Close Menu
Suara BSDKSuara BSDK
  • Beranda
  • Artikel
  • Berita
  • Features
  • Sosok
  • Filsafat
  • Roman
  • Satire
  • Video
  • Liputan Khusus

Subscribe to Updates

Get the latest creative news from FooBar about art, design and business.

What's Hot

Urgensi Restitusi dalam Mekanisme Keadilan Restoratif

September 14, 2026

Syamsul Arief: Hakim Niaga Harus Menghubungkan Pengetahuan Hukum dengan Nilai Kemanusiaan

September 14, 2026

PN Tapaktuan Catat Putusan Pemaafan Hakim Pertama di Era KUHP Nasional

September 14, 2026
Instagram YouTube
Suara BSDKSuara BSDK
Deskripsi Gambar
  • Beranda
  • Artikel
  • Berita
  • Features
  • Sosok
  • Filsafat
  • Roman
  • Satire
  • Video
  • Liputan Khusus
Suara BSDKSuara BSDK
Deskripsi Gambar
  • Beranda
  • Artikel
  • Berita
  • Features
  • Sosok
  • Filsafat
  • Roman
  • Satire
  • Video
  • Liputan Khusus
Home » Siasat Tiada Henti Penjaga Keadilan

Siasat Tiada Henti Penjaga Keadilan

“The life of the law has not been logic: it has been experience.” — Oliver Wendell Holmes Jr.
Syamsul AriefSyamsul AriefSeptember 13, 20268 Mins Read2 Comments
Share
Facebook Twitter Threads Telegram WhatsApp

Ketika masih mahasiswa semester dua, seorang dosen saya yang telah tiada pernah menuliskan sepotong kutipan Oliver Wendell Holmes Jr tersebut diatas. Waktu itu saya menghafalnya sebagai teori. Bertahun kemudian saya mulai memahaminya sebagai peringatan: hukum bukanlah logika, melainkan pengalaman. Hukum tidak hidup hanya karena ia ditulis, hukum hidup karena ia dialami.

Semakin lama saya berada dilingkungan hukum dan peradilan semakin saya memahami mengapa Oliver Wendell Holmes Jr sebagai Hakim Agung Amerika Serikat yang mengabdi selama 30 tahun (1902-1932) membela Legal Realism. Itu sebabnya saya percaya bahwa hakim memang semestinya seorang realis. Bukan realis yang menyerah kepada keadaan, melainkan yang cukup jernih untuk mengakui keadaan.

Undang-undang dapat lahir dari ruangan berpendingin udara, tetapi perkara datang dari jalanan yang berdebu. Pasal ditulis dengan kalimat yang teratur tapi kehidupan manusia tidak pernah seteratur itu.

Ada kemiskinan yang ikut memasuki ruang sidang. Ada kekuasaan. Ada cinta dan kebencian. Ada ketakutan kehilangan jabatan.Ada dendam, kepentingan ekonomi, tekanan massa, suara politik, bahkan doa seorang ibu yang menunggu anaknya pulang dari tahanan. Karena itulah bagi saya hukum tidak pernah benar-benar bekerja diruang steril.

Yang ditulis adalah norma. Yang datang ke pengadilan adalah kehidupan. Di antara keduanya duduk seorang hakim. Dan hakim tetap manusia.

Saya kemudian teringat Thomas Hobbes, gegara kawan saya Rocky Gerung menulis “Titah Leviathan” dimedia ini. Dalam Leviathan, Hobbes menulis: “Covenants, without the sword, are but words.” Perjanjian tanpa pedang hanyalah kata-kata.

Saya tidak membaca pedang Hobbes semata sebagai kekerasan. Negara modern mempunyai banyak pedang: kewenangan, birokrasi, regulasi, anggaran, aparat, bahkan kemampuan menentukan siapa memperoleh apa dan berapa.

Disitulah saya melihat ironi kekuasaan. Manusia menciptakan Leviathan untuk mengatasi kekacauan diantara manusia. Namun setelah Leviathan tumbuh besar, manusia memerlukan hukum agar makhluk besar itu tidak lupa bahwa dirinya diciptakan untuk menjaga manusia bukan menelannya.

Di situlah pengadilan memperoleh alasan filosofis keberadaannya. Pengadilan adalah batas.

