Close Menu
Suara BSDKSuara BSDK
  • Beranda
  • Artikel
  • Berita
  • Features
  • Sosok
  • Filsafat
  • Roman
  • Satire
  • Video
  • Liputan Khusus

Subscribe to Updates

Get the latest creative news from FooBar about art, design and business.

What's Hot

Menimbang Kembali Pemidanaan Anak: Ketika Perundungan Berujung Kematian

October 31, 2026

Lompatan Mutu Kebijakan Peradilan: BSDK MA RI Evaluasi 30 Naskah Rekomendasi Strategis di Jakarta

October 31, 2026

Di Balik Asap Karhutla: Menelusuri Potensi Pencucian Uang dalam Green Financial Crime

October 31, 2026
Instagram YouTube
Suara BSDKSuara BSDK
  • Beranda
  • Artikel
  • Berita
  • Features
  • Sosok
  • Filsafat
  • Roman
  • Satire
  • Video
  • Liputan Khusus
Suara BSDKSuara BSDK
  • Beranda
  • Artikel
  • Berita
  • Features
  • Sosok
  • Filsafat
  • Roman
  • Satire
  • Video
  • Liputan Khusus
Home » Dari Cucu Yatim hingga Ahli Waris Beda Agama: Perjalanan Wasiat Wajibah dari Mesir ke Indonesia

Dari Cucu Yatim hingga Ahli Waris Beda Agama: Perjalanan Wasiat Wajibah dari Mesir ke Indonesia

Khoiruddin HasibuanBy Khoiruddin HasibuanAugust 12, 2026 · 09:00 WIB9 Mins ReadNo Comments
Share
Facebook Twitter Threads Telegram WhatsApp

Pendahuluan

Hukum waris sering dipahami sebagai bidang hukum yang paling kaku. Sejak berabad-abad lalu, bagian ahli waris telah ditentukan, hubungan kekerabatan telah diklasifikasikan, dan penghalang waris telah dirumuskan. Namun, di balik ketegasan itu, selalu muncul keadaan ketika penerapan aturan secara formal, justru menyisakan ketidakadilan.

Ketika seorang cucu kehilangan ayahnya lebih dahulu daripada kakeknya. Ketika sang kakek meninggal, cucu tersebut tidak memperoleh bagian karena masih terdapat anak laki-laki pewaris yang kedudukannya lebih dekat. Pada kasus lain, seorang anak angkat telah merawat orang tua angkatnya selama puluhan tahun, tetapi tidak memperoleh warisan karena tidak memiliki hubungan darah. Dalam keadaan keluarga yang berbeda agama, seorang anak kandung telah mendampingi ayahnya selama bertahun-tahun, tetapi terhalang menerima warisan, karena keyakinannya tidak sama dengan pewaris.

Berbagai keadaan itulah yang membuat konsep wasiat wajibah terus berkembang. Ia tidak lagi hanya dipahami sebagai wasiat yang diwajibkan kepada cucu yang kehilangan orang tuanya. Dalam hukum Indonesia, konsep tersebut mengalami transformasi, yang dimulai dari anak angkat dan orang tua angkat, kemudian diperluas melalui putusan hakim kepada anggota keluarga yang terhalang menerima warisan, terutama karena perbedaan agama.

Berawal dari Persoalan Cucu di Mesir

Mesir menjadi salah satu negara penting dalam perkembangan modern wasiat wajibah. Melalui Undang-Undang Undang-Undang Nomor 71 tahun 1946 tentang kewarisan, Mesir mengatur perlindungan terhadap cucu yang ayah atau ibunya meninggal dunia lebih dahulu, daripada kakek atau neneknya.

Persoalannya berangkat dari struktur kewarisan klasik. Dalam hukum waris Sunni, ahli waris yang lebih dekat, dapat menutup ahli waris yang lebih jauh. Misalnya, seorang cucu laki-laki melalui anak laki-laki, dapat terhalang apabila pewaris masih mempunyai anak laki-laki. Akibatnya, cucu yang telah kehilangan ayahnya justru tidak memperoleh warisan dari kakeknya, sementara paman-pamannya memperoleh bagian.

Secara normatif, keadaan itu dapat dijelaskan dengan prinsip hijab. Namun, secara sosial, hasilnya dianggap tidak selalu adil. Cucu yang orang tuanya telah meninggal dunia, biasanya justru berada dalam kondisi yang lebih rentan. Ia kehilangan sumber nafkah dan perlindungan keluarga. Apabila kemudian tidak memperoleh apa pun dari harta kakeknya, kerentanan tersebut menjadi semakin berat.

