Close Menu
Suara BSDKSuara BSDK
  • Beranda
  • Artikel
  • Berita
  • Features
  • Sosok
  • Filsafat
  • Roman
  • Satire
  • Video
  • Liputan Khusus

Subscribe to Updates

Get the latest creative news from FooBar about art, design and business.

What's Hot

Siaga Karhutla, PN Dataran Hunipopu Gelar Sosialisasi dan Praktik Pemadaman Api

October 22, 2026

Tanam Pohon Santigi di Papandayan, Syamsul Arief: Alam Juga Punya Hak untuk Hidup

October 22, 2026

PTUN Banda Aceh Selaraskan Peran SPI Kawal Tindak Lanjut Pengawasan

October 22, 2026
Instagram YouTube
Suara BSDKSuara BSDK
Deskripsi Gambar
  • Beranda
  • Artikel
  • Berita
  • Features
  • Sosok
  • Filsafat
  • Roman
  • Satire
  • Video
  • Liputan Khusus
Suara BSDKSuara BSDK
Deskripsi Gambar
  • Beranda
  • Artikel
  • Berita
  • Features
  • Sosok
  • Filsafat
  • Roman
  • Satire
  • Video
  • Liputan Khusus
Home » Syamsul Arief : Mahasiswa Pertama yang Membela TEMPO Ketika Dibredel

Syamsul Arief : Mahasiswa Pertama yang Membela TEMPO Ketika Dibredel

Khoiruddin HasibuanBy Khoiruddin HasibuanSeptember 7, 20268 Mins ReadNo Comments
Foto Syamsul Arief (baju kotak-kotak memegang toa) sedang Aksi meminta Rektor Unila Prof. Alhusniduki Hamim (baju batik memegang microphone) untuk orasi didampingi Gubernur Lampung (pakai peci berkacamata)
Share
Facebook Twitter Threads Telegram WhatsApp

Sebagai salah seorang kontributor SuaraBSDK, saya merasa perjalanan Syamsul Arief terlalu sempit, apabila hanya ditulis seputar perjalanan hidupnya ketika menjadi Hakim, Ketua Pengadilan, Kepala Pusat Pendidikan dan Pelatihan, Kepala BSDK, lalu Hakim Agung. Ada ruang-ruang sunyi yang belum pernah diceritakan dan dituliskan tentangnya. Setelah panjang lebar mengisahkan perjalan sunyinya menjadi Hakim Agung, saya melihat Syamsul Arief masih penuh semangat, walaupun sudah lari 10K dan mengikuti rangkaian acara BSDK MA RUN 2026 yang begitu meriah.

“Dulu saya Jurnalis Kampus dan Jurnalis Media Umum. Karena saya juga menyukai filsafat, maka saya terbiasa melihat peristiwa dan fakta dengan menyaringnya dalam sebab akibat maksud dan tujuan, hingga detail rangkaian peristiwa, bahkan genealogi yang bisa ditarik hikmah karenanya. Naluri dan kebiasaan sebagai jurnalis, memudahkan saya dalam menangani perkara saat saya menjadi hakim,” ucapnya melanjutkan obrolan, dengan kopi arabika pesanannya di Cafe Cadas BSDK.

Lalu ia membawa saya bersamanya mundur sekitar tiga dasawarsa, menuju sebuah kampus di Bandar Lampung. Di sanalah seorang mahasiswa Fakultas Hukum Universitas Lampung (FH-Unila) pernah berdiri dengan gagah berani, membela sebuah majalah yang bahkan tidak pernah menggajinya: TEMPO.

Tiga Nama dalam Perjalanan Hidup Syamsul Arief

Belakangan, setelah Syamsul Arief terpilih menjadi Hakim Agung, muncul pemberitaan yang menonjolkan kedekatannya dengan Ketua Komisi III DPR RI Habiburokhman. Salah satu judul yang beredar berbunyi, “Kawan Lama Ketua Komisi III DPR Habiburokhman Terpilih Menjadi Hakim Agung.”

Pertemanan itu tidak disangkal olehnya. Syamsul Arief dan Habiburokhman memang sama-sama tumbuh dalam iklim aktivisme mahasiswa di Unila. Habiburokhman, bahkan pernah menjadi pemimpin umum media mahasiswa yang dibangun Syamsul Arief.

Namun, persahabatan hanyalah satu halaman dari sebuah buku kehidupan yang jauh lebih tebal. Sebenarnya, ada tiga nama yang memiliki kedekatan khusus dalam perjalanan hidup Syamsul Arief: Habiburokhman, kawan seperjuangannya; Habiburrahman, ayah kandung yang senantiasa membakar semangat hidupnya; dan TEMPO, media yang kebebasannya pernah ia bela ketika menjadi mahasiswa.

