Close Menu
Suara BSDKSuara BSDK
  • Beranda
  • Artikel
  • Berita
  • Features
  • Sosok
  • Filsafat
  • Roman
  • Satire
  • Video

Subscribe to Updates

Get the latest creative news from FooBar about art, design and business.

What's Hot

Part II Babak Baru Kisah Dua Serigala : Saga Abadi Para Penjaga hingga Lumbung yang Kian Membusuk

2 August 2026 • 18:19 WIB

121 Rekomendasi Sanksi Hakim: Jangan Mengubah Perkara Warisan Menjadi Klaim Kinerja

2 August 2026 • 15:58 WIB

Wujudkan Generasi Berakhlak dan Bertakwa, Dharmayukti Karini Cabang Dataran Hunipopu Bagikan Beasiswa BDBS

31 July 2026 • 23:19 WIB
Instagram YouTube
Suara BSDKSuara BSDK
Deskripsi Gambar
  • Beranda
  • Artikel
  • Berita
  • Features
  • Sosok
  • Filsafat
  • Roman
  • Satire
  • Video
Suara BSDKSuara BSDK
Deskripsi Gambar
  • Beranda
  • Artikel
  • Berita
  • Features
  • Sosok
  • Filsafat
  • Roman
  • Satire
  • Video
Home » Part II Babak Baru Kisah Dua Serigala : Saga Abadi Para Penjaga hingga Lumbung yang Kian Membusuk
Satire

Part II Babak Baru Kisah Dua Serigala : Saga Abadi Para Penjaga hingga Lumbung yang Kian Membusuk

Ghesa Agnanto HutomoMohammad Khairul MuqorobinGhesa Agnanto Hutomo and Mohammad Khairul Muqorobin2 August 2026 • 18:19 WIB8 Mins Read
Share
Facebook Twitter Threads Telegram WhatsApp

Seiring berjalannya waktu yang cukup melelahkan dan drama yang tak kunjung berakhir, Sang Rubah kini bulunya kian berwarna Keemasan. Dia yang dulu menjadi tangan kanan pimpinan Kawanan Serigala Varian Baru, kini telah dicabut taringnya dan digiring ke proses peradilan. Sebagai gantinya, Sang Pemimpin Serigala varian baru menunjuk seekor Serigala Muda bernama Si Taring Bersih untuk menjadi tangan kanannya.

Namun, ada yang janggal: Si Taring Bersih dulu adalah anak buah langsung Sang Rubah Keemasan. Ia tahu persis di mana tulang-tulang disembunyikan, di mana gua-gua persembunyian, dan di mana daun-daun bergambar mengalir. Kini, ia harus memeriksa mantan atasannya sendiri.

“Beban moral yang luar biasa,” bisik Sang Elang Intelijen. “Di satu sisi, ia harus membuktikan bahwa Kawanan Varian Baru tidak melindungi keluarganya sendiri. Di sisi lain, ia masih berutang budi pada Rubah Keemasan karena telah memberinya kesempatan berada di posisi itu.”

Para kambing di tribun bawah mulai menghitung: Berapa lama Si Taring Bersih akan bertahan? Akankah ia berani menggigit mantan bosnya? Atau akankah ia hanya menggonggong di depan kamera sambil diam-diam memperlambat langkah?

Bab I: Kawanan Lama yang Tersenyum di Balik Semak

Di sisi lain hutan, Kawanan Serigala Lama, mulai tersenyum tipis. Mereka telah lama berseteru dengan Kawanan Varian Baru soal siapa yang paling berhak menangkap para pencuri gandum.

“Lihatlah,” bisik Serigala lama kepada anak buahnya. “Kawanan Varian Baru sedang kalut. Pemimpin mereka dicopot, pemimpin baru takut menggigit bos lamanya. Ini saatnya kita menunjukkan siapa yang lebih jantan!”

Kawanan Lama pun mulai bergerak. Mereka mengirim utusan ke istana, menawarkan diri untuk “membantu” menangani kasus Rubah Keemasan. “Kami tidak punya hubungan darah dengan Rubah itu,” kata mereka. “Kami bisa adil.”

Namun, para kambing yang cerdik tahu bahwa Kawanan Lama punya agenda tersembunyi: mereka ingin merebut kasus-kasus besar dari Kawanan Varian Baru. Jika kasus Rubah Keemasan berpindah ke kandang mereka, maka gengsi Kawanan Varian Baru akan hancur berkeping-keping.

