Close Menu
Suara BSDKSuara BSDK
  • Beranda
  • Artikel
  • Berita
  • Features
  • Sosok
  • Filsafat
  • Roman
  • Satire
  • Video

Subscribe to Updates

Get the latest creative news from FooBar about art, design and business.

What's Hot

Samara dan Siluman Matu

5 September 2026 • 14:08 WIB

Menelaah Subjek Kalimat dalam Bahasa Hukum

4 September 2026 • 17:53 WIB

Memperkuat Integritas dan Pengetahuan Hukum: PN Dataran Hunipopu Gelar Sosialisasi SEMA, PERMA, Hingga SK KMA Bersama Aparat Penegak Hukum

4 September 2026 • 14:46 WIB
Instagram YouTube
Suara BSDKSuara BSDK
Deskripsi Gambar
  • Beranda
  • Artikel
  • Berita
  • Features
  • Sosok
  • Filsafat
  • Roman
  • Satire
  • Video
Suara BSDKSuara BSDK
Deskripsi Gambar
  • Beranda
  • Artikel
  • Berita
  • Features
  • Sosok
  • Filsafat
  • Roman
  • Satire
  • Video
Home » Orkes Damai: Sebuah Kisah Setengah Wajar

Orkes Damai: Sebuah Kisah Setengah Wajar

Nugraha Wisnu WijayaNugraha Wisnu Wijaya25 November 2025 • 09:37 WIB7 Mins ReadNo Comments
Share
Facebook Twitter Threads Telegram WhatsApp

Sesungguhnya, sebelum terlanjur sampai mana-mana, penulis tidak meminta izin maupun persetujuan dari pembaca, namun hanya ungkapan apologia semata. Kalau-kalau tulisan ini memanglah terdapat kesamaan nama, peristiwa, locus dan tempus, mohon kiranya untuk dimaklumi sahaja, syukur-syukur dimaafkan.

Ini kisah dapat dinilai oleh masing-masing pembaca. Boleh empat per empat wajar, delapan per sembilan wajar, atau malah tidak wajar sama sekali. Namun, menurut hemat penulis, selama sesuatu masih bisa manusia bayangkan, selama peristiwanya masih membumi, maka entah di belahan dunia manapun pasti hal serupa boleh jadi memang eksis atau akan eksis.

Dahulu siapa yang menyangka jika saat ini komputer dapat berbicara dengan manusia menggunakan bahasa alami dan membantu tugas sehari-hari, seperti halnya dalam film 2001: A Space Odyssey? Maka, agar tetap terlihat waras, penulis memposisikan kisah ini setengah wajar saja.

Kisah ini berpusat pada seseorang yang bernama Wastib Bunduk, tapi sering ditafsirkan secara ekstensif olehnya sebagai Pengawas dan Penertib, Buru dan Ciduk. Bukan tanpa sebab disebut demikian, kegiatan sehari-harinya memang mengawasi, menertibkan, memburu, dan menciduk warga di wilayahnya yang kedapatan atau sangat-amat-memungkinkan-dicurigai melakukan kejahatan. Supaya mempermudah pembaca memahami tupoksi Wastib, penulis menyandingkannya serupa dengan hansip, namun dengan wewenang ekstra.

Wastib bukanlah sembarangan orang. Riwayat hidupnya tidak bisa disebut main-main. Pernah ia menjalani pendidikan Calon Hansip selama 1,5 tahun—meskipun akhirnya mengundurkan diri. Saat ini ia juga membuka bimbingan belajar bagi anak-anak muda yang berkeinginan menjadi Calon Hansip—meskipun harus membayar mahal untuk mengikuti bimbingan belajar tersebut.

“Profesi hansip adalah profesi yang serius, bahkan duarius. Meski tidak secara penuh diakomodir oleh undang-undang, profesi hansip sejatinya merupakan summum bonum, kebajikan tertinggi. Voluntair dalam pengabdian. Menyentuh dan bersinggungan langsung dengan realitas kehidupan dan alam yang begitu luas dan rumit,” kira-kira seperti itu yang dituturkan olehnya saat Zoom.