Habiburokhman, kelak memimpin Komisi III DPR yang menyelenggarakan uji kelayakan para calon hakim agung. Namun, keputusan terhadap kelulusan Syamsul Arief sebagai Hakim Agung Kamar Pidana, tidaklah lahir dari suara seorang ketua komisi III. Ia harus melewati serangkaian seleksi Komisi Yudisial, pemeriksaan kesehatan dan kepribadian, penelusuran rekam jejak, wawancara terbuka, uji kelayakan di DPR, persetujuan seluruh fraksi di Komisi III, hingga persetujuan Rapat Paripurna DPR pada 18 Agustus 2026.

Kedekatan pribadi dapat menjadi bahan pemberitaan. Namun, ia tidak dengan sendirinya menggantikan rekam jejak, kapasitas profesional, atau rangkaian seleksi yang dijalani seseorang.

Tidak Cukup Dibaca dari Satu Pertemanan

Tulisan ini tidak dimaksudkan untuk menyangkal bahwa Syamsul Arief dan Habiburokhman adalah kawan lama. Persahabatan itu merupakan bagian dari sejarah mereka yang tidak dapat dihapus begitu saja. Namun, biografi seseorang tidak adil apabila dipadatkan menjadi satu relasi.

Syamsul Arief adalah anak seorang guru bernama Habiburrahman, yang dengan santai sambil menyeruput teh, menyuruhnya “berenang ke Jakarta,” karena tidak mempunyai ongkos untuk pergi ke Jakarta, untuk menggapai cita-citanya sebagai wartawan. Sebelum menjadi hakim, ternyata ia pernah menjadi penjual pempek, pembaca buku bekas, pemimpin pers mahasiswa, sukarelawan bantuan hukum, aktivis yang bersembunyi dari kejaran aparat, pengacara, dan wartawan.

Tidak hanya itu, ketika menjadi mahasiswa, ia lah orang terdepan yang berdiri dalam membela TEMPO. Padahal, pembelaannya terhadap media itu, lebih mendekatkannya kepada risiko penangkapan, daripada memperoleh keuntungan material maupun kekuasaan.

Karena itu, sesungguhnya kedekatannya dengan TEMPO lahir dari panggilan nurani, yang kemudian dibentuk oleh spanduk yang dibentangkan, majalah yang dibakar sebagai simbol perlawanan, dan keberanian seorang mahasiswa menghadapi zaman yang tidak ramah terhadap kebebasan pers.

Baca Juga  Aktivisme Intelektual di Jantung Pendidikan Hakim

“Saya tidak pernah membayangkan menjadi hakim agung, saya juga tidak pernah membayangkan menjadi Kepala BSDK atau Kapusdiklat. Saya tidak pernah tahu jalan hidup akan membawa saya ke mana,” ucapnya dengan nada lirih.

“Jalan itu memang berliku dan takdirlah yang menghantarkan saya dari pasar di Bandar Lampung menuju ruang redaksi; dari panggung demonstrasi menuju ruang sidang; dari seorang pembela kebebasan pers menuju kursi Hakim Agung Kamar Pidana,” tegasnya sambil menghela nafas panjang.

Mungkin itulah sisi yang selama ini luput terbaca dan diberitakan. Bahwa di balik jubah seorang hakim agung, bernama Dr. H. Syamsul Arief, S.H., M.H., masih hidup seorang wartawan, seseorang yang percaya bahwa kebenaran tidak cukup disimpan dalam hati. Ia harus dituliskan, disuarakan, dan pada saat tertentu, harus diperjuangkan di jalanan.

Majalah yang Terlalu Merah

Syamsul Arief masuk Fakultas Hukum Unila pada 1994. Ia aktif dalam Himpunan Mahasiswa Islam, teater, pers mahasiswa, bantuan hukum, dan berbagai kegiatan gerakan sosial.

Ia sempat bergabung dengan Teknokra, Surat Kabar Mahasiswa (SKM) Unila. Namun, sekitar enam bulan kemudian, ia memilih membangun medianya sendiri.

“Saya merasa tulisan di media kampus waktu itu kurang progresif,” tuturnya dengan penuh semangat.

Media itu diberi nama “Saksi Keadilan”. Bentuknya menyerupai majalah, meskipun dicetak sederhana seperti buletin karena keterbatasan biaya. Syamsul Arief menjadi pemimpin redaksi, sedangkan posisi pemimpin umum saat itu diisi Habiburokhman.

Dahlan Iskan dalam tulisannya “Corpu Inspirasi,”yang dirilis Rmol.id pada 2023 silam, mengakui bahwa Syamsul Arief sendiri memang seorang aktivis tulen. Waktu menjadi mahasiswa hukum Unila, ia sudah menerbitkan majalah kampus: Saksi Keadilan. Syamsul menjabat pemimpin redaksi. Majalah itu dibredel. Gara-gara Syamsul menulis: Siapa Bilang Golkar Tidak Curang. Itu bersamaan dengan dibredelnya majalah kampus UGM yang dipimpin Andi Arief: Sintesa.

