Saya lupa persis kapan pertama kali mengenal Syamsul Arief. Tetapi saya masih ingat satu hal: anak ini datang dalam kehidupan aktivisme kami bukan dengan cara pelan-pelan.
Dia datang seperti petasan.
Bunyinya dulu, urusan akibat belakangan.
Waktu itu pertengahan 1990-an. Zaman Orde Baru. Bagi mahasiswa sekarang, mungkin sulit membayangkan suasananya. Sekarang orang bisa mengkritik pejabat sambil minum kopi, merekamnya dengan telepon genggam, lalu mengunggahnya ke media sosial. Paling-paling besok berdebat lagi di kolom komentar.
Zaman kami berbeda.
Kritik kepada pemerintah bukan sekadar perkara argumentasi. Ada intel, aparat keamanan, izin demonstrasi, kemungkinan dipanggil, dicatat, atau kelak berurusan dengan berbagai urusan administratif.
Memang begitulah atmosfer politik Indonesia ketika itu. Setahun sebelum saya dan Arief semakin aktif bergerak, pemerintah membredel Tempo, Editor, dan Detik pada Juni 1994. Pembredelan itu diikuti tekanan terhadap jurnalis independen, pembatasan diskusi politik, dan pengawasan terhadap para pengkritik pemerintah. Bahkan sampai 1995, pertemuan publik dan demonstrasi masih berada dalam kontrol ketat aparat.
Istilah yang sangat populer saat itu adalah “stabilitas.”
Di Lampung, stabilitas terasa sampai ke kampus.
Kantor Gubernur dan gedung DPRD bukan tempat yang lazim didatangi mahasiswa sambil membawa poster dan TOA pengeras suara. Gedung-gedung pemerintahan itu, dalam imajinasi mahasiswa waktu itu, seperti memiliki garis tak kasatmata: boleh dilihat, boleh dilewati, tetapi kalau datang beramai-ramai sambil berteriak mengkritik pemerintah, urusannya bisa lain.
Di tengah suasana seperti itulah saya mengenal Syamsul Arief.
Yang membuat saya heran, dia jauh lebih junior.
Saya sudah senior. Dia baru mahasiswa Fakultas Hukum Universitas Lampung. Sekitar awal 1995, kalau ingatan saya tidak keliru, dia bahkan masih semester dua.
Tetapi urusan nyali, anak semester dua ini kadang-kadang membuat seniornya terlihat seperti mahasiswa baru.
Survei Demonstrasi: Tempat Orasi dan Tempat Lari
Salah satu gerakan awal kami di Lampung adalah menyuarakan persoalan perjudian yang ketika itu cukup meresahkan masyarakat.
Sebelum demonstrasi, saya dan Arief melakukan survei ke sekitar Kantor Gubernur Lampung dan DPRD.
Jangan bayangkan survei ilmiah memakai peta digital. Google Maps belum lahir.
Kami berkeliling naik sepeda motor. Lucunya, kalau ingatan saya tidak salah, motor yang kami gunakan justru berpelat merah. Motor itu milik Ayahnya seorang Guru.
Jadi ada dua mahasiswa yang sedang merancang demonstrasi mengkritik keadaan, tetapi kendaraan surveinya malah berpelat pemerintah.
Arief memperhatikan jalan, pagar, halaman, posisi aparat, sampai jalur keluar.
“Bang, di sini tempat aksinya.”
Lalu dia menunjuk arah lain.
“Kalau dikejar, kita lari lewat sini.”
Saya mulai paham cara berpikir anak ini.
Ternyata dia bukan hanya merencanakan bagaimana demonstrasi dimulai. Dia juga sudah merencanakan bagaimana demonstrasi berakhir, terutama kalau berakhir dengan kami dikejar aparat.
Belakangan saya sadar, mungkin itu bentuk paling awal dari apa yang sekarang disebut mitigasi risiko.
Bedanya, sekarang mitigasi risiko dibuat dalam tabel dan PowerPoint.
Dulu kami membuatnya sambil naik motor dan mencari gang untuk lari.
Tetapi dari situ pula saya melihat satu sifat Arief: keberaniannya bukan keberanian kosong. Dia berani, tetapi membaca keadaan. Dia mengambil risiko, tetapi berusaha menghitung risiko itu.
Dan keberanian seperti itu menular.
