Close Menu
Suara BSDKSuara BSDK
  • Beranda
  • Artikel
  • Berita
  • Features
  • Sosok
  • Filsafat
  • Roman
  • Satire
  • Video
  • Liputan Khusus

Subscribe to Updates

Get the latest creative news from FooBar about art, design and business.

What's Hot

Evolusi Hukum Keluarga Indonesia: Refleksi Atas Putusan Mahkamah Konstitusi

September 16, 2026

Menelusuri Jejak Uang: Dari Data Intelijen Keuangan hingga Pembuktian di Persidangan

September 16, 2026

Memutus Aliran Dana Kejahatan: 25 Hakim Perdalam Penanganan Perkara TPPU di Depok

September 16, 2026
Instagram YouTube
Suara BSDKSuara BSDK
Deskripsi Gambar
  • Beranda
  • Artikel
  • Berita
  • Features
  • Sosok
  • Filsafat
  • Roman
  • Satire
  • Video
  • Liputan Khusus
Suara BSDKSuara BSDK
Deskripsi Gambar
  • Beranda
  • Artikel
  • Berita
  • Features
  • Sosok
  • Filsafat
  • Roman
  • Satire
  • Video
  • Liputan Khusus
Home » Mengakrabi Laut dari Tragedi, Fiksi, hingga Mistikisme

Mengakrabi Laut dari Tragedi, Fiksi, hingga Mistikisme

Indarka PPIndarka PPNovember 18, 20259 Mins ReadNo Comments
Share
Facebook Twitter Threads Telegram WhatsApp

Kuda-kuda, ratusan jumlahnya, seperti berlarian di dasar dada saya. Kepanikan membuat jantung saya terpompa kelewat buru-buru.

Dan semua perlahan mulai lindap. Sisa napas seolah sia-sia belaka.

Syukur, ketidakberdayaan masih bernasib mujur. Tangan kanan saya berhasil meraih ban karet yang entah datangnya. Sekonyong-konyong tarikan Ibu menyeret tubuh kecil saya ke darat, lalu ditelentangkan di atas pasir di bibir pantai.

Sebuah pengalaman pahit, lagi menakutkan. Andai tidak ada ban karet, bisa jadi tamasya saya kebablasan hingga ke alam baka. Pada masa itu, saya berusia tujuh tahun. Sebagai ingusan kampung yang sedang tamasya ke Jakarta, betapa senang ketika Paman membawa kami sekeluarga jalan-jalan ke Pantai Ancol, meski akhirnya nyaris mati konyol.

Ancol adalah wahana air pertama di tengah rasa ketertarikan saya perihal bagaimana cara berenang. Arkian, atas kejadian nahas itu, saya seperti dikutuk tak bisa berenang sampai sekarang.

Sekembalinya ke kampung, bertahun-tahun tak pernah saya datangi laut mana pun, meski terbilang dekat dengan pesisir pantai selatan. Kunjungan saya ke laut barulah terjadi di masa kuliah, tiga belas tahun setelah peristiwa itu. Akan tetapi, toh dewasa berserta sempalan-sempalannya memang muskil dihindari. Usai lolos seleksi pegawai negeri, tak cuma mengunjungi, bahkan saya harus mengakrabi laut. Sebagai misal, di Mamuju, jarak gedung kantor dengan bibir laut tak kurang dari 150 meter. Bila menyusuri jalan arteri, sepanjang 5 kilometer pendengaran saya akan jelas menangkap debur-debur ombak, sebab jarak antara jalan arteri dengan laut terpisah 15 meter saja.

Bagi ukuran saya, geografis tersebut sudah cukup mendeskripsikan betapa intimnya saya dan laut.

Saya berziarah ke ingatan bulan-bulan awal di sana, yaitu ketika Mamuju diguncang gempa berkekuatan 5.8 SR dengan kedalaman 10 kilometer pada 22 Juni 2022. Orang-orang sekitar masih diliputi trauma gempa 6.2 SR yang terjadi setahun lalu. Sebab itulah manakala gempa datang lagi, suasana di kota bagai pasir yang diayak-ayak. Tunggang-langgang mereka lari mencari tempat aman di atas bukit.

Kecuali kami, orang-orang kantor.

Sesudah guncangan mereda, Ketua PA Mamuju langsung memberi instruksi untuk mendirikan tenda darurat di halaman, lalu meminta para pegawai bermalam bersama di tenda itu demi berjaga-jaga terhadap gempa susulan. Klerek-klerek macam kami ini sudah galibnya menurut saja. Tatkala malam tiba, saya berbincang-bincang dengan Taslim, seorang kawan sesama pegawai. Dasar dia gemar berkelakar, saya baru ngeh situasi ketika dia bilang begini, “Biar mi orang-orang naik ke bukit, kita di sini saja menunggu tsunami datang.” Lalu tawa pecah di antara kami.

