Close Menu
Suara BSDKSuara BSDK
  • Beranda
  • Artikel
  • Berita
  • Features
  • Sosok
  • Filsafat
  • Roman
  • Satire
  • Video
  • Liputan Khusus

Subscribe to Updates

Get the latest creative news from FooBar about art, design and business.

What's Hot

Bedah Kasus di Akhir Kursus: Diklat Teknis Yudisial Dispensasi Kawin Telah Sampai pada Intinya

October 8, 2026

PN Gresik Bawa Persidangan Tipiring Knalpot Brong ke Tengah Masyarakat

October 8, 2026

Membedah Rahasia Keberhasilan Wakai dan Chotei untuk Mediasi Indonesia

October 8, 2026
Instagram YouTube
Suara BSDKSuara BSDK
Deskripsi Gambar
  • Beranda
  • Artikel
  • Berita
  • Features
  • Sosok
  • Filsafat
  • Roman
  • Satire
  • Video
  • Liputan Khusus
Suara BSDKSuara BSDK
Deskripsi Gambar
  • Beranda
  • Artikel
  • Berita
  • Features
  • Sosok
  • Filsafat
  • Roman
  • Satire
  • Video
  • Liputan Khusus
Home » Dari Lumpur Sawah ke Mahkamah Agung: Catatan Anak Penggembala Kerbau yang Menjemput Takdir

Dari Lumpur Sawah ke Mahkamah Agung: Catatan Anak Penggembala Kerbau yang Menjemput Takdir

ChandraBy ChandraAugust 23, 2026 · 09:01 WIB7 Mins Read4 Comments
Share
Facebook Twitter Threads Telegram WhatsApp

I. Pundak Terakhir dan Harapan yang Runtuh

Saya adalah anak kedua dari sepasang kekasih yang dihidupi oleh kesederhanaan tanah dan peluh. Ibu saya seorang penggembala kerbau, dan Ayah adalah pejuang hidup yang mengadu nasib di riuhnya pasar sayur. Keduanya tidak pernah mengenyam bangku pendidikan; bagi mereka, sekolah adalah kemewahan yang tak tersentuh.

Harapan keluarga ini sebenarnya sempat berlayar bersama kakak lelaki saya yang merantau membelah lautan menjadi pelaut. Namun, kerasnya kehidupan di luar sana rupanya terlalu kejam. Kakak pulang dengan jiwa yang patah. Ia kini lebih banyak mengurung diri di rumah, enggan melangkah keluar karena batinnya yang teramat terpukul. Sejak hari itu, di tengah rumah yang sunyi, seluruh sisa harapan orang tua mendadak runtuh dan berpindah total ke atas pundak saya.

II. Pintu-Pintu yang Tertutup dan Derita Stigma

Memakai seragam abdi negara adalah cita-cita besar saya, yang kini menjelma menjadi satu-satunya lentera bagi kedua orang tua untuk keluar dari kubangan kemiskinan. Namun, takdir rupanya senang menguji kesetiaan. Lima kali saya mengetuk pintu kesempatan, lima kali pula kegagalan membawa saya kembali pulang.

Momen paling berat bukanlah saat melihat angka-angka yang tidak cukup di layar komputer, melainkan saat kaki ini melangkah keluar dari gedung ujian. Layar ponsel di tangan saya mendadak terasa begitu berat. Ibu jari saya tertahan lama di atas nama “Ibu”—gemetar, bergetar hebat, namun tak pernah punya nyali untuk mengetuk tombol panggil. Saya lebih memilih menelan mati rasa di dada daripada harus mengirimkan kabar hancur yang akan menyiksa batin orang tua saya di seberang sana.

Beban itu kian menghimpit dada kala telinga ini harus selalu siap menerima sindiran yang menyakitkan dari orang-orang sekitar. Setiap kali saya terlihat sibuk mempersiapkan diri, cibiran selalu datang bertamu, “Punya uang berapa mau meloloskan anak jadi PNS? Sadar diri, buat bertahan hidup sehari-hari saja susah!”

