Close Menu
Suara BSDKSuara BSDK
  • Beranda
  • Artikel
  • Berita
  • Features
  • Sosok
  • Filsafat
  • Roman
  • Satire
  • Video

Subscribe to Updates

Get the latest creative news from FooBar about art, design and business.

What's Hot

Dari Lapangan Pertandingan ke Ruang Persaudaraan: Semarak HUT ke-81 MA di BSDK

30 August 2026 • 15:41 WIB

Semarak Setelah Garis Finis: Apresiasi bagi Para Pelari CADAS BSDK MA Run 2026

30 August 2026 • 13:41 WIB

BSDK MA Run 2026: 10 Kilometer Pelari CADAS, Berlari Bersama Menjaga Semangat Pengabdian dan Integritas

30 August 2026 • 07:59 WIB
Instagram YouTube
Suara BSDKSuara BSDK
Deskripsi Gambar
  • Beranda
  • Artikel
  • Berita
  • Features
  • Sosok
  • Filsafat
  • Roman
  • Satire
  • Video
Suara BSDKSuara BSDK
Deskripsi Gambar
  • Beranda
  • Artikel
  • Berita
  • Features
  • Sosok
  • Filsafat
  • Roman
  • Satire
  • Video
Home » Mengadili untuk Memulihkan Martabat: Human Dignity dan Maqashid Syariah dalam Penyelesaian Sengketa Keluarga

Mengadili untuk Memulihkan Martabat: Human Dignity dan Maqashid Syariah dalam Penyelesaian Sengketa Keluarga

Fauziah RahmahFauziah Rahmah12 July 2026 • 18:21 WIB11 Mins ReadNo Comments
Share
Facebook Twitter Threads Telegram WhatsApp

Bagi pengadilan, suatu perkara mungkin dapat dinyatakan selesai begitu putusan dijatuhkan, namun bagi sebuah keluarga, keadilan sering kali baru benar-benar diuji setelah proses hukum tersebut berakhir. Putusan mungkin telah berkekuatan hukum tetap, tetapi kenyataannya pertanyaan-pertanyaan baru mengenai masa depan justru mulai muncul ke permukaan. Hal ini mencakup kepastian apakah hak anak benar-benar tetap terpenuhi, apakah mantan pasangan memperoleh perlindungan atas hak-hak ekonominya, hingga apakah hubungan orang tua dan anak tetap dapat terjaga meskipun perkawinan telah berakhir. Pertanyaan-pertanyaan krusial tersebut menunjukkan bahwa dalam sengketa keluarga, akhir dari proses peradilan formal tidak selalu berarti akhir dari persoalan kemanusiaan yang dihadapi oleh para pihak.

Realitas kemanusiaan yang kompleks tersebut setiap hari hadir secara nyata dalam praktik di meja hijau Peradilan Agama. Berbagai perkara keluarga, mulai dari perceraian, hak asuh anak, nafkah, harta bersama, waris, hingga permohonan status hukum, memperlihatkan bahwa di balik setiap berkas perkara terdapat kehidupan manusia yang sedang mengalami guncangan besar. Di satu sisi, seorang perempuan harus menata kembali kemandirian hidupnya pascaperkawinan, sementara di sisi lain, seorang anak dipaksa beradaptasi dengan perubahan pola pengasuhan yang mendadak. Meskipun ikatan perkawinan telah berakhir, kedua orang tua tetap memikul tanggung jawab moral dan hukum terhadap tumbuh kembang anak mereka. Bahkan dalam perkara yang bersifat kebendaan seperti waris atau harta bersama, putusan pengadilan tidak hanya menentukan pembagian aset, tetapi juga secara mendalam memengaruhi keutuhan hubungan antarkeluarga besar di masa depan.

Karakteristik khusus yang menyentuh dimensi personal ini menjadikan sengketa keluarga sangat berbeda dengan sengketa keperdataan pada umumnya yang bersifat transaksional. Penyelesaian perkara di sini tidak cukup dimaknai hanya sebagai berakhirnya konflik hukum di atas kertas atau sekadar terpenuhinya prosedur formal peradilan semata. Hakim memang bertugas menyelesaikan sengketa berdasarkan fakta persidangan dan ketentuan hukum yang berlaku, namun yang dihadapi hakim sesungguhnya melampaui persoalan normatif, yakni manusia dengan hak, martabat, dan masa depan yang membutuhkan perlindungan hukum nyata. Sering kali, persoalan mengenai pelaksanaan nafkah, pengasuhan anak, maupun hubungan batin antarkeluarga justru baru mencuat menjadi konflik baru setelah putusan memperoleh kekuatan hukum tetap. Kenyataan pahit ini mempertegas bahwa keberhasilan administratif dalam mengadili tidak selalu identik dengan keberhasilan dalam menyelesaikan akar masalah kehidupan para pihak.

