Saya kenal Syamsul Arief, bukan di ruang sidang. Bukan juga ketika dia sudah pakai toga hakim. Apalagi di gedung megah Mahkamah Agung. Saya kenal Syamsul Arief, justru di jalan.
Di tengah panasnya Bandar Lampung, suara mahasiswa yang berteriak, poster-poster yang diangkat tinggi, aparat yang berjaga, dan anak-anak muda yang waktu itu punya satu keberanian yang sama: keadaan negeri ini harus berubah.
Kalau ingatan saya tidak salah, sekitar 1996-an, kami sudah sering ketemu. Waktu itu gerakan mahasiswa di Lampung mulai bergeliat. Kami beda kampus. Jadi saya tidak kenal Arief sebagai teman satu kelas, satu organisasi kampus, atau teman nongkrong sehari-hari.
Kami ketemunya di jalan. Kadang dalam demonstrasi. Kadang di ruang diskusi mahasiswa. Kadang di LBH Bandar Lampung. Dan rupanya pertemuan-pertemuan seperti itulah yang membuat saya lama-lama tahu siapa orang ini.
Arief orangnya smart. Tegas. Berani. Dan satu lagi: dia suka diskusi. Kalau ada forum yang membicarakan hukum, demokrasi, HAM atau keadaan negeri, biasanya mukanya ada.
Pada masa itu, LBH Bandar Lampung menjadi salah satu tempat penting buat kami. Bukan sekadar kantor bantuan hukum. Buat anak-anak muda saat itu, tempat seperti LBH juga menjadi semacam sekolah. Sekolah tentang keberanian. Sekolah tentang ketidakadilan. Sekolah tentang bagaimana hukum seharusnya berdiri di sisi orang-orang yang lemah.
Saya sendiri pernah menjadi volunteer di LBH Bandar Lampung. Jadi, lumayan sering berada di sana. Dari situlah saya makin sering ketemu Arief. Saya masih ingat beberapa diskusi, yang menghadirkan orang-orang seperti: Adnan Buyung Nasution, Bambang Widjojanto, almarhum Munir, Dadang Trisasongko, dan beberapa tokoh lainnya.
Buat mahasiswa seperti kami waktu itu, nama-nama tersebut bukan nama kecil. Mereka datang membawa cerita tentang hukum, kekuasaan, hak asasi manusia dan demokrasi. Kami mendengarkan, bertanya, berdebat. Kadang diskusinya panas. Kadang selesai forum masih diteruskan sambil berdiri, sambil ngopi, atau ngobrol di sudut ruangan.
Arief suka suasana seperti itu. ,Makanya ketika sekarang saya melihat dia masih suka membuat atau menghadiri forum diskusi, saya sebenarnya tidak terlalu heran. Memang dari dulu begitu orangnya.
Orang yang Berdiri di Barisan Depan
Kalau orang sekarang melihat Syamsul Arief sebagai seorang hakim, pejabat Mahkamah Agung, doktor hukum, atau sekarang Hakim Agung, mungkin yang terlihat adalah perjalanan kariernya.
Saya punya gambar lain tentang dia. Saya ingat seorang mahasiswa membawa poster. Berdiri di barisan depan. Teriaknya keras. Malah kadang ngalah-ngalahin yang lain. Ha-ha-ha. Begitulah Arief yang saya kenal.
Waktu itu demonstrasi mahasiswa tentu tidak seperti sekarang. Situasinya berbeda. Orde Baru masih berdiri kuat. Aparat tidak selalu ramah ketika mahasiswa keluar kampus. Dan kami di Lampung, termasuk kelompok mahasiswa yang mulai berani membawa demonstrasi keluar kampus.
Risikonya besar. Saya ingat salah satu aksi ketika mahasiswa gabungan Lampung berencana berjalan kaki menuju kantor gubernur. Jaraknya bukan dekat. Puluhan kilometer. Aparat menghadang. Situasi kemudian kacau.
Bentrok pecah di depan Wisma Bandar Lampung. Banyak mahasiswa terluka. Ada yang ditangkap. Ada yang kemudian harus bermalam beberapa hari di markas polisi.
Saya sendiri selamat karena lari masuk ke rumah penduduk. Warga yang menyelamatkan saya dari kejaran aparat yang membawa kayu atau rotan panjang.
Sampai sekarang saya masih ingat suasananya. Kacau balau. Orang berlarian. Teriakan di mana-mana.
Saya tidak ingat persis apakah Arief termasuk yang ditangkap malam itu. Sudah terlalu lama. Dan saya tidak mau mengarang cerita yang saya sendiri tidak yakin.
Tapi satu yang saya ingat: dalam aksi-aksi seperti itu, Arief bukan tipe orang yang berdiri paling belakang. Dia berani. Kalau sudah turun ke jalan, ya turun. Kalau membawa poster, ya berdiri di depan. Karakter seperti itu susah dilupakan.