Montesquieu kemudian menggambarkan batas tersebut melalui pembagian kekuasaaan: eksekutif, legislatif, dan yudikatif. Kita menyebutnya trias politica. Di buku teks, ketiganya tampak seperti tiga bangunan yang berdiri tegak dengan halaman masing-masing. Imajinasi mahasiswa semester dua membayangkan dalam nalar utopis : ketiga cabang kekuasaan seperti mudah dipisahkan. Namun negara nyata tidak mempunyai pagar sesederhana diagram dalam buku pengantar ilmu hukum. Kekuasaan memang dapat dibedakan menurut kewenangan, tetapi kebutuhan membuat mereka terus bersinggungan.

Saya membayangkan ketiganya duduk di sebuah meja makan besar bernama republik. Di atasnya tersedia satu hidangan bersama: APBN.

Eksekutif datang membawa mesin pemerintahan. Legislatif membawa legitimasi politik. Yudikatif membawa kompas keadilan. Tetapi kompas pun memerlukan kapal. Kapal membutuhkan awak, bahan bakar dan bekal perjalanan. Di situlah filsafat terkadang harus berkenalan dengan angka-angka anggaran.

Kemandirian kehakiman dapat ditulis dengan huruf paling indah dalam konstitusi, tetapi institusi yang menjaganya tetap memerlukan gedung, teknologi, sumberdaya manusia, keamanan, pendidikan hakim dan kehidupan yang layak bagi orang-orang yang setiap hari diminta negara mengambil keputusan atas nasib manusia lain. Kemerdekaan normatif tetap membutuhkan penyangga material.

Ketergantungan tidak selalu berarti ketidakmerdekaan, tetapi ia menyediakan kemungkinan pintu pengaruh. Karena kekuasaan tidak selalu datang mengetuk pintu dengan keras. Kadang ia cukup meninggalkan pintu tetap terbuka. Barangkali karena itulah independensi hakim tidak pernah benar-benar selesai hanya dengan menuliskannya dalam undang-undang. Ia harus dihidupkan. Ia harus dialami. Holmes kembali mengetuk pikiran saya: jika hukum adalah pengalaman, maka independensi pun sesungguhnya sebuah pengalaman.

Pengalaman berbagai negara membuat saya semakin percaya bahwa perkara ini bukan kegelisahan Indonesia semata. Mahkamah Agung Amerika Serikat bertarung melawan badai polarisasi politik ekstrem yang berupaya menjinakkan palu hakim demi agenda partisan. Tengoklah Eropa, di mana riak-riak court-packing di Hungaria dan Polandia memperlihatkan betapa ringkihnya benteng keadilan ketika eksekutif mulai mendikte usia pensiun dan rekrutmen penjaga konstitusi. Di Asia, Mahkamah Agung Korea Selatan harus lihai menavigasi independensinya di tengah tekanan berlakunya three justice law yang merisaukan para hakim di negeri ginseng itu. Sementara di Turki, ribuan hakim dipaksa menelan pil pahit pembersihan massal saat garis putusannya tak senada dengan kehendak rezim.

Nama negaranya berbeda. Konstitusinya berbeda. Sejarahnya berbeda. Tetapi kegelisahannya serupa. Kekuasaan mempunyai gravitasi. Peradilan hidup dengan terus menjaga jarak dari pusat gravitasinya. Maka independence of judiciary bukan kemewahan konstitusional milik suatu bangsa. Ia adalah kegelisahan universal negara hukum.

Tidak ada demokrasi yang dapat mengatakan: kemerdekaan hakim kami telah selesai. Kemerdekaan tidak pernah selesai. Kemerdekaan adalah proses perjuangan. Karena itu saya tidak membayangkan independensi sebagai kesendirian. Hakim tidak hidup di pertapaan dan pengadilan bukan biara yang dapat menutup pintu lalu merasa dunia diluar tidak ada. Independensi adalah kecakapan mengatur jarak: cukup dekat untuk memahami kenyataan, cukup jauh untuk tidak dikuasainya.

