Close Menu
Suara BSDKSuara BSDK
  • Beranda
  • Artikel
  • Berita
  • Features
  • Sosok
  • Filsafat
  • Roman
  • Satire
  • Video
  • Liputan Khusus

Subscribe to Updates

Get the latest creative news from FooBar about art, design and business.

What's Hot

Menegaskan Batas Upaya Hukum atas Putusan Bebas: PT Kepulauan Riau Terapkan SEMA Nomor 4 Tahun 2026

September 7, 2026

Tekankan Peradilan yang Berkeadilan, Adaptif, dan Visioner dalam Transisi Hukum Pidana Nasional

September 7, 2026

Laporan Kegiatan Penyusunan Naskah Kebijakan Wajib Dilaporkan Secara Menyeluruh

September 7, 2026
Instagram YouTube
Suara BSDKSuara BSDK
Deskripsi Gambar
  • Beranda
  • Artikel
  • Berita
  • Features
  • Sosok
  • Filsafat
  • Roman
  • Satire
  • Video
  • Liputan Khusus
Suara BSDKSuara BSDK
Deskripsi Gambar
  • Beranda
  • Artikel
  • Berita
  • Features
  • Sosok
  • Filsafat
  • Roman
  • Satire
  • Video
  • Liputan Khusus
Home » Perjalanan Sunyi Syamsul Arief Menjadi Hakim Agung

Perjalanan Sunyi Syamsul Arief Menjadi Hakim Agung

Khoiruddin HasibuanKhoiruddin HasibuanSeptember 7, 20267 Mins ReadNo Comments
Usia 19 tahun, tahun kedua kuliah (1995), Syamsul Arief sedang menggandrungi buku-buku sosiologi, filsafat dan sastra.
Share
Facebook Twitter Threads Telegram WhatsApp

Pagi itu 30 Agustus 2026, usai lomba lari BSDK MA Run 2026, saya sempatkan berbincang dengan Dr. H. Syamsul Arief, S.H., M.H., Kepala Badan Strategi Kebijakan dan Pendidikan dan Pelatihan Hukum dan Peradilan Mahkamah Agung (BSDK-MA). Pada lomba lari 10 kilometer tersebut, dialah yang melepas para pelari dari garis start dan ikut pula menjadi peserta lomba lari. Saat itu adalah 3 hari menjelang pelantikannya sebagai Hakim Agung Kamar Pidana  pada Rabu, 2 September 2026, oleh Ketua Mahkamah Agung Prof. Dr. H. Sunarto, S.H., M.H.

Saya penasaran untuk bercakap-cakap dengannya, sembari ingin menggali sisi lain kehidupannya, jauh sebelum terpilih sebagai Hakim Agung di usia yang relatif muda. Hal ini tidak lain bertujuan untuk membangkitkan motivasi Hakim-hakim muda di seluruh Indonesia.

Dari Pempek, Koran, Buku-Buku Ayah dan Gereja

Syamsul Arief lahir di Bandar Lampung pada 24 Februari 1976. Ayahnya, Habiburrahman, adalah seorang guru sekolah dasar. Ibunya, Rahmabina, merupakan ibu rumah tangga, yang dalam ingatan Syamsul Arief selalu hadir dengan penuh kelembutan.

“Ibu atau yang kerap saya panggil emak, seperti sungai dan hutan bagi saya, sementara ayah seperti matahari yang terus membakar semangat,” tuturnya sambil menyeruput kopi arabika.

Sejak kecil, ayahnya selalu membawa pulang buku-buku pinjaman seperti komik, kisah para nabi, koran, dan berbagai bacaan lainnya. Gaji ayahnya sebagai guru tidaklah besar, tetapi saat itu, ayahnya tetap berusaha menghadirkan bahan bacaan untuk Syamsul Arief kecil di rumah.

Syamsul Arief kecil tumbuh dekat dengan pasar. Ketika duduk di kelas empat dan lima sekolah dasar, ia diam-diam berjualan pempek. Orang tuanya tidak mengetahui pekerjaan kecil itu. Ia mengambil pempek dari pembuatnya, lalu menjajakannya kepada sopir, kernet, pedagang, dan orang-orang yang hidup dari kerasnya jalanan.

Dari pasar, ia mengenali dunia yang tidak seluruhnya terdapat dalam buku pelajaran. Ia melihat buruh, preman, pedagang kecil, penyemir sepatu, dan orang-orang yang bertahan hidup hanya dengan lapak beralaskan koran.

