Close Menu
Suara BSDKSuara BSDK
  • Beranda
  • Artikel
  • Berita
  • Features
  • Sosok
  • Filsafat
  • Roman
  • Satire
  • Video

Subscribe to Updates

Get the latest creative news from FooBar about art, design and business.

What's Hot

Syamsul Arief Menembus Puncak: Pelari Ultra yang Membawa Mimpi Hakim Muda ke Mahkamah Agung

13 August 2026 • 18:11 WIB

Lolos Uji Kepatutan DPR, Ini Rincian Lengkap 14 Hakim Agung dan Ad Hoc MA Terbaru 2026!

13 August 2026 • 17:21 WIB

Di Hadapan Komisi III DPR, Syamsul Arief Tegaskan AI Tak Boleh Mengambil Alih Nurani Hakim

13 August 2026 • 15:19 WIB
Instagram YouTube
Suara BSDKSuara BSDK
Deskripsi Gambar
  • Beranda
  • Artikel
  • Berita
  • Features
  • Sosok
  • Filsafat
  • Roman
  • Satire
  • Video
Suara BSDKSuara BSDK
Deskripsi Gambar
  • Beranda
  • Artikel
  • Berita
  • Features
  • Sosok
  • Filsafat
  • Roman
  • Satire
  • Video
Home » Penerapan Pidana Pengawasan Sebagai Upaya Pembaharuan Sistem Pemidanaan Militer

Penerapan Pidana Pengawasan Sebagai Upaya Pembaharuan Sistem Pemidanaan Militer

Letkol Chk Agustono, S.H., M.H.Letkol Chk Agustono, S.H., M.H.12 February 2026 • 11:48 WIB7 Mins ReadNo Comments
Share
Facebook Twitter Threads Telegram WhatsApp

Sistem pemidanaan dalam peradilan militer memiliki karakteristik khusus yang berbeda dengan system peradilan pidana umum. Kekhususan tersebut tercermin dari keberadaan Kitab Undang-Undang Hukum Pidana Militer (KUHPM) yang mengatur perbuatan-perbuatan tertentu yang hanya dapat dilakukan oleh Prajurit serta jenis sanksi Pidana yang bersifat khas militer. Kekhususan ini pada daarnya bertujuan untuk menjaga disiplin, hierarki, dan kesiapsiagaan militer sebagai unsur utama dalam pertahanan negara.

Perkembangan hukum pidana nasional menunjukkan adanya pergeseran paradigm pemidanaan. Dengan berlakunya Kitab Undang-Undang Hukum Pidana Nasional (UU No. 1 Tahun 2023), sistem pemidanaan tidak lagi semata-mata berorientasi pada pembalasan, melainkan juga menekankan pembinaan, pencegahan, serta reintegrasi sosial pelaku tindak pidana. Salah satu wujud pembaharuan tersebut adalah diperkenalkannya pidana pengawasan sebagai pidana pokok yang dapat dijatuhkan oleh hakim.

Pidana pengawasan dimaksudkan sebagai bentuk pemidanaan alternatif yang dilaksanakan di luar lembaga pemasyarakatan dengan pengawasan tertentu, sehingga pelaku tetap dapat menjalani aktivitas sosialnya secara terbatas di bawah pengendalian aparat yang berwenang. Konsep ini sejalan dengan prinsip individualisasi pidana dan ultimum remedium, yang menempatkan pidana penjara sebagai upaya terakhir.

Di sisi lain, KUHPM belum mengatur pidana pengawasan sebagai salah satu jenis pidana yang dapat dijatuhkan dalam peradilan militer. Kondisi ini menimbulkan persoalan hukum, khususnya ketika hakim militer dihadapkan pada perkara-perkara yang ada di KUHPM namun perbuatannya dipandang relatif ringan dan oleh Ankumnya sudah dikenakan hukuman disiplin dan diikuti Sanksi adminitarsi, seperti tindak pidana tidak hadir tanpa izin yang ketidak hadirannya selama 5 hari atau dibawah 15 hari dimana pelaku kembali dengan cara menyerahkan diri, akibat perbuatannya tersebut Ankum langsung menjatuhkan hukuman disiplin Militer dengan penahanan berat selama 21 (dua puluh satu) hari dan masih dikenakan Sanksi administrasi berupa penundaan kenaikan Pankat selama 3 (tiga) periode  dan penundaan pendidikan 1 (satu) periode. Dan berdasarkan keterangan para Saksi setelah pelaku menjalani hukuman disiplin Prajurit, pelaku menunjukkan kinerja, sikap prilaku, tanggungjawab dan loyalitas yang tinggi di Kesatuan, sehinga dengan melihat fakta tersebut penjatuhan pidana penjara sering kali dipandang kurang proporsional dan berpotensi menghambat proses pembinaan prajurit.

