Tidak setiap konflik yang dimediasi membutuhkan langkah penanganan yang sama. Ada pertemuan mediasi yang sejak awal dipenuhi ketegangan, ada para pihak yang masih memiliki hubungan yang cukup baik, dan ada pula pihak-pihak yang justru pasif menunggu mediator mengarahkan pembicaraan. Dalam situasi yang berbeda, langkah yang sama belum tentu menghasilkan dampak yang sama. Karena itu, sebelum menentukan bagaimana memfasilitasi, mediator perlu terlebih dahulu mencermati situasi yang dihadapinya agar langkah yang ditempuh tepat sesuai dengan kebutuhan dan dinamika para pihak.
Kemampuan membaca situasi menjadi kunci penting sebelum mediator menentukan langkah dalam proses mediasi. Penguasaan teknik mediasi saja belum cukup, sebab teknik yang tepat pada satu keadaan belum tentu tepat pada keadaan yang lain. Mediator perlu menangkap dinamika yang sedang berlangsung agar tepat dalam memfasilitasi para pihak yang bermediasi, sehingga mediasi tidak hanya berjalan secara mekanis, melainkan juga sesuai dengan kebutuhan para pihak. Dalam Pelatihan Sertifikasi Mediator Bagi Hakim Peradilan Agama Seluruh Indonesia Tahun 2026, Dr. Muhammad Fadhly Ase, S.H.I., M.Sy. menjelaskan tiga situasi yang perlu dicermati mediator, yaitu eskalasi konflik, hubungan para pihak, dan keaktifan para pihak.
Membaca Eskalasi Konflik
Salah satu situasi yang perlu dicermati mediator adalah tingkat eskalasi konflik yang sedang berlangsung. Konflik para pihak tidak selalu berada pada tingkat ketegangan yang sama, adakalanya masih rendah, sedang, hingga tinggi. Tingkat eskalasi tersebut penting diperhatikan karena menentukan seberapa jauh mediator perlu mengambil peran dalam memfasilitasi para pihak. Ketika konflik berada pada tingkat yang tinggi, mediator tentu memerlukan respons dan intervensi yang berbeda dibandingkan ketika konflik masih berada pada tingkat yang rendah.
Mengabaikan tingkat eskalasi konflik dapat membuat proses mediasi kehilangan pijakan pada situasi yang sebenarnya. Intervensi yang terlalu ringan ketika konflik telah memuncak mungkin tidak cukup untuk meredakan ketegangan, sementara intervensi yang terlalu kuat pada konflik yang masih rendah justru tidak proporsional dengan kebutuhan situasi konflik. Karena itu, mediator perlu menakar langkahnya berdasarkan tingkat eskalasi yang sedang dihadapi, sehingga fasilitasi dapat diberikan secara tepat dan proporsional.
Mengenali Hubungan Para Pihak
Situasi lain yang perlu dicermati mediator adalah hubungan yang terjalin di antara para pihak. Hubungan tersebut tidak selalu berada dalam posisi yang setara. Dalam beberapa kasus, terdapat ketidakseimbangan kekuasaan, baik karena kedudukan, pengaruh, maupun kondisi lain yang membuat salah satu pihak lebih dominan daripada pihak lainnya. Karena itu, mediator perlu mengenali bagaimana posisi para pihak dalam hubungan tersebut sebelum menentukan cara memfasilitasi proses mediasi.
Ketidakseimbangan yang tidak terbaca dapat membuat proses mediasi berjalan seolah-olah setara, padahal para pihak belum tentu memiliki ruang yang sama untuk menyampaikan kepentingan dan menentukan pilihan. Dalam kondisi demikian, cara mediator memfasilitasi perlu disesuaikan agar dominasi salah satu pihak tidak menghambat pihak lainnya untuk berpartisipasi secara terbuka. Dengan mencermati hubungan para pihak, mediator dapat menentukan langkah yang lebih tepat untuk menjaga keseimbangan proses tanpa kehilangan sikap netral.
Mencermati Partisipasi Para Pihak
Selain eskalasi konflik dan hubungan para pihak, mediator perlu mencermati tingkat partisipasi para pihak dalam proses mediasi. Apakah kedua belah pihak terlibat secara aktif, hanya salah satu yang aktif, atau justru keduanya cenderung pasif? Perbedaan tingkat partisipasi tersebut menunjukkan dinamika yang berbeda dan membutuhkan perhatian yang berbeda pula dari mediator. Ketika para pihak aktif, mediator dapat lebih banyak memberi ruang dan menjaga agar proses tetap terarah. Sebaliknya, ketika salah satu atau kedua pihak pasif, mediator perlu mempertimbangkan langkah yang dapat mendorong keterlibatan mereka dalam proses mediasi. Tidak mencermati tingkat partisipasi dapat membuat mediator keliru membaca kebutuhan para pihak. Ketika pihak yang pasif diperlakukan seolah-olah sama aktifnya dengan pihak lainnya, proses mediasi dapat berjalan secara tidak seimbang. Sebaliknya, terlalu banyak mengambil alih ketika para pihak sebenarnya mampu berproses sendiri dapat mengurangi ruang mereka untuk menemukan solusi. Karena itu, mediator perlu menyesuaikan kadar fasilitasi dengan tingkat partisipasi para pihak, sehingga mediator tetap hadir untuk membantu proses tanpa mengambil alih peran para pihak.
Untuk Mendapatkan Berita Terbaru Suara BSDK, Follow Channel WhatsApp:
SUARABSDKMARI