Ketika dagangannya sepi, ia mendekati penjual buku bekas. Kebiasaan membaca koran yang ditanamkan ayahnya, membuatnya akrab dengan Kompas, Suara Pembaruan, dan berbagai media lain sejak usia muda.

Tidak hanya itu, Syamsul Arief suka masuk ke gereja, hanya untuk bisa mengakses buku-buku filsafat di perpustakaan gereja, seperti buku karya Jean Baudrillard, sehingga dia paham tentang konsep Simulacra, Simulation dan Hyperreality. Dia membaca Jürgen Habermas dengan Teori Public Sphere, membaca teori epistemologi dan etika Immanuel Kant, hingga Das Kapital Karl Marx dan  Teori Dialektika Idealis, karya Friedrich Hegel.

Kelak kebiasaan membaca itu, terus menumbuhkan hasrat menulisnya dan tidak dapat membendung keinginannya untuk menjadi seorang Jurnalis.

Dia terus mengobrol santai dengan saya usai berlari 10K di ajang Lomba Lari BSDK MA Run. Tanpa rasa lelah yang terpancar dari raut wajahnya, ia melanjutkan kisah sunyinya menjadi wartawan, dan menerima pilihan dari ibunya: menjadi calon hakim.

Menjadi Wartawan karena Panggilan Nurani

Foto Syamsul Arief bersama Adnan Buyung Nasution

Setelah menyelesaikan kuliah pada 1998, Syamsul memperoleh lisensi sebagai pengacara. Namun keinginannya menjadi wartawan belum padam.

Ia mengirimkan lamaran ke sejumlah media, termasuk Kompas, Detik, dan kelompok Pos Kota. Pada awal 1999, ia diterima sebagai wartawan Tabloid AKSI, salah satu penerbitan di lingkungan Pos Kota.

Ia datang ke Jakarta dengan modal seratus ribu rupiah hasil pinjaman ibunya. Untuk menghemat ongkos penyeberangan Bakauheni-Merak, ia mengaku berpura-pura menjadi kernet truk, agar dapat masuk melalui jalur kendaraan.

Baca Juga  Jejak Aktivis Syamsul Arief dalam Ingatan Sahabat

Setelah tiba di Kampung Rambutan, ia membersihkan diri, lalu langsung menuju kantor redaksi Tabloid Aksi. Ketika ditanya berapa gaji yang diinginkannya, ia hanya menjawab sederhana, “Secukupnya untuk hidup di Jakarta.” Dengan jawaban tersebut, ia pun terjun ke dunia jurnalistik: profesi yang telah ia jiwai sejak mahasiswa.

Setelah menjalani profesi sebagai wartawan, ternyata jawaban polos terkait gaji yang diinginkannya, membuat seorang wartawan senior menertawakannya, karena ia tidak menyebutkan nominal gaji saat wawancara. Padahal saat itu, ia bisa saja meminta gaji Rp1 juta per bulan. Namun, gaji pertamanya saat itu hanya Rp700 ribu. Dari jumlah tersebut, ia tidak mengeluh, masih bersemangat menjalani profesinya sebagai wartawan, dan ia juga masih bisa mengirimkan Rp200 ribu per bulan kepada ibunya di Lampung.

Kiriman uang tersebut, semacam pesan kepada orang tuanya, bahwa anak yang berangkat dengan uang pinjaman itu, mampu bertahan di Kota Metropolitan, dan tidak perlu dirisaukan kehidupannya.

Semasa menjadi wartawan, dia banyak mendatangi tempat dan berjumpa dengan banyak tokoh untuk sesi wawancara. Dia bertemu kembali dengan Tokoh Sastra pujaannya dan mengobrol bersama Pramoedya Ananta Toer.

Syamsul Arief mengingat betul saat Pram berkata kepadanya: “Anak muda jangan takut, teruslah berjuang menegakkan harkat kemanusiaan dan keadilan”.

Dia juga bertemu kembali dengan panutannya, advokat kondang, Adnan Buyung Nasution. Tahun sebelumnya, “Bang Buyung” rutin datang ke LBH Lampung, dan Syamsul Arief kerap ikut terlibat dalam diskusi hukum dengan panutannya tersebut.

