Close Menu
Suara BSDKSuara BSDK
  • Beranda
  • Artikel
  • Berita
  • Features
  • Sosok
  • Filsafat
  • Roman
  • Satire
  • Video

Subscribe to Updates

Get the latest creative news from FooBar about art, design and business.

What's Hot

Tekankan Peradilan yang Berkeadilan, Adaptif, dan Visioner dalam Transisi Hukum Pidana Nasional

September 7, 2026

Laporan Kegiatan Penyusunan Naskah Kebijakan Wajib Dilaporkan Secara Menyeluruh

September 7, 2026

Resensi Game: Final Fantasy VII

September 7, 2026
Instagram YouTube
Suara BSDKSuara BSDK
Deskripsi Gambar
  • Beranda
  • Artikel
  • Berita
  • Features
  • Sosok
  • Filsafat
  • Roman
  • Satire
  • Video
Suara BSDKSuara BSDK
Deskripsi Gambar
  • Beranda
  • Artikel
  • Berita
  • Features
  • Sosok
  • Filsafat
  • Roman
  • Satire
  • Video
Home » Resensi Game: Final Fantasy VII

Resensi Game: Final Fantasy VII

Mohammad Khairul MuqorobinMohammad Khairul MuqorobinSeptember 7, 20269 Mins ReadNo Comments
Share
Facebook Twitter Threads Telegram WhatsApp

Oligarki, Eksploitasi Alam, dan Pembungkaman Suara Rakyat

Bagi generasi yang lahir dan tumbuh di akhir tahun 1990-an, game dengan judul Final Fantasy VII  yang dikembangkan oleh Square Co., Ltd. (kini Square Enix) ini menyimpan memori nostalgia yang mendalam. Mahakarya ini diakui secara global berkat soundtrack-nya yang menghanyutkan, desain karakter yang ikonis, serta sistem pertarungan yang revolusioner, hingga akhirnya mendapatkan versi remake dan rebirth-nya pada tahun 2020 dan 2024. Namun, di balik balutan epik dari game bergenre RPG (Role Playing Game) tersebut, tersimpan sebuah cerita dan tema utama yang sangat relevan dengan realita yang terjadi saat ini. Final Fantasy VII adalah salah satu bentuk kritik tajam terhadap hegemoni kapitalisme yang rakus, korporasi oligarkis, dan dampak mematikan dari eksploitasi alam yang tak terkendali, sebuah kisah yang semakin relevan di tengah krisis ekologis yang melanda dunia nyata. Untuk memahami bagaimana kritik tersebut dibangun, kita perlu menyelami terlebih dahulu alur utama cerita yang menjadi fondasi narasi besarnya.

Sebuah Pengantar

Secara umum, game ini mengisahkan perjuangan protagonis utama bernama Cloud Strife, seorang tentara bayaran yang disewa oleh kelompok pejuang lingkungan yang bernama Avalanche, dipimpin oleh Barret Wallace, untuk melawan Shinra Electric Power Company. Shinra adalah perusahaan yang menyedot Lifestream (aliran kehidupan planet) dan mengubahnya menjadi energi Mako untuk menjadi bahan bakar utama Kota Midgar. Meski awalnya Cloud hanya bertarung demi uang dan janji masa kecilnya kepada Tifa Lockhart, ia pada akhirnya menemukan alasan yang lebih besar, yaitu menyelamatkan planet dari kehancuran akibat keserakahan korporasi dan ancaman musuh bebuyutannya yang bernama Sephiroth. Dari premis sederhana tentang perlawanan terhadap korporasi inilah, cerita kemudian berkembang menjadi eksplorasi yang jauh lebih dalam tentang relasi kuasa antara manusia, alam, dan sistem ekonomi yang menopangnya.