Meski banyak yang mencibir dan menghardiknya, lebih banyak pula yang memujinya. Bahkan ada yang menyebut Wastib sebagai lambang peradaban.

Salah satu mantan peserta bimbelnya yang kini telah menjadi Kepala Siskampling di suatu kota besar secara jujur dan di bawah sumpah mengatakan, “Bapak Wastib adalah pejuang kemanusiaan-keadilan. Sokoguru penegakan hukum.”

Pujian dari Kepala Siskampling seperti di atas bukanlah omong kosong. Untuk urusan yang ini, penulis coba meyakinkan pembaca bahwa Wastib adalah sosok yang paripurna pengetahuan dan wawasannya. Selain mengeyam pendidikan formal sebagai mantan Calon Hansip, ia juga gemar membaca dan mengulik pikiran serta karya orang-orang hebat, mulai dari Spinoza hingga Slavoj Zizek, dari van Apeldoorn sampai Satjipto Rahardjo, bahkan seluruh buku Enny Arrow telah ia baca tuntas.

Cukup kiranya penggambaran Wastib Bunduk, seorang sederhana dengan kualitas wahid, yang tinggal serapat-rapatnya dengan masyarakat dusun. Dusun yang ia cintai tulus tanpa pamrih.

Wastib tinggal sebatang kara di rumahnya yang sederhana. Dindingnya belum dilapisi semen, tanpa plafon, tanpa furnitur mewah, juga ada foto lamanya saat masih menjadi Calon Hansip. Konsep rumah ini Wastib sebut sebagai rustic-brutal-industrial. Termasuk daun pintunya berasal dari bekas rumah tetangganya yang pernah dieksekusi oleh pihak berwenang.

Baca Juga  The Trial

Di balik konsep huniannya yang ekonomis, Wastib memiliki sebuah ruangan khusus di bawah tanah. Tempat ia menahan, mendidik, dan membina warga dusunnya yang melakukan kejahatan. Tempat itu dia namakan Alcatrox, terinspirasi dari Alcatraz.

“Atas nama kepercayaan dan konsensus warga-warga terdahulu yang telah mengangkat saya sebagai pengawas dan penertib, maka saya telah buru dan ciduk terhadap anda-anda yang bernama Ujur dan Sibab! Oleh karena diduga dan sangat patut dicurigai telah mengkritisi kebijakan Ketua RT mengenai iuran bulanan rukun tetangga. Pro Justitia!” Lantang ia ucapkan kata-kata tersebut saat melakukan Operasi Burcid terhadap Ujur dan Sibab.

Ujur dan Sibab adalah tahanan sekaligus binaan ke-4 dan ke-5 Wastib bulan ini. Jadi totalnya 5 orang, padahal Alcatrox sebetulnya dapat menampung hingga 7 orang. Namun, atas dasar kemanusiaan, Wastib membatasi kuota “pendaftaran murid baru”-nya.

“Hasil buru ciduk sore atau malam?” tanya Suput kepada Ujur dan Sibab. Suput adalah senior dari mereka berdua. Bisa dibilang kakak pertama. Ia awal bulan “daftar” di Alcatrox.

Ujur menjawab, “Tadi pagi, masih anget ini.”

“Gila! Mana ada penahanan tanpa peristiwa pidana!” kata Sibab saat Wastib mendudukkannya bersama para senior.

“Metodologinya ante factum. Tahan dulu baru cari peristiwanya. Ini aturan paling baru. Paling mutakhir,” jawab Wastib sambil memborgol Ujur dan Sibab secara berantai dengan para senior.

“Kalau tidak ada peristiwanya?” tanya Sibab.

“Ya, bagus,” jawab Wastib.

“Bagus darimananya!” jawab lagi Sibab.

“Bagus karena selama di sini kau tidak perlu bayar iuran rukun tetangga, kan? Ya, setidaknya kalian tidak kabur atau menghilangkan bukti, sih,” jawab lagi Wastib.

“Mana ada kami kabur,” sahut Ujur.

“Mana mungkin kalian kabur,” potong Wastib.

“Kami mau disediakan pembela!” jawab Sibab lagi.