Namun sayangnya, selama ini keberhasilan lembaga peradilan kerap kali hanya dipahami secara sempit melalui parameter jumlah perkara yang diputus, ketepatan waktu penyelesaian, serta tertibnya administrasi peradilan. Ukuran-ukuran administratif tersebut memang penting sebagai wujud akuntabilitas publik sebuah lembaga, namun dalam perkara keluarga, keberhasilan mengadili tidak dapat dibatasi hanya pada capaian angka-angka semata. Sebuah putusan yang secara yuridis dianggap benar belum tentu mampu secara efektif mengurangi kerentanan perempuan pascaperceraian, menjamin hak anak secara berkelanjutan, atau menjaga sisa-sisa hubungan kekeluargaan yang masih dapat dipertahankan. Di sinilah peradilan dituntut untuk tidak hanya menghadirkan kepastian hukum yang kaku, tetapi juga mampu menghadirkan keadilan yang lebih dalam dan berorientasi pada manusia.

Orientasi yang memprioritaskan dimensi kemanusiaan ini sesungguhnya telah memperoleh landasan normatif yang sangat kuat dalam sistem hukum di Indonesia. Pasal 5 ayat (1) Undang-Undang Nomor 48 Tahun 2009 tentang Kekuasaan Kehakiman secara eksplisit menegaskan bahwa hakim wajib menggali, mengikuti, dan memahami nilai-nilai hukum serta rasa keadilan yang hidup di tengah masyarakat. Amanat tersebut selaras dengan Pasal 3 ayat (2) Undang-Undang Nomor 39 Tahun 1999 tentang Hak Asasi Manusia yang menjamin hak setiap orang atas perlindungan hukum yang adil serta persamaan di hadapan hukum. Kedua ketentuan tersebut menjadi bukti bahwa tugas mengadili tidak boleh berhenti pada penerapan norma secara tekstual, melainkan menuntut hakim untuk memahami dimensi sosial dan kemanusiaan yang melatarbelakangi setiap sengketa.

Pemahaman normatif tersebut sejalan dengan pandangan Jimly Asshiddiqie yang menegaskan bahwa negara hukum Indonesia tidak hanya bertumpu pada supremasi hukum semata, tetapi juga pada penghormatan dan pemenuhan hak asasi manusia sebagai prinsip konstitusional. Dalam kerangka ini, kekuasaan kehakiman memegang peranan vital untuk memastikan bahwa penerapan hukum tidak hanya berhenti pada kepastian normatif, melainkan juga menghadirkan keadilan yang nyata dalam melindungi hak-hak warga negara. Bagi penyelesaian sengketa keluarga, pandangan ini mempertegas bahwa setiap putusan pengadilan harus dipahami sebagai instrumen untuk menjaga nilai-nilai kemanusiaan yang menjadi fondasi sebuah negara hukum. Putusan bukan sekadar produk akhir penegakan hukum, melainkan jaminan bagi martabat individu yang terlibat di dalamnya.

Dalam konteks perlindungan martabat itulah, gagasan human dignity atau martabat manusia sangat layak ditempatkan sebagai paradigma utama dalam penyelesaian sengketa keluarga. Paradigma ini memandang bahwa tujuan akhir dari proses mengadili bukan semata-mata untuk mengakhiri perselisihan hukum, melainkan memastikan hukum tetap menghormati dan memulihkan martabat setiap orang yang terdampak oleh konflik keluarga. Munculnya paradigma ini membawa pertanyaan mendasar mengenai mengapa martabat manusia harus menjadi orientasi utama, sementara tugas tradisional hakim sering kali hanya dipahami sebagai penerapan hukum terhadap fakta persidangan. Jawaban atas pertanyaan ini dapat ditelusuri melalui perkembangan pemikiran hukum yang memposisikan manusia sebagai pusat dari tujuan hukum itu sendiri.

Baca Juga  Dorong Kewenangan Peradilan Agama, OKTASA Bahas Masa Depan Kepailitan Syariah di Indonesia

Pandangan bahwa hukum harus berorientasi pada martabat manusia ini sesungguhnya bukanlah gagasan yang sepenuhnya baru dalam khazanah pemikiran hukum di Indonesia. Satjipto Rahardjo melalui gagasan Hukum Progresif secara tegas menyatakan bahwa hukum hadir untuk manusia, bukan manusia untuk hukum. Oleh karena itu, keberhasilan penegakan hukum tidak ditentukan oleh ketepatan menerapkan peraturan perundang-undangan secara mekanis, melainkan oleh kemampuannya menghadirkan keadilan yang memberikan manfaat nyata bagi masyarakat. Dalam konteks keluarga, pemikiran ini mempertegas bahwa keberhasilan mengadili diukur dari sejauh mana putusan mampu melindungi pihak yang rentan serta menjaga nilai kemanusiaan yang terancam oleh sengketa.

Perspektif hukum yang memuliakan manusia tersebut kemudian menemukan landasan filosofis yang lebih luas dalam pemikiran tokoh dunia seperti Ronald Dworkin. Menurut Dworkin, legitimasi sebuah negara hukum sangat bergantung pada kemampuannya memperlakukan setiap orang berdasarkan prinsip equal concern and respect. Prinsip ini menegaskan bahwa setiap individu memiliki nilai intrinsik yang sama di hadapan hukum, sehingga mereka tidak boleh diperlakukan hanya sebagai objek penerapan norma, melainkan sebagai subjek yang martabatnya wajib dihormati. Dengan demikian, setiap putusan pengadilan dituntut tidak hanya benar secara hukum formal, tetapi juga harus mencerminkan penghormatan yang setara terhadap martabat setiap pencari keadilan.

