Close Menu
Suara BSDKSuara BSDK
  • Beranda
  • Artikel
  • Berita
  • Features
  • Sosok
  • Filsafat
  • Roman
  • Satire
  • Video

Subscribe to Updates

Get the latest creative news from FooBar about art, design and business.

What's Hot

Syamsul Arief Menembus Puncak: Pelari Ultra yang Membawa Mimpi Hakim Muda ke Mahkamah Agung

13 August 2026 • 18:11 WIB

Lolos Uji Kepatutan DPR, Ini Rincian Lengkap 14 Hakim Agung dan Ad Hoc MA Terbaru 2026!

13 August 2026 • 17:21 WIB

Di Hadapan Komisi III DPR, Syamsul Arief Tegaskan AI Tak Boleh Mengambil Alih Nurani Hakim

13 August 2026 • 15:19 WIB
Instagram YouTube
Suara BSDKSuara BSDK
Deskripsi Gambar
  • Beranda
  • Artikel
  • Berita
  • Features
  • Sosok
  • Filsafat
  • Roman
  • Satire
  • Video
Suara BSDKSuara BSDK
Deskripsi Gambar
  • Beranda
  • Artikel
  • Berita
  • Features
  • Sosok
  • Filsafat
  • Roman
  • Satire
  • Video
Home » Rekonstruksi Kebijakan Penahanan dalam Sistem Peradilan Jinayat Aceh : Sintesis Prosedural KUHAP, Standar HAM, dan Reorientasi Nilai Ta’dib

Rekonstruksi Kebijakan Penahanan dalam Sistem Peradilan Jinayat Aceh : Sintesis Prosedural KUHAP, Standar HAM, dan Reorientasi Nilai Ta’dib

AmanAman19 February 2026 • 10:33 WIB11 Mins ReadNo Comments
Share
Facebook Twitter Threads Telegram WhatsApp

Pendahuluan

Menakar urgensi penahanan dalam sistem peradilan pidana sering kali terjebak pada cara pandang yang reduksionis. Penahanan dianggap sekadar prosedur mekanistik-birokratis demi efektivitas prosesual yakni memastikan tersangka hadir dan barang bukti aman. Namun, saat kita berpijak pada lokus otonomi khusus seperti Aceh, institusi penahanan ini mendadak berada di titik konvergensi yang sangat kompleks. Ada rigiditas prosedural KUHAP yang harus ditaati, ada standar HAM yang memagari, dan ada nilai transendental Qanun Jinayat yang menuntut ruh keadilan lebih dalam. Fenomena ini menciptakan ruang dialektika hukum yang unik, penegakan hukum tidak boleh berhenti pada kepastian formal, melainkan wajib selaras dengan nilai religiusitas masyarakat setempat.

Urgensi diskursus ini sebenarnya berpangkal pada satu pertanyaan fundamental bagaimana mungkin otoritas negara menjustifikasi pembatasan kebebasan fisik seseorang tanpa sedikit pun mereduksi martabat kemanusiaan (human dignity) yang dimiliki sebagai subjek hukum? di Aceh, penahanan seyogianya tidak dipandang sebagai ruang tunggu administratif menuju vonis. Ia harus bertransformasi menjadi ruang diskursif antara hukum yang bersifat punitive dengan pendekatan restorative-theocentric. Secara filosofis, perampasan kemerdekaan dalam

bingkai syariat bukanlah ajang pembalasan dendam negara, tetapi ikhtiar untuk menjaga harmoni sosial sekaligus keselamatan jiwa tersangka.

Namun, realitas di lapangan sering menunjukkan adanya diskrepansi paradigmatik. KUHAP, sebagai general law, kerap kali bergerak dengan logika keamanan prosesual yang teknis. Di sisi lain, Qanun Jinayat mengemban misi rehabilitasi spiritual yang luhur. Ketegangan antara hukum yang tertulis (law in books) dengan hukum yang hidup (law in action) di Aceh ini memaksa untuk melakukan reorientasi kebijakan. Jangan sampai penahanan menjadi alat penindas yang mekanistik. Penahanan yang hampa empati hanya akan menyisakan traumatisme sosial dan stigmatisasi permanen yang justru kontraproduktif terhadap tujuan akhir hukum, yaitu ketertiban yang berkeadilan.

Perlu penulis tegaskan secara eksplisit bahwa tulisan ini lahir dari refleksi akademik sekaligus kristalisasi pengalaman empiris penulis selama bertugas di Aceh. Yakni di Mahkamah Syariah Blangkejeren dan Subulussalam. Tujuannya tunggal memperkuat sinergitas antar lembaga penegak hukum dalam bingkai otonomi khusus. Penulis memandang bahwa harmonisasi regulasi nasional dan kearifan syariat adalah keharusan konstitusional untuk mewujudkan peradilan yang berwajah manusiawi. Melalui perspektif inilah, penulis menawarkan jembatan integratif agar penegakan hukum jinayat mencapai derajat keadilan substantif. Naskah ini akan membedah kritis bagaimana nilai Ta’dib (pendidikan adab) diinkorporasikan ke dalam prosedur formal, sehingga setiap kebijakan penahanan tidak hanya sah secara yuridis, tetapi juga memiliki legitimasi moral dan kemanfaatan spiritual bagi masyarakat luas.