Dari majalah kampus tersebutlah, persahabatan antara Syamsul Arief dan Habiburokhman mulai terjalin dengan baik sampai sekarang. Namun, di situ pula perbedaan karakter mereka terlihat. Syamsul Arief muda ingin menulis politik dengan bahasa yang tajam, sementara kawan-kawannya sesama aktivis Unila, meminta Habiburokhman menahannya, agar media itu tidak “terlalu merah”. Tetapi Syamsul tidak mudah ditahan.

Menjelang Pemilu 1997, ia menerbitkan laporan utama berjudul “Siapa Bilang Golkar Tidak Curang?” Tulisan tersebut mengulas hasil kajian mengenai berbagai dugaan kecurangan dalam pemilu pada masa Orde Baru.

Media itu akhirnya ditarik dari peredaran. Seluruh eksemplarnya diborong agar tidak sampai kepada pembaca. Namun pembredelan Saksi Keadilan, justru mempertemukan Syamsul Arief dengan peristiwa yang lebih besar: perjuangan TEMPO melawan pencabutan izin penerbitannya.

Ketika TEMPO Menang, Lalu Dikalahkan

Pada 21 Juni 1994, Menteri Penerangan, Harmoko, mencabut Surat Izin Usaha Penerbitan Pers atau SIUPP TEMPO melalui Keputusan Menteri Penerangan Nomor 123/KEP/MENPEN/1994. Pada hari yang sama, pemerintah juga menghentikan penerbitan DeTik dan Editor. Pembredelan itu berlangsung setelah TEMPO menurunkan laporan mengenai pembelian kapal perang bekas Jerman Timur.

Goenawan Mohamad, bersama puluhan wartawan TEMPO menggugat keputusan tersebut ke Pengadilan Tata Usaha Negara Jakarta.

Pada 3 Mei 1995, Majelis Hakim PTUN Jakarta yang dipimpin Benyamin Mangkoedilaga mengabulkan gugatan TEMPO. Putusan Nomor 094/G/1994/IJ/PTUN.JKT, menyatakan batal keputusan Menteri Penerangan dan memerintahkan penerbitan izin baru bagi TEMPO. Putusan itu dianggap luar biasa, karena untuk pertama kalinya, sebuah pengadilan secara terbuka mengoreksi keputusan politik seorang menteri yang dekat dengan pusat kekuasaan.

Menteri Penerangan mengajukan banding. Namun Pengadilan Tinggi Tata Usaha Negara Jakarta, kembali menguatkan kemenangan TEMPO.

Harapan itu padam pada 13 Juni 1996. Majelis kasasi Mahkamah Agung yang dipimpin Ketua MA Soerjono, dengan anggota T.H. Ketut Suraputra dan Sarwata, membatalkan kemenangan TEMPO di dua tingkat peradilan sebelumnya. Kasasi Menteri Penerangan dikabulkan. Pencabutan SIUPP TEMPO kembali berlaku.

Baca Juga  Arief Botak : Dulu Memimpin Puluhan Ribu Dengan TOA, Kini Satu Palu di Tangan

Syamsul Arief mengingat hari itu dengan jelas. “Putusan itu keluar hari Kamis, hari Seninnya saya demonstrasi,” katanya.

Aksi Protes Syamsul Arief Membela TEMPO
Syamsul Arief muda membentangkan spanduk yang bertuliskan “LAWAN PEMBREDELAN TEMPO,” pada Senin 17 Juni 1996

Mahasiswa muda usia 20 Tahun itu, memimpin Aksi Protes terhadap Putusan kasasi Mahkamah Agung (MA) Nomor 77 K/TUN/1995, yang dibacakan pada 13 Juni 1996, yang pada pokoknya membatalkan putusan PTUN Jakarta dan PTTUN Jakarta, yang sebelumnya memenangkan majalah TEMPO melawan Menteri Penerangan Harmoko, terkait pencabutan SIUPP TEMPO.

Dalam aksi protes puluhan mahasiswa di depan halaman kampus FH-Unila itu, ia yang menjabat sebagai Pemred Majalah Mahasiswa “Aksi Keadilan” FH-Unila, bergantian berorasi bersama sahabatnya, Mahasiswa Sastra Inggris FKIP Unila, Anton Bachtiar Rifai, yang menjabat sebagai Pemred Koran Mahasiswa “Teknokra” Unila.

