Close Menu
Suara BSDKSuara BSDK
  • Beranda
  • Artikel
  • Berita
  • Features
  • Sosok
  • Filsafat
  • Roman
  • Satire
  • Video

Subscribe to Updates

Get the latest creative news from FooBar about art, design and business.

What's Hot

Samara dan Siluman Matu

5 September 2026 • 14:08 WIB

Menelaah Subjek Kalimat dalam Bahasa Hukum

4 September 2026 • 17:53 WIB

Memperkuat Integritas dan Pengetahuan Hukum: PN Dataran Hunipopu Gelar Sosialisasi SEMA, PERMA, Hingga SK KMA Bersama Aparat Penegak Hukum

4 September 2026 • 14:46 WIB
Instagram YouTube
Suara BSDKSuara BSDK
Deskripsi Gambar
  • Beranda
  • Artikel
  • Berita
  • Features
  • Sosok
  • Filsafat
  • Roman
  • Satire
  • Video
Suara BSDKSuara BSDK
Deskripsi Gambar
  • Beranda
  • Artikel
  • Berita
  • Features
  • Sosok
  • Filsafat
  • Roman
  • Satire
  • Video
Home » Ahli Waris

Ahli Waris

Indarka PPIndarka PP22 December 2025 • 09:17 WIB9 Mins ReadNo Comments
Share
Facebook Twitter Threads Telegram WhatsApp

Tidak kutahu-menahu tentang lelaki itu. Tetapi Ibu memperkenalkan padaku sebagai ayah. Ayah yang tak pernah kudapati pelukannya. Tanpa kuperoleh hangat ciumannya. Atau setidak-tidaknya kukenali gema amarahnya ketika aku nakal dan berulah sewaktu dulu. Ayah yang terasa ganjil bagiku untuk memanggilnya “ayah” karena mencari bahasa kasih sayang darinya laksana menyibak-nyibak setumpuk jerami demi sebatang jarum. Sementara di sudut-sudut kumuh tempat tinggalku ini, betapa sering kutemui para induk kucing mengasihi anak-anaknya sekalipun dengan ludah serta gigitan taring mereka.

“Abang membenciku?” Air muka perempuan belia ini mengingatkanku pada anak kucing malu-malu.

Kucing, oh kucing.

Sejujurnya aku tidak mencemburui kucing-kucing karena kami tidaklah sama. Anak kucing sama sekali tak punya asa terhadap kucing jantan sebagai ayah mereka, sedangkan aku tidak demikian. Malah tersebab harapan itulah barangkali yang membuatku sanggup hidup dua puluh enam tahun lamanya, sampai waktu yang mengantar perjumpaanku dengan perempuan yang berusia sewindu lebih muda dariku. Dia Yusi, yang kelak mengenalkanku lebih jauh pada laki-laki yang ia akui sebagai ayahnya, Mazdhar Zakaria.

Ya, ayah kami, satu orang yang sama.

Aku dan Yusi berbagi pandang, beradu dalam delik akrab dipaksa-paksakan, seperti ingus bocah meragu turun sarang. Hidup Yusi terbilang makmur sentosa. Ayahnya adalah pejabat di kantor provinsi. Sekarang mereka hanya hidup berdua sebab Yusi tak bersaudara, sedangkan ibunya sudah meninggal lantaran badai virus lima tahun silam.

“Abang membenciku, ya?” Aku mendengus ketika Yusi bertanya lagi.

Tempurung kepalaku kini serasa ditumbuhi akar-akar sungsang yang lekas menjalar ke setiap lubang. Sejatinya aku ingin mengiyakan rasa penasaran saudara seayahku ini, namun apa daya, akar-akar telanjur subur di lubang bibirku. Air ludahku menyusur pelan melintas di tenggorokan dan sedikit demi sedikit mengurai akar-akar itu.

“Tidak masalah,” ucap Yusi lagi. “Apa kau mau bertemu, Bang? Ayah sedang sakit. Aku yakin ada yang ingin ditebus olehnya.”

“Kau sudah bicara?” Aku menatap mata Yusi, saksama.

Kata Yusi, tak ada manusia benar-benar suci. Semua orang hanya berbeda soal cara apa yang ditempuh menuju dosa. Kita tak perlu mengutuk Adam yang dilempar ke bumi karena mengganggu pohon pengetahuan. Tidak terlalu penting juga mengolok-olok anggota dewan sebab bila dihadapkan pada posisi serupa, siapa yang menjamin manusia tidak akan berlaku bebal.