Dari situlah saya membaca ikhtiar pimpinan Mahkamah Agung, IKAHI, dan suara para hakim muda dalam memperjuangkan kesejahteraan serta penguatan kelembagaan peradilan (UU Jabatan Hakim) tidak semata sebagai soal penghasilan dan ekslusivisme. Di belakang itu semua terdapat perkara yang lebih dalam: martabat institusi dan daya tahan kemerdekaan.

Kesejahteraan memang tidak menghasilkan kesucian. Uang tidak mempunyai bakat menghasilkan moralitas. Orang berkecukupan tetap dapat serakah, orang sederhana dapat tegak dengan kehormatan yang tak terbeli.

Namun negara yang waras juga tidak seharusnya mendesain peradilannya dengan berharap seluruh hakim menjadi pertapa. Sistem yang baik tidak boleh hanya bekerja apabila semua manusianya suci. Di situlah kesejahteraan bertemu independensi.

Saya menyebut kecakapan ini : politik batas. Hakim tidak boleh menjadi politisi. Tetapi kekuasaan kehakiman tidak boleh buta terhadap politik. Memahami kekuasaan tidak sama dengan mengabdi kepadanya. Berkomunikasi dengan eksekutif dan legislatif tidak harus berarti menukar kemerdekaan. Memperjuangkan kecukupan anggaran juga tidak identik dengan meminta kemurahan hati.

Pelaut yang baik tidak membenci laut. Ia membaca gelombang agar tidak ditelannya. Demikian pula pengadilan terhadap politik.

Pierre Bourdieu membantu saya memahami posisi itu melalui konsep judicial field (ranah judisial) Hukum adalah sebuah ranah tempat berbagai kekuatan dan modal berkelindan.

Eksekutif memiliki birokrasi dan sumber daya pemerintahan. Legislatif mempunyai legitimasi politik. Pengadilan tidak mempunyai tentara, partai, ataupun massa pemilih. Ia mempunyai sesuatu yang lebih rapuh: kepercayaan. Itulah modal simboliknya. Keahlian hukum, integritas, tradisi kehakiman dan public trust membuat sebuah palu kecil dapat berbicara atas nama republik tanpa perlu dikawal pasukan. Palu itu tetap dapat diketukkan ketika kepercayaan hilang. Tetapi bunyinya tak lagi sama.

Maka ketika pimpinan Mahkamah Agung, IKAHI, dan warga peradilan mengetuk pintu pemerintah maupun parlemen, saya melihatnya mereka datang bukan sebagai peminta bagian dari meja APBN. Mereka datang sebagai penjaga salah satu tiang rumah republik.

Kemandirian anggaran MA yang sedang diperjuangkan ini memang bukan benteng terakhir. Ia hanya salah satu pagar. Di belakangnya masih harus berdiri integritas, transparansi, pengawasan, meritokrasi, kecakapan dan keberanian membersihkan halaman rumah sendiri. Sebab independensi tanpa akuntabilitas juga berbahaya. Kita tidak ingin menyelamatkan pengadilan dari Leviathan politik hanya untuk membiarkan Leviathan kecil tumbuh di balik jubah hakim. Independensi menjaga hakim dari kekuasaan di luar dirinya. Integritas menjaga hakim dari kekuasaan di dalam dirinya. Keadilan membutuhkan keduanya.

Karena itu perbaikan kesejahteraan hakim dan tekad menguatkan marwah jabatan hakim bagi saya bukan akhir perjuangan. Ia justru sebuah tagihan moral. Semakin baik republik menjaga hakim, semakin besar kewajiban hakim menjaga republik.

Kesejahteraan harus pulang sebagai integritas.
Kemandirian harus pulang sebagai keberanian.
Kewenangan harus pulang sebagai kerendahan hati.
Kehormatan harus pulang sebagai keadilan.

Kini kecerdasan artifisial bahkan membawa kita kembali kepada Holmes. Mesin dapat menemukan pasal, membaca ribuan putusan dan menyusun argumentasi dalam hitungan detik. Jika hukum hanyalah logika, mungkin kelak mesin akan menjadi hakim yang lebih efisien daripada manusia.

Tetapi hukum adalah pengalaman. Mesin dapat menghitung. Hakim harus menimbang. Algoritma mengenali pola. Hakim harus mengenali manusia. Semakin mesin menguasai logika, semakin hakim harus merawat kemanusiaannya.