Kalimat itu rasanya mencekik leher. Di kampung kami, ada stigma yang dipercayai semua orang: bahwa kursi pegawai negeri hanya milik mereka yang berdompet tebal. Jangankan untuk menyuap, untuk sekadar menyambung napas dari hari ke hari saja kami harus memeras keringat habis-habisan. Di saat anak-anak lain bisa fokus belajar di kamar yang nyaman atau di ruang bimbingan belajar yang mahal, saya harus membelah dunia menjadi dua. Di bawah terik matahari, dengan kaki yang terbenam di dalam lumpur, saya menggiring kerbau di tengah sawah sambil terus memeluk erat mimpi yang oleh orang lain dianggap terlalu tinggi.

III. Sujud Sepertiga Malam dan Keikhlasan Orang Tua

Saya tahu, saya bukan anak yang diberkahi otak cemerlang. Saya paham betul keterbatasan kecerdasan saya jika dibandingkan dengan orang lain. Karena sadar diri dengan kekurangan itu, saya terpaksa melipatgandakan usaha dan mencuri waktu tidur. Saya belajar mati-matian hingga larut malam. Di bawah pendar lampu kamar yang temaram, pandangan saya kerap kali kabur. Bukan hanya karena kantuk, melainkan karena air mata yang perlahan luruh, jatuh satu demi satu menembus serat-serat kertas halaman buku. Saya menangisi otak saya yang bebal, mengetuk-ngetuk kepala yang penat seolah memaksa logika untuk bertahan sedikit lebih lama lagi demi sebuah takdir yang belum pasti. Dalam keheningan malam itu, orang tua saya sering kali mengetuk pintu kamar, dengan suara teramat lembut meminta saya menyudahi belajar dan segera beristirahat.

Baca Juga  Pengantar Tugas, Menjaga Dedikasi dan Kehormatan BSDK

Namun, di balik dinding rumah yang sepi, saya tidak pernah berjalan sendirian. Setiap kali saya terjaga membedah malam, Ibu selalu menemani saya dengan bahasanya yang paling sunyi. Di sepertiga malam, ia membentangkan sajadah, bersujud dalam rakaat-rakaat tahajud yang panjang. Ia merajut kembali harapan-harapan anaknya yang koyak lewat doa yang melesat langsung ke langit.

Melihat pemandangan itu, dada saya justru sering kali didera rasa bersalah yang hebat. Ada ketakutan besar yang merayap di dalam hati. Kadang, terbersit keinginan untuk memegang jemari Ibu yang mulai keriput dan berbisik lirih, “Ibu, jangan berharap terlalu banyak kepada saya… Saya takut membuat Ibu kecewa lagi.”

IV. Pertaruhan Seluruh Hidup

Perjalanan panjang itu akhirnya membawa saya pada percobaan yang keenam. Untuk pertama kalinya, nama saya tertera di daftar kelulusan tahap awal. Namun, kelulusan itu justru mendatangkan badai kecemasan baru yang tidak kalah besar.

Suatu malam, kedua orang tua memanggil saya untuk duduk bersama. Tatapan mata mereka begitu dalam, menyimpan sebuah kasih sayang yang agung. Dengan suara yang tertahan, Ayah dan Ibu berkata, “Nak, jika tes kali ini memang harus menggunakan uang, kamu jangan khawatir… Kami sudah menemukan calon pembeli untuk rumah kita ini. Kerbau-kerbau juga akan segera kita jual. Kami rela kembali berladang dari nol, asal kamu bisa meraih impianmu.”

Seketika itu juga, pasokan udara di paru-paru saya seolah terenggut habis. Rumah berdinding lapuk tempat kami berteduh dari hujan, dan kerbau-kerbau yang kulitnya sering saya usap di sawah—harta pamungkas keluarga kami—ingin mereka tumbalkan demi ambisi saya. Malam itu saya sadar, saya tidak lagi sekadar memegang selembar kartu ujian, melainkan sedang menggenggam seluruh urat nadi tempat tinggal orang tua saya.

