Close Menu
Suara BSDKSuara BSDK
  • Beranda
  • Artikel
  • Berita
  • Features
  • Sosok
  • Filsafat
  • Roman
  • Satire
  • Video
  • Liputan Khusus

Subscribe to Updates

Get the latest creative news from FooBar about art, design and business.

What's Hot

Menegaskan Batas Upaya Hukum atas Putusan Bebas: PT Kepulauan Riau Terapkan SEMA Nomor 4 Tahun 2026

September 7, 2026

Tekankan Peradilan yang Berkeadilan, Adaptif, dan Visioner dalam Transisi Hukum Pidana Nasional

September 7, 2026

Laporan Kegiatan Penyusunan Naskah Kebijakan Wajib Dilaporkan Secara Menyeluruh

September 7, 2026
Instagram YouTube
Suara BSDKSuara BSDK
Deskripsi Gambar
  • Beranda
  • Artikel
  • Berita
  • Features
  • Sosok
  • Filsafat
  • Roman
  • Satire
  • Video
  • Liputan Khusus
Suara BSDKSuara BSDK
Deskripsi Gambar
  • Beranda
  • Artikel
  • Berita
  • Features
  • Sosok
  • Filsafat
  • Roman
  • Satire
  • Video
  • Liputan Khusus
Home » Arief yang Saya Kenal: Dari Jalanan Lampung ke Kursi Hakim Agung

Arief yang Saya Kenal: Dari Jalanan Lampung ke Kursi Hakim Agung

Gianmoko ZuhdyGianmoko ZuhdySeptember 7, 20269 Mins ReadNo Comments
Foto Diskusi Hukum LBH Bandar Lampung tahun 1995 bersama Adnan Buyung Nasution dimoderatori oleh Gianmoko Zuhdy (sebelah kanan Adnan Buyung) dan diikuti oleh Syamsul Arief (sebelah kiri Adnan Buyung tanda lingkar merah)
Share
Facebook Twitter Threads Telegram WhatsApp

Saya kenal Syamsul Arief, bukan di ruang sidang. Bukan juga ketika dia sudah pakai toga hakim. Apalagi di gedung megah Mahkamah Agung. Saya kenal Syamsul Arief, justru di jalan.

Di tengah panasnya Bandar Lampung, suara mahasiswa yang berteriak, poster-poster yang diangkat tinggi, aparat yang berjaga, dan anak-anak muda yang waktu itu punya satu keberanian yang sama: keadaan negeri ini harus berubah.

Kalau ingatan saya tidak salah, sekitar 1996-an, kami sudah sering ketemu. Waktu itu gerakan mahasiswa di Lampung mulai bergeliat. Kami beda kampus. Jadi saya tidak kenal Arief sebagai teman satu kelas, satu organisasi kampus, atau teman nongkrong sehari-hari.

Kami ketemunya di jalan. Kadang dalam demonstrasi. Kadang di ruang diskusi mahasiswa. Kadang di LBH Bandar Lampung. Dan rupanya pertemuan-pertemuan seperti itulah yang membuat saya lama-lama tahu siapa orang ini.

Arief orangnya smart. Tegas. Berani. Dan satu lagi: dia suka diskusi. Kalau ada forum yang membicarakan hukum, demokrasi, HAM atau keadaan negeri, biasanya mukanya ada.

Pada masa itu, LBH Bandar Lampung menjadi salah satu tempat penting buat kami. Bukan sekadar kantor bantuan hukum. Buat anak-anak muda saat itu, tempat seperti LBH juga menjadi semacam sekolah. Sekolah tentang keberanian. Sekolah tentang ketidakadilan. Sekolah tentang bagaimana hukum seharusnya berdiri di sisi orang-orang yang lemah.

Saya sendiri pernah menjadi volunteer di LBH Bandar Lampung. Jadi, lumayan sering berada di sana. Dari situlah saya makin sering ketemu Arief. Saya masih ingat beberapa diskusi, yang menghadirkan orang-orang seperti: Adnan Buyung Nasution, Bambang Widjojanto, almarhum Munir, Dadang Trisasongko, dan beberapa tokoh lainnya.

Buat mahasiswa seperti kami waktu itu, nama-nama tersebut bukan nama kecil. Mereka datang membawa cerita tentang hukum, kekuasaan, hak asasi manusia dan demokrasi. Kami mendengarkan, bertanya, berdebat. Kadang diskusinya panas. Kadang selesai forum masih diteruskan sambil berdiri, sambil ngopi, atau ngobrol di sudut ruangan.