Tidak salah juga, sebab kalau dipikir-pikir 150 meter bukanlah jarak yang sulit bagi gelombang laut untuk menjilat tenda darurat kebanggan kami.

Berlayar dan Harga Diri

Waktu pun terpelesat. Hari-hari sudah itu, semua kekhawatiran tidak pernah terjadi. Saya tetap menikmati apa pun yang tersedia di Mamuju: bekas reruntuhan gempa, mal yang rusak, gedung-gedung retak, sampai festival perahu sandeq.

Nenek moyangku orang pelaut

Gemar mengarung luas samudera

Menerjang ombak tiada takut

Menempuh badai sudah biasa

Angin bertiup layar terkembang

Ombak berdebur di tepi pantai

Pemuda berani bangkit sekarang

Ke laut kita beramai-ramai

Di Provinsi Sulawesi Barat, setiap tahun rutin diadakan festival perahu sandeq. Kiranya lagu gubahan Ibu Sud di atas layak diketengahkan sebagai mukadimahnya. Lagu yang melempar kita pada akar bahari nusantara. Sandeq adalah perahu tradisional suku Mandar, suku pesisir wilayah Sulawesi Barat. Dalam khazanah, suku Mandar masyhur sebagai pelaut andal.

Pada tahun 2023 lalu, sebanyak 36 perahu sandeq berlomba menyusuri laut dan ombak menggunakan perahu-perahu kayu berpenggerak layar, bukan mesin. Rutenya ditaksir sepanjang 700 kilometer, dengan titik berangkat dari Pasangkayu, lalu Mamuju, Majene, dan berakhir di Polewali Mandar.

Tidak ada alasan bagi saya untuk tidak takjub. Meski hanya festival dan bersifat insidentil, barang tentu tradisi perahu sandeq menjaga ingatan tentang muasal moyang kita yang sudah kawin-mawin dengan bahari. Ekspedisi maritim zaman lampau tak terbatas pada urusan ikan-ikan, melainkan rihlah hidup menuju suaka baru. Bahkan, tidak berlebihan pula kalau kita mengamini ketangguhan berlaut para moyang yang menyentuh hal-ihwal muruah serta harga diri.

Baca Juga  Urgensi Perubahan Panggilan Umum pada Perkara Perceraian

Laut dalam Dunia Rekaan

Sejenak boleh kita tinggalkan alam nyata, berganti membincang laut dalam semesta fiksi.

Herman Melville, penulis asal Amerika Serikat, terpaksa melaut demi bertahan hidup setelah kematian ayahnya. Merville menulis novela Moby Dick pada tahun 1950-1951. Roman itu berkisah perjalanan tokoh Ishmael bergabung bersama kapal pencari ikan paus yang dipimpin Kapten Ahab.

Melville mengemas cerita secara padat namun kaya konflik. Selain tantangan alam, Ishmael juga harus berhadapan dengan karakter-karakter kru kapal yang mulai menyadari obsesi gila bosnya. Kapten Ahab telah kehilangan satu kaki, sehingga ia memakai kayu sebagai gantinya.

Berbulan-bulan kapal itu berlayar, dan tangkapan paus sudah pula mencapai target. Namun Kapten Ahab bersikeras untuk terus berlayar mencari paus putih yang ia namai Moby Dick. Akhirnya Ishmael tahu bahwa keinginan itu berasal dari bara dendam Kapten Ahab terhadap paus putih dalam pertempuran lama mereka yang telah membuat kaki sang kapten lenyap. Celakanya, perjuangan itu mau tidak mau menyebabkan nyawa kru kapal tidak lagi berharga.

Berjalan waktu keadaan kian bancuh dan genting. Momen pertarungan Kapten Ahab melawan Moby Dick bakal diingat Ishmael sepanjang hidupnya. Belasan tombak yang tertancap di tubuh binatang itu mengubah laut berkubang merah. Tapi Moby Dick tetap gigih melawan. Ia seolah paham kepada siapa amarahnya harus dialamatkan. Dan akhirnya semuanya berakhir ketika temali tombak melilit leher Kapten Ahab. Paus putih membawa jasad sang kapten ke kuburan di dasar samudera.