Dalam kesempatan ceramah singkatnya itu, sempat terbesit niatku ingin menyumpal mulutnya. Aku merasa dunia begitu cepat dijungkirbalikkan. Yang muda menasihati yang tua. Benar-benar tindak-tanduk yang kurang ajar.

“Dia bilang menyesal?” tanyaku usai Yusi bilang Mazdhar ingin bertemu aku dan Ibu.

“Bang, penyesalan seringkali tidak diungkapkan. Ia akan datang tanpa permisi saat waktunya tiba. Asal kau tahu, Ayah bahkan pernah bercerita tentang ibumu ketika kematian ibuku belum genap tujuh hari. Tidakkah cukup meyakinkanmu bahwa penyesalannya telah tiba?”

“Hanya Ibuku?” Yusi mengangguk pelan.

Kami berpisah setelah pertemuan itu. Aku tidak pernah menghubungi Yusi meski ia meninggalkan jejak nomor teleponnya. Tak ada pula panggilan masuk dari saudara seayahku itu tentang keinginan Mazdhar tempo hari. Kini aku malah sependapat dengan ceramah bocah ingusan itu bahwa manusia hanya berbeda jalan dosa. Omong kosong belaka Mazdhar menyesal. Bukankah sesal tanpa tindakan serupa iman tak diamalkan?

Sekarang sisalah aku dan Ibu menuguri hidup dari hari ke hari sebagai sepasang manusia papa. Menjelang usia Ibu yang setengah abad ini, aku acap berpikir kalau jiwa Ibu sungguh telah lama mati, hanya saja raganya tinggal menanti jatah untuk dikebumikan.

Memang harta si kaya dan si miskin tak akan dibawa ke akhirat. Namun aku berada pada mazhab bahwa miskin bisa membuatmu mati lebih cepat. Sulit bagiku merelakan kalau nasib ini harus membelenggu hidup kami terus-menerus. Apalagi penyakit Ibu lambat laun juga kian menjarahi tubuhnya, seakan menagih banyak urusan yang tak akan sanggup kami bayar.

Baca Juga  Antara Buku, Pena, dan Penghapus

Sementara nun di jantung kota, aku terbayang Mazdhar bersama putri tunggalnya terlelap dalam mimpi indah di malam yang berselimut sejahtera, bangun pagi sarapan roti selai, lalu menenggak hangatnya susu kedelai, tanpa menyisakan serak-serak iba pada sepasang nyawa yang telah lama ia dustakan.

***

“Kita ahli warisnya, Bu.”

Aku berbicara pada Ibu, suatu sore usai selumbari memperoleh kabar dari Yusi bahwa ayahnya wafat karena penyakit kronis stadium akhir saluran kencing. Aku sempat mengutuk Yusi yang telat memberi kabar sehingga tak satu pun di antara aku atau Ibu datang sekadar menyaksikan lelaki itu disemayamkan, atau sekurang-kurangnya bertemu sekalipun tak lagi bernyawa.

Kali ini Ibu tampak lebih letih dari biasanya. Aku cukup memahami, meski otakku bergemuruh hal lain dan aku berharap Ibu merasakan energi serupa. Lagi-lagi, ini tentang nasib hidup kami ke depan.

Perlahan ia menuang air dari sebuah kendi hitam legam, lalu mengangsurkan segelas untukku. Suara paraunya mulai terdengar sayup di telinga. “Tidak ada yang salah dari rasa rindu seorang anak pada ayah. Tapi Ibu harap sebatas itu saja. Jangan pernah memikirkan warisan.”

“Tidak, tidak,” timpalku, “kita berhak atas itu.” Aku menegakkan badan di atas kursi yang kududuki.

Pandangan Ibu kini malah jadi meruncing ke arah mataku. Roman yang nyaris tak pernah kudapati bertahun-tahun hidup susah dengannya. Ia meraih ujung kendi itu. Memadukan bibir kendi dengan bibirnya. Aku sempat membatin, sekilas tak ada yang kontras antara warna kendi dan bibir ibu yang kering dan layu.

Dua teguk telah tunai melintas di tenggorokannya. Ia mengembalikan kendi ke tempat asal, kemudian berkata lagi kepadaku. “Ibu membesarkanmu bukan untuk jadi laki-laki pengemis iba orang lain, biarpun orang lain itu mungkin ayahmu sendiri. Sekarang dia telah mati. Dan sebaiknya kita mendoakannya, bukan malah mengungkit-ungkit warisan.”