Arief suka suasana seperti itu. ,Makanya ketika sekarang saya melihat dia masih suka membuat atau menghadiri forum diskusi, saya sebenarnya tidak terlalu heran. Memang dari dulu begitu orangnya.

Orang yang Berdiri di Barisan Depan

Kalau orang sekarang melihat Syamsul Arief sebagai seorang hakim, pejabat Mahkamah Agung, doktor hukum, atau sekarang Hakim Agung, mungkin yang terlihat adalah perjalanan kariernya.

Saya punya gambar lain tentang dia. Saya ingat seorang mahasiswa membawa poster. Berdiri di barisan depan. Teriaknya keras. Malah kadang ngalah-ngalahin yang lain. Ha-ha-ha. Begitulah Arief yang saya kenal.

Waktu itu demonstrasi mahasiswa tentu tidak seperti sekarang. Situasinya berbeda. Orde Baru masih berdiri kuat. Aparat tidak selalu ramah ketika mahasiswa keluar kampus. Dan kami di Lampung, termasuk kelompok mahasiswa yang mulai berani membawa demonstrasi keluar kampus.

Risikonya besar. Saya ingat salah satu aksi ketika mahasiswa gabungan Lampung berencana berjalan kaki menuju kantor gubernur. Jaraknya bukan dekat. Puluhan kilometer. Aparat menghadang. Situasi kemudian kacau.

Bentrok pecah di depan Wisma Bandar Lampung. Banyak mahasiswa terluka. Ada yang ditangkap. Ada yang kemudian harus bermalam beberapa hari di markas polisi.

Saya sendiri selamat karena lari masuk ke rumah penduduk. Warga yang menyelamatkan saya dari kejaran aparat yang membawa kayu atau rotan panjang.

Sampai sekarang saya masih ingat suasananya. Kacau balau. Orang berlarian. Teriakan di mana-mana.

Saya tidak ingat persis apakah Arief termasuk yang ditangkap malam itu. Sudah terlalu lama. Dan saya tidak mau mengarang cerita yang saya sendiri tidak yakin.

Tapi satu yang saya ingat: dalam aksi-aksi seperti itu, Arief bukan tipe orang yang berdiri paling belakang. Dia berani. Kalau sudah turun ke jalan, ya turun. Kalau membawa poster, ya berdiri di depan. Karakter seperti itu susah dilupakan.

Tiba-Tiba Jadi Wartawan

Orde Baru akhirnya jatuh pada 1998. Pada akhir tahun itu, saya pindah ke Jakarta. Saya bergabung dengan YLBHI Pusat di Jalan Diponegoro, Jakarta Pusat. Suatu ketika saya kaget. Lho, ada Arief.

Baca Juga  Syamsul Arief : Mahasiswa Pertama yang Membela TEMPO Ketika Dibredel

Ternyata dia sudah jadi wartawan. Dunia memang kadang lucu. Orang-orang yang dulu ketemu di jalan, bisa tiba-tiba bertemu kembali ratusan kilometer dari tempat pertama kali saling kenal. Arief datang ke YLBHI bukan cuma untuk meliput.

Ini yang saya ingat betul. Kalau wartawan lain mungkin selesai wawancara kemudian pulang ke kantor, Arief kadang masih duduk. Ngobrol. Diskusi. Dia sering berdiskusi dengan almarhum Cak Munir dan beberapa pengurus YLBHI Pusat. Kadang saya ikut berada di situ.

Bagi saya, itu menunjukkan sesuatu yang memang sudah kelihatan sejak zaman mahasiswa. Rasa ingin tahunya besar. Dia tidak puas cuma mengetahui kulit persoalan. Mungkin itu pula sebabnya profesi wartawan cocok dengan dirinya waktu itu. Wartawan bertanya. Wartawan mencari. Wartawan harus skeptis terhadap jawaban yang terlalu gampang.Tetapi rupanya jalan hidup membawanya ke arah lain.

“Saya Diterima Jadi Hakim”

Saya lupa persis tahunnya. Mungkin 1999 atau 2000. Suatu hari Arief muncul lagi di YLBHI. Kali ini bukan untuk liputan. Dia datang untuk pamit. Ada saya, Cak Munir, dan beberapa pengurus YLBHI Pusat. Lalu Arief bilang kurang lebih begini: “Saya diterima jadi hakim.”

Kalimatnya sederhana. Tetapi saya masih ingat suasananya. Cak Munir langsung mengucapkan, “Syukur alhamdulillah.” Lalu mendoakan semoga Arief menjadi orang yang berguna bagi negeri ini. Saya tidak tahu apakah Arief sendiri masih ingat momen itu. Saya ingat. Dan setelah puluhan tahun berlalu, doa itu seperti menemukan jalannya sendiri.