Dekonstruksi Praktik Peradilan: Menuju Paradigma Penahanan yang Restoratif-Humanis

Dalam ranah implementasi peradilan jinayat, diskrepansi antara rigiditas administrasi penahanan dan realitas kemanusiaan sering kali memicu ketegangan prosedural yang fundamental. Penulis berargumen bahwa penahanan terhadap subjek hukum dalam delik jarimah ringan, seperti khalwat atau maisir, menuntut adanya reorientasi paradigma agar tidak terperosok ke dalam pendekatan represif murni yang destruktif. Secara teoretis, hal ini berkelindan dengan Teori Hukum Progresif yang diinisiasi oleh Satjipto Rahardjo, yang menegaskan postulat bahwa hukum adalah untuk manusia, bukan manusia untuk hukum. Esensi keadilan dipandang gagal secara substansial apabila instrumen penahanan justru memicu disintegrasi tatanan sosial pelaku seperti terminasi hubungan kerja atau stigmatisasi sosial yang eksesif yang melampaui derajat kesalahan personalnya.

Dalam perspektif hukum positif nasional, diskursus ini memperoleh legitimasi baru melalui Undang-Undang Nomor 1 Tahun 2023 (KUHP Nasional), yang secara eksplisit mulai mengadopsi tujuan pemidanaan rehabilitatif dan restoratif. Pasal 51 hingga Pasal 54 KUHP baru menekankan pentingnya mempertimbangkan aspek kemanusiaan dan dampak sosial dalam setiap penjatuhan sanksi maupun upaya paksa. Sejalan dengan itu, pakar hukum Barat seperti Lon L. Fuller dalam The Morality of Law mengingatkan bahwa hukum yang kehilangan orientasi pada nilai-nilai moralitas internal kemanusiaan akan kehilangan otoritas batinnya. Oleh karena itu, Aparat Penegak Hukum (APH) di Aceh, khususnya jajaran Wilayatul Hisbah dan Polri, memiliki tanggung jawab moral untuk mengedepankan diskresi yang terukur berbasis pada dua fundamen utama:

Pertama, Asas Proporsionalitas Yuridis. APH harus melakukan telaah ex ante mengenai urgensi pembatasan kemerdekaan. Apakah penahanan merupakan satu-satunya sarana efektif bagi proses litigasi, ataukah terdapat alternatif moderat seperti penahanan kota atau jaminan keluarga yang lebih kompatibel dalam menjaga martabat tersangka? Secara teologis, hal ini selaras dengan kaidah fikih: Al-Mashaqqah tajlibut-taysir (kesulitan mendatangkan kemudahan). Pembatasan hak asasi manusia tidak boleh dilakukan secara melampaui batas (Ghulu), karena Islam sangat menjunjung tinggi kehormatan individu (Hifz al-‘Ird).

Kedua, Asas Kemanfaatan (Al-Maslahah). Sejauh mana periode penahanan diakumulasikan sebagai sarana bimbingan spiritual (islah) dan edukasi moral (Ta’dib)? Imam Al-Mawardhi dalam Al-Ahkam as-Sultaniyah menegaskan bahwa otoritas penegak hukum (Wali al-Jarimah) memiliki mandat untuk memastikan bahwa setiap tindakan hukum bertujuan untuk perbaikan (istislah). Penahanan seharusnya tidak dipahami sebagai ruang gelap tanpa makna, melainkan sebagai ruang antara yang memfasilitasi transformasi perilaku. Argumen ini diperkuat oleh dalil Al-Qur’an (QS. An-Nahl ( 16: 90) yang memerintahkan penegakan keadilan dan kebajikan (al-‘adl wa al-ihsan). Konsep Ihsan dalam penahanan berarti memperlakukan tersangka dengan standar kemanusiaan tertinggi, memastikan bahwa raga yang terkurung tetap memiliki akses terhadap pemulihan jiwa.

Baca Juga  Kepala BSDK MA RI Resmi Buka Pelatihan Teknis Yudisial Implementasi KUHAP dan Pendalaman KUHP Gelombang 3 Tahun 2026 : Apa Saja yang Dibahas?

Secara konklusif, analisis praktik ini menunjukkan bahwa penahanan yang restoratif di Aceh bukan sekadar impian normatif, melainkan kewajiban yuridis dan religius. Sinergitas antara pasal-pasal dalam KUHAP dan nilai-nilai luhur Qanun Jinayat menuntut APH untuk bertindak sebagai subjek hukum yang bernurani, di mana setiap kebijakan penahanan diambil bukan berdasarkan logika kuasa, melainkan logika kemanusiaan yang transendental.

Sintesis Integratif: Harmonisasi Hak Asasi Manusia dan Maqaṣid al-Syari‘ah dalam Doktrin Penahanan

Dalam diskursus hukum kontemporer, sering kali muncul simplifikasi analitis yang memosisikan Syariat Islam dan Hak Asasi Manusia (HAM) sebagai dua entitas yang saling eksklusi atau bahkan kontradiktif. Namun, melalui analisis kritis yang lebih mendalam, penulis menemukan bahwa ketegangan tersebut bersifat superfisial. Pada level aksiologis, keduanya bertemu pada satu titik koordinat sentral penghormatan terhadap martabat manusia (Human Dignity) atau yang dalam terminologi Islam dikenal sebagai Karamah al-Insaniyyah. Penahanan dalam konteks Aceh tidak boleh dipandang sebagai ruang hampa hukum di mana HAM ditangguhkan demi Syariat, atau sebaliknya, melainkan harus dipandang sebagai pengejawantahan nilai-nilai luhur kemanusiaan yang bersifat universal sekaligus transendental.