Disamping itu, ia ikut pengajian Tokoh Bangsa: Nurcholish Madjid. Berkali-kali nongkrong dan wawancara dengan Gus Dur di Kantor PBNU Jakarta, wawancara tentang peredaran senjata api ilegal dengan Tokoh pengusaha Oesman Sapta Odang, menjadi wartawan pertama yang menjemput di LP Cipinang dan wawancara langsung di rumah Kolonel Latief, eks terpidana kasus makar PKI.

Selain tokoh-tokoh tersebut, ia juga bertemu dengan berbagai aktivis dan kelompok gerakan mahasiswa dan civil society di TIM Jakarta. Meliput aktivitas budaya dan kesenian di GKJ dan TIM Jakarta, Konser Leo Kristi, menonton Pentas Wayangan, Pentas Ketoprak, Pentas Bengkel Teater Rendra, Pentas Monolog Butet Kartaradjasa dan Putu Wijaya serta Konser-konser Musik lainnya.

Pilihan Seorang Ibu

Ketika pulang ke Lampung, Syamsul Arief menyampaikan kabar kelulusannya sebagai calon hakim dan calon jaksa kepada ayahnya.

“Dua-duanya lulus, Yah,” katanya kepada Sang Ayah.

Ayahnya pun ikut senang dan bangga. Namun ia tidak menentukan pilihan anaknya. Ia meminta Syamsul Arief bertanya kepada ibunya.

“Pilih hakim,” kata emaknya, Rahmabina. “Kakakmu sudah menjadi jaksa,” lanjutnya.

Kalimat sederhana itu, mengubah 180 derajat arah hidup Syamsul Arief. Atas pilihan emaknya tersebut, Syamsul Arief pun terpaksa meninggalkan profesi wartawan yang dicintainya dan sesuai permintaan ibunya, ia lebih memilih menjadi calon hakim pada 1999. Namun, sebelum benar-benar meninggalkan dunia jurnalistik dan aktivisme di Jakarta, ia sempat berpamitan dengan Munir.

Sejak itulah, perjalanan panjang seorang Syamsul Arief di lingkungan peradilan dimulai. Dari hakim muda, ketua pengadilan, pejabat pendidikan dan pelatihan, hingga Kepala BSDK. Pada usia 50 tahun, Syamsul Arief akhirnya berdiri di Ruang Kusumah Atmadja, Gedung Mahkamah Agung, mengucapkan sumpah sebagai Hakim Agung Kamar Pidana.

Baca Juga  Arief Botak : Dulu Memimpin Puluhan Ribu Dengan TOA, Kini Satu Palu di Tangan

Syamsul Arief di Mata Para Sahabat Seperjuangan

Para sahabat seperjuangan Syamsul Arief, seperti Anton Bachtiar Rifa’i, Zaid Burhan Ibrahim, Penta Peturun, dan Gian Moko Zuhdi, yang dihubungi secara terpisah, memiliki penilaian yang sama mengenai sosok seorang Syamsul Arief. Mereka menilai Syamsul Arief sebagai pribadi yang berani, cerdas, dan memiliki kepedulian terhadap persoalan masyarakat sejak menjadi mahasiswa di Unila.  Bagi mereka, keberhasilan Syamsul Arief mencapai puncak karier sebagai Hakim Agung, bukanlah sesuatu yang datang secara tiba-tiba. Sejak masa kuliah, Syamsul telah menunjukkan kualitasnya, dan berbeda dari kebanyakan mahasiswa lainnya. Ia rajin membaca, kritis, berani mengambil risiko, pandai membangun jaringan, tetapi tetap santun dalam berhubungan dengan orang lain.

Anton Bahtiar Rifa’i, Executive Producer Liputan 6 SCTV, menuturkan bahwa ia mengenal Syamsul Arief, sejak pertengahan 1990-an, sebagai mahasiswa yang ceplas-ceplos dan agak urakan, namun ia memiliki intelektualitas kuat, gemar membaca, berdiskusi, dan menyukai sastra. Bagi Anton, jejak aktivisme Syamsul Arief tetap hidup sampai sekarang, hal tersebut dapat dilihat dari keberanian berpikir dan memiliki terobosan hukum yang berpihak pada keadilan. Anton dan Arief memiliki semangat yang sama dalam melawan ketidakadilan serta berkontribusi mendorong perubahan sosial dan politik.

