Pagi itu 30 Agustus 2026, usai lomba lari BSDK MA Run 2026, saya sempatkan berbincang dengan Dr. H. Syamsul Arief, S.H., M.H., Kepala Badan Strategi Kebijakan dan Pendidikan dan Pelatihan Hukum dan Peradilan Mahkamah Agung (BSDK-MA). Pada lomba lari 10 kilometer tersebut, dialah yang melepas para pelari dari garis start dan ikut pula menjadi peserta lomba lari. Saat itu adalah 3 hari menjelang pelantikannya sebagai Hakim Agung Kamar Pidana pada Rabu, 2 September 2026, oleh Ketua Mahkamah Agung Prof. Dr. H. Sunarto, S.H., M.H.
Saya penasaran untuk bercakap-cakap dengannya, sembari ingin menggali sisi lain kehidupannya, jauh sebelum terpilih sebagai Hakim Agung di usia yang relatif muda. Hal ini tidak lain bertujuan untuk membangkitkan motivasi Hakim-hakim muda di seluruh Indonesia.
Dari Pempek, Koran, Buku-Buku Ayah dan Gereja
Syamsul Arief lahir di Bandar Lampung pada 24 Februari 1976. Ayahnya, Habiburrahman, adalah seorang guru sekolah dasar. Ibunya, Rahmabina, merupakan ibu rumah tangga, yang dalam ingatan Syamsul Arief selalu hadir dengan penuh kelembutan.
“Ibu atau yang kerap saya panggil emak, seperti sungai dan hutan bagi saya, sementara ayah seperti matahari yang terus membakar semangat,” tuturnya sambil menyeruput kopi arabika.
Sejak kecil, ayahnya selalu membawa pulang buku-buku pinjaman seperti komik, kisah para nabi, koran, dan berbagai bacaan lainnya. Gaji ayahnya sebagai guru tidaklah besar, tetapi saat itu, ayahnya tetap berusaha menghadirkan bahan bacaan untuk Syamsul Arief kecil di rumah.
Syamsul Arief kecil tumbuh dekat dengan pasar. Ketika duduk di kelas empat dan lima sekolah dasar, ia diam-diam berjualan pempek. Orang tuanya tidak mengetahui pekerjaan kecil itu. Ia mengambil pempek dari pembuatnya, lalu menjajakannya kepada sopir, kernet, pedagang, dan orang-orang yang hidup dari kerasnya jalanan.
Dari pasar, ia mengenali dunia yang tidak seluruhnya terdapat dalam buku pelajaran. Ia melihat buruh, preman, pedagang kecil, penyemir sepatu, dan orang-orang yang bertahan hidup hanya dengan lapak beralaskan koran.
Ketika dagangannya sepi, ia mendekati penjual buku bekas. Kebiasaan membaca koran yang ditanamkan ayahnya, membuatnya akrab dengan Kompas, Suara Pembaruan, dan berbagai media lain sejak usia muda.
Tidak hanya itu, Syamsul Arief suka masuk ke gereja, hanya untuk bisa mengakses buku-buku filsafat di perpustakaan gereja, seperti buku karya Jean Baudrillard, sehingga dia paham tentang konsep Simulacra, Simulation dan Hyperreality. Dia membaca Jürgen Habermas dengan Teori Public Sphere, membaca teori epistemologi dan etika Immanuel Kant, hingga Das Kapital Karl Marx dan Teori Dialektika Idealis, karya Friedrich Hegel.
Kelak kebiasaan membaca itu, terus menumbuhkan hasrat menulisnya dan tidak dapat membendung keinginannya untuk menjadi seorang Jurnalis.
Dia terus mengobrol santai dengan saya usai berlari 10K di ajang Lomba Lari BSDK MA Run. Tanpa rasa lelah yang terpancar dari raut wajahnya, ia melanjutkan kisah sunyinya menjadi wartawan, dan menerima pilihan dari ibunya: menjadi calon hakim.
Menjadi Wartawan karena Panggilan Nurani

Setelah menyelesaikan kuliah pada 1998, Syamsul memperoleh lisensi sebagai pengacara. Namun keinginannya menjadi wartawan belum padam.
Ia mengirimkan lamaran ke sejumlah media, termasuk Kompas, Detik, dan kelompok Pos Kota. Pada awal 1999, ia diterima sebagai wartawan Tabloid AKSI, salah satu penerbitan di lingkungan Pos Kota.