Secara epistemologis, integrasi ini dapat dipetakan melalui tiga dimensi fundamental. Pertama, dimensi legalitas. Di bawah payung hukum internasional, Pasal 9 Universal Declaration of Human Rights (UDHR) memberikan proteksi mutlak terhadap perampasan kebebasan yang bersifat arbitrer (sewenang-wenang). Secara paralel, Islam melalui prinsip Asl al-Bara’ah (asas praduga tak bersalah) melarang setiap bentuk penindasan tanpa basis hukum yang otoritatif. Penahanan yang sah wajib berpijak pada legitimasi syar’i dan regulasi negara (KUHAP), sebagai bentuk implementasi Hifz an-Nafs (perlindungan jiwa) dari tindakan tiran.

Kedua, dimensi teleologis (Tujuan). Jika perspektif HAM modern menekankan pada rehabilitasi sosial agar pelaku dapat berintegrasi kembali ke masyarakat, maka Maqaṣid al- Syarī‘ah memperkayanya dengan konsep Ta’dib. Penahanan bukan sekadar proses mekanis

untuk menunggu persidangan, melainkan sarana internalisasi adab. Sebagaimana ditegaskan oleh Ibnu Qayyim al-Jauziyyah, hukum syariat secara keseluruhan adalah keadilan, rahmat, dan hikmah. Maka, setiap kebijakan penahanan yang abai terhadap aspek perbaikan moral pelaku berarti telah keluar dari substansi syariat itu sendiri.

Ketiga, dimensi pelaksanaan. Larangan internasional terhadap penyiksaan (torture) dan perlakuan yang merendahkan martabat manusia berkorelasi linear dengan larangan Islam terhadap Ghulu (melampaui batas). Dalam konteks Aceh, harmoni ini mengikat Aparat Penegak Hukum (APH) untuk tetap disiplin pada batasan temporal yang rigid sebagaimana diatur secara limitatif dalam Pasal 100 sampai dengan Pasal 111 UU No. 20 Tahun 2025 tentang Hukum Acara Pidana.(KUHAP)

Kepatuhan terhadap batas waktu penahanan yang diatur dalam pasal-pasal tersebut diatas, bukan sekadar urusan pemenuhan administrasi peradilan, melainkan merupakan pemenuhan mandat agama untuk tidak menzalimi sesama (dhulm). Penahanan yang bermartabat wajib memastikan hak-hak dasar tersangka termasuk akses ibadah yang layak, pembinaan mental, dan jaminan kesehatantetap terpenuhi secara maksimal. Inilah manifestasi dari prinsip Ihsan dalam penegakan hukum bahwa meskipun raga dibatasi oleh jeruji besi berdasarkan hukum negara, jiwa dan martabat manusiawi tersangka harus tetap dijaga sebagai bentuk pertanggungjawaban moral yang transendental.

Argumen ini didukung oleh pemikiran Syeikh Wahbah al-Zuhaili yang menyatakan bahwa HAM dalam Islam bukanlah pemberian manusia, melainkan huququllah (hak Allah) yang wajib dijaga oleh negara. Dengan demikian, sinkronisasi antara instrumen internasional dan nilai lokal Aceh bukan lagi sebuah hambatan, melainkan keunggulan kompetitif bagi sistem peradilan jinayat. Penulis berkeyakinan bahwa dengan mengedepankan paradigma integratif ini, sistem peradilan di Aceh dapat mempelopori model penegakan hukum yang tidak hanya patuh pada protokol global, tetapi juga memiliki kedalaman akar spiritual yang mampu memanusiakan setiap subjek hukum di balik terali besi.

Analisis Harmonisasi Regulasi: Sinergitas Qanun Jinayat dan Hukum Acara Pidana Nasional

Dalam tataran aplikatif di Aceh, kebijakan penahanan berdiri di atas dua pilar legalitas yang saling menguatkan. Pertama, landasan operasional lokal yang tertuang dalam Pasal 21 hingga Pasal 32 Qanun Aceh Nomor 7 Tahun 2013 tentang Hukum Acara Jinayat. Regulasi ini secara spesifik memberikan mandat kewenangan penahanan (Pasal 21) dan mengatur limitasi jangka waktu yang ketat mulai dari tingkat penyidikan hingga pemeriksaan di Mahkamah Agung (Pasal 24 s.d. 29). Pentingnya nilai kemanusiaan dalam Qanun ini terlihat pada Pasal 32, yang membuka ruang bagi penangguhan penahanan melalui jaminan orang atau uang, sebuah instrumen yang selaras dengan upaya mitigasi dampak sosial bagi tersangka.

