Close Menu
Suara BSDKSuara BSDK
  • Beranda
  • Artikel
  • Berita
  • Features
  • Sosok
  • Filsafat
  • Roman
  • Satire
  • Video

Subscribe to Updates

Get the latest creative news from FooBar about art, design and business.

What's Hot

Samara dan Siluman Matu

5 September 2026 • 14:08 WIB

Menelaah Subjek Kalimat dalam Bahasa Hukum

4 September 2026 • 17:53 WIB

Memperkuat Integritas dan Pengetahuan Hukum: PN Dataran Hunipopu Gelar Sosialisasi SEMA, PERMA, Hingga SK KMA Bersama Aparat Penegak Hukum

4 September 2026 • 14:46 WIB
Instagram YouTube
Suara BSDKSuara BSDK
Deskripsi Gambar
  • Beranda
  • Artikel
  • Berita
  • Features
  • Sosok
  • Filsafat
  • Roman
  • Satire
  • Video
Suara BSDKSuara BSDK
Deskripsi Gambar
  • Beranda
  • Artikel
  • Berita
  • Features
  • Sosok
  • Filsafat
  • Roman
  • Satire
  • Video
Home » Samara dan Siluman Matu

Samara dan Siluman Matu

Seri Cerpen Mistikologi - Mistik, Nalar dan Ekologi
Syamsul AriefSyamsul Arief5 September 2026 • 14:08 WIB13 Mins ReadNo Comments
Share
Facebook Twitter Threads Telegram WhatsApp

Sains dan puisi pada suatu hari yang sunyi, berjanji untuk bertemu di altar yang sama. Keduanya sepakat bahwa kosmos ini tidak dirajut oleh kebetulan yang acak, melainkan oleh jemari causa prima yang menuliskan algoritma alam dalam helai-helai waktu yang melengkung.

Fisika kuantum telah lama berbisik tentang relativitas, bahwa masa lalu tidak pernah benar-benar mati, ia hanya sedang bersembunyi di balik lipatan dimensi. Ketika riuh dunia mereda dan gelombang kesadaran manusia melambat pasrah menuju frekuensi theta, antara empat hingga tujuh hertz tirani ruang yang kaku seketika luruh.

Otak manusia berhenti menjadi sekadar gumpalan daging egois, ia melunak menjadi simulator kuantum yang menembus labirin ingatan yang direkam abadi oleh urat bumi.

Bagi mereka yang mendengar detak jantung tanah, mukjizat bukanlah pelanggaran terhadap hukum fisis. Ia hanyalah matematika tingkat tinggi yang rumusnya belum selesai dieja oleh peradaban manusia yang masih merangkak.

Alam semesta adalah Mother Nature, Ibu Pertiwi yang menyusui kita dengan semilir angin dan deru hujan. Semesta Alam adalah “saudara tua” yang sudah berdiri tegak melintasi miliaran tahun sebelum manusia pertama dilahirkan untuk menulis hukum di atas kertas. Dan di ranjang transendental itulah, sebuah neksus, jalinan rahasia yang menghubungkan seluruh mahluk, mulai menganyam garis takdir Samara.

RUMAH DIBALIK KABUT MATU

Agustus, 1995. Angin malam bertiup membawa aroma asin dari bibir Samudra Hindia, berpadu dengan keharuman getah damar matakucing (Shorea javanica) yang luruh di sepanjang jalur Liwa–Krui Lampung Barat. Di dalam bus antarkota yang bergoyang pelan menanjak tebing Bukit Barisan Selatan, Samara menatap jendela yang berembun. Ia adalah mahasiswa Fakultas Hukum Universitas Lampung yang membawa ransel berisi buku, majalah dan catatan harian menuju Pesisir Barat untuk kembali ke Posko Kuliah Kerja Nyata.

Di bawah temaram lampu kabin bus, ingatan masa kecilnya mendadak berputar bagai proyektor tua. Ia teringat ayahnya, seorang guru sekolah dasar yang bersahaja, selalu menggandeng jemari kecilnya menyusuri hamparan pasir pantai Krui. Di sana, ia sering berdiri berjam-jam menyaksikan para nelayan bahu-membahu mendorong jukung, perahu cadik tradisional dengan lambung tangguh, menembus ombak yang menggulung. Samara kecil selalu terpukau melihat ramainya orang bergotong-royong, menarik jala ikan yang berat di pinggir pantai dengan sorak-sorai yang hangat.
“ Tidurlah, Samara. Jalur ini masih panjang,” seolah ada suara gaib yang berbisik di telinganya. Mata Samara memberat. Ia tertidur.

Ia tidak menyadari ketika malam itu, sebuah dentuman keras merobek kesunyian rimba. Bus yang ditumpanginya kehilangan kendali, terlempar dari bibir tebing, dan jatuh terhempas ke dalam jurang sedalam 20 meter. Di dalam kegelapan yang pekat, besi beradu batu, jeritan tersedak malam, dan 16 nyawa penumpang di dalam bus itu seketika terenggut dari raganya.