Saya karena itu masih menyimpan harapan kepada perjalanan peradilan Indonesia. Bukan optimisme yang gaduh seolah segala perkara telah selesai. Saya lebih menyukai harapan seperti akar pohon damar: tidak terlihat, tetapi diam-diam mencari air.

Masih banyak yang belum. Belum sepenuhnya mandiri, belum sepenuhnya bersih, belum sepenuhnya dipercaya, dan tentu belum sepenuhnya adil. Tetapi “belum” bukan “tidak”. Belum adalah ruang tempat ikhtiar masih dapat tumbuh.

Pada akhirnya republik tidak membutuhkan hakim yang lebih berkuasa. Republik membutuhkan hakim yang cukup merdeka sehingga ia tidak perlu berlindung kepada kekuasaan.

Barangkali itulah judicial self-defense yang sesungguhnya: bukan menghunus pedang melawan Leviathan, tetapi memastikan pedang Leviathan tetap berada dalam sarung konstitusi. Sebab pengadilan tidak dibangun untuk memenangkan pertarungan melawan politik. Ia dibangun agar di tengah gaduh perebutan kekuasaan masih tersisa sebuah ruang yang tidak ikut memperebutkannya :
Ruang Sidang.

Di sana hakim duduk tanpa massa, tanpa partai, tanpa senjata. Di hadapannya ada perkara; di dalam dirinya semestinya masih tersedia akal, pengalaman dan hati nurani. Di luar jendela, republik boleh tetap gaduh. Tetapi seseorang di balik meja itu harus mampu mendengar suara yang lebih lirih daripada suara kekuasaan. Suara keadilan.

Cukup dekat dengan kenyataan agar hukum tidak kehilangan manusia. Cukup jauh dari kekuasaan agar hakim tidak kehilangan kemerdekaan. Di antara dua jarak itulah saya percaya keadilan bekerja. Dan karena kekuasaan tidak pernah berhenti mencari jalan, siasat para penjaga keadilan pun tak pernah boleh berhenti.

Syamsul Arief
Kontributor
Syamsul Arief
Hakim Agung Kamar Pidana & Plt. Kepala BSDK MA

Untuk Mendapatkan Berita Terbaru Suara BSDK, Follow Channel WhatsApp: SUARABSDKMARI

Jejak Syamsul Arief Menuju Hakim Agung
Share. Facebook Twitter Threads Telegram WhatsApp Copy Link

Related Posts

Urgensi Restitusi dalam Mekanisme Keadilan Restoratif

September 14, 2026

Menguatkan Kapabilitas Peradilan Agraria

September 12, 2026

Titah Leviathan

September 11, 2026

2 Comments

  1. Ahmad Satiri on September 14, 2026 9:06 am

    Luar biasa.. sangat mencerahkan YM dan semoga sukses menajalankan amanah baru di puncak benteng keadilan

  2. Masjudul Haq on September 14, 2026 11:48 am

    hakim meskipun blm spenuhnya independen tapi sudah menjadi bibit tirani, lalu bagaimana jika benar2 telah independen ? mereka yg ada dlm internal MA selain hakim adalah saksinya…

Leave A Reply


Demo
Top Posts

Siasat Tiada Henti Penjaga Keadilan

September 13, 20261,119 Views

Titah Leviathan

September 11, 2026

Di Balik Tradisi ‘Mohon Izin’: Meneguhkan Etika dan Jati Diri Prajurit pada HUT ke-81 TNI AL

September 10, 2026

Resensi Game: Final Fantasy VII

September 7, 2026
Don't Miss

Urgensi Restitusi dalam Mekanisme Keadilan Restoratif

By Deka Rachman BudihantoSeptember 14, 20260

Pendahuluan Dalam suatu podcast Podium yang membahas tentang Mekanisme Keadilan Restoratif oleh narasumber dinyatakan “KPN…

Syamsul Arief: Hakim Niaga Harus Menghubungkan Pengetahuan Hukum dengan Nilai Kemanusiaan

September 14, 2026

PN Tapaktuan Catat Putusan Pemaafan Hakim Pertama di Era KUHP Nasional

September 14, 2026

Siasat Tiada Henti Penjaga Keadilan

September 13, 2026
Stay In Touch
  • YouTube
  • TikTok
  • WhatsApp
  • Twitter
  • Instagram
Top Trending
Demo

