Soreang — Duka mendalam menyelimuti keluarga besar Pengadilan Agama Soreang. Salah seorang hakim terbaiknya, Samsul Zakaria, S.Sy., M.H., berpulang ke rahmatullah pada Selasa, 21 Juli 2026, sekitar pukul 18.00 WIB, akibat sakit jantung.
Kepergian almarhum terasa begitu mendadak. Tidak ada yang menyangka bahwa perjumpaan pada sore itu, menjadi perjumpaan terakhir. Sekitar satu jam sebelum mengembuskan napas terakhir, almarhum masih berada di lingkungan kantor Pengadilan Agama Soreang. Seperti kebiasaannya, setiap hendak pulang, ia masih menyempatkan diri bertegur sapa dengan petugas keamanan, dan orang-orang yang ditemuinya.
Sapaan almarhun terlihat sederhana. Senyumnya juga seperti biasa. Namun, kini, sapaan dan senyum tersebut tinggal menjadi kenangan yang terus hidup di hati orang-orang yang pernah mengenalnya.
Almarhum lahir pada 9 Februari 1992. Dalam usia yang masih relatif muda, ia telah mengabdikan diri sebagai hakim dengan kesungguhan, kecermatan, dan rasa tanggung jawab yang tinggi. Pada hari terakhirnya bertugas, almarhum masih menjalankan seluruh aktivitas kedinasan sebagaimana biasanya.
Hingga sekitar pukul 16.30 WIB, almarhum masih terlibat dalam rapat Badan Pertimbangan Jabatan dan Kepangkatan di Pengadilan Agama Soreang. Sebelum mengikuti rapat tersebut, ia juga terlihat sibuk menyelesaikan konsep putusan perkara yang sedang ditanganinya.
Menurut penuturan Ketua Majelisnya, Muhammad Hasan, S.H., M.H., siang itu, almarhum disodorkan konsep putusan untuk diperiksa dan diberikan masukan serta saran perbaikan. Almarhum masih sempat membaca ulang, mengoreksi, dan memperbaiki bagian-bagian tertentu hingga ke detail-detailnya. Ketelitian itu menjadi gambaran tentang bagaimana almarhum memandang tugas kehakiman: sebagai amanah yang harus ditunaikan secara sungguh-sungguh sampai tuntas.
Tidak ada tanda bahwa hari itu akan menjadi hari terakhir pengabdiannya. Meja kerjanya masih menyimpan jejak kesibukan. Konsep putusan masih menjadi bagian dari perhatiannya. Rapat masih diikutinya dengan penuh tanggung jawab. Ia meninggalkan kantor sebagaimana hari-hari sebelumnya, dengan menyapa, tersenyum, dan berpamitan kepada orang-orang di sekitarnya.
Namun, takdir Allah datang tanpa pernah dapat diduga.
Kabar wafatnya almarhum sontak mengejutkan seluruh keluarga besar Pengadilan Agama Soreang. Kesedihan menyebar dengan cepat dari satu ruang ke ruang lainnya, dari satu pesan ke pesan berikutnya. Banyak yang sulit percaya karena beberapa jam sebelumnya almarhum masih terlihat sehat, aktif, dan menjalankan tugas bersama rekan-rekannya.
Bagi seluruh pegawai Pengadilan Agama Soreang, almarhum bukan hanya seorang hakim atau rekan kerja. Ia dikenal sebagai pribadi yang sangat baik, rendah hati, mudah bergaul, dan selalu menghadirkan suasana hangat di tengah lingkungan kerja.
Kesaksian serupa datang dari para hakim lintas generasi yang pernah bekerja, berinteraksi, maupun bersahabat dengannya. Hampir seluruhnya mengenang almarhum dengan ungkapan yang sama: orang yang sangat baik, suka mengajak kepada kebaikan, senang menjalin silaturahmi, dan murah senyum.
Almarhum tidak hanya menyampaikan kebaikan melalui perkataan. Dalam kesehariannya, ia berusaha menghadirkan kebaikan melalui sikap yang sederhana. Ia menyapa orang lain tanpa membedakan jabatan. Ia menjaga hubungan dengan sesama. Ia ringan mengajak orang kepada hal-hal yang bermanfaat. Ia juga dikenal tidak membangun jarak dengan siapa pun.
Senyumnya menjadi salah satu hal yang paling banyak dikenang. Senyum itu menyertai setiap sapaan, setiap perjumpaan di lorong kantor, setiap pembicaraan ringan di sela pekerjaan, dan setiap kepulangan setelah menyelesaikan tugas.
Kini, lorong-lorong kantor itu terasa berbeda. Tidak ada lagi sosok muda yang biasa menyapa dengan wajah ramah. Tidak ada lagi candaan dan perbincangan singkat yang selama ini mungkin terasa biasa, tetapi setelah kepergiannya, justru menjadi kenangan yang begitu berharga.
Kepergian almarhum juga meninggalkan pelajaran tentang pengabdian. Hingga beberapa jam sebelum wafat, ia masih mencurahkan pikiran untuk pekerjaannya. Ia masih memperbaiki konsep putusan dengan teliti. Ia masih menghadiri rapat kelembagaan. Ia masih menjalankan tanggung jawab sebagai hakim dengan sebaik-baiknya.
Seolah-olah, melalui hari terakhirnya, almarhum ingin menunjukkan bahwa pengabdian tidak selalu dinilai dari berapa lama seseorang berada dalam suatu jabatan. Pengabdian juga dapat dilihat dari seberapa sungguh-sungguh seseorang menunaikan amanah sampai pada kesempatan terakhir yang dimilikinya.
Sebagai hakim, almarhum telah meninggalkan teladan tentang kecermatan. Sebagai rekan kerja, ia meninggalkan teladan tentang persaudaraan. Sebagai sahabat, ia meninggalkan teladan tentang silaturahmi. Sebagai manusia, ia meninggalkan jejak kebaikan yang dikenang oleh begitu banyak orang.
Duka ini tentu paling berat dirasakan oleh keluarga yang ditinggalkan. Keluarga besar Pengadilan Agama Soreang, menyampaikan belasungkawa yang sedalam-dalamnya. Semoga keluarga almarhum diberikan kesabaran, ketabahan, dan kekuatan dalam menghadapi ujian yang berat ini.
Seluruh keluarga besar Pengadilan Agama Soreang juga memanjatkan doa agar seluruh amal ibadah dan pengabdian almarhum diterima di sisi Allah Swt., segala kekhilafannya diampuni, dilapangkan alam kuburnya, serta ditempatkan di tempat terbaik bersama orang-orang saleh.
Usianya mungkin tidak panjang. Namun, kebaikan yang ditinggalkannya akan hidup lebih lama dalam ingatan orang-orang yang pernah berjumpa dengannya.
Selamat jalan, Samsul Zakaria, S.Sy., M.H.
Terima kasih atas pengabdian, ketelitian, persahabatan, dan senyum yang telah engkau berikan. Kantor ini akan kehilangan kehadiranmu, tetapi keteladananmu akan terus dikenang.
Innā lillāhi wa innā ilaihi rāji‘ūn.
Semoga Allah Swt. menerima seluruh amal kebaikan almarhum, mengampuni segala dosa dan kekhilafannya, serta menempatkannya dalam kemuliaan dan kasih sayang-Nya.
Untuk Mendapatkan Berita Terbaru Suara BSDK, Follow Channel WhatsApp: SUARABSDKMARI


