Close Menu
Suara BSDKSuara BSDK
  • Beranda
  • Artikel
  • Berita
  • Features
  • Sosok
  • Filsafat
  • Roman
  • Satire
  • Video

Subscribe to Updates

Get the latest creative news from FooBar about art, design and business.

What's Hot

Sebelum Karangan Bunga Berikutnya Dikirim

27 July 2026 • 12:12 WIB

“Penguatan Kompetensi Jurusita untuk Peradilan Berkualitas”

27 July 2026 • 10:03 WIB

Reputasi dan Komunikasi Krisis: Menjaga Kepercayaan Publik di Era Digital

27 July 2026 • 07:04 WIB
Instagram YouTube
Suara BSDKSuara BSDK
Deskripsi Gambar
  • Beranda
  • Artikel
  • Berita
  • Features
  • Sosok
  • Filsafat
  • Roman
  • Satire
  • Video
Suara BSDKSuara BSDK
Deskripsi Gambar
  • Beranda
  • Artikel
  • Berita
  • Features
  • Sosok
  • Filsafat
  • Roman
  • Satire
  • Video
Home » Hakim Agung Kamar Pidana: KUHAP 2025 Menegaskan Hakim adalah Ratio Suma
Berita

Hakim Agung Kamar Pidana: KUHAP 2025 Menegaskan Hakim adalah Ratio Suma

Mohammad Khairul MuqorobinMohammad Khairul Muqorobin6 June 2026 • 13:38 WIB9 Mins Read
Share
Facebook Twitter Threads Telegram WhatsApp

Jakarta – Memasuki sesi kedua hari keempat Pelatihan Teknis Yudisial Implementasi KUHAP dan Pendalaman Pasal Tertentu KUHP Gelombang 3, para hakim dari Peradilan Umum dan Mahkamah Syar’iyah Aceh mendapat pemaparan strategis dari Hakim Agung Kamar Pidana Mahkamah Agung RI, YM Dr. Achmad Setyo Pudjoharsoyo, S.H., M.Hum., dengan tema “Pemeriksaan di Sidang Pengadilan Tingkat Pertama dan Acara Biasa, Singkat, Cepat serta Persidangan Tertentu”. Acara berlangsung melalui Zoom Meeting pada Jumat, 5 Juni 2026.

Dalam pemaparannya, Hakim Agung Achmad Setyo menegaskan bahwa hakim harus berperan sebagai ratio suma (nalar tertinggi) dalam proses peradilan. “Hakim menempati posisi mengendalikan kualitas seluruh proses pembuktian. Mulai dari pra-persidangan, saat sidang, hingga pasca-sidang, itu harus disiapkan,” ujarnya.

Pidana Berorientasi pada Keadilan Restoratif, Hindari Penjatuhan Penjara Jangka Pendek

Hakim Agung Achmad Setyo Pudjoharsoyo menyampaikan sejumlah pesan kunci yang menjadi pedoman hakim dalam menerapkan KUHAP baru. Pertama, pemidanaan harus berorientasi pada keadilan korektif, rehabilitatif, dan restoratif, bukan semata-mata pembalasan. Kedua, pidana penjara jangka pendek sedapat mungkin dihindari. Hakim diimbau mengoptimalkan pidana denda, pidana pengawasan, dan pidana kerja sosial.

“Meskipun regulasinya belum lahir sebagai kelanjutan dari undang-undang, tidak ada salahnya hakim tingkat pertama mengimplementasikan ini. Jangan menunggu kebijakan dari Mahkamah Agung atau peraturan pemerintah yang sampai hari ini pun belum selesai dibahas,” tegasnya.

Ketiga, stigmatisasi terhadap pelaku tindak pidana harus dicegah. “Ini adalah semangat dari ketentuan pidana yang baru,” imbuhnya. Ia juga mengingatkan bahwa SEMA Nomor 1 Tahun 2026 berfungsi sebagai bedding framework untuk keseragaman penerapan dan pencegahan disparitas. “SEMA lahir sangat berdekatan dengan undang-undang baru. Ini bentuk respons luar biasa dari Mahkamah Agung.”

Keberhasilan implementasi, menurutnya, sangat bergantung pada integritas dan konsistensi seluruh elemen peradilan pidana di Indonesia.

Sistem Hakim Aktif dan Berimbang: Perbedaan Fundamental KUHAP 2025

Hakim Agung Achmad Setyo Pudjoharsoyo mengajak peserta membandingkan KUHAP lama dan KUHAP 2025. Pasal 4 KUHAP baru menegaskan bahwa acara pidana dilaksanakan secara wajar melalui perpaduan antara sistem hakim aktif dengan para pihak yang berlawanan secara berimbang.

