I. Pundak Terakhir dan Harapan yang Runtuh
Saya adalah anak kedua dari sepasang kekasih yang dihidupi oleh kesederhanaan tanah dan peluh. Ibu saya seorang penggembala kerbau, dan Ayah adalah pejuang hidup yang mengadu nasib di riuhnya pasar sayur. Keduanya tidak pernah mengenyam bangku pendidikan; bagi mereka, sekolah adalah kemewahan yang tak tersentuh.
Harapan keluarga ini sebenarnya sempat berlayar bersama kakak lelaki saya yang merantau membelah lautan menjadi pelaut. Namun, kerasnya kehidupan di luar sana rupanya terlalu kejam. Kakak pulang dengan jiwa yang patah. Ia kini lebih banyak mengurung diri di rumah, enggan melangkah keluar karena batinnya yang teramat terpukul. Sejak hari itu, di tengah rumah yang sunyi, seluruh sisa harapan orang tua mendadak runtuh dan berpindah total ke atas pundak saya.
II. Pintu-Pintu yang Tertutup dan Derita Stigma

Memakai seragam abdi negara adalah cita-cita besar saya, yang kini menjelma menjadi satu-satunya lentera bagi kedua orang tua untuk keluar dari kubangan kemiskinan. Namun, takdir rupanya senang menguji kesetiaan. Lima kali saya mengetuk pintu kesempatan, lima kali pula kegagalan membawa saya kembali pulang.
Momen paling berat bukanlah saat melihat angka-angka yang tidak cukup di layar komputer, melainkan saat kaki ini melangkah keluar dari gedung ujian. Layar ponsel di tangan saya mendadak terasa begitu berat. Ibu jari saya tertahan lama di atas nama “Ibu”—gemetar, bergetar hebat, namun tak pernah punya nyali untuk mengetuk tombol panggil. Saya lebih memilih menelan mati rasa di dada daripada harus mengirimkan kabar hancur yang akan menyiksa batin orang tua saya di seberang sana.
Beban itu kian menghimpit dada kala telinga ini harus selalu siap menerima sindiran yang menyakitkan dari orang-orang sekitar. Setiap kali saya terlihat sibuk mempersiapkan diri, cibiran selalu datang bertamu, “Punya uang berapa mau meloloskan anak jadi PNS? Sadar diri, buat bertahan hidup sehari-hari saja susah!”
Kalimat itu rasanya mencekik leher. Di kampung kami, ada stigma yang dipercayai semua orang: bahwa kursi pegawai negeri hanya milik mereka yang berdompet tebal. Jangankan untuk menyuap, untuk sekadar menyambung napas dari hari ke hari saja kami harus memeras keringat habis-habisan. Di saat anak-anak lain bisa fokus belajar di kamar yang nyaman atau di ruang bimbingan belajar yang mahal, saya harus membelah dunia menjadi dua. Di bawah terik matahari, dengan kaki yang terbenam di dalam lumpur, saya menggiring kerbau di tengah sawah sambil terus memeluk erat mimpi yang oleh orang lain dianggap terlalu tinggi.
III. Sujud Sepertiga Malam dan Keikhlasan Orang Tua

Saya tahu, saya bukan anak yang diberkahi otak cemerlang. Saya paham betul keterbatasan kecerdasan saya jika dibandingkan dengan orang lain. Karena sadar diri dengan kekurangan itu, saya terpaksa melipatgandakan usaha dan mencuri waktu tidur. Saya belajar mati-matian hingga larut malam. Di bawah pendar lampu kamar yang temaram, pandangan saya kerap kali kabur. Bukan hanya karena kantuk, melainkan karena air mata yang perlahan luruh, jatuh satu demi satu menembus serat-serat kertas halaman buku. Saya menangisi otak saya yang bebal, mengetuk-ngetuk kepala yang penat seolah memaksa logika untuk bertahan sedikit lebih lama lagi demi sebuah takdir yang belum pasti. Dalam keheningan malam itu, orang tua saya sering kali mengetuk pintu kamar, dengan suara teramat lembut meminta saya menyudahi belajar dan segera beristirahat.
Namun, di balik dinding rumah yang sepi, saya tidak pernah berjalan sendirian. Setiap kali saya terjaga membedah malam, Ibu selalu menemani saya dengan bahasanya yang paling sunyi. Di sepertiga malam, ia membentangkan sajadah, bersujud dalam rakaat-rakaat tahajud yang panjang. Ia merajut kembali harapan-harapan anaknya yang koyak lewat doa yang melesat langsung ke langit.
Melihat pemandangan itu, dada saya justru sering kali didera rasa bersalah yang hebat. Ada ketakutan besar yang merayap di dalam hati. Kadang, terbersit keinginan untuk memegang jemari Ibu yang mulai keriput dan berbisik lirih, “Ibu, jangan berharap terlalu banyak kepada saya… Saya takut membuat Ibu kecewa lagi.”
IV. Pertaruhan Seluruh Hidup