Saya lebih senior darinya, tetapi saya tidak malu mengatakan: dalam soal nyali, kadang-kadang saya justru melihat dia sebagai patokan. Kalau Arief maju, kami ikut bersemangat.
Pagi di Cilosari dan Anak Semester Dua Itu
Ada satu peristiwa yang sampai sekarang kalau saya ingat membuat saya tertawa sekaligus kagum.
Tahun 1995, kami pergi ke Jakarta mengikuti aksi solidaritas untuk kaum Muslim Bosnia.
Dunia ketika itu sedang diguncang tragedi Bosnia. Pada Juli 1995, pasukan Serbia Bosnia di bawah Ratko Mladić merebut Srebrenica. Ribuan lelaki dan anak laki-laki Muslim Bosnia dibunuh. Pengadilan internasional kemudian menyatakan peristiwa tersebut sebagai genosida. PBB mencatat sampai sekitar 8.000 lelaki dan anak laki-laki Muslim Bosnia terbunuh atau hilang setelah jatuhnya Srebrenica.
Berita itu membangkitkan kemarahan dan solidaritas umat Islam di berbagai tempat, termasuk kalangan mahasiswa dan aktivis HMI di Indonesia.
Kami datang dari Lampung ke Jakarta.
Pagi itu Kantor Sekretariat Bersama HMI Jakarta di Jalan Cilosari terasa berbeda. Halamannya dipenuhi mahasiswa dan aktivis. Orang berdiri bergerombol, berdiskusi, sebagian memegang poster. Suara percakapan bersahutan dengan orasi. Wajah-wajah muda tampak tegang sekaligus bersemangat.
Dan seperti biasa dalam demonstrasi zaman Orde Baru, ada pula wajah-wajah yang tidak kami kenal tetapi rajin sekali memperhatikan kami. Kami sudah hafal.
Kalau ada orang berdiri terlalu tenang, tidak ikut meneriakkan yel-yel, tetapi matanya sibuk menghafal wajah peserta, kami biasanya saling berbisik:
“Itu intel”
Benar atau tidak, urusan belakangan.
Di tengah suasana itulah saya melihat Arief.
Anak itu malah tersenyum kepada saya.
Entah kenapa, senyumnya pagi itu membuat saya lebih bersemangat. Mungkin karena saya berpikir: kalau anak semester dua saja santai, masa saya sebagai senior terlihat takut?
Lalu tibalah giliran Arief berorasi.
Awalnya biasa.
Dia bicara tentang Bosnia, tentang kemanusiaan, tentang ketidakadilan, tentang solidaritas terhadap orang-orang yang dibantai jauh di Eropa sana.
Tetapi makin lama suaranya makin tinggi.
Massa makin bersemangat.
Saya ikut terbakar.
Sampai kemudian dia mengatakan sesuatu yang sama sekali tidak pernah dibicarakan sebelumnya.
Kurang lebih begini:
“Kita jangan berhenti di sini! Kita keluar dari halaman PC HMI JAKARTA. Kita bergerak menuju Kedutaan Amerika Serikat!”
Saya terdiam.
Teman-teman dari Lampung saling melihat.
Lho?
Kapan rapatnya?
Siapa yang memutuskan?
Mengapa saya sebagai senior tidak diberi tahu?
Rupanya jawabannya sederhana: memang tidak ada yang diberi tahu.
Itu gagasan yang baru saja lahir di kepala Arief ketika sedang memegang Toa pengera suara.
Suasana langsung berubah.
Pengurus PC HMI JAKARTA berusaha menahan massa agar tidak keluar. Dan orang-orang yang sejak tadi kami curigai sebagai intel aparat keamanan mendadak terlihat semakin serius memperhatikan rombongan Lampung.
Terutama satu orang.
Syamsul Arief.
Saya memandangnya dari kejauhan dan dalam hati hanya bisa bergumam:
“Datang dari langit mana anak ini?”
Anak semester dua.
Baru datang dari Lampung.
Tiba-tiba mengajak massa bergerak ke Kedutaan Amerika.
Saya yang senior saja tidak diberi briefing.
Akhirnya massa memang dicegah keluar dari halaman PC HMI JAKARTA. Tetapi sejak pagi itu, Arief menjadi pusat perhatian. Bukan karena dia paling senior. Justru sebaliknya: dia salah satu yang paling muda.
Yang membuat orang memperhatikannya adalah keberanian dan kemampuan orasinya.