“Perang bintang!” seru Kambing Muda. “Dua kawanan saling rebut bola panas. Tapi tunggu… bukankah mereka seharusnya bersinergi?”

Bab II: Kuda Merah yang Diam dan Independen

Di tengah riuh rendah dua kawanan yang saling menggonggong, ada figur yang sering dilupakan: Sang Kuda Merah. Ia adalah penguasa ruang sidang, penjaga keadilan terakhir, yang konon independen dan tak tersentuh oleh intrik istana.

Kuda Merah inilah yang akan memutuskan sah tidaknya penangkapan Rubah Keemasan. Jika Sang Kuda berkata “tidak sah,” maka seluruh proses akan batal, dan Rubah Keemasan akan kembali berlenggang bebas.

“Kuda Merah adalah sang pengadil tunggal,” kata Burung Hantu Pakar. “Ia tidak punya kawanan, tidak punya bos, hanya peduli pada gulungan hukum yang terbentang di depannya.”

Para kambing mulai berharap: Mungkin Kuda Merah akan menyelamatkan keadilan. Mungkin ia akan membongkar semua permainan di balik panggung.

Tapi harapan itu diiringi kekhawatiran: Kuda Merah juga bisa saja memberikan putusan yang menguntungkan Rubah Keemasan karena celah-celah prosedur yang sengaja diciptakan. “Jika Kuda Merah menyatakan adanya cacat prosedur,” kata Serigala Pensiunan, “itu bukan karena Rubah tidak bersalah, tapi karena para penjaga gagal mematuhi aturan main hukum acara rimba. Dan itu lebih memalukan daripada kasus itu sendiri.”

Bab III: Gulungan 47 nama dan Pertaruhan Nyawa

Rubah Keemasan, dalam upaya menyelamatkan dirinya, mengeluarkan gulunganlontar bertuliskan 47 nama penghuni hutan yang diduga terlibat dalam jaringan gelap penggelapan gandum. Nama-nama itu ia sebutkan di hadapan para penjaga Kawanan Varian Baru.

“47 nama!” seru Kawanan Lama sambil menggeram. “Itu terlalu banyak! Jangan-jangan Rubah itu hanya berusaha mengalihkan perhatian!”

Namun, yang lebih mengkhawatirkan adalah ketika beberapa dari 47 nama itu mulai jatuh sakit, mengundurkan diri, atau bahkan mati mendadak yang konon karena serangan jantung. Para kambing bergidik. Apakah ini kebetulan? Atau ada kekuatan di balik layar yang “membereskan” nama-nama itu sebelum sempat diperiksa?

“Saya melihat pola,” bisik Landak Pengamat. “Setiap kali gulungan itu disebutkan, ada yang pingsan. Setiap kali ada yang pingsan, kasusnya mundur. Seolah-olah waktu sengaja dimakan oleh drama sampingan.”

Kawanan Varian Baru, yang dipimpin Si Taring Bersih, kini berada di persimpangan: periksa 47 nama dan hadapi kemungkinan bahwa nama-nama itu adalah sesama penghuni istana, atau abaikan gulungan itu dan dituduh melakukan barter kasus dengan Rubah Keemasan.

“Sialan,” gerutu Si Taring Bersih di dalam hati. “Aku baru seminggu menjabat, sudah diterpa badai.”

Bab IV: Mantra Pembatalan dan Ancaman Kekacauan

Rubah Keemasan, melalui para kuasanya yang terus berganti-ganti, mengajukan mantra pembatalan ke hadapan Kuda Merah. Mantra ini berisi mantra bahwa penunjukan dirinya sebagai tersangka cacat prosedur: saksi belum diperiksa, bukti belum diuji, dan surat-surat penting diumbar ke publik sebelum waktunya.

“Jika mantra ini dikabulkan,” kata Serigala Pensiunan, “maka seluruh kasus batal demi hukum. Bukan karena Rubah tidak bersalah, tapi karena para penjaga gagal mematuhi aturan. Dan itu akan menjadi kemenangan prosedural yang paling memalukan dalam sejarah negeri ini.”

Para kambing mulai berbisik: Mungkinkah Kawanan Varian Baru sengaja membuat celah prosedural agar Rubah Keemasan bisa menang? Ataukah mereka hanya ceroboh karena terburu-buru menangkap bos mereka sendiri?