Disi lain, sahabatnya Zaid Burhan Ibrahim, Direktur Keuangan, Manajemen Risiko, dan Umum Perkebunan Kelapa Sawit, Kementerian Keuangan, mengenal Syamsul Arief ketika Mahasiswa di Unila. Syamsul Arief dinilai punya nyali yang sering membuat para senior ikut terpacu. Keberaniannya bukan keberanian kosong. ketika melakukan aksi di lapangan, Ia dapat membaca situasi dan memperhitungkan risiko secara detail. Selain berani, Syamsul Arief juga peduli kepada teman dan belajar hukum bukan hanya dari buku, tetapi dari manusia yang menghadapi ketidakadilan.

Penta Peturun, Tenaga Ahli Kementerian Hak Asasi Manusia, menilai Syamsul Arief tidak memiliki darah biru, namun ia memiliki darah juang yang menggelora. Penta mengenalnya sejak 1994 sebagai mahasiswa yang gemar membaca, kritis, berani bertanya, dan tidak mudah silau oleh nama-nama besar tokoh, ketika berada dalam ruangan diskusi. Tidak hanya itu, Penta melihatnya sering berdiri di barisan depan Reformasi, memegang toa dan menggerakkan massa. Ia tumbuh dari rumah sederhana di Jalan Tamin, Lebak Budi, lalu menempa diri dalam HMI, LBH, gerakan mahasiswa, dan advokasi rakyat. Gianmoko Zuhdy, Aktivis HAM dan Aliansi Sipil,mengenal Syamsul Arief bukan di ruang sidang, tetapi di jalanan Bandar Lampung pada pertengahan 1990-an. Mereka berbeda kampus, namun sering bertemu dalam demonstrasi, diskusi mahasiswa, dan kegiatan LBH Bandar Lampung. Bagi Gianmoko, Arief merupakan pribadi yang smart, tegas, pemberani, dan sangat suka berdiskusi.

Artikel Lain dalam Liputan Ini :

  • Aktivisme Intelektual di Jantung Pendidikan Hakim

    Aktivisme Intelektual di Jantung Pendidikan Hakim

  • “Datang dari Langit Mana Anak Ini?” Kesaksian Zaid Burhan Ibrahim tentang Syamsul Arief

    “Datang dari Langit Mana Anak Ini?” Kesaksian Zaid Burhan Ibrahim tentang Syamsul Arief

  • Jejak Aktivis Syamsul Arief dalam Ingatan Sahabat

    Jejak Aktivis Syamsul Arief dalam Ingatan Sahabat

  • Perjalanan Sunyi Syamsul Arief Menjadi Hakim Agung

    Perjalanan Sunyi Syamsul Arief Menjadi Hakim Agung

  • Arief yang Saya Kenal: Dari Jalanan Lampung ke Kursi Hakim Agung

    Arief yang Saya Kenal: Dari Jalanan Lampung ke Kursi Hakim Agung

  • Syamsul Arief : Mahasiswa Pertama yang Membela TEMPO Ketika Dibredel

    Syamsul Arief : Mahasiswa Pertama yang Membela TEMPO Ketika Dibredel

  • Arief Botak : Dulu Memimpin Puluhan Ribu Dengan TOA, Kini Satu Palu di Tangan

    Arief Botak : Dulu Memimpin Puluhan Ribu Dengan TOA, Kini Satu Palu di Tangan

Khoiruddin Hasibuan
Kontributor
Khoiruddin Hasibuan
Hakim Pengadilan Agama Soreang

Untuk Mendapatkan Berita Terbaru Suara BSDK, Follow Channel WhatsApp: SUARABSDKMARI

Jejak Syamsul Arief Menuju Hakim Agung
Share. Facebook Twitter Threads Telegram WhatsApp Copy Link
Demo
Top Posts

Resensi Game: Final Fantasy VII

September 7, 2026

Menanam Nilai, Menjaga Masa Depan

September 1, 2026

Sayap Patah dan Keadilan Yang Tersisa Bagi Elang

August 15, 2026

Secangkir Cocopresso dari Seorang Yang Mulia

August 15, 2026
Don't Miss

Menegaskan Batas Upaya Hukum atas Putusan Bebas: PT Kepulauan Riau Terapkan SEMA Nomor 4 Tahun 2026

By ZulfahmiSeptember 7, 20260

TANJUNGPINANG, 7 September 2026 — Pengadilan Tinggi Kepulauan Riau melalui Putusan Nomor 11/PID.SUS-TPK/2026/PT TPG menyatakan…