Ketiadaan pengaturan pidana pengawasan dalam KUHPM dapat dipandang sebagai suatu kekosongan hukum (rechtsvacuum) dalam konteks pembaharuan sistem pemidanaan. meskipun KUHPM merupakan hukum pidana khusus (lex specialis), namun terkait pidana pengawasan dalam KUHPM tidak mengatur jenis pidana tersebut sebagai salah satu pidana pokok. Oleh karena itu, keberlakuan KUHP Nasional sebagai hukum pidana umum membuka ruang bagi penerapan jenis pidana baru sepanjang tidak bertentangan dengan kepentingan dan disiplin militer. Hal ini menimbulkan perdebatan mengenai sejauh mana hakim militer memiliki kewenangan untuk menerapkan pidana pengawasan sebagai alternatif pemidanaan.

Menurut Barda Nawawi Arief, keberadaan hukum pidana khusus tidak serta-merta meniadakan berlakunya hukum pidana umum. Hukum pidana umum tetap berlaku sepanjang tidak diatur secara khusus dalam hukum pidana khusus tersebut. Dengan demikian, hukum pidana umum berfungsi sebagai ius commune yang melengkapi kekosongan hukum dalam peraturan khusus.

Baca Juga  UU Penyesuaian Pidana, Mengapa Kita Harus Memahaminya?

Dalam konteks KUHPM, kekhususan hukum pidana militer terletak pada pengaturan perbuatan yang bersifat khas militer dan subjek hukumnya, yaitu prajurit TNI. Namun, Sudarto menegaskan bahwa asas lex specialis tidak boleh ditafsirkan secara kaku, karena tujuan utama hukum pidana adalah mewujudkan keadilan dan kemanfaatan. Oleh sebab itu, apabila hukum pidana khusus tidak mengatur suatu hal tertentu, maka hukum pidana umum dapat diberlakukan untuk mengisi kekosongan tersebut, sebagaimana kita lihat dalam Pasal 2 KUHPM menyatakan bahwa untuk hal-hal yang tidak diatur secara khusus dalam KUHPM, berlaku ketentuan hukum pidana umum (KUHP), demikian juga dalam Pasal 187 KUHP nasional disebutkan “Ketentuan dalam Bab I sampai dengan Bab V buku kesatu berlaku juga bagi perbuatan yang dapat dipidana menurut peraturan perundang-undangan lain, kecuali ditentukan lain menurut Undang-Undang”.

Lebih lanjut, penjatuhan pidana penjara terhadap prajurit yang melakukan tindak pidana ataupun pelanggaran Hukum disiplin Prajurit maka tentu akan diikuti dengan Sanksi administrasi terhadap Prajurit tersebut namun dengan perkembangan pemidanaan yang ada dalam KUHP nasional maka akan menimbulkan permasalahan baru terhadap kentetuan Sanksi administrasi Prajurit terutama ketika penjatuhan Pidana berupa Pidana pengawasan ataupun kerja sosial, namun dengan pembaharuan hukum terhadap pidana pengawasan sangat dibutuhkan karena Pidana Pengawasan mencerminkan pendekatan modern & rehabilitatif, oleh karena itu, diperlukan suatu kajian yang mendalam mengenai kemungkinan penerapan pidana pengawasan sebagai upaya pembaharuan sistem pemidanaan militer, tanpa mengesampingkan karakter dan kebutuhan khusus institusi militer.