“Di dusun tidak ada pembela. Kalian juga tahu. Justru kau yang aneh, Bab. Kau meminta hal yang tidak ada. Mengada-ada!” jawab Wastib lagi.

“Wastib, dengan segala hormat, kami tidak bersalah,” jawab Ujur sambil memelas.

“Subversif! Penentang semesta!” tunjuk Wastib menggunakan jari kelingking, karena pantang bagi pria terhormat menunjuk-nunjuk menggunakan jari telunjuk, apalagi jari tengah. Maka, demi memelihara adat yang bersih, Wastib konsisten menggunakan jari kelingkingnya.

Wastib mendongak ke atas, merentangkan tangannya sambil berkata, “Tuhan, Engkau tahu tangan-tangan ini kotor karena ulah kejahatan. Bukan kejahatan yang saya bikin-bikin, tapi kejahatan yang orang lain buat. Sungguh Tuhan, saya mohon ampun atas perbuatan saya yang nirdosa. Kalau-kalau memang ada dosa, kiranya dianggap lunas saja.”

“Kedua orang ini telah menjadi penentang. Ampuni mereka di akhirat kelak. Sedangkan di dunia, berikan mereka berkah saja. Boleh lewat saya, boleh langsung ke orangnya,” mata Wastib hampir penuh dengan air mata.

“Berkah macam apa!” potong Sibab.

“Engkau dapat lihat sendiri, Tuhan. Mereka potong doa hamba. Sedikit tambahan saja, mohon kiranya Engkau beri mereka berkah bukan dalam bentuk pangan, tapi angan-angan,” tambah Wastib.

Baca Juga  Camar-Camar yang Mengawasi Sejarah

Alcatrox tidak hanya sebuah tempat. Lebih dari itu, ia adalah sistem penahanan, penyelidikan-penyidikan, penuntutan, penjatuhan hukuman, sekaligus pemenjaraan secara terintegrasi dan tersentralisasi pada Wastib sebagai One-Man Show. Para “murid” diborgol secara berantai. Kaki orang pertama terantai dan terhubung dengan tangan orang kedua, kaki orang kedua terantai dan terhubung dengan tangan orang ketiga, dan begitu seterusnya. Wastib terilhami setelah menonton film Human Centipede. Baginya, model pengekangan seperti ini menimbulkan rasa senasib dan sepenanggungan.

“Tidak perlu risau, kawan. Alcatrox tidak seburuk itu. Lihat betapa dinginnya AC yang Wastib sediakan untuk kita. Dengar-dengar, ia juga akan pasang home theater di sini,” ramah suara Fri Ta’im, adik tingkat dari Suput. Bisa disebut kakak kedua.

“Betul,” sahut Yesmen, boleh disebut kakak ketiga.

“Perlu kalian ketahui, di sini lebih enak dibanding di luar sana,” tambah Fri Ta’im.

“Mana mungkin enak, di mana letak enaknya?” tanya Ujur.

“Saya terangkan pelan-pelan, di sini kalian tidak perlu mencari makan dan minum, bahkan tidak perlu bayar pajak rukun tetangga, kegiatan gotong royong, membantu yang kesusahan. Kalian dibebaskan dari tanggung jawab. Manusia terpilih!” jawab Fri Ta’im.

“Benar,” sahut Yesmen.

“Ini sih barter tidak sebangun dan sebanding namanya. Boncos dong,” jawab Ujur.

Sebelum Fri Ta’im menjawab, Suput memotong, “Biarkan mereka merasakannya. Biarkan mereka nilai sendiri, Fri.”

“Setuju,” imbuh Yesmen.

Murid-murid Alcatrox yang kaki dan tangannya saling terantai dan terhubung, kecuali orang pertama dan orang terakhir, akhirnya saling membisu. Diam mereka diiringi Symphony No. 9 in D Minor, Op. 125 karya Ludwig van Beethoven yang diputarkan oleh Wastib pada pagi, siang, dan sore.