Jika Herman Melville memotret laut dari sudut pandang sifat manusia tamak, maka dua tahun sesudahnya yakni 1953, Ernest Hemingway merekam perjuangan dari seorang lelaki tua.

Dalam novel The Old Man and The Sea, tokoh Santiago adalah nelayan tua yang menyedihkan. Ia menanggung cemooh dari orang-orang karena selama delapan puluh empat hari melaut tak satu pun ikan berhasil dibawa pulang. Mulanya ekspedisi ikan itu ditemani Manolin. Namun setelah puluhan hari tak mampu menangkap seekor pun ikan, orang tua Manolin melarangnya membantu Santiago.

Pertarungan Santiago hingga hari ke delapan puluh empat hanyalah dengan dirinya sendiri. Di atas kapal di tengah laut lepas, Hemingway membingkai perilaku Pak Tua yang gigih. Sehari berselang kailnya disambar mangsa. Yang tak sempat disangka oleh Santiago, perihal apa yang kini tersangkut di kail. Seekor marlin raksasa berukuran melebihi kapalnya.

Pak Tua tetap berusaha keras berhari-hari menarik marlin itu. Sesekali justru kapalnya-lah yang terseret marlin. Pada ujung waktu ketika marlin mulai menyerah, masalah baru muncul dari hiu-hiu yang menggerogoti tubuh ikan marlin.

Santiago tugur dan bekerja kerasa untuk membawa pulang kehormatannya. Anggapan buruk orang-orang terhadapnya ingin dibayar lunas tak berbekas.“Seluruh tubuhnya tampak tua, kecuali sepasang matanya yang warnanya bagai laut serta cerah dan tak kenal menyerah (hlm. 2).”

Tekad yang ulet dalam diri Pak Tua Santiago sukses menggugah pembaca. Dan apa yang akhirnya terjadi di penghujung novel? Ya, begitu Santiago berhasil menepi, monster marlin itu hanya tersisa tulang-belulang. Perjalanan pulang yang melelahkan membuat tubuh marlin raib.

Membaca Moby Dick adalah membaca watak serakah manusia. Di mana eksploitasi menjadi satu-satunya motif industri alam bahari. Kita mengenal Kapten Ahab sebagai pemimpin orotiter bagi anak buahnya, yang tidak menganggap penting nasib mereka sama sekali. Sikap demikian toh berakibat pada kehancuran dirinya sendiri, yaitu kematian.

Sedangkan dalam diri Santiago, Ernest Hemingway melalui The Old Man and The Seaingin menunjukkan sosok yang kesatria, yang berjuang sampai titik penghabisan meski harus dilandasi krisis percaya diri dan demi pemulihan martabat. Sekalipun ikan marlin yang ditangkap Santiago sudah tak wujud utuh lagi, namun rangka belulangnya telah membuat orang-orang takjub.

Baca Juga  Ekstradisi dalam Negara Hukum: Menjaga Keadilan Prosedural dan Kedaulatan Hukum Nasional

Secara teoretis saya tak paham landasannya, namun secara praktik, pembacaan terhadap fiksi seringkali menimbulkan sebuah ‘gangguan’ mendalam. Refleksi atas novela Moby Dick dan novel The Old Man and The Seadi atas setidaknya contoh sederhana yang mampu saya tulis tentang laut dan sejumlah hal yang bersinggungan dengannya.

Rob di Pantura

Saya pernah begitu dekat dengan laut bukan sebatas harfiah. Sering kali saya dan istri saya pergi sekadar duduk-duduk di pinggir jalan arteri memandangi lautan. Kami berbincang tentang hari itu, atau tentang hari kemarin atau selumbari yang belum selesai dibicarakan.

Tetapi ketika saya harus meninggalkan Mamuju untuk pindah ke Semarang, tidak ada lagi ingatan-ingatan baru perihal laut kecuali banjir rob. Daerah terawan terkena rob adalah jalur pantura Semarang-Demak, persisnya di Kecamatan Sayung.

Penurunan muka tanah yang ekstreme berakibat mudahnya wilayah itu terkena banjir rob. Menurut data, dalam kurun sepuluh tahun (2010-2021), tanah di wilayah pantura mengalami penurunan lebih cepat hingga 9 kali lipat dibanding tingkat kenaikan permukaan laut global. Di Jakarta, misalnya, penurunan muka tanah berkisar antara 1-28 cm per tahun, Semarang sendiri menunjukkan angka 14-19 cm per tahun.[1]

Kendati tak ada rencana untuk menetap di Jakarta, saya selalu jeri mengingat penelitian Nature Communications dan LIPI (sekarang BRIN) yang mengatakan Jakarta bakal tenggelam di tahun 2050 mendatang.