Berdasarkan pemikiran Penulis, hal ini menjadi penting untuk mengkaji penerapan pidana pengawasan dalam peradilan militer sebagai bagian dari pembaharuan hukum pidana militer yang selaras dengan perkembangan hukum pidana nasional, sekaligus tetap menjamin terpeliharanya disiplin dan kepentingan militer.

Dalam perkembangan ilmu hukum pidana, teori pemidanaan secara umum dibedakan menjadi teori absolut, teori relatif, dan teori gabungan. Sudarto menjelaskan bahwa teori absolut menitikberatkan pidana sebagai pembalasan atas kesalahan pelaku, sedangkan teori relatif memandang pidana sebagai sarana untuk mencapai tujuan tertentu, seperti pencegahan dan perlindungan masyarakat. Sementara itu, teori gabungan berusaha mengintegrasikan unsur pembalasan dan tujuan kemanfaatan secara seimbang.

Pandangan teori gabungan banyak memengaruhi sistem pemidanaan modern. Muladi menegaskan bahwa pemidanaan pada masa kini tidak lagi semata-mata berorientasi pada pembalasan, melainkan harus diarahkan pada upaya perlindungan masyarakat, rehabilitasi pelaku, dan pemulihan keseimbangan sosial yang terganggu akibat tindak pidana. Oleh karena itu, pidana harus dipilih secara selektif dan proporsional sesuai dengan tujuan yang hendak dicapai.

Sejalan dengan pandangan tersebut, Barda Nawawi Arief menyatakan bahwa kebijakan pemidanaan merupakan bagian dari kebijakan kriminal (criminal policy) yang harus memperhatikan efektivitas pidana dalam mencapai tujuan penanggulangan kejahatan. Pemidanaan yang terlalu menitikberatkan pada pidana penjara, khususnya untuk pelanggaran yang bersifat ringan, berpotensi menimbulkan dampak negatif dan tidak selalu efektif.

Pidana pengawasan sebagaimana diperkenalkan dalam KUHP Nasional mencerminkan arah pemidanaan modern yang menitikberatkan pada pembinaan pelaku di luar lembaga pemasyarakatan. Dalam konteks peradilan militer, konsep ini dapat dipahami sebagai bentuk pemidanaan yang tetap memberikan sanksi, namun lebih berorientasi pada pembinaan prajurit dan pencegahan pengulangan tindak pidana tanpa harus mengorbankan efektivitas pembinaan keprajuritan.

Baca Juga  Paradoks Keadilan: Dilema Strafmacht dan Disparitas antara Restorative Justice serta Plea Bargain dalam KUHAP Baru

Demikian pula jika dilihat dari teori individualisasi pidana yang menekankan bahwa penjatuhan pidana harus disesuaikan dengan kondisi konkret pelaku, perbuatan yang dilakukan, serta latar belakang sosial dan kepribadian pelaku. Pidana tidak boleh dijatuhkan secara mekanis semata-mata berdasarkan rumusan undang-undang, melainkan harus mempertimbangkan keadilan substantive, karena Hakim bukanlah corong Undang-Undang, melainkan corong Keadilan.

Prinsip individualisasi pidana sejalan dengan perkembangan pemidanaan modern yaitu KUHP Nasional (undang-Undang nomor 1 tahun 2023) yang menempatkan pelaku sebagai subjek yang masih memiliki potensi untuk diperbaiki. Oleh karena itu, hakim diberi ruang diskresi untuk memilih jenis dan berat pidana yang paling tepat bagi pelaku.

Sejalan dengan itu, Muladi berpendapat bahwa individualisasi pidana merupakan konsekuensi logis dari tujuan pemidanaan yang berorientasi pada pembinaan dan rehabilitasi. Pemidanaan yang tidak mempertimbangkan kondisi individual pelaku berpotensi menimbulkan ketidakadilan dan kegagalan dalam mencapai tujuan pemidanaan demikian pula Barda Nawawi Arief juga menegaskan bahwa prinsip individualisasi pidana memberikan ruang diskresi kepada hakim untuk memilih jenis pidana yang paling tepat dan efektif, termasuk penggunaan pidana alternatif di luar pidana penjara. Hal ini penting untuk menghindari penggunaan pidana penjara secara berlebihan (overuse of imprisonment).