Ironi Ekologis dalam Realita

Dalam narasi utama game ini, Planet Gaia adalah entitas hidup yang memiliki kesadaran, dialiri oleh energi kehidupan bernama Lifestream, aliran energi yang menjaga planet tetap hidup dan mengandung pengetahuan dari setiap makhluk yang pernah ada. Ironisnya, alih-alih dihormati, planet ini justru dihisap habis-habisan oleh Shinra melalui reaktor-reaktor Mako di metropolis beton, Kota Midgar.Ironi inilah yang menjadi pintu masuk untuk membaca Final Fantasy VII tidak sekadar sebagai fiksi, melaink an sebagai cermin dari praktik eksploitasi sumber daya alam yang terjadi di dunia nyata. Eksploitasi tak bermoral ini merefleksikan realitas kelam dunia kita. Apa yang dilakukan Shinra dalam menguasai sumber daya alam tanpa batas adalah contoh sempurna dari fenomena state capture corruption (korupsi penangkapan negara) yang dicetuskan oleh Daniel Kaufmann (2024). Kaufmann mendefinisikan state capture sebagai kondisi ketika kelompok elit ekonomi atau aktor bisnis besar mampu memengaruhi pembentukan hukum, kebijakan, dan regulasi negara demi kepentingan mereka sendiri. Korupsi pada level ini bukan sekadar suap administratif, melainkan kemampuan elite ekonomi untuk mendikte aturan main. Dalam kondisi demikian, negara tidak lagi bekerja untuk kepentingan publik, melainkan dikendalikan oleh segelintir elit.

Relevansi konsep state capture ini terlihat sangat gamblang dalam cara Shinra beroperasi. Dalam semesta Final Fantasy VII, Shinra Electric Power Company bukanlah sekadar perusahaan swasta biasa, melainkan korporasi yang menjelma menjadi negara, merangkap sebagai pemerintah, militer, perusahaan listrik, dan pusat penelitian sekaligus. Mereka telah menjadi penguasa terhadap seluruh aspek kehidupan warga Kota Midgar. Di bawah kepemimpinan Shinra, tidak ada ruang untuk demokrasi, transparansi, ataupun partisipasi publik. Yang ada hanyalah propaganda, intimidasi, dan kekerasan. Seiring berjalannya cerita, Shinra bertransformasi dari entitas bisnis menjadi penguasa absolut yang mengontrol militer, kepolisian, dan narasi media.

Transformasi Shinra dari korporasi menjadi penguasa absolut ini bukanlah imajinasi liar tanpa dasar teoretis. Kedigdayaan Shinra ini sejalan dengan konsep oligarki dari Richard Robison dan Vedi R. Hadiz (2004), yang menitikberatkan pada sistem relasi kekuasaan yang memungkinkan terkonsentrasinya kekayaan dan otoritas, serta adanya perlindungan kolektif terhadap keduanya. Singkatnya, oligarki didefinisikan oleh Robison dan Hadiz sebagai sistem pemerintahan tempat hampir semua kekuasaan politik berpusat pada segelintir orang kaya yang membentuk kebijakan publik hanya untuk keuntungan finansial mereka sendiri, tanpa memedulikan kepentingan rakyat banyak. Melalui figur-figur seperti Presiden Shinra dan ilmuwan ambisius seperti Profesor Hojo, kita menyaksikan bagaimana kekuasaan korporasi dapat menormalisasi kekejaman, mulai dari eksperimen terhadap manusia, manipulasi politik, hingga pengorbanan ribuan warga sipil demi mempertahankan dominasinya. Kehancuran Sektor 7 (salah satu daerah di kota Midgar) adalah peristiwa tragis yang direncanakan dengan dingin, mengingatkan kita pada bencana industri di dunia nyata, di mana nyawa manusia sering kali hanyalah angka dalam kalkulasi laba-rugi. Namun, di tengah dominasi total tersebut, selalu ada pihak yang berani melawan. Di sinilah konflik antara kekuasaan oligarkis dan perlawanan rakyat mengambil panggung utamanya.

Hegemoni Oligarki dan Perlawanan Pejuang Lingkungan

Avalanche, dalam cerita ini, adalah organisasi lingkungan yang memperjuangkan keadilan ekologis. Mereka dalam melawan Shinra memang menggunakan kekerasan, tetapi motivasi mereka adalah perlindungan terhadap planet. Dalam narasi yang dibangun Shinra, mereka dicap sebagai “teroris”. Namun, dalam narasi lingkungan, mereka adalah pahlawan. Mereka adalah bentuk ekstrem dari partisipasi publik ketika jalur legal telah tertutup oleh kekuasaan oligarkis.