Gagasan tentang martabat tersebut kemudian diperdalam oleh Jeremy Waldron yang memandang human dignity sebagai status normatif yang melekat pada setiap individu. Status ini menuntut agar setiap manusia diperlakukan sebagai subjek hukum yang memiliki nilai intrinsik yang harus dihormati secara utuh. Dalam perspektif Waldron, penghormatan terhadap martabat manusia menjadi fondasi etik bagi perlindungan hak asasi manusia serta prinsip persamaan di hadapan hukum. Oleh karena itu, setiap tindakan negara, termasuk putusan pengadilan, harus memperkuat pengakuan atas martabat tersebut sehingga hukum tidak sekadar menghasilkan kepastian hukum, melainkan juga kemuliaan bagi manusia.

Sejalan dengan pengakuan status normatif tersebut, Martha C. Nussbaum melalui Capabilities Approach mengingatkan bahwa penghormatan terhadap martabat manusia tidaklah cukup jika hanya diwujudkan melalui pengakuan hak secara formal. Keadilan sejati menuntut adanya kesempatan nyata bagi setiap orang untuk menjalankan kapabilitas dasarnya agar dapat menjalani kehidupan yang layak dan bermakna. Dalam perkara keluarga, keberhasilan putusan diukur dari kemampuannya menciptakan kondisi yang memungkinkan para pihak melanjutkan hidup secara bermartabat pascasengketa. Pemenuhan hak nafkah yang konkret, perlindungan kepentingan terbaik anak, serta pembagian harta bersama yang adil merupakan contoh nyata bagaimana putusan pengadilan memberikan modalitas bagi para pihak untuk membangun kembali kehidupan mereka.

Pemikiran para filosof tersebut memperoleh relevansi yang sangat nyata ketika diterapkan dalam praktik kekuasaan kehakiman saat ini. Aharon Barak menegaskan bahwa hakim di negara demokrasi bukan sekadar “mulut undang-undang” yang bekerja secara mekanis, melainkan penjaga nilai-nilai fundamental yang menjadi roh sistem hukum. Menurut Barak, tugas hakim adalah menegakkan supremasi hukum sekaligus memastikan penerapan hukum tetap selaras dengan prinsip demokrasi, hak asasi manusia, dan keadilan. Dalam kerangka ini, kepastian hukum tetap merupakan prasyarat penting, namun ia tidak boleh menghilangkan orientasi utama hukum terhadap manusia sebagai tujuan akhirnya.

Bagi lingkungan Peradilan Agama, pemikiran mengenai orientasi pada manusia ini memiliki arti yang sangat konkret dan mendalam. Sengketa yang diperiksa di sini tidak hanya berkaitan dengan hubungan perdata biasa, tetapi menyangkut kehidupan keluarga yang merupakan fondasi terkecil dari masyarakat. Setiap putusan mengenai hak asuh anak, nafkah, harta bersama, maupun waris akan secara langsung memengaruhi keberlangsungan hubungan keluarga tersebut setelah persidangan berakhir. Oleh karena itu, hakim Peradilan Agama dituntut untuk mempertimbangkan bagaimana putusan mereka mampu memberikan perlindungan nyata terhadap hak, kepentingan, dan martabat setiap orang yang terdampak oleh perkara tersebut.

Sampai pada titik ini, muncul sebuah pertanyaan reflektif: apakah paradigma human dignity merupakan konsep yang sepenuhnya baru bagi Peradilan Agama? Jawabannya adalah tidak, karena jika ditelusuri lebih jauh, substansi martabat manusia sesungguhnya telah lama hidup dalam tradisi hukum Islam melalui konsep maqashid syariah. Oleh karena itu, ketika hakim Peradilan Agama menempatkan kemaslahatan manusia sebagai orientasi utama, hakim sebenarnya sedang mengaktualisasikan tujuan-tujuan dasar syariat dalam konteks negara hukum modern.

Baca Juga  Logika, Etika, dan Jebakan Logical Fallacy: Refleksi bagi Hakim dalam Memeriksa dan Mengadili Suatu Perkara

Dalam tradisi hukum Islam sendiri, orientasi pada martabat manusia telah menjadi jiwa dari keberadaan syariat itu sendiri. Sejak awal, syariat tidak dimaksudkan sebagai kumpulan aturan yang bersifat formalistik, melainkan sebagai instrumen untuk mewujudkan kemaslahatan umat manusia. Abu Hamid al-Ghazali merumuskan bahwa tujuan syariat adalah menjaga lima kebutuhan pokok atau al-kulliyat al-khams, yaitu agama, jiwa, akal, keturunan, dan harta. Rumusan ini kemudian dikembangkan secara sistematis oleh Abu Ishaq al-Shatibi yang menegaskan bahwa seluruh ketentuan syariat diarahkan untuk mewujudkan kemaslahatan dan mencegah kerusakan bagi manusia.