Mesir tidak mengubah cucu itu menjadi ahli waris pengganti. Negara tersebut memilih jalur wasiat. Apabila orang tua cucu meninggal lebih dahulu daripada pewaris, cucu memperoleh wasiat wajibah sebesar bagian yang seharusnya diterima orang tuanya seandainya masih hidup, dengan batas paling banyak sepertiga dari harta peninggalan.

Konstruksi ini menarik, karena penerimanya tidak disebut sebagai ahli waris. Ia menerima bagian melalui wasiat yang keberadaannya dianggap wajib oleh undang-undang, meskipun pewaris tidak pernah membuat wasiat semasa hidupnya.

Dengan demikian, hukum Mesir membentuk sebuah fiksi hukum. Orang tua cucu dibayangkan masih hidup untuk menghitung besar bagiannya. Setelah jumlah tersebut diketahui, bagian itu dialihkan kepada keturunannya melalui wasiat wajibah. Mekanisme tersebut menyerupai penggantian tempat ahli waris, tetapi secara formal tetap berada dalam rezim wasiat.

Model ini kemudian memengaruhi pembaruan hukum keluarga di berbagai negara Muslim. Namun, ketika gagasan tersebut masuk ke Indonesia, bentuk dan fungsinya tidak diterapkan secara persis sama.

Indonesia Memilih Ahli Waris Pengganti

Kompilasi Hukum Islam mengambil jalan yang berbeda dalam menyelesaikan persoalan cucu yang orang tuanya meninggal lebih dahulu. Pasal 185 KHI memperkenalkan konsep ahli waris pengganti.

Melalui ketentuan ini, kedudukan seorang ahli waris yang meninggal lebih dahulu daripada pewaris dapat digantikan oleh anaknya. Artinya, cucu tidak lagi harus memperoleh bagian melalui jalur wasiat. Ia masuk langsung ke dalam struktur kewarisan dengan menggantikan kedudukan orang tuanya.

Di sinilah terjadi pergeseran penting. Dalam sistem Mesir, cucu tetap berada di luar kelompok ahli waris dan memperoleh bagian melalui wasiat wajibah. Dalam sistem Indonesia, cucu ditempatkan sebagai ahli waris pengganti.

Baca Juga  Pelenturan Yurisdiksi Absolut: Dialektika Kewenangan Peradilan Agama

Perubahan tersebut bukan sekadar perbedaan istilah. Kedudukan sebagai ahli waris membawa konsekuensi hukum yang berbeda, dari kedudukan sebagai penerima wasiat. Ahli waris memperoleh hak karena hubungan kewarisan, sedangkan penerima wasiat memperoleh hak berdasarkan penetapan wasiat. Ahli waris juga masuk dalam struktur pembagian setelah penyelesaian biaya pemakaman, utang, dan wasiat pewaris.

Melalui ahli waris pengganti, Indonesia dapat dikatakan mengembangkan gagasan yang semula di Mesir diselesaikan melalui wasiat wajibah. Tujuannya tetap sama, yaitu melindungi keturunan dari anak yang telah meninggal lebih dahulu. Namun, instrumen hukumnya berubah dari wasiat menjadi kewarisan.

Perubahan itu membuat ruang wasiat wajibah di Indonesia digunakan untuk menyelesaikan persoalan lain.

Wasiat Wajibah untuk Anak Angkat

Pasal 209 KHI mengatur bahwa anak angkat yang tidak memperoleh wasiat dari orang tua angkatnya, dapat diberikan wasiat wajibah paling banyak sepertiga dari harta peninggalan. Ketentuan yang sama berlaku secara timbal balik, bagi orang tua angkat terhadap harta peninggalan anak angkatnya.

Pengaturan ini merupakan pembaruan yang sangat khas Indonesia. Dalam hukum waris Islam, pengangkatan anak tidak mengubah nasab. Anak angkat tidak berubah menjadi anak kandung, tidak menggunakan nasab orang tua angkatnya, dan tidak otomatis saling mewarisi.

Namun, kehidupan sosial Indonesia menunjukkan bahwa hubungan antara anak angkat dan orang tua angkat sering kali sangat kuat. Anak angkat dapat dipelihara sejak kecil, dibiayai pendidikannya, dan hidup sepenuhnya sebagai bagian dari keluarga. Sebaliknya, anak angkat dapat merawat orang tua angkatnya sampai meninggal dunia.

Apabila hukum hanya berpegang pada hubungan darah, seluruh kontribusi sosial dan emosional tersebut tidak menimbulkan akibat kewarisan. Karena itulah wasiat wajibah dijadikan jalan tengah.