Di depan mereka, saya sekuat tenaga menahan air mata yang bergejolak di dada. Saya memaksakan sebuah senyuman, menggenggam tangan mereka yang kasar, dan berbisik, “Ibu, Ayah, tidak usah khawatir. Tes ini murni, tidak pakai uang sepeser pun. Tolong jangan jual rumah dan kerbau kita.” Namun di balik senyum itu, ketakutan saya kian membesar. Bagaimana jika doa tahajud Ibu kalah oleh kekuatan uang? Taruhannya kali ini adalah seluruh hidup kami.

V. Langit Menjawab Doa

Hingga tibalah hari penentuan itu.

Sore itu, saya baru saja menyudahi penat menggiring kerbau dari sawah. Setelah membersihkan sisa lumpur dan menunaikan shalat ashar, saya hendak mengecek pengumuman kelulusan di media sosial. Rupanya, pengumuman telah resmi keluar. Namun, seketika itu juga seluruh persendian saya melemah, tangan saya sedingin es. Saya tidak berani membuka pengumuman itu.

Baca Juga  Dari Bengkulu ke Puncak Nilai Tertinggi: Di Balik Candaan Arison, Ada Mimpi Besar yang sedang Diperjuangkan

Di sela keheningan sore itu, waktu serasa melambat secara kejam. Di satu sisi, jemari saya mencengkeram ponsel yang menyala; di sisi lain, saya melihat Ibu kembali membentangkan sajadah setianya, bersiap untuk shalat. Saat itu Ayah tidak ada di rumah; ia sedang pergi mencari barang dagangan sayur untuk jualan esok hari. Setiap helaan napas Ibu dalam shalatnya adalah detak jantung saya yang berpacu liar. Saya bersumpah tidak akan membuka gerbang takdir itu sebelum Ibu selesai mengetuk pintu langit.

Begitu Ibu mengusap wajah, menandakan bait doa terakhirnya telah selesai, saya memantapkan hati. Dengan napas yang tertahan dan jemari gemetar, saya buka berkas digital itu. Mata saya menyusuri baris demi baris nama, hingga akhirnya pandangan saya terkunci pada satu nama yang membuat tangis saya meledak seketika: Nama saya ada di sana. Saya LULUS.

Pertahanan diri yang saya bangun bertahun-tahun runtuh dalam satu detik. Saya berlari menghambur, bersujud, lalu merengkuh tubuh ringkih Ibu yang masih terbalut mukena putih di atas sajadah usangnya. Di atas hamparan kain suci itu, dada kami bergolak hebat, tangis kami pecah sejadi-jadinya. Mukena Ibu basah oleh air mata saya—air mata yang melarutkan seluruh sisa lara dari lima kali dipecundangi takdir dan direndahkan oleh dunia. Ibu mendekap erat anak penggembala kerbaunya yang kini telah resmi menjadi abdi negara, menghapus semua duka masa lalu dengan air mata harunya.

Sambil terisak, saya raih ponsel untuk menghubungi Ayah yang sedang berada di pasar. Di ujung telepon, begitu kalimat “Saya lulus, Yah” terucap, suara Ayah yang biasanya tegar langsung bergetar. Ia menangis tersedu-sedu, meluapkan rasa syukur yang tak mampu diterjemahkan oleh kata-kata. Sore itu juga, Ayah memutuskan menyudahi aktivitasnya, meninggalkan dagangannya, dan segera pulang. Kami ingin merayakan kemenangan ini bersama—kemenangan sebuah kejujuran di atas kemiskinan.

VI. Menjaga Marwah Keadilan Bangsa

Kini, perjuangan panjang itu bermuara pada pengabdian yang nyata. Saya sangat bangga dan bersyukur bisa diterima di instansi kebanggaan saya, Mahkamah Agung Republik Indonesia. Langkah kaki yang dulunya terbenam di lumpur sawah, kini harus berjalan tegak demi menjaga marwah hukum dan keadilan bangsa.

Cacian orang-orang yang dulu meremehkan impian kami kini patah, hancur berkeping-keping. Rumah kami tidak perlu dijual, dan kerbau-kerbau di sawah akan tetap menjadi saksi bisu bahwa peluh yang jujur, belajar yang sampai menitikkan air mata, serta doa seorang ibu miskin di sepertiga malam telah berhasil mengubah takdir dunia.

