yang menjaga agar sebuah proses peradilan tetap memiliki jejak yang benar.
Dalam lagu Batas Cahaya, ada sebuah pertanyaan yang terasa seperti mengetuk hati manusia:
“Apa kau bagian dari kegelapan? Apa kau berdiri bersama dusta? Ataukah kau yang akan menghancurkan topengnya?”
Bagi Ananta, pertanyaan itu bukan hanya tentang kehidupan di luar sana.
Pertanyaan itu juga relevan bagi setiap insan peradilan.
Karena setiap hari seseorang selalu dihadapkan pada pilihan.
Apakah hanya menjalankan rutinitas?
Ataukah benar-benar menjaga nilai?
Apakah hanya mengejar selesai?
Ataukah memastikan semuanya dilakukan dengan benar?

Di ruang pelatihan, Ananta dan Rendra mendapatkan pemahaman bahwa tugas kepaniteraan memiliki dimensi yang lebih besar dari sekadar administrasi.
Materi Kode Etik dan Pedoman Perilaku Panitera/Panitera Pengganti mengingatkan bahwa seorang aparatur peradilan harus memiliki sikap profesional, berintegritas, dan mampu menjaga kepercayaan publik.
Rendra berkata,
“Kadang orang hanya melihat hasil akhir sebuah perkara. Tapi sedikit yang memahami bahwa sebelum sebuah putusan dibaca, ada proses panjang yang dijaga oleh banyak tangan.”
Dan salah satu tangan itu adalah tangan Panitera/Panitera Pengganti.
Mereka kemudian mempelajari tugas pokok dan fungsi Panitera/Panitera Pengganti, teknik pembuatan Berita Acara Sidang, minutasi perkara, serta administrasi upaya hukum.
Ananta melihat kembali catatan pelatihannya.
“Setiap kata dalam berita acara punya makna,” katanya.
“Kalau kita salah mencatat, bukan hanya tulisan yang berubah. Bisa jadi persepsi terhadap sebuah proses juga ikut berubah.”
Karena bagi mereka:
Berita acara bukan sekadar dokumen. Ia adalah rekaman perjalanan mencari keadilan.
Melalui materi tentang SIPP, e-Court, e-Berpadu, dan sistem administrasi perkara elektronik, mereka menyadari bahwa teknologi telah mengubah cara bekerja, tetapi tidak pernah menggantikan nilai utama: integritas manusia yang menggunakannya.
Teknologi bisa mencatat. Tetapi manusia yang menentukan apakah catatan itu dijaga dengan benar.
Bagi Ananta dan Rendra, pelatihan di BSDK bukan hanya menambah pengetahuan teknis.
Mereka belajar bahwa seorang Panitera/Panitera Pengganti harus mampu berdiri di “batas cahaya”.
Tidak ikut dalam kegelapan.
Tidak membiarkan dusta tumbuh.
Tidak membiarkan proses kehilangan nilai.
Tetapi menjadi bagian yang menjaga agar kebenaran tetap terlihat.
Hari terakhir pelatihan, ketika seluruh peserta bersiap kembali ke “pangkuan” satuan kerja masing-masing, Rendra berkata:
“Tan, mungkin kita bukan orang yang paling terlihat dalam perjalanan peradilan.”
Ananta menjawab,
“Tapi kita punya tanggung jawab untuk memastikan perjalanan itu tidak kehilangan arah.”
Mereka kemudian memahami bahwa integritas bukan tentang mencari pengakuan.
Integritas adalah keberanian memilih benar ketika pilihan lain terasa lebih mudah.
Karena pada akhirnya, seorang Panitera/Panitera Pengganti bukan hanya penjaga berkas.
Ia adalah penjaga kepercayaan.
Penjaga catatan.
Penjaga cahaya.
Dan ketika dunia bertanya:
“Apa kau bagian dari kegelapan?
Apa kau berdiri bersama dusta?
Ataukah kau yang akan menghancurkan topengnya?”
Maka jawaban seorang insan peradilan adalah:
Kami memilih berdiri bersama kebenaran.
Salam Integritas dari BSDK.
Untuk Mendapatkan Berita Terbaru Suara BSDK, Follow Channel WhatsApp: SUARABSDKMARI