Namun, ketika Samara membuka mata, tidak ada bau darah atau pecahan kaca. Ia terbangun di atas dipan bambu di dalam sebuah kabin kayu yang hangat di tengah hutan. Di sekelilingnya, sebuah keluarga menatapnya dengan tatapan teduh yang menenangkan. “Aku… di mana?” bisik Samara, suaranya parau. Seorang lelaki bertubuh tegap dengan sorot mata sedalam samudra melangkah mendekat. “Kau aman, Anak Muda. Nama saya Burnawan,” ujarnya lembut, lalu memperkenalkan istri dan kedua anaknya yang tersenyum ramah.

Burnawan kemudian berdiri, melangkah keluar pintu kabin. Melalui celah pintu yang terbuka, Samara melihat pemandangan aneh: sebuah perkampungan kecil di tengah hutan belantara yang gelap, diterangi oleh obor-obor minyak yang apinya menari ditiup angin purba.

Samara bangkit dengan tubuh yang entah mengapa terasa sangat ringan, tanpa luka gores sedikit pun. Ia mendekati Burnawan yang sedang berdiri di bawah bayang-bayang pohon raksasa. “Pak Burnawan, kampung apa ini? Bagaimana saya bisa sampai di sini?” “Ini Kampung Matu, tersembunyi di jantung hutan Bukit Barisan Selatan,” jawab Burnawan tenang. “Semalam, aku melihat sesuatu jatuh di jurang. Aku membawamu dari sana. Istirahatlah, tubuhmu sedang melintasi batas.”

Tiga hari rasanya Samara tinggal bersama keluarga Burnawan. Di kampung itu, waktu seolah berhenti. Tidak ada jam dinding, tidak ada deru mesin. Manusia-manusia di Kampung Matu berbicara dengan bahasa Lampung kuno yang sangat halus, tapi entah mengapa dimengerti oleh Samara.

Pada hari ketiga, Samara berpamitan untuk melanjutkan tujuannya semula: Posko KKN, Desa Biha, Krui. Burnawan bersama dua pemuda kampung mengantarnya berjalan menembus lebatnya kanopi hutan. Ketika riak debur suara ombak laut mulai terdengar dari kejauhan, mereka tiba di tepi jalan raya beraspal yang sepi. “Melangkahlah terus ke depan, Samara. Tugasmu menanti,” ucap Burnawan hangat. Samara mengangguk, melangkah tiga langkah ke atas aspal. Namun, saat ia menengok ke belakang untuk mengucapkan terima kasih sekali lagi, jantungnya berdesir hebat. Burnawan dan kedua pemuda itu telah lenyap. Tidak ada semak yang bergerak, tidak ada suara langkah kaki. Hanya ada hamparan hutan belantara sepi yang tegak berdiri di bawah terik matahari.

GORESAN KULIT KAYU DAN SIMFONI JUKUNG

Samara tiba di Desa Biha dengan jiwa yang tertinggal di balik kabut. Di sana, tiga sahabat karibnya, Habib yang logis, Ridho yang jenius membaca rasa, dan Subari yang tangguh, memeluknya dengan haru yang pecah.
“Kamu dari mana saja, Samara? Kami cari ke mana-mana tidak ketemu!” tanya Habib dengan suara bergetar. “Bus yang harusnya kamu tumpangi itu jatuh ke jurang. Semua penumpangnya meninggal, Samara!“
Samara tertegun, namun memilih berbohong demi ketenangan bersama. “Kemarin ada urusan birokrasi keuangan yang mendadak di kampus Bandar Lampung, jadi saya terpaksa naik bus gelombang berikutnya. Maaf membuat kalian cemas.” Ia mengubur nama Burnawan dalam-dalam, menyimpannya bagai rahasia metafisika yang paling sunyi.

Baca Juga  Konsultasikan Rancangan SEMA Pelaksanaan Pasal 2 KUHP Nasional, Tim Riset Kebijakan Melakukan Audiensi Ke PN Serang

Hingga pada suatu sore yang basah, di sudut gudang tua rumah Kepala Desa pak Mawardi yang berdebu, seberkas cahaya menuntun jemari Samara pada sebuah kotak kayu merbau tua. Di dalamnya terbaring sehelai Kropak, kitab kuno dari kulit kayu alim (Aquilaria malaccensis) yang melipat bagai akordeon, dipenuhi guratan aksara Had Lampung yang bersudut tajam.

Saat ujung jarinya menyentuh serat kayu purba itu, sebatang arus bioelektrik menyengat sarafnya. Kesadarannya runtuh melambat ke frekuensi theta yang ekstrem. Ruang tiga dimensi terlipat, dan jiwanya terlempar mundur ke abad ke-17.

Dalam penglihatan transendental itu, ia melihat Burnawan duduk di geladak kapal purba, menggoreskan hukum tata ruang komunal di atas kulit kayu: larangan menebang pohon di hulu sungai, perlindungan bagi satwa, serta filosofi Piil Pesenggiri, bahwa kehormatan manusia hanya akan tegak jika ia menjaga martabat alam sekelilingnya. Hukum di dalam naskah itu bukan lahir dari ketakutan manusia pada denda, melainkan sebuah perjanjian sakral antardimensi.

Ketika tersentak bangun, mata Samara telah berubah. Ia kini mampu menangkap medan elektromagnetik di udara. Ia bisa membaca beratnya tekanan udara, meramalkan riak arus laut, dan mendengar keluh kesah pohon-pohon yang sedang mengolah cahaya.