Tekankan Peradilan yang Berkeadilan, Adaptif, dan Visioner dalam Transisi Hukum Pidana Nasional

September 7, 2026

Laporan Kegiatan Penyusunan Naskah Kebijakan Wajib Dilaporkan Secara Menyeluruh

September 7, 2026

Resensi Game: Final Fantasy VII

September 7, 2026
Stay In Touch
  • YouTube
  • TikTok
  • WhatsApp
  • Twitter
  • Instagram
Top Trending
Demo

Recent Posts

  • Menegaskan Batas Upaya Hukum atas Putusan Bebas: PT Kepulauan Riau Terapkan SEMA Nomor 4 Tahun 2026
  • Tekankan Peradilan yang Berkeadilan, Adaptif, dan Visioner dalam Transisi Hukum Pidana Nasional
  • Laporan Kegiatan Penyusunan Naskah Kebijakan Wajib Dilaporkan Secara Menyeluruh
  • Resensi Game: Final Fantasy VII
  • Cermin di Balik Layar Kaca: Filosofi Gawai, Kepribadian, dan Manajemen Peradilan Modern

Recent Comments

  1. Burhan on Dari Prajurit Hukum ke Mahkamah Agung: Letkol Chk Sudiyo Pesan ‘Menulis dan Menulislah’
  2. Vanimut on Ketua PTA Kepri Buka Pendampingan Monev KIP Tahun 2026
  3. Ekasari on BSDK MA Run 2026: 10 Kilometer Pelari CADAS, Berlari Bersama Menjaga Semangat Pengabdian dan Integritas
  4. Abdul Hafid PP PA Sleman on Alumni Bersuara dari PA Sleman : Diklat Panitera Pengganti Harus Update, Merata, dan Berbasis Praktik
  5. kumalasari on Di Mana Negara Menempatkan, Di Sana Pengabdian Dijalankan: Kisah PNS Non-Homebase Menemukan Arti Ketulusan di Tanah yang Jauh dari Rumah
Hubungi Kami

Badan Strategi Kebijakan dan Pendidikan dan Pelatihan Hukum dan Peradilan Hukum dan Peradilan
Mahkamah Agung RI

Kantor: Jl. Cikopo Selatan Desa Sukamaju, Kec. Megamendung
Bogor, Jawa Barat 16770

Kirimkan reportase berita, opini, features dan artikel lainnya ke email suarabsdk.com : 
redpelsuarabsdk@gmail.com