Perjalanan panjang itu akhirnya membawa saya pada percobaan yang keenam. Untuk pertama kalinya, nama saya tertera di daftar kelulusan tahap awal. Namun, kelulusan itu justru mendatangkan badai kecemasan baru yang tidak kalah besar.
Suatu malam, kedua orang tua memanggil saya untuk duduk bersama. Tatapan mata mereka begitu dalam, menyimpan sebuah kasih sayang yang agung. Dengan suara yang tertahan, Ayah dan Ibu berkata, “Nak, jika tes kali ini memang harus menggunakan uang, kamu jangan khawatir… Kami sudah menemukan calon pembeli untuk rumah kita ini. Kerbau-kerbau juga akan segera kita jual. Kami rela kembali berladang dari nol, asal kamu bisa meraih impianmu.”
Seketika itu juga, pasokan udara di paru-paru saya seolah terenggut habis. Rumah berdinding lapuk tempat kami berteduh dari hujan, dan kerbau-kerbau yang kulitnya sering saya usap di sawah—harta pamungkas keluarga kami—ingin mereka tumbalkan demi ambisi saya. Malam itu saya sadar, saya tidak lagi sekadar memegang selembar kartu ujian, melainkan sedang menggenggam seluruh urat nadi tempat tinggal orang tua saya.
Di depan mereka, saya sekuat tenaga menahan air mata yang bergejolak di dada. Saya memaksakan sebuah senyuman, menggenggam tangan mereka yang kasar, dan berbisik, “Ibu, Ayah, tidak usah khawatir. Tes ini murni, tidak pakai uang sepeser pun. Tolong jangan jual rumah dan kerbau kita.” Namun di balik senyum itu, ketakutan saya kian membesar. Bagaimana jika doa tahajud Ibu kalah oleh kekuatan uang? Taruhannya kali ini adalah seluruh hidup kami.
V. Langit Menjawab Doa

Hingga tibalah hari penentuan itu.
Sore itu, saya baru saja menyudahi penat menggiring kerbau dari sawah. Setelah membersihkan sisa lumpur dan menunaikan shalat ashar, saya hendak mengecek pengumuman kelulusan di media sosial. Rupanya, pengumuman telah resmi keluar. Namun, seketika itu juga seluruh persendian saya melemah, tangan saya sedingin es. Saya tidak berani membuka pengumuman itu.
Di sela keheningan sore itu, waktu serasa melambat secara kejam. Di satu sisi, jemari saya mencengkeram ponsel yang menyala; di sisi lain, saya melihat Ibu kembali membentangkan sajadah setianya, bersiap untuk shalat. Saat itu Ayah tidak ada di rumah; ia sedang pergi mencari barang dagangan sayur untuk jualan esok hari. Setiap helaan napas Ibu dalam shalatnya adalah detak jantung saya yang berpacu liar. Saya bersumpah tidak akan membuka gerbang takdir itu sebelum Ibu selesai mengetuk pintu langit.
Begitu Ibu mengusap wajah, menandakan bait doa terakhirnya telah selesai, saya memantapkan hati. Dengan napas yang tertahan dan jemari gemetar, saya buka berkas digital itu. Mata saya menyusuri baris demi baris nama, hingga akhirnya pandangan saya terkunci pada satu nama yang membuat tangis saya meledak seketika: Nama saya ada di sana. Saya LULUS.
Pertahanan diri yang saya bangun bertahun-tahun runtuh dalam satu detik. Saya berlari menghambur, bersujud, lalu merengkuh tubuh ringkih Ibu yang masih terbalut mukena putih di atas sajadah usangnya. Di atas hamparan kain suci itu, dada kami bergolak hebat, tangis kami pecah sejadi-jadinya. Mukena Ibu basah oleh air mata saya—air mata yang melarutkan seluruh sisa lara dari lima kali dipecundangi takdir dan direndahkan oleh dunia. Ibu mendekap erat anak penggembala kerbaunya yang kini telah resmi menjadi abdi negara, menghapus semua duka masa lalu dengan air mata harunya.
Sambil terisak, saya raih ponsel untuk menghubungi Ayah yang sedang berada di pasar. Di ujung telepon, begitu kalimat “Saya lulus, Yah” terucap, suara Ayah yang biasanya tegar langsung bergetar. Ia menangis tersedu-sedu, meluapkan rasa syukur yang tak mampu diterjemahkan oleh kata-kata. Sore itu juga, Ayah memutuskan menyudahi aktivitasnya, meninggalkan dagangannya, dan segera pulang. Kami ingin merayakan kemenangan ini bersama—kemenangan sebuah kejujuran di atas kemiskinan.
VI. Menjaga Marwah Keadilan Bangsa

Kini, perjuangan panjang itu bermuara pada pengabdian yang nyata. Saya sangat bangga dan bersyukur bisa diterima di instansi kebanggaan saya, Mahkamah Agung Republik Indonesia. Langkah kaki yang dulunya terbenam di lumpur sawah, kini harus berjalan tegak demi menjaga marwah hukum dan keadilan bangsa.
Cacian orang-orang yang dulu meremehkan impian kami kini patah, hancur berkeping-keping. Rumah kami tidak perlu dijual, dan kerbau-kerbau di sawah akan tetap menjadi saksi bisu bahwa peluh yang jujur, belajar yang sampai menitikkan air mata, serta doa seorang ibu miskin di sepertiga malam telah berhasil mengubah takdir dunia.
| “Peluh yang jujur, belajar yang sampai menitikkan air mata, serta doa seorang ibu di sepertiga malam… sanggup mengubah takdir dunia.” |
Untuk Mendapatkan Berita Terbaru Suara BSDK, Follow Channel WhatsApp: SUARABSDKMARI