Kekuatan itu mewujud ketika empat sekawan itu menyewa sebuah jukung untuk menyeberang ke Pulau Pisang. Di tengah selat yang berbatasan dengan keganasan palung Samudra Hindia, badai muson barat mengamuk tanpa peringatan. Gelombang raksasa setinggi tiga meter menggulung, menghantam cadik bambu hingga berderit pasrah.
“Arus dan ombaknya terlalu besar! Putar balik sekarang atau kita terbalik!” teriak Habib panik di antara gemuruh air.
“Jangan putar balik sekarang, Bib! Kalau lambung perahu memotong ombak dari samping, kita malah langsung karam!” balas Ridho tak kalah lantang.

Samara melangkah dengan kaki telanjang menuju haluan jukung yang terombang- ambing. Ia memejamkan mata, meletakkan telapak tangan telanjangnya pada kayu haluan perahu, bertindak sebagai jangkar kuantum yang menyatukan kesadaran manusia dengan kesadaran samudra.

“Subari, pegang kemudi yang kuat! Jangan dilawan arusnya, ikuti saja riak air yang berwarna hijau tua di sebelah kanan kita!” perintah Samara tegas.
Ajaib, setiap kali dinding air raksasa hendak melumat mereka, haluan jukung seolah bergeser lincah dipandu oleh tangan gaib, berselancar manis di sela-sela gulungan ombak yang mematikan. Kearifan lokal bentuk perahu kuno dan jejaring batin Samara berhasil membawa mereka mendarat selamat di hamparan pasir putih Pulau Pisang.

RAHASIA DIBAWAH JANTUNG POKOK DAMAR

Sore itu di Pulau Pisang, matahari luruh seperti emas cair yang tumpah di cakrawala. Di bawah naungan pondok bambu, mereka duduk melingkar bersama Pakbalak Malaka, seorang nelayan tua dengan kulit sewarna tembaga yang matang digarami ombak. Suaranya mengalir tenang menceritakan mitologi tentang bangsa Siluman Matu.

“Mereka itu sebenarnya penjaga hutan di daerah sini, Anak-anak Muda,” kata Pakbalak sambil menyulut rokok daunnya. “Mereka mahluk halus, tapi kadang menjelma jadi manusia biasa supaya bisa memantau kelakuan kita.”
“Memangnya ada bedanya dengan kita, Pak? Bagaimana cara mengetahuinya?” tanya Ridho penasaran.
Nelayan tua itu tersenyum kecil. “Orang-orang tua dulu bilang, lihat saja di bawah hidungnya. Mereka tidak punya filtrum, cekungan atau parit kecil di atas bibir atas seperti kita. Kulit di bawah hidung mereka rata saja, polos. Semesta sengaja membuat mereka berbeda, biar jadi pengingat buat manusia kalau bumi ini bukan cuma milik kita sendiri. Ada yang bilang mereka ada di Gua tua. Tapi menurut saya mereka bisa memilih tinggal dimana saja termasuk didalam hutan lebat,” Pakbalak meyakini dengan tatapan mawas.
Habib yang penasaran kembali bertanya, “Tapi kenapa warga di sini tidak pernah ribut atau merasa terganggu dengan keberadaan mereka, Pak?“
“Sebab nenek moyang kita orang laut, Nak. Lautan sudah melatih kita untuk menerima siapa saja yang singgah ke pantai ini. Mau beda bahasa, beda warna kulit, atau bahkan beda alam, semuanya ditumpangi dengan baik. Kita semua kan sama-sama menumpang hidup di bumi milik Tuhan ini,” jawab Pakbalak bijak.

Pandangan Pakbalak Malaka mendadak bergeser, mengunci wajah Samara. Sorot matanya begitu tajam, seakan mampu melihat sisa-sisa energi kuantum Kampung Matu yang bergetar di dalam sel tubuh anak muda itu.
“Kamu, Anak Muda. Kamu baru saja pulang dari tempat yang tidak ada di peta, kan?” bisik Pakbalak pelan agar tidak didengar yang lain.

Ia mengajak Samara berjalan jauh ke dalam rimbunnya vegetasi pulau, hingga mereka berdiri di bawah kaki sebatang pohon damar raksasa yang agung. Lingkar batangnya bahkan membutuhkan rentang tangan 6 orang dewasa, diselimuti lelehan getah bening matakucing yang berkilauan menangkap cahaya bintang, memantul bagai ribuan mata kucing yang mengawasi kegelapan.
“Buka bajumu, Samara. Buang dulu semua sifat sombongmu lalu peluk pohon ini erat-erat. Rasakan saudaramu yang paling tua,” perintah Pakbalak.

Ketika kulit dadanya menyentuh kulit kasar pohon damar itu, kesadaran Samara seketika runtuh ke dalam trance yang teramat dalam. Jiwanya tersedot masuk ke dalam pembuluh-pembuluh xilem dan floem raksasa tersebut. Pikiran Samara menjalar turun menembus lapisan litosfer pulau, menyelam ke bawah dasar laut, dan tersimpul dalam sebuah jejaring raksasa akar purba yang menghubungkan seluruh pohon di sepanjang Pesisir Barat hingga Hutan Bukit Barisan Selatan.