Perkembangan masyarakat modern selanjutnya membawa perluasan cara pandang terhadap konsep maqashid syariah tersebut. Muhammad al-Tahir Ibn Ashur menggeser orientasi maqashid dari sekadar perlindungan minimal terhadap kebutuhan pokok menuju nilai-nilai universal seperti keadilan, kebebasan, persamaan, dan penghormatan martabat manusia secara luas. Pergeseran ini menunjukkan bahwa tujuan syariat bukan lagi sekadar melindungi manusia dari kerugian, tetapi aktif membangun tatanan kehidupan yang memungkinkan setiap orang untuk berkembang secara utuh sebagai manusia.

Pemikiran progresif tersebut kemudian memperoleh penguatan lebih lanjut dalam kajian maqashid kontemporer. Jasser Auda menawarkan pendekatan sistem yang mengaitkan hukum Islam dengan pembangunan manusia (human development) serta perlindungan terhadap kelompok rentan sebagai tujuan inti hukum Islam. Senada dengan itu, Mohammad Hashim Kamali menjelaskan bahwa maqashid syariah berperan sebagai jembatan yang menghubungkan hukum Islam dengan prinsip rule of law dan hak asasi manusia universal. Kedua tokoh kontemporer ini bersepakat bahwa keberhasilan hukum harus diukur dari kemampuannya untuk meningkatkan kualitas kehidupan manusia secara menyeluruh.

Seluruh perkembangan pemikiran tersebut memperlihatkan bahwa human dignity dan maqashid syariah bukanlah dua paradigma yang saling bertentangan, melainkan dua tradisi besar yang bertemu pada muara yang sama, yaitu memuliakan manusia. Jika filsafat hukum modern menjelaskan martabat manusia sebagai dasar etik perlindungan hak asasi, maka maqashid syariah memberikan landasan spiritual bahwa seluruh hukum harus bermuara pada kemaslahatan manusia. Keduanya secara harmonis menempatkan manusia sebagai subjek utama hukum, bukan sekadar objek dari penerapan norma-norma yang kaku.

Dalam konteks praktik di Peradilan Agama, titik temu kedua paradigma tersebut mewujud dalam tindakan yang sangat konkret. Ketika hakim mempertimbangkan kepentingan terbaik bagi anak, memastikan pemenuhan nafkah perempuan pascacerai, atau membagi harta bersama secara proporsional, hakim sesungguhnya sedang menjaga martabat manusia melalui putusan yang adil secara substantif. Dengan demikian, putusan pengadilan tidak hanya berfungsi sebagai penyelesaian sengketa yuridis di ruang sidang, tetapi juga menjadi sarana untuk memulihkan hubungan sosial dan mengurangi kerentanan pihak yang terlibat. Putusan tersebut memastikan bahwa setiap orang tetap diperlakukan sebagai pribadi yang memiliki nilai dan kehormatan yang utuh.

Pada akhirnya, keberhasilan penyelesaian sengketa keluarga harus dilihat melampaui berakhirnya proses persidangan atau terpenuhinya prosedur formal semata. Keberhasilan sejati tercermin dari kemampuan putusan dalam menghadirkan perlindungan hak, menjaga tanggung jawab keluarga, serta memberikan ruang bagi setiap orang untuk melanjutkan hidup secara layak dan bermartabat. Di tengah kompleksitas masalah sosial saat ini, lembaga peradilan dituntut untuk terus mengembangkan paradigma yang tidak hanya mengejar kepastian hukum, tetapi juga keadilan yang benar-benar memanusiakan manusia. Amanat konstitusi, nilai-nilai hak asasi manusia, serta prinsip-prinsip hukum yang menjunjung kemaslahatan telah bersatu untuk menempatkan manusia sebagai pusat dari seluruh penyelenggaraan hukum. Dengan demikian, mengadili perkara keluarga adalah tugas mulia bagi setiap hakim untuk menjaga dan memulihkan martabat manusia demi menghadirkan keadilan yang sebenar-benarnya

REFERENSI

Al-Ghazali, Abu Hamid. 1993. Al-Mustasfa min ’Ilm al-Usul. Dar al-Kutub al-’Ilmiyyah.

Al-Shatibi, Abu Ishaq. 1997. Al-Muwafaqat fi Usul al-Shari’ah. Dar al-Kutub al-’Ilmiyyah.

Asshiddiqie, Jimly. 2018. Konstitusi dan Konstitusionalisme Indonesia. Sinar Grafika.

Barak, Aharon. 2006. The Judge in a Democracy. Princeton University Press.

Dworkin, Ronald. 1977. Taking Rights Seriously. Harvard University Press.

Ibn Ashur, Muhammad al-Tahir. 2006. Treatise on Maqasid Al-Shariah. The International Institute of Islamic Thought.

Jasser Auda. 2008. Maqashid Al-Syariah As Philosophy of Islamic Law: A System Approach. The International Institute of Islamic Thought.