Recent Posts

  • Urgensi Restitusi dalam Mekanisme Keadilan Restoratif
  • Syamsul Arief: Hakim Niaga Harus Menghubungkan Pengetahuan Hukum dengan Nilai Kemanusiaan
  • PN Tapaktuan Catat Putusan Pemaafan Hakim Pertama di Era KUHP Nasional
  • Siasat Tiada Henti Penjaga Keadilan
  • Menguatkan Kapabilitas Peradilan Agraria

Recent Comments

  1. Masjudul Haq on Siasat Tiada Henti Penjaga Keadilan
  2. Ahmad Satiri on Siasat Tiada Henti Penjaga Keadilan
  3. Burhan on Dari Prajurit Hukum ke Mahkamah Agung: Letkol Chk Sudiyo Pesan ‘Menulis dan Menulislah’
  4. Vanimut on Ketua PTA Kepri Buka Pendampingan Monev KIP Tahun 2026
  5. Ekasari on BSDK MA Run 2026: 10 Kilometer Pelari CADAS, Berlari Bersama Menjaga Semangat Pengabdian dan Integritas
Hubungi Kami

Badan Strategi Kebijakan dan Pendidikan dan Pelatihan Hukum dan Peradilan Hukum dan Peradilan
Mahkamah Agung RI

Kantor: Jl. Cikopo Selatan Desa Sukamaju, Kec. Megamendung
Bogor, Jawa Barat 16770

Kirimkan reportase berita, opini, features dan artikel lainnya ke email suarabsdk.com : 
redpelsuarabsdk@gmail.com