Baca Juga  Pengaturan Hukum Adat dan Sanksi Pidananya dalam KUHP Baru

Melalui jejaring serat optik organik ini, Samara menyaksikan “Ingatan Bumi.” Ia melihat masa lalu ketika perahu manusia Austronesia pertama kali membelah selat dengan nyanyian laut yang megah. Ia menyaksikan malam mencekam tahun 1883 ketika letusan dahsyat Gunung Krakatau merobek langit menjadi merah darah. Tsunami raksasa menghantam pantai, namun di bawah tanah, pohon-pohon tua saling berpegangan erat, mengorbankan akar mereka demi menahan runtuhnya tebing bumi agar manusia di atasnya tidak ikut terhanyut.

Ia melihat wajah Burnawan ratusan tahun lalu, hidup dalam dilatasi waktu untuk menjaga jejaring ini agar tidak putus. Samara tersadar dari tidurnya: kesadaran sejati tidak boleh berhenti pada apa yang alam berikan kepada manusia, melainkan apa yang manusia kembalikan kepada alam. Jika manusia memberi perlindungan pada pohon, batu, dan sungai, maka semilir angin dan deru hujan akan berbalik menjadi perisai pelindung bagi manusia.

NYANYIAN GAJAH DAN AIR MATA REPONG

Sekembali dari Pulau Pisang, keindahan itu terenggut. Sebuah perusahaan kelapa sawit swasta telah menancapkan kukunya di Pesisir Barat melalui konsesi lahan yang cacat hukum moral. Mereka mulai merobohkan ribuan pohon damar matakucing yang telah ratusan tahun menjadi urat nadi kehidupan rakyat.

Di tahun 1995 itu, hutan damar rakyat (Repong Damar) di Lampung Barat adalah sistem agroforestri tradisional terpadat kedua di dunia setelah Brasil. Ia adalah paru-paru raksasa Sumatra. Namun, atas nama modernisasi yang serakah, para petani ditekan untuk menebang warisan leluhur mereka, menggantinya dengan monokultur sawit yang merusak struktur hara tanah dan mencekik siklus air. Akibat ekosida ini, kawanan gajah sumatra (Elephas maximus sumatranus) yang kehilangan jalur migrasi purbanya mulai merangsek masuk ke pemukiman warga karena kelaparan.

“Kita tidak boleh membiarkan hutan damar kita ditebang habis!” seru Kepala Desa Biha, Pak Mawardi, di hadapan warga yang berkumpul di balai desa. “Pohon-pohon ini warisan dari nenek moyang, saudara tua kita yang menjaga kampung. Kita harus bersatu pakai hukum adat untuk melawan mereka!“

Samara dan tiga sahabatnya menyingsingkan lengan baju. Selama sisa masa KKN, mereka membantu menyusun draf Advokasi Litigasi Adat. Habib merangkai analisis ekonomi-sosial, Subari menjaga garis depan dari intimidasi preman perusahaan, dan Ridho menguatkan mental warga dengan banyolan yang menenangkan.

Namun, duka alam harus diselesaikan dengan bahasa alam. Pada suatu malam yang buta ketika gerhana bulan parsial menggantung di langit, kawanan gajah kembali bergerak mendekati batas desa. Samara berjalan seorang diri menembus kabut hutan yang sunyi.

Menggunakan frekuensi gelombang Theta yang kini mengalir dalam darahnya, Samara berlutut di hadapan belantara. Ia menempelkan kedua telapak tangan telanjangnya ke atas permukaan tanah yang dingin. Ia menanggalkan keangkuhannya sebagai manusia, memosisikan diri sebagai anak bungsu yang memohon maaf atas ketamakan spesiesnya kepada sang saudara tua.
Melalui jejaring bawah tanah, Samara memancarkan gelombang kedamaian dan visualisasi peta navigasi langsung ke dalam kesadaran gajah pemimpin. Ia menunjukkan jalur migrasi alternatif kuno yang telah lama tertutup semak, namun aman dari kepungan pemukiman.
Gajah pemimpin itu berhenti. Belalainya terangkat ke udara malam, mengeluarkan suara lenguhan rendah yang menggetarkan dada Samara.

Raksasa rimba itu mengangguk, lalu memutar arah kawanannya kembali masuk ke dalam pelukan hutan terdalam Bukit Barisan. Satwa telah mendengarkan, karena manusia kali ini tidak datang membawa senapan untuk mengusir, melainkan membawa solusi ruang hidup yang adil.

MELENYAPNYA PARIT DIBAWAH HIDUNG

Masa bakti tiga bulan itu akhirnya usai. Benteng solidaritas berhasil dibangun, menyelamatkan sebagian besar Repong Damar di Desa Biha. Namun, realitas selalu menyisakan satir yang perih. Di penghujung hari kepulangan mereka, beberapa petani di batas luar desa akhirnya tetap menyerah, menandatangani pelepasan lahan karena silau oleh janji materi kelapa sawit.
Di dalam bus yang membawa mereka pulang kembali menuju Kota Bandar Lampung, Habib menyodorkan buku catatan berisi data kalkulasi ekonomi makro terbaru.
“Lihat ini, Sam. Ini data harga komoditas terbaru,” kata Habib sambil menunjuk angka-angka di kertas. “Harga sawit per kilogram di pasar sekarang malah jatuh sepuluh kali lipat lebih murah dibanding getah damar matakucing kita yang laku keras di luar negeri buat bahan kosmetik. Aneh sekali mereka, menukar sesuatu yang berharga demi janji instan yang malah merusak tanah sendiri.”