Kedua, pilar legalitas nasional terbaru yaitu Pasal 100 sampai dengan Pasal 111 UU No. 20 Tahun 2025 tentang Hukum Acara Pidana. Kehadiran UU No. 20 Tahun 2025 ini membawa semangat dekarserasi dan perlindungan hak asasi yang lebih progresif. Sinkronisasi antara batasan temporal dalam Qanun No. 7 Tahun 2013 dengan parameter objektif dan subjektif dalam Pasal 100-111 UU No. 20 Tahun 2025 menciptakan sebuah pagar yuridis yang sangat rigid. Hal ini memastikan bahwa penahanan di Aceh tidak hanya memiliki legitimasi formal- nasional, tetapi juga memiliki kedalaman nilai lokal.

Baca Juga  Trial Advocacy Dan Wajah Baru KUHAP

Penulis berargumen bahwa sinergitas kedua regulasi ini mengikat Aparat Penegak Hukum (APH) untuk tidak hanya disiplin pada angka-angka durasi penahanan, tetapi lebih pada esensi perlindungan hak tersangka. Kepatuhan terhadap ambang batas waktu penahanan dalam Pasal 29 Qanun 7/2013 dan Pasal 100-111 UU 20/2025 merupakan bentuk nyata kepatuhan terhadap prinsip Ihsan dan Karamah al-Insaniyyah. Dengan demikian, penahanan di Aceh bertransformasi dari sekadar tindakan represif menjadi proses yang akuntabel, di mana hak ibadah, bimbingan mental, dan martabat tersangka tetap terjaga di bawah payung hukum yang harmonis antara kekhususan Aceh dan kedaulatan hukum nasional.

Harapan dan Rekomendasi Strategis: Menuju Redesain Kebijakan Penahanan

Penahanan dalam sistem peradilan jinayat tidak boleh terdegradasi menjadi instrumen pembalasan dini (preliminary punishment) sebelum adanya putusan hakim yang berkekuatan hukum tetap (inkracht van gewijsde). Secara fundamental, hukum harus memanifestasikan wajah manusiawi yang berlandaskan pada prinsip keadilan restoratif. Guna mewujudkan transformasi tersebut, penulis mengusulkan beberapa poin penguatan kebijakan strategis:

Pertama, Optimalisasi Institusi Penangguhan Penahanan Berbasis Modal Sosial. Perlu adanya akselerasi penggunaan jaminan tokoh masyarakat atau ulama (Local Wisdom Guarantee) dalam perkara jinayat kategori tertentu. Langkah ini bukan sekadar upaya mitigasi terhadap fenomena overcrowding di lembaga pemasyarakatan, melainkan sebuah bentuk penghormatan terhadap struktur sosial Aceh. Pelibatan otoritas keagamaan lokal dalam proses penangguhan akan memberikan beban moral yang lebih efektif bagi tersangka untuk kooperatif, sekaligus menjaga kohesi sosial di tingkat akar rumput.

Kedua, Standardisasi Fasilitas Penahanan yang Terintegrasi dengan Standar HAM dan Syariat. Penulis merekomendasikan adanya redesain terhadap ruang tahanan agar tidak hanya memenuhi standar keamanan, tetapi juga fungsional bagi proses bimbingan spiritual. Fasilitas penahanan di Aceh wajib menjamin aksesibilitas ibadah yang representatif serta perlindungan privasi yang ketat, terutama bagi kelompok rentan seperti perempuan dan anak. Hal ini selaras dengan konsep Al-Karamah yang menuntut negara menyediakan lingkungan yang kondusif bagi refleksi diri (tafakkur) dan pemulihan psikologis.

Ketiga, Transformasi Paradigmatik Aparat Penegak Hukum (APH). Diperlukan internalisasi nilai secara berkelanjutan bagi jajaran APH untuk mengubah orientasi dari pola pikir menahan untuk menghukum menjadi menahan untuk memulihkan (detention for restoration). Perubahan budaya hukum ini krusial agar diskresi penahanan diambil berdasarkan analisis dampak jangka panjang terhadap masa depan subjek hukum, bukan sekadar pemenuhan target administratif.

Secara konklusif, rekonstruksi kebijakan ini diharapkan mampu memposisikan Aceh sebagai role model penegakan hukum yang progresif, di mana supremasi hukum nasional dan nilai transendental Syariat Islam berpadu dalam satu napas kemanusiaan yang utuh.

Penutup

Sebagai diskursus akhir, esensi keadilan sejati adalah keadilan yang mampu memanusiakan manusia melalui pendekatan yang holistik dan integratif. Penahanan di balik jeruji besi secara fisik memang membatasi ruang gerak raga dari dinamika dunia luar, namun secara filosofis,

tindakan tersebut sama sekali tidak boleh mereduksi martabat ataupun memutus korelasi jiwa dengan nilai-nilai kemanusiaan yang mendasar. Perampasan kemerdekaan harus tetap berada dalam koridor penghormatan terhadap human dignity sebagai subjek hukum yang merdeka secara moral.

Dengan mengintegrasikan secara sinergis antara ketertiban prosedural yang diamanatkan KUHAP dan kedalaman etis transendental Syariat Islam, sistem peradilan jinayat di Aceh memiliki potensi besar untuk bertransformasi menjadi laboratorium hukum nasional. Model ini menawarkan preseden berharga dalam mewujudkan penegakan hukum yang tidak hanya unggul secara teknis-yuridis, tetapi juga proporsional dan sarat akan nilai empati. Pada akhirnya, rekonstruksi paradigma penahanan ini diharapkan mampu melahirkan tatanan hukum yang restoratif, di mana hukum hadir bukan sebagai instrumen penderitaan, melainkan sebagai sarana purifikasi dan pemulihan tatanan sosial yang berkeadaban.