Telepon: (0251) 8249520, 8249522, 8249531, 8249539

Kategori
Beranda Artikel Berita Features Sosok KRITERIA TULISAN
Filsafat Roman Satire Video BALACADAS
Connect With Us
  • Instagram
  • YouTube
  • WhatsApp
Aplikasi Internal
Logo 1 Logo 2 Logo 3 Logo 3 Logo 5
Logo 4 Logo 4 Logo 4 Logo 5 Logo 5 Logo 5
Kontributor
  • Avatar photo Ahmad Junaedi
  • Avatar photo Mohammad Khairul Muqorobin
  • Avatar photo Irvan Mawardi
  • Avatar photo Aman
  • Avatar photo Cecep Mustafa
  • Avatar photo Khoiruddin Hasibuan
  • Avatar photo Muamar Azmar Mahmud Farig
  • Avatar photo Yudhistira Ary Prabowo
  • Avatar photo Ari Gunawan
  • Avatar photo Syailendra Anantya Prawira
  • Avatar photo Ghesa Agnanto Hutomo
  • Avatar photo Muhammad Rizqi Hengki
  • Avatar photo Agus Digdo Nugroho
  • Avatar photo Muhammad Adiguna Bimasakti
  • Avatar photo Timbul Bonardo Siahaan
  • Avatar photo Dahlan Suherlan
  • Avatar photo Syamsul Arief
  • Avatar photo Jatmiko Wirawan
  • Avatar photo Cik Basir
  • Avatar photo Johanes
  • Avatar photo Taufikurrahman
  • Avatar photo Syihabuddin
  • Avatar photo Maria Fransiska Walintukan
  • Avatar photo Zulfahmi
  • Avatar photo Unggul Senoaji
  • Avatar photo Anton Ahmad Sogiri
  • Avatar photo M. Natsir Asnawi
  • Avatar photo Adji Prakoso
  • Avatar photo Yoshito Siburian
  • Avatar photo Abdi Munawar Daeng Mangagang
  • Avatar photo Iqbal Lazuardi
  • Avatar photo Galang Adhe Sukma
  • Avatar photo Anisa Yustikaningtiyas
  • Avatar photo Harun Maulana
  • Avatar photo I Gusti Lanang Ngurah Sidemen Putra
  • Avatar photo Muhammad Hanif Ramadhan
  • Avatar photo Ahmad Syahrus Sikti
  • Avatar photo Eliyas Eko Setyo
  • Avatar photo Firzi Ramadhan
  • Avatar photo Jarkasih
  • Avatar photo Sriti Hesti Astiti
  • Avatar photo Sudiyo
  • Avatar photo Binsar Parlindungan Tampubolon
  • Avatar photo Ganjar Prima Anggara
  • Avatar photo Garin Purna Sanjaya
  • Avatar photo Layla Windy Puspita Sari
  • Avatar photo Marulam J Sembiring
  • Avatar photo Tri Indroyono
  • Avatar photo Letkol Chk Agustono, S.H., M.H.
  • Avatar photo Ardiansyah Iksaniyah Putra
  • Avatar photo Febby Fajrurrahman
  • Avatar photo Irene Cristna Silalahi
  • Avatar photo Marsudin Nainggolan
  • Avatar photo Maulana Aulia
  • Avatar photo Riki Perdana Raya Waruwu
  • Avatar photo Dr. Syofyan Iskandar, S.H., M.H.
  • Avatar photo Muhamad Zaky Albana
  • Avatar photo Afifah Dwiandini
  • Avatar photo Henri Setiawan
  • Avatar photo Itsnaatul Lathifah
  • Avatar photo Khoiriyah Roihan
  • Avatar photo Redaktur SuaraBSDK
  • Avatar photo Yasin Prasetia
  • Avatar photo Audrey Kartika Putri
  • Avatar photo Bintoro Wisnu Prasojo, S.H.
  • Avatar photo Buang Yusuf
  • Avatar photo Fitriyel Hanif
  • Avatar photo Irwan Rosady
  • Avatar photo K.G. Raegen
  • Avatar photo Rafi Muhammad Ave
  • Avatar photo Rangga Lukita Desnata
  • Avatar photo Rikatama Budiyantie
  • Avatar photo Siti Nadhiroh
  • Avatar photo Teguh Setiyawan
  • Avatar photo Abdul Azis Ali Ramdlani
  • Avatar photo Achmad Fikri Oslami
  • Avatar photo Ahmad Fuad Noor Ghufron
  • Avatar photo Achmad Nurul Huda
  • Avatar photo Anggi Permana
  • Avatar photo Ang Rijal Amin
  • Avatar photo Cok Istri Bhagawanthi Pemayun
  • Avatar photo Dedi Putra
  • Avatar photo Dewi Maharati
  • Avatar photo Fauzan Prasetya
  • Avatar photo Gerry Michael Purba
  • Avatar photo Herjuna Praba Wiesesa
  • Avatar photo Hermanto
  • Avatar photo Indarka PP
  • Avatar photo Muhamad Fadillah
  • Avatar photo Nugraha Medica Prakasa