“Peluh yang jujur, belajar yang sampai menitikkan air mata, serta doa seorang ibu di sepertiga malam… sanggup mengubah takdir dunia.”
Chandra
Kontributor
Chandra
Dokumentalis Hukum Pengadilan Agama Muara Bungo

Untuk Mendapatkan Berita Terbaru Suara BSDK, Follow Channel WhatsApp: SUARABSDKMARI

Abdi Negara Doa Ibu Inspirasi Motivasi Pantang Menyerah pengabdian Perjuangan Perjuangan Hidup Seleksi ASN
Share. Facebook Twitter Threads Telegram WhatsApp Copy Link

Related Posts

Palu di antara Cinta dan Hukum

September 22, 2026

Samara dan Siluman Matu

September 5, 2026

Jejak Langkah Sang Penggagas : Dari Megamendung ke Medan Merdeka Utara

September 2, 2026

4 Comments

  1. FE Sutan Kayo on August 24, 2026 10:32 am

    Kayo lihai wo..




    Reply
  2. Hidayah on August 24, 2026 1:07 pm

    Bentuk kegigihan menggapai impian. kisah nyata yang bisa menginsiparasi. Man jadda wa jada.




    Reply
  3. Hoiriah Ayub on August 24, 2026 8:04 pm

    Masya Allah … kisah yang sangat menginsiparasi, saya sangat terharu membacanya.




    Reply
  4. Mia on August 25, 2026 1:13 pm

    Kisah nyata kah




    Reply
Leave A Reply Cancel Reply


Demo
Top Posts

Di mana Kesaktian Pancasila Diuji?

October 1, 2026

Senja di Losari dengan Secangkir Saraba dan Sepiring Pisang Epe

September 16, 2026

Siasat Tiada Henti Penjaga Keadilan

September 13, 20261,545 Views

Titah Leviathan

September 11, 2026
Don't Miss

Bedah Kasus di Akhir Kursus: Diklat Teknis Yudisial Dispensasi Kawin Telah Sampai pada Intinya

By Abdul Azis Ali RamdlaniOctober 8, 20260

Megamendung, 8 Oktober 2026, Menginjak siang hingga sore hari, dinamika pelatihan bergeser ke sesi yang…

PN Gresik Bawa Persidangan Tipiring Knalpot Brong ke Tengah Masyarakat

October 8, 2026

Membedah Rahasia Keberhasilan Wakai dan Chotei untuk Mediasi Indonesia

October 8, 2026

Ketika Kebakaran Hutan dan Lahan Dilakukan oleh Badan Usaha: Siapa Saja Yang Berhak Menggugat Secara Perdata?

October 8, 2026
Stay In Touch
  • YouTube
  • TikTok
  • WhatsApp
  • Twitter
  • Instagram
Top Trending
Demo

Recent Posts

  • Bedah Kasus di Akhir Kursus: Diklat Teknis Yudisial Dispensasi Kawin Telah Sampai pada Intinya
  • PN Gresik Bawa Persidangan Tipiring Knalpot Brong ke Tengah Masyarakat
  • Membedah Rahasia Keberhasilan Wakai dan Chotei untuk Mediasi Indonesia
  • Ketika Kebakaran Hutan dan Lahan Dilakukan oleh Badan Usaha: Siapa Saja Yang Berhak Menggugat Secara Perdata?
  • Menakar Ringannya Perbuatan

Recent Comments

  1. Pandu PW on Ketika Perkawinan Tidak Tercatat : Isbat Nikah sebagai Jalan Menuju Perlindungan Hak Anak
  2. Mery Donna Tiur Pasaribu on Praperadilan dan Batas Kekuasaan
  3. indarka pp on Siasat Tiada Henti Penjaga Keadilan
  4. Anton Yikwa on Penganugerahan Lomba Layanan Pengadilan Tahun 2026: Membangun Budaya Kinerja dan Pelayanan Prima di Lingkungan Peradilan Militer dan Tata Usaha Negara
  5. Syihabuddin on Sebuah Ulasan atas Film ‘Ghost In The Cell’
Hubungi Kami

