Aroma kopi hitam yang pekat biasanya sudah menyeruak dari arah pantry Pengadilan Militer I-05 Palembang setiap pukul dua belas siang. Namun siang itu, Mayor Arif duduk termangu di area merokok AHKO (Ahli Hisap dan Kopi) Dilmil I-05 Palembang. Ia menatap meja yang bersih tanpa ada cangkir kopi tersaji.
“Lho, Sersan Sarjito? Tumben kamu yang di pantry. Mahasiswa magang kita ke mana? Biasanya jam segini dia sudah siaga menyiapkan kopi,” ujar Mayor Arif saat melihat staf seniornya itu masuk.
Sersan Sarjito hanya tersenyum, lalu memberikan isyarat sopan ke arah ruang command centre.
“Izin, Komandan. Para mahasiswa magang itu sudah seminggu ini tidak ditugaskan di penyiapan konsumsi dan bikin kopi lagi,” jawab Sersan Sarjito tenang.
Mayor Arif mengernyitkan dahi, tatapannya menuntut penjelasan. “Ada apa? Apa kinerjanya menurun? Atau dia sering izin tidak masuk?”
“Justru sebaliknya, Komandan. Jika Komandan perhatikan, ruang command centre sekarang menjadi posko mahasiswa magang yang sibuk dengan laptopnya masing-masing. Mereka mendapat tugas resmi dari Plt. Kadilmil untuk merampungkan proyek aplikasi dan analisis data berbasis machine learning yang sangat dibutuhkan satuan kita,” jelas Sersan Sarjito sambil menyerahkan cangkir kopi panas ke tangan sang Mayor.
“Maksudmu?” tanya Mayor Arif, mulai tertarik.
“Dia tidak lagi memegang sendok kopi, Komandan. Tanpa kita sadari, mereka sedang merampungkan proyek sistem digital dan riset kecerdasan buatan (artificial intelligence) yang akan sangat membantu pekerjaan kita sehari-hari, baik dalam pelayanan publik maupun pengambilan keputusan pimpinan.”
“Bisa kamu jelaskan secara rinci satu per satu?” Mayor Arif penasaran.
“Siap, Komandan. Kita mulai dengan aplikasi pertama, namanya KasiCuan (Aplikasi Cuti Tahunan) 2.0,” jawab Sersan Sarjito dengan semangat.
“Bisa dijelaskan secara detail?” tanya Mayor Arif sambil mencondongkan tubuh sedikit, tampak makin tertarik.
“Siap, Komandan,” jawab Sersan Sarjito dengan sigap dan pandangan yang mantap. “Sebelumnya kita sudah punya sistem bernama KasiCuan versi satu, tapi masih banyak kendala administrasi yang menyulitkan. Pengurangan jatah cuti masih manual, data sulit diubah, dan pelacakan pengajuan sangat susah. Nah, KasiCuan 2.0 ini dibuat untuk memperbaiki semua kekurangan itu.”
“Apa saja keunggulan utama yang paling membantu pekerjaan kita?” tanya Mayor perlahan sambil mengangguk paham.
“Mulai dari pengelolaan data pegawai lengkap, pengajuan cuti sepenuhnya digital, tampilan real-time, kalender jadwal cuti bersama, perhitungan otomatis, cetak surat izin resmi, hingga pesan pemberitahuan (notification) setiap ada perubahan status.”

“Saya mendengar ada mahasiswa membuat sistem bernama LENTERA. Sebenarnya apa sistem itu, Sersan Sarjito?” tanya Mayor sambil menyilangkan tangan di dada.
“LENTERA itu singkatan dari Layanan Elektronik Terpadu, sistem berbasis web yang kita bangun sendiri untuk menyajikan jadwal sidang dan data perkara secara lengkap, cepat, dan transparan di lentera.dilmil-palembang.go.id,” jelas Sersan Sarjito.
“Kenapa harus dibuat sistem baru?” tanya Mayor.
“Dulu kita bergantung pada pihak ketiga. Kali ini kita bangun kode sumber (source code) sendiri yang terhubung langsung dengan basis data (database) SIPP Mahkamah Agung. Pimpinan dan Hakim bisa memantau sidang secara real-time, pekerjaan staf lebih ringan, dan masyarakat pencari keadilan bisa melihat jadwal sidang kapan saja secara online.”