  • Avatar photo Ria Marsella
  • Avatar photo Sahram
  • Avatar photo Saut Erwin Hartono A. Munthe
  • Avatar photo Silveria Supanti
  • Avatar photo Sugiarto
  • Avatar photo Yusuf Sodhiqin
  • Avatar photo Achmad Pratomo
  • Avatar photo Ahmad Faiz Shobir Alfikri
  • Avatar photo Andro Riski Pradipta
  • Avatar photo Arie Fitriansyah
  • Avatar photo Bismo Jiwo Agung
  • Avatar photo Epri Wahyudi
  • Avatar photo Fajar Widodo
  • Avatar photo Fariz Prasetyo Aji
  • Avatar photo Fauzan Arrasyid
  • Avatar photo Fauzia Rohmah
  • Avatar photo Febry Indra Gunawan Sitorus
  • Avatar photo Ferdian Permadi
  • Avatar photo Gerry Geovant Supranata Kaban
  • Avatar photo Mardi Candra
  • Avatar photo Muhammad Irfan Syahputra
  • Avatar photo Muhammad Amin Putra
  • Avatar photo Niko Wijaya
  • Avatar photo Putra Nova A.S
  • Avatar photo Rizal Arif Fitria
  • Avatar photo Sadana
  • Avatar photo Trisoko Sugeng Sulistyo
  • Avatar photo Umar Dani
  • Avatar photo Abdul Hadi
  • Avatar photo Abiandri Fikri Akbar
  • Avatar photo Abi Zaky Azizi
  • Avatar photo Dr. H. Achmad Setyo Pudjoharsoyo., SH., M.Hum
  • Avatar photo Adimas Leo Firmansah
  • Avatar photo Agenda Citra Muhammad
  • Avatar photo Andi Akram
  • Avatar photo Arsyawal
  • Avatar photo Aulia Rochmani Lazuardi
  • Avatar photo Bagus Partha Wijaya
  • Avatar photo Bagus Sujatmiko
  • Avatar photo Bayu Akbar Wicaksono
  • Avatar photo Chandra Khoirunnas
  • Avatar photo Cuhandi
  • Avatar photo David Pasaribu
  • Avatar photo Deka Rachman Budihanto
  • Avatar photo Dendi Sutiyoso
  • Avatar photo Dhea Sutaryana
  • Avatar photo Edi Hudiata
  • Avatar photo Enrico Simanjuntak
  • Avatar photo Fauziah Rahmah
  • Avatar photo Fery Rochmad Ramadhan
  • Avatar photo Hartanto Ariesyandi
  • Avatar photo Idik Saeful Bahri
  • Avatar photo Karell Mawla Ibnu Kamali
  • Avatar photo Khalilurrahman
  • Avatar photo Khoirul Anwar
  • Avatar photo Mentari Wahyudihati
  • Avatar photo Muhamad Ridwan
  • Avatar photo Muhamad Iqbal
  • Avatar photo Nia Chasanah
  • Avatar photo Novritsar Hasintongan Pakpahan
  • Avatar photo Nugraha Wisnu Wijaya
  • Avatar photo Raden Anggara Kurniawan
  • Avatar photo Raden Heru Wibowo Sukaten
  • Avatar photo Rahimulhuda Rizki Alwi
  • Avatar photo Rahmad Ramadhan Hasibuan
  • Avatar photo Ranggi Adiwangsa Yusron
  • Avatar photo Muhammad Rijaldy Alwy
  • Avatar photo Rohim
  • Avatar photo Samsul Zakaria
  • Avatar photo Satria Perdana
  • Avatar photo Siti Anis
  • Avatar photo Tri Cahya Indra Permana
  • Avatar photo Wahyu Budi Santoso
  • Avatar photo Wilmar Ibni Rusydan
  • Avatar photo Yudhi Reksa Perdana
  • Avatar photo Abdul Ghani
  • Avatar photo Ach. Jufri
  • Avatar photo Afif Muchshon
  • Avatar photo Agus Suharsono
  • Avatar photo Ahmad Efendi
  • Avatar photo Ahmad Hodri
  • Avatar photo Ahmad Rizza Habibi
  • Avatar photo Aidil Akbar
  • Avatar photo Alep Priyoambodo
  • Avatar photo Alfajar Nugraha
  • Avatar photo Anderson Peruzzi Simanjuntak
  • Avatar photo Andhika Prayoga
  • Avatar photo Andi Muhammad Galib
  • Avatar photo Andi Aswandi Tashar
  • Avatar photo Andrie Gunawan
  • Avatar photo Anna Yulina
  • Avatar photo Annisa Nur Alam
  • Avatar photo Arga Febrian
  • Avatar photo Arief Sapto Nugroho
  • Avatar photo Mayor Chk Arif Dwi Prasetyo
  • Avatar photo Armansyah
  • Avatar photo Aryaniek Andayani
  • Avatar photo Ashhab Triono
  • Avatar photo Bella Puspitawati
  • Avatar photo Bilma Diffika
  • Avatar photo Bony Daniel