Dari seorang mahasiswa yang saya kenal membawa poster di jalanan Lampung, kemudian menjadi wartawan yang mondar-mandir ke kantor YLBHI, Arief memilih masuk ke dunia peradilan.

Bagi sebagian orang mungkin terasa seperti berpindah dunia. Buat saya tidak sepenuhnya. Karena yang dibicarakan sejak dulu sebenarnya tetap sama: hukum, keadilan, negara dan manusia. Hanya tempat berdirinya yang berubah. Dulu di luar pagar. Sekarang di dalam sistem. Dulu berteriak lewat megafon. Sekarang berbicara melalui putusan. Dan justru di situlah tantangannya.

Lama Tidak Bertemu

Setelah Arief pamit menjadi hakim, kami praktis jarang sekali bertemu. Masing-masing sibuk dengan jalannya sendiri. Saya mendengar kabar tentang dia hanya sepotong-sepotong dari kawan. Katanya bertugas di daerah ini. Pindah ke daerah lain. Menduduki posisi tertentu.

Begitulah. Namanya kehidupan, orang-orang yang dulu hampir tiap minggu ketemu, bisa kemudian hilang bertahun-tahun.

Sekitar 2015-an, kami pernah tidak sengaja ketemu di Bandara Soekarno-Hatta. Pagi-pagi. Pertemuan singkat sekali. Mau ngobrol panjang juga tidak bisa karena sudah harus masuk pesawat. Akhirnya cuma sempat bertukar nomor HP. Setelah itu kembali sibuk dengan dunia masing-masing. Tetapi sesekali saya melihat Arief muncul di media sosial. Dan ada satu hal yang menarik perhatian saya. Orang ini ternyata masih suka diskusi.

Salah satu yang sempat ramai ketika dia mengundang Rocky Gerung dalam suatu forum diskusi. Respons publik cukup besar. Kawan-kawan lama yang dulu mengenalnya dari jalan juga banyak yang memperhatikan. Saya senyum sendiri. Dalam hati saya bilang: Arief masih Arief.

Jabatan boleh berubah. Baju boleh berubah. Ruang tempat berbicara boleh berubah. Tetapi kebiasaan mengajak orang berpikir dan berdebat rupanya masih ada. Saya kira itu hal baik.

Seorang hakim tidak boleh berhenti membaca kehidupan, hanya karena setiap hari membaca berkas perkara. Hakim juga perlu mendengar suara di luar ruang pengadilan. Perlu berdiskusi. Perlu berani berhadapan dengan gagasan berbeda. Dan kalau saya melihat Arief hari ini, sisi itu rasanya masih saya kenali dari orang yang saya temui hampir tiga puluh tahun lalu.

Dari Jalan Menuju Mahkamah Agung

Kemudian suatu hari, saya membaca berita tentang seleksi calon hakim agung. Ada nama Syamsul Arief. Saya mengikuti kabarnya. Ketika kemudian namanya lolos dan akhirnya mendapat persetujuan untuk menjadi Hakim Agung, perasaan saya sederhana saja: Gembira dan bersyukur.

Pada 2 September 2026, Syamsul Arief resmi diambil sumpah dan dilantik menjadi Hakim Agung Kamar Pidana Mahkamah Agung Republik Indonesia, bersama hakim agung dan hakim ad hoc lainnya.

Baca Juga  Arief Botak : Dulu Memimpin Puluhan Ribu Dengan TOA, Kini Satu Palu di Tangan

Buat sebagian orang itu mungkin sekadar berita tentang promosi jabatan. Bagi saya berbeda. Karena ketika membaca nama itu, yang muncul di kepala saya bukan pertama-tama gedung Mahkamah Agung. Yang muncul malah Bandar Lampung tahun 1990-an.

Saya melihat lagi mahasiswa kurus, kalau ingatan saya tidak salah, berdiri membawa poster. Saya seperti mendengar lagi suara demonstrasi. Saya teringat LBH Bandar Lampung. Saya teringat ruang-ruang diskusi. Saya teringat Jalan Diponegoro. Saya teringat Munir. Dan terutama saya teringat satu sore atau siang ketika seorang wartawan muda datang ke YLBHI dan mengatakan:

“Saya diterima jadi hakim.”

Siapa menyangka perjalanan itu akhirnya sampai ke kursi Hakim Agung? Hidup memang punya caranya sendiri.