Pemutaran musik klasik adalah salah satu program yang disusun secara teliti dan terukur oleh Wastib. Selain itu, program unggulan lainnya adalah membacakan buku bagi para “murid”. Minggu ini jatah untuk novel karya Leo Tolstoy berjudul War and Peace. Bagi Wastib, membaca buku bukan sekadar menambah pengetahuan dan mengasah imajinasi, namun juga memperhalus jiwa.

Dan benar saja, Alcatrox tidak dikelilingi oleh tembok tinggi atau tebing berbatu, namun dikelilingi oleh tumpukan buku koleksi Wastib, yang tentunya belum ia baca seluruhnya. Sebagian besar asalnya karena impulsive buying, dan sisanya dari sumbangan. Wastib kerap bertanya kepada para “murid” Alcatrox, “Apakah kalian terbebas atau terkekang?”

Ketika mereka tidak mampu menjawab atau tidak paham pertanyaannya, Wastib sigap menambahkan, “Biarkan pengadilan sejarah yang membuktikan. Biarkan mahkamah histori yang putuskan.”

Bagi penulis, kisah ini bukanlah akhir. Ia adalah mukadimah bagi banyak babak selanjutnya. Untuk menutup babak pertama, izinkan penulis mengemukakan pertanyaan: Apakah penahanan terhadap Ujur dan Sibab telah sesuai dengan akal sehat?

Nugraha Wisnu Wijaya
Kontributor
Nugraha Wisnu Wijaya
Hakim Pengadilan Negeri Oelamasi

Untuk Mendapatkan Berita Terbaru Suara BSDK, Follow Channel WhatsApp: SUARABSDKMARI

roman
Share. Facebook Twitter Threads Telegram WhatsApp Copy Link

Related Posts

Samara dan Siluman Matu

5 September 2026 • 14:08 WIB

Jejak Langkah Sang Penggagas : Dari Megamendung ke Medan Merdeka Utara

2 September 2026 • 10:05 WIB

Di Mana Negara Menempatkan, Di Sana Pengabdian Dijalankan: Kisah PNS Non-Homebase Menemukan Arti Ketulusan di Tanah yang Jauh dari Rumah

25 August 2026 • 08:35 WIB
Leave A Reply


Demo
Top Posts

Menanam Nilai, Menjaga Masa Depan

1 September 2026 • 13:29 WIB

Sayap Patah dan Keadilan Yang Tersisa Bagi Elang

15 August 2026 • 14:32 WIB

Secangkir Cocopresso dari Seorang Yang Mulia

15 August 2026 • 12:22 WIB

Dari Monitoring Hingga Titik Nol: Sebuah Perjalanan Tentang Pengabdian

30 July 2026 • 15:00 WIB
Don't Miss

Samara dan Siluman Matu

By Syamsul Arief5 September 2026 • 14:08 WIB0

Sains dan puisi pada suatu hari yang sunyi, berjanji untuk bertemu di altar yang sama.…

Menelaah Subjek Kalimat dalam Bahasa Hukum

4 September 2026 • 17:53 WIB

Memperkuat Integritas dan Pengetahuan Hukum: PN Dataran Hunipopu Gelar Sosialisasi SEMA, PERMA, Hingga SK KMA Bersama Aparat Penegak Hukum

4 September 2026 • 14:46 WIB

Membuka Sosialisasi Perma Nomor 2 Tahun 2026, Wkma Bidang Yudisial Tekankan Independensi Hakim Harus Berjalan Bersama Akuntabilitas

4 September 2026 • 14:42 WIB
Stay In Touch
  • YouTube
  • TikTok
  • WhatsApp
  • Twitter
  • Instagram
Top Trending
Demo

Recent Posts

  • Samara dan Siluman Matu
  • Menelaah Subjek Kalimat dalam Bahasa Hukum
  • Memperkuat Integritas dan Pengetahuan Hukum: PN Dataran Hunipopu Gelar Sosialisasi SEMA, PERMA, Hingga SK KMA Bersama Aparat Penegak Hukum
  • Membuka Sosialisasi Perma Nomor 2 Tahun 2026, Wkma Bidang Yudisial Tekankan Independensi Hakim Harus Berjalan Bersama Akuntabilitas
  • Plt. Kepala BSDK MA RI Sampaikan Laporan Penyelenggaraan Sosialisasi PERMA Nomor 2 Tahun 2026 di Bali