Kamali, Mohammad Hashim. 2008. Maqasid Al-Shariah Made Simple. IAIS Malaysia.

Nussbaum, Martha C. 2011. Creating Capabilities: The Human Development Approach. Harvard University Press.

Rahardjo, Satjipto. 2009. Hukum Progresif: Sebuah Sintesa Hukum Indonesia. Genta Publishing.

Undang-Undang Nomor 39 Tahun 1999 tentang Hak Asasi Manusia.

Undang-Undang Nomor 48 Tahun 2009 tentang Kekuasaan Kehakiman.

Waldron, Jeremy. 2012. Dignity, Rank, and Rights. Oxford University Press.

Fauziah Rahmah
Kontributor
Fauziah Rahmah
Hakim Pengadilan Agama Pasir Pengaraian

Untuk Mendapatkan Berita Terbaru Suara BSDK, Follow Channel WhatsApp: SUARABSDKMARI

Human Dignity Keadilan Substantif Maqashid Syariah Peradilan Agama Sengketa Keluarga
Share. Facebook Twitter Threads Telegram WhatsApp Copy Link

Related Posts

Belajar dari Putusan Kasasi Nomor 11179 K/Pid.Sus/2025: Menimbang Kerugian Ekologis dan Kerugian Ekonomis dalam Upaya Pemulihan Lingkungan Hidup

28 August 2026 • 10:53 WIB

Halusinasi AI dan Kualitas Informasi Hukum: Memposisikan Perpustakaan Peradilan sebagai Filter Validasi Data

25 August 2026 • 16:14 WIB

Jangan Biarkan Pintu Terbuka Untuk Korupsi

24 August 2026 • 20:31 WIB
Leave A Reply


Demo
Top Posts

Sayap Patah dan Keadilan Yang Tersisa Bagi Elang

15 August 2026 • 14:32 WIB

Secangkir Cocopresso dari Seorang Yang Mulia

15 August 2026 • 12:22 WIB

Dari Monitoring Hingga Titik Nol: Sebuah Perjalanan Tentang Pengabdian

30 July 2026 • 15:00 WIB

Sebelum Karangan Bunga Berikutnya Dikirim

27 July 2026 • 12:12 WIB
Don't Miss

Dari Lapangan Pertandingan ke Ruang Persaudaraan: Semarak HUT ke-81 MA di BSDK

By Marulam J Sembiring30 August 2026 • 15:41 WIB0

Megamendung, Bogor — Rangkaian peringatan Hari Ulang Tahun ke-81 Mahkamah Agung Republik Indonesia di lingkungan…

Semarak Setelah Garis Finis: Apresiasi bagi Para Pelari CADAS BSDK MA Run 2026

30 August 2026 • 13:41 WIB

BSDK MA Run 2026: 10 Kilometer Pelari CADAS, Berlari Bersama Menjaga Semangat Pengabdian dan Integritas

30 August 2026 • 07:59 WIB

Belajar dari Putusan Kasasi Nomor 11179 K/Pid.Sus/2025: Menimbang Kerugian Ekologis dan Kerugian Ekonomis dalam Upaya Pemulihan Lingkungan Hidup

28 August 2026 • 10:53 WIB
Stay In Touch
  • YouTube
  • TikTok
  • WhatsApp
  • Twitter
  • Instagram
Top Trending
Demo

Recent Posts

  • Dari Lapangan Pertandingan ke Ruang Persaudaraan: Semarak HUT ke-81 MA di BSDK
  • Semarak Setelah Garis Finis: Apresiasi bagi Para Pelari CADAS BSDK MA Run 2026
  • BSDK MA Run 2026: 10 Kilometer Pelari CADAS, Berlari Bersama Menjaga Semangat Pengabdian dan Integritas
  • Belajar dari Putusan Kasasi Nomor 11179 K/Pid.Sus/2025: Menimbang Kerugian Ekologis dan Kerugian Ekonomis dalam Upaya Pemulihan Lingkungan Hidup
  • Perkuat Kepastian Hukum Lintas Batas, Tim Penyusun Matangkan Naskah Urgensi PERMA Putusan Pengadilan Asing

Recent Comments

  1. Ekasari on BSDK MA Run 2026: 10 Kilometer Pelari CADAS, Berlari Bersama Menjaga Semangat Pengabdian dan Integritas
  2. Abdul Hafid PP PA Sleman on Alumni Bersuara dari PA Sleman : Diklat Panitera Pengganti Harus Update, Merata, dan Berbasis Praktik
  3. kumalasari on Di Mana Negara Menempatkan, Di Sana Pengabdian Dijalankan: Kisah PNS Non-Homebase Menemukan Arti Ketulusan di Tanah yang Jauh dari Rumah
  4. lsm999 on Pelenturan Yurisdiksi Absolut: Dialektika Kewenangan Peradilan Agama
  5. Mia on Dari Lumpur Sawah ke Mahkamah Agung: Catatan Anak Penggembala Kerbau yang Menjemput Takdir
Hubungi Kami

Badan Strategi Kebijakan dan Pendidikan dan Pelatihan Hukum dan Peradilan Hukum dan Peradilan
Mahkamah Agung RI