Tetaplah Menjadi Arief yang Dulu

Saya tentu tidak tahu seluruh perjalanan Arief selama lebih dari dua puluh tahun menjadi hakim. Saya tidak mengikuti seluruh putusannya. Tidak melihat kesehariannya. Karena kami memang lama tidak lagi berada dalam satu lingkungan. Jadi, saya hanya bisa bicara tentang Arief yang saya kenal: tentang keberaniannya,  tentang kegemarannya berdiskusi, tentang ketegasannya, tentang seorang anak muda yang tidak takut berdiri di depan ketika keadaan menuntut keberanian.

Dan dari apa yang sesekali saya lihat sekarang, watak dasarnya rasanya tidak banyak berubah. Dia masih senang berdiskusi. Masih berani mempertemukan gagasan. Masih bicara tegas. Itulah Arief yang dulu saya kenal.

Sekarang dia berada di tempat yang sangat berbeda. Di Mahkamah Agung, poster tentu sudah tidak dibawa lagi. Megafon sudah tidak ada. Yang ada sekarang adalah berkas perkara, argumentasi hukum, keyakinan hakim dan putusan yang menentukan hidup orang.

Tetapi, justru di tempat setinggi itulah keberanian menjadi jauh lebih penting. Keberanian seorang hakim tentu berbeda dengan keberanian mahasiswa di jalan.

Dulu mungkin keberanian berarti berdiri menghadapi aparat. Sekarang keberanian berarti tetap adil ketika tekanan datang. Berani mengatakan benar ketika benar. Berani mengatakan salah ketika salah. Berani menjaga hukum agar tidak tunduk kepada kekuasaan, uang, tekanan ataupun kepentingan. Karena pada akhirnya, toga juga bisa menjadi semacam poster. Putusan juga bisa menjadi suara. Dan ruang sidang juga bisa menjadi tempat memperjuangkan nilai yang dulu kami teriakkan di jalan.

Saya teringat kembali doa almarhum Cak Munir ketika Arief pamit dari YLBHI: Semoga menjadi orang yang berguna bagi negeri ini.

Hari ini Arief sudah sampai menjadi Hakim Agung. Sebuah posisi yang mungkin diimpikan banyak orang dalam dunia hukum. Tetapi buat saya, soal utamanya bukan sudah sampai seberapa tinggi. Justru pertanyaan terpentingnya adalah: setelah sampai di tempat setinggi itu, masih ingatkah kepada alasan kenapa dulu memilih berbicara tentang keadilan?

Saya berharap Arief masih ingat jalanan Bandar Lampung. Masih ingat ruang diskusi kecil di LBH. Masih ingat orang-orang yang dulu berani bicara ketika bicara punya risiko. Masih ingat Munir. Dan terutama tetap ingat dirinya sendiri.

Arief yang saya kenal dahulu. Smart. Tegas. Suka diskusi, dan pemberani.

Selamat menjalankan amanah, Kawan. Perjalananmu memang sudah jauh dari jalanan Lampung. Tapi, semoga keberanian yang dulu membawamu berdiri di barisan depan itu, tidak pernah pergi. Sebab negeri ini tidak kekurangan orang pintar. Yang selalu dibutuhkan adalah orang pintar yang tetap punya keberanian ketika keadilan memanggil.

Artikel Lain dalam Liputan Ini :

  • Aktivisme Intelektual di Jantung Pendidikan Hakim

    Aktivisme Intelektual di Jantung Pendidikan Hakim

  • “Datang dari Langit Mana Anak Ini?” Kesaksian Zaid Burhan Ibrahim tentang Syamsul Arief

    “Datang dari Langit Mana Anak Ini?” Kesaksian Zaid Burhan Ibrahim tentang Syamsul Arief

  • Jejak Aktivis Syamsul Arief dalam Ingatan Sahabat

    Jejak Aktivis Syamsul Arief dalam Ingatan Sahabat

  • Perjalanan Sunyi Syamsul Arief Menjadi Hakim Agung

    Perjalanan Sunyi Syamsul Arief Menjadi Hakim Agung

  • Arief yang Saya Kenal: Dari Jalanan Lampung ke Kursi Hakim Agung

    Arief yang Saya Kenal: Dari Jalanan Lampung ke Kursi Hakim Agung

  • Syamsul Arief : Mahasiswa Pertama yang Membela TEMPO Ketika Dibredel

    Syamsul Arief : Mahasiswa Pertama yang Membela TEMPO Ketika Dibredel

  • Arief Botak : Dulu Memimpin Puluhan Ribu Dengan TOA, Kini Satu Palu di Tangan

    Arief Botak : Dulu Memimpin Puluhan Ribu Dengan TOA, Kini Satu Palu di Tangan

Gianmoko Zuhdy
Kontributor
Gianmoko Zuhdy
Aktivis HAM dan Aliansi Sipil

Untuk Mendapatkan Berita Terbaru Suara BSDK, Follow Channel WhatsApp: SUARABSDKMARI