“Hakim aktif berarti hakim mempunyai peran besar dalam mengarahkan jalannya persidangan, aktif menemukan fakta, dan cermat menilai alat bukti. Jaksa penuntut umum maupun advokat diposisikan sebagai pihak yang berlawanan, diberikan kesempatan secara imbang,” jelasnya.

Ia mengkritisi praktik lama di mana hakim terlalu dominan bertanya, sementara penuntut umum dan advokat kurang mendapat porsi. “Dalam berita acara, sering tertulis: ‘setelah hakim mengatakan cukup, JPU diberi kesempatan’. Kemudian JPU mengajukan pertanyaan, hakim bilang cukup lagi. Ini tidak sesuai semangat KUHAP baru.”

Menurutnya, di era KUHAP 2025, hakim bertugas sebagai pengatur lalu lintas proses persidangan dan memastikan kualitas pertanyaan mengarah pada kebenaran material, bukan sebagai pemeriksa utama seperti dalam sistem inkuisitor murni.

Perluasan Alat Bukti

Hakim Agung Achmad Setyo Pudjoharsoyo kemudian memaparkan perubahan signifikan dalam sistem pembuktian. KUHAP lama (Pasal 184) hanya mengenal lima alat bukti: keterangan saksi, keterangan ahli, surat, petunjuk, dan keterangan terdakwa. KUHAP 2025 memperluas menjadi delapan kategori (Pasal 235), dengan tambahan: barang bukti, bukti elektronik, dan pengamatan hakim.

“Barang bukti kini menjadi alat bukti yang mandiri, tidak lagi tergantung pada alat bukti lain,” tegasnya. Bukti elektronik (informasi, dokumen elektronik, sistem elektronik) memerlukan autentifikasi karena mudah diubah dan direkayasa. Hakim harus memastikan keaslian, integritas, dan legalitas perolehannya.

Pengamatan hakim adalah hal baru yang berbeda dengan keyakinan hakim. “Pengamatan hakim adalah bentuk observasi di ruang sidang seperti gestur, cara menjawab, hal-hal yang menumbuhkan keyakinan apakah saksi atau terdakwa mengatakan kebenaran atau berbohong. Ini bisa menjadi alasan upaya hukum di tingkat banding atau kasasi jika tidak dicatat dengan baik.”

Sistem terbuka (Pasal 235 ayat 5) memungkinkan segala sesuatu yang dapat digunakan sebagai alat bukti, sepanjang tidak diperoleh secara melawan hukum. Contoh: budaya korporasi yang koruptif bisa menjadi alat bukti dalam perkara korporasi.

Prinsip Exclusionary Rule: Bukti yang Melawan Hukum Tidak Sah

Baca Juga  Pertama di Serui: Penganiayaan di Pelabuhan Dawai Berujung Pidana Pengawasan, PN Serui Pertimbangkan Perdamaian Para Pihak

Pasal 235 ayat 3 sampai 5 mengatur tentang exclusionary rule: alat bukti yang tidak autentik atau diperoleh secara melawan hukum tidak dapat digunakan dan tidak memiliki kekuatan pembuktian. Oleh karenanya Hakim wajib menguji setiap alat bukti yang diajukan.

Hakim Agung Achmad Setyo Pudjoharsoyo mengingatkan lima pilar penilaian alat bukti (berdasar Putusan MA 1531 K/Pid/2011 dan standar Amerika Serikat sejak 1993): 

  • Admissibility (dapat diterima secara hukum?)
  • Legalitas (bagaimana cara perolehan?)
  • Reliability (keandalan metode ilmiah?)
  • Relevansi (adakah hubungan dengan fakta persidangan?)
  •  dan Kecukupan (apakah mendukung kesimpulan hukum?).

Khusus bukti elektronik, hakim harus menanyakan: siapa yang pertama kali mengakses? Apakah dilakukan forensik imaging? Bagaimana rantai penjagaan (chain of custody) dari pengambilan hingga persidangan? Apakah laboratorium terakreditasi? “Transformasi bukti ilmiah menjadi bukti hukum tidak otomatis. Hakim harus memverifikasi kompetensi ahli, metode ilmiah, dan chain of custody,” tegasnya.

Opening Statement dan Closing Statement: Hal Baru yang Wajib Diterapkan

Salah satu kebaruan prosedural adalah opening statement (Pasal 210 ayat 1) dan closing statement (Pasal 231 ayat 1). Opening statement disampaikan secara lisan oleh JPU dan advokat sebelum pemeriksaan pokok perkara, menguraikan bukti dan saksi yang akan diajukan. Ini berbeda dengan eksepsi (keberatan tertulis terhadap dakwaan). “Ini penting untuk mengarahkan proses persidangan,” ujar Hakim Agung.