Anak angkat tetap tidak dinyatakan sebagai ahli waris. Prinsip nasab tetap dipertahankan. Akan tetapi, hukum di Indonesia tidak membiarkannya sama sekali tidak memperoleh bagian. Negara melalui KHI memerintahkan agar anak angkat diberikan bagian tertentu melalui wasiat, dengan batas maksimal sepertiga.

Pada tahap ini, fungsi wasiat wajibah telah berubah. Di Mesir, ia melindungi cucu yang masih memiliki hubungan darah. Di Indonesia, ia justru melindungi hubungan keluarga yang tidak didasarkan pada hubungan darah.

Perubahan ini memperlihatkan bahwa wasiat wajibah merupakan instrumen hukum yang lentur. Ia dapat digunakan untuk menutup ruang ketidakadilan, tanpa harus mengubah seluruh bangunan hukum waris.

Diperluas kepada Keluarga Beda Agama

Perkembangan berikutnya tidak datang dari pembentuk undang-undang, melainkan dari hakim. Kompilasi Hukum Islam tidak secara eksplisit mengatur wasiat wajibah bagi anak kandung, istri, suami, atau kerabat yang berbeda agama dengan pewaris.

Dalam doktrin kewarisan Islam yang dominan, perbedaan agama merupakan salah satu penghalang waris. Seorang anak non-Muslim, tidak memperoleh warisan dari orang tua Muslimnya. Demikian pula kerabat yang berbeda agama, tidak berkedudukan sebagai ahli waris dari pasangan Muslim.

Namun, beberapa putusan Mahkamah Agung memperlihatkan bahwa perbedaan agama tidak selalu menghapus hubungan keluarga. Seorang anak tetap memiliki hubungan darah dengan orang tuanya. Seorang istri mungkin telah mendampingi suaminya selama puluhan tahun. Mereka dapat hidup rukun, saling merawat, dan membangun kehidupan ekonomi bersama.

Mahkamah Agung kemudian menggunakan wasiat wajibah untuk memberi perlindungan kepada mereka.

Dalam Putusan Nomor 368 K/Ag/1995 dan Putusan Nomor 51 K/Ag/1999, Mahkamah Agung memberikan bagian kepada anak kandung non-Muslim melalui wasiat wajibah. Anak tersebut tidak ditempatkan sebagai ahli waris, tetapi tidak pula dibiarkan kehilangan seluruh hak ekonominya dari harta peninggalan orang tuanya.

Perkembangan lebih jauh terlihat dalam Putusan Nomor 16 K/Ag/2010. Dalam perkara tersebut, seorang istri non-Muslim yang telah hidup bersama dan mendampingi suaminya selama sekitar 18 tahun diberikan bagian melalui wasiat wajibah.

Pertimbangannya tidak hanya berangkat dari status perkawinan, tetapi juga dari pengabdian, kebersamaan, dan rasa keadilan. Putusan ini memperlihatkan bahwa hukum waris mulai membaca keluarga bukan hanya sebagai hubungan formal, melainkan juga sebagai hubungan kontribusi dan tanggung jawab.

Baca Juga  Mengapa Saudara Sepersusuan Layak Mendapat Wasiat Wajibah?

Arah serupa terlihat dalam Putusan Nomor 721 K/Ag/2015, Putusan Nomor 218 K/Ag/2016, dan Putusan Nomor 331 K/Ag/2018. Dalam putusan-putusan tersebut, Mahkamah Agung mempertimbangkan hubungan harmonis, perawatan terhadap pewaris, pengabdian, serta kehidupan damai dalam keluarga.

Perkembangan itu kemudian dirumuskan dalam Yurisprudensi Mahkamah Agung Nomor 1/Yur/Ag/2018. Kaidahnya menyatakan bahwa “Wasiat Wajibah dapat diberikan tidak hanya kepada anak angkat, sebagaimana diatur dalam Pasal 209 KHI, namun juga dapat diberikan kepada ahli waris yang tidak beragama Islam.”

Dari Keadilan Nasab menuju Keadilan Relasional

Perjalanan wasiat wajibah dari Mesir ke Indonesia menunjukkan perubahan dasar keadilan yang digunakan.

Di Mesir, dasar utamanya adalah hubungan darah. Cucu dilindungi karena merupakan keturunan langsung dari anak pewaris yang meninggal lebih dahulu.

Di Indonesia, perlindungan itu berkembang menjadi keadilan sosial bagi anak angkat. Selanjutnya, melalui putusan hakim, perlindungan diperluas menjadi keadilan relasional bagi anggota keluarga beda agama.

Keadilan relasional tidak hanya bertanya siapa yang mempunyai hubungan darah dengan pewaris. Ia juga mempertimbangkan siapa yang merawat, mendampingi, berkorban, dan hidup bersama pewaris.