Fenomena perlawanan terhadap kelompok lingkungan seperti yang dialami Avalanche ini memiliki landasan teoretis yang cukup relevan. Hal ini sejalan dengan teori Good Environmental Governance yang dikembangkan oleh ahli hukum lingkungan seperti Edith Brown Weiss. Teori ini menegaskan bahwa partisipasi masyarakat merupakan unsur paling mendasar dalam tata kelola lingkungan hidup, karena rakyat harus aktif terlibat dalam proses pengambilan kebijakan publik. Dalam dunia di mana suara rakyat tidak pernah didengar bahkan dibungkam, tindakan radikal akan muncul sebagai upaya terakhir ketika jalur resmi tidak pernah diberikan dan dibuka. Dalam game ini, Avalanche dijadikan musuh yang harus dilawan, diserang melalui propaganda negatif, dan tidak sedikit anggotanya yang dibunuh oleh pasukan Shinra. Dan dalam perspektif hukum lingkungan, aktivitas pejuang lingkungan hidup ini telah diakui dan dilindungi. Dalam game ini, pembungkaman terhadap suara rakyat ini tidak hanya menimpa kelompok aktivis, tetapi juga menjangkau kelompok yang paling rentan sekalipun, yaitu masyarakat adat yang direpresentasikan melalui sosok Aerith.

Tragedi Masyarakat Adat dan Akar Kuasa Oligarki

Dampak paling tragis dari keserakahan oligarki ekstraktif ini menimpa masyarakat adat, yang direpresentasikan oleh karakter bernama Aerith. Sebagai keturunan terakhir ras Cetra yang memiliki ikatan spiritual dengan planet, Aerith diposisikan oleh Shinra semata-mata sebagai “aset” untuk dieksploitasi. Mereka ingin menangkap, meneliti, dan memanfaatkannya untuk menemukan Promised Land, sumber Lifestream yang akan memberi mereka kekuasaan tak terbatas. Penindasan terhadap Aerith adalah potret akurat dari perampasan hak masyarakat adat di dunia nyata, di mana penggusuran fisik, perampasan ruang hidup, hingga penghancuran identitas budaya dilakukan secara masif dan membabi buta. Dalam cerita ini, Aerith kehilangan ibunya, kebebasannya, dan pada akhirnya nyawanya hilang di tangan Sephiroth, yang mana semuanya berakar dari kemampuannya berkomunikasi dengan planet.

Tragedi yang menimpa Aerith ini mengundang pertanyaan yang lebih fundamental: mengapa penindasan semacam ini terus terjadi? Mengapa hal ini terus terjadi? Jawabannya terletak pada definisi oligarki menurut Jeffrey A. Winters (2011). Winters mendefinisikan oligark sebagai pelaku yang menguasai dan mengendalikan konsentrasi besar sumber daya material yang dapat digunakan untuk mempertahankan atau meningkatkan kekayaan pribadi dan posisi sosial eksklusifnya. Winters menekankan bahwa kunci memahami oligarki adalah wealth defense (strategi pertahanan kekayaan), yang terdiri dari property defense (pertahanan harta) dan income defense (pertahanan pendapatan). Dalam cerita ini, Shinra telah melakukan segala cara untuk mempertahankan kekayaan sekaligus kekuasaannya, meskipun cara-cara itu tidaklah lazim. Namun, ambisi yang tidak mengenal batas ini pada akhirnya tidak hanya menghancurkan korban-korbannya, tetapi juga berbalik menjadi bumerang bagi sang oligarki itu sendiri.

Kutukan Sumber Daya (Resource Curse)

Ambisi tanpa batas oligarki pada akhirnya menjadi senjata makan tuan. Eksperimen gila Shinra dalam melahirkan Sephiroth, sebuah senjata biologis yang berbalik memberontak dan memicu bencana Meteor untuk menghancurkan penciptanya. Sephiroth adalah produk dari Jenova Project, proses kawin silang antara sel alien Jenova dengan manusia. Namun, Sephiroth tidak mengetahui asal usulnya. Ia tumbuh sebagai pahlawan, idola bagi anak-anak seperti Cloud. Ketika akhirnya mengetahui kebenaran bahwa ia adalah hasil eksperimen dan bahwa manusia adalah “pengkhianat” yang menghancurkan ras Cetra, ia menjadi gila dan memutuskan untuk menghancurkan dunia.