Kantor: Jl. Cikopo Selatan Desa Sukamaju, Kec. Megamendung
Bogor, Jawa Barat 16770

Kirimkan reportase berita, opini, features dan artikel lainnya ke email suarabsdk.com : 
redpelsuarabsdk@gmail.com

Telepon: (0251) 8249520, 8249522, 8249531, 8249539

Kategori
Beranda Artikel Berita Features Sosok KRITERIA TULISAN
Filsafat Roman Satire Video BALACADAS
Connect With Us
  • Instagram
  • YouTube
  • WhatsApp
Aplikasi Internal
Logo 1 Logo 2 Logo 3 Logo 3 Logo 5
Logo 4 Logo 4 Logo 4 Logo 5 Logo 5 Logo 5
Kontributor
  • Avatar photo Ahmad Junaedi
  • Avatar photo Mohammad Khairul Muqorobin
  • Avatar photo Irvan Mawardi
  • Avatar photo Aman
  • Avatar photo Cecep Mustafa
  • Avatar photo Khoiruddin Hasibuan
  • Avatar photo Muamar Azmar Mahmud Farig
  • Avatar photo Ari Gunawan
  • Avatar photo Yudhistira Ary Prabowo
  • Avatar photo Syailendra Anantya Prawira
  • Avatar photo Ghesa Agnanto Hutomo
  • Avatar photo Muhammad Rizqi Hengki
  • Avatar photo Agus Digdo Nugroho
  • Avatar photo Muhammad Adiguna Bimasakti
  • Avatar photo Timbul Bonardo Siahaan
  • Avatar photo Dahlan Suherlan
  • Avatar photo Jatmiko Wirawan
  • Avatar photo Syamsul Arief
  • Avatar photo Taufikurrahman
  • Avatar photo Cik Basir
  • Avatar photo Maria Fransiska Walintukan
  • Avatar photo Syihabuddin
  • Avatar photo Unggul Senoaji
  • Avatar photo Zulfahmi
  • Avatar photo M. Natsir Asnawi
  • Avatar photo Adji Prakoso
  • Avatar photo Anton Ahmad Sogiri
  • Avatar photo Johanes
  • Avatar photo Yoshito Siburian
  • Avatar photo Abdi Munawar Daeng Mangagang
  • Avatar photo Iqbal Lazuardi
  • Avatar photo Galang Adhe Sukma
  • Avatar photo Anisa Yustikaningtiyas
  • Avatar photo Harun Maulana
  • Avatar photo I Gusti Lanang Ngurah Sidemen Putra
  • Avatar photo Muhammad Hanif Ramadhan
  • Avatar photo Ahmad Syahrus Sikti
  • Avatar photo Eliyas Eko Setyo
  • Avatar photo Firzi Ramadhan
  • Avatar photo Jarkasih
  • Avatar photo Sriti Hesti Astiti
  • Avatar photo Sudiyo
  • Avatar photo Binsar Parlindungan Tampubolon
  • Avatar photo Layla Windy Puspita Sari
  • Avatar photo Marulam J Sembiring
  • Avatar photo Tri Indroyono
  • Avatar photo Letkol Chk Agustono, S.H., M.H.
  • Avatar photo Ardiansyah Iksaniyah Putra
  • Avatar photo Febby Fajrurrahman
  • Avatar photo Ganjar Prima Anggara
  • Avatar photo Garin Purna Sanjaya
  • Avatar photo Irene Cristna Silalahi
  • Avatar photo Marsudin Nainggolan
  • Avatar photo Riki Perdana Raya Waruwu
  • Avatar photo Dr. Syofyan Iskandar, S.H., M.H.
  • Avatar photo Afifah Dwiandini
  • Avatar photo Itsnaatul Lathifah
  • Avatar photo Khoiriyah Roihan
  • Avatar photo Maulana Aulia
  • Avatar photo Redaktur SuaraBSDK
  • Avatar photo Yasin Prasetia
  • Avatar photo Muhamad Zaky Albana
  • Avatar photo Buang Yusuf
  • Avatar photo Fitriyel Hanif
  • Avatar photo Henri Setiawan
  • Avatar photo Irwan Rosady
  • Avatar photo K.G. Raegen
  • Avatar photo Rafi Muhammad Ave
  • Avatar photo Rangga Lukita Desnata
  • Avatar photo Rikatama Budiyantie
  • Avatar photo Siti Nadhiroh
  • Avatar photo Teguh Setiyawan
  • Avatar photo Abdul Azis Ali Ramdlani
  • Avatar photo Achmad Fikri Oslami
  • Avatar photo Ahmad Fuad Noor Ghufron
  • Avatar photo Achmad Nurul Huda
  • Avatar photo Anggi Permana
  • Avatar photo Ang Rijal Amin
  • Avatar photo Audrey Kartika Putri
  • Avatar photo Bintoro Wisnu Prasojo, S.H.
  • Avatar photo Cok Istri Bhagawanthi Pemayun
  • Avatar photo Dedi Putra
  • Avatar photo Dewi Maharati
  • Avatar photo Gerry Michael Purba