Aksi Protes atas Pembelaan majalah TEMPO saat itu, terekam kamera intelijen Komando Resimen 043 Garuda Hitam Lampung. Dalam Aksi Protes tersebut, Syamsul Arief dan  Anton Bachtiar Rifai melakukan aksi membakar majalah GATRA, sebagai simbol melawan Menteri Penerangan Harmoko saat itu, yang menawarkan solusi guna menampung para Jurnalis TEMPO, yang kehilangan pekerjaan dengan menerbitkan SIUPP Pers baru, untuk majalah Mingguan GATRA, yang beritanya bisa dikontrol Pemerintah. Majalah GATRA saat itu berdiri atas bantuan modal Pengusaha Raja Kayu: Bob Hasan.

Foto-foto aksi protes atas pembredelan TEMPO saat itu, segera sampai di meja Komandan Resimen 043 Garuda Hitam Lampung: Kolonel Bibit Waluyo. Danmen yang berpuluh tahun kemudian menjadi Gubernur Jawa Tengah itu, segera memerintahkan anak buahnya menangkap Syamsul Arief.

Informasi tentang perintah penangkapannya saat itu bocor ke aktivis mahasiswa.  Bibit Waluyo marah besar, karena 1 minggu sebelumnya, Syamsul Arief juga  memimpin aksi Long March mahasiswa pertama di Lampung, bersama puluhan mahasiswa lainnya, yang berjalan dari Kampus Unila sampai ke depan halaman Korem 043 Gatam Lampung, yang kemudian dicatat sebagai demonstrasi paling berani, sekaligus paling nekat pada masa itu, guna melayangkan protes tewasnya mahasiswa UMI Makassar, yang memprotes kenaikan tarief angkot di kota Makassar pada April 1996.

Karena aksi Protes pembredelan majalah TEMPO tersebut, Syamsul Arief disembunyikan rekan-rekannya selama berhari-hari. Selama dalam persembunyian, Syamsul Arief tetap membuat rencana aksi-aksi protes berikutnya.

Cerita tentang pembredelan majalah TEMPO tersebut akhirnya terhenti, tak terasa sudah satu jam lebih Syamsul Arief bercerita. Sambil tersenyum dan menggelengkan kepalanya kepada saya, seolah-olah Syamsul Arief ingin mengatakan bahwa tindakannya sewaktu menjadi mahasiswa itu, jika diulang kembali, tentu ia tidak akan mampu melakukannya lagi.

“Ada doa-doa emak yang menyertai diri saya sehingga saya selamat”, ucap Syamsul Arief, dengan tatapan mata mengenang masa-masa itu dan kasih sayang ibunya, sambil menutup obrolan. Saya sangat beruntung bisa mengorek banyak 4 tahun kisah hidupnya selama menjadi mahasiswa, yang penuh warna dan padat makna, kemudian mengerucut pada satu tujuan mulia: berjuang secara konsisten untuk kemanusiaan dan keadilan.

Artikel Lain dalam Liputan Ini :

  • Aktivisme Intelektual di Jantung Pendidikan Hakim

    Aktivisme Intelektual di Jantung Pendidikan Hakim

  • “Datang dari Langit Mana Anak Ini?” Kesaksian Zaid Burhan Ibrahim tentang Syamsul Arief

    “Datang dari Langit Mana Anak Ini?” Kesaksian Zaid Burhan Ibrahim tentang Syamsul Arief

  • Jejak Aktivis Syamsul Arief dalam Ingatan Sahabat

    Jejak Aktivis Syamsul Arief dalam Ingatan Sahabat

  • Perjalanan Sunyi Syamsul Arief Menjadi Hakim Agung

    Perjalanan Sunyi Syamsul Arief Menjadi Hakim Agung

  • Arief yang Saya Kenal: Dari Jalanan Lampung ke Kursi Hakim Agung

    Arief yang Saya Kenal: Dari Jalanan Lampung ke Kursi Hakim Agung

  • Syamsul Arief : Mahasiswa Pertama yang Membela TEMPO Ketika Dibredel

    Syamsul Arief : Mahasiswa Pertama yang Membela TEMPO Ketika Dibredel

  • Arief Botak : Dulu Memimpin Puluhan Ribu Dengan TOA, Kini Satu Palu di Tangan

    Arief Botak : Dulu Memimpin Puluhan Ribu Dengan TOA, Kini Satu Palu di Tangan

Khoiruddin Hasibuan
Kontributor
Khoiruddin Hasibuan
Hakim Pengadilan Agama Soreang

Untuk Mendapatkan Berita Terbaru Suara BSDK, Follow Channel WhatsApp: SUARABSDKMARI

Jejak Syamsul Arief Menuju Hakim Agung
Share. Facebook Twitter Threads Telegram WhatsApp Copy Link

Related Posts

Siasat Tiada Henti Penjaga Keadilan

September 13, 2026
Demo
Top Posts

Asap di Bumi Serambi Makkah: Jauh dari Titik Api, Dekat dengan Ujian Keadilan

October 20, 2026

Menata Sekretariat, Menjaga Nalar Peradilan

October 19, 2026

Belajar Keadilan Iklim dari Secangkir Kopi: Setiap Daerah Punya Cerita, Alam Punya Keunikan

October 15, 2026

Di mana Kesaktian Pancasila Diuji?