Dalam artikel yang sama, masalah rob di pesisir pantura ini sudah mendapat perhatian serius pemerintah pusat. Presiden Prabowo menegaskan untuk memulai megaproyek Giant Sea Wall. Tanggul raksasa itu sedianya dibangun membentang sepanjang 500 kilometer dari Tangerang (Banten) hingga Gresik (Jawa Timur). Upaya pemerintah mesti diapresiasi, tentu saja. Walakin tidak membendung masukan-masukan dari unsur lain yang lebih merekomendasikan resolusi berbasis alam, seperti konservasi ekosistem mangrove.

Warga Magunharjo, Kecamatan Tugu, Kota Semarang, membentuk Kelompok Mangrove Lestari untuk pelestarian mangrove berbasis komunitas. Inisiasi dimulai oleh sepasang suami-istri yang sehari-hari bekerja sebagai petambak dan pencari kepiting. Kesadaran adiluhung itu dilatarbelakangi kekhawatiran sepele, sebatas tidak mau garis pantai terus-terusan mendekat ke kampung mereka, yang pada waktunya bisa menyebabkan banjir rob.[2]

Dan, begitulah hari-hari saya di Semarang. Kalau cuaca terik, perpaduan antara lokasi gedung kantor yang berada persis di pinggir jalur pantura dengan deru truk logistik bermuatan besar, saya merasa kecipratan tulah lahar sangking panas dan semerawut. Kalau cuaca hujan, bercurah sedang, lebih-lebih berlangsung lama, di beberapa titik sudah pasti tergenang banjir.

Mistikisme Bahari

Sebelum mencukupkan tulisan ini, saya mengingat pembacaan saya terhadap cerpen Sebatang Aren Sebatang Kara karya YM. Syamsul Arief. Takhayul itu memang masih diyakini banyak orang. Di lain sisi, siasat moyang seakan tak habis akal, demi sebatas memastikan alam tetap autentik dan lestari adanya.

Usai mengikuti kisah Kara, syahdan mengetik tulisan ini, saya merasai pelita muncul dalam kepala saya, walau temaram. Jika kelak pelita itu toh akhirnya padam, saya sungguh berharap ingatan-ingatan bahari saya tetap terjaga. Mulai peristiwa hampir mati di Pantai Ancol, menyaksikan perahu-perahu sandeq suku Mandar yang gagah berlayar, mengingat kecamuk Kapten Ahab dan Pak Tua Santiago di belantara laut, banjir rob di jalur pantura, hingga para jin penunggu alam: jin pohon aren BSDK, Nyi Roro Kidul di pantai selatan, dan Dewi Lanjar di sepanjang pantai utara.

Arkian, untuk urusan jaga-menjaga ekosistem, satu-dua kali, yang wujud bahkan perlu dibantu-ingatkan oleh mereka yang gaib.


[1] Seftyana Khairunisa, “Ambisi Pembangunan Giant Sea Wall di Pantura dan Dampak Yang Harus Diantisipasi”, Green Network, 30 Juni 2025, https://greennetwork.id/gna-knowledge-hub/ambisi-pembangunan-giant-sea-wall-di-pantura-dan-dampak-yang-harus-diantisipasi/ (diakses pada 14 November 2025).

[2] Balqis Anindita Jawza Quraisy, “Menengok Inisiatif Restorasi dan Pelestarian Mangrove berbasis Komunitas di Semarang”, Green Network, 8 September 2025, https://greennetwork.id/gna-knowledge-hub/menengok-inisiatif-restorasi-dan-pelestarian-mangrove-berbasis-komunitas-di-semarang/ (diakses pada 13 November 2025).

Indarka PP
Kontributor
Indarka PP
Hakim Pengadilan Agama Tanah Grogot

Untuk Mendapatkan Berita Terbaru Suara BSDK, Follow Channel WhatsApp: SUARABSDKMARI

artikel mangrove
Share. Facebook Twitter Threads Telegram WhatsApp Copy Link

Related Posts

Evolusi Hukum Keluarga Indonesia: Refleksi Atas Putusan Mahkamah Konstitusi

September 16, 2026

Senja di Losari dengan Secangkir Saraba dan Sepiring Pisang Epe

September 16, 2026

Meredefinisi Peran Ahli Hukum dalam Persidangan Perkara Pidana

September 16, 2026
Leave A Reply


Demo
Top Posts

Senja di Losari dengan Secangkir Saraba dan Sepiring Pisang Epe

September 16, 2026

Siasat Tiada Henti Penjaga Keadilan

September 13, 20261,403 Views

Titah Leviathan

September 11, 2026

Di Balik Tradisi ‘Mohon Izin’: Meneguhkan Etika dan Jati Diri Prajurit pada HUT ke-81 TNI AL