Namun, perluasan tersebut juga membutuhkan batas yang jelas. Besarnya wasiat wajibah, batas maksimal sepertiga, hubungan dengan bagian ahli waris, serta kriteria penerimanya perlu dirumuskan secara lebih tegas. Tanpa pedoman yang seragam, putusan dapat berbeda-beda dan menimbulkan ketidakpastian.

Idealnya, pembaruan KHI atau undang-undang kewarisan Islam kelak mengatur bahwa wasiat wajibah dapat diberikan kepada anggota keluarga yang terhalang menjadi ahli waris, dengan mempertimbangkan hubungan darah, perkawinan, pengabdian, ketergantungan ekonomi, dan kebutuhan. Besarnya dapat dikaitkan dengan bagian hipotetis yang seharusnya diterima, tetapi tetap dibatasi paling banyak sepertiga, kecuali disetujui oleh seluruh ahli waris.

Penutup

Perjalanan wasiat wajibah memperlihatkan bahwa hukum waris Islam di Indonesia tidak berhenti pada teks. Ia tumbuh melalui legislasi, Kompilasi Hukum Islam, dan keberanian hakim membaca perubahan masyarakat.

Dari cucu yatim di Mesir, konsep itu berkembang menjadi ahli waris pengganti di Indonesia. Ruang wasiat wajibah lalu dialihkan kepada anak angkat dan orang tua angkat. Melalui yurisprudensi, cakupannya diperluas lagi kepada anak kandung, pasangan, dan anggota keluarga lain yang terhalang memperoleh warisan.

Perjalanan tersebut menunjukkan satu hal penting dalam hukum waris di Indonesia, yaitu: bahwa hukum waris tidak hanya berbicara tentang siapa yang berhak menerima, tetapi juga berbicara tentang bagaimana hukum mencegah seseorang kehilangan seluruh perlindungan, hanya karena ia tidak masuk ke dalam kategori ahli waris formal.

Daftar Bacaan Utama

Hakim, M. L., & Nasution, K. (2023). Accommodating non-Muslim rights: Legal arguments and legal principles in the Islamic jurisprudence of the Indonesian Supreme Court in the post-New Order era. Oxford Journal of Law and Religion, 11(2–3), 288–313.

Hidayati, S. (2012). Ketentuan wasiat wajibah di pelbagai negara Muslim kontemporer. Ahkam, 12(1), 81–90.

Fawzi, R., Rojak, E. A., Mujahid, I., & Sahid, M. M. (2024). Legal discovery method for non-Muslim heirs as recipients of wasiat wajibah. Jurnal Hukum Islam, 22(1), 161–188.

Zubair, A., & Latif, H. (2022). The construction of inheritance law reform in Indonesia: Questioning the transfer of properties through wasiat wajibah to non-Muslim heirs. Samarah: Jurnal Hukum Keluarga dan Hukum Islam, 6(1), 176–197.

Kutaraya, M. K., Hamidah, S., & Chanifah, N. (2024). The distribution of obligatory bequest to non-Muslim biological children from the perspective of Islamic inheritance law in Indonesia. Ascarya: Journal of Islamic Science, Culture and Social Studies, 4(1), 78–88.

Khoiruddin Hasibuan
Kontributor
Khoiruddin Hasibuan
Hakim Pengadilan Agama Soreang

Untuk Mendapatkan Berita Terbaru Suara BSDK, Follow Channel WhatsApp: SUARABSDKMARI

cucu yatim Hukum Waris mesir Wasiat Wajibah
Share. Facebook Twitter Threads Telegram WhatsApp Copy Link

Related Posts

Menimbang Kembali Pemidanaan Anak: Ketika Perundungan Berujung Kematian

October 31, 2026

Di Balik Asap Karhutla: Menelusuri Potensi Pencucian Uang dalam Green Financial Crime

October 31, 2026

Problematika Pelaksanaan Eksekusi Pembayaran Sejumlah Uang Terhadap Objek Jaminan Berupa Benda Bergerak

October 30, 2026
Leave A Reply Cancel Reply


Demo
Top Posts

Dari FGD hingga Semangkuk Mi Kuah, BSDK Tunjukkan Wajah Pendidikan Peradilan yang Humanis

October 28, 2026

Adu Domba: Bukan Sekedar Adu Kekuatan

October 23, 2026

Asap di Bumi Serambi Makkah: Jauh dari Titik Api, Dekat dengan Ujian Keadilan

October 20, 2026

Menata Sekretariat, Menjaga Nalar Peradilan

October 19, 2026
Don't Miss

Menimbang Kembali Pemidanaan Anak: Ketika Perundungan Berujung Kematian

By Wilmar Ibni Rusydan and Daniel H. NapitupuluOctober 31, 20260

Kabar meninggalnya seorang siswa sekolah dasar di Pemalang pada awal Oktober 2026 cukup menyita perhatian…