Parau suara Ibu disambut desis-desis angin yang turut mengangkut aroma-aroma di sekitar gubuk kami memasuki celah kayu hingga terhidu demikian busuknya. Bagiku itu sudah biasa. Justru sekarang yang tidak biasa adalah aku dan Ibu. Mendengar perkataannya barusan membikin gendang telingaku tersumpal besi disepuh. Jahanam mana yang melakukannya? Aku tak tahu. Tetapi tentu saja logam panas itu membuatku berang setengah gila.

Kusahuti perempuan tua yang sedang kubela itu dengan tegas. Bahwa aku tidak bersiasat mencuri. Tidak sedang mengajaknya menjarah. Aku tidak ingin macam-macam kecuali mengajaknya sadar diri tentang apa yang semestinya berhak kami berdua terima.

Racauanku terhenti begitu kusadari Ibu sudah berbilas air mata. Sementara tubuhku tetap menegang, rahang masih membaja. Perempuan tua itu mulai bicara lagi bernada serak dan bibir bergetar. “Kata ayahmu, demi hidup yang cukup, ia pamit meninggalkan kita. Katanya demi hidup sejahtera. Demi dan demi! Dia pamit pergi, untuk seterusnya, dan bahkan kini selamanya,” suaranya terjeda sekian detik, “tapi hari ini, Nak. Ibu seperti terlempar lagi puluhan tahun ke belakang. Mengapa kau dan almarhum tak jauh berbeda?”

Kebodohan macam apa ini. Sempat-sempatnya Ibu mempertanyakan sesuatu yang lazim yang jamak yang umum terjadi antara anak dan ayah. Aku pikir Ibu memang sudah terserang sesat pikir kronis. Ia seperti hidup hanya karena tak kunjung mati. Tidak, tidak. Rupanya ia tidak sedang kehilangan gairah untuk terbebas dari belenggu nestapa, melainkan memang tidak memilikinnya sama sekali. Artinya, selama ini perempuan tua di hadapanku andil besar atas kehidupan yang melarat sejak aku bayi hingga sekarang.

Kepalaku kembali nyeri, serasa dihantam dengan setandan kelapa segar. Karena tak tertahankan lagi, angin yang datang mendorong tanganku meraih kendi hitam itu, mengayunkan dengan tenaga yang berlipat-lipat datangnya. Melenting sudah suara-suara sumbang: pecahan tanah liat, teriak serta jeritan Ibu. Ia menangkupkan tangan ke telinga dan memejam rapat-rapat sekalipun tak sungguh berhasil menghalau banjir tangis dari matanya.

***

Tak kuingat berapa hari setelah kemelut sore jahanam itu, sepotong pesan datang dari Yusi. Ringkas. Tidak terlalu panjang. Tetapi setelah kubaca rupanya meninggalkan gaung teramat lama. Yusi mengabarkan padaku kalau almarhum Mazdhar Zakaria bukan ayah kandungnya. Dia diadopsi dari panti sosial sejak usia balita.

Baca Juga  Keterasingan Diri dan Harga Sejati Integritas Seorang Hakim: Refleksi Hukum Dalam Perspektif Eksistensialisme

Berengsek betul, kubilang.

Mengapa sejak awal Yusi tidak jujur soal itu. “Apa mau menggelapkan warisan?”. Aku menepuk-nepuk jidat, menghitung-hitung sebuah kesimpulan. Tanpa ragu tanpa bimbang bahkan tanpa berlama-lama, aku gegas beranjak menemui Ibu. Tak ada manusia yang paling berhak atas warisan ayah selain Ibu dan aku sendiri.

Di jalanan, gang-gang, tikungan satu ke tikungan lain, tak habis-habis aku mengucap syukur pada Tuhan lantaran hikmah-Nya ini datang tiada kenal zaman. Sepatutnyalah nasibku dan Ibuku ditebus dengan cara-Nya yang amat bijaksana.

Dan, rencana-rencana ke depan kini mulai memborondongi isi otakku. Kami akan meninggalkan gubuk kumuh dan lekas-lekas pindah ke kota. Aku akan membawa Ibu ke dokter untuk membantu penyembuhannya. Dan aku akan tetap menganggap Yusi sebagai saudara, serta berjanji membiarkannya untuk tinggal seatap bahkan makan semeja bersama aku dan Ibuku.

Dari jarak seperlemparan batu dari tempatku berdiri, kulihat punggung Ibu yang duduk melamun di depan rumah jelek itu. Aku menghela napas sebentar, syahdan memangkas jarak untuk menghampirinya. Ibu cukup terkejut melihatku pulang. Ia menghujam tubuhku dengan pelukan sambil berkali-kali mengucap maaf. Kubilang, sudah, Bu, aku pulang membawa kabar baik.