Dalam konteks peradilan militer, penerapan teori individualisasi pidana memiliki tantangan tersendiri karena adanya tuntutan disiplin dan kepatuhan yang tinggi. Namun demikian, individualisasi pidana tidak bertentangan dengan kepentingan militer, sepanjang tetap memperhatikan karakter keprajuritan dan kepentingan institusi.

Pidana pengawasan merupakan salah satu wujud konkret dari penerapan teori individualisasi pidana, karena memungkinkan hakim menyesuaikan pemidanaan dengan kondisi prajurit, tingkat kesalahan, serta kemungkinan pembinaan di lingkungan kesatuan karena pembinaan prajurit dilakukan di lingkungan kesatuan dengan pengawasan yang terstruktur dan Pidana pengawasan tidak dimaknai sebagai sikap lunak, melainkan  sebagai instrumen penegakkan disiplin militer yang aktif, yang menuntut kepatuhan, kehadiran dan perubahan sikap nyata dari Terdakwa, serta membuka ruang evaluasi berjenjang atas perilaku kedinasannya selama masa pengawasan. Demikian pula dengan penjatuhan Pidana pengawasan Hakim bermaksud menegaskan bahwa setiap pelanggaran disiplin militer tetap mendapatkan Sanksi pidana namun Sanksi tersebut diarahkan untuk memulihkan sikap keprajuritan, menanamkan kembali rasa tanggungjawab terhadap Kesatuan dan mencegah terulangnya perbuatan yang serupa, dengan demikian pidana pengawasan dapat menjadi instrumen pembaharuan sistem pemidanaan militer yang lebih proporsional, bermanfaat dan berkeadilan serta sejalan dengan tujuan pemidanaan modern, tanpa mengurangi kewibawaan hukum dan disiplin militer, dengan tetap menempatkan Terdakwa di bawah pengawasan atasan langsungnya  dan Terdakwa tetap melaksanakan tupoksinya di Kesatuannya.

Letkol Chk Agustono, S.H., M.H.
Kontributor
Letkol Chk Agustono, S.H., M.H.
Wakil Kepala Pengadilan Militer III-12 Surabaya

Untuk Mendapatkan Berita Terbaru Suara BSDK, Follow Channel WhatsApp: SUARABSDKMARI

artikel Militer pengawasan pidana
Share. Facebook Twitter Threads Telegram WhatsApp Copy Link

Related Posts

Tantangan Kapasitas Hakim dan Sistem Peradilan dalam Menghadapi Kejahatan Modern: Penggunaan Kecerdasan Buatan, Manipulasi hingga Bias Algoritma

13 August 2026 • 12:11 WIB

Sisi unik Sistem Peradilan Sabah, Malaysia

13 August 2026 • 12:00 WIB

Pergeseran Paradigma Kuasa Asuh Anak Pasca-Perceraian pada Masyarakat Bali Modern dalam Perspektif Sosiologi Hukum

12 August 2026 • 13:03 WIB
Leave A Reply


Demo
Top Posts

Dari Monitoring Hingga Titik Nol: Sebuah Perjalanan Tentang Pengabdian

30 July 2026 • 15:00 WIB

Sebelum Karangan Bunga Berikutnya Dikirim

27 July 2026 • 12:12 WIB

Menepi Sejenak di Tambak Bandeng

11 July 2026 • 09:06 WIB

Prediksi Juara World Cup 2026 Dari Pusdiklat Menpim

6 July 2026 • 21:16 WIB
Don't Miss

Syamsul Arief Menembus Puncak: Pelari Ultra yang Membawa Mimpi Hakim Muda ke Mahkamah Agung

By Khoiruddin Hasibuan13 August 2026 • 18:11 WIB0

Jakarta — Kamis sore, 13 Agustus 2026, menjadi salah satu titik terpenting dalam perjalanan karier…

Lolos Uji Kepatutan DPR, Ini Rincian Lengkap 14 Hakim Agung dan Ad Hoc MA Terbaru 2026!