Lompatan Mutu Kebijakan Peradilan: BSDK MA RI Evaluasi 30 Naskah Rekomendasi Strategis di Jakarta

October 31, 2026

Di Balik Asap Karhutla: Menelusuri Potensi Pencucian Uang dalam Green Financial Crime

October 31, 2026

Merawat Janji 1928: Pengadilan Agama Jakarta Pusat Gelar Upacara Sumpah Pemuda Ke-98 Bersama BSDK MA RI

October 31, 2026
Stay In Touch
  • YouTube
  • TikTok
  • WhatsApp
  • Twitter
  • Instagram
Top Trending
Demo

Recent Posts

  • Menimbang Kembali Pemidanaan Anak: Ketika Perundungan Berujung Kematian
  • Lompatan Mutu Kebijakan Peradilan: BSDK MA RI Evaluasi 30 Naskah Rekomendasi Strategis di Jakarta
  • Di Balik Asap Karhutla: Menelusuri Potensi Pencucian Uang dalam Green Financial Crime
  • Merawat Janji 1928: Pengadilan Agama Jakarta Pusat Gelar Upacara Sumpah Pemuda Ke-98 Bersama BSDK MA RI
  • 90 Warga di Gugat, Hakim PN Dataran Hunipopu Cek Langsung Objek Sengketa

Recent Comments

  1. Rizka on Problematika Pelaksanaan Eksekusi Pembayaran Sejumlah Uang Terhadap Objek Jaminan Berupa Benda Bergerak
  2. Auzir on KUHAP Baru: Menanggalkan Jubah Interogator, Transformasi Menuju Sistem Adversarial
  3. Budi Santoso on Titian Panjang Pengabdian Prajurit Setia Hingga Akhir
  4. PrP on Kajian Green Victimology Sebagai Pendekatan Perlindungan Hukum Korban Kebakaran Hutan di Indonesia
  5. Grace Hall on Abhinaya Upangga Wisesa: Ketika Kerja Sunyi Menjadi Penjaga Martabat Peradilan
Hubungi Kami

Badan Strategi Kebijakan dan Pendidikan dan Pelatihan Hukum dan Peradilan Hukum dan Peradilan
Mahkamah Agung RI

Kantor: Jl. Cikopo Selatan Desa Sukamaju, Kec. Megamendung
Bogor, Jawa Barat 16770

Kirimkan reportase berita, opini, features dan artikel lainnya ke email suarabsdk.com : 
redpelsuarabsdk@gmail.com