Kisah Sephiroth ini bukan sekadar drama pengkhianatan biasa, melainkan sebuah cerminan yang memiliki akar teoretis dalam kajian ekonomi politik sumber daya alam. Tragedi ini adalah alegori murni dari Resource Curse (kutukan sumber daya), sebuah konsep yang dikembangkan oleh para ekonom seperti Richard Auty (1993), Jeffrey Sachs dan Andrew Warner (1997), serta Michael L. Ross (2001). Teori ini menunjukkan bahwa ketergantungan pada sumber daya alam tidak selalu meningkatkan kesejahteraan. Dalam banyak kasus, justru menurunkan kualitas demokrasi dan stabilitas ekonomi. Kekayaan yang dihasilkan tidak terdistribusi secara adil, melainkan menimbulkan efek negatif baik bagi oligarki itu sendiri maupun masyarakat secara umum. Dalam game ini, Sephiroth adalah “kutukan” yang lahir dari eksploitasi berlebihan terhadap sumber daya alam, itu sendiri sebuah eksperimen Shinra untuk menciptakan senjata super yang justru menghasilkan ancaman lebih besar bagi Shinra sendiri.

Refleksi

Pada akhirnya, Final Fantasy VII berdiri jauh melampaui batas-batas fiksi interaktif. Mahakarya ini merupakan cermin reflektif yang memantulkan krisis ekologis dan keruntuhan supremasi hukum di dunia nyata. Kisah perlawanan terhadap hegemoni Shinra menjadi peringatan tajam tentang bahaya nyata dari state capture corruption, sebuah kondisi fatal ketika instrumen regulasi dan institusi publik sepenuhnya dirampas untuk melayani hasrat akumulasi modal segelintir elite oligarki. Ketika korporasi bertransformasi menjadi penguasa yang kebal terhadap akuntabilitas, eksploitasi energi yang seharusnya ditujukan untuk kemaslahatan publik justru berubah menjadi mesin perusak ekosistem yang bekerja secara masif dan terstruktur. Sebagai konklusi, epik dari serial ini meninggalkan sebuah panggilan moral sekaligus gugatan etis yang mendesak untuk segera direspons. Perlawanan terhadap ekstraktivisme rakus menuntut lebih dari sekadar kesadaran kultural semata. Mensyaratkan hadirnya instrumen keadilan yang kuat, keberanian untuk meruntuhkan monopoli sumber daya, dan ketegasan nyata dalam memutus rantai impunitas korporasi. Memastikan tegaknya keadilan ekologis bukanlah sesuatu yang berlebihan, melainkan sebuah perjuangan mutlak yang harus direbut sebelum bumi yang kita pijak benar-benar kehilangan kemampuannya untuk menopang kehidupan.

Referensi

Auty, R. M. (1993). Sustaining Development in Mineral Economies: The Resource Curse Thesis.Routledge

Kaufmann, D. (2024). State capture matters: Considerations and empirics toward a worldwide measure. In Public Sector Performance, Corruption and State Capture in a Globalized World (pp. 207–237). Routledge.

Robison, R., & Hadiz, V. R. (2004). Reorganising Power in Indonesia: The Politics of Oligarchy in an Age of Markets. Routledge.

Safa’at, R. (2026). Oligarki, Lingkungan, dan Korupsi: Urgensi Undang-Undang Anti-Oligarki dalam Tata Kelola Sumber Daya Alam Berkelanjutan. Malang: Inteligensia Media.

Weiss, E. B. (n.d.). Environmental Governance. MIT Press.

Winters, J. A. (2011). Oligarchy. Cambridge University Press.

Mohammad Khairul Muqorobin
Kontributor
Mohammad Khairul Muqorobin
Hakim Pengadilan Negeri Pulang Pisau

Untuk Mendapatkan Berita Terbaru Suara BSDK, Follow Channel WhatsApp: SUARABSDKMARI

final fantasy VII resensi game Role playing game
Share. Facebook Twitter Threads Telegram WhatsApp Copy Link

Related Posts

Menanam Nilai, Menjaga Masa Depan

September 1, 2026

Sayap Patah dan Keadilan Yang Tersisa Bagi Elang

August 15, 2026

Secangkir Cocopresso dari Seorang Yang Mulia

August 15, 2026
Leave A Reply


Demo
Top Posts

Resensi Game: Final Fantasy VII

September 7, 2026

Menanam Nilai, Menjaga Masa Depan

September 1, 2026

Sayap Patah dan Keadilan Yang Tersisa Bagi Elang

August 15, 2026

Secangkir Cocopresso dari Seorang Yang Mulia

August 15, 2026
Don't Miss

Tekankan Peradilan yang Berkeadilan, Adaptif, dan Visioner dalam Transisi Hukum Pidana Nasional