Recent Comments

  1. Burhan on Dari Prajurit Hukum ke Mahkamah Agung: Letkol Chk Sudiyo Pesan ‘Menulis dan Menulislah’
  2. Vanimut on Ketua PTA Kepri Buka Pendampingan Monev KIP Tahun 2026
  3. Ekasari on BSDK MA Run 2026: 10 Kilometer Pelari CADAS, Berlari Bersama Menjaga Semangat Pengabdian dan Integritas
  4. Abdul Hafid PP PA Sleman on Alumni Bersuara dari PA Sleman : Diklat Panitera Pengganti Harus Update, Merata, dan Berbasis Praktik
  5. kumalasari on Di Mana Negara Menempatkan, Di Sana Pengabdian Dijalankan: Kisah PNS Non-Homebase Menemukan Arti Ketulusan di Tanah yang Jauh dari Rumah
Hubungi Kami

Badan Strategi Kebijakan dan Pendidikan dan Pelatihan Hukum dan Peradilan Hukum dan Peradilan
Mahkamah Agung RI

Kantor: Jl. Cikopo Selatan Desa Sukamaju, Kec. Megamendung
Bogor, Jawa Barat 16770

Kirimkan reportase berita, opini, features dan artikel lainnya ke email suarabsdk.com : 
redpelsuarabsdk@gmail.com