Dan mungkin sejak hari itulah hubungan emosional kami menjadi jauh lebih dekat.
PRANK: Intel Mengepung!
Setelah demonstrasi di Cilosari itu, kami tidak langsung pulang.
Kami mampir dan berkumpul bersama kawan-kawan di sekitar kantor Humanika, jaringan aktivis yang ketika itu antara lain digerakkan Bursah Zarnubi- tokoh yang puluhan tahun kemudian menjadi Bupati Lahat.
Kami duduk-duduk di pinggir jalan. Membicarakan demonstrasi, politik, keadaan bangsa, dan tentu saja hal-hal tidak penting sebagaimana lazimnya anak muda.
Saya melihat Arief agak berbeda.
Matanya berkali-kali melihat ke kiri.
Ke kanan.
Ke belakang.
Saya mulai ikut waspada.
Maklum, setelah pidatonya di PC HMI JAKARTA, kami memang merasa diperhatikan.
Tiba-tiba Arief berdiri.
Mukanya serius sekali.
“Bang!”
Saya melihat dia.
“LARI, BANG! INTEL! POLISI! KITA DIKEPUNG! MEREKA MAU NANGKAP KITA!”
Dalam situasi Orde Baru, kalimat seperti itu tidak membutuhkan verifikasi.
Tidak ada waktu untuk rapat.
Saya langsung lari.
Teman-teman ikut lari.
Pokoknya tunggang-langgang.
Entah berapa meter kami berlari sampai akhirnya sadar: tidak ada polisi mengejar.
Tidak ada intel mengepung.
Tidak ada penangkapan.
Saya cari Arief.
Anak itu rupanya menikmati kepanikan kami.
Saya baru sadar: kami dikerjai.
Kalau sekarang orang menyebutnya prank, Syamsul Arief sudah melakukannya lebih dari tiga puluh tahun lalu.
Jadi kalau ada yang menganggap generasi sekarang menemukan budaya prank, saya keberatan.
Kami punya bukti sejarah.
Pelopornya antara lain anak Fakultas Hukum Unila angkatan 1994 bernama Syamsul Arief.
Mungkin bakat itu muncul karena dia memang menyukai dunia teater dan hal-hal teatrikal.
Masalahnya, membuat lelucon tentang intel pada masa Orde Baru sama seperti bercanda soal harimau di tengah hutan.
Yang mendengar pasti lari dulu.
Marah belakangan.
Besoknya Dia Plontos
Beberapa waktu kemudian saya bertemu lagi dengannya di kampus Unila.
Saya sempat pangling.
Ada orang berjalan dengan percaya diri ke arah saya.
Saya perhatikan.
Seperti kenal.
Tetapi ada sesuatu yang hilang.
Rambutnya.
Kepalanya plontos. Licin.
“Rief, rambut lu ke mana?”
Jawabannya sangat Syamsul Arief.
“Biar gue enggak dikenali intel-intel, Bang. Kalau nanti mereka mau nangkap mahasiswa yang demo kemarin, biar kalian saja yang ditangkap.”
Saya tidak tahu bagian mana dari kalimat itu yang membuat saya mengambil keputusan paling keliru dalam sejarah penampilan saya.
Besoknya saya ikut cukur plontos.
Barangkali dalam pikiran saya waktu itu: masuk akal juga strategi anak ini.
Ternyata setelah bercermin saya baru menyadari ada persoalan serius yang tidak kami bahas dalam rapat gerakan mahasiswa:
bentuk kepala setiap orang berbeda.
Arief dengan rambut plontos masih enak dilihat.
Lha saya?
Benar-benar hancur.
Jadi dalam sejarah persahabatan kami, Syamsul Arief bukan hanya pernah mengajak saya berdemonstrasi.
Dia juga pernah membuat saya kehilangan rambut dengan sukarela.
Di Balik Semua Kelucuan Itu
Tetapi jangan salah.
Di balik sifat jahilnya, Arief adalah orang yang sangat peduli kepada teman.
Dia lucu, mudah bergaul, tetapi juga rajin membaca dan berdiskusi. Dia belajar hukum tidak hanya dari ruang kuliah. Dia mendekati masyarakat, aktivis, wartawan, senior organisasi, dan orang-orang LBH.
Dia ingin melihat bagaimana hukum bekerja di dunia nyata.
Di situlah saya melihat perbedaannya.