September 10, 2026
Don't Miss

Evolusi Hukum Keluarga Indonesia: Refleksi Atas Putusan Mahkamah Konstitusi

By Sri Nurmina Sari, S.HSeptember 16, 20260

PENDAHULUAN Salah satu adagium hukum yang pertama kali diperkenalkan pada telinga penulis saat menjadi mahasiswa…

Menelusuri Jejak Uang: Dari Data Intelijen Keuangan hingga Pembuktian di Persidangan

September 16, 2026

Memutus Aliran Dana Kejahatan: 25 Hakim Perdalam Penanganan Perkara TPPU di Depok

September 16, 2026

Senja di Losari dengan Secangkir Saraba dan Sepiring Pisang Epe

September 16, 2026
Stay In Touch
  • YouTube
  • TikTok
  • WhatsApp
  • Twitter
  • Instagram
Top Trending
Demo

Recent Posts

  • Evolusi Hukum Keluarga Indonesia: Refleksi Atas Putusan Mahkamah Konstitusi
  • Menelusuri Jejak Uang: Dari Data Intelijen Keuangan hingga Pembuktian di Persidangan
  • Memutus Aliran Dana Kejahatan: 25 Hakim Perdalam Penanganan Perkara TPPU di Depok
  • Senja di Losari dengan Secangkir Saraba dan Sepiring Pisang Epe
  • Meredefinisi Peran Ahli Hukum dalam Persidangan Perkara Pidana

Recent Comments

  1. Masjudul Haq on Siasat Tiada Henti Penjaga Keadilan
  2. Ahmad Satiri on Siasat Tiada Henti Penjaga Keadilan
  3. Burhan on Dari Prajurit Hukum ke Mahkamah Agung: Letkol Chk Sudiyo Pesan ‘Menulis dan Menulislah’
  4. Vanimut on Ketua PTA Kepri Buka Pendampingan Monev KIP Tahun 2026
  5. Ekasari on BSDK MA Run 2026: 10 Kilometer Pelari CADAS, Berlari Bersama Menjaga Semangat Pengabdian dan Integritas
Hubungi Kami

Badan Strategi Kebijakan dan Pendidikan dan Pelatihan Hukum dan Peradilan Hukum dan Peradilan
Mahkamah Agung RI

Kantor: Jl. Cikopo Selatan Desa Sukamaju, Kec. Megamendung
Bogor, Jawa Barat 16770

Kirimkan reportase berita, opini, features dan artikel lainnya ke email suarabsdk.com : 
redpelsuarabsdk@gmail.com

