Ada perjalanan yang tidak selalu dimulai dari tempat yang kita inginkan, tetapi dari tempat yang dibutuhkan oleh sebuah amanah. Bagi PNS non-homebase, penempatan jauh dari rumah bukan sekadar perpindahan tempat kerja, melainkan keberanian meninggalkan kenyamanan, menahan rindu, dan belajar menjalani kehidupan di lingkungan yang baru. Jarak mungkin memisahkan seseorang dari keluarga, tetapi tidak seharusnya memisahkan hati dari tanggung jawab. Sebab menjadi abdi negara bukan hanya tentang bekerja di tempat yang nyaman, melainkan tentang kesiapan hadir ketika negara membutuhkan. Dari tempat yang jauh, sering kali justru lahir ketulusan, kemandirian, dan keberanian yang tidak ditemukan ketika seseorang selalu berada di dekat rumah.
Salah satu kisah itu datang dari seorang anak perempuan yang mendapatkan kesempatan mengabdi di lingkungan Mahkamah Agung Republik Indonesia. Di balik keberhasilannya, ada cerita tentang keluarga kecil yang hanya terdiri dari ibu, dirinya, dan sang adik setelah ayahnya meninggal dunia. Sejak ditinggal ayahnya, ia melihat bagaimana ibunya berusaha tetap kuat demi keluarga. Di tengah perjalanan hidup itu, ada satu harapan ayah yang terus tinggal dalam ingatannya: melihat anaknya menjadi seorang PNS. Ketika akhirnya cita-cita itu tercapai, kebahagiaan terasa bercampur haru karena sosok yang paling ingin ia beri kabar sudah tidak dapat menyaksikannya.
“Bapak ingin kamu jadi PNS.”
Dahulu mungkin itu hanya sebuah keinginan sederhana seorang ayah. Namun setelah kepergiannya, kalimat tersebut berubah menjadi amanah. Maka ketika namanya dinyatakan diterima, ia bukan hanya merasa telah mencapai cita-cita pribadi, tetapi juga sedang menuntaskan sebuah mimpi yang pernah dititipkan kepadanya. Mungkin dalam diam ia berkata, “Pak, akhirnya aku sampai juga di sini.” Tidak ada jawaban yang terdengar, tetapi ia percaya bahwa ada doa yang mempertemukan sebuah perjuangan dengan takdir yang indah.
Namun menjadi PNS non-homebase berarti harus menerima konsekuensi dari pengabdian itu. Ia harus meninggalkan ibu kota dan pergi ke tanah penempatan yang jauh dari rumah. Kebahagiaan karena mendapatkan kesempatan mengabdi harus berdampingan dengan beratnya meninggalkan ibu dan adik. Koper yang dibawa bukan hanya berisi pakaian, tetapi juga doa, kenangan, rasa takut, dan rindu. Ada pertanyaan tentang apakah dirinya sanggup menjalani hari-hari baru seorang diri. Namun pada akhirnya ia memilih melangkah, karena beberapa pintu kehidupan hanya terbuka ketika seseorang berani meninggalkan zona nyaman.
Di rumah, sang ibu menjadi sumber kekuatan terbesar. Di balik kekhawatiran melepas anaknya pergi jauh, ada keikhlasan untuk membiarkan sang anak mengejar masa depannya.
“Pergilah, Nak. jangan takut. Kalau ini jalan pengabdianmu, jalani dengan sungguh-sungguh. Ibu mungkin tidak bisa berada di sampingmu setiap hari, tetapi doa Ibu akan selalu sampai lebih dulu.”
Pesan itu menjadi bekal yang tidak terlihat, tetapi terasa dalam setiap langkah. Ketika rindu datang, ia tahu ada rumah yang menunggunya. Ketika lelah menghampiri, ia tahu ada seorang ibu yang selalu mendoakannya.
Perasaan seperti itu tentu tidak hanya dialami olehnya. Banyak PNS non-homebase harus meninggalkan orang tua, pasangan, anak, dan kehidupan yang selama ini mereka kenal. Mereka belajar hidup mandiri, beradaptasi dengan lingkungan baru, dan menerima kenyataan bahwa pulang tidak selalu mudah. Ada hari ketika mereka terlihat baik-baik saja, padahal hati sedang begitu ingin berada di rumah. Namun justru di situlah pengabdian menemukan maknanya: tetap menjalankan tugas meskipun hati sedang merindukan tempat untuk pulang.
Kutipan pemikir hukum Amerika, Oliver Wendell Holmes Jr., terasa relevan dengan perjalanan tersebut:
“The life of the law has not been logic; it has been experience.”
Kehidupan hukum tidak hanya dibentuk oleh teori, tetapi juga oleh pengalaman. Jarak, kesulitan, dan kehidupan di tempat baru menjadi pengalaman yang membentuk ketangguhan. Sementara gagasan Satjipto Rahardjo tentang hukum yang semestinya hadir untuk manusia mengingatkan bahwa pekerjaan di bidang hukum tidak boleh kehilangan sisi kemanusiaannya. Di balik aturan, dokumen, dan prosedur, selalu ada manusia yang merasakan dampaknya. Karena itu, integritas dan ketulusan dalam menjalankan tugas merupakan bagian penting dari pengabdian.
Untuk seluruh PNS non-homebase, jangan pernah merasa bahwa kalian sendirian. Rindu bukan kelemahan. Air mata bukan kegagalan. Itu adalah tanda bahwa ada orang-orang yang begitu berharga di rumah. Jika langkah terasa berat, berhentilah sejenak untuk bernapas, tetapi jangan menyerah. Ingat kembali alasan mengapa kalian berangkat. Ingat keluarga yang mengantar dengan doa dan masyarakat yang menunggu pelayanan terbaik dari kalian.
Kalian mungkin tidak memilih tempat penempatan, tetapi kalian dapat memilih bagaimana cara menjalaninya. Jangan hanya bertanya,
“Kapan saya bisa kembali?”, tetapi tanyakan pula: “Apa yang bisa saya tinggalkan di tempat ini?” Tinggalkan kebaikan, profesionalisme, integritas, dan pelayanan yang tulus. Sebab jabatan dapat berganti dan tempat tugas dapat berubah, tetapi kebaikan akan selalu meninggalkan jejak.
Pada akhirnya, di mana negara menempatkan, di sana pengabdian dijalankan. Bukan karena setiap tempat selalu nyaman, tetapi karena setiap amanah memiliki nilai. Bukan karena setiap perjalanan mudah, tetapi karena setiap perjuangan membentuk kita menjadi lebih kuat. Dan bukan karena rumah tidak lagi penting, melainkan karena terkadang seseorang harus pergi jauh untuk memahami betapa berharganya tempat untuk pulang. Untuk seluruh PNS non-homebase, tetaplah melangkah. Biarkan rindu menjadi pengingat tentang rumah, bukan alasan untuk berhenti mengabdi. Sebab pengabdian yang paling berarti adalah ketika seseorang tetap memilih hadir, bekerja dengan hati, dan memberikan yang terbaik meskipun rumah berada begitu jauh di belakangnya.
Untuk Mendapatkan Berita Terbaru Suara BSDK, Follow Channel WhatsApp: SUARABSDKMARI