Kami masuk ke rumah dan duduk di bangku masing-masing. Segera aku meraih ponsel dari dalam saku. Kucari nama Yusi di sana.

“Ada apa?” Ibu penasaran.

“Biarkan Yusi yang menjelaskan.”

Suara saudaraku itu terdengar nyaring dari kota. Aku memintanya untuk pelan-pelan menerangkan hubungannya dengan almarhum ayah.

“Jadi begini,” ucap Yusi.

Mata Ibu masih mengernyit heran, tetapi bibirku tak bisa lagi menyembunyikan perasaan yang, teramat lega. 

“Aku bersaksi Ayah dan Ibuku orang baik. Walaupun aku anak adopsi, tetapi aku tak pernah mendapatkan satu pun perlakuan kasar apalagi tak bertanggung jawab dari mereka. Aku tidak pernah dianggap sebagai orang lain. Mereka mengasihiku selayaknya darah daging mereka sendiri, yang mungkin malah tidak dialami oleh anak-anak lain dari orang tua kandung mereka.”

Ekor mataku melirik ke arah Ibu. Tak sabar selekas mungkin mau menuntaskan semuanya. “Eee… Yusi. Jadi almarhum bukan ayah kandungmu, ya?”

“Memang.” Senyumku terbit mendengarnya.

“Penyakit Ayah membuat dirinya tak pernah punya anak.” Senyumku padam seketika. Aku tercekat.

“Maaf, Yusi. Apa katamu?” timpalku buru-buru.

“Sejujurnya almarhum tidak punya anak kandung.”

Napasku mendadak tak keruan. Sekonyong-konyong situasi berubah demikian semrawut.

“Yusi, aku tidak paham…”

Di tengah perasaan bancuh itu, di mana tak lagi terkendali ritme jantungku, tiba-tiba Ibu meraih ponselku. Meletakannya begitu kasar di meja.

Suara Yusi tak terdengar lagi.

Aku hanya diam. Ibu ikut terdiam. Waktu seolah juga terpaksa berdiam.

Tampak di pandanganku, mata Ibu berubah merah dan berselaput basah. Bibir hitamnya terlihat ingin memuntahkan sejumlah kata. Namun hingga kepalaku kembali terhantam setandan kelapa segar, tak ada yang keluar dari mulutnya sekalipun air ludah.

Meski napasku tersengal-sengal, sekuat upaya kucoba bertanya, apakah Ibu tahu soal kalimat terakhir Yusi? Tak ada jawaban. Ibu menunduk serta menangkupkan telapak tangan ke lubang-lubang telinganya.

Tidak lama, lirih suara Ibu kembali terdengar mengucap kata maaf. Sadar bahwa keadaan mulai terkendali, kutanggapi permohonan maafnya. Kubilang tidak apa-apa. Tapi Ibu malah mengucap maaf lagi. Maaf berkali-kali. Maaf yang berulang-ulang kali.

Diiringi kesiur angin yang mengangkut aroma di sekitar gubuk kami lewat celah kayu hingga terhidu demikian busuknya, perasaanku mendesir getir mengingat almarhum Mazdhar Zakaria.

Sepertinya ada banyak hal yang perlu kubereskan.

Indarka PP
Kontributor
Indarka PP
Hakim Pengadilan Agama Tanah Grogot

Untuk Mendapatkan Berita Terbaru Suara BSDK, Follow Channel WhatsApp: SUARABSDKMARI

roman
Share. Facebook Twitter Threads Telegram WhatsApp Copy Link

Related Posts

Samara dan Siluman Matu

5 September 2026 • 14:08 WIB

Jejak Langkah Sang Penggagas : Dari Megamendung ke Medan Merdeka Utara

2 September 2026 • 10:05 WIB

Menanam Nilai, Menjaga Masa Depan

1 September 2026 • 13:29 WIB
Leave A Reply


Demo
Top Posts

Menanam Nilai, Menjaga Masa Depan

1 September 2026 • 13:29 WIB

Sayap Patah dan Keadilan Yang Tersisa Bagi Elang

15 August 2026 • 14:32 WIB

Secangkir Cocopresso dari Seorang Yang Mulia

15 August 2026 • 12:22 WIB

Dari Monitoring Hingga Titik Nol: Sebuah Perjalanan Tentang Pengabdian

30 July 2026 • 15:00 WIB
Don't Miss

Samara dan Siluman Matu

By Syamsul Arief5 September 2026 • 14:08 WIB0

Sains dan puisi pada suatu hari yang sunyi, berjanji untuk bertemu di altar yang sama.…