Badan Strategi Kebijakan dan Pendidikan dan Pelatihan Hukum dan Peradilan Hukum dan Peradilan
Mahkamah Agung RI

Kantor: Jl. Cikopo Selatan Desa Sukamaju, Kec. Megamendung
Bogor, Jawa Barat 16770

Kirimkan reportase berita, opini, features dan artikel lainnya ke email suarabsdk.com : 
redpelsuarabsdk@gmail.com

Telepon: (0251) 8249520, 8249522, 8249531, 8249539

Kategori
Beranda Artikel Berita Features Sosok KRITERIA TULISAN
Filsafat Roman Satire Video BALACADAS
Connect With Us
  • Instagram
  • YouTube
  • WhatsApp
Aplikasi Internal
Logo 1 Logo 2 Logo 3 Logo 3 Logo 5
Logo 4 Logo 4 Logo 4 Logo 5 Logo 5 Logo 5
Kontributor
  • Avatar photo Ahmad Junaedi
  • Avatar photo Mohammad Khairul Muqorobin
  • Avatar photo Aman
  • Avatar photo Irvan Mawardi
  • Avatar photo Cecep Mustafa
  • Avatar photo Khoiruddin Hasibuan
  • Avatar photo Ari Gunawan
  • Avatar photo Yudhistira Ary Prabowo
  • Avatar photo Muamar Azmar Mahmud Farig
  • Avatar photo Ghesa Agnanto Hutomo
  • Avatar photo Syailendra Anantya Prawira
  • Avatar photo Muhammad Rizqi Hengki
  • Avatar photo Agus Digdo Nugroho
  • Avatar photo Syamsul Arief
  • Avatar photo Timbul Bonardo Siahaan
  • Avatar photo Dahlan Suherlan
  • Avatar photo Johanes
  • Avatar photo Muhammad Adiguna Bimasakti
  • Avatar photo Jatmiko Wirawan
  • Avatar photo Cik Basir
  • Avatar photo Syihabuddin
  • Avatar photo Taufikurrahman
  • Avatar photo Zulfahmi
  • Avatar photo Maria Fransiska Walintukan
  • Avatar photo Anton Ahmad Sogiri
  • Avatar photo Unggul Senoaji
  • Avatar photo Abdi Munawar Daeng Mangagang
  • Avatar photo M. Natsir Asnawi
  • Avatar photo Yoshito Siburian
  • Avatar photo Adji Prakoso
  • Avatar photo Sriti Hesti Astiti
  • Avatar photo Iqbal Lazuardi
  • Avatar photo Abdul Azis Ali Ramdlani
  • Avatar photo Galang Adhe Sukma
  • Avatar photo Harun Maulana
  • Avatar photo Layla Windy Puspita Sari
  • Avatar photo Muhammad Hanif Ramadhan
  • Avatar photo Ahmad Syahrus Sikti
  • Avatar photo Anisa Yustikaningtiyas
  • Avatar photo I Gusti Lanang Ngurah Sidemen Putra
  • Avatar photo Binsar Parlindungan Tampubolon
  • Avatar photo Bintoro Wisnu Prasojo
  • Avatar photo Eliyas Eko Setyo
  • Avatar photo Firzi Ramadhan
  • Avatar photo Ganjar Prima Anggara
  • Avatar photo Jarkasih
  • Avatar photo Sudiyo
  • Avatar photo Febby Fajrurrahman
  • Avatar photo Garin Purna Sanjaya
  • Avatar photo Itsnaatul Lathifah
  • Avatar photo Marulam J Sembiring
  • Avatar photo Tri Indroyono
  • Avatar photo Letkol Chk Agustono, S.H., M.H.
  • Avatar photo Ardiansyah Iksaniyah Putra
  • Avatar photo Buang Yusuf
  • Avatar photo Ferdian Permadi
  • Avatar photo Irene Cristna Silalahi
  • Avatar photo Marsudin Nainggolan
  • Avatar photo Maulana Aulia
  • Avatar photo Riki Perdana Raya Waruwu
  • Avatar photo Siti Nadhiroh
  • Avatar photo Dr. Syofyan Iskandar, S.H., M.H.