Telepon: (0251) 8249520, 8249522, 8249531, 8249539

Kategori
Beranda Artikel Berita Features Sosok KRITERIA TULISAN
Filsafat Roman Satire Video BALACADAS
Connect With Us
  • Instagram
  • YouTube
  • WhatsApp
Aplikasi Internal
Logo 1 Logo 2 Logo 3 Logo 3 Logo 5
Logo 4 Logo 4 Logo 4 Logo 5 Logo 5 Logo 5
Kontributor
  • Avatar photo Ahmad Junaedi
  • Avatar photo Mohammad Khairul Muqorobin
  • Avatar photo Irvan Mawardi
  • Avatar photo Aman
  • Avatar photo Cecep Mustafa
  • Avatar photo Khoiruddin Hasibuan
  • Avatar photo Muamar Azmar Mahmud Farig
  • Avatar photo Ari Gunawan
  • Avatar photo Syailendra Anantya Prawira
  • Avatar photo Yudhistira Ary Prabowo
  • Avatar photo Muhammad Rizqi Hengki
  • Avatar photo Ghesa Agnanto Hutomo
  • Avatar photo Agus Digdo Nugroho
  • Avatar photo Muhammad Adiguna Bimasakti
  • Avatar photo Timbul Bonardo Siahaan
  • Avatar photo Dahlan Suherlan
  • Avatar photo Syamsul Arief
  • Avatar photo Jatmiko Wirawan
  • Avatar photo Taufikurrahman
  • Avatar photo Cik Basir
  • Avatar photo Johanes
  • Avatar photo Maria Fransiska Walintukan
  • Avatar photo Zulfahmi
  • Avatar photo Syihabuddin
  • Avatar photo Unggul Senoaji
  • Avatar photo M. Natsir Asnawi
  • Avatar photo Adji Prakoso
  • Avatar photo Anton Ahmad Sogiri
  • Avatar photo Yoshito Siburian
  • Avatar photo Abdi Munawar Daeng Mangagang
  • Avatar photo Iqbal Lazuardi
  • Avatar photo Galang Adhe Sukma
  • Avatar photo Anisa Yustikaningtiyas
  • Avatar photo Harun Maulana
  • Avatar photo I Gusti Lanang Ngurah Sidemen Putra
  • Avatar photo Muhammad Hanif Ramadhan
  • Avatar photo Ahmad Syahrus Sikti
  • Avatar photo Eliyas Eko Setyo
  • Avatar photo Firzi Ramadhan
  • Avatar photo Jarkasih
  • Avatar photo Sriti Hesti Astiti
  • Avatar photo Sudiyo
  • Avatar photo Binsar Parlindungan Tampubolon
  • Avatar photo Garin Purna Sanjaya
  • Avatar photo Layla Windy Puspita Sari
  • Avatar photo Marulam J Sembiring
  • Avatar photo Tri Indroyono
  • Avatar photo Letkol Chk Agustono, S.H., M.H.
  • Avatar photo Ardiansyah Iksaniyah Putra
  • Avatar photo Febby Fajrurrahman
  • Avatar photo Ganjar Prima Anggara
  • Avatar photo Irene Cristna Silalahi
  • Avatar photo Marsudin Nainggolan
  • Avatar photo Maulana Aulia
  • Avatar photo Riki Perdana Raya Waruwu
  • Avatar photo Dr. Syofyan Iskandar, S.H., M.H.
  • Avatar photo Afifah Dwiandini
  • Avatar photo Itsnaatul Lathifah
  • Avatar photo Khoiriyah Roihan
  • Avatar photo Redaktur SuaraBSDK
  • Avatar photo Yasin Prasetia
  • Avatar photo Muhamad Zaky Albana
  • Avatar photo Audrey Kartika Putri
  • Avatar photo Bintoro Wisnu Prasojo, S.H.
  • Avatar photo Buang Yusuf
  • Avatar photo Fitriyel Hanif
  • Avatar photo Henri Setiawan
  • Avatar photo Irwan Rosady
  • Avatar photo K.G. Raegen
  • Avatar photo Rafi Muhammad Ave
  • Avatar photo Rangga Lukita Desnata
  • Avatar photo Rikatama Budiyantie
  • Avatar photo Siti Nadhiroh
  • Avatar photo Teguh Setiyawan
  • Avatar photo Abdul Azis Ali Ramdlani
  • Avatar photo Achmad Fikri Oslami
  • Avatar photo Ahmad Fuad Noor Ghufron
  • Avatar photo Achmad Nurul Huda
  • Avatar photo Anggi Permana
  • Avatar photo Ang Rijal Amin
  • Avatar photo Cok Istri Bhagawanthi Pemayun
  • Avatar photo Dedi Putra
  • Avatar photo Dewi Maharati
  • Avatar photo Gerry Michael Purba
  • Avatar photo Herjuna Praba Wiesesa
  • Avatar photo Hermanto
  • Avatar photo Indarka PP
  • Avatar photo Muhamad Fadillah
  • Avatar photo Nugraha Medica Prakasa