October 1, 2026
Don't Miss

Siaga Karhutla, PN Dataran Hunipopu Gelar Sosialisasi dan Praktik Pemadaman Api

By Yudhistira Ary PrabowoOctober 22, 20260

Seram Bagian Barat – Pengadilan Negeri Dataran Hunipopu menyelenggarakan kegiatan Sosialisasi Materi Penanganan Kebakaran bersama…

Tanam Pohon Santigi di Papandayan, Syamsul Arief: Alam Juga Punya Hak untuk Hidup

October 22, 2026

PTUN Banda Aceh Selaraskan Peran SPI Kawal Tindak Lanjut Pengawasan

October 22, 2026

The Quiet Sustainability of Chōtei: A Voluntary Legacy of Court-Based Mediation

October 22, 2026
Stay In Touch
  • YouTube
  • TikTok
  • WhatsApp
  • Twitter
  • Instagram
Top Trending
Demo

Recent Posts

  • Siaga Karhutla, PN Dataran Hunipopu Gelar Sosialisasi dan Praktik Pemadaman Api
  • Tanam Pohon Santigi di Papandayan, Syamsul Arief: Alam Juga Punya Hak untuk Hidup
  • PTUN Banda Aceh Selaraskan Peran SPI Kawal Tindak Lanjut Pengawasan
  • The Quiet Sustainability of Chōtei: A Voluntary Legacy of Court-Based Mediation
  • Mahasiswa UNISKI “Geruduk” PN Kayuagung, Ada Apa?

Recent Comments

  1. Budi Santoso on Titian Panjang Pengabdian Prajurit Setia Hingga Akhir
  2. PrP on Kajian Green Victimology Sebagai Pendekatan Perlindungan Hukum Korban Kebakaran Hutan di Indonesia
  3. Grace Hall on Abhinaya Upangga Wisesa: Ketika Kerja Sunyi Menjadi Penjaga Martabat Peradilan
  4. Abdul Mustopa on Membedah Rahasia Keberhasilan Wakai dan Chotei untuk Mediasi Indonesia
  5. H. Moh. Nasri on Kode Etik dan Pedoman Perilaku Hakim Sebagai Pembelajaran Diklat Pertama di Hari Pertama
Hubungi Kami

Badan Strategi Kebijakan dan Pendidikan dan Pelatihan Hukum dan Peradilan Hukum dan Peradilan
Mahkamah Agung RI

Kantor: Jl. Cikopo Selatan Desa Sukamaju, Kec. Megamendung
Bogor, Jawa Barat 16770

Kirimkan reportase berita, opini, features dan artikel lainnya ke email suarabsdk.com : 
redpelsuarabsdk@gmail.com