  • Avatar photo Muhamad Zaky Albana
  • Avatar photo Afifah Dwiandini
  • Avatar photo Henri Setiawan
  • Avatar photo Irwan Rosady
  • Avatar photo Khoiriyah Roihan
  • Avatar photo Redaktur SuaraBSDK
  • Avatar photo Yasin Prasetia
  • Avatar photo Audrey Kartika Putri
  • Avatar photo Eddy Daulatta Sembiring
  • Avatar photo Fauzan Prasetya
  • Avatar photo Fitriyel Hanif
  • Avatar photo Gerry Michael Purba
  • Avatar photo K.G. Raegen
  • Avatar photo Rafi Muhammad Ave
  • Avatar photo Rangga Lukita Desnata
  • Avatar photo Rikatama Budiyantie
  • Avatar photo Sugiarto
  • Avatar photo Teguh Setiyawan
  • Avatar photo Achmad Fikri Oslami
  • Avatar photo Ahmad Fuad Noor Ghufron
  • Avatar photo Achmad Nurul Huda
  • Avatar photo Andro Riski Pradipta
  • Avatar photo Anggi Permana
  • Avatar photo Ang Rijal Amin
  • Avatar photo Armansyah
  • Avatar photo Cok Istri Bhagawanthi Pemayun
  • Avatar photo Dedi Putra
  • Avatar photo Dewi Maharati
  • Avatar photo Gerry Geovant Supranata Kaban
  • Avatar photo Herjuna Praba Wiesesa
  • Avatar photo Hermanto
  • Avatar photo Indarka PP
  • Avatar photo Muhamad Fadillah
  • Avatar photo Muhammad Zuchri Nasuha Lubis
  • Avatar photo Nugraha Medica Prakasa
  • Avatar photo Ria Marsella
  • Avatar photo Sadana
  • Avatar photo Sahram
  • Avatar photo Saut Erwin Hartono A. Munthe
  • Avatar photo Silveria Supanti
  • Avatar photo Yusuf Sodhiqin
  • Avatar photo Achmad Pratomo
  • Avatar photo Dr. H. Achmad Setyo Pudjoharsoyo., SH., M.Hum
  • Avatar photo Agenda Citra Muhammad
  • Avatar photo Ahmad Faiz Shobir Alfikri
  • Avatar photo Arie Fitriansyah
  • Avatar photo Bismo Jiwo Agung
  • Avatar photo David Pasaribu
  • Avatar photo Edi Hudiata
  • Avatar photo Epri Wahyudi
  • Avatar photo Fajar Widodo
  • Avatar photo Fariz Prasetyo Aji
  • Avatar photo Fauzan Arrasyid
  • Avatar photo Fauzia Rohmah
  • Avatar photo Febry Indra Gunawan Sitorus
  • Avatar photo Hartanto Ariesyandi
  • Avatar photo Mardi Candra
  • Avatar photo Muhammad Irfan Syahputra
  • Avatar photo Muhammad Amin Putra
  • Avatar photo Niko Wijaya
  • Avatar photo Putra Nova A.S
  • Avatar photo Raden Heru Wibowo Sukaten
  • Avatar photo Rizal Arif Fitria
  • Avatar photo Trisoko Sugeng Sulistyo
  • Avatar photo Umar Dani
  • Avatar photo Wahyu Budi Santoso
  • Avatar photo Abdul Hadi
  • Avatar photo Abiandri Fikri Akbar
  • Avatar photo Abi Zaky Azizi
  • Avatar photo Adimas Leo Firmansah
  • Avatar photo Ahmad Farhan Subhi
  • Avatar photo Andi Akram
  • Avatar photo Arsyawal
  • Avatar photo Ashhab Triono
  • Avatar photo Aulia Rochmani Lazuardi
  • Avatar photo Bagus Partha Wijaya
  • Avatar photo Bagus Sujatmiko
  • Avatar photo Bayu Akbar Wicaksono
  • Avatar photo Chandra Khoirunnas
  • Avatar photo Cuhandi
  • Avatar photo Deka Rachman Budihanto