Telepon: (0251) 8249520, 8249522, 8249531, 8249539

Kategori
Beranda Artikel Berita Features Sosok KRITERIA TULISAN
Filsafat Roman Satire Video BALACADAS
Connect With Us
  • Instagram
  • YouTube
  • WhatsApp
Aplikasi Internal
Logo 1 Logo 2 Logo 3 Logo 3 Logo 5
Logo 4 Logo 4 Logo 4 Logo 5 Logo 5 Logo 5
Kontributor
  • Avatar photo Ahmad Junaedi
  • Avatar photo Mohammad Khairul Muqorobin
  • Avatar photo Aman
  • Avatar photo Irvan Mawardi
  • Avatar photo Cecep Mustafa
  • Avatar photo Khoiruddin Hasibuan
  • Avatar photo Yudhistira Ary Prabowo
  • Avatar photo Ari Gunawan
  • Avatar photo Muamar Azmar Mahmud Farig
  • Avatar photo Syailendra Anantya Prawira
  • Avatar photo Ghesa Agnanto Hutomo
  • Avatar photo Johanes
  • Avatar photo Muhammad Rizqi Hengki
  • Avatar photo Syamsul Arief
  • Avatar photo Agus Digdo Nugroho
  • Avatar photo Timbul Bonardo Siahaan
  • Avatar photo Muhammad Adiguna Bimasakti
  • Avatar photo Dahlan Suherlan
  • Avatar photo Jatmiko Wirawan
  • Avatar photo Muhammad Zuchri Nasuha Lubis
  • Avatar photo Syihabuddin
  • Avatar photo Cik Basir
  • Avatar photo Taufikurrahman
  • Avatar photo Zulfahmi
  • Avatar photo Maria Fransiska Walintukan
  • Avatar photo Unggul Senoaji
  • Avatar photo Anton Ahmad Sogiri
  • Avatar photo M. Natsir Asnawi
  • Avatar photo Abdi Munawar Daeng Mangagang
  • Avatar photo Adji Prakoso
  • Avatar photo Bintoro Wisnu Prasojo
  • Avatar photo Yoshito Siburian
  • Avatar photo Iqbal Lazuardi
  • Avatar photo Sriti Hesti Astiti
  • Avatar photo Abdul Azis Ali Ramdlani
  • Avatar photo Galang Adhe Sukma
  • Avatar photo Harun Maulana
  • Avatar photo Ahmad Syahrus Sikti
  • Avatar photo Bagus Partha Wijaya
  • Avatar photo Layla Windy Puspita Sari
  • Avatar photo Muhammad Hanif Ramadhan
  • Avatar photo Anisa Yustikaningtiyas
  • Avatar photo Binsar Parlindungan Tampubolon
  • Avatar photo Ferdian Permadi
  • Avatar photo Ganjar Prima Anggara
  • Avatar photo I Gusti Lanang Ngurah Sidemen Putra
  • Avatar photo Eliyas Eko Setyo
  • Avatar photo Firzi Ramadhan
  • Avatar photo Itsnaatul Lathifah
  • Avatar photo Jarkasih
  • Avatar photo Sudiyo
  • Avatar photo Afifah Dwiandini
  • Avatar photo Febby Fajrurrahman
  • Avatar photo Garin Purna Sanjaya
  • Avatar photo Marulam J Sembiring
  • Avatar photo Tri Indroyono
  • Avatar photo Letkol Chk Agustono, S.H., M.H.
  • Avatar photo Ardiansyah Iksaniyah Putra
  • Avatar photo Buang Yusuf
  • Avatar photo Henri Setiawan
  • Avatar photo Irene Cristna Silalahi
  • Avatar photo Marsudin Nainggolan
  • Avatar photo Maulana Aulia
  • Avatar photo Riki Perdana Raya Waruwu
  • Avatar photo Siti Nadhiroh
  • Avatar photo Dr. Syofyan Iskandar, S.H., M.H.
  • Avatar photo Muhamad Zaky Albana
  • Avatar photo Fauzan Prasetya
  • Avatar photo Irwan Rosady
  • Avatar photo Khoiriyah Roihan
  • Avatar photo Redaktur SuaraBSDK
  • Avatar photo Yasin Prasetia
  • Avatar photo Audrey Kartika Putri
  • Avatar photo Cok Istri Bhagawanthi Pemayun
  • Avatar photo Eddy Daulatta Sembiring
  • Avatar photo Fitriyel Hanif
  • Avatar photo Gerry Michael Purba
  • Avatar photo K.G. Raegen
  • Avatar photo Rafi Muhammad Ave
  • Avatar photo Rangga Lukita Desnata
  • Avatar photo Rikatama Budiyantie
  • Avatar photo Silveria Supanti
  • Avatar photo Sugiarto
  • Avatar photo Teguh Setiyawan
  • Avatar photo Achmad Fikri Oslami
  • Avatar photo Agenda Citra Muhammad
  • Avatar photo Ahmad Fuad Noor Ghufron
  • Avatar photo Achmad Nurul Huda
  • Avatar photo Andro Riski Pradipta
  • Avatar photo Anggi Permana
  • Avatar photo Ang Rijal Amin
  • Avatar photo Armansyah
  • Avatar photo David Pasaribu
  • Avatar photo Dedi Putra
  • Avatar photo Dewi Maharati