Ia datang ke Jakarta dengan modal seratus ribu rupiah hasil pinjaman ibunya. Untuk menghemat ongkos penyeberangan Bakauheni-Merak, ia mengaku berpura-pura menjadi kernet truk, agar dapat masuk melalui jalur kendaraan.
Setelah tiba di Kampung Rambutan, ia membersihkan diri, lalu langsung menuju kantor redaksi Tabloid Aksi. Ketika ditanya berapa gaji yang diinginkannya, ia hanya menjawab sederhana, “Secukupnya untuk hidup di Jakarta.” Dengan jawaban tersebut, ia pun terjun ke dunia jurnalistik: profesi yang telah ia jiwai sejak mahasiswa.
Setelah menjalani profesi sebagai wartawan, ternyata jawaban polos terkait gaji yang diinginkannya, membuat seorang wartawan senior menertawakannya, karena ia tidak menyebutkan nominal gaji saat wawancara. Padahal saat itu, ia bisa saja meminta gaji Rp1 juta per bulan. Namun, gaji pertamanya saat itu hanya Rp700 ribu. Dari jumlah tersebut, ia tidak mengeluh, masih bersemangat menjalani profesinya sebagai wartawan, dan ia juga masih bisa mengirimkan Rp200 ribu per bulan kepada ibunya di Lampung.
Kiriman uang tersebut, semacam pesan kepada orang tuanya, bahwa anak yang berangkat dengan uang pinjaman itu, mampu bertahan di Kota Metropolitan, dan tidak perlu dirisaukan kehidupannya.
Semasa menjadi wartawan, dia banyak mendatangi tempat dan berjumpa dengan banyak tokoh untuk sesi wawancara. Dia bertemu kembali dengan Tokoh Sastra pujaannya dan mengobrol bersama Pramoedya Ananta Toer.
Syamsul Arief mengingat betul saat Pram berkata kepadanya: “Anak muda jangan takut, teruslah berjuang menegakkan harkat kemanusiaan dan keadilan”.
Dia juga bertemu kembali dengan panutannya, advokat kondang, Adnan Buyung Nasution. Tahun sebelumnya, “Bang Buyung” rutin datang ke LBH Lampung, dan Syamsul Arief kerap ikut terlibat dalam diskusi hukum dengan panutannya tersebut.
Disamping itu, ia ikut pengajian Tokoh Bangsa: Nurcholish Madjid. Berkali-kali nongkrong dan wawancara dengan Gus Dur di Kantor PBNU Jakarta, wawancara tentang peredaran senjata api ilegal dengan Tokoh pengusaha Oesman Sapta Odang, menjadi wartawan pertama yang menjemput di LP Cipinang dan wawancara langsung di rumah Kolonel Latief, eks terpidana kasus makar PKI.
Selain tokoh-tokoh tersebut, ia juga bertemu dengan berbagai aktivis dan kelompok gerakan mahasiswa dan civil society di TIM Jakarta. Meliput aktivitas budaya dan kesenian di GKJ dan TIM Jakarta, Konser Leo Kristi, menonton Pentas Wayangan, Pentas Ketoprak, Pentas Bengkel Teater Rendra, Pentas Monolog Butet Kartaradjasa dan Putu Wijaya serta Konser-konser Musik lainnya.
Pilihan Seorang Ibu
Ketika pulang ke Lampung, Syamsul Arief menyampaikan kabar kelulusannya sebagai calon hakim dan calon jaksa kepada ayahnya.
“Dua-duanya lulus, Yah,” katanya kepada Sang Ayah.
Ayahnya pun ikut senang dan bangga. Namun ia tidak menentukan pilihan anaknya. Ia meminta Syamsul Arief bertanya kepada ibunya.
“Pilih hakim,” kata emaknya, Rahmabina. “Kakakmu sudah menjadi jaksa,” lanjutnya.
Kalimat sederhana itu, mengubah 180 derajat arah hidup Syamsul Arief. Atas pilihan emaknya tersebut, Syamsul Arief pun terpaksa meninggalkan profesi wartawan yang dicintainya dan sesuai permintaan ibunya, ia lebih memilih menjadi calon hakim pada 1999. Namun, sebelum benar-benar meninggalkan dunia jurnalistik dan aktivisme di Jakarta, ia sempat berpamitan dengan Munir.