Samara menatap keluar jendela bus, memandang tajuk-tajuk pohon damar raksasa Bukit Barisan Selatan yang bergerak mundur dengan anggun dalam lambaian senja.
Di kaca jendela yang temaram, ia melihat pantulan wajahnya sendiri. Jantungnya berdesir lembut. Cekungan parit kecil yang berada di antara sekat hidung dan bibir atasnya kini telah sepenuhnya memudar. Kulit di bawah hidungnya kini tampak rata, polos, dan halus. Wajahnya tanpa filtrum. Ia telah kehilangan tanda fisik manusia modern, dan mendapatkan tanda kedewasaan spiritual sebagai bagian dari bangsa pelindung rimba yang pernah ditemuinya di Kampung Matu.

Samara tersenyum pada semilir angin yang menyelinap masuk lewat ventilasi bus. Ia tahu, ia tidak akan pernah berjalan sendirian lagi di atas bumi ini. Semesta alam, sang saudara tua dan Ibu Pertiwi, akan selalu mendekap langkahnya, selama ia terus mengalirkan manfaat dan menjaga mereka dalam setiap detak jantung hukum yang adil.

Syamsul Arief
Kontributor
Syamsul Arief
Hakim Agung Kamar Pidana

Untuk Mendapatkan Berita Terbaru Suara BSDK, Follow Channel WhatsApp: SUARABSDKMARI

Ekosentrisme hukum adat Ibu Pertiwi Kearifan Lokal Lampung Barat Repong Damar Samara dan Siluman Matu Syamsul Arief
Share. Facebook Twitter Threads Telegram WhatsApp Copy Link

Related Posts

Membuka Sosialisasi Perma Nomor 2 Tahun 2026, Wkma Bidang Yudisial Tekankan Independensi Hakim Harus Berjalan Bersama Akuntabilitas

4 September 2026 • 14:42 WIB

Plt. Kepala BSDK MA RI Sampaikan Laporan Penyelenggaraan Sosialisasi PERMA Nomor 2 Tahun 2026 di Bali

4 September 2026 • 13:29 WIB

Dari BSDK ke Mahkamah Agung, Syamsul Arief Bawa Pesan CADAS ke Babak Baru Pengabdian

2 September 2026 • 17:56 WIB
Leave A Reply


Demo
Top Posts

Menanam Nilai, Menjaga Masa Depan

1 September 2026 • 13:29 WIB

Sayap Patah dan Keadilan Yang Tersisa Bagi Elang

15 August 2026 • 14:32 WIB

Secangkir Cocopresso dari Seorang Yang Mulia

15 August 2026 • 12:22 WIB

Dari Monitoring Hingga Titik Nol: Sebuah Perjalanan Tentang Pengabdian

30 July 2026 • 15:00 WIB
Don't Miss

Samara dan Siluman Matu

By Syamsul Arief5 September 2026 • 14:08 WIB0

Sains dan puisi pada suatu hari yang sunyi, berjanji untuk bertemu di altar yang sama.…

Menelaah Subjek Kalimat dalam Bahasa Hukum

4 September 2026 • 17:53 WIB

Memperkuat Integritas dan Pengetahuan Hukum: PN Dataran Hunipopu Gelar Sosialisasi SEMA, PERMA, Hingga SK KMA Bersama Aparat Penegak Hukum

4 September 2026 • 14:46 WIB

Membuka Sosialisasi Perma Nomor 2 Tahun 2026, Wkma Bidang Yudisial Tekankan Independensi Hakim Harus Berjalan Bersama Akuntabilitas

4 September 2026 • 14:42 WIB
Stay In Touch
  • YouTube
  • TikTok
  • WhatsApp
  • Twitter
  • Instagram
Top Trending
Demo

Recent Posts

  • Samara dan Siluman Matu
  • Menelaah Subjek Kalimat dalam Bahasa Hukum
  • Memperkuat Integritas dan Pengetahuan Hukum: PN Dataran Hunipopu Gelar Sosialisasi SEMA, PERMA, Hingga SK KMA Bersama Aparat Penegak Hukum
  • Membuka Sosialisasi Perma Nomor 2 Tahun 2026, Wkma Bidang Yudisial Tekankan Independensi Hakim Harus Berjalan Bersama Akuntabilitas
  • Plt. Kepala BSDK MA RI Sampaikan Laporan Penyelenggaraan Sosialisasi PERMA Nomor 2 Tahun 2026 di Bali

Recent Comments

  1. Burhan on Dari Prajurit Hukum ke Mahkamah Agung: Letkol Chk Sudiyo Pesan ‘Menulis dan Menulislah’
  2. Vanimut on Ketua PTA Kepri Buka Pendampingan Monev KIP Tahun 2026
  3. Ekasari on BSDK MA Run 2026: 10 Kilometer Pelari CADAS, Berlari Bersama Menjaga Semangat Pengabdian dan Integritas
  4. Abdul Hafid PP PA Sleman on Alumni Bersuara dari PA Sleman : Diklat Panitera Pengganti Harus Update, Merata, dan Berbasis Praktik
  5. kumalasari on Di Mana Negara Menempatkan, Di Sana Pengabdian Dijalankan: Kisah PNS Non-Homebase Menemukan Arti Ketulusan di Tanah yang Jauh dari Rumah
Hubungi Kami

