Semua marah pada semua. Itu suasana republik hari ini. Kemarahan memang tidak perlu diorkestrasi. Semua ingin didengar, semua berlomba sahut-sahutan. Hasilnya adalah cacophony, sekadar hiruk-pikuk.
Marah ke segala arah artinya marah tanpa arah. Kita tonton kedunguan ini setiap hari: di talkshow, di podcast, di demo. Tayangannya beragam, dari ngomel sampai ngamuk. Tapi kualitasnya sama: tanpa argumen.
Defisit dalam logika, surplus dalam retorika. Argumen tumpul, sentimen tajam. Pro kekuasaan tanpa dasar, anti kekuasaan tanpa ide. Dua pihak berhadap-hadapan seolah-olah sedang bertempur “demi sesuatu yang belum”. Dan memang belum ada.
Seminggu lalu saya masih ngopi (sambil diskusi tentang arah sosialisme Indonesia) dengan Angga dan Didik. Angga nyeletuk, “abang baca buku matematik?” Saat itu saya memang lagi baca buku “mathematics-mechanics” untuk mencari ide tentang konsep “arah” dan “gerak”. Saya menemukan definisinya: dalam ilmu fisika dibedakan antara “velocity” dan “speed” (dalam bahasa Indonesia, dua istilah itu diterjemahkan “kecepatan”).
“Velocity” adalah kecepatan benda sekaligus arah geraknya, sedangkan “speed” hanya menunjukkan “kecepatan”. “Velocity” adalah konsep perpindahan: “dari-ke” (bila boleh, saya sebut hijrah?) sedangkan “speed” berakibat “jalan di tempat” (saya harus sebut poco-poco).
Politik bisa dijelaskan juga dengan konsep fisika. Hiruk-pikuk tanpa arah yang hari-hari ini memberondong ruang publik, adalah hasil kecepatan jari di atas tombol ponsel para komentator. Politik jadi sekedar soal “speed”, tanpa arah, cuma gerak poco-poco jari yang dituntun kemarahan, hasil provokasi algoritma kedunguan.
Pertanyaannya: kedunguan jenis apa yang membawa negeri ini sekedar berlomba bising tanpa arah? Perhatikan isi WAG yang penuh sentimen tapi kosong argumen. Tonton talkshow yang ribut demi rating, dan narasumber tanpa ide. Ikuti “Threads”, tanpa jarum, yang membawa Anda pada permusuhan konyol. Ini negeri didirikan dengan argumen pedagogis, tapi berakhir di forum-forum demagogis.
Republik adalah sebuah ide yang masih berlangsung. Imajinasinya dibuat dalam harapan, bahwa setiap warga bertanggung jawab terhadap “kehidupan bersama”. Keadilan tumbuh dari etos itu. Artinya ada yang bernilai untuk disepakati dan dikehendaki. Arah negeri disepakati dalam konstitusi: “keadilan sosial bagi seluruh rakyat”. Ini adalah kehendak ideologis: bahwa politik harus menghasilkan kesetaraan warga negara, dan ekonomi harus berbuah kemakmuran bersama. Dari awal, republik telah diberi “velocity” ideologis: sosialisme.
Narasi itu sedang tumbuh, dan Angga ada dalam pemihakan ideologis itu. Buku yang kami tulis itu “Marhaen, dalil baru bagi Genz” adalah postulat kehendak untuk mengaktifkan politik ideologis, terutama bagi GenZ yang hari-hari ini sekedar bergerak dalam mekanika “speed”, tanpa konsep “velocity”.
Hari-hari ini, psikologi Hobbesian menguasai semua upacara politik: berharap ada seseorang yang akan menolong orang banyak. Kepasrahan dan ketidakpastian mendorong politik menjadi anomi. “State of nature” republik hari ini adalah takut pada “kemerdekaan pikiran sendiri”, lalu bergerombol mencari “figur penyelamat”. Dalam kondisi inilah para demagog muncul di semua panggung.
Politik adalah aktivitas pedagogi, yaitu upaya mengembalikan akal sebagai penuntun percakapan publik. Tanpa kondisi argumentatif, psikologi Hobbesian itu bisa mengundang tibanya sang Leviathan.
Kondisi tanpa akal juga menjadi ciri kalangan akademis yang sekedar bergerak tanpa “velocity”. Mereka dicukupkan sekedar sebagai alat ukur politik, dan dimaksudkan hanya untuk diperalat. Sementara yang memperalat, juga tak paham tujuan dia memperalat. Tanpa ideologi, kritik itu tak mampu memberi arah.
Politik adalah “audacity of hope”. Tekanannya pada “kenekatan”, bukan pada “harapan”. “Audacity” mengandalkan “ontology of the not yet”, bahwa “yang belum” itu ada, bukan tidak ada. Karena itu, setiap tindakan politik adalah untuk “mengatasi” yang ada, bukan sekedar melawannya, apalagi sekedar membayanginya. Ideologi bekerja dalam logika itu, mengarahkan perubahan.
Ideologi adalah peta psikologi. Dalam sistem keyakinan individual, ia memproyeksikan kode moral untuk diletakkan pada “yang belum”. Dengan cara itu politik dihasilkan. Ideal ini, melalui proses sejarah, membentuk kesadaran kolektif: tentang harapan, arah perjuangan dan pesan masa lalu.
Tanpa ideologi, politik cuma jadi kandang serigala yang menunggu titah Leviathan. Kaum intelektual adalah mereka yang membawa ideologi menerobos tabu eskatologi: “yang belum” harus ada. Itulah “peristiwa politik”.
Tak ada yang final dalam perjuangan politik: selalu ada “yang belum”. Ideologi memberi arah pada “yang belum”. Dalam politik ia tumbuh jadi kesadaran kolektif.
Sosialisme adalah sejarah yang sedang ditulis, dalam kecepatan dan arah. Psikologi Hobbesian tak akan terjadi bila harapan tentang “yang belum” masih terpelihara di kalangan intelektual.
Dan harapan menuntut gerakan. Dengan itu, kita batalkan titah Leviathan.
Untuk Mendapatkan Berita Terbaru Suara BSDK, Follow Channel WhatsApp: SUARABSDKMARI