Telepon: (0251) 8249520, 8249522, 8249531, 8249539

Kategori
Beranda Artikel Berita Features Sosok KRITERIA TULISAN
Filsafat Roman Satire Video BALACADAS
Connect With Us
  • Instagram
  • YouTube
  • WhatsApp
Aplikasi Internal
Logo 1 Logo 2 Logo 3 Logo 3 Logo 5
Logo 4 Logo 4 Logo 4 Logo 5 Logo 5 Logo 5
Kontributor
  • Avatar photo Ahmad Junaedi
  • Avatar photo Mohammad Khairul Muqorobin
  • Avatar photo Aman
  • Avatar photo Irvan Mawardi
  • Avatar photo Cecep Mustafa
  • Avatar photo Khoiruddin Hasibuan
  • Avatar photo Ari Gunawan
  • Avatar photo Muamar Azmar Mahmud Farig
  • Avatar photo Yudhistira Ary Prabowo
  • Avatar photo Syailendra Anantya Prawira
  • Avatar photo Ghesa Agnanto Hutomo
  • Avatar photo Johanes
  • Avatar photo Muhammad Rizqi Hengki
  • Avatar photo Agus Digdo Nugroho
  • Avatar photo Timbul Bonardo Siahaan
  • Avatar photo Syamsul Arief
  • Avatar photo Dahlan Suherlan
  • Avatar photo Jatmiko Wirawan
  • Avatar photo Muhammad Adiguna Bimasakti
  • Avatar photo Syihabuddin
  • Avatar photo Cik Basir
  • Avatar photo Taufikurrahman
  • Avatar photo Zulfahmi
  • Avatar photo Maria Fransiska Walintukan
  • Avatar photo Unggul Senoaji
  • Avatar photo Anton Ahmad Sogiri
  • Avatar photo Abdi Munawar Daeng Mangagang
  • Avatar photo Adji Prakoso
  • Avatar photo Bintoro Wisnu Prasojo
  • Avatar photo Muhammad Zuchri Nasuha Lubis
  • Avatar photo M. Natsir Asnawi
  • Avatar photo Yoshito Siburian
  • Avatar photo Iqbal Lazuardi
  • Avatar photo Sriti Hesti Astiti
  • Avatar photo Abdul Azis Ali Ramdlani
  • Avatar photo Harun Maulana
  • Avatar photo Galang Adhe Sukma
  • Avatar photo Layla Windy Puspita Sari
  • Avatar photo Muhammad Hanif Ramadhan
  • Avatar photo Ahmad Syahrus Sikti
  • Avatar photo Anisa Yustikaningtiyas
  • Avatar photo Binsar Parlindungan Tampubolon
  • Avatar photo Ferdian Permadi
  • Avatar photo Ganjar Prima Anggara
  • Avatar photo I Gusti Lanang Ngurah Sidemen Putra
  • Avatar photo Eliyas Eko Setyo
  • Avatar photo Firzi Ramadhan
  • Avatar photo Itsnaatul Lathifah
  • Avatar photo Jarkasih
  • Avatar photo Sudiyo
  • Avatar photo Afifah Dwiandini
  • Avatar photo Febby Fajrurrahman
  • Avatar photo Garin Purna Sanjaya
  • Avatar photo Marulam J Sembiring
  • Avatar photo Tri Indroyono
  • Avatar photo Letkol Chk Agustono, S.H., M.H.
  • Avatar photo Ardiansyah Iksaniyah Putra
  • Avatar photo Buang Yusuf
  • Avatar photo Irene Cristna Silalahi
  • Avatar photo Marsudin Nainggolan
  • Avatar photo Maulana Aulia
  • Avatar photo Riki Perdana Raya Waruwu
  • Avatar photo Siti Nadhiroh
  • Avatar photo Dr. Syofyan Iskandar, S.H., M.H.
  • Avatar photo Muhamad Zaky Albana
  • Avatar photo Bagus Partha Wijaya
  • Avatar photo Henri Setiawan
  • Avatar photo Irwan Rosady
  • Avatar photo Khoiriyah Roihan
  • Avatar photo Redaktur SuaraBSDK
  • Avatar photo Yasin Prasetia
  • Avatar photo Audrey Kartika Putri
  • Avatar photo Cok Istri Bhagawanthi Pemayun
  • Avatar photo Eddy Daulatta Sembiring
  • Avatar photo Fauzan Prasetya
  • Avatar photo Fitriyel Hanif
  • Avatar photo Gerry Michael Purba
  • Avatar photo K.G. Raegen
  • Avatar photo Rafi Muhammad Ave
  • Avatar photo Rangga Lukita Desnata
  • Avatar photo Rikatama Budiyantie
  • Avatar photo Sugiarto
  • Avatar photo Teguh Setiyawan
  • Avatar photo Achmad Fikri Oslami
  • Avatar photo Agenda Citra Muhammad
  • Avatar photo Ahmad Fuad Noor Ghufron
  • Avatar photo Achmad Nurul Huda
  • Avatar photo Andro Riski Pradipta
  • Avatar photo Anggi Permana
  • Avatar photo Ang Rijal Amin
  • Avatar photo Armansyah
  • Avatar photo Dedi Putra
  • Avatar photo Dewi Maharati
  • Avatar photo Edi Hudiata
  • Avatar photo Gerry Geovant Supranata Kaban