Badan Strategi Kebijakan dan Pendidikan dan Pelatihan Hukum dan Peradilan Hukum dan Peradilan
Mahkamah Agung RI

Kantor: Jl. Cikopo Selatan Desa Sukamaju, Kec. Megamendung
Bogor, Jawa Barat 16770

Kirimkan reportase berita, opini, features dan artikel lainnya ke email suarabsdk.com : 
redpelsuarabsdk@gmail.com

Telepon: (0251) 8249520, 8249522, 8249531, 8249539

Kategori
Beranda Artikel Berita Features Sosok KRITERIA TULISAN
Filsafat Roman Satire Video BALACADAS
Connect With Us
  • Instagram
  • YouTube
  • WhatsApp
Aplikasi Internal
Logo 1 Logo 2 Logo 3 Logo 3 Logo 5
Logo 4 Logo 4 Logo 4 Logo 5 Logo 5 Logo 5
Kontributor
  • Avatar photo Ahmad Junaedi
  • Avatar photo Mohammad Khairul Muqorobin
  • Avatar photo Irvan Mawardi
  • Avatar photo Aman
  • Avatar photo Cecep Mustafa
  • Avatar photo Khoiruddin Hasibuan
  • Avatar photo Muamar Azmar Mahmud Farig
  • Avatar photo Ari Gunawan
  • Avatar photo Yudhistira Ary Prabowo
  • Avatar photo Syailendra Anantya Prawira
  • Avatar photo Muhammad Rizqi Hengki
  • Avatar photo Ghesa Agnanto Hutomo
  • Avatar photo Agus Digdo Nugroho
  • Avatar photo Muhammad Adiguna Bimasakti
  • Avatar photo Timbul Bonardo Siahaan
  • Avatar photo Dahlan Suherlan
  • Avatar photo Syamsul Arief
  • Avatar photo Jatmiko Wirawan
  • Avatar photo Taufikurrahman
  • Avatar photo Cik Basir
  • Avatar photo Maria Fransiska Walintukan
  • Avatar photo Johanes
  • Avatar photo Syihabuddin
  • Avatar photo Unggul Senoaji
  • Avatar photo Zulfahmi
  • Avatar photo M. Natsir Asnawi
  • Avatar photo Adji Prakoso
  • Avatar photo Anton Ahmad Sogiri
  • Avatar photo Yoshito Siburian
  • Avatar photo Abdi Munawar Daeng Mangagang
  • Avatar photo Iqbal Lazuardi
  • Avatar photo Galang Adhe Sukma
  • Avatar photo Anisa Yustikaningtiyas
  • Avatar photo Harun Maulana
  • Avatar photo I Gusti Lanang Ngurah Sidemen Putra
  • Avatar photo Muhammad Hanif Ramadhan
  • Avatar photo Ahmad Syahrus Sikti
  • Avatar photo Eliyas Eko Setyo
  • Avatar photo Firzi Ramadhan
  • Avatar photo Jarkasih
  • Avatar photo Sriti Hesti Astiti
  • Avatar photo Sudiyo
  • Avatar photo Binsar Parlindungan Tampubolon
  • Avatar photo Layla Windy Puspita Sari
  • Avatar photo Marulam J Sembiring
  • Avatar photo Tri Indroyono
  • Avatar photo Letkol Chk Agustono, S.H., M.H.
  • Avatar photo Ardiansyah Iksaniyah Putra
  • Avatar photo Febby Fajrurrahman
  • Avatar photo Ganjar Prima Anggara
  • Avatar photo Garin Purna Sanjaya
  • Avatar photo Irene Cristna Silalahi
  • Avatar photo Marsudin Nainggolan
  • Avatar photo Maulana Aulia
  • Avatar photo Riki Perdana Raya Waruwu
  • Avatar photo Dr. Syofyan Iskandar, S.H., M.H.
  • Avatar photo Afifah Dwiandini
  • Avatar photo Itsnaatul Lathifah
  • Avatar photo Khoiriyah Roihan
  • Avatar photo Redaktur SuaraBSDK
  • Avatar photo Yasin Prasetia
  • Avatar photo Muhamad Zaky Albana
  • Avatar photo Audrey Kartika Putri
  • Avatar photo Bintoro Wisnu Prasojo, S.H.
  • Avatar photo Buang Yusuf
  • Avatar photo Fitriyel Hanif
  • Avatar photo Henri Setiawan
  • Avatar photo Irwan Rosady
  • Avatar photo K.G. Raegen
  • Avatar photo Rafi Muhammad Ave
  • Avatar photo Rangga Lukita Desnata
  • Avatar photo Rikatama Budiyantie
  • Avatar photo Siti Nadhiroh
  • Avatar photo Teguh Setiyawan
  • Avatar photo Abdul Azis Ali Ramdlani
  • Avatar photo Achmad Fikri Oslami
  • Avatar photo Ahmad Fuad Noor Ghufron
  • Avatar photo Achmad Nurul Huda
  • Avatar photo Anggi Permana
  • Avatar photo Ang Rijal Amin
  • Avatar photo Cok Istri Bhagawanthi Pemayun
  • Avatar photo Dedi Putra