Daftar Pustaka

  1. Kementerian Agama RI. (2019). Al-Qur’an dan Terjemahannya. Jakarta: Lajnah Pentashihan Mushaf Al-Qur’an.
  2. Al-Ghazali, I. (2011). Ihyā’ ‘Ulūm al-Dīn. Dar al-Minhaj.
  3. Al-Qaradawi, Y. (2001). Fiqh al-Awlawiyyat. Robbani Press.
  4. Al-Syaṭibi, I. I. M. (n.d.). Al-Muwafaqat fī Uṣul al-Shariʿah. Dar al-Hadith.
  5. Al-Zuhaili, W. (1997). Al-Fiqh al-Islami wa Adillatuhu. Dar al-Fikr.
  6. Fuller, L. L. (1964). The Morality of Law. Yale University Press.
  7. Ibnu Qayyim al-Jauziyyah, M. I. A. B. (n.d.). I’lam al-Muwaqqi’in ‘an Rabb al- ‘Alamin. Dar al-Kutub al-Ilmiyah.
  8. Packer, H. L. (1968). The Limits of the Criminal Sanction. Stanford University Press.
  9. Qanun Aceh Nomor 6 Tahun 2014 tentang Hukum Jinayat.
  10. Qanun Aceh Nomor 7 Tahun 2013 tentang Hukum Acara Jinayat.
  11. Rahardjo, S. (2009). Hukum Progresif: Sebuah Sintesa Hukum Indonesia. Genta Publishing.
  12. Undang-Undang Nomor 1 Tahun 2023 tentang Kitab Undang-Undang Hukum Pidana (KUHP Nasional).
  13. Undang-Undang Nomor 20 Tahun 2025 tentang Hukum Acara Pidana.
  14. United Nations. (1948). Universal Declaration of Human Rights.
Aman
Kontributor
Aman
Wakil Ketua Pengadilan Agama Baturaja

Untuk Mendapatkan Berita Terbaru Suara BSDK, Follow Channel WhatsApp: SUARABSDKMARI

HAM KUHAP Penahanan Peradilan Jinayat Aceh Qanun Jinayat
Share. Facebook Twitter Threads Telegram WhatsApp Copy Link

Related Posts

Tantangan Kapasitas Hakim dan Sistem Peradilan dalam Menghadapi Kejahatan Modern: Penggunaan Kecerdasan Buatan, Manipulasi hingga Bias Algoritma

13 August 2026 • 12:11 WIB

Sisi unik Sistem Peradilan Sabah, Malaysia

13 August 2026 • 12:00 WIB

Pergeseran Paradigma Kuasa Asuh Anak Pasca-Perceraian pada Masyarakat Bali Modern dalam Perspektif Sosiologi Hukum

12 August 2026 • 13:03 WIB
Leave A Reply


Demo
Top Posts

Dari Monitoring Hingga Titik Nol: Sebuah Perjalanan Tentang Pengabdian

30 July 2026 • 15:00 WIB

Sebelum Karangan Bunga Berikutnya Dikirim

27 July 2026 • 12:12 WIB

Menepi Sejenak di Tambak Bandeng

11 July 2026 • 09:06 WIB

Prediksi Juara World Cup 2026 Dari Pusdiklat Menpim

6 July 2026 • 21:16 WIB
Don't Miss

Syamsul Arief Menembus Puncak: Pelari Ultra yang Membawa Mimpi Hakim Muda ke Mahkamah Agung

By Khoiruddin Hasibuan13 August 2026 • 18:11 WIB0

Jakarta — Kamis sore, 13 Agustus 2026, menjadi salah satu titik terpenting dalam perjalanan karier…

Lolos Uji Kepatutan DPR, Ini Rincian Lengkap 14 Hakim Agung dan Ad Hoc MA Terbaru 2026!

13 August 2026 • 17:21 WIB

Di Hadapan Komisi III DPR, Syamsul Arief Tegaskan AI Tak Boleh Mengambil Alih Nurani Hakim

13 August 2026 • 15:19 WIB

Pembuktian Ilmiah Menjadi Fondasi Keadilan Lingkungan

13 August 2026 • 14:58 WIB
Stay In Touch
  • YouTube
  • TikTok
  • WhatsApp
  • Twitter
  • Instagram
Top Trending
Demo

Recent Posts

  • Syamsul Arief Menembus Puncak: Pelari Ultra yang Membawa Mimpi Hakim Muda ke Mahkamah Agung
  • Lolos Uji Kepatutan DPR, Ini Rincian Lengkap 14 Hakim Agung dan Ad Hoc MA Terbaru 2026!
  • Di Hadapan Komisi III DPR, Syamsul Arief Tegaskan AI Tak Boleh Mengambil Alih Nurani Hakim
  • Pembuktian Ilmiah Menjadi Fondasi Keadilan Lingkungan
  • Tantangan Kapasitas Hakim dan Sistem Peradilan dalam Menghadapi Kejahatan Modern: Penggunaan Kecerdasan Buatan, Manipulasi hingga Bias Algoritma