Jika mantra dikabulkan, Kawanan Varian Baru akan kehilangan muka di hadapan publik. Jika mantra ditolak, Rubah Keemasan akan tetap menjadi tersangka dan 47 nama itu harus diperiksa. “Kuda Merah memegang kunci segalanya,” kata Landak. “Dan ia duduk dengan tenang, mengunyah daun, sementara dua kawanan saling melolong.”

Bab V: Reformasi yang Digaungkan Kembali

Di tengah kekacauan, Sang Elang Intelijen yang pernah terbang tinggi di angkasa keadilan kembali menyerukan ide lama: “Para penjaga harus dimasukkan ke dalam Kitab Suci Konstitusi!!! Selama mereka diangkat dan diberhentikan oleh Sang Singa, mereka tidak akan pernah independen!”

Ia mencontohkan negara tetangga sebelah (Konoha-utara), yang baru Merdeka telah menempatkan para penjaga keadilan di dalam konstitusi mereka, sehingga mereka tidak bisa dipecat seenaknya oleh istana kerajaan. “Di sini, kami masih seperti daun tertiup angin,” katanya.

“Karena itu, inilah momentum bagi Kawanan Varian Baru untuk membersihkan diri! Bukan hanya pergantian pemimpin, tetapi perubahan sistem (struktural) yang mendasar!”

Para kambing mengangguk-angguk. Tapi di dalam hati, mereka bertanya: Apakah reformasi benar-benar akan terjadi? Atau hanya menjadi lagu pengantar tidur yang dinyanyikan di atas panggung sebelum semua kembali ke pola lama?

“Reformasi butuh keberanian,” kata Serigala Pensiunan. “Dan keberanian adalah sesuatu yang jarang ditemukan di sarang yang nyaman.”

Bab VI: Serangan Balik dari Bayang-Bayang

Bisik-bisik beracun kini menjalar di antara bayang-bayang. Bencana yang meremukkan sang Rubah Keemasan diyakini sebagai racun balasan dari para penguasa gaek yang dulu terusik. Selama lima tahun memimpin Kawanan Varian Baru, sang Rubah adalah ksatria tanpa ampun yang menatap langsung ke sarang-sarang tertinggi di atas istana, meruntuhkan takhta-takhta terselubung. Namun, raja-raja lama tak pernah sungguh-sungguh mati; mereka menunggu saat yang tepat untuk balik mencengkeram.

“Jangan-jangan ini adalah pembalasan dendam,” kata Kambing Berani. “Mereka yang dulu ditangkap oleh Rubah Keemasan kini balik menyerang, memanfaatkan celah yang ada untuk menjebaknya.”

Tapi ada juga yang berpendapat sebaliknya: “Jangan-jangan ini adalah kriminalisasi balik, upaya untuk membungkam Rubah Keemasan agar ia tidak membuka gulungan 47 nama dengan kasus yang lebih besar.”

Entah mana yang benar, satu hal pasti: Rubah Keemasan kini menjadi pion dalam papan catur besar, di mana dua kawanan saling mengintai, para penguasa lama menunggu di balik semak, dan Kuda Merah duduk sebagai wasit yang tak tergoyahkan.

Bab VII: Malam Saat Dua Kawanan Berjabat Tangan

Di sebuah acara di tepi hutan, untuk pertama kalinya, pemimpin Kawanan Lama dan pemimpin Kawanan Varian Baru tampil bersama di atas panggung. Mereka berjabat tangan, tersenyum, dan berkata: “Kami bersinergi! Tidak ada gontok-gontokan! Penegakan hukum berjalan baik!”

Para kambing yang hadir bertepuk tangan, ada yang sungguh-sungguh, ada yang setengah hati, ada yang hanya karena takut tidak bertepuk tangan.

“Lihat!” seru Burung Beo. “Tidak ada perang bintang!”

Namun, setelah acara usai dan kamera dimatikan, kedua pemimpin itu saling berpaling dan pergi ke arah yang berlawanan. Kawanan Lama tersenyum puas karena berhasil “menunjukkan diri,” sementara Kawanan Varian Baru kembali ke sarangnya dengan perasaan terpojok.

“Di atas panggung kita sinergi,” bisik Kambing Tua. “Di bawah panggung kita tetap saling mengintai. Itulah rimba modern.”