Telepon: (0251) 8249520, 8249522, 8249531, 8249539

Kategori
Beranda Artikel Berita Features Sosok KRITERIA TULISAN
Filsafat Roman Satire Video BALACADAS
Connect With Us
  • Instagram
  • YouTube
  • WhatsApp
Aplikasi Internal
Logo 1 Logo 2 Logo 3 Logo 3 Logo 5
Logo 4 Logo 4 Logo 4 Logo 5 Logo 5 Logo 5
Kontributor
  • Avatar photo Ahmad Junaedi
  • Avatar photo Mohammad Khairul Muqorobin
  • Avatar photo Irvan Mawardi
  • Avatar photo Aman
  • Avatar photo Cecep Mustafa
  • Avatar photo Khoiruddin Hasibuan
  • Avatar photo Muamar Azmar Mahmud Farig
  • Avatar photo Ari Gunawan
  • Avatar photo Yudhistira Ary Prabowo
  • Avatar photo Syailendra Anantya Prawira
  • Avatar photo Muhammad Rizqi Hengki
  • Avatar photo Ghesa Agnanto Hutomo
  • Avatar photo Agus Digdo Nugroho
  • Avatar photo Muhammad Adiguna Bimasakti
  • Avatar photo Timbul Bonardo Siahaan
  • Avatar photo Dahlan Suherlan
  • Avatar photo Syamsul Arief
  • Avatar photo Jatmiko Wirawan
  • Avatar photo Taufikurrahman
  • Avatar photo Cik Basir
  • Avatar photo Maria Fransiska Walintukan
  • Avatar photo Johanes
  • Avatar photo Syihabuddin
  • Avatar photo Unggul Senoaji
  • Avatar photo Zulfahmi
  • Avatar photo M. Natsir Asnawi
  • Avatar photo Adji Prakoso
  • Avatar photo Anton Ahmad Sogiri
  • Avatar photo Yoshito Siburian
  • Avatar photo Abdi Munawar Daeng Mangagang
  • Avatar photo Iqbal Lazuardi
  • Avatar photo Galang Adhe Sukma
  • Avatar photo Anisa Yustikaningtiyas
  • Avatar photo Harun Maulana
  • Avatar photo I Gusti Lanang Ngurah Sidemen Putra
  • Avatar photo Muhammad Hanif Ramadhan
  • Avatar photo Ahmad Syahrus Sikti
  • Avatar photo Eliyas Eko Setyo
  • Avatar photo Firzi Ramadhan
  • Avatar photo Jarkasih
  • Avatar photo Sriti Hesti Astiti
  • Avatar photo Sudiyo
  • Avatar photo Binsar Parlindungan Tampubolon
  • Avatar photo Layla Windy Puspita Sari
  • Avatar photo Marulam J Sembiring
  • Avatar photo Tri Indroyono
  • Avatar photo Letkol Chk Agustono, S.H., M.H.
  • Avatar photo Ardiansyah Iksaniyah Putra
  • Avatar photo Febby Fajrurrahman
  • Avatar photo Ganjar Prima Anggara
  • Avatar photo Garin Purna Sanjaya
  • Avatar photo Irene Cristna Silalahi
  • Avatar photo Marsudin Nainggolan
  • Avatar photo Maulana Aulia
  • Avatar photo Riki Perdana Raya Waruwu
  • Avatar photo Dr. Syofyan Iskandar, S.H., M.H.
  • Avatar photo Afifah Dwiandini
  • Avatar photo Itsnaatul Lathifah
  • Avatar photo Khoiriyah Roihan
  • Avatar photo Redaktur SuaraBSDK
  • Avatar photo Yasin Prasetia
  • Avatar photo Muhamad Zaky Albana
  • Avatar photo Audrey Kartika Putri
  • Avatar photo Bintoro Wisnu Prasojo, S.H.
  • Avatar photo Buang Yusuf
  • Avatar photo Fitriyel Hanif
  • Avatar photo Henri Setiawan
  • Avatar photo Irwan Rosady
  • Avatar photo K.G. Raegen
  • Avatar photo Rafi Muhammad Ave
  • Avatar photo Rangga Lukita Desnata
  • Avatar photo Rikatama Budiyantie
  • Avatar photo Siti Nadhiroh
  • Avatar photo Teguh Setiyawan
  • Avatar photo Abdul Azis Ali Ramdlani
  • Avatar photo Achmad Fikri Oslami
  • Avatar photo Ahmad Fuad Noor Ghufron
  • Avatar photo Achmad Nurul Huda
  • Avatar photo Anggi Permana
  • Avatar photo Ang Rijal Amin
  • Avatar photo Cok Istri Bhagawanthi Pemayun
  • Avatar photo Dedi Putra
  • Avatar photo Dewi Maharati
  • Avatar photo Gerry Michael Purba
  • Avatar photo Herjuna Praba Wiesesa
  • Avatar photo Hermanto
  • Avatar photo Indarka PP
  • Avatar photo Muhamad Fadillah
  • Avatar photo Nugraha Medica Prakasa