Recent Comments

  1. Noezafri Amar on Peran dan Kedudukan Juru Bahasa Asing dalam Pemenuhan Hak Fair Trial bagi Terdakwa Warga Negara Asing Menurut KUHAP Baru
  2. cindy on Putusan untuk Bumi: Refleksi Hakim di Tengah Triple Planetary Crisis
  3. Jeje on Putusan untuk Bumi: Refleksi Hakim di Tengah Triple Planetary Crisis
  4. asyrof on Dapatkah Pemeriksaan Setempat Menjadi Bagian dari Mediasi di Pengadilan?
  5. AI API Directory on Sistem Pembuktian KUHAP 2025: Dr. Chairul Huda Tegaskan Hakim Harus Berani Menolak Alat Bukti Ilegal
Hubungi Kami

Badan Strategi Kebijakan dan Pendidikan dan Pelatihan Hukum dan Peradilan Hukum dan Peradilan
Mahkamah Agung RI

Kantor: Jl. Cikopo Selatan Desa Sukamaju, Kec. Megamendung
Bogor, Jawa Barat 16770

Kirimkan reportase berita, opini, features dan artikel lainnya ke email suarabsdk.com : 
redpelsuarabsdk@gmail.com

Telepon: (0251) 8249520, 8249522, 8249531, 8249539

Kategori
Beranda Artikel Berita Features Sosok KRITERIA TULISAN
Filsafat Roman Satire Video BALACADAS
Connect With Us
  • Instagram
  • YouTube
  • WhatsApp
Aplikasi Internal
Logo 1 Logo 2 Logo 3 Logo 3
Logo 4 Logo 4 Logo 4 Logo 5 Logo 5
Kontributor
  • Avatar photo Ahmad Junaedi
  • Avatar photo Mohammad Khairul Muqorobin
  • Avatar photo Irvan Mawardi
  • Avatar photo Aman
  • Avatar photo Cecep Mustafa
  • Avatar photo Khoiruddin Hasibuan
  • Avatar photo Muamar Azmar Mahmud Farig
  • Avatar photo Ari Gunawan
  • Avatar photo Yudhistira Ary Prabowo
  • Avatar photo Syailendra Anantya Prawira
  • Avatar photo Muhammad Rizqi Hengki
  • Avatar photo Agus Digdo Nugroho
  • Avatar photo Ghesa Agnanto Hutomo
  • Avatar photo Muhammad Adiguna Bimasakti
  • Avatar photo Dahlan Suherlan
  • Avatar photo Timbul Bonardo Siahaan
  • Avatar photo Syamsul Arief
  • Avatar photo Jatmiko Wirawan
  • Avatar photo Taufikurrahman
  • Avatar photo Cik Basir
  • Avatar photo Maria Fransiska Walintukan
  • Avatar photo Zulfahmi
  • Avatar photo M. Natsir Asnawi
  • Avatar photo Syihabuddin
  • Avatar photo Unggul Senoaji
  • Avatar photo Anton Ahmad Sogiri
  • Avatar photo Abdi Munawar Daeng Mangagang
  • Avatar photo Iqbal Lazuardi
  • Avatar photo Johanes
  • Avatar photo Yoshito Siburian
  • Avatar photo Galang Adhe Sukma
  • Avatar photo Adji Prakoso
  • Avatar photo Anisa Yustikaningtiyas
  • Avatar photo Harun Maulana
  • Avatar photo I Gusti Lanang Ngurah Sidemen Putra
  • Avatar photo Muhammad Hanif Ramadhan
  • Avatar photo Ahmad Syahrus Sikti
  • Avatar photo Eliyas Eko Setyo
  • Avatar photo Firzi Ramadhan
  • Avatar photo Jarkasih
  • Avatar photo Sriti Hesti Astiti
  • Avatar photo Binsar Parlindungan Tampubolon
  • Avatar photo Layla Windy Puspita Sari
  • Avatar photo Sudiyo
  • Avatar photo Tri Indroyono
  • Avatar photo Letkol Chk Agustono, S.H., M.H.
  • Avatar photo Ganjar Prima Anggara
  • Avatar photo Garin Purna Sanjaya
  • Avatar photo Irene Cristna Silalahi
  • Avatar photo Marulam J Sembiring
  • Avatar photo Riki Perdana Raya Waruwu
  • Avatar photo Dr. Syofyan Iskandar, S.H., M.H.
  • Avatar photo Afifah Dwiandini
  • Avatar photo Ardiansyah Iksaniyah Putra
  • Avatar photo Febby Fajrurrahman
  • Avatar photo Itsnaatul Lathifah
  • Avatar photo Khoiriyah Roihan
  • Avatar photo Redaktur SuaraBSDK
  • Avatar photo Yasin Prasetia
  • Avatar photo Muhamad Zaky Albana
  • Avatar photo Buang Yusuf
  • Avatar photo Fitriyel Hanif
  • Avatar photo Henri Setiawan
  • Avatar photo Irwan Rosady
  • Avatar photo Marsudin Nainggolan
  • Avatar photo Rafi Muhammad Ave
  • Avatar photo Rikatama Budiyantie
  • Avatar photo Siti Nadhiroh
  • Avatar photo Teguh Setiyawan