  • Avatar photo Dewi Maharati
  • Avatar photo Gerry Michael Purba
  • Avatar photo Herjuna Praba Wiesesa
  • Avatar photo Hermanto
  • Avatar photo Indarka PP
  • Avatar photo Muhamad Fadillah
  • Avatar photo Nugraha Medica Prakasa
  • Avatar photo Ria Marsella
  • Avatar photo Sahram
  • Avatar photo Saut Erwin Hartono A. Munthe
  • Avatar photo Silveria Supanti
  • Avatar photo Sugiarto
  • Avatar photo Yusuf Sodhiqin
  • Avatar photo Achmad Pratomo
  • Avatar photo Ahmad Faiz Shobir Alfikri
  • Avatar photo Andro Riski Pradipta
  • Avatar photo Arie Fitriansyah
  • Avatar photo Bismo Jiwo Agung
  • Avatar photo Epri Wahyudi
  • Avatar photo Fajar Widodo
  • Avatar photo Fariz Prasetyo Aji
  • Avatar photo Fauzan Arrasyid
  • Avatar photo Fauzia Rohmah
  • Avatar photo Febry Indra Gunawan Sitorus
  • Avatar photo Gerry Geovant Supranata Kaban
  • Avatar photo Mardi Candra
  • Avatar photo Muhammad Irfan Syahputra
  • Avatar photo Muhammad Amin Putra
  • Avatar photo Niko Wijaya
  • Avatar photo Putra Nova A.S
  • Avatar photo Rizal Arif Fitria
  • Avatar photo Sadana
  • Avatar photo Trisoko Sugeng Sulistyo
  • Avatar photo Umar Dani
  • Avatar photo Abdul Hadi
  • Avatar photo Abiandri Fikri Akbar
  • Avatar photo Abi Zaky Azizi
  • Avatar photo Dr. H. Achmad Setyo Pudjoharsoyo., SH., M.Hum
  • Avatar photo Adimas Leo Firmansah
  • Avatar photo Agenda Citra Muhammad
  • Avatar photo Andi Akram
  • Avatar photo Arsyawal
  • Avatar photo Aulia Rochmani Lazuardi
  • Avatar photo Bagus Partha Wijaya
  • Avatar photo Bagus Sujatmiko
  • Avatar photo Bayu Akbar Wicaksono
  • Avatar photo Chandra Khoirunnas
  • Avatar photo Cuhandi
  • Avatar photo David Pasaribu
  • Avatar photo Dendi Sutiyoso
  • Avatar photo Dhea Sutaryana
  • Avatar photo Edi Hudiata
  • Avatar photo Enrico Simanjuntak
  • Avatar photo Fauzan Prasetya
  • Avatar photo Fauziah Rahmah
  • Ferdian Permadi
  • Avatar photo Fery Rochmad Ramadhan
  • Avatar photo Hartanto Ariesyandi
  • Avatar photo Idik Saeful Bahri
  • Avatar photo Karell Mawla Ibnu Kamali
  • Avatar photo Khalilurrahman
  • Avatar photo Khoirul Anwar
  • Avatar photo Mentari Wahyudihati
  • Avatar photo Muhamad Ridwan
  • Avatar photo Muhamad Iqbal
  • Avatar photo Nia Chasanah
  • Avatar photo Novritsar Hasintongan Pakpahan
  • Avatar photo Nugraha Wisnu Wijaya
  • Avatar photo Raden Anggara Kurniawan
  • Avatar photo Raden Heru Wibowo Sukaten
  • Avatar photo Rahimulhuda Rizki Alwi
  • Avatar photo Rahmad Ramadhan Hasibuan
  • Avatar photo Ranggi Adiwangsa Yusron
  • Avatar photo Muhammad Rijaldy Alwy
  • Avatar photo Rohim
  • Avatar photo Samsul Zakaria
  • Avatar photo Satria Perdana
  • Avatar photo Tri Cahya Indra Permana
  • Avatar photo Wilmar Ibni Rusydan
  • Avatar photo Yudhi Reksa Perdana
  • Avatar photo Abdul Ghani
  • Avatar photo Ach. Jufri
  • Avatar photo Afif Muchshon
  • Avatar photo Agus Suharsono
  • Avatar photo Ahmad Efendi
  • Avatar photo Ahmad Hodri
  • Avatar photo Ahmad Rizza Habibi
  • Avatar photo Aidil Akbar
  • Avatar photo Alep Priyoambodo
  • Avatar photo Alfajar Nugraha
  • Avatar photo Anderson Peruzzi Simanjuntak
  • Avatar photo Andhika Prayoga
  • Avatar photo Andi Muhammad Galib
  • Avatar photo Andi Aswandi Tashar
  • Avatar photo Andrie Gunawan
  • Avatar photo Anna Yulina
  • Avatar photo Annisa Nur Alam
  • Avatar photo Arga Febrian
  • Avatar photo Arief Sapto Nugroho
  • Avatar photo Mayor Chk Arif Dwi Prasetyo
  • Avatar photo Armansyah
  • Avatar photo Aryaniek Andayani
  • Avatar photo Ashhab Triono
  • Avatar photo Bella Puspitawati