Menelaah Subjek Kalimat dalam Bahasa Hukum

4 September 2026 • 17:53 WIB

Memperkuat Integritas dan Pengetahuan Hukum: PN Dataran Hunipopu Gelar Sosialisasi SEMA, PERMA, Hingga SK KMA Bersama Aparat Penegak Hukum

4 September 2026 • 14:46 WIB

Membuka Sosialisasi Perma Nomor 2 Tahun 2026, Wkma Bidang Yudisial Tekankan Independensi Hakim Harus Berjalan Bersama Akuntabilitas

4 September 2026 • 14:42 WIB
Stay In Touch
  • YouTube
  • TikTok
  • WhatsApp
  • Twitter
  • Instagram
Top Trending
Demo

Recent Posts

  • Samara dan Siluman Matu
  • Menelaah Subjek Kalimat dalam Bahasa Hukum
  • Memperkuat Integritas dan Pengetahuan Hukum: PN Dataran Hunipopu Gelar Sosialisasi SEMA, PERMA, Hingga SK KMA Bersama Aparat Penegak Hukum
  • Membuka Sosialisasi Perma Nomor 2 Tahun 2026, Wkma Bidang Yudisial Tekankan Independensi Hakim Harus Berjalan Bersama Akuntabilitas
  • Plt. Kepala BSDK MA RI Sampaikan Laporan Penyelenggaraan Sosialisasi PERMA Nomor 2 Tahun 2026 di Bali

Recent Comments

  1. Burhan on Dari Prajurit Hukum ke Mahkamah Agung: Letkol Chk Sudiyo Pesan ‘Menulis dan Menulislah’
  2. Vanimut on Ketua PTA Kepri Buka Pendampingan Monev KIP Tahun 2026
  3. Ekasari on BSDK MA Run 2026: 10 Kilometer Pelari CADAS, Berlari Bersama Menjaga Semangat Pengabdian dan Integritas
  4. Abdul Hafid PP PA Sleman on Alumni Bersuara dari PA Sleman : Diklat Panitera Pengganti Harus Update, Merata, dan Berbasis Praktik
  5. kumalasari on Di Mana Negara Menempatkan, Di Sana Pengabdian Dijalankan: Kisah PNS Non-Homebase Menemukan Arti Ketulusan di Tanah yang Jauh dari Rumah
Hubungi Kami

Badan Strategi Kebijakan dan Pendidikan dan Pelatihan Hukum dan Peradilan Hukum dan Peradilan
Mahkamah Agung RI

Kantor: Jl. Cikopo Selatan Desa Sukamaju, Kec. Megamendung
Bogor, Jawa Barat 16770

Kirimkan reportase berita, opini, features dan artikel lainnya ke email suarabsdk.com : 
redpelsuarabsdk@gmail.com