Jejak Syamsul Arief Menuju Hakim Agung
Share. Facebook Twitter Threads Telegram WhatsApp Copy Link
Demo
Top Posts

Resensi Game: Final Fantasy VII

September 7, 2026

Menanam Nilai, Menjaga Masa Depan

September 1, 2026

Sayap Patah dan Keadilan Yang Tersisa Bagi Elang

August 15, 2026

Secangkir Cocopresso dari Seorang Yang Mulia

August 15, 2026
Don't Miss

Menegaskan Batas Upaya Hukum atas Putusan Bebas: PT Kepulauan Riau Terapkan SEMA Nomor 4 Tahun 2026

By ZulfahmiSeptember 7, 20260

TANJUNGPINANG, 7 September 2026 — Pengadilan Tinggi Kepulauan Riau melalui Putusan Nomor 11/PID.SUS-TPK/2026/PT TPG menyatakan…

Tekankan Peradilan yang Berkeadilan, Adaptif, dan Visioner dalam Transisi Hukum Pidana Nasional

September 7, 2026

Laporan Kegiatan Penyusunan Naskah Kebijakan Wajib Dilaporkan Secara Menyeluruh

September 7, 2026

Resensi Game: Final Fantasy VII

September 7, 2026
Stay In Touch
  • YouTube
  • TikTok
  • WhatsApp
  • Twitter
  • Instagram
Top Trending
Demo

Recent Posts

  • Menegaskan Batas Upaya Hukum atas Putusan Bebas: PT Kepulauan Riau Terapkan SEMA Nomor 4 Tahun 2026
  • Tekankan Peradilan yang Berkeadilan, Adaptif, dan Visioner dalam Transisi Hukum Pidana Nasional
  • Laporan Kegiatan Penyusunan Naskah Kebijakan Wajib Dilaporkan Secara Menyeluruh
  • Resensi Game: Final Fantasy VII
  • Cermin di Balik Layar Kaca: Filosofi Gawai, Kepribadian, dan Manajemen Peradilan Modern

Recent Comments

  1. Burhan on Dari Prajurit Hukum ke Mahkamah Agung: Letkol Chk Sudiyo Pesan ‘Menulis dan Menulislah’
  2. Vanimut on Ketua PTA Kepri Buka Pendampingan Monev KIP Tahun 2026
  3. Ekasari on BSDK MA Run 2026: 10 Kilometer Pelari CADAS, Berlari Bersama Menjaga Semangat Pengabdian dan Integritas
  4. Abdul Hafid PP PA Sleman on Alumni Bersuara dari PA Sleman : Diklat Panitera Pengganti Harus Update, Merata, dan Berbasis Praktik
  5. kumalasari on Di Mana Negara Menempatkan, Di Sana Pengabdian Dijalankan: Kisah PNS Non-Homebase Menemukan Arti Ketulusan di Tanah yang Jauh dari Rumah
Hubungi Kami

Badan Strategi Kebijakan dan Pendidikan dan Pelatihan Hukum dan Peradilan Hukum dan Peradilan
Mahkamah Agung RI

Kantor: Jl. Cikopo Selatan Desa Sukamaju, Kec. Megamendung
Bogor, Jawa Barat 16770

Kirimkan reportase berita, opini, features dan artikel lainnya ke email suarabsdk.com : 
redpelsuarabsdk@gmail.com