  • Avatar photo Abdul Azis Ali Ramdlani
  • Avatar photo Achmad Fikri Oslami
  • Avatar photo Ahmad Fuad Noor Ghufron
  • Avatar photo Achmad Nurul Huda
  • Avatar photo Anggi Permana
  • Avatar photo Ang Rijal Amin
  • Avatar photo Audrey Kartika Putri
  • Avatar photo Cok Istri Bhagawanthi Pemayun
  • Avatar photo Dedi Putra
  • Avatar photo Dewi Maharati
  • Avatar photo Gerry Michael Purba
  • Avatar photo Herjuna Praba Wiesesa
  • Avatar photo Hermanto
  • Avatar photo Indarka PP
  • Avatar photo Nugraha Medica Prakasa
  • Avatar photo K.G. Raegen
  • Avatar photo Rangga Lukita Desnata
  • Avatar photo Ria Marsella
  • Avatar photo Sahram
  • Avatar photo Saut Erwin Hartono A. Munthe
  • Avatar photo Silveria Supanti
  • Avatar photo Sugiarto
  • Avatar photo Yusuf Sodhiqin
  • Avatar photo Achmad Pratomo
  • Avatar photo Ahmad Faiz Shobir Alfikri
  • Avatar photo Andro Riski Pradipta
  • Avatar photo Arie Fitriansyah
  • Avatar photo Bintoro Wisnu Prasojo, S.H.
  • Avatar photo Bismo Jiwo Agung
  • Avatar photo Epri Wahyudi
  • Avatar photo Fajar Widodo
  • Avatar photo Fariz Prasetyo Aji
  • Avatar photo Fauzan Arrasyid
  • Avatar photo Fauzia Rohmah
  • Avatar photo Febry Indra Gunawan Sitorus
  • Avatar photo Gerry Geovant Supranata Kaban
  • Avatar photo Mardi Candra
  • Avatar photo Maulana Aulia
  • Avatar photo Muhamad Fadillah
  • Avatar photo Muhammad Amin Putra
  • Avatar photo Niko Wijaya
  • Avatar photo Putra Nova A.S
  • Avatar photo Trisoko Sugeng Sulistyo
  • Avatar photo Umar Dani
  • Avatar photo Abiandri Fikri Akbar
  • Avatar photo Abi Zaky Azizi
  • Avatar photo Dr. H. Achmad Setyo Pudjoharsoyo., SH., M.Hum
  • Avatar photo Agenda Citra Muhammad
  • Avatar photo Andi Akram
  • Avatar photo Arsyawal
  • Avatar photo Aulia Rochmani Lazuardi
  • Avatar photo Bagus Partha Wijaya
  • Avatar photo Bayu Akbar Wicaksono
  • Avatar photo Chandra Khoirunnas
  • Avatar photo Cuhandi
  • Avatar photo David Pasaribu
  • Avatar photo Dendi Sutiyoso
  • Avatar photo Dhea Sutaryana
  • Avatar photo Edi Hudiata
  • Avatar photo Enrico Simanjuntak
  • Avatar photo Fauzan Prasetya
  • Avatar photo Fauziah Rahmah
  • Avatar photo Fery Rochmad Ramadhan
  • Avatar photo Hartanto Ariesyandi
  • Avatar photo Idik Saeful Bahri
  • Avatar photo Karell Mawla Ibnu Kamali
  • Avatar photo Khalilurrahman
  • Avatar photo Khoirul Anwar
  • Avatar photo Mentari Wahyudihati
  • Avatar photo Muhamad Ridwan
  • Avatar photo Muhamad Iqbal
  • Avatar photo Nia Chasanah
  • Avatar photo Novritsar Hasintongan Pakpahan
  • Avatar photo Nugraha Wisnu Wijaya
  • Avatar photo Raden Anggara Kurniawan
  • Avatar photo Raden Heru Wibowo Sukaten
  • Avatar photo Rahimulhuda Rizki Alwi
  • Avatar photo Rahmad Ramadhan Hasibuan
  • Avatar photo Ranggi Adiwangsa Yusron
  • Avatar photo Muhammad Rijaldy Alwy
  • Avatar photo Rizal Arif Fitria
  • Avatar photo Rohim
  • Avatar photo Sadana
  • Avatar photo Samsul Zakaria
  • Avatar photo Tri Cahya Indra Permana
  • Avatar photo Yudhi Reksa Perdana
  • Avatar photo Abdul Ghani
  • Avatar photo Dr. Drs. H. Abdul Hadi, M.H.I.
  • Avatar photo Ach. Jufri
  • Avatar photo Adimas Leo Firmansah
  • Avatar photo Afif Muchshon
  • Avatar photo Agus Suharsono
  • Avatar photo Ahmad Efendi
  • Avatar photo Ahmad Hodri
  • Avatar photo Ahmad Rizza Habibi
  • Avatar photo Alep Priyoambodo
  • Avatar photo Alfajar Nugraha
  • Avatar photo Anderson Peruzzi Simanjuntak
  • Avatar photo Andhika Prayoga
  • Avatar photo Andi Muhammad Galib
  • Avatar photo Andi Aswandi Tashar
  • Avatar photo Andrie Gunawan
  • Avatar photo Anna Yulina
  • Avatar photo Annisa Nur Alam