Telepon: (0251) 8249520, 8249522, 8249531, 8249539

Kategori
Beranda Artikel Berita Features Sosok KRITERIA TULISAN
Filsafat Roman Satire Video BALACADAS
Connect With Us
  • Instagram
  • YouTube
  • WhatsApp
Aplikasi Internal
Logo 1 Logo 2 Logo 3 Logo 3 Logo 5
Logo 4 Logo 4 Logo 4 Logo 5 Logo 5 Logo 5
Kontributor
  • Avatar photo Ahmad Junaedi
  • Avatar photo Mohammad Khairul Muqorobin
  • Avatar photo Irvan Mawardi
  • Avatar photo Aman
  • Avatar photo Cecep Mustafa
  • Avatar photo Khoiruddin Hasibuan
  • Avatar photo Muamar Azmar Mahmud Farig
  • Avatar photo Ari Gunawan
  • Avatar photo Yudhistira Ary Prabowo
  • Avatar photo Syailendra Anantya Prawira
  • Avatar photo Muhammad Rizqi Hengki
  • Avatar photo Ghesa Agnanto Hutomo
  • Avatar photo Agus Digdo Nugroho
  • Avatar photo Muhammad Adiguna Bimasakti
  • Avatar photo Timbul Bonardo Siahaan
  • Avatar photo Dahlan Suherlan
  • Avatar photo Syamsul Arief
  • Avatar photo Jatmiko Wirawan
  • Avatar photo Taufikurrahman
  • Avatar photo Cik Basir
  • Avatar photo Maria Fransiska Walintukan
  • Avatar photo Johanes
  • Avatar photo Syihabuddin
  • Avatar photo Unggul Senoaji
  • Avatar photo Zulfahmi
  • Avatar photo M. Natsir Asnawi
  • Avatar photo Adji Prakoso
  • Avatar photo Anton Ahmad Sogiri
  • Avatar photo Yoshito Siburian
  • Avatar photo Abdi Munawar Daeng Mangagang
  • Avatar photo Iqbal Lazuardi
  • Avatar photo Galang Adhe Sukma
  • Avatar photo Anisa Yustikaningtiyas
  • Avatar photo Harun Maulana
  • Avatar photo I Gusti Lanang Ngurah Sidemen Putra
  • Avatar photo Muhammad Hanif Ramadhan
  • Avatar photo Ahmad Syahrus Sikti
  • Avatar photo Eliyas Eko Setyo
  • Avatar photo Firzi Ramadhan
  • Avatar photo Jarkasih
  • Avatar photo Sriti Hesti Astiti
  • Avatar photo Sudiyo
  • Avatar photo Binsar Parlindungan Tampubolon
  • Avatar photo Layla Windy Puspita Sari
  • Avatar photo Marulam J Sembiring
  • Avatar photo Tri Indroyono
  • Avatar photo Letkol Chk Agustono, S.H., M.H.
  • Avatar photo Ardiansyah Iksaniyah Putra
  • Avatar photo Febby Fajrurrahman
  • Avatar photo Ganjar Prima Anggara
  • Avatar photo Garin Purna Sanjaya
  • Avatar photo Irene Cristna Silalahi
  • Avatar photo Marsudin Nainggolan
  • Avatar photo Maulana Aulia
  • Avatar photo Riki Perdana Raya Waruwu
  • Avatar photo Dr. Syofyan Iskandar, S.H., M.H.
  • Avatar photo Afifah Dwiandini
  • Avatar photo Itsnaatul Lathifah
  • Avatar photo Khoiriyah Roihan
  • Avatar photo Redaktur SuaraBSDK
  • Avatar photo Yasin Prasetia
  • Avatar photo Muhamad Zaky Albana
  • Avatar photo Audrey Kartika Putri
  • Avatar photo Bintoro Wisnu Prasojo, S.H.
  • Avatar photo Buang Yusuf
  • Avatar photo Fitriyel Hanif
  • Avatar photo Henri Setiawan
  • Avatar photo Irwan Rosady
  • Avatar photo K.G. Raegen
  • Avatar photo Rafi Muhammad Ave
  • Avatar photo Rangga Lukita Desnata
  • Avatar photo Rikatama Budiyantie
  • Avatar photo Siti Nadhiroh
  • Avatar photo Teguh Setiyawan
  • Avatar photo Abdul Azis Ali Ramdlani
  • Avatar photo Achmad Fikri Oslami
  • Avatar photo Ahmad Fuad Noor Ghufron
  • Avatar photo Achmad Nurul Huda
  • Avatar photo Anggi Permana
  • Avatar photo Ang Rijal Amin
  • Avatar photo Cok Istri Bhagawanthi Pemayun
  • Avatar photo Dedi Putra
  • Avatar photo Dewi Maharati
  • Avatar photo Gerry Michael Purba
  • Avatar photo Herjuna Praba Wiesesa
  • Avatar photo Hermanto
  • Avatar photo Indarka PP
  • Avatar photo Muhamad Fadillah
  • Avatar photo Nugraha Medica Prakasa