  • Avatar photo Ria Marsella
  • Avatar photo Sahram
  • Avatar photo Saut Erwin Hartono A. Munthe
  • Avatar photo Silveria Supanti
  • Avatar photo Sugiarto
  • Avatar photo Yusuf Sodhiqin
  • Avatar photo Achmad Pratomo
  • Avatar photo Ahmad Faiz Shobir Alfikri
  • Avatar photo Andro Riski Pradipta
  • Avatar photo Arie Fitriansyah
  • Avatar photo Bismo Jiwo Agung
  • Avatar photo Epri Wahyudi
  • Avatar photo Fajar Widodo
  • Avatar photo Fariz Prasetyo Aji
  • Avatar photo Fauzan Arrasyid
  • Avatar photo Fauzia Rohmah
  • Avatar photo Febry Indra Gunawan Sitorus
  • Avatar photo Ferdian Permadi
  • Avatar photo Gerry Geovant Supranata Kaban
  • Avatar photo Mardi Candra
  • Avatar photo Muhammad Irfan Syahputra
  • Avatar photo Muhammad Amin Putra
  • Avatar photo Niko Wijaya
  • Avatar photo Putra Nova A.S
  • Avatar photo Rizal Arif Fitria
  • Avatar photo Sadana
  • Avatar photo Trisoko Sugeng Sulistyo
  • Avatar photo Umar Dani
  • Avatar photo Abdul Hadi
  • Avatar photo Abiandri Fikri Akbar
  • Avatar photo Abi Zaky Azizi
  • Avatar photo Dr. H. Achmad Setyo Pudjoharsoyo., SH., M.Hum
  • Avatar photo Adimas Leo Firmansah
  • Avatar photo Agenda Citra Muhammad
  • Avatar photo Andi Akram
  • Avatar photo Arsyawal
  • Avatar photo Aulia Rochmani Lazuardi
  • Avatar photo Bagus Partha Wijaya
  • Avatar photo Bagus Sujatmiko
  • Avatar photo Bayu Akbar Wicaksono
  • Avatar photo Chandra Khoirunnas
  • Avatar photo Cuhandi
  • Avatar photo David Pasaribu
  • Avatar photo Dendi Sutiyoso
  • Avatar photo Dhea Sutaryana
  • Avatar photo Edi Hudiata
  • Avatar photo Enrico Simanjuntak
  • Avatar photo Fauzan Prasetya
  • Avatar photo Fauziah Rahmah
  • Avatar photo Fery Rochmad Ramadhan
  • Avatar photo Hartanto Ariesyandi
  • Avatar photo Idik Saeful Bahri
  • Avatar photo Karell Mawla Ibnu Kamali
  • Avatar photo Khalilurrahman
  • Avatar photo Khoirul Anwar
  • Avatar photo Mentari Wahyudihati
  • Avatar photo Muhamad Ridwan
  • Avatar photo Muhamad Iqbal
  • Avatar photo Nia Chasanah
  • Avatar photo Novritsar Hasintongan Pakpahan
  • Avatar photo Nugraha Wisnu Wijaya
  • Avatar photo Raden Anggara Kurniawan
  • Avatar photo Raden Heru Wibowo Sukaten
  • Avatar photo Rahimulhuda Rizki Alwi
  • Avatar photo Rahmad Ramadhan Hasibuan
  • Avatar photo Ranggi Adiwangsa Yusron
  • Avatar photo Muhammad Rijaldy Alwy
  • Avatar photo Rohim
  • Avatar photo Samsul Zakaria
  • Avatar photo Satria Perdana
  • Avatar photo Tri Cahya Indra Permana
  • Avatar photo Wahyu Budi Santoso
  • Avatar photo Wilmar Ibni Rusydan
  • Avatar photo Yudhi Reksa Perdana
  • Avatar photo Abdul Ghani
  • Avatar photo Ach. Jufri
  • Avatar photo Afif Muchshon
  • Avatar photo Agus Suharsono
  • Avatar photo Ahmad Efendi
  • Avatar photo Ahmad Hodri
  • Avatar photo Ahmad Rizza Habibi
  • Avatar photo Aidil Akbar
  • Avatar photo Alep Priyoambodo
  • Avatar photo Alfajar Nugraha
  • Avatar photo Anderson Peruzzi Simanjuntak
  • Avatar photo Andhika Prayoga
  • Avatar photo Andi Muhammad Galib
  • Avatar photo Andi Aswandi Tashar
  • Avatar photo Andrie Gunawan
  • Avatar photo Anna Yulina
  • Avatar photo Annisa Nur Alam
  • Avatar photo Arga Febrian
  • Avatar photo Arief Sapto Nugroho
  • Avatar photo Mayor Chk Arif Dwi Prasetyo
  • Avatar photo Armansyah
  • Avatar photo Aryaniek Andayani
  • Avatar photo Ashhab Triono
  • Avatar photo Bella Puspitawati
  • Avatar photo Bilma Diffika
  • Avatar photo Bony Daniel