Closing statement disampaikan setelah pemeriksaan bukti selesai, sebelum tuntutan, replik, duplik, dan musyawarah. Kedua belah pihak menyampaikan kesimpulan secara lisan tentang bukti yang telah diajukan.

Pengakuan Bersalah dan Keadilan Restoratif: Dari Acara Biasa ke Acara Singkat

Hakim Agung Achmad Setyo Pudjoharsoyo menjelaskan bahwa jika terdakwa mengaku bersalah dan memenuhi syarat, hakim dapat mengalihkan pemeriksaan dari acara biasa menjadi acara singkat (Pasal 204-205 KUHAP baru). Namun, ia mengakui problem administratif: Buku II KUHAP belum direvisi, sehingga nomor perkara tidak berubah meskipun mekanisme pemeriksaannya berbeda. “Secara administrasi, setidaknya dibuat berita acara penetapan, kemudian pemeriksaan dilanjutkan oleh hakim anggota dengan acara singkat.”

Manajemen Sidang: Ratio Suma dan Checklist Hakim

Hakim Agung Achmad Setyo Pudjoharsoyo membagi manajemen persidangan dalam tiga tahap berikut ini:

  • Pra-persidangan: hakim menganalisis dakwaan dan unsur tindak pidana, membuat checklist daftar pertanyaan untuk saksi, mempelajari jenis alat bukti, mengantisipasi isu hukum (apakah bisa diterapkan RJ, plea bargaining, atau putusan pemaafan).
  • Saat sidang: hakim mengendalikan proses, mengamati para pihak (pengamatan hakim dimulai dari awal), mengklarifikasi hal-hal yang belum jelas. 
  • Pasca-sidang: hakim menyusun fakta-fakta, menguji konsistensi keterangan, memisahkan fakta yang terbukti dan diragukan, kemudian memformulasikan hukum.

“Putusan yang hanya menyalin BAP penyidikan berpotensi tidak lengkap dan rawan dibatalkan di tingkat kasasi,” peringatnya. Musyawarah putusan harus didasarkan pada surat dakwaan dan segala sesuatu yang terbukti dalam persidangan (Pasal 232 ayat 3 KUHAP baru). “Panitera pengganti juga harus betul-betul memperhatikan agar hakim tidak kehilangan momen apa yang sudah ditanyakan tetapi tidak tercatat dalam berita acara.”

Penundaan Saksi Dibatasi, Tidak Hadir Tanpa Alasan Sah Perkara Dilanjutkan

Pasal 201 KUHAP baru mengatur bahwa saksi atau ahli yang tidak hadir dengan alasan sah hanya dapat ditunda satu kali. Jika tetap tidak hadir, pemeriksaan dilanjutkan tanpa keterangannya. “Ini mengakhiri praktik penundaan sidang yang berulang-ulang,” ujar Hakim Agung Achmad Setyo Pudjoharsoyo. Hakim tidak boleh selalu mengikuti keinginan pihak-pihak yang minta penundaan terus-menerus.

Keterangan Saksi Persidangan Berbeda dengan keterangan di BAP: Lima Mekanisme untuk Melakukan Klarifikasi

Hakim Agung Achmad Setyo Pudjoharsoyo memberikan panduan teknis jika keterangan saksi di persidangan berbeda dengan BAP penyidikan. Nilai sebagai alat bukti adalah keterangan di ruang sidang. Hakim harus menempuh lima Langkah berikut ini:

  • tanyakan langsung alasan perbedaan;
  • nilai apakah perbedaan bersifat substansial atau hanya redaksional (beda bahasa/istilah);
  • cermati apakah saksi mendapat tekanan atau ancaman;
  • gunakan rekaman CCTV pemeriksaan tersangka (Pasal 30 KUHAP baru) sebagai cross-check;
  • catat secara rinci untuk pertimbangan menilai kekuatan alat bukti.
Baca Juga  Dari Kepastian Formil ke Keadilan Substansial: Penguatan Putusan dan Upaya Hukum dalam Peradilan Militer Pasca KUHAP Baru

Diskusi Interaktif: Dugaan Sumpah Palsu di Persidangan, Hakim Harus Hati-Hati

Seorang hakim dari Pengadilan Tinggi Tanjung Karang, menanyakan mekanisme jika saksi diduga memberikan keterangan palsu di persidangan setelah diperingatkan. Ia menceritakan pengalamannya di Gorontalo: ia langsung menahan empat orang saksi selama 30 hari, membuat berita acara persangkaan palsu, lalu menyerahkan ke penuntut umum untuk diproses. “Apakah di KUHAP baru mekanismenya seperti itu?” tanyanya.