By Ferdian PermadiSeptember 7, 20260

Jakarta, 7 September 2026 — Ketua Muda Kamar Pidana Mahkamah Agung Republik Indonesia, Dr. H.…

Laporan Kegiatan Penyusunan Naskah Kebijakan Wajib Dilaporkan Secara Menyeluruh

September 7, 2026

Resensi Game: Final Fantasy VII

September 7, 2026

Cermin di Balik Layar Kaca: Filosofi Gawai, Kepribadian, dan Manajemen Peradilan Modern

September 7, 2026
Stay In Touch
  • YouTube
  • TikTok
  • WhatsApp
  • Twitter
  • Instagram
Top Trending
Demo

Recent Posts

  • Tekankan Peradilan yang Berkeadilan, Adaptif, dan Visioner dalam Transisi Hukum Pidana Nasional
  • Laporan Kegiatan Penyusunan Naskah Kebijakan Wajib Dilaporkan Secara Menyeluruh
  • Resensi Game: Final Fantasy VII
  • Cermin di Balik Layar Kaca: Filosofi Gawai, Kepribadian, dan Manajemen Peradilan Modern
  • Perdana Digelar, Turnamen Mini Soccer KPT Makassar Cup 2026 Resmi Dibuka

Recent Comments

  1. Burhan on Dari Prajurit Hukum ke Mahkamah Agung: Letkol Chk Sudiyo Pesan ‘Menulis dan Menulislah’
  2. Vanimut on Ketua PTA Kepri Buka Pendampingan Monev KIP Tahun 2026
  3. Ekasari on BSDK MA Run 2026: 10 Kilometer Pelari CADAS, Berlari Bersama Menjaga Semangat Pengabdian dan Integritas
  4. Abdul Hafid PP PA Sleman on Alumni Bersuara dari PA Sleman : Diklat Panitera Pengganti Harus Update, Merata, dan Berbasis Praktik
  5. kumalasari on Di Mana Negara Menempatkan, Di Sana Pengabdian Dijalankan: Kisah PNS Non-Homebase Menemukan Arti Ketulusan di Tanah yang Jauh dari Rumah
Hubungi Kami

Badan Strategi Kebijakan dan Pendidikan dan Pelatihan Hukum dan Peradilan Hukum dan Peradilan
Mahkamah Agung RI

Kantor: Jl. Cikopo Selatan Desa Sukamaju, Kec. Megamendung
Bogor, Jawa Barat 16770

Kirimkan reportase berita, opini, features dan artikel lainnya ke email suarabsdk.com : 
redpelsuarabsdk@gmail.com