  • Avatar photo Ria Marsella
  • Avatar photo Sahram
  • Avatar photo Saut Erwin Hartono A. Munthe
  • Avatar photo Silveria Supanti
  • Avatar photo Sugiarto
  • Avatar photo Yusuf Sodhiqin
  • Avatar photo Achmad Pratomo
  • Avatar photo Ahmad Faiz Shobir Alfikri
  • Avatar photo Andro Riski Pradipta
  • Avatar photo Arie Fitriansyah
  • Avatar photo Bismo Jiwo Agung
  • Avatar photo Epri Wahyudi
  • Avatar photo Fajar Widodo
  • Avatar photo Fariz Prasetyo Aji
  • Avatar photo Fauzan Arrasyid
  • Avatar photo Fauzia Rohmah
  • Avatar photo Febry Indra Gunawan Sitorus
  • Avatar photo Gerry Geovant Supranata Kaban
  • Avatar photo Mardi Candra
  • Avatar photo Muhammad Irfan Syahputra
  • Avatar photo Muhammad Amin Putra
  • Avatar photo Niko Wijaya
  • Avatar photo Putra Nova A.S
  • Avatar photo Rizal Arif Fitria
  • Avatar photo Sadana
  • Avatar photo Trisoko Sugeng Sulistyo
  • Avatar photo Umar Dani
  • Avatar photo Abdul Hadi
  • Avatar photo Abiandri Fikri Akbar
  • Avatar photo Abi Zaky Azizi
  • Avatar photo Dr. H. Achmad Setyo Pudjoharsoyo., SH., M.Hum
  • Avatar photo Adimas Leo Firmansah
  • Avatar photo Agenda Citra Muhammad
  • Avatar photo Andi Akram
  • Avatar photo Arsyawal
  • Avatar photo Aulia Rochmani Lazuardi
  • Avatar photo Bagus Partha Wijaya
  • Avatar photo Bagus Sujatmiko
  • Avatar photo Bayu Akbar Wicaksono
  • Avatar photo Chandra Khoirunnas
  • Avatar photo Cuhandi
  • Avatar photo David Pasaribu
  • Avatar photo Dendi Sutiyoso
  • Avatar photo Dhea Sutaryana
  • Avatar photo Edi Hudiata
  • Avatar photo Enrico Simanjuntak
  • Avatar photo Fauzan Prasetya
  • Avatar photo Fauziah Rahmah
  • Ferdian Permadi
  • Avatar photo Fery Rochmad Ramadhan
  • Avatar photo Hartanto Ariesyandi
  • Avatar photo Idik Saeful Bahri
  • Avatar photo Karell Mawla Ibnu Kamali
  • Avatar photo Khalilurrahman
  • Avatar photo Khoirul Anwar
  • Avatar photo Mentari Wahyudihati
  • Avatar photo Muhamad Ridwan
  • Avatar photo Muhamad Iqbal
  • Avatar photo Nia Chasanah
  • Avatar photo Novritsar Hasintongan Pakpahan
  • Avatar photo Nugraha Wisnu Wijaya
  • Avatar photo Raden Anggara Kurniawan
  • Avatar photo Raden Heru Wibowo Sukaten
  • Avatar photo Rahimulhuda Rizki Alwi
  • Avatar photo Rahmad Ramadhan Hasibuan
  • Avatar photo Ranggi Adiwangsa Yusron
  • Avatar photo Muhammad Rijaldy Alwy
  • Avatar photo Rohim
  • Avatar photo Samsul Zakaria
  • Avatar photo Satria Perdana
  • Avatar photo Tri Cahya Indra Permana
  • Avatar photo Wilmar Ibni Rusydan
  • Avatar photo Yudhi Reksa Perdana
  • Avatar photo Abdul Ghani
  • Avatar photo Ach. Jufri
  • Avatar photo Afif Muchshon
  • Avatar photo Agus Suharsono
  • Avatar photo Ahmad Efendi
  • Avatar photo Ahmad Hodri
  • Avatar photo Ahmad Rizza Habibi
  • Avatar photo Aidil Akbar
  • Avatar photo Alep Priyoambodo
  • Avatar photo Alfajar Nugraha
  • Avatar photo Anderson Peruzzi Simanjuntak
  • Avatar photo Andhika Prayoga
  • Avatar photo Andi Muhammad Galib
  • Avatar photo Andi Aswandi Tashar
  • Avatar photo Andrie Gunawan
  • Avatar photo Anna Yulina
  • Avatar photo Annisa Nur Alam
  • Avatar photo Arga Febrian
  • Avatar photo Arief Sapto Nugroho
  • Avatar photo Mayor Chk Arif Dwi Prasetyo
  • Avatar photo Armansyah
  • Avatar photo Aryaniek Andayani
  • Avatar photo Ashhab Triono
  • Avatar photo Bella Puspitawati
  • Avatar photo Bilma Diffika
  • Avatar photo Bony Daniel
  • Avatar photo Budi Hermanto
  • Avatar photo Budi Suhariyanto