“Jadi selain LENTERA, ada lagi sistem baru bernama SIMASET ya?” tanya Mayor sambil mengangguk pelan.
“Benar sekali, Mayor. SIMASET (Sistem Informasi Monitoring Aset) mengatur semua barang inventaris instansi secara rapi. Setiap barang diberi stiker kode QR (QR Code). Cukup dipindai pakai ponsel, kita langsung tahu asal-usul, tahun beli, hingga histori perpindahan ruangannya. Laporannya pun bisa dicetak otomatis.”

“Lalu bagaimana dengan SIPOKEMON?” tanya Mayor seolah mengingat kembali nama yang sempat terdengar.
“SIPOKEMON itu sistem Penilaian Kinerja Pegawai, Mayor. Jika dulu pengisian laporan masih pakai lembar kerja (worksheet) manual dan sering tertunda jika atasan dinas luar, kini seluruh proses dilakukan secara digital dari pengisian target hingga tanda tangan elektronik. Sistem ini juga fleksibel mengikuti jenjang jabatan sehingga verifikasi laporan tidak akan terhambat.”

“Luar biasa. Lalu bagaimana dengan mahasiswa lainnya yang tidak membuat aplikasi, Sersan?” tanya Mayor penasaran.
“Nah, ini yang tidak kalah menarik, Komandan,” senyum Sersan Sarjito mekar. “Ada dua rekan mahasiswa lagi yang berfokus pada analisis data science menggunakan algoritma machine learning jenis Random Forest Regressor untuk membantu efisiensi dan perencanaan operasional kita.”
“Analisis data science? Bisa jelaskan secara singkat ringkasnya?” potong Mayor antusias. “Siap, Komandan! Pertama dari Risa Wahyuni. Dia melakukan Prediksi Durasi Penyelesaian Perkara Pidana Militer. Risa mengolah lebih dari 500 data riwayat perkara SIPP (2022–2026) untuk membangun sistem prediksi otomatis berbasis data. Hasilnya, pimpinan kini punya alat bantu (decision support system) untuk memprediksi berapa lama sebuah perkara baru akan selesai, mendeteksi potensi perkara yang bakal memakan waktu lama sejak awal pendaftaran, serta menyusun jadwal sidang dan beban kerja secara akurat.”

“Menarik sekali! Lalu proyek satu lagi?” lanjut Mayor.
“Satu lagi dari Sandi Nayoan, Komandan. Sandi menganalisis Prediksi Tren dan Visualisasi Pola Kunjungan Tamu. Dengan mengolah data buku tamu menggunakan bahasa pemograman Python, Sandi mengubah arsip manual pasif menjadi informasi strategis. Sistemnya mampu memprediksi tren jam dan hari sibuk kunjungan, jenis layanan yang paling dicari, hingga estimasi pengunjung harian di masa mendatang.”
“Apa manfaat praktisnya bagi satuan kita?” tanya Mayor.
“Petugas PTSP bisa mengantisipasi penumpukan antrean dengan menyiagakan personel di jam sibuk, Subbagian Perencanaan & IT bisa menyiapkan fasilitas ruang tunggu lebih awal, dan pembuatan laporan bulanan rekapitulasi pengunjung yang dulunya memakan waktu berjam-jam kini selesai secara otomatis dalam hitungan detik, Komandan!”
“Jadi, kita tidak hanya punya empat aplikasi operasional yang lengkap (KasiCuan 2.0, LENTERA, SIMASET, SIPOKEMON), tapi juga didukung dua model prediksi kecerdasan buatan dari Risa dan Sandi untuk perencanaan masa depan?” tanya Mayor memastikan.
“Benar sekali, Komandan. Semuanya dibangun sendiri oleh para siswa/mahasiswa magang, datanya terjamin keakuratannya, dan kinerja Pengadilan Militer jadi jauh lebih rapi, modern, cepat, serta transparan.”
Mayor Arif tersenyum puas sambil menyeruput kopi yang masih hangat. “Bagus sekali! Semuanya saling melengkapi untuk memodernisasi tugas kita. Terima kasih penjelasannya, Sersan Sarjito. Sampaikan apresiasi setinggi-tingginya kepada seluruh mahasiswa magang itu—mereka tidak hanya belajar melayani, tapi telah memberikan dedikasi dan karya nyata yang luar biasa bagi satuan ini!” Sersan Sarjito berdiri tegak dengan sikap sempurna. “Siap, Mayor! Akan saya sampaikan. Terima kasih, Komandan!”
Untuk Mendapatkan Berita Terbaru Suara BSDK, Follow Channel WhatsApp: SUARABSDKMARI