  • Avatar photo Herjuna Praba Wiesesa
  • Avatar photo Hermanto
  • Avatar photo Indarka PP
  • Avatar photo Muhamad Fadillah
  • Avatar photo Nugraha Medica Prakasa
  • Avatar photo Ria Marsella
  • Avatar photo Sahram
  • Avatar photo Saut Erwin Hartono A. Munthe
  • Avatar photo Silveria Supanti
  • Avatar photo Sugiarto
  • Avatar photo Yusuf Sodhiqin
  • Avatar photo Achmad Pratomo
  • Avatar photo Ahmad Faiz Shobir Alfikri
  • Avatar photo Andro Riski Pradipta
  • Avatar photo Arie Fitriansyah
  • Avatar photo Bismo Jiwo Agung
  • Avatar photo Epri Wahyudi
  • Avatar photo Fajar Widodo
  • Avatar photo Fariz Prasetyo Aji
  • Avatar photo Fauzan Arrasyid
  • Avatar photo Fauzia Rohmah
  • Avatar photo Febry Indra Gunawan Sitorus
  • Avatar photo Gerry Geovant Supranata Kaban
  • Avatar photo Mardi Candra
  • Avatar photo Muhammad Irfan Syahputra
  • Avatar photo Muhammad Amin Putra
  • Avatar photo Niko Wijaya
  • Avatar photo Putra Nova A.S
  • Avatar photo Rizal Arif Fitria
  • Avatar photo Trisoko Sugeng Sulistyo
  • Avatar photo Umar Dani
  • Avatar photo Abdul Hadi
  • Avatar photo Abiandri Fikri Akbar
  • Avatar photo Abi Zaky Azizi
  • Avatar photo Dr. H. Achmad Setyo Pudjoharsoyo., SH., M.Hum
  • Avatar photo Adimas Leo Firmansah
  • Avatar photo Agenda Citra Muhammad
  • Avatar photo Andi Akram
  • Avatar photo Arsyawal
  • Avatar photo Aulia Rochmani Lazuardi
  • Avatar photo Bagus Partha Wijaya
  • Avatar photo Bagus Sujatmiko
  • Avatar photo Bayu Akbar Wicaksono
  • Avatar photo Chandra Khoirunnas
  • Avatar photo Cuhandi
  • Avatar photo David Pasaribu
  • Avatar photo Dendi Sutiyoso
  • Avatar photo Dhea Sutaryana
  • Avatar photo Edi Hudiata
  • Avatar photo Enrico Simanjuntak
  • Avatar photo Fauzan Prasetya
  • Avatar photo Fauziah Rahmah
  • Avatar photo Fery Rochmad Ramadhan
  • Avatar photo Hartanto Ariesyandi
  • Avatar photo Idik Saeful Bahri
  • Avatar photo Karell Mawla Ibnu Kamali
  • Avatar photo Khalilurrahman
  • Avatar photo Khoirul Anwar
  • Avatar photo Mentari Wahyudihati
  • Avatar photo Muhamad Ridwan
  • Avatar photo Muhamad Iqbal
  • Avatar photo Nia Chasanah
  • Avatar photo Novritsar Hasintongan Pakpahan
  • Avatar photo Nugraha Wisnu Wijaya
  • Avatar photo Raden Anggara Kurniawan
  • Avatar photo Raden Heru Wibowo Sukaten
  • Avatar photo Rahimulhuda Rizki Alwi
  • Avatar photo Rahmad Ramadhan Hasibuan
  • Avatar photo Ranggi Adiwangsa Yusron
  • Avatar photo Muhammad Rijaldy Alwy
  • Avatar photo Rohim
  • Avatar photo Sadana
  • Avatar photo Samsul Zakaria
  • Avatar photo Satria Perdana
  • Avatar photo Tri Cahya Indra Permana
  • Avatar photo Wilmar Ibni Rusydan
  • Avatar photo Yudhi Reksa Perdana
  • Avatar photo Abdul Ghani
  • Avatar photo Ach. Jufri
  • Avatar photo Afif Muchshon
  • Avatar photo Agus Suharsono
  • Avatar photo Ahmad Efendi
  • Avatar photo Ahmad Hodri
  • Avatar photo Ahmad Rizza Habibi
  • Avatar photo Aidil Akbar
  • Avatar photo Alep Priyoambodo
  • Avatar photo Alfajar Nugraha
  • Avatar photo Anderson Peruzzi Simanjuntak
  • Avatar photo Andhika Prayoga
  • Avatar photo Andi Muhammad Galib
  • Avatar photo Andi Aswandi Tashar
  • Avatar photo Andrie Gunawan
  • Avatar photo Anna Yulina
  • Avatar photo Annisa Nur Alam
  • Avatar photo Arga Febrian
  • Avatar photo Arief Sapto Nugroho
  • Avatar photo Mayor Chk Arif Dwi Prasetyo
  • Avatar photo Armansyah
  • Avatar photo Aryaniek Andayani
  • Avatar photo Ashhab Triono
  • Avatar photo Bella Puspitawati
  • Avatar photo Bilma Diffika