  • Avatar photo Chandra
  • Avatar photo Christopher Hutapea
  • Avatar photo Daniel H. Napitupulu
  • Dedi Wigandi
  • Avatar photo Deka Rachman Budihanto
  • Avatar photo Eddy Sembiring
  • Avatar photo Effendi Mukhtar
  • Avatar photo Egia Rasido Tarigan
  • Avatar photo Eka Sentausa
  • Avatar photo Enos Syahputra Sipahutar, S.H., M.H.
  • Avatar photo Dr. Fahmiron
  • Avatar photo Fahri Bachmid
  • Avatar photo Fahri Gunawan Siagian
  • Avatar photo Fahri Soleh
  • Avatar photo Fakhir Tashin Baaj
  • Avatar photo Fatkul Mujib, S.H.I., M.H.
  • Avatar photo Dr. Fauziati, S.Ag., M.Ag
  • Avatar photo Febriansyah Rozarius
  • Avatar photo Friska Ariesta Aritedi
  • Avatar photo Gineng Pratidina
  • Avatar photo Peltu Hartono
  • Avatar photo Hastuti
  • Avatar photo Hendro Yatmoko
  • Avatar photo Ibnu Abas Ali
  • Avatar photo I Made Sukadana
  • Indra Tua Hasangapon Harahap
  • Avatar photo Ira Soniawati
  • Avatar photo Irfan Dibar
  • Avatar photo Muhammad Irfansyah
  • Avatar photo Letkol Kum Irwan Tasri, S.H., M.H., M.Han.
  • Avatar photo Iwan Lamganda Manalu
  • Avatar photo Jerymia Seky Tanaem
  • Avatar photo Jusran Ipandi
  • Avatar photo Khaimi
  • Avatar photo Khoerul Umam
  • Avatar photo Linora Rohayu
  • Avatar photo Made Passek Reza Swandira
  • Avatar photo Marta Satria Putra
  • Avatar photo Marwan Ibrahim Piinga
  • Avatar photo Marwanto
  • Avatar photo Marzha Tweedo Dikky Paraanugrah
  • Avatar photo Maulia Martwenty Ine
  • Avatar photo Mira Maulidar
  • Avatar photo Misbah S.T., M.Eng.
  • Avatar photo Misbahul Anwar
  • Avatar photo Muhamad Ilham Azizul Haq
  • Avatar photo Muhamad Saptari
  • Avatar photo Muhammad Fadllullah
  • Avatar photo Muhammad Muhyi Arrasyid, S.Psi.
  • Avatar photo Muhammad Bagus Tri Prasetyo
  • Avatar photo Muhammad Yusuf
  • Avatar photo Muhammad Zuchri Nasuha Lubis
  • Avatar photo Murdian
  • Avatar photo Nadia Yurisa Adila
  • Avatar photo Nisrina Irbah Sati
  • Avatar photo Letkol CHK Nur Sakdi, S.H, M.H.
  • Avatar photo Nur Latifah Hanum
  • Avatar photo Pandu Pradana Wicaksono, S.H.
  • Avatar photo Pita Permatasari
  • Avatar photo H .A.S Pudjoharsoyo
  • Avatar photo Putri Pebrianti
  • Avatar photo R. Deddy Harryanto
  • Avatar photo Radityo Muhammad Harseno
  • Avatar photo Rahmi Fattah
  • Avatar photo Randy Viyatadhika
  • Avatar photo Ratih Gumilang
  • Avatar photo Reindra Jasper H. Sinaga, S.H. Hakim Pengadilan Negeri Tanjung Balai Karimun
  • Avatar photo Muh Ridha Hakim
  • Avatar photo Rifqi Qowiyul Iman
  • Avatar photo Rizal Abdurrahman
  • Avatar photo Romi Hardhika
  • Avatar photo Sandro Imanuel Sijabat
  • Avatar photo Sbong Sinarok Martin, S.H., M.H.
  • Avatar photo Selexta Apriliani
  • Avatar photo Septia Putri Riko
  • Avatar photo Septriono Situmorang
  • Avatar photo Siti Anis
  • Avatar photo Slamet Turhamun
  • Avatar photo Sobandi
  • Avatar photo Stefanus Dwi Putra Medisa
  • Avatar photo Subiyatno
  • Avatar photo Teddy Lahati
  • Avatar photo Tri Baginda Kaisar Abdul Gafur
  • Avatar photo Urif Syarifudin
  • Avatar photo Wahyu Budi Santoso
  • Avatar photo Wanda Rara Farezha,S.H.
  • Avatar photo Wienda Kresnantyo
  • Avatar photo Willsa Suharyadi
  • Avatar photo Yoshelsa Wardhana
  • Avatar photo Yukiatiqa Afifah
  • Avatar photo Marsekal Muda TNI Dr. Yuwono Agung Nugroho, S.H., M.H.
  • Avatar photo Zidny Taqiyya
Lihat semua kontributor →

Type above and press Enter to search. Press Esc to cancel.