  • Avatar photo Ria Marsella
  • Avatar photo Sahram
  • Avatar photo Saut Erwin Hartono A. Munthe
  • Avatar photo Silveria Supanti
  • Avatar photo Sugiarto
  • Avatar photo Yusuf Sodhiqin
  • Avatar photo Achmad Pratomo
  • Avatar photo Ahmad Faiz Shobir Alfikri
  • Avatar photo Andro Riski Pradipta
  • Avatar photo Arie Fitriansyah
  • Avatar photo Bismo Jiwo Agung
  • Avatar photo Epri Wahyudi
  • Avatar photo Fajar Widodo
  • Avatar photo Fariz Prasetyo Aji
  • Avatar photo Fauzan Arrasyid
  • Avatar photo Fauzia Rohmah
  • Avatar photo Febry Indra Gunawan Sitorus
  • Avatar photo Gerry Geovant Supranata Kaban
  • Avatar photo Mardi Candra
  • Avatar photo Muhammad Irfan Syahputra
  • Avatar photo Muhammad Amin Putra
  • Avatar photo Niko Wijaya
  • Avatar photo Putra Nova A.S
  • Avatar photo Rizal Arif Fitria
  • Avatar photo Sadana
  • Avatar photo Trisoko Sugeng Sulistyo
  • Avatar photo Umar Dani
  • Avatar photo Abdul Hadi
  • Avatar photo Abiandri Fikri Akbar
  • Avatar photo Abi Zaky Azizi
  • Avatar photo Dr. H. Achmad Setyo Pudjoharsoyo., SH., M.Hum
  • Avatar photo Adimas Leo Firmansah
  • Avatar photo Agenda Citra Muhammad
  • Avatar photo Andi Akram
  • Avatar photo Arsyawal
  • Avatar photo Aulia Rochmani Lazuardi
  • Avatar photo Bagus Partha Wijaya
  • Avatar photo Bagus Sujatmiko
  • Avatar photo Bayu Akbar Wicaksono
  • Avatar photo Chandra Khoirunnas
  • Avatar photo Cuhandi
  • Avatar photo David Pasaribu
  • Avatar photo Dendi Sutiyoso
  • Avatar photo Dhea Sutaryana
  • Avatar photo Edi Hudiata
  • Avatar photo Enrico Simanjuntak
  • Avatar photo Fauzan Prasetya
  • Avatar photo Fauziah Rahmah
  • Ferdian Permadi
  • Avatar photo Fery Rochmad Ramadhan
  • Avatar photo Hartanto Ariesyandi
  • Avatar photo Idik Saeful Bahri
  • Avatar photo Karell Mawla Ibnu Kamali
  • Avatar photo Khalilurrahman
  • Avatar photo Khoirul Anwar
  • Avatar photo Mentari Wahyudihati
  • Avatar photo Muhamad Ridwan
  • Avatar photo Muhamad Iqbal
  • Avatar photo Nia Chasanah
  • Avatar photo Novritsar Hasintongan Pakpahan
  • Avatar photo Nugraha Wisnu Wijaya
  • Avatar photo Raden Anggara Kurniawan
  • Avatar photo Raden Heru Wibowo Sukaten
  • Avatar photo Rahimulhuda Rizki Alwi
  • Avatar photo Rahmad Ramadhan Hasibuan
  • Avatar photo Ranggi Adiwangsa Yusron
  • Avatar photo Muhammad Rijaldy Alwy
  • Avatar photo Rohim
  • Avatar photo Samsul Zakaria
  • Avatar photo Satria Perdana
  • Avatar photo Tri Cahya Indra Permana
  • Avatar photo Wilmar Ibni Rusydan
  • Avatar photo Yudhi Reksa Perdana
  • Avatar photo Abdul Ghani
  • Avatar photo Ach. Jufri
  • Avatar photo Afif Muchshon
  • Avatar photo Agus Suharsono
  • Avatar photo Ahmad Efendi
  • Avatar photo Ahmad Hodri
  • Avatar photo Ahmad Rizza Habibi
  • Avatar photo Aidil Akbar
  • Avatar photo Alep Priyoambodo
  • Avatar photo Alfajar Nugraha
  • Avatar photo Anderson Peruzzi Simanjuntak
  • Avatar photo Andhika Prayoga
  • Avatar photo Andi Muhammad Galib
  • Avatar photo Andi Aswandi Tashar
  • Avatar photo Andrie Gunawan
  • Avatar photo Anna Yulina
  • Avatar photo Annisa Nur Alam
  • Avatar photo Arga Febrian
  • Avatar photo Arief Sapto Nugroho
  • Avatar photo Mayor Chk Arif Dwi Prasetyo
  • Avatar photo Armansyah
  • Avatar photo Aryaniek Andayani
  • Avatar photo Ashhab Triono
  • Avatar photo Bella Puspitawati
  • Avatar photo Bilma Diffika
  • Avatar photo Bony Daniel
  • Avatar photo Budi Hermanto
  • Avatar photo Budi Suhariyanto