Malam pun jatuh menyelimuti rimba, membungkus kepalsuan siang dalam kabut yang dingin dan mencekam. Di balik bayang-bayang pepohonan tua, senyum panggung itu meleleh menjadi cengkeraman taring yang siap diterkamkan. Sementara para kambing tertidur lelap dalam ilusi perdamaian yang dijual mahal di atas panggung, gesekan cakar Kawanan Lama dan napas terengah Kawanan Varian Baru bergemuruh pelan di kegelapan menegaskan bahwa jabat tangan tadi sore bukanlah akhir dari gontok-gontokan, melainkan sekadar sunyi yang mencekam sebelum badai pembalasan sesungguhnya meletus.

Bab VIII : Nasib Si Taring Bersih yang Tersandera

Si Taring Bersih, tangan kanan pemimpin Kawanan Varian Baru yang baru ditunjuk, kini berada di posisi paling sulit. Ia harus memeriksa mantan bosnya, tetapi jika ia terlalu keras, ia akan dituduh tidak berterima kasih; jika ia terlalu lunak, ia akan dituduh melindungi korupsi.

“Tidak ada jalan keluar yang mudah,” kata Serigala Pensiunan. “Satu-satunya cara adalah transparansi total. Periksa semua, buka semua, dan biarkan Kuda Merah yang memutuskan.”

Tapi transparansi total membutuhkan keberanian untuk mengorbankan kenyamanan. Dan di istana yang penuh intrik, kenyamanan adalah harga mati.

Sementara itu, para pencuri gandum terus berpesta di dalam lumbung. Mereka tahu bahwa selama dua kawanan sibuk saling menggonggong dan Si Taring Bersih sibuk menggigit mantan bosnya, mereka tetap aman.

“Biarkan mereka berdebat,” kata Tikus Kepala. “Kita terus angkut gandum sampai lumbung kosong.”

Penutup

Di ujung hutan, seorang kambing tua menulis di atas daun lontar: “Dua kawanan saling melolong. Sementara Rubah Keemasan duduk di sel, tersenyum, karena ia tahu waktunya berpihak padanya.

Daun lontar itu terbawa angin dan jatuh di kaki Si Taring Bersih. Ia membacanya, lalu menatap ke arah lumbung yang mulai keropos. Untuk sesaat, ia ingin melolong sekeras-kerasnya, bukan untuk menunjukkan kekuatan, tapi untuk membangunkan semua yang tertidur.

Tapi ia urung melolong. Karena di rimba modern ini, gonggongan tak pernah cukup. Yang dibutuhkan adalah taring yang benar-benar menggigit.

Dan malam terus berlarut, dengan para kambing yang tetap berharap, dua kawanan yang tetap saling menggonggong dalam lingkaran yang tak pernah berujung.

Ghesa Agnanto Hutomo
Kontributor
Ghesa Agnanto Hutomo
Hakim Pengadilan Negeri Namlea
Mohammad Khairul Muqorobin
Kontributor
Mohammad Khairul Muqorobin
Hakim Pengadilan Negeri Pulang Pisau

Untuk Mendapatkan Berita Terbaru Suara BSDK, Follow Channel WhatsApp: SUARABSDKMARI

Share. Facebook Twitter Threads Telegram WhatsApp Copy Link

Related Posts

Kisah Dua Serigala dan Ritual Serah Terima: Ketika Pencuri Kenyang karena Penjaga Sibuk Menggonggong dan Berbagi Beban Kosong

15 July 2026 • 08:51 WIB

Sebelum Bercita-cita Menjadi Hakim, Bacalah Ini

16 June 2026 • 19:04 WIB

Atas Nama Agama

9 May 2026 • 12:30 WIB
Leave A Reply

Demo
Top Posts

Dari Monitoring Hingga Titik Nol: Sebuah Perjalanan Tentang Pengabdian

30 July 2026 • 15:00 WIB50 Views

Sebelum Karangan Bunga Berikutnya Dikirim

27 July 2026 • 12:12 WIB27 Views

Menepi Sejenak di Tambak Bandeng

11 July 2026 • 09:06 WIB2 Views

Prediksi Juara World Cup 2026 Dari Pusdiklat Menpim

6 July 2026 • 21:16 WIB0 Views
Don't Miss

Part II Babak Baru Kisah Dua Serigala : Saga Abadi Para Penjaga hingga Lumbung yang Kian Membusuk