13 August 2026 • 17:21 WIB

Di Hadapan Komisi III DPR, Syamsul Arief Tegaskan AI Tak Boleh Mengambil Alih Nurani Hakim

13 August 2026 • 15:19 WIB

Pembuktian Ilmiah Menjadi Fondasi Keadilan Lingkungan

13 August 2026 • 14:58 WIB
Stay In Touch
  • YouTube
  • TikTok
  • WhatsApp
  • Twitter
  • Instagram
Top Trending
Demo

Recent Posts

  • Syamsul Arief Menembus Puncak: Pelari Ultra yang Membawa Mimpi Hakim Muda ke Mahkamah Agung
  • Lolos Uji Kepatutan DPR, Ini Rincian Lengkap 14 Hakim Agung dan Ad Hoc MA Terbaru 2026!
  • Di Hadapan Komisi III DPR, Syamsul Arief Tegaskan AI Tak Boleh Mengambil Alih Nurani Hakim
  • Pembuktian Ilmiah Menjadi Fondasi Keadilan Lingkungan
  • Tantangan Kapasitas Hakim dan Sistem Peradilan dalam Menghadapi Kejahatan Modern: Penggunaan Kecerdasan Buatan, Manipulasi hingga Bias Algoritma

Recent Comments

  1. Noezafri Amar on Peran dan Kedudukan Juru Bahasa Asing dalam Pemenuhan Hak Fair Trial bagi Terdakwa Warga Negara Asing Menurut KUHAP Baru
  2. cindy on Putusan untuk Bumi: Refleksi Hakim di Tengah Triple Planetary Crisis
  3. Jeje on Putusan untuk Bumi: Refleksi Hakim di Tengah Triple Planetary Crisis
  4. asyrof on Dapatkah Pemeriksaan Setempat Menjadi Bagian dari Mediasi di Pengadilan?
  5. AI API Directory on Sistem Pembuktian KUHAP 2025: Dr. Chairul Huda Tegaskan Hakim Harus Berani Menolak Alat Bukti Ilegal
Hubungi Kami

Badan Strategi Kebijakan dan Pendidikan dan Pelatihan Hukum dan Peradilan Hukum dan Peradilan
Mahkamah Agung RI

Kantor: Jl. Cikopo Selatan Desa Sukamaju, Kec. Megamendung
Bogor, Jawa Barat 16770

Kirimkan reportase berita, opini, features dan artikel lainnya ke email suarabsdk.com : 
redpelsuarabsdk@gmail.com