  • Avatar photo Herjuna Praba Wiesesa
  • Avatar photo Hermanto
  • Avatar photo Indarka PP
  • Avatar photo Muhamad Fadillah
  • Avatar photo Nugraha Medica Prakasa
  • Avatar photo Ria Marsella
  • Avatar photo Sadana
  • Avatar photo Sahram
  • Avatar photo Saut Erwin Hartono A. Munthe
  • Avatar photo Silveria Supanti
  • Avatar photo Yusuf Sodhiqin
  • Avatar photo Achmad Pratomo
  • Avatar photo Dr. H. Achmad Setyo Pudjoharsoyo., SH., M.Hum
  • Avatar photo Ahmad Faiz Shobir Alfikri
  • Avatar photo Arie Fitriansyah
  • Avatar photo Bismo Jiwo Agung
  • Avatar photo David Pasaribu
  • Avatar photo Epri Wahyudi
  • Avatar photo Fajar Widodo
  • Avatar photo Fariz Prasetyo Aji
  • Avatar photo Fauzan Arrasyid
  • Avatar photo Fauzia Rohmah
  • Avatar photo Febry Indra Gunawan Sitorus
  • Avatar photo Hartanto Ariesyandi
  • Avatar photo Mardi Candra
  • Avatar photo Muhammad Irfan Syahputra
  • Avatar photo Muhammad Amin Putra
  • Avatar photo Niko Wijaya
  • Avatar photo Putra Nova A.S
  • Avatar photo Raden Heru Wibowo Sukaten
  • Avatar photo Rizal Arif Fitria
  • Avatar photo Trisoko Sugeng Sulistyo
  • Avatar photo Umar Dani
  • Avatar photo Wahyu Budi Santoso
  • Avatar photo Abdul Hadi
  • Avatar photo Abiandri Fikri Akbar
  • Avatar photo Abi Zaky Azizi
  • Avatar photo Adimas Leo Firmansah
  • Avatar photo Ahmad Farhan Subhi
  • Avatar photo Andi Akram
  • Avatar photo Anggiyansyah Nurmanta
  • Avatar photo Arsyawal
  • Avatar photo Ashhab Triono
  • Avatar photo Aulia Rochmani Lazuardi
  • Avatar photo Azalia Purbayanti Sabana
  • Avatar photo Bagus Sujatmiko
  • Avatar photo Bayu Akbar Wicaksono
  • Avatar photo Chandra Khoirunnas
  • Avatar photo Cuhandi
  • Avatar photo Deka Rachman Budihanto
  • Avatar photo Dendi Sutiyoso
  • Avatar photo Dharma Setiawan Negara
  • Avatar photo Dhea Sutaryana
  • Avatar photo Enrico Simanjuntak
  • Avatar photo Fadhilah Fauzan, S.H.
  • Avatar photo Fahri Gunawan Siagian
  • Avatar photo Fauziah Rahmah
  • Avatar photo Fery Rochmad Ramadhan
  • Avatar photo Ida Masnita Sigalingging
  • Avatar photo Idik Saeful Bahri
  • Avatar photo Imaniar
  • Avatar photo Karell Mawla Ibnu Kamali
  • Avatar photo Khalilurrahman
  • Avatar photo Khoirul Anwar
  • Avatar photo Mentari Wahyudihati
  • Avatar photo Misbah
  • Avatar photo Muhamad Ridwan
  • Avatar photo Muhamad Iqbal
  • Avatar photo Nia Chasanah
  • Avatar photo Novritsar Hasintongan Pakpahan
  • Avatar photo Nugraha Wisnu Wijaya
  • Avatar photo Pandu Pradana Wicaksono, S.H.
  • Avatar photo Raden Anggara Kurniawan
  • Avatar photo Rahimulhuda Rizki Alwi
  • Avatar photo Rahmad Ramadhan Hasibuan
  • Avatar photo Ranggi Adiwangsa Yusron
  • Avatar photo Rifda Aprilia Rusfayanti
  • Avatar photo Muhammad Rijaldy Alwy
  • Avatar photo Rohim
  • Avatar photo Romi Hardhika
  • Avatar photo Samsul Zakaria
  • Avatar photo Satria Perdana
  • Avatar photo Siti Anis
  • Avatar photo Sri Nurmina Sari
  • Avatar photo Stefanus Dwi Putra Medisa
  • Avatar photo Sugiri Wiryandono
  • Avatar photo Tri Cahya Indra Permana
  • Avatar photo Wilmar Ibni Rusydan
  • Avatar photo Yudhi Reksa Perdana
  • Avatar photo Abdul Ghani
  • Avatar photo Ach. Jufri
  • Avatar photo Achmad Cholil
  • Avatar photo Adhlan Fadhilla Ahmad
  • Avatar photo Afif Muchshon
  • Avatar photo Agus Suharsono
  • Avatar photo Ahmad Efendi
  • Avatar photo Ahmad Hodri
  • Avatar photo Ahmad Rikfi Fuadi
  • Avatar photo Ahmad Rizza Habibi
  • Avatar photo Aidil Akbar
  • Avatar photo Alep Priyoambodo
  • Avatar photo Alfajar Nugraha
  • Avatar photo Ali Sobirin
  • Avatar photo Andi Amirah Humairah Ya'kub
  • Avatar photo Anang Riyan Ramadianto