  • Avatar photo Dendi Sutiyoso
  • Avatar photo Dharma Setiawan Negara
  • Avatar photo Dhea Sutaryana
  • Avatar photo Enrico Simanjuntak
  • Avatar photo Fahri Gunawan Siagian
  • Avatar photo Fauziah Rahmah
  • Avatar photo Fery Rochmad Ramadhan
  • Avatar photo Idik Saeful Bahri
  • Avatar photo Karell Mawla Ibnu Kamali
  • Avatar photo Khalilurrahman
  • Avatar photo Khoirul Anwar
  • Avatar photo Mentari Wahyudihati
  • Avatar photo Misbah
  • Avatar photo Muhamad Ridwan
  • Avatar photo Muhamad Iqbal
  • Avatar photo Nia Chasanah
  • Avatar photo Novritsar Hasintongan Pakpahan
  • Avatar photo Nugraha Wisnu Wijaya
  • Avatar photo Raden Anggara Kurniawan
  • Avatar photo Rahimulhuda Rizki Alwi
  • Avatar photo Rahmad Ramadhan Hasibuan
  • Avatar photo Ranggi Adiwangsa Yusron
  • Avatar photo Muhammad Rijaldy Alwy
  • Avatar photo Rohim
  • Avatar photo Romi Hardhika
  • Avatar photo Samsul Zakaria
  • Avatar photo Satria Perdana
  • Avatar photo Siti Anis
  • Avatar photo Tri Cahya Indra Permana
  • Avatar photo Wilmar Ibni Rusydan
  • Avatar photo Yudhi Reksa Perdana
  • Avatar photo Abdul Ghani
  • Avatar photo Ach. Jufri
  • Avatar photo Achmad Cholil
  • Avatar photo Afif Muchshon
  • Avatar photo Agus Suharsono
  • Avatar photo Ahmad Efendi
  • Avatar photo Ahmad Hodri
  • Avatar photo Ahmad Rikfi Fuadi
  • Avatar photo Ahmad Rizza Habibi
  • Avatar photo Aidil Akbar
  • Avatar photo Alep Priyoambodo
  • Avatar photo Alfajar Nugraha
  • Avatar photo Andi Amirah Humairah Ya'kub
  • Avatar photo Anderson Peruzzi Simanjuntak
  • Avatar photo Andhika Prayoga
  • Avatar photo Andi Muhammad Galib
  • Avatar photo Andi Aswandi Tashar
  • Avatar photo Andrie Gunawan
  • Avatar photo Anggiyansyah Nurmanta
  • Avatar photo Anna Yulina
  • Avatar photo Annisa Nur Alam
  • Avatar photo Arga Febrian
  • Avatar photo Ariansyah
  • Avatar photo Arief Sapto Nugroho
  • Avatar photo Mayor Chk Arif Dwi Prasetyo
  • Avatar photo Aryaniek Andayani
  • Avatar photo Bella Puspitawati
  • Avatar photo Bellina Gamelia Sembiring Kembaren
  • Avatar photo Bilma Diffika
  • Avatar photo Bony Daniel
  • Avatar photo Budi Hermanto
  • Avatar photo Budi Suhariyanto
  • Avatar photo Chandra
  • Avatar photo Christopher Hutapea
  • Avatar photo Daniel H. Napitupulu
  • Avatar photo Daniel Saputra
  • Dedi Wigandi
  • Avatar photo Djoni Witanto
  • Avatar photo Effendi Mukhtar
  • Avatar photo Egia Rasido Tarigan
  • Avatar photo Eka Sentausa
  • Avatar photo Enos Syahputra Sipahutar, S.H., M.H.
  • Avatar photo Dr. Fahmiron
  • Avatar photo Fahri Bachmid
  • Avatar photo Fahri Soleh
  • Avatar photo Fakhir Tashin Baaj
  • Avatar photo Farhan Al Faris
  • Avatar photo Fatkul Mujib, S.H.I., M.H.
  • Avatar photo Dr. Fauziati, S.Ag., M.Ag
  • Avatar photo Febriansyah Rozarius
  • Avatar photo Friska Ariesta Aritedi