By Ghesa Agnanto Hutomo and Mohammad Khairul Muqorobin2 August 2026 • 18:19 WIB14 Views0

Seiring berjalannya waktu yang cukup melelahkan dan drama yang tak kunjung berakhir, Sang Rubah kini…

121 Rekomendasi Sanksi Hakim: Jangan Mengubah Perkara Warisan Menjadi Klaim Kinerja

2 August 2026 • 15:58 WIB

Wujudkan Generasi Berakhlak dan Bertakwa, Dharmayukti Karini Cabang Dataran Hunipopu Bagikan Beasiswa BDBS

31 July 2026 • 23:19 WIB

Perbandingan KUHAP Lama dengan KUHAP Baru serta Implikasi SEMA Nomor 2 Tahun 2026

31 July 2026 • 18:53 WIB
Stay In Touch
  • Facebook
  • YouTube
  • TikTok
  • WhatsApp
  • Twitter
  • Instagram
Top Trending
Demo

Recent Posts

  • Part II Babak Baru Kisah Dua Serigala : Saga Abadi Para Penjaga hingga Lumbung yang Kian Membusuk
  • 121 Rekomendasi Sanksi Hakim: Jangan Mengubah Perkara Warisan Menjadi Klaim Kinerja
  • Wujudkan Generasi Berakhlak dan Bertakwa, Dharmayukti Karini Cabang Dataran Hunipopu Bagikan Beasiswa BDBS
  • Perbandingan KUHAP Lama dengan KUHAP Baru serta Implikasi SEMA Nomor 2 Tahun 2026
  • Wujudkan Peradilan Cepat dan Murah, Aparat Penegak Hukum Sosialisasi MoU Sidang Pidana Elektronik

Recent Comments

  1. Vivod iz zapoya na domy_hjOt on Teori GONE (Greed, Opportunity, Needs, Exposure) dan Peran Faktor Keserakahan Pemicu Korupsi
  2. Vivod iz zapoya na domy_xdOt on Teori GONE (Greed, Opportunity, Needs, Exposure) dan Peran Faktor Keserakahan Pemicu Korupsi
  3. Vivod iz zapoya na domy_vaOt on Adakah Lembaga Arbitrase di India?
  4. Vivod iz zapoya na domy_paOt on Teori GONE (Greed, Opportunity, Needs, Exposure) dan Peran Faktor Keserakahan Pemicu Korupsi
  5. Vivod iz zapoya na domy_leOt on Wamenkum dan DPR: Terhadap Putusan Bebas, Tidak Ada Upaya Hukum
Hubungi Kami

Badan Strategi Kebijakan dan Pendidikan dan Pelatihan Hukum dan Peradilan Hukum dan Peradilan
Mahkamah Agung RI

Kantor: Jl. Cikopo Selatan Desa Sukamaju, Kec. Megamendung
Bogor, Jawa Barat 16770

Kirimkan reportase berita, opini, features dan artikel lainnya ke email suarabsdk.com : 
redpelsuarabsdk@gmail.com