  • Avatar photo Anderson Peruzzi Simanjuntak
  • Avatar photo Andhika Prayoga
  • Avatar photo Andi Muhammad Galib
  • Avatar photo Andi Aswandi Tashar
  • Avatar photo Andrie Gunawan
  • Avatar photo Anna Yulina
  • Avatar photo Annisa Nur Alam
  • Avatar photo Arga Febrian
  • Avatar photo Ariansyah
  • Avatar photo Arief Sapto Nugroho
  • Avatar photo Mayor Chk Arif Dwi Prasetyo
  • Avatar photo Aryaniek Andayani
  • Avatar photo Bella Puspitawati
  • Avatar photo Bellina Gamelia Sembiring Kembaren
  • Avatar photo Bilma Diffika
  • Avatar photo Bony Daniel
  • Avatar photo Budi Hermanto
  • Avatar photo Budi Suhariyanto
  • Avatar photo Chandra
  • Avatar photo Christopher Hutapea
  • Avatar photo Daniel H. Napitupulu
  • Avatar photo Daniel Saputra
  • Dedi Wigandi
  • Avatar photo Devita Aulia
  • Avatar photo Djoni Witanto
  • Avatar photo Effendi Mukhtar
  • Avatar photo Egia Rasido Tarigan
  • Avatar photo Eka Sentausa
  • Avatar photo Enos Syahputra Sipahutar, S.H., M.H.
  • Avatar photo Dr. Fahmiron
  • Avatar photo Fahri Bachmid
  • Avatar photo Fahri Soleh
  • Avatar photo Fakhir Tashin Baaj
  • Avatar photo Farhan Al Faris
  • Avatar photo Fatkul Mujib, S.H.I., M.H.
  • Avatar photo Dr. Fauziati, S.Ag., M.Ag
  • Avatar photo Febriansyah Rozarius
  • Avatar photo Friska Ariesta Aritedi
  • Avatar photo Gineng Pratidina
  • Avatar photo Hanry Ichfan Adityo
  • Avatar photo Peltu Hartono
  • Avatar photo Hastuti
  • Avatar photo Hendro Yatmoko
  • Avatar photo Ibnu Abas Ali
  • Avatar photo I Made Sukadana
  • Indra Tua Hasangapon Harahap
  • Avatar photo Ira Soniawati
  • Avatar photo Irfan Dibar
  • Avatar photo Muhammad Irfansyah
  • Avatar photo Letkol Kum Irwan Tasri, S.H., M.H., M.Han.
  • Avatar photo Iwan Lamganda Manalu
  • Avatar photo Jerymia Seky Tanaem
  • Avatar photo Jimmy Maruli Alfian
  • Avatar photo Jusran Ipandi
  • Avatar photo Khaimi
  • Avatar photo Khoerul Umam
  • Avatar photo Linora Rohayu
  • Avatar photo Made Passek Reza Swandira
  • Avatar photo Marta Satria Putra
  • Avatar photo Marwan Ibrahim Piinga
  • Avatar photo Marwanto
  • Avatar photo Marzha Tweedo Dikky Paraanugrah
  • Avatar photo Maulia Martwenty Ine
  • Avatar photo Mira Maulidar
  • Avatar photo Misbahul Anwar
  • Avatar photo Muhamad Ilham Azizul Haq
  • Avatar photo Muhamad Saptari
  • Avatar photo Muhammad Fadllullah
  • Avatar photo Muhammad Muhyi Arrasyid, S.Psi.
  • Avatar photo Muhammad Bagus Tri Prasetyo
  • Avatar photo Muhammad Yusuf
  • Avatar photo Murdian
  • Avatar photo Nadia Yurisa Adila
  • Avatar photo Nisrina Irbah Sati
  • Avatar photo Novtri Nelli
  • Avatar photo Letkol CHK Nur Sakdi, S.H, M.H.
  • Avatar photo Nur Latifah Hanum
  • Avatar photo Piput Milandsari
  • Avatar photo Pita Permatasari
  • Avatar photo H .A.S Pudjoharsoyo
  • Avatar photo Putri Pebrianti
  • Avatar photo R. Deddy Harryanto
  • Avatar photo Radityo Muhammad Harseno
  • Avatar photo Rahmi Fattah
  • Avatar photo Randy Viyatadhika
  • Avatar photo Ratih Gumilang
  • Avatar photo Reindra Jasper H. Sinaga, S.H. Hakim Pengadilan Negeri Tanjung Balai Karimun
  • Avatar photo Reynold Mauliate Panggabean
  • Avatar photo Reza Kresna Adipraya
  • Avatar photo Peltu Ricko Rikardo, S.H
  • Avatar photo Muh Ridha Hakim
  • Avatar photo Rifqi Qowiyul Iman
  • Avatar photo Rizal Abdurrahman
  • Avatar photo Robiatul Adawiyah, S.H., M.H.
  • Avatar photo Rocky Gerung
  • Avatar photo Rudi Hartoyo
  • Avatar photo Sandro Imanuel Sijabat
  • Avatar photo Sbong Sinarok Martin, S.H., M.H.
  • Avatar photo Selexta Apriliani
  • Avatar photo Septia Putri Riko
Lihat semua kontributor →

Type above and press Enter to search. Press Esc to cancel.