Banyak orang belajar hukum dari buku.
Arief belajar dari buku, tetapi kemudian keluar mencari manusianya.
Ia bersentuhan dengan persoalan buruh, warga yang berhadapan dengan kekuasaan, dan orang-orang yang membutuhkan pendampingan hukum. Kami tidak datang untuk menghasut masyarakat. Kami datang ketika ada orang yang merasa tidak memiliki suara ketika berhadapan dengan kekuasaan.
Pada zaman itu pilihan semacam itu bukan tanpa risiko.
Tekanan terhadap kebebasan berekspresi dan berkumpul memang menjadi bagian dari kehidupan politik Orde Baru. Aktivitas politik di kampus pun berada dalam berbagai pembatasan.
Saya merasakannya sendiri beberapa tahun kemudian.
Ketika diterima bekerja di Kementerian Keuangan dan harus mengurus surat keterangan kelakuan baik, saya mengalami kesulitan.
Di kepolisian, ternyata ada dokumentasi kegiatan demonstrasi kami.
Ada foto saya.
Ada foto Syamsul Arief.
Kami dianggap orang-orang yang mengganggu iklim kondusif Lampung.
Bayangkan.
Mau menjadi pegawai Kementerian Keuangan, yang muncul malah foto demonstrasi.
Surat yang saya perlukan sempat tidak diberikan. Persoalan itu akhirnya dapat diselesaikan setelah ada bantuan dan komunikasi dari para senior.
Saat itulah saya memahami bahwa apa yang dahulu kami lakukan sebagai mahasiswa ternyata mempunyai ekor panjang.
Jejaknya disimpan.
Wajah kami dicatat.
Tetapi anehnya, kalau mengingat masa itu sekarang, saya tidak menyesal.
Dari Bosnia ke Eddy Tansil
Gerakan kami tidak berhenti pada 1995.
Pada Mei 1996, Indonesia digegerkan kaburnya Eddy Tansil dari Lembaga Pemasyarakatan Cipinang. Terpidana perkara korupsi besar itu diketahui kabur pada 4 Mei 1996, sebuah skandal yang kemudian memunculkan pertanyaan besar mengenai kekuasaan, korupsi, dan penegakan hukum.
Kami kembali bergerak.
Jaringan aktivis membawa kami lagi ke Jakarta dan mempertemukan kami dengan lingkungan Humanika serta Bursah Zarnubi.
Kalau saya melihat perjalanan itu sekarang, saya baru menyadari betapa luas dunia pergaulan Arief sejak mahasiswa.
Usianya masih sangat muda, tetapi teman diskusinya bisa jauh lebih senior.
Dia tidak punya hambatan psikologis untuk masuk ke sebuah forum, mendengarkan, berdebat, lalu berkenalan.
Kadang-kadang terlalu percaya diri.
Tetapi justru itulah modalnya.
Di kampus pun keberaniannya sudah kelihatan. Ketika mahasiswa biasanya menunggu cukup senior untuk maju dalam kontestasi organisasi, Arief sudah mencoba maju menjadi ketua senat ketika masih sangat muda.
Dia tidak berhasil.
Tetapi kegagalan itu justru membawanya ke dunia yang lebih luas.
HMI, LBH, jurnalistik, diskusi, advokasi masyarakat.
Mungkin hidup memang kadang bekerja seperti itu.
Satu pintu tidak terbuka supaya kita berjalan menuju pintu yang lain.
Saya ke Kementerian Keuangan, Dia ke Pengadilan
Selepas mahasiswa, jalan kami bercabang. Saya masuk Kementerian Keuangan. Arief memilih menjadi hakim.
Saya menjalani berbagai penugasan birokrasi, melanjutkan pendidikan, dan bertahun-tahun kemudian dipercaya menjadi Direktur Keuangan, Manajemen Risiko, dan Umum Badan Pengelola Dana Perkebunan.
Arief berjalan dari satu pengadilan ke pengadilan lain.
Saya mengikuti perjalanan itu dari kejauhan.
Ia menjadi pimpinan pengadilan, berkecimpung dalam pendidikan dan pelatihan hakim, kemudian memimpin badan di lingkungan Mahkamah Agung.
Sampai akhirnya saya mendengar kabar itu:
Syamsul Arief terpilih sebagai Hakim Agung.
Saya terharu.
Tetapi kemudian, seperti sebuah film lama, kepala saya justru memutar adegan-adegan yang sama sekali tidak agung.