  • Avatar photo Bony Daniel
  • Avatar photo Budi Hermanto
  • Avatar photo Budi Suhariyanto
  • Avatar photo Chandra
  • Avatar photo Christopher Hutapea
  • Avatar photo Daniel H. Napitupulu
  • Dedi Wigandi
  • Avatar photo Deka Rachman Budihanto
  • Avatar photo Eddy Sembiring
  • Avatar photo Effendi Mukhtar
  • Avatar photo Egia Rasido Tarigan
  • Avatar photo Eka Sentausa
  • Avatar photo Enos Syahputra Sipahutar, S.H., M.H.
  • Avatar photo Dr. Fahmiron
  • Avatar photo Fahri Bachmid
  • Avatar photo Fahri Gunawan Siagian
  • Avatar photo Fahri Soleh
  • Avatar photo Fakhir Tashin Baaj
  • Avatar photo Fatkul Mujib, S.H.I., M.H.
  • Avatar photo Febriansyah Rozarius
  • Avatar photo Friska Ariesta Aritedi
  • Avatar photo Gineng Pratidina
  • Avatar photo Peltu Hartono
  • Avatar photo Hastuti
  • Avatar photo Hendro Yatmoko
  • Avatar photo Ibnu Abas Ali
  • Avatar photo I Made Sukadana
  • Indra Tua Hasangapon Harahap
  • Avatar photo Ira Soniawati
  • Avatar photo Irfan Dibar
  • Avatar photo Muhammad Irfansyah
  • Avatar photo Letkol Kum Irwan Tasri, S.H., M.H., M.Han.
  • Avatar photo Iwan Lamganda Manalu
  • Avatar photo Jerymia Seky Tanaem
  • Avatar photo Jusran Ipandi
  • Avatar photo Khaimi
  • Avatar photo Khoerul Umam
  • Avatar photo Linora Rohayu
  • Avatar photo Made Passek Reza Swandira
  • Avatar photo Marta Satria Putra
  • Avatar photo Marwan Ibrahim Piinga
  • Avatar photo Marwanto
  • Avatar photo Marzha Tweedo Dikky Paraanugrah
  • Avatar photo Maulia Martwenty Ine
  • Avatar photo Mira Maulidar
  • Avatar photo Misbah S.T., M.Eng.
  • Avatar photo Misbahul Anwar
  • Avatar photo Muhamad Ilham Azizul Haq
  • Avatar photo Muhamad Saptari
  • Avatar photo Muhammad Fadllullah
  • Avatar photo Muhammad Muhyi Arrasyid, S.Psi.
  • Avatar photo Muhammad Bagus Tri Prasetyo
  • Avatar photo Muhammad Yusuf
  • Avatar photo Muhammad Zuchri Nasuha Lubis
  • Avatar photo Murdian
  • Avatar photo Nadia Yurisa Adila
  • Avatar photo Nisrina Irbah Sati
  • Avatar photo Letkol CHK Nur Sakdi, S.H, M.H.
  • Avatar photo Nur Latifah Hanum
  • Avatar photo Pandu Pradana Wicaksono, S.H.
  • Avatar photo Pita Permatasari
  • Avatar photo H .A.S Pudjoharsoyo
  • Avatar photo Putri Pebrianti
  • Avatar photo R. Deddy Harryanto
  • Avatar photo Radityo Muhammad Harseno
  • Avatar photo Rahmi Fattah
  • Avatar photo Randy Viyatadhika
  • Avatar photo Ratih Gumilang
  • Avatar photo Reindra Jasper H. Sinaga, S.H. Hakim Pengadilan Negeri Tanjung Balai Karimun
  • Avatar photo Muh Ridha Hakim
  • Avatar photo Rifqi Qowiyul Iman
  • Avatar photo Rizal Abdurrahman
  • Avatar photo Romi Hardhika
  • Avatar photo Sandro Imanuel Sijabat
  • Avatar photo Sbong Sinarok Martin, S.H., M.H.
  • Avatar photo Selexta Apriliani
  • Avatar photo Septia Putri Riko
  • Avatar photo Septriono Situmorang
  • Avatar photo Siti Anis
  • Avatar photo Slamet Turhamun
  • Avatar photo Sobandi
  • Avatar photo Stefanus Dwi Putra Medisa
  • Avatar photo Subiyatno
  • Avatar photo Teddy Lahati
  • Avatar photo Tri Baginda Kaisar Abdul Gafur
  • Avatar photo Urif Syarifudin
  • Avatar photo Wahyu Budi Santoso
  • Avatar photo Wanda Rara Farezha,S.H.
  • Avatar photo Wienda Kresnantyo
  • Avatar photo Willsa Suharyadi
  • Avatar photo Yoshelsa Wardhana
  • Avatar photo Yukiatiqa Afifah
  • Avatar photo Marsekal Muda TNI Dr. Yuwono Agung Nugroho, S.H., M.H.
  • Avatar photo Zidny Taqiyya
Lihat semua kontributor →

Type above and press Enter to search. Press Esc to cancel.