  • Avatar photo Gineng Pratidina
  • Avatar photo Hanry Ichfan Adityo
  • Avatar photo Peltu Hartono
  • Avatar photo Hastuti
  • Avatar photo Hendro Yatmoko
  • Avatar photo Ibnu Abas Ali
  • Avatar photo Ida Masnita Sigalingging
  • Avatar photo I Made Sukadana
  • Indra Tua Hasangapon Harahap
  • Avatar photo Ira Soniawati
  • Avatar photo Irfan Dibar
  • Avatar photo Muhammad Irfansyah
  • Avatar photo Letkol Kum Irwan Tasri, S.H., M.H., M.Han.
  • Avatar photo Iwan Lamganda Manalu
  • Avatar photo Jerymia Seky Tanaem
  • Avatar photo Jimmy Maruli Alfian
  • Avatar photo Jusran Ipandi
  • Avatar photo Khaimi
  • Avatar photo Khoerul Umam
  • Avatar photo Linora Rohayu
  • Avatar photo Made Passek Reza Swandira
  • Avatar photo Marta Satria Putra
  • Avatar photo Marwan Ibrahim Piinga
  • Avatar photo Marwanto
  • Avatar photo Marzha Tweedo Dikky Paraanugrah
  • Avatar photo Maulia Martwenty Ine
  • Avatar photo Mira Maulidar
  • Avatar photo Misbahul Anwar
  • Avatar photo Muhamad Ilham Azizul Haq
  • Avatar photo Muhamad Saptari
  • Avatar photo Muhammad Fadllullah
  • Avatar photo Muhammad Muhyi Arrasyid, S.Psi.
  • Avatar photo Muhammad Bagus Tri Prasetyo
  • Avatar photo Muhammad Yusuf
  • Avatar photo Murdian
  • Avatar photo Nadia Yurisa Adila
  • Avatar photo Nisrina Irbah Sati
  • Avatar photo Letkol CHK Nur Sakdi, S.H, M.H.
  • Avatar photo Nur Latifah Hanum
  • Avatar photo Pandu Pradana Wicaksono, S.H.
  • Avatar photo Piput Milandsari
  • Avatar photo Pita Permatasari
  • Avatar photo H .A.S Pudjoharsoyo
  • Avatar photo Putri Pebrianti
  • Avatar photo R. Deddy Harryanto
  • Avatar photo Radityo Muhammad Harseno
  • Avatar photo Rahmi Fattah
  • Avatar photo Randy Viyatadhika
  • Avatar photo Ratih Gumilang
  • Avatar photo Reindra Jasper H. Sinaga, S.H. Hakim Pengadilan Negeri Tanjung Balai Karimun
  • Avatar photo Peltu Ricko Rikardo, S.H
  • Avatar photo Muh Ridha Hakim
  • Avatar photo Rifqi Qowiyul Iman
  • Avatar photo Rizal Abdurrahman
  • Avatar photo Penulis adalah Filsuf - Analis Politik dan Kebangsaan
  • Avatar photo Rudi Hartoyo
  • Avatar photo Sandro Imanuel Sijabat
  • Avatar photo Sbong Sinarok Martin, S.H., M.H.
  • Avatar photo Selexta Apriliani
  • Avatar photo Septia Putri Riko
  • Avatar photo Septriono Situmorang
  • Avatar photo Slamet Turhamun
  • Avatar photo Sobandi
  • Avatar photo Sri Nurmina Sari
  • Avatar photo Stefanus Dwi Putra Medisa
  • Avatar photo Subiyatno
  • Avatar photo Sugiri Wiryandono
  • Avatar photo Teddy Lahati
  • Avatar photo Tri Baginda Kaisar Abdul Gafur
  • Avatar photo Urif Syarifudin
  • Avatar photo Wanda Rara Farezha,S.H.
  • Avatar photo Wienda Kresnantyo
  • Avatar photo Willsa Suharyadi
  • Avatar photo Wisnu Indradi
  • Avatar photo Wiwid Ariyanto
Lihat semua kontributor →

Type above and press Enter to search. Press Esc to cancel.