  • Avatar photo Budi Hermanto
  • Avatar photo Budi Suhariyanto
  • Avatar photo Chandra
  • Avatar photo Christopher Hutapea
  • Avatar photo Daniel H. Napitupulu
  • Dedi Wigandi
  • Avatar photo Eddy Sembiring
  • Avatar photo Effendi Mukhtar
  • Avatar photo Egia Rasido Tarigan
  • Avatar photo Eka Sentausa
  • Avatar photo Enos Syahputra Sipahutar, S.H., M.H.
  • Avatar photo Dr. Fahmiron
  • Avatar photo Fahri Bachmid
  • Avatar photo Fahri Gunawan Siagian
  • Avatar photo Fahri Soleh
  • Avatar photo Fakhir Tashin Baaj
  • Avatar photo Fatkul Mujib, S.H.I., M.H.
  • Avatar photo Dr. Fauziati, S.Ag., M.Ag
  • Avatar photo Febriansyah Rozarius
  • Avatar photo Friska Ariesta Aritedi
  • Avatar photo Gineng Pratidina
  • Avatar photo Hanry Ichfan Adityo
  • Avatar photo Peltu Hartono
  • Avatar photo Hastuti
  • Avatar photo Hendro Yatmoko
  • Avatar photo Ibnu Abas Ali
  • Avatar photo I Made Sukadana
  • Indra Tua Hasangapon Harahap
  • Avatar photo Ira Soniawati
  • Avatar photo Irfan Dibar
  • Avatar photo Muhammad Irfansyah
  • Avatar photo Letkol Kum Irwan Tasri, S.H., M.H., M.Han.
  • Avatar photo Iwan Lamganda Manalu
  • Avatar photo Jerymia Seky Tanaem
  • Avatar photo Jusran Ipandi
  • Avatar photo Khaimi
  • Avatar photo Khoerul Umam
  • Avatar photo Linora Rohayu
  • Avatar photo Made Passek Reza Swandira
  • Avatar photo Marta Satria Putra
  • Avatar photo Marwan Ibrahim Piinga
  • Avatar photo Marwanto
  • Avatar photo Marzha Tweedo Dikky Paraanugrah
  • Avatar photo Maulia Martwenty Ine
  • Avatar photo Mira Maulidar
  • Avatar photo Misbah S.T., M.Eng.
  • Avatar photo Misbahul Anwar
  • Avatar photo Muhamad Ilham Azizul Haq
  • Avatar photo Muhamad Saptari
  • Avatar photo Muhammad Fadllullah
  • Avatar photo Muhammad Muhyi Arrasyid, S.Psi.
  • Avatar photo Muhammad Bagus Tri Prasetyo
  • Avatar photo Muhammad Yusuf
  • Avatar photo Muhammad Zuchri Nasuha Lubis
  • Avatar photo Murdian
  • Avatar photo Nadia Yurisa Adila
  • Avatar photo Nisrina Irbah Sati
  • Avatar photo Letkol CHK Nur Sakdi, S.H, M.H.
  • Avatar photo Nur Latifah Hanum
  • Avatar photo Pandu Pradana Wicaksono, S.H.
  • Avatar photo Pita Permatasari
  • Avatar photo H .A.S Pudjoharsoyo
  • Avatar photo Putri Pebrianti
  • Avatar photo R. Deddy Harryanto
  • Avatar photo Radityo Muhammad Harseno
  • Avatar photo Rahmi Fattah
  • Avatar photo Randy Viyatadhika
  • Avatar photo Ratih Gumilang
  • Avatar photo Reindra Jasper H. Sinaga, S.H. Hakim Pengadilan Negeri Tanjung Balai Karimun
  • Avatar photo Muh Ridha Hakim
  • Avatar photo Rifqi Qowiyul Iman
  • Avatar photo Rizal Abdurrahman
  • Avatar photo Penulis adalah Filsuf - Analis Politik dan Kebangsaan
  • Avatar photo Romi Hardhika
  • Avatar photo Sandro Imanuel Sijabat
  • Avatar photo Sbong Sinarok Martin, S.H., M.H.
  • Avatar photo Selexta Apriliani
  • Avatar photo Septia Putri Riko
  • Avatar photo Septriono Situmorang
  • Avatar photo Slamet Turhamun
  • Avatar photo Sobandi
  • Avatar photo Stefanus Dwi Putra Medisa
  • Avatar photo Subiyatno
  • Avatar photo Teddy Lahati
  • Avatar photo Tri Baginda Kaisar Abdul Gafur
  • Avatar photo Urif Syarifudin
  • Avatar photo Wanda Rara Farezha,S.H.
  • Avatar photo Wienda Kresnantyo
  • Avatar photo Willsa Suharyadi
  • Avatar photo Yoshelsa Wardhana
  • Avatar photo Yukiatiqa Afifah
  • Avatar photo Marsekal Muda TNI Dr. Yuwono Agung Nugroho, S.H., M.H.
  • Avatar photo Zidny Taqiyya
Lihat semua kontributor →

Type above and press Enter to search. Press Esc to cancel.