Tiba-Tiba Jadi Wartawan
Orde Baru akhirnya jatuh pada 1998. Pada akhir tahun itu, saya pindah ke Jakarta. Saya bergabung dengan YLBHI Pusat di Jalan Diponegoro, Jakarta Pusat. Suatu ketika saya kaget. Lho, ada Arief.
Ternyata dia sudah jadi wartawan. Dunia memang kadang lucu. Orang-orang yang dulu ketemu di jalan, bisa tiba-tiba bertemu kembali ratusan kilometer dari tempat pertama kali saling kenal. Arief datang ke YLBHI bukan cuma untuk meliput.
Ini yang saya ingat betul. Kalau wartawan lain mungkin selesai wawancara kemudian pulang ke kantor, Arief kadang masih duduk. Ngobrol. Diskusi. Dia sering berdiskusi dengan almarhum Cak Munir dan beberapa pengurus YLBHI Pusat. Kadang saya ikut berada di situ.
Bagi saya, itu menunjukkan sesuatu yang memang sudah kelihatan sejak zaman mahasiswa. Rasa ingin tahunya besar. Dia tidak puas cuma mengetahui kulit persoalan. Mungkin itu pula sebabnya profesi wartawan cocok dengan dirinya waktu itu. Wartawan bertanya. Wartawan mencari. Wartawan harus skeptis terhadap jawaban yang terlalu gampang.Tetapi rupanya jalan hidup membawanya ke arah lain.
“Saya Diterima Jadi Hakim”
Saya lupa persis tahunnya. Mungkin 1999 atau 2000. Suatu hari Arief muncul lagi di YLBHI. Kali ini bukan untuk liputan. Dia datang untuk pamit. Ada saya, Cak Munir, dan beberapa pengurus YLBHI Pusat. Lalu Arief bilang kurang lebih begini: “Saya diterima jadi hakim.”
Kalimatnya sederhana. Tetapi saya masih ingat suasananya. Cak Munir langsung mengucapkan, “Syukur alhamdulillah.” Lalu mendoakan semoga Arief menjadi orang yang berguna bagi negeri ini. Saya tidak tahu apakah Arief sendiri masih ingat momen itu. Saya ingat. Dan setelah puluhan tahun berlalu, doa itu seperti menemukan jalannya sendiri.
Dari seorang mahasiswa yang saya kenal membawa poster di jalanan Lampung, kemudian menjadi wartawan yang mondar-mandir ke kantor YLBHI, Arief memilih masuk ke dunia peradilan.
Bagi sebagian orang mungkin terasa seperti berpindah dunia. Buat saya tidak sepenuhnya. Karena yang dibicarakan sejak dulu sebenarnya tetap sama: hukum, keadilan, negara dan manusia. Hanya tempat berdirinya yang berubah. Dulu di luar pagar. Sekarang di dalam sistem. Dulu berteriak lewat megafon. Sekarang berbicara melalui putusan. Dan justru di situlah tantangannya.
Lama Tidak Bertemu
Setelah Arief pamit menjadi hakim, kami praktis jarang sekali bertemu. Masing-masing sibuk dengan jalannya sendiri. Saya mendengar kabar tentang dia hanya sepotong-sepotong dari kawan. Katanya bertugas di daerah ini. Pindah ke daerah lain. Menduduki posisi tertentu.
Begitulah. Namanya kehidupan, orang-orang yang dulu hampir tiap minggu ketemu, bisa kemudian hilang bertahun-tahun.
Sekitar 2015-an, kami pernah tidak sengaja ketemu di Bandara Soekarno-Hatta. Pagi-pagi. Pertemuan singkat sekali. Mau ngobrol panjang juga tidak bisa karena sudah harus masuk pesawat. Akhirnya cuma sempat bertukar nomor HP. Setelah itu kembali sibuk dengan dunia masing-masing. Tetapi sesekali saya melihat Arief muncul di media sosial. Dan ada satu hal yang menarik perhatian saya. Orang ini ternyata masih suka diskusi.
Salah satu yang sempat ramai ketika dia mengundang Rocky Gerung dalam suatu forum diskusi. Respons publik cukup besar. Kawan-kawan lama yang dulu mengenalnya dari jalan juga banyak yang memperhatikan. Saya senyum sendiri. Dalam hati saya bilang: Arief masih Arief.
Jabatan boleh berubah. Baju boleh berubah. Ruang tempat berbicara boleh berubah. Tetapi kebiasaan mengajak orang berpikir dan berdebat rupanya masih ada. Saya kira itu hal baik.
Seorang hakim tidak boleh berhenti membaca kehidupan, hanya karena setiap hari membaca berkas perkara. Hakim juga perlu mendengar suara di luar ruang pengadilan. Perlu berdiskusi. Perlu berani berhadapan dengan gagasan berbeda. Dan kalau saya melihat Arief hari ini, sisi itu rasanya masih saya kenali dari orang yang saya temui hampir tiga puluh tahun lalu.