Hakim Agung Achmad Setyo Pudjoharsoyo menjawab bahwa mekanisme sumpah palsu tidak banyak berbeda dengan KUHAP lama. Namun, ia mengingatkan agar hakim sangat berhati-hati. “Perbedaan keterangan tidak serta-merta berarti sumpah palsu. Hakim harus mengecek: apakah perbedaan itu substansial atau hanya redaksional? Apakah saksi berada dalam tekanan? Jangan sampai kita memproses sumpah palsu, ternyata hanya karena perbedaan cara menyampaikan.”

Ia menegaskan bahwa sebelum mengambil kesimpulan, hakim harus melakukan klarifikasi mendalam seperti mendengarkan keterangan terdakwa, penasihat hukum, bahkan penuntut umum. “Konsep baru di KUHAP adalah hakim mengendalikan proses dan melakukan klarifikasi. Jika keterangan itu tidak layak dijadikan alat bukti, boleh dikesampingkan. Tapi jangan terburu-buru menyimpulkan palsu.”

Mengenai mekanisme penahanan 30 hari yang dilakukan, Hakim Agung menilai langkah menunda perkara pokok sudah tepat, tetapi tetap harus melalui proses klarifikasi sebelum menetapkan adanya sumpah palsu. Ia juga menyebut bahwa masih diperlukan peraturan pelaksanaan terkait penetapan sumpah palsu.

Penutup: Hakim Jangan Terjebak Pola Lama, Terapkan KUHAP Baru Secara Utuh Tanpa Ragu

Hakim Agung Achmad Setyo Pudjoharsoyo mengakhiri pemaparannya dengan pesan yang tegas dan menggugah bahwa keberhasilan implementasi KUHAP 2025 tidak bergantung pada peraturan pelaksanaan yang belum selesai, bukan pula pada kebijakan teknis dari Mahkamah Agung semata. Keberhasilan itu sepenuhnya berada di tangan para hakim di tingkat pertama. “Jangan takut,” pesannya. “Tidak ada alasan untuk menunda-nunda penerapan KUHAP baru dengan dalih menunggu peraturan pemerintah atau menunggu pedoman dari pusat.”

Hakim Agung Achmad Setyo Pudjoharsoyo  mengingatkan bahwa KUHAP 2025 telah lahir sebagai undang-undang yang sah dan mengikat. Tidak ada kata belum siap bagi hakim. Semua ketentuan baru wajib diterapkan pada setiap perkara yang datang, tanpa memilah-milah. Tidak boleh ada perkara tertentu yang diperlakukan dengan KUHAP dan KUHP lama sementara perkara lain dengan KUHAP dan KUHP baru, hanya karena hakim merasa belum siap dalam mempelajari ketentuan yang baru.

Berdasarkan paparan Hakim Agung Achmad Setyo Pudjoharsoyo  di atas, maka mau tidak mau, suka tidak suka, hakim harus belajar. KUHAP baru tidak bisa diterapkan setengah-setengah. Jangan ada rasa takut diperiksa oleh badan pengawasan, jangan takut ditegur atasan, jangan takut putusan dibatalkan di tingkat banding atau kasasi. Karena undang-undang sendiri telah memberikan kewenangan penuh kepada hakim untuk menerapkan ketentuan baru ini.

Hakim Agung Achmad Setyo Pudjoharsoyo menyadari bahwa masih banyak hakim yang terjebak dalam pola lama: menjadi pemeriksa utama yang dominan, hanya menyalin BAP penyidikan ke dalam putusan, mengabaikan opening statement, dan enggan menggunakan pidana alternatif seperti kerja sosial atau pengawasan karena merasa belum ada aturan turunannya. Pola-pola ini harus ditinggalkan. KUHAP 2025 tidak mengenal alasan menunggu PP untuk memulai perubahan. “Jika regulasi pelaksana belum lahir, maka hakimlah yang harus berimprovisasi secara bertanggung jawab, dengan tetap berpegang pada asas keadilan dan kepastian hukum. Jangan dijadikan alasan untuk tidak berbuat apa-apa.”

Hakim Agung juga menekankan bahwa ketakutan akan risiko pribadi seperti putusan dibatalkan atau dilaporkan ke badan pengawasan tidak boleh melumpuhkan keberanian profesional. Justru sebaliknya, hakim yang konsisten menerapkan semangat KUHAP dan KUHP baru yang mengedepankan keadilan restoratif, penghindaran pidana penjara jangka pendek, pemberian ruang bagi korban, serta perlakuan berimbang terhadap para pihak akan melahirkan putusan-putusan yang lebih berkeadilan. Karena Mahkamah Agung sendiri, melalui berbagai SEMA dan putusan-putusannya, telah menunjukkan komitmen kuat untuk mendukung implementasi penuh KUHAP 2025.