Telepon: (0251) 8249520, 8249522, 8249531, 8249539

Kategori
Beranda Artikel Berita Features Sosok KRITERIA TULISAN
Filsafat Roman Satire Video BALACADAS
Connect With Us
  • Instagram
  • YouTube
  • WhatsApp
Aplikasi Internal
Logo 1 Logo 2 Logo 3 Logo 3 Logo 5
Logo 4 Logo 4 Logo 4 Logo 5 Logo 5 Logo 5
Kontributor
  • Avatar photo Ahmad Junaedi
  • Avatar photo Mohammad Khairul Muqorobin
  • Avatar photo Irvan Mawardi
  • Avatar photo Aman
  • Avatar photo Cecep Mustafa
  • Avatar photo Khoiruddin Hasibuan
  • Avatar photo Muamar Azmar Mahmud Farig
  • Avatar photo Ari Gunawan
  • Avatar photo Yudhistira Ary Prabowo
  • Avatar photo Syailendra Anantya Prawira
  • Avatar photo Ghesa Agnanto Hutomo
  • Avatar photo Muhammad Rizqi Hengki
  • Avatar photo Agus Digdo Nugroho
  • Avatar photo Muhammad Adiguna Bimasakti
  • Avatar photo Timbul Bonardo Siahaan
  • Avatar photo Dahlan Suherlan
  • Avatar photo Syamsul Arief
  • Avatar photo Jatmiko Wirawan
  • Avatar photo Taufikurrahman
  • Avatar photo Cik Basir
  • Avatar photo Johanes
  • Avatar photo Syihabuddin
  • Avatar photo Maria Fransiska Walintukan
  • Avatar photo Zulfahmi
  • Avatar photo Unggul Senoaji
  • Avatar photo Anton Ahmad Sogiri
  • Avatar photo M. Natsir Asnawi
  • Avatar photo Adji Prakoso
  • Avatar photo Yoshito Siburian
  • Avatar photo Abdi Munawar Daeng Mangagang
  • Avatar photo Iqbal Lazuardi
  • Avatar photo Galang Adhe Sukma
  • Avatar photo Sriti Hesti Astiti
  • Avatar photo Anisa Yustikaningtiyas
  • Avatar photo Harun Maulana
  • Avatar photo I Gusti Lanang Ngurah Sidemen Putra
  • Avatar photo Muhammad Hanif Ramadhan
  • Avatar photo Ahmad Syahrus Sikti
  • Avatar photo Eliyas Eko Setyo
  • Avatar photo Firzi Ramadhan
  • Avatar photo Jarkasih
  • Avatar photo Sudiyo
  • Avatar photo Binsar Parlindungan Tampubolon
  • Avatar photo Ganjar Prima Anggara
  • Avatar photo Garin Purna Sanjaya
  • Avatar photo Layla Windy Puspita Sari
  • Avatar photo Marulam J Sembiring
  • Avatar photo Tri Indroyono
  • Avatar photo Letkol Chk Agustono, S.H., M.H.
  • Avatar photo Ardiansyah Iksaniyah Putra
  • Avatar photo Febby Fajrurrahman
  • Avatar photo Irene Cristna Silalahi
  • Avatar photo Marsudin Nainggolan
  • Avatar photo Maulana Aulia
  • Avatar photo Riki Perdana Raya Waruwu
  • Avatar photo Dr. Syofyan Iskandar, S.H., M.H.
  • Avatar photo Muhamad Zaky Albana
  • Avatar photo Afifah Dwiandini
  • Avatar photo Buang Yusuf
  • Avatar photo Henri Setiawan
  • Avatar photo Itsnaatul Lathifah
  • Avatar photo Khoiriyah Roihan
  • Avatar photo Redaktur SuaraBSDK
  • Avatar photo Yasin Prasetia
  • Avatar photo Audrey Kartika Putri
  • Avatar photo Bintoro Wisnu Prasojo, S.H.
  • Avatar photo Fitriyel Hanif
  • Avatar photo Irwan Rosady
  • Avatar photo K.G. Raegen
  • Avatar photo Rafi Muhammad Ave
  • Avatar photo Rangga Lukita Desnata
  • Avatar photo Rikatama Budiyantie
  • Avatar photo Siti Nadhiroh
  • Avatar photo Teguh Setiyawan
  • Avatar photo Abdul Azis Ali Ramdlani
  • Avatar photo Achmad Fikri Oslami
  • Avatar photo Ahmad Fuad Noor Ghufron
  • Avatar photo Achmad Nurul Huda
  • Avatar photo Anggi Permana
  • Avatar photo Ang Rijal Amin
  • Avatar photo Cok Istri Bhagawanthi Pemayun
  • Avatar photo Dedi Putra
  • Avatar photo Dewi Maharati
  • Avatar photo Fauzan Prasetya
  • Avatar photo Gerry Michael Purba
  • Avatar photo Herjuna Praba Wiesesa
  • Avatar photo Hermanto
  • Avatar photo Indarka PP
  • Avatar photo Muhamad Fadillah
  • Avatar photo Nugraha Medica Prakasa