  • Avatar photo Arga Febrian
  • Avatar photo Arief Sapto Nugroho
  • Avatar photo Mayor Chk Arif Dwi Prasetyo
  • Avatar photo Armansyah
  • Avatar photo Aryaniek Andayani
  • Avatar photo Ashhab Triono
  • Avatar photo Bilma Diffika
  • Avatar photo Bony Daniel
  • Avatar photo Budi Hermanto
  • Avatar photo Budi Suhariyanto
  • Avatar photo Christopher Hutapea
  • Dedi Wigandi
  • Avatar photo Deka Rachman Budihanto
  • Avatar photo Eddy Sembiring
  • Avatar photo Effendi Mukhtar
  • Avatar photo Egia Rasido Tarigan
  • Avatar photo Eka Sentausa
  • Avatar photo Enos Syahputra Sipahutar, S.H., M.H.
  • Avatar photo Dr. Fahmiron
  • Avatar photo Fahri Bachmid
  • Avatar photo Fahri Gunawan Siagian
  • Avatar photo Fahri Soleh
  • Avatar photo Fakhir Tashin Baaj
  • Avatar photo Fatkul Mujib, S.H.I., M.H.
  • Avatar photo Febriansyah Rozarius
  • Avatar photo Friska Ariesta Aritedi
  • Avatar photo Gineng Pratidina
  • Avatar photo Hastuti
  • Avatar photo Hendro Yatmoko
  • Avatar photo Ibnu Abas Ali
  • Avatar photo I Made Sukadana
  • Indra Tua Hasangapon Harahap
  • Avatar photo Ira Soniawati
  • Avatar photo Irfan Dibar
  • Avatar photo Muhammad Irfansyah
  • Avatar photo Letkol Kum Irwan Tasri, S.H., M.H., M.Han.
  • Avatar photo Iwan Lamganda Manalu
  • Avatar photo Jerymia Seky Tanaem
  • Avatar photo Jusran Ipandi
  • Avatar photo Khaimi
  • Avatar photo Khoerul Umam
  • Avatar photo Linora Rohayu
  • Avatar photo Made Passek Reza Swandira
  • Avatar photo Marta Satria Putra
  • Avatar photo Marwan Ibrahim Piinga
  • Avatar photo Marwanto
  • Avatar photo Marzha Tweedo Dikky Paraanugrah
  • Avatar photo Maulia Martwenty Ine
  • Avatar photo Mira Maulidar
  • Avatar photo Misbah S.T., M.Eng.
  • Avatar photo Misbahul Anwar
  • Avatar photo Muhamad Ilham Azizul Haq
  • Avatar photo Muhamad Saptari
  • Avatar photo Muhammad Fadllullah
  • Avatar photo Muhammad Irfan Syahputra
  • Avatar photo Muhammad Muhyi Arrasyid, S.Psi.
  • Avatar photo Muhammad Bagus Tri Prasetyo
  • Avatar photo Muhammad Yusuf
  • Avatar photo Murdian
  • Avatar photo Nadia Yurisa Adila
  • Avatar photo Nisrina Irbah Sati
  • Avatar photo Letkol CHK Nur Sakdi, S.H, M.H.
  • Avatar photo Nur Latifah Hanum
  • Avatar photo Pita Permatasari
  • Avatar photo H .A.S Pudjoharsoyo
  • Avatar photo Putri Pebrianti
  • Avatar photo R. Deddy Harryanto
  • Avatar photo Radityo Muhammad Harseno
  • Avatar photo Rahmi Fattah
  • Avatar photo Randy Viyatadhika
  • Avatar photo Ratih Gumilang
  • Avatar photo Reindra Jasper H. Sinaga, S.H. Hakim Pengadilan Negeri Tanjung Balai Karimun
  • Avatar photo Muh Ridha Hakim
  • Avatar photo Rifqi Qowiyul Iman
  • Avatar photo Rizal Abdurrahman
  • Avatar photo Romi Hardhika
  • Avatar photo Sandro Imanuel Sijabat
  • Avatar photo Dr. Satria Perdana, S.H., M.H.
  • Avatar photo Sbong Sinarok Martin, S.H., M.H.
  • Avatar photo Selexta Apriliani
  • Avatar photo Septia Putri Riko
  • Avatar photo Septriono Situmorang
  • Avatar photo Siti Anis
  • Avatar photo Slamet Turhamun
  • Avatar photo Sobandi
  • Avatar photo Stefanus Dwi Putra Medisa
  • Avatar photo Subiyatno
  • Avatar photo Teddy Lahati
  • Avatar photo Tri Baginda Kaisar Abdul Gafur
  • Avatar photo Urif Syarifudin
  • Avatar photo Wanda Rara Farezha,S.H.
  • Avatar photo Wienda Kresnantyo
  • Avatar photo Wilmar Ibni Rusydan
  • Avatar photo Willsa Suharyadi
  • Avatar photo Yoshelsa Wardhana
  • Avatar photo Yukiatiqa Afifah
  • Avatar photo Marsekal Muda TNI Dr. Yuwono Agung Nugroho, S.H., M.H.
Lihat semua kontributor →

Type above and press Enter to search. Press Esc to cancel.