Megamendung, 10 September 2026 — Peringatan Hari Ulang Tahun (HUT) ke-81 TNI Angkatan Laut yang jatuh pada 10 September 2026 menjadi momentum untuk kembali meneguhkan jati diri prajurit matra laut sebagai kekuatan pertahanan negara yang tangguh, profesional, dan modern. Mengusung tema “Tangguh, Profesional, Modern untuk Indonesia Maju”, peringatan tersebut tidak semata-mata dimaknai melalui kesiapan alutsista, peningkatan kemampuan operasi, maupun penguatan profesionalisme prajurit, tetapi juga melalui pemeliharaan nilai-nilai kedinasan yang hidup dalam keseharian. Salah satu tradisi yang menarik untuk dicermati adalah penggunaan ungkapan “mohon izin”, sebuah kebiasaan komunikasi yang sederhana, tetapi memiliki makna etika, disiplin, dan penghormatan terhadap tata hubungan kedinasan.
Dalam lingkungan TNI AL, “mohon izin” telah menjadi bagian dari kebiasaan komunikasi sehari-hari. Ungkapan tersebut digunakan ketika seorang prajurit hendak menyampaikan laporan, bertanya, mengemukakan pendapat, meninggalkan suatu kegiatan, memasuki atau meninggalkan ruangan, maupun ketika berkomunikasi dengan atasan dan senior. Secara bahasa, “mohon izin” memang dapat dimaknai sebagai permintaan persetujuan atas suatu tindakan. Namun, dalam praktik kedinasan, maknanya jauh lebih luas. Ia menjadi pembuka komunikasi yang menunjukkan bahwa seorang prajurit memahami posisi dirinya dalam suatu struktur organisasi dan menyadari adanya tata krama yang harus dijaga dalam setiap hubungan kedinasan.
Pada titik inilah “mohon izin” tidak tepat dipandang sekadar sebagai ungkapan formal yang diucapkan karena kebiasaan. Di dalamnya terdapat pendidikan karakter. Seorang prajurit yang membiasakan diri mengucapkan “mohon izin” sedang membangun kesadaran bahwa komunikasi bukan hanya persoalan menyampaikan pesan, melainkan juga bagaimana pesan itu disampaikan dengan memperhatikan kepatutan, situasi, dan kedudukan pihak yang diajak berkomunikasi. Tradisi tersebut melatih disiplin verbal sekaligus membentuk sikap rendah hati. Seorang prajurit boleh memiliki kemampuan, pengalaman, bahkan kewenangan, tetapi dalam kehidupan kedinasan semuanya tetap ditempatkan dalam koridor hierarki dan tata tertib organisasi.
Lebih jauh, penggunaan “mohon izin” mencerminkan hubungan antara disiplin dan penghormatan. Disiplin militer tidak hanya terlihat ketika prajurit melaksanakan perintah, mengikuti apel, menjalankan operasi, atau menaati ketentuan peraturan. Disiplin juga tampak dalam hal-hal kecil, termasuk cara berbicara. Karena itu, bahasa kedinasan sesungguhnya merupakan bagian dari budaya organisasi. Ketika seorang prajurit menyampaikan maksud dengan sopan, jelas, dan sesuai tata hubungan yang berlaku, ia sedang menjaga kehormatan dirinya sekaligus kehormatan institusi. Sebaliknya, mengabaikan tata krama komunikasi dapat menimbulkan kesan bahwa struktur, senioritas, dan mekanisme kedinasan tidak lagi memiliki arti.
Tradisi “mohon izin” juga memiliki relevansi dalam membangun komunikasi organisasi yang sehat. Dalam struktur militer yang bersifat hierarkis, komunikasi harus berjalan secara tertib tanpa kehilangan ruang bagi penyampaian informasi dan pendapat. “Mohon izin” bukanlah simbol bahwa bawahan tidak boleh berbicara, melainkan penanda bahwa setiap komunikasi memiliki tata cara. Dengan demikian, penghormatan terhadap atasan tidak boleh disalahartikan sebagai penghambat keterbukaan. Justru sebaliknya, tata krama yang baik dapat menciptakan komunikasi yang lebih terarah, terukur, dan bertanggung jawab. Prajurit tetap dapat menyampaikan kritik, laporan, maupun gagasan, sepanjang dilakukan melalui cara dan saluran yang tepat.
Dalam konteks HUT ke-81 TNI AL, tradisi sederhana tersebut patut ditempatkan sebagai bagian dari upaya menjaga kesinambungan nilai-nilai kedinasan di tengah perubahan zaman. Modernisasi organisasi dan perkembangan teknologi komunikasi tidak semestinya menghapus budaya disiplin yang telah membentuk karakter prajurit. Kemajuan teknologi boleh mengubah cara berkomunikasi, tetapi tidak boleh menghilangkan etika di dalamnya. Prajurit yang tangguh bukan hanya prajurit yang kuat secara fisik; prajurit profesional bukan hanya yang menguasai tugas; dan prajurit modern bukan hanya yang mampu menggunakan teknologi. Ketiganya harus disertai karakter, disiplin, loyalitas, dan penghormatan terhadap tata nilai kedinasan.
Peringatan HUT ke-81 TNI AL dengan demikian menjadi kesempatan untuk melihat kembali bahwa kekuatan institusi dibangun bukan hanya dari hal-hal besar, tetapi juga dari kebiasaan kecil yang dilakukan secara konsisten. “Mohon izin” adalah salah satu contoh sederhana bagaimana etika dapat menjadi budaya dan budaya dapat menjadi karakter. Ungkapan tersebut mengajarkan bahwa dalam kedinasan, keberanian berbicara harus berjalan bersama kesantunan, kewenangan harus disertai tanggung jawab, dan profesionalisme harus tetap berpijak pada penghormatan terhadap hierarki. Karena itu, mempertahankan tradisi “mohon izin” bukan sekadar mempertahankan sebuah ungkapan, melainkan menjaga salah satu bentuk disiplin dan jati diri prajurit. Di usia ke-81, TNI AL dituntut semakin tangguh, profesional, dan modern; namun modernitas yang kehilangan etika akan menjadi kemajuan yang kehilangan arah. Tradisi boleh sederhana, tetapi nilai yang dikandungnya harus tetap dijaga.
Untuk Mendapatkan Berita Terbaru Suara BSDK, Follow Channel WhatsApp: SUARABSDKMARI