  • Avatar photo Ria Marsella
  • Avatar photo Sahram
  • Avatar photo Saut Erwin Hartono A. Munthe
  • Avatar photo Silveria Supanti
  • Avatar photo Sugiarto
  • Avatar photo Yusuf Sodhiqin
  • Avatar photo Achmad Pratomo
  • Avatar photo Ahmad Faiz Shobir Alfikri
  • Avatar photo Andro Riski Pradipta
  • Avatar photo Arie Fitriansyah
  • Avatar photo Bismo Jiwo Agung
  • Avatar photo Epri Wahyudi
  • Avatar photo Fajar Widodo
  • Avatar photo Fariz Prasetyo Aji
  • Avatar photo Fauzan Arrasyid
  • Avatar photo Fauzia Rohmah
  • Avatar photo Febry Indra Gunawan Sitorus
  • Avatar photo Ferdian Permadi
  • Avatar photo Gerry Geovant Supranata Kaban
  • Avatar photo Mardi Candra
  • Avatar photo Muhammad Irfan Syahputra
  • Avatar photo Muhammad Amin Putra
  • Avatar photo Niko Wijaya
  • Avatar photo Putra Nova A.S
  • Avatar photo Rizal Arif Fitria
  • Avatar photo Sadana
  • Avatar photo Trisoko Sugeng Sulistyo
  • Avatar photo Umar Dani
  • Avatar photo Abdul Hadi
  • Avatar photo Abiandri Fikri Akbar
  • Avatar photo Abi Zaky Azizi
  • Avatar photo Dr. H. Achmad Setyo Pudjoharsoyo., SH., M.Hum
  • Avatar photo Adimas Leo Firmansah
  • Avatar photo Agenda Citra Muhammad
  • Avatar photo Andi Akram
  • Avatar photo Arsyawal
  • Avatar photo Aulia Rochmani Lazuardi
  • Avatar photo Bagus Partha Wijaya
  • Avatar photo Bagus Sujatmiko
  • Avatar photo Bayu Akbar Wicaksono
  • Avatar photo Chandra Khoirunnas
  • Avatar photo Cuhandi
  • Avatar photo David Pasaribu
  • Avatar photo Deka Rachman Budihanto
  • Avatar photo Dendi Sutiyoso
  • Avatar photo Dhea Sutaryana
  • Avatar photo Edi Hudiata
  • Avatar photo Enrico Simanjuntak
  • Avatar photo Fauziah Rahmah
  • Avatar photo Fery Rochmad Ramadhan
  • Avatar photo Hartanto Ariesyandi
  • Avatar photo Idik Saeful Bahri
  • Avatar photo Karell Mawla Ibnu Kamali
  • Avatar photo Khalilurrahman
  • Avatar photo Khoirul Anwar
  • Avatar photo Mentari Wahyudihati
  • Avatar photo Muhamad Ridwan
  • Avatar photo Muhamad Iqbal
  • Avatar photo Nia Chasanah
  • Avatar photo Novritsar Hasintongan Pakpahan
  • Avatar photo Nugraha Wisnu Wijaya
  • Avatar photo Raden Anggara Kurniawan
  • Avatar photo Raden Heru Wibowo Sukaten
  • Avatar photo Rahimulhuda Rizki Alwi
  • Avatar photo Rahmad Ramadhan Hasibuan
  • Avatar photo Ranggi Adiwangsa Yusron
  • Avatar photo Muhammad Rijaldy Alwy
  • Avatar photo Rohim
  • Avatar photo Samsul Zakaria
  • Avatar photo Satria Perdana
  • Avatar photo Siti Anis
  • Avatar photo Tri Cahya Indra Permana
  • Avatar photo Wahyu Budi Santoso
  • Avatar photo Wilmar Ibni Rusydan
  • Avatar photo Yudhi Reksa Perdana
  • Avatar photo Abdul Ghani
  • Avatar photo Ach. Jufri
  • Avatar photo Afif Muchshon
  • Avatar photo Agus Suharsono
  • Avatar photo Ahmad Efendi
  • Avatar photo Ahmad Hodri
  • Avatar photo Ahmad Rizza Habibi
  • Avatar photo Aidil Akbar
  • Avatar photo Alep Priyoambodo
  • Avatar photo Alfajar Nugraha
  • Avatar photo Anderson Peruzzi Simanjuntak
  • Avatar photo Andhika Prayoga
  • Avatar photo Andi Muhammad Galib
  • Avatar photo Andi Aswandi Tashar
  • Avatar photo Andrie Gunawan
  • Avatar photo Anna Yulina
  • Avatar photo Annisa Nur Alam
  • Avatar photo Arga Febrian
  • Avatar photo Arief Sapto Nugroho
  • Avatar photo Mayor Chk Arif Dwi Prasetyo
  • Avatar photo Armansyah
  • Avatar photo Aryaniek Andayani
  • Avatar photo Ashhab Triono
  • Avatar photo Bella Puspitawati
  • Avatar photo Bilma Diffika
  • Avatar photo Bony Daniel
  • Avatar photo Budi Hermanto
  • Avatar photo Budi Suhariyanto