Mohammad Khairul Muqorobin
Kontributor
Mohammad Khairul Muqorobin
Hakim Pengadilan Negeri Pulang Pisau

Untuk Mendapatkan Berita Terbaru Suara BSDK, Follow Channel WhatsApp: SUARABSDKMARI

Implementasi KUHAP Keadilan Restoratif kuhap 2025 Pelatihan Yudisial Pembuktian Pidana Peradilan Pidana
Share. Facebook Twitter Threads Telegram WhatsApp Copy Link

Related Posts

“Penguatan Kompetensi Jurusita untuk Peradilan Berkualitas”

27 July 2026 • 10:03 WIB

Kolaborasi PT Kalimantan Utara dan Badilum Learning Center Tingkatkan Kompetensi Kepaniteraan untuk Percepatan Penyelesaian Perkara

24 July 2026 • 03:57 WIB

Pengadilan Negeri Jakarta Timur Kabulkan Eksepsi Dokter Tifa : Surat Dakwaan Dinyatakan Batal Demi Hukum. Apa pertimbangannya?

23 July 2026 • 15:47 WIB
Leave A Reply

Demo
Top Posts

Sebelum Karangan Bunga Berikutnya Dikirim

27 July 2026 • 12:12 WIB

Menepi Sejenak di Tambak Bandeng

11 July 2026 • 09:06 WIB

Prediksi Juara World Cup 2026 Dari Pusdiklat Menpim

6 July 2026 • 21:16 WIB

Meneguhkan Negara Hukum Melalui Perlindungan Sosial: Sinergi Kebijakan Publik dan Lembaga Peradilan bagi Petani dan Pekerja Sektor Informal

1 July 2026 • 14:00 WIB
Don't Miss

Sebelum Karangan Bunga Berikutnya Dikirim

By Itsnaatul Lathifah27 July 2026 • 12:12 WIB0

Setiap kali saya mendengar kabar seorang hakim meninggal dunia, sosial media kita dipenuhi ucapan dan…

“Penguatan Kompetensi Jurusita untuk Peradilan Berkualitas”

27 July 2026 • 10:03 WIB

Reputasi dan Komunikasi Krisis: Menjaga Kepercayaan Publik di Era Digital

27 July 2026 • 07:04 WIB

Konvergensi Hukum Acara Peradilan Agama dan Pengawasan Sektor Jasa Keuangan: Analisis Implementasi PERMA Nomor 4 Tahun 2025

26 July 2026 • 09:00 WIB
Stay In Touch
  • Facebook
  • YouTube
  • TikTok
  • WhatsApp
  • Twitter
  • Instagram
Top Trending
Demo

Recent Posts

  • Sebelum Karangan Bunga Berikutnya Dikirim
  • “Penguatan Kompetensi Jurusita untuk Peradilan Berkualitas”
  • Reputasi dan Komunikasi Krisis: Menjaga Kepercayaan Publik di Era Digital
  • Konvergensi Hukum Acara Peradilan Agama dan Pengawasan Sektor Jasa Keuangan: Analisis Implementasi PERMA Nomor 4 Tahun 2025
  • Menghadirkan Ilmu dan Hati Nurani dalam Putusan Pengadilan

Recent Comments

  1. vardenafil vs sildenafil differences on Perkuat Tata Kelola Perencanaan, Badan Strajak Diklat Kumdil Lantik Pejabat Fungsional Perencana Ahli Pertama
  2. Gustav on PA Soreang Berduka: Hakim Samsul Zakaria Meninggal Dunia
  3. BruceFieda on Ketika Kontrak Diputus Sepihak: Pelanggaran Biasa atau Perbuatan Melawan Hukum?
  4. Albertoselve on Ketika Kontrak Diputus Sepihak: Pelanggaran Biasa atau Perbuatan Melawan Hukum?
  5. Jefferylog on Ketika Kontrak Diputus Sepihak: Pelanggaran Biasa atau Perbuatan Melawan Hukum?
Hubungi Kami

Badan Strategi Kebijakan dan Pendidikan dan Pelatihan Hukum dan Peradilan Hukum dan Peradilan
Mahkamah Agung RI

Kantor: Jl. Cikopo Selatan Desa Sukamaju, Kec. Megamendung
Bogor, Jawa Barat 16770

Kirimkan reportase berita, opini, features dan artikel lainnya ke email suarabsdk.com : 
redpelsuarabsdk@gmail.com