  • Avatar photo Edi Hudiata
  • Avatar photo Gerry Geovant Supranata Kaban
  • Avatar photo Herjuna Praba Wiesesa
  • Avatar photo Hermanto
  • Avatar photo Indarka PP
  • Avatar photo Muhamad Fadillah
  • Avatar photo Nugraha Medica Prakasa
  • Avatar photo Ria Marsella
  • Avatar photo Rizal Arif Fitria
  • Avatar photo Sadana
  • Avatar photo Sahram
  • Avatar photo Saut Erwin Hartono A. Munthe
  • Avatar photo Yusuf Sodhiqin
  • Avatar photo Achmad Pratomo
  • Avatar photo Dr. H. Achmad Setyo Pudjoharsoyo., SH., M.Hum
  • Avatar photo Ahmad Muzayyin Destuladoe
  • Avatar photo Ahmad Faiz Shobir Alfikri
  • Avatar photo Ahmad Farhan Subhi
  • Avatar photo Arie Fitriansyah
  • Avatar photo Bismo Jiwo Agung
  • Avatar photo Dharma Setiawan Negara
  • Avatar photo Epri Wahyudi
  • Avatar photo Fajar Widodo
  • Avatar photo Fariz Prasetyo Aji
  • Avatar photo Fauzan Arrasyid
  • Avatar photo Fauzia Rohmah
  • Avatar photo Febry Indra Gunawan Sitorus
  • Avatar photo Hartanto Ariesyandi
  • Avatar photo Mardi Candra
  • Avatar photo Muhammad Irfan Syahputra
  • Avatar photo Muhammad Amin Putra
  • Avatar photo Niko Wijaya
  • Avatar photo Putra Nova A.S
  • Avatar photo Raden Heru Wibowo Sukaten
  • Avatar photo Rahmad Ramadhan Hasibuan
  • Avatar photo Satria Perdana
  • Avatar photo Trisoko Sugeng Sulistyo
  • Avatar photo Umar Dani
  • Avatar photo Wahyu Budi Santoso
  • Avatar photo Wilmar Ibni Rusydan
  • Avatar photo Abdul Hadi
  • Avatar photo Abiandri Fikri Akbar
  • Avatar photo Abi Zaky Azizi
  • Avatar photo Adimas Leo Firmansah
  • Avatar photo Andi Akram
  • Avatar photo Anggiyansyah Nurmanta
  • Avatar photo Arsyawal
  • Avatar photo Ashhab Triono
  • Avatar photo Aulia Rochmani Lazuardi
  • Avatar photo Azalia Purbayanti Sabana
  • Avatar photo Bagus Sujatmiko
  • Avatar photo Bayu Akbar Wicaksono
  • Avatar photo Chandra Khoirunnas
  • Avatar photo Cuhandi
  • Avatar photo Daniel H. Napitupulu
  • Avatar photo Deka Rachman Budihanto
  • Avatar photo Dendi Sutiyoso
  • Avatar photo Dhea Sutaryana
  • Avatar photo Enrico Simanjuntak
  • Avatar photo Fadhilah Fauzan, S.H.
  • Avatar photo Fahri Gunawan Siagian
  • Avatar photo Fauziah Rahmah
  • Avatar photo Fery Rochmad Ramadhan
  • Avatar photo Ida Masnita Sigalingging
  • Avatar photo Idik Saeful Bahri
  • Avatar photo Imaniar
  • Avatar photo Karell Mawla Ibnu Kamali
  • Avatar photo Khalilurrahman
  • Avatar photo Khoirul Anwar
  • Avatar photo Mentari Wahyudihati
  • Avatar photo Misbah
  • Avatar photo Muhamad Ridwan
  • Avatar photo Muhammad Fadllullah
  • Avatar photo Muhamad Iqbal
  • Avatar photo Nia Chasanah
  • Avatar photo Novritsar Hasintongan Pakpahan
  • Avatar photo Nugraha Wisnu Wijaya
  • Avatar photo Pandu Pradana Wicaksono, S.H.
  • Avatar photo Raden Anggara Kurniawan
  • Avatar photo Rahimulhuda Rizki Alwi
  • Avatar photo Ranggi Adiwangsa Yusron
  • Avatar photo Rifda Aprilia Rusfayanti
  • Avatar photo Muhammad Rijaldy Alwy
  • Avatar photo Rohim
  • Avatar photo Romi Hardhika
  • Avatar photo Samsul Zakaria
  • Avatar photo Siti Anis
  • Avatar photo Sri Nurmina Sari
  • Avatar photo Stefanus Dwi Putra Medisa
  • Avatar photo Sugiri Wiryandono
  • Avatar photo Tri Cahya Indra Permana
  • Avatar photo Yudhi Reksa Perdana
  • Avatar photo Abdul Ghani
  • Avatar photo Ach. Jufri
  • Avatar photo Achmad Cholil
  • Avatar photo Adhlan Fadhilla Ahmad
  • Avatar photo Afif Muchshon
  • Avatar photo Agus Suharsono
  • Avatar photo Ahmad Efendi
  • Avatar photo Ahmad Hodri
  • Avatar photo Ahmad Rikfi Fuadi
  • Avatar photo Ahmad Rizza Habibi
  • Avatar photo Aidil Akbar
  • Avatar photo Alep Priyoambodo
  • Avatar photo Alfajar Nugraha