  • Avatar photo Chandra
  • Avatar photo Christopher Hutapea
  • Avatar photo Daniel H. Napitupulu
  • Dedi Wigandi
  • Avatar photo Eddy Sembiring
  • Avatar photo Effendi Mukhtar
  • Avatar photo Egia Rasido Tarigan
  • Avatar photo Eka Sentausa
  • Avatar photo Enos Syahputra Sipahutar, S.H., M.H.
  • Avatar photo Dr. Fahmiron
  • Avatar photo Fahri Bachmid
  • Avatar photo Fahri Gunawan Siagian
  • Avatar photo Fahri Soleh
  • Avatar photo Fakhir Tashin Baaj
  • Avatar photo Farhan Al Faris
  • Avatar photo Fatkul Mujib, S.H.I., M.H.
  • Avatar photo Dr. Fauziati, S.Ag., M.Ag
  • Avatar photo Febriansyah Rozarius
  • Avatar photo Friska Ariesta Aritedi
  • Avatar photo Gineng Pratidina
  • Avatar photo Hanry Ichfan Adityo
  • Avatar photo Peltu Hartono
  • Avatar photo Hastuti
  • Avatar photo Hendro Yatmoko
  • Avatar photo Ibnu Abas Ali
  • Avatar photo I Made Sukadana
  • Indra Tua Hasangapon Harahap
  • Avatar photo Ira Soniawati
  • Avatar photo Irfan Dibar
  • Avatar photo Muhammad Irfansyah
  • Avatar photo Letkol Kum Irwan Tasri, S.H., M.H., M.Han.
  • Avatar photo Iwan Lamganda Manalu
  • Avatar photo Jerymia Seky Tanaem
  • Avatar photo Jusran Ipandi
  • Avatar photo Khaimi
  • Avatar photo Khoerul Umam
  • Avatar photo Linora Rohayu
  • Avatar photo Made Passek Reza Swandira
  • Avatar photo Marta Satria Putra
  • Avatar photo Marwan Ibrahim Piinga
  • Avatar photo Marwanto
  • Avatar photo Marzha Tweedo Dikky Paraanugrah
  • Avatar photo Maulia Martwenty Ine
  • Avatar photo Mira Maulidar
  • Avatar photo Misbah S.T., M.Eng.
  • Avatar photo Misbahul Anwar
  • Avatar photo Muhamad Ilham Azizul Haq
  • Avatar photo Muhamad Saptari
  • Avatar photo Muhammad Fadllullah
  • Avatar photo Muhammad Muhyi Arrasyid, S.Psi.
  • Avatar photo Muhammad Bagus Tri Prasetyo
  • Avatar photo Muhammad Yusuf
  • Avatar photo Muhammad Zuchri Nasuha Lubis
  • Avatar photo Murdian
  • Avatar photo Nadia Yurisa Adila
  • Avatar photo Nisrina Irbah Sati
  • Avatar photo Letkol CHK Nur Sakdi, S.H, M.H.
  • Avatar photo Nur Latifah Hanum
  • Avatar photo Pandu Pradana Wicaksono, S.H.
  • Avatar photo Pita Permatasari
  • Avatar photo H .A.S Pudjoharsoyo
  • Avatar photo Putri Pebrianti
  • Avatar photo R. Deddy Harryanto
  • Avatar photo Radityo Muhammad Harseno
  • Avatar photo Rahmi Fattah
  • Avatar photo Randy Viyatadhika
  • Avatar photo Ratih Gumilang
  • Avatar photo Reindra Jasper H. Sinaga, S.H. Hakim Pengadilan Negeri Tanjung Balai Karimun
  • Avatar photo Muh Ridha Hakim
  • Avatar photo Rifqi Qowiyul Iman
  • Avatar photo Rizal Abdurrahman
  • Avatar photo Penulis adalah Filsuf - Analis Politik dan Kebangsaan
  • Avatar photo Romi Hardhika
  • Avatar photo Sandro Imanuel Sijabat
  • Avatar photo Sbong Sinarok Martin, S.H., M.H.
  • Avatar photo Selexta Apriliani
  • Avatar photo Septia Putri Riko
  • Avatar photo Septriono Situmorang
  • Avatar photo Slamet Turhamun
  • Avatar photo Sobandi
  • Sri Nurmina Sari, S.H
  • Avatar photo Stefanus Dwi Putra Medisa
  • Avatar photo Subiyatno
  • Avatar photo Teddy Lahati
  • Avatar photo Tri Baginda Kaisar Abdul Gafur
  • Avatar photo Urif Syarifudin
  • Avatar photo Wanda Rara Farezha,S.H.
  • Avatar photo Wienda Kresnantyo
  • Avatar photo Willsa Suharyadi
  • Avatar photo Yoshelsa Wardhana
  • Avatar photo Yukiatiqa Afifah
  • Avatar photo Marsekal Muda TNI Dr. Yuwono Agung Nugroho, S.H., M.H.
  • Avatar photo Zidny Taqiyya
Lihat semua kontributor →

Type above and press Enter to search. Press Esc to cancel.