Telepon: (0251) 8249520, 8249522, 8249531, 8249539

Kategori
Beranda Artikel Berita Features Sosok KRITERIA TULISAN
Filsafat Roman Satire Video BALACADAS
Connect With Us
  • Instagram
  • YouTube
  • WhatsApp
Aplikasi Internal
Logo 1 Logo 2 Logo 3 Logo 3
Logo 4 Logo 4 Logo 4 Logo 5 Logo 5
Kontributor
  • Avatar photo Ahmad Junaedi
  • Avatar photo Mohammad Khairul Muqorobin
  • Avatar photo Irvan Mawardi
  • Avatar photo Aman
  • Avatar photo Cecep Mustafa
  • Avatar photo Ari Gunawan
  • Avatar photo Muamar Azmar Mahmud Farig
  • Avatar photo Khoiruddin Hasibuan
  • Avatar photo Syailendra Anantya Prawira
  • Avatar photo Agus Digdo Nugroho
  • Avatar photo Muhammad Rizqi Hengki
  • Avatar photo Muhammad Adiguna Bimasakti
  • Avatar photo Dahlan Suherlan
  • Avatar photo Ghesa Agnanto Hutomo
  • Avatar photo Timbul Bonardo Siahaan
  • Avatar photo Syamsul Arief
  • Avatar photo Taufikurrahman
  • Avatar photo Yudhistira Ary Prabowo
  • Avatar photo Jatmiko Wirawan
  • Avatar photo Maria Fransiska Walintukan
  • Avatar photo Zulfahmi
  • Avatar photo Cik Basir
  • Avatar photo M. Natsir Asnawi
  • Avatar photo Unggul Senoaji
  • Avatar photo Iqbal Lazuardi
  • Avatar photo Syihabuddin
  • Avatar photo Yoshito Siburian
  • Avatar photo Abdi Munawar Daeng Mangagang
  • Avatar photo Adji Prakoso
  • Avatar photo Galang Adhe Sukma
  • Avatar photo Harun Maulana
  • Avatar photo I Gusti Lanang Ngurah Sidemen Putra
  • Avatar photo Muhammad Hanif Ramadhan
  • Avatar photo Ahmad Syahrus Sikti
  • Avatar photo Anton Ahmad Sogiri
  • Avatar photo Eliyas Eko Setyo
  • Avatar photo Firzi Ramadhan
  • Avatar photo Sriti Hesti Astiti
  • Avatar photo Anisa Yustikaningtiyas
  • Avatar photo Jarkasih
  • Avatar photo Tri Indroyono
  • Avatar photo Letkol Chk Agustono, S.H., M.H.
  • Avatar photo Binsar Parlindungan Tampubolon
  • Avatar photo Marulam J Sembiring
  • Avatar photo Riki Perdana Raya Waruwu
  • Avatar photo Sudiyo
  • Avatar photo Dr. Syofyan Iskandar, S.H., M.H.
  • Avatar photo Afifah Dwiandini
  • Avatar photo Ardiansyah Iksaniyah Putra
  • Avatar photo Ganjar Prima Anggara
  • Avatar photo Johanes
  • Avatar photo Khoiriyah Roihan
  • Avatar photo Redaktur SuaraBSDK
  • Avatar photo Yasin Prasetia
  • Avatar photo Muhamad Zaky Albana
  • Avatar photo Buang Yusuf
  • Avatar photo Garin Purna Sanjaya
  • Avatar photo Henri Setiawan
  • Avatar photo Irwan Rosady
  • Avatar photo Itsnaatul Lathifah
  • Avatar photo Layla Windy Puspita Sari
  • Avatar photo Marsudin Nainggolan
  • Avatar photo Rafi Muhammad Ave
  • Avatar photo Rikatama Budiyantie
  • Avatar photo Teguh Setiyawan
  • Avatar photo Abdul Azis Ali Ramdlani
  • Avatar photo Ahmad Fuad Noor Ghufron
  • Avatar photo Ang Rijal Amin
  • Avatar photo Audrey Kartika Putri
  • Avatar photo Dedi Putra
  • Avatar photo Febby Fajrurrahman
  • Avatar photo Fitriyel Hanif
  • Avatar photo Hermanto
  • Avatar photo Indarka PP
  • Avatar photo Irene Cristna Silalahi
  • Avatar photo Nugraha Medica Prakasa
  • Avatar photo K.G. Raegen
  • Avatar photo Ria Marsella
  • Avatar photo Sahram
  • Avatar photo Saut Erwin Hartono A. Munthe
  • Avatar photo Silveria Supanti
  • Avatar photo Siti Nadhiroh
  • Avatar photo Sugiarto