Dari Jalan Menuju Mahkamah Agung
Kemudian suatu hari, saya membaca berita tentang seleksi calon hakim agung. Ada nama Syamsul Arief. Saya mengikuti kabarnya. Ketika kemudian namanya lolos dan akhirnya mendapat persetujuan untuk menjadi Hakim Agung, perasaan saya sederhana saja: Gembira dan bersyukur.
Pada 2 September 2026, Syamsul Arief resmi diambil sumpah dan dilantik menjadi Hakim Agung Kamar Pidana Mahkamah Agung Republik Indonesia, bersama hakim agung dan hakim ad hoc lainnya.
Buat sebagian orang itu mungkin sekadar berita tentang promosi jabatan. Bagi saya berbeda. Karena ketika membaca nama itu, yang muncul di kepala saya bukan pertama-tama gedung Mahkamah Agung. Yang muncul malah Bandar Lampung tahun 1990-an.
Saya melihat lagi mahasiswa kurus, kalau ingatan saya tidak salah, berdiri membawa poster. Saya seperti mendengar lagi suara demonstrasi. Saya teringat LBH Bandar Lampung. Saya teringat ruang-ruang diskusi. Saya teringat Jalan Diponegoro. Saya teringat Munir. Dan terutama saya teringat satu sore atau siang ketika seorang wartawan muda datang ke YLBHI dan mengatakan:
“Saya diterima jadi hakim.”
Siapa menyangka perjalanan itu akhirnya sampai ke kursi Hakim Agung? Hidup memang punya caranya sendiri.
Tetaplah Menjadi Arief yang Dulu
Saya tentu tidak tahu seluruh perjalanan Arief selama lebih dari dua puluh tahun menjadi hakim. Saya tidak mengikuti seluruh putusannya. Tidak melihat kesehariannya. Karena kami memang lama tidak lagi berada dalam satu lingkungan. Jadi, saya hanya bisa bicara tentang Arief yang saya kenal: tentang keberaniannya, tentang kegemarannya berdiskusi, tentang ketegasannya, tentang seorang anak muda yang tidak takut berdiri di depan ketika keadaan menuntut keberanian.
Dan dari apa yang sesekali saya lihat sekarang, watak dasarnya rasanya tidak banyak berubah. Dia masih senang berdiskusi. Masih berani mempertemukan gagasan. Masih bicara tegas. Itulah Arief yang dulu saya kenal.
Sekarang dia berada di tempat yang sangat berbeda. Di Mahkamah Agung, poster tentu sudah tidak dibawa lagi. Megafon sudah tidak ada. Yang ada sekarang adalah berkas perkara, argumentasi hukum, keyakinan hakim dan putusan yang menentukan hidup orang.
Tetapi, justru di tempat setinggi itulah keberanian menjadi jauh lebih penting. Keberanian seorang hakim tentu berbeda dengan keberanian mahasiswa di jalan.
Dulu mungkin keberanian berarti berdiri menghadapi aparat. Sekarang keberanian berarti tetap adil ketika tekanan datang. Berani mengatakan benar ketika benar. Berani mengatakan salah ketika salah. Berani menjaga hukum agar tidak tunduk kepada kekuasaan, uang, tekanan ataupun kepentingan. Karena pada akhirnya, toga juga bisa menjadi semacam poster. Putusan juga bisa menjadi suara. Dan ruang sidang juga bisa menjadi tempat memperjuangkan nilai yang dulu kami teriakkan di jalan.
Saya teringat kembali doa almarhum Cak Munir ketika Arief pamit dari YLBHI: Semoga menjadi orang yang berguna bagi negeri ini.
Hari ini Arief sudah sampai menjadi Hakim Agung. Sebuah posisi yang mungkin diimpikan banyak orang dalam dunia hukum. Tetapi buat saya, soal utamanya bukan sudah sampai seberapa tinggi. Justru pertanyaan terpentingnya adalah: setelah sampai di tempat setinggi itu, masih ingatkah kepada alasan kenapa dulu memilih berbicara tentang keadilan?
Saya berharap Arief masih ingat jalanan Bandar Lampung. Masih ingat ruang diskusi kecil di LBH. Masih ingat orang-orang yang dulu berani bicara ketika bicara punya risiko. Masih ingat Munir. Dan terutama tetap ingat dirinya sendiri.
Arief yang saya kenal dahulu. Smart. Tegas. Suka diskusi, dan pemberani.
Selamat menjalankan amanah, Kawan. Perjalananmu memang sudah jauh dari jalanan Lampung. Tapi, semoga keberanian yang dulu membawamu berdiri di barisan depan itu, tidak pernah pergi. Sebab negeri ini tidak kekurangan orang pintar. Yang selalu dibutuhkan adalah orang pintar yang tetap punya keberanian ketika keadilan memanggil.
Artikel Lain dalam Liputan Ini :
Untuk Mendapatkan Berita Terbaru Suara BSDK, Follow Channel WhatsApp: SUARABSDKMARI