Telepon: (0251) 8249520, 8249522, 8249531, 8249539

Kategori
Beranda Artikel Berita Features Sosok KRITERIA TULISAN
Filsafat Roman Satire Video BALACADAS
Connect With Us
  • Instagram
  • YouTube
  • WhatsApp
Aplikasi Internal
Logo 1 Logo 2 Logo 3 Logo 3
Logo 4 Logo 4 Logo 4 Logo 5 Logo 5
Kontributor
  • Avatar photo Ahmad Junaedi
  • Avatar photo Mohammad Khairul Muqorobin
  • Avatar photo Irvan Mawardi
  • Avatar photo Aman
  • Avatar photo Cecep Mustafa
  • Avatar photo Ari Gunawan
  • Avatar photo Khoiruddin Hasibuan
  • Avatar photo Muamar Azmar Mahmud Farig
  • Avatar photo Syailendra Anantya Prawira
  • Avatar photo Agus Digdo Nugroho
  • Avatar photo Muhammad Rizqi Hengki
  • Avatar photo Muhammad Adiguna Bimasakti
  • Avatar photo Ghesa Agnanto Hutomo
  • Avatar photo Dahlan Suherlan
  • Avatar photo Yudhistira Ary Prabowo
  • Avatar photo Timbul Bonardo Siahaan
  • Avatar photo Syamsul Arief
  • Avatar photo Taufikurrahman
  • Avatar photo Jatmiko Wirawan
  • Avatar photo Maria Fransiska Walintukan
  • Avatar photo Zulfahmi
  • Avatar photo Cik Basir
  • Avatar photo M. Natsir Asnawi
  • Avatar photo Unggul Senoaji
  • Avatar photo Abdi Munawar Daeng Mangagang
  • Avatar photo Iqbal Lazuardi
  • Avatar photo Syihabuddin
  • Avatar photo Yoshito Siburian
  • Avatar photo Galang Adhe Sukma
  • Avatar photo Adji Prakoso
  • Avatar photo Harun Maulana
  • Avatar photo I Gusti Lanang Ngurah Sidemen Putra
  • Avatar photo Muhammad Hanif Ramadhan
  • Avatar photo Ahmad Syahrus Sikti
  • Avatar photo Anton Ahmad Sogiri
  • Avatar photo Eliyas Eko Setyo
  • Avatar photo Firzi Ramadhan
  • Avatar photo Sriti Hesti Astiti
  • Avatar photo Anisa Yustikaningtiyas
  • Avatar photo Jarkasih
  • Avatar photo Sudiyo
  • Avatar photo Tri Indroyono
  • Avatar photo Letkol Chk Agustono, S.H., M.H.
  • Avatar photo Binsar Parlindungan Tampubolon
  • Avatar photo Johanes
  • Avatar photo Marulam J Sembiring
  • Avatar photo Riki Perdana Raya Waruwu
  • Avatar photo Dr. Syofyan Iskandar, S.H., M.H.
  • Avatar photo Afifah Dwiandini
  • Avatar photo Ardiansyah Iksaniyah Putra
  • Avatar photo Febby Fajrurrahman
  • Avatar photo Ganjar Prima Anggara
  • Avatar photo Khoiriyah Roihan
  • Avatar photo Redaktur SuaraBSDK
  • Avatar photo Yasin Prasetia
  • Avatar photo Muhamad Zaky Albana
  • Avatar photo Buang Yusuf
  • Avatar photo Garin Purna Sanjaya
  • Avatar photo Henri Setiawan
  • Avatar photo Irwan Rosady
  • Avatar photo Itsnaatul Lathifah
  • Avatar photo Layla Windy Puspita Sari
  • Avatar photo Marsudin Nainggolan
  • Avatar photo Rafi Muhammad Ave
  • Avatar photo Rikatama Budiyantie
  • Avatar photo Siti Nadhiroh
  • Avatar photo Teguh Setiyawan
  • Avatar photo Abdul Azis Ali Ramdlani
  • Avatar photo Achmad Fikri Oslami
  • Avatar photo Ahmad Fuad Noor Ghufron
  • Avatar photo Achmad Nurul Huda
  • Avatar photo Ang Rijal Amin
  • Avatar photo Audrey Kartika Putri
  • Avatar photo Dedi Putra
  • Avatar photo Fitriyel Hanif
  • Avatar photo Hermanto
  • Avatar photo Indarka PP
  • Avatar photo Irene Cristna Silalahi
  • Avatar photo Nugraha Medica Prakasa
  • Avatar photo K.G. Raegen
  • Avatar photo Rangga Lukita Desnata
  • Avatar photo Ria Marsella
  • Avatar photo Sahram
  • Avatar photo Saut Erwin Hartono A. Munthe