  • Avatar photo Yusuf Sodhiqin
  • Avatar photo Achmad Fikri Oslami
  • Avatar photo Achmad Pratomo
  • Avatar photo Ahmad Faiz Shobir Alfikri
  • Avatar photo Achmad Nurul Huda
  • Avatar photo Anggi Permana
  • Avatar photo Arie Fitriansyah
  • Avatar photo Bintoro Wisnu Prasojo, S.H.
  • Avatar photo Bismo Jiwo Agung
  • Avatar photo Cok Istri Bhagawanthi Pemayun
  • Avatar photo Dewi Maharati
  • Avatar photo Epri Wahyudi
  • Avatar photo Fajar Widodo
  • Avatar photo Fariz Prasetyo Aji
  • Avatar photo Febry Indra Gunawan Sitorus
  • Avatar photo Gerry Geovant Supranata Kaban
  • Avatar photo Gerry Michael Purba
  • Avatar photo Mardi Candra
  • Avatar photo Maulana Aulia
  • Avatar photo Muhamad Fadillah
  • Avatar photo Muhammad Amin Putra
  • Avatar photo Putra Nova A.S
  • Avatar photo Rangga Lukita Desnata
  • Avatar photo Trisoko Sugeng Sulistyo
  • Avatar photo Umar Dani
  • Avatar photo Abiandri Fikri Akbar
  • Avatar photo Abi Zaky Azizi
  • Avatar photo Dr. H. Achmad Setyo Pudjoharsoyo., SH., M.Hum
  • Avatar photo Andi Akram
  • Avatar photo Arsyawal
  • Avatar photo Aulia Rochmani Lazuardi
  • Avatar photo Bagus Partha Wijaya
  • Avatar photo Bayu Akbar Wicaksono
  • Avatar photo Cuhandi
  • Avatar photo David Pasaribu
  • Avatar photo Dendi Sutiyoso
  • Avatar photo Dhea Sutaryana
  • Avatar photo Edi Hudiata
  • Avatar photo Enrico Simanjuntak
  • Avatar photo Fauzan Prasetya
  • Avatar photo Fauzan Arrasyid
  • Avatar photo Fauziah Rahmah
  • Avatar photo Fery Rochmad Ramadhan
  • Avatar photo Hartanto Ariesyandi
  • Avatar photo Herjuna Praba Wiesesa
  • Avatar photo Idik Saeful Bahri
  • Avatar photo Karell Mawla Ibnu Kamali
  • Avatar photo Khoirul Anwar
  • Avatar photo Mentari Wahyudihati
  • Avatar photo Muhamad Ridwan
  • Avatar photo Muhamad Iqbal
  • Avatar photo Niko Wijaya
  • Avatar photo Novritsar Hasintongan Pakpahan
  • Avatar photo Nugraha Wisnu Wijaya
  • Avatar photo Raden Anggara Kurniawan
  • Avatar photo Raden Heru Wibowo Sukaten
  • Avatar photo Rahimulhuda Rizki Alwi
  • Avatar photo Rahmad Ramadhan Hasibuan
  • Avatar photo Ranggi Adiwangsa Yusron
  • Avatar photo Rohim
  • Avatar photo Samsul Zakaria
  • Avatar photo Tri Cahya Indra Permana
  • Avatar photo Yudhi Reksa Perdana
  • Avatar photo Abdul Ghani
  • Avatar photo Dr. Drs. H. Abdul Hadi, M.H.I.
  • Avatar photo Ach. Jufri
  • Avatar photo Adimas Leo Firmansah
  • Avatar photo Afif Muchshon
  • Avatar photo Agenda Citra Muhammad
  • Avatar photo Agus Suharsono
  • Avatar photo Ahmad Efendi
  • Avatar photo Ahmad Rizza Habibi
  • Avatar photo Alep Priyoambodo
  • Avatar photo Alfajar Nugraha
  • Avatar photo Anderson Peruzzi Simanjuntak
  • Avatar photo Andhika Prayoga
  • Avatar photo Andi Muhammad Galib
  • Avatar photo Andi Aswandi Tashar
  • Avatar photo Andrie Gunawan
  • Avatar photo Anna Yulina
  • Avatar photo Annisa Nur Alam
  • Avatar photo Arga Febrian
  • Avatar photo Arief Sapto Nugroho
  • Avatar photo Mayor Chk Arif Dwi Prasetyo
  • Avatar photo Armansyah
  • Avatar photo Aryaniek Andayani
  • Avatar photo Ashhab Triono
  • Avatar photo Bilma Diffika
  • Avatar photo Bony Daniel
  • Avatar photo Budi Hermanto
  • Avatar photo Budi Suhariyanto
  • Avatar photo Chandra Khoirunnas