  • Avatar photo Bilma Diffika
  • Avatar photo Bony Daniel
  • Avatar photo Budi Hermanto
  • Avatar photo Budi Suhariyanto
  • Avatar photo Chandra
  • Avatar photo Christopher Hutapea
  • Avatar photo Daniel H. Napitupulu
  • Dedi Wigandi
  • Avatar photo Deka Rachman Budihanto
  • Avatar photo Eddy Sembiring
  • Avatar photo Effendi Mukhtar
  • Avatar photo Egia Rasido Tarigan
  • Avatar photo Eka Sentausa
  • Avatar photo Enos Syahputra Sipahutar, S.H., M.H.
  • Avatar photo Dr. Fahmiron
  • Avatar photo Fahri Bachmid
  • Avatar photo Fahri Gunawan Siagian
  • Avatar photo Fahri Soleh
  • Avatar photo Fakhir Tashin Baaj
  • Avatar photo Fatkul Mujib, S.H.I., M.H.
  • Avatar photo Dr. Fauziati, S.Ag., M.Ag
  • Avatar photo Febriansyah Rozarius
  • Avatar photo Friska Ariesta Aritedi
  • Avatar photo Gineng Pratidina
  • Avatar photo Peltu Hartono
  • Avatar photo Hastuti
  • Avatar photo Hendro Yatmoko
  • Avatar photo Ibnu Abas Ali
  • Avatar photo I Made Sukadana
  • Indra Tua Hasangapon Harahap
  • Avatar photo Ira Soniawati
  • Avatar photo Irfan Dibar
  • Avatar photo Muhammad Irfansyah
  • Avatar photo Letkol Kum Irwan Tasri, S.H., M.H., M.Han.
  • Avatar photo Iwan Lamganda Manalu
  • Avatar photo Jerymia Seky Tanaem
  • Avatar photo Jusran Ipandi
  • Avatar photo Khaimi
  • Avatar photo Khoerul Umam
  • Avatar photo Linora Rohayu
  • Avatar photo Made Passek Reza Swandira
  • Avatar photo Marta Satria Putra
  • Avatar photo Marwan Ibrahim Piinga
  • Avatar photo Marwanto
  • Avatar photo Marzha Tweedo Dikky Paraanugrah
  • Avatar photo Maulia Martwenty Ine
  • Avatar photo Mira Maulidar
  • Avatar photo Misbah S.T., M.Eng.
  • Avatar photo Misbahul Anwar
  • Avatar photo Muhamad Ilham Azizul Haq
  • Avatar photo Muhamad Saptari
  • Avatar photo Muhammad Fadllullah
  • Avatar photo Muhammad Muhyi Arrasyid, S.Psi.
  • Avatar photo Muhammad Bagus Tri Prasetyo
  • Avatar photo Muhammad Yusuf
  • Avatar photo Muhammad Zuchri Nasuha Lubis
  • Avatar photo Murdian
  • Avatar photo Nadia Yurisa Adila
  • Avatar photo Nisrina Irbah Sati
  • Avatar photo Letkol CHK Nur Sakdi, S.H, M.H.
  • Avatar photo Nur Latifah Hanum
  • Avatar photo Pandu Pradana Wicaksono, S.H.
  • Avatar photo Pita Permatasari
  • Avatar photo H .A.S Pudjoharsoyo
  • Avatar photo Putri Pebrianti
  • Avatar photo R. Deddy Harryanto
  • Avatar photo Radityo Muhammad Harseno
  • Avatar photo Rahmi Fattah
  • Avatar photo Randy Viyatadhika
  • Avatar photo Ratih Gumilang
  • Avatar photo Reindra Jasper H. Sinaga, S.H. Hakim Pengadilan Negeri Tanjung Balai Karimun
  • Avatar photo Muh Ridha Hakim
  • Avatar photo Rifqi Qowiyul Iman
  • Avatar photo Rizal Abdurrahman
  • Avatar photo Romi Hardhika
  • Avatar photo Sandro Imanuel Sijabat
  • Avatar photo Sbong Sinarok Martin, S.H., M.H.
  • Avatar photo Selexta Apriliani
  • Avatar photo Septia Putri Riko
  • Avatar photo Septriono Situmorang
  • Avatar photo Siti Anis
  • Avatar photo Slamet Turhamun
  • Avatar photo Sobandi
  • Avatar photo Stefanus Dwi Putra Medisa
  • Avatar photo Subiyatno
  • Avatar photo Teddy Lahati
  • Avatar photo Tri Baginda Kaisar Abdul Gafur
  • Avatar photo Urif Syarifudin
  • Avatar photo Wahyu Budi Santoso
  • Avatar photo Wanda Rara Farezha,S.H.
  • Avatar photo Wienda Kresnantyo
  • Avatar photo Willsa Suharyadi
  • Avatar photo Yoshelsa Wardhana
  • Avatar photo Yukiatiqa Afifah
  • Avatar photo Marsekal Muda TNI Dr. Yuwono Agung Nugroho, S.H., M.H.
  • Avatar photo Zidny Taqiyya
Lihat semua kontributor →

Type above and press Enter to search. Press Esc to cancel.