  • Avatar photo Silveria Supanti
  • Avatar photo Sugiarto
  • Avatar photo Yusuf Sodhiqin
  • Avatar photo Achmad Pratomo
  • Avatar photo Ahmad Faiz Shobir Alfikri
  • Avatar photo Anggi Permana
  • Avatar photo Arie Fitriansyah
  • Avatar photo Bintoro Wisnu Prasojo, S.H.
  • Avatar photo Bismo Jiwo Agung
  • Avatar photo Cok Istri Bhagawanthi Pemayun
  • Avatar photo Dewi Maharati
  • Avatar photo Epri Wahyudi
  • Avatar photo Fajar Widodo
  • Avatar photo Fariz Prasetyo Aji
  • Avatar photo Fauzan Arrasyid
  • Avatar photo Febry Indra Gunawan Sitorus
  • Avatar photo Gerry Geovant Supranata Kaban
  • Avatar photo Gerry Michael Purba
  • Avatar photo Mardi Candra
  • Avatar photo Maulana Aulia
  • Avatar photo Muhamad Fadillah
  • Avatar photo Muhammad Amin Putra
  • Avatar photo Niko Wijaya
  • Avatar photo Putra Nova A.S
  • Avatar photo Trisoko Sugeng Sulistyo
  • Avatar photo Umar Dani
  • Avatar photo Abiandri Fikri Akbar
  • Avatar photo Abi Zaky Azizi
  • Avatar photo Dr. H. Achmad Setyo Pudjoharsoyo., SH., M.Hum
  • Avatar photo Andi Akram
  • Avatar photo Andro Riski Pradipta
  • Avatar photo Arsyawal
  • Avatar photo Aulia Rochmani Lazuardi
  • Avatar photo Bagus Partha Wijaya
  • Avatar photo Bayu Akbar Wicaksono
  • Avatar photo Cuhandi
  • Avatar photo David Pasaribu
  • Avatar photo Dendi Sutiyoso
  • Avatar photo Dhea Sutaryana
  • Avatar photo Edi Hudiata
  • Avatar photo Enrico Simanjuntak
  • Avatar photo Fauzan Prasetya
  • Avatar photo Fauziah Rahmah
  • Avatar photo Fery Rochmad Ramadhan
  • Avatar photo Hartanto Ariesyandi
  • Avatar photo Herjuna Praba Wiesesa
  • Avatar photo Idik Saeful Bahri
  • Avatar photo Karell Mawla Ibnu Kamali
  • Avatar photo Khoirul Anwar
  • Avatar photo Mentari Wahyudihati
  • Avatar photo Muhamad Ridwan
  • Avatar photo Muhamad Iqbal
  • Avatar photo Novritsar Hasintongan Pakpahan
  • Avatar photo Nugraha Wisnu Wijaya
  • Avatar photo Raden Anggara Kurniawan
  • Avatar photo Raden Heru Wibowo Sukaten
  • Avatar photo Rahimulhuda Rizki Alwi
  • Avatar photo Rahmad Ramadhan Hasibuan
  • Avatar photo Ranggi Adiwangsa Yusron
  • Avatar photo Rohim
  • Avatar photo Samsul Zakaria
  • Avatar photo Tri Cahya Indra Permana
  • Avatar photo Yudhi Reksa Perdana
  • Avatar photo Abdul Ghani
  • Avatar photo Dr. Drs. H. Abdul Hadi, M.H.I.
  • Avatar photo Ach. Jufri
  • Avatar photo Adimas Leo Firmansah
  • Avatar photo Afif Muchshon
  • Avatar photo Agenda Citra Muhammad
  • Avatar photo Agus Suharsono
  • Avatar photo Ahmad Efendi
  • Avatar photo Ahmad Rizza Habibi
  • Avatar photo Alep Priyoambodo
  • Avatar photo Alfajar Nugraha
  • Avatar photo Anderson Peruzzi Simanjuntak
  • Avatar photo Andhika Prayoga
  • Avatar photo Andi Muhammad Galib
  • Avatar photo Andi Aswandi Tashar
  • Avatar photo Andrie Gunawan
  • Avatar photo Anna Yulina
  • Avatar photo Annisa Nur Alam
  • Avatar photo Arga Febrian
  • Avatar photo Arief Sapto Nugroho
  • Avatar photo Mayor Chk Arif Dwi Prasetyo
  • Avatar photo Armansyah
  • Avatar photo Aryaniek Andayani
  • Avatar photo Ashhab Triono
  • Avatar photo Bilma Diffika
  • Avatar photo Bony Daniel
  • Avatar photo Budi Hermanto
  • Avatar photo Budi Suhariyanto
  • Avatar photo Chandra Khoirunnas