  • Avatar photo Christopher Hutapea
  • Avatar photo Deka Rachman Budihanto
  • Avatar photo Eddy Sembiring
  • Avatar photo Effendi Mukhtar
  • Avatar photo Egia Rasido Tarigan
  • Avatar photo Eka Sentausa
  • Avatar photo Enos Syahputra Sipahutar, S.H., M.H.
  • Avatar photo Fahri Bachmid
  • Avatar photo Fahri Gunawan Siagian
  • Avatar photo Fahri Soleh
  • Avatar photo Fakhir Tashin Baaj
  • Avatar photo Fatkul Mujib, S.H.I., M.H.
  • Avatar photo Febriansyah Rozarius
  • Avatar photo Friska Ariesta Aritedi
  • Avatar photo Gineng Pratidina
  • Avatar photo Hastuti
  • Avatar photo Hendro Yatmoko
  • Avatar photo Ibnu Abas Ali
  • Avatar photo I Made Sukadana
  • Indra Tua Hasangapon Harahap
  • Avatar photo Ira Soniawati
  • Avatar photo Irfan Dibar
  • Avatar photo Muhammad Irfansyah
  • Avatar photo Letkol Kum Irwan Tasri, S.H., M.H., M.Han.
  • Avatar photo Iwan Lamganda Manalu
  • Avatar photo Jerymia Seky Tanaem
  • Avatar photo Jusran Ipandi
  • Avatar photo Khaimi
  • Avatar photo Khoerul Umam
  • Avatar photo Linora Rohayu
  • Avatar photo Marta Satria Putra
  • Avatar photo Marwan Ibrahim Piinga
  • Avatar photo Marwanto
  • Avatar photo Marzha Tweedo Dikky Paraanugrah
  • Avatar photo Maulia Martwenty Ine
  • Avatar photo Mira Maulidar
  • Avatar photo Misbah S.T., M.Eng.
  • Avatar photo Misbahul Anwar
  • Avatar photo Muhamad Ilham Azizul Haq
  • Avatar photo Muhamad Saptari
  • Avatar photo Muhammad Fadllullah
  • Avatar photo Muhammad Irfan Syahputra
  • Avatar photo Muhammad Muhyi Arrasyid, S.Psi.
  • Avatar photo Muhammad Bagus Tri Prasetyo
  • Avatar photo Muhammad Yusuf
  • Avatar photo Murdian
  • Avatar photo Nadia Yurisa Adila
  • Avatar photo Nia Chasanah
  • Avatar photo Nisrina Irbah Sati
  • Avatar photo Letkol CHK Nur Sakdi, S.H, M.H.
  • Avatar photo Nur Latifah Hanum
  • Avatar photo Pita Permatasari
  • Avatar photo H .A.S Pudjoharsoyo
  • Avatar photo Putri Pebrianti
  • Avatar photo R. Deddy Harryanto
  • Avatar photo Radityo Muhammad Harseno
  • Avatar photo Rahmi Fattah
  • Avatar photo Randy Viyatadhika
  • Avatar photo Ratih Gumilang
  • Avatar photo Reindra Jasper H. Sinaga, S.H. Hakim Pengadilan Negeri Tanjung Balai Karimun
  • Avatar photo Muh Ridha Hakim
  • Avatar photo Rifqi Qowiyul Iman
  • Avatar photo Rizal Abdurrahman
  • Avatar photo Rizal Arif Fitria
  • Avatar photo Romi Hardhika
  • Avatar photo Sandro Imanuel Sijabat
  • Avatar photo Dr. Satria Perdana, S.H., M.H.
  • Avatar photo Sbong Sinarok Martin, S.H., M.H.
  • Avatar photo Selexta Apriliani
  • Avatar photo Septia Putri Riko
  • Avatar photo Septriono Situmorang
  • Avatar photo Siti Anis
  • Avatar photo Slamet Turhamun
  • Avatar photo Sobandi
  • Avatar photo Stefanus Dwi Putra Medisa
  • Avatar photo Subiyatno
  • Avatar photo Teddy Lahati
  • Avatar photo Tri Baginda Kaisar Abdul Gafur
  • Avatar photo Urif Syarifudin
  • Avatar photo Wanda Rara Farezha,S.H.
  • Avatar photo Wienda Kresnantyo
  • Avatar photo Willsa Suharyadi
  • Avatar photo Yoshelsa Wardhana
  • Avatar photo Yukiatiqa Afifah
  • Avatar photo Marsekal Muda TNI Dr. Yuwono Agung Nugroho, S.H., M.H.
Lihat semua kontributor →

Type above and press Enter to search. Press Esc to cancel.