Telepon: (0251) 8249520, 8249522, 8249531, 8249539

Kategori
Beranda Artikel Berita Features Sosok KRITERIA TULISAN
Filsafat Roman Satire Video BALACADAS
Connect With Us
  • Instagram
  • YouTube
  • WhatsApp
Aplikasi Internal
Logo 1 Logo 2 Logo 3 Logo 3
Logo 4 Logo 4 Logo 4 Logo 5 Logo 5
Kontributor
  • Avatar photo Ahmad Junaedi
  • Avatar photo Mohammad Khairul Muqorobin
  • Avatar photo Irvan Mawardi
  • Avatar photo Aman
  • Avatar photo Cecep Mustafa
  • Avatar photo Khoiruddin Hasibuan
  • Avatar photo Muamar Azmar Mahmud Farig
  • Avatar photo Ari Gunawan
  • Avatar photo Yudhistira Ary Prabowo
  • Avatar photo Syailendra Anantya Prawira
  • Avatar photo Muhammad Rizqi Hengki
  • Avatar photo Agus Digdo Nugroho
  • Avatar photo Ghesa Agnanto Hutomo
  • Avatar photo Muhammad Adiguna Bimasakti
  • Avatar photo Dahlan Suherlan
  • Avatar photo Timbul Bonardo Siahaan
  • Avatar photo Syamsul Arief
  • Avatar photo Jatmiko Wirawan
  • Avatar photo Taufikurrahman
  • Avatar photo Cik Basir
  • Avatar photo Maria Fransiska Walintukan
  • Avatar photo Zulfahmi
  • Avatar photo M. Natsir Asnawi
  • Avatar photo Syihabuddin
  • Avatar photo Unggul Senoaji
  • Avatar photo Anton Ahmad Sogiri
  • Avatar photo Abdi Munawar Daeng Mangagang
  • Avatar photo Iqbal Lazuardi
  • Avatar photo Johanes
  • Avatar photo Yoshito Siburian
  • Avatar photo Galang Adhe Sukma
  • Avatar photo Adji Prakoso
  • Avatar photo Anisa Yustikaningtiyas
  • Avatar photo Harun Maulana
  • Avatar photo I Gusti Lanang Ngurah Sidemen Putra
  • Avatar photo Muhammad Hanif Ramadhan
  • Avatar photo Ahmad Syahrus Sikti
  • Avatar photo Eliyas Eko Setyo
  • Avatar photo Firzi Ramadhan
  • Avatar photo Jarkasih
  • Avatar photo Sriti Hesti Astiti
  • Avatar photo Binsar Parlindungan Tampubolon
  • Avatar photo Layla Windy Puspita Sari
  • Avatar photo Sudiyo
  • Avatar photo Tri Indroyono
  • Avatar photo Letkol Chk Agustono, S.H., M.H.
  • Avatar photo Ganjar Prima Anggara
  • Avatar photo Garin Purna Sanjaya
  • Avatar photo Irene Cristna Silalahi
  • Avatar photo Marulam J Sembiring
  • Avatar photo Riki Perdana Raya Waruwu
  • Avatar photo Dr. Syofyan Iskandar, S.H., M.H.
  • Avatar photo Afifah Dwiandini
  • Avatar photo Ardiansyah Iksaniyah Putra
  • Avatar photo Febby Fajrurrahman
  • Avatar photo Itsnaatul Lathifah
  • Avatar photo Khoiriyah Roihan
  • Avatar photo Redaktur SuaraBSDK
  • Avatar photo Yasin Prasetia
  • Avatar photo Muhamad Zaky Albana
  • Avatar photo Buang Yusuf
  • Avatar photo Fitriyel Hanif
  • Avatar photo Henri Setiawan
  • Avatar photo Irwan Rosady
  • Avatar photo Marsudin Nainggolan
  • Avatar photo Rafi Muhammad Ave
  • Avatar photo Rikatama Budiyantie
  • Avatar photo Siti Nadhiroh
  • Avatar photo Teguh Setiyawan
  • Avatar photo Abdul Azis Ali Ramdlani
  • Avatar photo Achmad Fikri Oslami
  • Avatar photo Ahmad Fuad Noor Ghufron
  • Avatar photo Achmad Nurul Huda
  • Avatar photo Anggi Permana
  • Avatar photo Ang Rijal Amin
  • Avatar photo Audrey Kartika Putri
  • Avatar photo Cok Istri Bhagawanthi Pemayun
  • Avatar photo Dedi Putra
  • Avatar photo Dewi Maharati
  • Avatar photo Gerry Michael Purba
  • Avatar photo Herjuna Praba Wiesesa
  • Avatar photo Hermanto
  • Avatar photo Indarka PP
  • Avatar photo Nugraha Medica Prakasa
  • Avatar photo K.G. Raegen