Telepon: (0251) 8249520, 8249522, 8249531, 8249539

Kategori
Beranda Artikel Berita Features Sosok KRITERIA TULISAN
Filsafat Roman Satire Video BALACADAS
Connect With Us
  • Instagram
  • YouTube
  • WhatsApp
Aplikasi Internal
Logo 1 Logo 2 Logo 3 Logo 3 Logo 5
Logo 4 Logo 4 Logo 4 Logo 5 Logo 5 Logo 5
Kontributor
  • Avatar photo Ahmad Junaedi
  • Avatar photo Mohammad Khairul Muqorobin
  • Avatar photo Irvan Mawardi
  • Avatar photo Aman
  • Avatar photo Cecep Mustafa
  • Avatar photo Khoiruddin Hasibuan
  • Avatar photo Muamar Azmar Mahmud Farig
  • Avatar photo Ari Gunawan
  • Avatar photo Syailendra Anantya Prawira
  • Avatar photo Yudhistira Ary Prabowo
  • Avatar photo Muhammad Rizqi Hengki
  • Avatar photo Ghesa Agnanto Hutomo
  • Avatar photo Agus Digdo Nugroho
  • Avatar photo Muhammad Adiguna Bimasakti
  • Avatar photo Timbul Bonardo Siahaan
  • Avatar photo Dahlan Suherlan
  • Avatar photo Syamsul Arief
  • Avatar photo Jatmiko Wirawan
  • Avatar photo Taufikurrahman
  • Avatar photo Cik Basir
  • Avatar photo Johanes
  • Avatar photo Maria Fransiska Walintukan
  • Avatar photo Syihabuddin
  • Avatar photo Unggul Senoaji
  • Avatar photo Zulfahmi
  • Avatar photo M. Natsir Asnawi
  • Avatar photo Adji Prakoso
  • Avatar photo Anton Ahmad Sogiri
  • Avatar photo Yoshito Siburian
  • Avatar photo Abdi Munawar Daeng Mangagang
  • Avatar photo Iqbal Lazuardi
  • Avatar photo Galang Adhe Sukma
  • Avatar photo Anisa Yustikaningtiyas
  • Avatar photo Harun Maulana
  • Avatar photo I Gusti Lanang Ngurah Sidemen Putra
  • Avatar photo Muhammad Hanif Ramadhan
  • Avatar photo Ahmad Syahrus Sikti
  • Avatar photo Eliyas Eko Setyo
  • Avatar photo Firzi Ramadhan
  • Avatar photo Jarkasih
  • Avatar photo Sriti Hesti Astiti
  • Avatar photo Sudiyo
  • Avatar photo Binsar Parlindungan Tampubolon
  • Avatar photo Garin Purna Sanjaya
  • Avatar photo Layla Windy Puspita Sari
  • Avatar photo Marulam J Sembiring
  • Avatar photo Tri Indroyono
  • Avatar photo Letkol Chk Agustono, S.H., M.H.
  • Avatar photo Ardiansyah Iksaniyah Putra
  • Avatar photo Febby Fajrurrahman
  • Avatar photo Ganjar Prima Anggara
  • Avatar photo Irene Cristna Silalahi
  • Avatar photo Marsudin Nainggolan
  • Avatar photo Maulana Aulia
  • Avatar photo Riki Perdana Raya Waruwu
  • Avatar photo Dr. Syofyan Iskandar, S.H., M.H.
  • Avatar photo Afifah Dwiandini
  • Avatar photo Itsnaatul Lathifah
  • Avatar photo Khoiriyah Roihan
  • Avatar photo Redaktur SuaraBSDK
  • Avatar photo Yasin Prasetia
  • Avatar photo Muhamad Zaky Albana
  • Avatar photo Audrey Kartika Putri
  • Avatar photo Bintoro Wisnu Prasojo, S.H.
  • Avatar photo Buang Yusuf
  • Avatar photo Fitriyel Hanif
  • Avatar photo Henri Setiawan
  • Avatar photo Irwan Rosady
  • Avatar photo K.G. Raegen
  • Avatar photo Rafi Muhammad Ave
  • Avatar photo Rangga Lukita Desnata
  • Avatar photo Rikatama Budiyantie
  • Avatar photo Siti Nadhiroh
  • Avatar photo Teguh Setiyawan
  • Avatar photo Abdul Azis Ali Ramdlani
  • Avatar photo Achmad Fikri Oslami
  • Avatar photo Ahmad Fuad Noor Ghufron
  • Avatar photo Achmad Nurul Huda
  • Avatar photo Anggi Permana
  • Avatar photo Ang Rijal Amin
  • Avatar photo Cok Istri Bhagawanthi Pemayun
  • Avatar photo Dedi Putra
  • Avatar photo Dewi Maharati
  • Avatar photo Gerry Michael Purba
  • Avatar photo Herjuna Praba Wiesesa
  • Avatar photo Hermanto
  • Avatar photo Indarka PP
  • Avatar photo Muhamad Fadillah
  • Avatar photo Nugraha Medica Prakasa