  • Avatar photo Christopher Hutapea
  • Dedi Wigandi
  • Avatar photo Deka Rachman Budihanto
  • Avatar photo Eddy Sembiring
  • Avatar photo Effendi Mukhtar
  • Avatar photo Egia Rasido Tarigan
  • Avatar photo Eka Sentausa
  • Avatar photo Enos Syahputra Sipahutar, S.H., M.H.
  • Avatar photo Fahri Bachmid
  • Avatar photo Fahri Gunawan Siagian
  • Avatar photo Fahri Soleh
  • Avatar photo Fakhir Tashin Baaj
  • Avatar photo Fatkul Mujib, S.H.I., M.H.
  • Avatar photo Febriansyah Rozarius
  • Avatar photo Friska Ariesta Aritedi
  • Avatar photo Gineng Pratidina
  • Avatar photo Hastuti
  • Avatar photo Hendro Yatmoko
  • Avatar photo Ibnu Abas Ali
  • Avatar photo I Made Sukadana
  • Indra Tua Hasangapon Harahap
  • Avatar photo Ira Soniawati
  • Avatar photo Irfan Dibar
  • Avatar photo Muhammad Irfansyah
  • Avatar photo Letkol Kum Irwan Tasri, S.H., M.H., M.Han.
  • Avatar photo Iwan Lamganda Manalu
  • Avatar photo Jerymia Seky Tanaem
  • Avatar photo Jusran Ipandi
  • Avatar photo Khaimi
  • Avatar photo Khoerul Umam
  • Avatar photo Linora Rohayu
  • Avatar photo Marta Satria Putra
  • Avatar photo Marwan Ibrahim Piinga
  • Avatar photo Marwanto
  • Avatar photo Marzha Tweedo Dikky Paraanugrah
  • Avatar photo Maulia Martwenty Ine
  • Avatar photo Mira Maulidar
  • Avatar photo Misbah S.T., M.Eng.
  • Avatar photo Misbahul Anwar
  • Avatar photo Muhamad Ilham Azizul Haq
  • Avatar photo Muhamad Saptari
  • Avatar photo Muhammad Fadllullah
  • Avatar photo Muhammad Irfan Syahputra
  • Avatar photo Muhammad Muhyi Arrasyid, S.Psi.
  • Avatar photo Muhammad Bagus Tri Prasetyo
  • Avatar photo Muhammad Yusuf
  • Avatar photo Murdian
  • Avatar photo Nadia Yurisa Adila
  • Avatar photo Nia Chasanah
  • Avatar photo Nisrina Irbah Sati
  • Avatar photo Letkol CHK Nur Sakdi, S.H, M.H.
  • Avatar photo Nur Latifah Hanum
  • Avatar photo Pita Permatasari
  • Avatar photo H .A.S Pudjoharsoyo
  • Avatar photo Putri Pebrianti
  • Avatar photo R. Deddy Harryanto
  • Avatar photo Radityo Muhammad Harseno
  • Avatar photo Rahmi Fattah
  • Avatar photo Randy Viyatadhika
  • Avatar photo Ratih Gumilang
  • Avatar photo Reindra Jasper H. Sinaga, S.H. Hakim Pengadilan Negeri Tanjung Balai Karimun
  • Avatar photo Muh Ridha Hakim
  • Avatar photo Rifqi Qowiyul Iman
  • Avatar photo Rizal Abdurrahman
  • Avatar photo Rizal Arif Fitria
  • Avatar photo Romi Hardhika
  • Avatar photo Sandro Imanuel Sijabat
  • Avatar photo Dr. Satria Perdana, S.H., M.H.
  • Avatar photo Sbong Sinarok Martin, S.H., M.H.
  • Avatar photo Selexta Apriliani
  • Avatar photo Septia Putri Riko
  • Avatar photo Septriono Situmorang
  • Avatar photo Siti Anis
  • Avatar photo Slamet Turhamun
  • Avatar photo Sobandi
  • Avatar photo Stefanus Dwi Putra Medisa
  • Avatar photo Subiyatno
  • Avatar photo Teddy Lahati
  • Avatar photo Tri Baginda Kaisar Abdul Gafur
  • Avatar photo Urif Syarifudin
  • Avatar photo Wanda Rara Farezha,S.H.
  • Avatar photo Wienda Kresnantyo
  • Avatar photo Wilmar Ibni Rusydan
  • Avatar photo Willsa Suharyadi
  • Avatar photo Yoshelsa Wardhana
  • Avatar photo Yukiatiqa Afifah
  • Avatar photo Marsekal Muda TNI Dr. Yuwono Agung Nugroho, S.H., M.H.
Lihat semua kontributor →

Type above and press Enter to search. Press Esc to cancel.