Telepon: (0251) 8249520, 8249522, 8249531, 8249539

Kategori
Beranda Artikel Berita Features Sosok KRITERIA TULISAN
Filsafat Roman Satire Video BALACADAS
Connect With Us
  • Instagram
  • YouTube
  • WhatsApp
Aplikasi Internal
Logo 1 Logo 2 Logo 3 Logo 3 Logo 5
Logo 4 Logo 4 Logo 4 Logo 5 Logo 5 Logo 5
Kontributor
  • Avatar photo Ahmad Junaedi
  • Avatar photo Mohammad Khairul Muqorobin
  • Avatar photo Irvan Mawardi
  • Avatar photo Aman
  • Avatar photo Cecep Mustafa
  • Avatar photo Khoiruddin Hasibuan
  • Avatar photo Muamar Azmar Mahmud Farig
  • Avatar photo Ari Gunawan
  • Avatar photo Syailendra Anantya Prawira
  • Avatar photo Yudhistira Ary Prabowo
  • Avatar photo Muhammad Rizqi Hengki
  • Avatar photo Ghesa Agnanto Hutomo
  • Avatar photo Agus Digdo Nugroho
  • Avatar photo Muhammad Adiguna Bimasakti
  • Avatar photo Timbul Bonardo Siahaan
  • Avatar photo Dahlan Suherlan
  • Avatar photo Syamsul Arief
  • Avatar photo Jatmiko Wirawan
  • Avatar photo Taufikurrahman
  • Avatar photo Cik Basir
  • Avatar photo Johanes
  • Avatar photo Maria Fransiska Walintukan
  • Avatar photo Zulfahmi
  • Avatar photo Syihabuddin
  • Avatar photo Unggul Senoaji
  • Avatar photo M. Natsir Asnawi
  • Avatar photo Adji Prakoso
  • Avatar photo Anton Ahmad Sogiri
  • Avatar photo Yoshito Siburian
  • Avatar photo Abdi Munawar Daeng Mangagang
  • Avatar photo Iqbal Lazuardi
  • Avatar photo Galang Adhe Sukma
  • Avatar photo Anisa Yustikaningtiyas
  • Avatar photo Harun Maulana
  • Avatar photo I Gusti Lanang Ngurah Sidemen Putra
  • Avatar photo Muhammad Hanif Ramadhan
  • Avatar photo Ahmad Syahrus Sikti
  • Avatar photo Eliyas Eko Setyo
  • Avatar photo Firzi Ramadhan
  • Avatar photo Jarkasih
  • Avatar photo Sriti Hesti Astiti
  • Avatar photo Sudiyo
  • Avatar photo Binsar Parlindungan Tampubolon
  • Avatar photo Garin Purna Sanjaya
  • Avatar photo Layla Windy Puspita Sari
  • Avatar photo Marulam J Sembiring
  • Avatar photo Tri Indroyono
  • Avatar photo Letkol Chk Agustono, S.H., M.H.
  • Avatar photo Ardiansyah Iksaniyah Putra
  • Avatar photo Febby Fajrurrahman
  • Avatar photo Ganjar Prima Anggara
  • Avatar photo Irene Cristna Silalahi
  • Avatar photo Marsudin Nainggolan
  • Avatar photo Maulana Aulia
  • Avatar photo Riki Perdana Raya Waruwu
  • Avatar photo Dr. Syofyan Iskandar, S.H., M.H.
  • Avatar photo Afifah Dwiandini
  • Avatar photo Itsnaatul Lathifah
  • Avatar photo Khoiriyah Roihan
  • Avatar photo Redaktur SuaraBSDK
  • Avatar photo Yasin Prasetia
  • Avatar photo Muhamad Zaky Albana
  • Avatar photo Audrey Kartika Putri
  • Avatar photo Bintoro Wisnu Prasojo, S.H.
  • Avatar photo Buang Yusuf
  • Avatar photo Fitriyel Hanif
  • Avatar photo Henri Setiawan
  • Avatar photo Irwan Rosady
  • Avatar photo K.G. Raegen
  • Avatar photo Rafi Muhammad Ave
  • Avatar photo Rangga Lukita Desnata
  • Avatar photo Rikatama Budiyantie
  • Avatar photo Siti Nadhiroh
  • Avatar photo Teguh Setiyawan
  • Avatar photo Abdul Azis Ali Ramdlani
  • Avatar photo Achmad Fikri Oslami
  • Avatar photo Ahmad Fuad Noor Ghufron
  • Avatar photo Achmad Nurul Huda
  • Avatar photo Anggi Permana
  • Avatar photo Ang Rijal Amin
  • Avatar photo Cok Istri Bhagawanthi Pemayun
  • Avatar photo Dedi Putra
  • Avatar photo Dewi Maharati
  • Avatar photo Gerry Michael Purba
  • Avatar photo Herjuna Praba Wiesesa
  • Avatar photo Hermanto
  • Avatar photo Indarka PP
  • Avatar photo Muhamad Fadillah
  • Avatar photo Nugraha Medica Prakasa