Sejak itulah, perjalanan panjang seorang Syamsul Arief di lingkungan peradilan dimulai. Dari hakim muda, ketua pengadilan, pejabat pendidikan dan pelatihan, hingga Kepala BSDK. Pada usia 50 tahun, Syamsul Arief akhirnya berdiri di Ruang Kusumah Atmadja, Gedung Mahkamah Agung, mengucapkan sumpah sebagai Hakim Agung Kamar Pidana.
Syamsul Arief di Mata Para Sahabat Seperjuangan
Para sahabat seperjuangan Syamsul Arief, seperti Anton Bachtiar Rifa’i, Zaid Burhan Ibrahim, Penta Peturun, dan Gian Moko Zuhdi, yang dihubungi secara terpisah, memiliki penilaian yang sama mengenai sosok seorang Syamsul Arief. Mereka menilai Syamsul Arief sebagai pribadi yang berani, cerdas, dan memiliki kepedulian terhadap persoalan masyarakat sejak menjadi mahasiswa di Unila. Bagi mereka, keberhasilan Syamsul Arief mencapai puncak karier sebagai Hakim Agung, bukanlah sesuatu yang datang secara tiba-tiba. Sejak masa kuliah, Syamsul telah menunjukkan kualitasnya, dan berbeda dari kebanyakan mahasiswa lainnya. Ia rajin membaca, kritis, berani mengambil risiko, pandai membangun jaringan, tetapi tetap santun dalam berhubungan dengan orang lain.
Anton Bahtiar Rifa’i, Executive Producer Liputan 6 SCTV, menuturkan bahwa ia mengenal Syamsul Arief, sejak pertengahan 1990-an, sebagai mahasiswa yang ceplas-ceplos dan agak urakan, namun ia memiliki intelektualitas kuat, gemar membaca, berdiskusi, dan menyukai sastra. Bagi Anton, jejak aktivisme Syamsul Arief tetap hidup sampai sekarang, hal tersebut dapat dilihat dari keberanian berpikir dan memiliki terobosan hukum yang berpihak pada keadilan. Anton dan Arief memiliki semangat yang sama dalam melawan ketidakadilan serta berkontribusi mendorong perubahan sosial dan politik.
Disi lain, sahabatnya Zaid Burhan Ibrahim, Direktur Keuangan, Manajemen Risiko, dan Umum Perkebunan Kelapa Sawit, Kementerian Keuangan, mengenal Syamsul Arief ketika Mahasiswa di Unila. Syamsul Arief dinilai punya nyali yang sering membuat para senior ikut terpacu. Keberaniannya bukan keberanian kosong. ketika melakukan aksi di lapangan, Ia dapat membaca situasi dan memperhitungkan risiko secara detail. Selain berani, Syamsul Arief juga peduli kepada teman dan belajar hukum bukan hanya dari buku, tetapi dari manusia yang menghadapi ketidakadilan.
Penta Peturun, Tenaga Ahli Kementerian Hak Asasi Manusia, menilai Syamsul Arief tidak memiliki darah biru, namun ia memiliki darah juang yang menggelora. Penta mengenalnya sejak 1994 sebagai mahasiswa yang gemar membaca, kritis, berani bertanya, dan tidak mudah silau oleh nama-nama besar tokoh, ketika berada dalam ruangan diskusi. Tidak hanya itu, Penta melihatnya sering berdiri di barisan depan Reformasi, memegang toa dan menggerakkan massa. Ia tumbuh dari rumah sederhana di Jalan Tamin, Lebak Budi, lalu menempa diri dalam HMI, LBH, gerakan mahasiswa, dan advokasi rakyat. Gianmoko Zuhdy, Aktivis HAM dan Aliansi Sipil,mengenal Syamsul Arief bukan di ruang sidang, tetapi di jalanan Bandar Lampung pada pertengahan 1990-an. Mereka berbeda kampus, namun sering bertemu dalam demonstrasi, diskusi mahasiswa, dan kegiatan LBH Bandar Lampung. Bagi Gianmoko, Arief merupakan pribadi yang smart, tegas, pemberani, dan sangat suka berdiskusi.
Artikel Lain dalam Liputan Ini :
Untuk Mendapatkan Berita Terbaru Suara BSDK, Follow Channel WhatsApp: SUARABSDKMARI