  • Avatar photo Budi Hermanto
  • Avatar photo Budi Suhariyanto
  • Avatar photo Chandra
  • Avatar photo Christopher Hutapea
  • Avatar photo Daniel H. Napitupulu
  • Dedi Wigandi
  • Avatar photo Deka Rachman Budihanto
  • Avatar photo Eddy Sembiring
  • Avatar photo Effendi Mukhtar
  • Avatar photo Egia Rasido Tarigan
  • Avatar photo Eka Sentausa
  • Avatar photo Enos Syahputra Sipahutar, S.H., M.H.
  • Avatar photo Dr. Fahmiron
  • Avatar photo Fahri Bachmid
  • Avatar photo Fahri Gunawan Siagian
  • Avatar photo Fahri Soleh
  • Avatar photo Fakhir Tashin Baaj
  • Avatar photo Fatkul Mujib, S.H.I., M.H.
  • Avatar photo Dr. Fauziati, S.Ag., M.Ag
  • Avatar photo Febriansyah Rozarius
  • Avatar photo Friska Ariesta Aritedi
  • Avatar photo Gineng Pratidina
  • Avatar photo Peltu Hartono
  • Avatar photo Hastuti
  • Avatar photo Hendro Yatmoko
  • Avatar photo Ibnu Abas Ali
  • Avatar photo I Made Sukadana
  • Indra Tua Hasangapon Harahap
  • Avatar photo Ira Soniawati
  • Avatar photo Irfan Dibar
  • Avatar photo Muhammad Irfansyah
  • Avatar photo Letkol Kum Irwan Tasri, S.H., M.H., M.Han.
  • Avatar photo Iwan Lamganda Manalu
  • Avatar photo Jerymia Seky Tanaem
  • Avatar photo Jusran Ipandi
  • Avatar photo Khaimi
  • Avatar photo Khoerul Umam
  • Avatar photo Linora Rohayu
  • Avatar photo Made Passek Reza Swandira
  • Avatar photo Marta Satria Putra
  • Avatar photo Marwan Ibrahim Piinga
  • Avatar photo Marwanto
  • Avatar photo Marzha Tweedo Dikky Paraanugrah
  • Avatar photo Maulia Martwenty Ine
  • Avatar photo Mira Maulidar
  • Avatar photo Misbah S.T., M.Eng.
  • Avatar photo Misbahul Anwar
  • Avatar photo Muhamad Ilham Azizul Haq
  • Avatar photo Muhamad Saptari
  • Avatar photo Muhammad Fadllullah
  • Avatar photo Muhammad Muhyi Arrasyid, S.Psi.
  • Avatar photo Muhammad Bagus Tri Prasetyo
  • Avatar photo Muhammad Yusuf
  • Avatar photo Muhammad Zuchri Nasuha Lubis
  • Avatar photo Murdian
  • Avatar photo Nadia Yurisa Adila
  • Avatar photo Nisrina Irbah Sati
  • Avatar photo Letkol CHK Nur Sakdi, S.H, M.H.
  • Avatar photo Nur Latifah Hanum
  • Avatar photo Pandu Pradana Wicaksono, S.H.
  • Avatar photo Pita Permatasari
  • Avatar photo H .A.S Pudjoharsoyo
  • Avatar photo Putri Pebrianti
  • Avatar photo R. Deddy Harryanto
  • Avatar photo Radityo Muhammad Harseno
  • Avatar photo Rahmi Fattah
  • Avatar photo Randy Viyatadhika
  • Avatar photo Ratih Gumilang
  • Avatar photo Reindra Jasper H. Sinaga, S.H. Hakim Pengadilan Negeri Tanjung Balai Karimun
  • Avatar photo Muh Ridha Hakim
  • Avatar photo Rifqi Qowiyul Iman
  • Avatar photo Rizal Abdurrahman
  • Avatar photo Romi Hardhika
  • Avatar photo Sandro Imanuel Sijabat
  • Avatar photo Sbong Sinarok Martin, S.H., M.H.
  • Avatar photo Selexta Apriliani
  • Avatar photo Septia Putri Riko
  • Avatar photo Septriono Situmorang
  • Avatar photo Siti Anis
  • Avatar photo Slamet Turhamun
  • Avatar photo Sobandi
  • Avatar photo Stefanus Dwi Putra Medisa
  • Avatar photo Subiyatno
  • Avatar photo Teddy Lahati
  • Avatar photo Tri Baginda Kaisar Abdul Gafur
  • Avatar photo Urif Syarifudin
  • Avatar photo Wanda Rara Farezha,S.H.
  • Avatar photo Wienda Kresnantyo
  • Avatar photo Willsa Suharyadi
  • Avatar photo Yoshelsa Wardhana
  • Avatar photo Yukiatiqa Afifah
  • Avatar photo Marsekal Muda TNI Dr. Yuwono Agung Nugroho, S.H., M.H.
  • Avatar photo Zidny Taqiyya
Lihat semua kontributor →

Type above and press Enter to search. Press Esc to cancel.