  • Avatar photo Ria Marsella
  • Avatar photo Sahram
  • Avatar photo Saut Erwin Hartono A. Munthe
  • Avatar photo Silveria Supanti
  • Avatar photo Sugiarto
  • Avatar photo Yusuf Sodhiqin
  • Avatar photo Achmad Pratomo
  • Avatar photo Ahmad Faiz Shobir Alfikri
  • Avatar photo Andro Riski Pradipta
  • Avatar photo Arie Fitriansyah
  • Avatar photo Bismo Jiwo Agung
  • Avatar photo Epri Wahyudi
  • Avatar photo Fajar Widodo
  • Avatar photo Fariz Prasetyo Aji
  • Avatar photo Fauzan Arrasyid
  • Avatar photo Fauzia Rohmah
  • Avatar photo Febry Indra Gunawan Sitorus
  • Avatar photo Ferdian Permadi
  • Avatar photo Gerry Geovant Supranata Kaban
  • Avatar photo Mardi Candra
  • Avatar photo Muhammad Irfan Syahputra
  • Avatar photo Muhammad Amin Putra
  • Avatar photo Niko Wijaya
  • Avatar photo Putra Nova A.S
  • Avatar photo Rizal Arif Fitria
  • Avatar photo Sadana
  • Avatar photo Trisoko Sugeng Sulistyo
  • Avatar photo Umar Dani
  • Avatar photo Abdul Hadi
  • Avatar photo Abiandri Fikri Akbar
  • Avatar photo Abi Zaky Azizi
  • Avatar photo Dr. H. Achmad Setyo Pudjoharsoyo., SH., M.Hum
  • Avatar photo Adimas Leo Firmansah
  • Avatar photo Agenda Citra Muhammad
  • Avatar photo Andi Akram
  • Avatar photo Arsyawal
  • Avatar photo Aulia Rochmani Lazuardi
  • Avatar photo Bagus Partha Wijaya
  • Avatar photo Bagus Sujatmiko
  • Avatar photo Bayu Akbar Wicaksono
  • Avatar photo Chandra Khoirunnas
  • Avatar photo Cuhandi
  • Avatar photo David Pasaribu
  • Avatar photo Dendi Sutiyoso
  • Avatar photo Dhea Sutaryana
  • Avatar photo Edi Hudiata
  • Avatar photo Enrico Simanjuntak
  • Avatar photo Fauzan Prasetya
  • Avatar photo Fauziah Rahmah
  • Avatar photo Fery Rochmad Ramadhan
  • Avatar photo Hartanto Ariesyandi
  • Avatar photo Idik Saeful Bahri
  • Avatar photo Karell Mawla Ibnu Kamali
  • Avatar photo Khalilurrahman
  • Avatar photo Khoirul Anwar
  • Avatar photo Mentari Wahyudihati
  • Avatar photo Muhamad Ridwan
  • Avatar photo Muhamad Iqbal
  • Avatar photo Nia Chasanah
  • Avatar photo Novritsar Hasintongan Pakpahan
  • Avatar photo Nugraha Wisnu Wijaya
  • Avatar photo Raden Anggara Kurniawan
  • Avatar photo Raden Heru Wibowo Sukaten
  • Avatar photo Rahimulhuda Rizki Alwi
  • Avatar photo Rahmad Ramadhan Hasibuan
  • Avatar photo Ranggi Adiwangsa Yusron
  • Avatar photo Muhammad Rijaldy Alwy
  • Avatar photo Rohim
  • Avatar photo Samsul Zakaria
  • Avatar photo Satria Perdana
  • Avatar photo Tri Cahya Indra Permana
  • Avatar photo Wahyu Budi Santoso
  • Avatar photo Wilmar Ibni Rusydan
  • Avatar photo Yudhi Reksa Perdana
  • Avatar photo Abdul Ghani
  • Avatar photo Ach. Jufri
  • Avatar photo Afif Muchshon
  • Avatar photo Agus Suharsono
  • Avatar photo Ahmad Efendi
  • Avatar photo Ahmad Hodri
  • Avatar photo Ahmad Rizza Habibi
  • Avatar photo Aidil Akbar
  • Avatar photo Alep Priyoambodo
  • Avatar photo Alfajar Nugraha
  • Avatar photo Anderson Peruzzi Simanjuntak
  • Avatar photo Andhika Prayoga
  • Avatar photo Andi Muhammad Galib
  • Avatar photo Andi Aswandi Tashar
  • Avatar photo Andrie Gunawan
  • Avatar photo Anna Yulina
  • Avatar photo Annisa Nur Alam
  • Avatar photo Arga Febrian
  • Avatar photo Arief Sapto Nugroho
  • Avatar photo Mayor Chk Arif Dwi Prasetyo
  • Avatar photo Armansyah
  • Avatar photo Aryaniek Andayani
  • Avatar photo Ashhab Triono
  • Avatar photo Bella Puspitawati
  • Avatar photo Bilma Diffika
  • Avatar photo Bony Daniel