  • Avatar photo Rangga Lukita Desnata
  • Avatar photo Ria Marsella
  • Avatar photo Sahram
  • Avatar photo Saut Erwin Hartono A. Munthe
  • Avatar photo Silveria Supanti
  • Avatar photo Sugiarto
  • Avatar photo Yusuf Sodhiqin
  • Avatar photo Achmad Pratomo
  • Avatar photo Ahmad Faiz Shobir Alfikri
  • Avatar photo Andro Riski Pradipta
  • Avatar photo Arie Fitriansyah
  • Avatar photo Bintoro Wisnu Prasojo, S.H.
  • Avatar photo Bismo Jiwo Agung
  • Avatar photo Epri Wahyudi
  • Avatar photo Fajar Widodo
  • Avatar photo Fariz Prasetyo Aji
  • Avatar photo Fauzan Arrasyid
  • Avatar photo Fauzia Rohmah
  • Avatar photo Febry Indra Gunawan Sitorus
  • Avatar photo Gerry Geovant Supranata Kaban
  • Avatar photo Mardi Candra
  • Avatar photo Maulana Aulia
  • Avatar photo Muhamad Fadillah
  • Avatar photo Muhammad Amin Putra
  • Avatar photo Niko Wijaya
  • Avatar photo Putra Nova A.S
  • Avatar photo Trisoko Sugeng Sulistyo
  • Avatar photo Umar Dani
  • Avatar photo Abiandri Fikri Akbar
  • Avatar photo Abi Zaky Azizi
  • Avatar photo Dr. H. Achmad Setyo Pudjoharsoyo., SH., M.Hum
  • Avatar photo Agenda Citra Muhammad
  • Avatar photo Andi Akram
  • Avatar photo Arsyawal
  • Avatar photo Aulia Rochmani Lazuardi
  • Avatar photo Bagus Partha Wijaya
  • Avatar photo Bayu Akbar Wicaksono
  • Avatar photo Chandra Khoirunnas
  • Avatar photo Cuhandi
  • Avatar photo David Pasaribu
  • Avatar photo Dendi Sutiyoso
  • Avatar photo Dhea Sutaryana
  • Avatar photo Edi Hudiata
  • Avatar photo Enrico Simanjuntak
  • Avatar photo Fauzan Prasetya
  • Avatar photo Fauziah Rahmah
  • Avatar photo Fery Rochmad Ramadhan
  • Avatar photo Hartanto Ariesyandi
  • Avatar photo Idik Saeful Bahri
  • Avatar photo Karell Mawla Ibnu Kamali
  • Avatar photo Khalilurrahman
  • Avatar photo Khoirul Anwar
  • Avatar photo Mentari Wahyudihati
  • Avatar photo Muhamad Ridwan
  • Avatar photo Muhamad Iqbal
  • Avatar photo Nia Chasanah
  • Avatar photo Novritsar Hasintongan Pakpahan
  • Avatar photo Nugraha Wisnu Wijaya
  • Avatar photo Raden Anggara Kurniawan
  • Avatar photo Raden Heru Wibowo Sukaten
  • Avatar photo Rahimulhuda Rizki Alwi
  • Avatar photo Rahmad Ramadhan Hasibuan
  • Avatar photo Ranggi Adiwangsa Yusron
  • Avatar photo Muhammad Rijaldy Alwy
  • Avatar photo Rizal Arif Fitria
  • Avatar photo Rohim
  • Avatar photo Sadana
  • Avatar photo Samsul Zakaria
  • Avatar photo Tri Cahya Indra Permana
  • Avatar photo Yudhi Reksa Perdana
  • Avatar photo Abdul Ghani
  • Avatar photo Dr. Drs. H. Abdul Hadi, M.H.I.
  • Avatar photo Ach. Jufri
  • Avatar photo Adimas Leo Firmansah
  • Avatar photo Afif Muchshon
  • Avatar photo Agus Suharsono
  • Avatar photo Ahmad Efendi
  • Avatar photo Ahmad Hodri
  • Avatar photo Ahmad Rizza Habibi
  • Avatar photo Alep Priyoambodo
  • Avatar photo Alfajar Nugraha
  • Avatar photo Anderson Peruzzi Simanjuntak
  • Avatar photo Andhika Prayoga
  • Avatar photo Andi Muhammad Galib
  • Avatar photo Andi Aswandi Tashar
  • Avatar photo Andrie Gunawan
  • Avatar photo Anna Yulina
  • Avatar photo Annisa Nur Alam
  • Avatar photo Arga Febrian
  • Avatar photo Arief Sapto Nugroho
  • Avatar photo Mayor Chk Arif Dwi Prasetyo
  • Avatar photo Armansyah
  • Avatar photo Aryaniek Andayani
  • Avatar photo Ashhab Triono
  • Avatar photo Bilma Diffika
  • Avatar photo Bony Daniel