Saya melihat anak semester dua di halaman PC HMI JAKARTA Jalan Cilosari.
Saya mendengar dia berteriak mengajak massa menuju Kedutaan Amerika.
Saya melihat kami lari tunggang-langgang karena dia berteriak ada intel mengepung.
Saya melihat kepalanya yang tiba-tiba plontos.
Lalu saya teringat kepala saya sendiri yang ikut plontos dan ternyata jauh lebih buruk.
Saya tertawa.
Hidup memang aneh.
Anak yang dulu mengubah penampilan supaya katanya tidak dikenali intel itu, sekarang wajahnya justru terpampang sebagai seorang Hakim Agung.
Nyali Itu Jangan Hilang
Tetapi di balik semua kenangan lucu itu, ada sesuatu yang membuat saya sungguh-sungguh terharu.
Saya tahu dari mana anak ini berangkat.
Saya tahu bagaimana dia tumbuh.
Saya melihat sendiri keberaniannya ketika keberanian memiliki harga.
Sekarang saya berharap satu hal kepadanya.
Jangan kehilangan nyali itu.
Tentu medan perjuangannya sudah berbeda.
Dulu mikrofon demonstrasi.
Sekarang palu keadilan.
Dulu berdiri di depan pagar kantor pemerintah.
Sekarang duduk memeriksa perkara pada tingkat tertinggi peradilan.
Dulu yang dihadapi mungkin aparat yang mengawasi demonstrasi.
Sekarang yang dihadapi jauh lebih rumit: berkas perkara, kepentingan, kekuasaan, godaan, tekanan, dan nasib manusia yang bergantung pada sebuah putusan.
Tetapi bagi saya, substansinya tetap sama.
Keberanian adalah keberanian.
Keadilan membutuhkan pengetahuan, tetapi pengetahuan tanpa keberanian moral kadang-kadang hanya menghasilkan orang pintar yang memilih diam.
Saya mengenal Arief ketika kami masih muda. Saya mengenalnya sebagai anak yang suka membaca, kritis, jahil, pandai bergaul, berani mengambil risiko, tetapi tetap menghormati senior dan sangat peduli kepada teman.
Saya juga mengenalnya sebagai manusia biasa.
Itu penting.
Sebab ketika seseorang sudah mencapai jabatan tinggi, orang sering hanya mengenal gelarnya. Foto resminya. Toganya. Jabatannya.
Saya mempunyai kemewahan lain.
Saya mengenal cerita sebelum toga itu ada.
Saya tahu orang yang berada di dalam toga tersebut pernah menjadi mahasiswa kurus yang berdiri di tengah demonstrasi, berteriak tentang ketidakadilan, dikejar kekhawatiran akan intel, nongkrong bersama aktivis, membuat seniornya lari karena prank, lalu mencukur rambut sampai plontos.
Maka ketika orang hari ini bertanya kepada saya bagaimana melihat Syamsul Arief menjadi Hakim Agung, jawaban saya sederhana.
Saya bangga.
Tetapi saya tidak terlalu terkejut.
Sebab lebih dari tiga puluh tahun lalu, di sebuah halaman kantor PC HMI JAKARTA di Jalan Cilosari, Jakarta, saya pernah melihat anak semester dua itu mengambil mikrofon dan membuat semua orang menoleh kepadanya.
Termasuk para intel.
Saya berdiri agak jauh, memandangnya sambil bertanya dalam hati:
“Datang dari langit mana anak ini?”
Tiga puluh tahun kemudian, mungkin saya sudah menemukan jawabannya.
Dia tidak datang dari langit mana-mana.
Dia datang dari sebuah generasi yang belajar bahwa idealisme tidak cukup hanya dibicarakan. Ia harus dijalani, kadang dengan risiko, kadang dengan keberanian, dan – kalau bersama Syamsul Arief – sering kali juga dengan sedikit kejahilan. Dan saya berharap, di kursi Hakim Agung itu, satu hal dari anak muda yang saya kenal pada 1995 tidak pernah menjadi tua: keberaniannya untuk berdiri ketika keadilan memerlukan seseorang untuk berdiri.
Artikel Lain dalam Liputan Ini :
Untuk Mendapatkan Berita Terbaru Suara BSDK, Follow Channel WhatsApp: SUARABSDKMARI