  • Avatar photo Ria Marsella
  • Avatar photo Sahram
  • Avatar photo Saut Erwin Hartono A. Munthe
  • Avatar photo Silveria Supanti
  • Avatar photo Sugiarto
  • Avatar photo Yusuf Sodhiqin
  • Avatar photo Achmad Pratomo
  • Avatar photo Ahmad Faiz Shobir Alfikri
  • Avatar photo Andro Riski Pradipta
  • Avatar photo Arie Fitriansyah
  • Avatar photo Bismo Jiwo Agung
  • Avatar photo Epri Wahyudi
  • Avatar photo Fajar Widodo
  • Avatar photo Fariz Prasetyo Aji
  • Avatar photo Fauzan Arrasyid
  • Avatar photo Fauzia Rohmah
  • Avatar photo Febry Indra Gunawan Sitorus
  • Avatar photo Ferdian Permadi
  • Avatar photo Gerry Geovant Supranata Kaban
  • Avatar photo Mardi Candra
  • Avatar photo Muhammad Irfan Syahputra
  • Avatar photo Muhammad Amin Putra
  • Avatar photo Niko Wijaya
  • Avatar photo Putra Nova A.S
  • Avatar photo Rizal Arif Fitria
  • Avatar photo Sadana
  • Avatar photo Trisoko Sugeng Sulistyo
  • Avatar photo Umar Dani
  • Avatar photo Abdul Hadi
  • Avatar photo Abiandri Fikri Akbar
  • Avatar photo Abi Zaky Azizi
  • Avatar photo Dr. H. Achmad Setyo Pudjoharsoyo., SH., M.Hum
  • Avatar photo Adimas Leo Firmansah
  • Avatar photo Agenda Citra Muhammad
  • Avatar photo Andi Akram
  • Avatar photo Arsyawal
  • Avatar photo Aulia Rochmani Lazuardi
  • Avatar photo Bagus Partha Wijaya
  • Avatar photo Bagus Sujatmiko
  • Avatar photo Bayu Akbar Wicaksono
  • Avatar photo Chandra Khoirunnas
  • Avatar photo Cuhandi
  • Avatar photo David Pasaribu
  • Avatar photo Dendi Sutiyoso
  • Avatar photo Dhea Sutaryana
  • Avatar photo Edi Hudiata
  • Avatar photo Enrico Simanjuntak
  • Avatar photo Fauzan Prasetya
  • Avatar photo Fauziah Rahmah
  • Avatar photo Fery Rochmad Ramadhan
  • Avatar photo Hartanto Ariesyandi
  • Avatar photo Idik Saeful Bahri
  • Avatar photo Karell Mawla Ibnu Kamali
  • Avatar photo Khalilurrahman
  • Avatar photo Khoirul Anwar
  • Avatar photo Mentari Wahyudihati
  • Avatar photo Muhamad Ridwan
  • Avatar photo Muhamad Iqbal
  • Avatar photo Nia Chasanah
  • Avatar photo Novritsar Hasintongan Pakpahan
  • Avatar photo Nugraha Wisnu Wijaya
  • Avatar photo Raden Anggara Kurniawan
  • Avatar photo Raden Heru Wibowo Sukaten
  • Avatar photo Rahimulhuda Rizki Alwi
  • Avatar photo Rahmad Ramadhan Hasibuan
  • Avatar photo Ranggi Adiwangsa Yusron
  • Avatar photo Muhammad Rijaldy Alwy
  • Avatar photo Rohim
  • Avatar photo Samsul Zakaria
  • Avatar photo Satria Perdana
  • Avatar photo Tri Cahya Indra Permana
  • Avatar photo Wahyu Budi Santoso
  • Avatar photo Wilmar Ibni Rusydan
  • Avatar photo Yudhi Reksa Perdana
  • Avatar photo Abdul Ghani
  • Avatar photo Ach. Jufri
  • Avatar photo Afif Muchshon
  • Avatar photo Agus Suharsono
  • Avatar photo Ahmad Efendi
  • Avatar photo Ahmad Hodri
  • Avatar photo Ahmad Rizza Habibi
  • Avatar photo Aidil Akbar
  • Avatar photo Alep Priyoambodo
  • Avatar photo Alfajar Nugraha
  • Avatar photo Anderson Peruzzi Simanjuntak
  • Avatar photo Andhika Prayoga
  • Avatar photo Andi Muhammad Galib
  • Avatar photo Andi Aswandi Tashar
  • Avatar photo Andrie Gunawan
  • Avatar photo Anna Yulina
  • Avatar photo Annisa Nur Alam
  • Avatar photo Arga Febrian
  • Avatar photo Arief Sapto Nugroho
  • Avatar photo Mayor Chk Arif Dwi Prasetyo
  • Avatar photo Armansyah
  • Avatar photo Aryaniek Andayani
  • Avatar photo Ashhab Triono
  • Avatar photo Bella Puspitawati
  • Avatar photo Bilma Diffika
  • Avatar photo Bony Daniel