  • Avatar photo Budi Hermanto
  • Avatar photo Budi Suhariyanto
  • Avatar photo Christopher Hutapea
  • Dedi Wigandi
  • Avatar photo Deka Rachman Budihanto
  • Avatar photo Eddy Sembiring
  • Avatar photo Effendi Mukhtar
  • Avatar photo Egia Rasido Tarigan
  • Avatar photo Eka Sentausa
  • Avatar photo Enos Syahputra Sipahutar, S.H., M.H.
  • Avatar photo Dr. Fahmiron
  • Avatar photo Fahri Bachmid
  • Avatar photo Fahri Gunawan Siagian
  • Avatar photo Fahri Soleh
  • Avatar photo Fakhir Tashin Baaj
  • Avatar photo Fatkul Mujib, S.H.I., M.H.
  • Avatar photo Febriansyah Rozarius
  • Avatar photo Friska Ariesta Aritedi
  • Avatar photo Gineng Pratidina
  • Avatar photo Hastuti
  • Avatar photo Hendro Yatmoko
  • Avatar photo Ibnu Abas Ali
  • Avatar photo I Made Sukadana
  • Indra Tua Hasangapon Harahap
  • Avatar photo Ira Soniawati
  • Avatar photo Irfan Dibar
  • Avatar photo Muhammad Irfansyah
  • Avatar photo Letkol Kum Irwan Tasri, S.H., M.H., M.Han.
  • Avatar photo Iwan Lamganda Manalu
  • Avatar photo Jerymia Seky Tanaem
  • Avatar photo Jusran Ipandi
  • Avatar photo Khaimi
  • Avatar photo Khoerul Umam
  • Avatar photo Linora Rohayu
  • Avatar photo Made Passek Reza Swandira
  • Avatar photo Marta Satria Putra
  • Avatar photo Marwan Ibrahim Piinga
  • Avatar photo Marwanto
  • Avatar photo Marzha Tweedo Dikky Paraanugrah
  • Avatar photo Maulia Martwenty Ine
  • Avatar photo Mira Maulidar
  • Avatar photo Misbah S.T., M.Eng.
  • Avatar photo Misbahul Anwar
  • Avatar photo Muhamad Ilham Azizul Haq
  • Avatar photo Muhamad Saptari
  • Avatar photo Muhammad Fadllullah
  • Avatar photo Muhammad Irfan Syahputra
  • Avatar photo Muhammad Muhyi Arrasyid, S.Psi.
  • Avatar photo Muhammad Bagus Tri Prasetyo
  • Avatar photo Muhammad Yusuf
  • Avatar photo Murdian
  • Avatar photo Nadia Yurisa Adila
  • Avatar photo Nisrina Irbah Sati
  • Avatar photo Letkol CHK Nur Sakdi, S.H, M.H.
  • Avatar photo Nur Latifah Hanum
  • Avatar photo Pita Permatasari
  • Avatar photo H .A.S Pudjoharsoyo
  • Avatar photo Putri Pebrianti
  • Avatar photo R. Deddy Harryanto
  • Avatar photo Radityo Muhammad Harseno
  • Avatar photo Rahmi Fattah
  • Avatar photo Randy Viyatadhika
  • Avatar photo Ratih Gumilang
  • Avatar photo Reindra Jasper H. Sinaga, S.H. Hakim Pengadilan Negeri Tanjung Balai Karimun
  • Avatar photo Muh Ridha Hakim
  • Avatar photo Rifqi Qowiyul Iman
  • Avatar photo Rizal Abdurrahman
  • Avatar photo Romi Hardhika
  • Avatar photo Sandro Imanuel Sijabat
  • Avatar photo Dr. Satria Perdana, S.H., M.H.
  • Avatar photo Sbong Sinarok Martin, S.H., M.H.
  • Avatar photo Selexta Apriliani
  • Avatar photo Septia Putri Riko
  • Avatar photo Septriono Situmorang
  • Avatar photo Siti Anis
  • Avatar photo Slamet Turhamun
  • Avatar photo Sobandi
  • Avatar photo Stefanus Dwi Putra Medisa
  • Avatar photo Subiyatno
  • Avatar photo Teddy Lahati
  • Avatar photo Tri Baginda Kaisar Abdul Gafur
  • Avatar photo Urif Syarifudin
  • Avatar photo Wanda Rara Farezha,S.H.
  • Avatar photo Wienda Kresnantyo
  • Avatar photo Wilmar Ibni Rusydan
  • Avatar photo Willsa Suharyadi
  • Avatar photo Yoshelsa Wardhana
  • Avatar photo Yukiatiqa Afifah
  • Avatar photo Marsekal Muda TNI Dr. Yuwono Agung Nugroho, S.H., M.H.
Lihat semua kontributor →

Type above and press Enter to search. Press Esc to cancel.