  • Avatar photo Ali Sobirin
  • Avatar photo Andi Amirah Humairah Ya'kub
  • Avatar photo Anang Riyan Ramadianto
  • Avatar photo Anderson Peruzzi Simanjuntak
  • Avatar photo Andhika Prayoga
  • Avatar photo Andi Muhammad Galib
  • Avatar photo Andi Aswandi Tashar
  • Avatar photo Andrie Gunawan
  • Avatar photo Anna Yulina
  • Avatar photo Annisa Nur Alam
  • Avatar photo Antok Wibowo
  • Avatar photo Arga Febrian
  • Avatar photo Ariansyah
  • Avatar photo Arief Sapto Nugroho
  • Avatar photo Mayor Chk Arif Dwi Prasetyo
  • Avatar photo Aryaniek Andayani
  • Avatar photo Asep Ridwan Hotoya
  • Avatar photo Bella Puspitawati
  • Avatar photo Bellina Gamelia Sembiring Kembaren
  • Avatar photo Billy Saut Mangoloi
  • Avatar photo Bilma Diffika
  • Avatar photo Bony Daniel
  • Avatar photo Budi Hermanto
  • Avatar photo Budi Suhariyanto
  • Avatar photo Chandra
  • Avatar photo Christopher Hutapea
  • Avatar photo Daniel Saputra
  • Avatar photo Danny Agus Setiyanto
  • Dedi Wigandi
  • Avatar photo Devita Aulia
  • Avatar photo Djoni Witanto
  • Avatar photo Effendi Mukhtar
  • Avatar photo Egia Rasido Tarigan
  • Avatar photo Eka Sentausa
  • Avatar photo Engli Thirta Satria
  • Avatar photo Enos Syahputra Sipahutar, S.H., M.H.
  • Avatar photo Dr. Fahmiron
  • Avatar photo Fahri Bachmid
  • Avatar photo Fahri Soleh
  • Avatar photo Fakhir Tashin Baaj
  • Avatar photo Farhan Al Faris
  • Avatar photo Fatkul Mujib, S.H.I., M.H.
  • Avatar photo Dr. Fauziati, S.Ag., M.Ag
  • Avatar photo Febriansyah Rozarius
  • Avatar photo Friska Ariesta Aritedi
  • Avatar photo Gineng Pratidina
  • Avatar photo Hanry Ichfan Adityo
  • Avatar photo Peltu Hartono
  • Avatar photo Hastuti
  • Avatar photo Hendro Yatmoko
  • Avatar photo Ibnu Abas Ali
  • Avatar photo Ichsan Muhammad
  • Avatar photo I Made Sukadana
  • Indra Tua Hasangapon Harahap
  • Avatar photo Intan Widiastuti
  • Avatar photo Ira Soniawati
  • Avatar photo Irfan Dibar
  • Avatar photo Muhammad Irfansyah
  • Avatar photo Letkol Kum Irwan Tasri, S.H., M.H., M.Han.
  • Avatar photo Iwan Lamganda Manalu
  • Avatar photo Jerymia Seky Tanaem
  • Avatar photo Jimmy Maruli Alfian
  • Avatar photo Jusran Ipandi
  • Avatar photo Kadek Dwi Krisna Ananda
  • Avatar photo Khaimi
  • Avatar photo Khoerul Umam
  • Avatar photo Linora Rohayu
  • Avatar photo Made Passek Reza Swandira
  • Avatar photo Marta Satria Putra
  • Avatar photo Marwan Ibrahim Piinga
  • Avatar photo Marwanto
  • Avatar photo Marzha Tweedo Dikky Paraanugrah
  • Avatar photo Maulia Martwenty Ine
  • Avatar photo Mira Maulidar
  • Avatar photo Misbahul Anwar
  • Avatar photo Muhamad Deni Saputra
  • Avatar photo Muhamad Ilham Azizul Haq
  • Avatar photo Muhamad Saptari
  • Avatar photo Muhammad Muhyi Arrasyid, S.Psi.
  • Avatar photo Muhammad Bagus Tri Prasetyo
  • Avatar photo Muhammad Yusuf
  • Avatar photo Murdian
  • Avatar photo Nadia Yurisa Adila
  • Avatar photo Nisrina Irbah Sati
  • Avatar photo Noak Mispa Sianturi
  • Avatar photo Noor Ichwan Ichlas Ria Adha
  • Avatar photo Novtri Nelli
  • Avatar photo Letkol CHK Nur Sakdi, S.H, M.H.
  • Avatar photo Nur Latifah Hanum
  • Avatar photo Piput Milandsari
  • Avatar photo Pita Permatasari
  • Avatar photo H .A.S Pudjoharsoyo
  • Avatar photo Putri Pebrianti
  • Avatar photo R. Deddy Harryanto
  • Avatar photo Radityo Muhammad Harseno
  • Avatar photo Rahmi Fattah
  • Avatar photo Randy Viyatadhika
  • Avatar photo Ratih Gumilang
  • Avatar photo Reindra Jasper H. Sinaga, S.H. Hakim Pengadilan Negeri Tanjung Balai Karimun
  • Avatar photo Reynold Mauliate Panggabean
Lihat semua kontributor →

Type above and press Enter to search. Press Esc to cancel.