  • Avatar photo Chandra
  • Avatar photo Christopher Hutapea
  • Avatar photo Daniel H. Napitupulu
  • Dedi Wigandi
  • Avatar photo Deka Rachman Budihanto
  • Avatar photo Eddy Sembiring
  • Avatar photo Effendi Mukhtar
  • Avatar photo Egia Rasido Tarigan
  • Avatar photo Eka Sentausa
  • Avatar photo Enos Syahputra Sipahutar, S.H., M.H.
  • Avatar photo Dr. Fahmiron
  • Avatar photo Fahri Bachmid
  • Avatar photo Fahri Gunawan Siagian
  • Avatar photo Fahri Soleh
  • Avatar photo Fakhir Tashin Baaj
  • Avatar photo Fatkul Mujib, S.H.I., M.H.
  • Avatar photo Dr. Fauziati, S.Ag., M.Ag
  • Avatar photo Febriansyah Rozarius
  • Avatar photo Friska Ariesta Aritedi
  • Avatar photo Gineng Pratidina
  • Avatar photo Peltu Hartono
  • Avatar photo Hastuti
  • Avatar photo Hendro Yatmoko
  • Avatar photo Ibnu Abas Ali
  • Avatar photo I Made Sukadana
  • Indra Tua Hasangapon Harahap
  • Avatar photo Ira Soniawati
  • Avatar photo Irfan Dibar
  • Avatar photo Muhammad Irfansyah
  • Avatar photo Letkol Kum Irwan Tasri, S.H., M.H., M.Han.
  • Avatar photo Iwan Lamganda Manalu
  • Avatar photo Jerymia Seky Tanaem
  • Avatar photo Jusran Ipandi
  • Avatar photo Khaimi
  • Avatar photo Khoerul Umam
  • Avatar photo Linora Rohayu
  • Avatar photo Made Passek Reza Swandira
  • Avatar photo Marta Satria Putra
  • Avatar photo Marwan Ibrahim Piinga
  • Avatar photo Marwanto
  • Avatar photo Marzha Tweedo Dikky Paraanugrah
  • Avatar photo Maulia Martwenty Ine
  • Avatar photo Mira Maulidar
  • Avatar photo Misbah S.T., M.Eng.
  • Avatar photo Misbahul Anwar
  • Avatar photo Muhamad Ilham Azizul Haq
  • Avatar photo Muhamad Saptari
  • Avatar photo Muhammad Fadllullah
  • Avatar photo Muhammad Muhyi Arrasyid, S.Psi.
  • Avatar photo Muhammad Bagus Tri Prasetyo
  • Avatar photo Muhammad Yusuf
  • Avatar photo Muhammad Zuchri Nasuha Lubis
  • Avatar photo Murdian
  • Avatar photo Nadia Yurisa Adila
  • Avatar photo Nisrina Irbah Sati
  • Avatar photo Letkol CHK Nur Sakdi, S.H, M.H.
  • Avatar photo Nur Latifah Hanum
  • Avatar photo Pandu Pradana Wicaksono, S.H.
  • Avatar photo Pita Permatasari
  • Avatar photo H .A.S Pudjoharsoyo
  • Avatar photo Putri Pebrianti
  • Avatar photo R. Deddy Harryanto
  • Avatar photo Radityo Muhammad Harseno
  • Avatar photo Rahmi Fattah
  • Avatar photo Randy Viyatadhika
  • Avatar photo Ratih Gumilang
  • Avatar photo Reindra Jasper H. Sinaga, S.H. Hakim Pengadilan Negeri Tanjung Balai Karimun
  • Avatar photo Muh Ridha Hakim
  • Avatar photo Rifqi Qowiyul Iman
  • Avatar photo Rizal Abdurrahman
  • Avatar photo Romi Hardhika
  • Avatar photo Sandro Imanuel Sijabat
  • Avatar photo Sbong Sinarok Martin, S.H., M.H.
  • Avatar photo Selexta Apriliani
  • Avatar photo Septia Putri Riko
  • Avatar photo Septriono Situmorang
  • Avatar photo Siti Anis
  • Avatar photo Slamet Turhamun
  • Avatar photo Sobandi
  • Avatar photo Stefanus Dwi Putra Medisa
  • Avatar photo Subiyatno
  • Avatar photo Teddy Lahati
  • Avatar photo Tri Baginda Kaisar Abdul Gafur
  • Avatar photo Urif Syarifudin
  • Avatar photo Wahyu Budi Santoso
  • Avatar photo Wanda Rara Farezha,S.H.
  • Avatar photo Wienda Kresnantyo
  • Avatar photo Willsa Suharyadi
  • Avatar photo Yoshelsa Wardhana
  • Avatar photo Yukiatiqa Afifah
  • Avatar photo Marsekal Muda TNI Dr. Yuwono Agung Nugroho, S.H., M.H.
  • Avatar photo Zidny Taqiyya
Lihat semua kontributor →

Type above and press Enter to search. Press Esc to cancel.