  • Avatar photo Budi Hermanto
  • Avatar photo Budi Suhariyanto
  • Avatar photo Chandra
  • Avatar photo Christopher Hutapea
  • Avatar photo Daniel H. Napitupulu
  • Dedi Wigandi
  • Avatar photo Deka Rachman Budihanto
  • Avatar photo Eddy Sembiring
  • Avatar photo Effendi Mukhtar
  • Avatar photo Egia Rasido Tarigan
  • Avatar photo Eka Sentausa
  • Avatar photo Enos Syahputra Sipahutar, S.H., M.H.
  • Avatar photo Dr. Fahmiron
  • Avatar photo Fahri Bachmid
  • Avatar photo Fahri Gunawan Siagian
  • Avatar photo Fahri Soleh
  • Avatar photo Fakhir Tashin Baaj
  • Avatar photo Fatkul Mujib, S.H.I., M.H.
  • Avatar photo Dr. Fauziati, S.Ag., M.Ag
  • Avatar photo Febriansyah Rozarius
  • Avatar photo Friska Ariesta Aritedi
  • Avatar photo Gineng Pratidina
  • Avatar photo Peltu Hartono
  • Avatar photo Hastuti
  • Avatar photo Hendro Yatmoko
  • Avatar photo Ibnu Abas Ali
  • Avatar photo I Made Sukadana
  • Indra Tua Hasangapon Harahap
  • Avatar photo Ira Soniawati
  • Avatar photo Irfan Dibar
  • Avatar photo Muhammad Irfansyah
  • Avatar photo Letkol Kum Irwan Tasri, S.H., M.H., M.Han.
  • Avatar photo Iwan Lamganda Manalu
  • Avatar photo Jerymia Seky Tanaem
  • Avatar photo Jusran Ipandi
  • Avatar photo Khaimi
  • Avatar photo Khoerul Umam
  • Avatar photo Linora Rohayu
  • Avatar photo Made Passek Reza Swandira
  • Avatar photo Marta Satria Putra
  • Avatar photo Marwan Ibrahim Piinga
  • Avatar photo Marwanto
  • Avatar photo Marzha Tweedo Dikky Paraanugrah
  • Avatar photo Maulia Martwenty Ine
  • Avatar photo Mira Maulidar
  • Avatar photo Misbah S.T., M.Eng.
  • Avatar photo Misbahul Anwar
  • Avatar photo Muhamad Ilham Azizul Haq
  • Avatar photo Muhamad Saptari
  • Avatar photo Muhammad Fadllullah
  • Avatar photo Muhammad Muhyi Arrasyid, S.Psi.
  • Avatar photo Muhammad Bagus Tri Prasetyo
  • Avatar photo Muhammad Yusuf
  • Avatar photo Muhammad Zuchri Nasuha Lubis
  • Avatar photo Murdian
  • Avatar photo Nadia Yurisa Adila
  • Avatar photo Nisrina Irbah Sati
  • Avatar photo Letkol CHK Nur Sakdi, S.H, M.H.
  • Avatar photo Nur Latifah Hanum
  • Avatar photo Pandu Pradana Wicaksono, S.H.
  • Avatar photo Pita Permatasari
  • Avatar photo H .A.S Pudjoharsoyo
  • Avatar photo Putri Pebrianti
  • Avatar photo R. Deddy Harryanto
  • Avatar photo Radityo Muhammad Harseno
  • Avatar photo Rahmi Fattah
  • Avatar photo Randy Viyatadhika
  • Avatar photo Ratih Gumilang
  • Avatar photo Reindra Jasper H. Sinaga, S.H. Hakim Pengadilan Negeri Tanjung Balai Karimun
  • Avatar photo Muh Ridha Hakim
  • Avatar photo Rifqi Qowiyul Iman
  • Avatar photo Rizal Abdurrahman
  • Avatar photo Romi Hardhika
  • Avatar photo Sandro Imanuel Sijabat
  • Avatar photo Sbong Sinarok Martin, S.H., M.H.
  • Avatar photo Selexta Apriliani
  • Avatar photo Septia Putri Riko
  • Avatar photo Septriono Situmorang
  • Avatar photo Siti Anis
  • Avatar photo Slamet Turhamun
  • Avatar photo Sobandi
  • Avatar photo Stefanus Dwi Putra Medisa
  • Avatar photo Subiyatno
  • Avatar photo Teddy Lahati
  • Avatar photo Tri Baginda Kaisar Abdul Gafur
  • Avatar photo Urif Syarifudin
  • Avatar photo Wanda Rara Farezha,S.H.
  • Avatar photo Wienda Kresnantyo
  • Avatar photo Willsa Suharyadi
  • Avatar photo Yoshelsa Wardhana
  • Avatar photo Yukiatiqa Afifah
  • Avatar photo Marsekal Muda TNI Dr. Yuwono Agung Nugroho, S.H., M.H.
  • Avatar photo Zidny Taqiyya
Lihat semua kontributor →

Type above and press Enter to search. Press Esc to cancel.