  • Avatar photo Budi Hermanto
  • Avatar photo Budi Suhariyanto
  • Avatar photo Chandra
  • Avatar photo Christopher Hutapea
  • Avatar photo Daniel H. Napitupulu
  • Dedi Wigandi
  • Avatar photo Deka Rachman Budihanto
  • Avatar photo Eddy Sembiring
  • Avatar photo Effendi Mukhtar
  • Avatar photo Egia Rasido Tarigan
  • Avatar photo Eka Sentausa
  • Avatar photo Enos Syahputra Sipahutar, S.H., M.H.
  • Avatar photo Dr. Fahmiron
  • Avatar photo Fahri Bachmid
  • Avatar photo Fahri Gunawan Siagian
  • Avatar photo Fahri Soleh
  • Avatar photo Fakhir Tashin Baaj
  • Avatar photo Fatkul Mujib, S.H.I., M.H.
  • Avatar photo Dr. Fauziati, S.Ag., M.Ag
  • Avatar photo Febriansyah Rozarius
  • Avatar photo Friska Ariesta Aritedi
  • Avatar photo Gineng Pratidina
  • Avatar photo Peltu Hartono
  • Avatar photo Hastuti
  • Avatar photo Hendro Yatmoko
  • Avatar photo Ibnu Abas Ali
  • Avatar photo I Made Sukadana
  • Indra Tua Hasangapon Harahap
  • Avatar photo Ira Soniawati
  • Avatar photo Irfan Dibar
  • Avatar photo Muhammad Irfansyah
  • Avatar photo Letkol Kum Irwan Tasri, S.H., M.H., M.Han.
  • Avatar photo Iwan Lamganda Manalu
  • Avatar photo Jerymia Seky Tanaem
  • Avatar photo Jusran Ipandi
  • Avatar photo Khaimi
  • Avatar photo Khoerul Umam
  • Avatar photo Linora Rohayu
  • Avatar photo Made Passek Reza Swandira
  • Avatar photo Marta Satria Putra
  • Avatar photo Marwan Ibrahim Piinga
  • Avatar photo Marwanto
  • Avatar photo Marzha Tweedo Dikky Paraanugrah
  • Avatar photo Maulia Martwenty Ine
  • Avatar photo Mira Maulidar
  • Avatar photo Misbah S.T., M.Eng.
  • Avatar photo Misbahul Anwar
  • Avatar photo Muhamad Ilham Azizul Haq
  • Avatar photo Muhamad Saptari
  • Avatar photo Muhammad Fadllullah
  • Avatar photo Muhammad Muhyi Arrasyid, S.Psi.
  • Avatar photo Muhammad Bagus Tri Prasetyo
  • Avatar photo Muhammad Yusuf
  • Avatar photo Muhammad Zuchri Nasuha Lubis
  • Avatar photo Murdian
  • Avatar photo Nadia Yurisa Adila
  • Avatar photo Nisrina Irbah Sati
  • Avatar photo Letkol CHK Nur Sakdi, S.H, M.H.
  • Avatar photo Nur Latifah Hanum
  • Avatar photo Pandu Pradana Wicaksono, S.H.
  • Avatar photo Pita Permatasari
  • Avatar photo H .A.S Pudjoharsoyo
  • Avatar photo Putri Pebrianti
  • Avatar photo R. Deddy Harryanto
  • Avatar photo Radityo Muhammad Harseno
  • Avatar photo Rahmi Fattah
  • Avatar photo Randy Viyatadhika
  • Avatar photo Ratih Gumilang
  • Avatar photo Reindra Jasper H. Sinaga, S.H. Hakim Pengadilan Negeri Tanjung Balai Karimun
  • Avatar photo Muh Ridha Hakim
  • Avatar photo Rifqi Qowiyul Iman
  • Avatar photo Rizal Abdurrahman
  • Avatar photo Romi Hardhika
  • Avatar photo Sandro Imanuel Sijabat
  • Avatar photo Sbong Sinarok Martin, S.H., M.H.
  • Avatar photo Selexta Apriliani
  • Avatar photo Septia Putri Riko
  • Avatar photo Septriono Situmorang
  • Avatar photo Siti Anis
  • Avatar photo Slamet Turhamun
  • Avatar photo Sobandi
  • Avatar photo Stefanus Dwi Putra Medisa
  • Avatar photo Subiyatno
  • Avatar photo Teddy Lahati
  • Avatar photo Tri Baginda Kaisar Abdul Gafur
  • Avatar photo Urif Syarifudin
  • Avatar photo Wanda Rara Farezha,S.H.
  • Avatar photo Wienda Kresnantyo
  • Avatar photo Willsa Suharyadi
  • Avatar photo Yoshelsa Wardhana
  • Avatar photo Yukiatiqa Afifah
  • Avatar photo Marsekal Muda TNI Dr. Yuwono Agung Nugroho, S.H., M.H.
  • Avatar photo Zidny Taqiyya
Lihat semua kontributor →

Type above and press Enter to search. Press Esc to cancel.