Close Menu
Suara BSDKSuara BSDK
  • Beranda
  • Artikel
  • Berita
  • Features
  • Sosok
  • Filsafat
  • Roman
  • Satire
  • Video
  • Liputan Khusus

Subscribe to Updates

Get the latest creative news from FooBar about art, design and business.

What's Hot

Menegaskan Batas Upaya Hukum atas Putusan Bebas: PT Kepulauan Riau Terapkan SEMA Nomor 4 Tahun 2026

September 7, 2026

Tekankan Peradilan yang Berkeadilan, Adaptif, dan Visioner dalam Transisi Hukum Pidana Nasional

September 7, 2026

Laporan Kegiatan Penyusunan Naskah Kebijakan Wajib Dilaporkan Secara Menyeluruh

September 7, 2026
Instagram YouTube
Suara BSDKSuara BSDK
Deskripsi Gambar
  • Beranda
  • Artikel
  • Berita
  • Features
  • Sosok
  • Filsafat
  • Roman
  • Satire
  • Video
  • Liputan Khusus
Suara BSDKSuara BSDK
Deskripsi Gambar
  • Beranda
  • Artikel
  • Berita
  • Features
  • Sosok
  • Filsafat
  • Roman
  • Satire
  • Video
  • Liputan Khusus
Home » Arief Botak : Dulu Memimpin Puluhan Ribu Dengan TOA, Kini Satu Palu di Tangan

Arief Botak : Dulu Memimpin Puluhan Ribu Dengan TOA, Kini Satu Palu di Tangan

Penta PeturunPenta PeturunSeptember 7, 202611 Mins ReadNo Comments
Foto Syamsul Arief (sebelah kiri Adnan Buyung berbaju biru) sedang berdiskusi dengan Adnan Buyung Nasution di kantor LBH Bandar Lampung lantai 2, jalan Hayam Wuruk, Tanjung Karang, sekitar Desember 1995
Share
Facebook Twitter Threads Telegram WhatsApp

Dari rumah sederhana di Jalan Tamin, Lebak Budi, Tanjungkarang, menuju Mahkamah Agung. Ia bukan darah biru. Dalam ingatan saya, Syamsul Arief adalah darah juang.

Ada orang yang baru kita kenal, ketika namanya sudah dicetak besar di surat kabar, terpampang di papan jabatan, atau didahului sederet gelar. Ada pula orang yang kita kenal, ketika dunia bahkan belum punya alasan untuk mengingat namanya.

Syamsul Arief bagi saya adalah jenis yang kedua.

Hari ini negara mengenalnya sebagai Dr. H. Syamsul Arief, S.H., M.H. Pada 2 September 2026, dalam usia 50 tahun, ia diambil sumpah dan dilantik sebagai Hakim Agung Republik Indonesia, Kamar Pidana. Ia merupakan satu dari 11 Hakim Agung yang dilantik bersama 3 Hakim Ad Hoc. Seusai pelantikan itu, Mahkamah Agung tercatat memiliki 57 Hakim Agung dan 12 Hakim Ad Hoc.

Negara suka angka. Sejarah juga memerlukan angka. Tetapi persahabatan punya statistiknya sendiri.

Bagi saya, jauh sebelum gelar, jabatan, toga, gedung tinggi dan segala protokol kekuasaan itu datang, namanya lebih pendek: Arief. Bahkan sampai sekarang, di telepon genggam saya, namanya masih tersimpan sedikit kurang ajar: ARIEF BOTAK.

Begitulah persahabatan. Republik boleh berkali-kali mengganti profesi dan jabatannya; mahasiswa, aktivis, jurnalis, sempat menjalani kerja pengacaraan, hakim, wakil ketua, ketua pengadilan, kepala pusat pendidikan hakim, Kepala Badan Strategi Kebijakan dan Pendidikan dan Pelatihan Hukum dan Peradilan Mahkamah Agung, sampai akhirnya Hakim Agung. Telepon saya tetap tertulis ARIEF BOTAK.

1994: Khalil Gibran dan Seorang Anak Baru

Saya pertama kali sungguh-sungguh memperhatikan Arief sekitar 1994. Tempatnya di Gedung Pramuka Lampung, Rajabasa, Bandar Lampung. Waktu itu berlangsung screening calon peserta Latihan Kader I Himpunan Mahasiswa Islam (LK-I HMI).

Bagi orang yang pernah hidup dalam tradisi perkaderan HMI masa itu, screening bukan wawancara formal untuk mengisi formulir. Orang ditanya agamanya, organisasi, kebangsaan, motivasi, keberanian, cara berpikir, dan sering kali jauh lebih jujur, daripada seluruh jawaban lainnya dari buku apa yang dibacanya.

Arief masih mahasiswa baru. Almarhum Bambang Ekalaya menjadi senior yang mewawancarainya. Saya ikut mendampingi. Entah bagaimana percakapan sampai kepada buku. Kemudian anak muda di depan kami menyebut: Khalil Gibran. Saya dan Bambang saling pandang. Anak yang baru tamat SMA sudah melahap Gibran.

Sekarang mungkin terdengar biasa. Tetapi itu 1994. Belum ada Google yang dapat dipanggil tiga detik setelah rasa penasaran datang. Belum ada ribuan buku digital di dalam satu telepon. Buku harus dicari, dibeli, dipinjam, lalu benar-benar dibaca.

Saya dan Bambang berbisik: “Jadi orang anak ini.”

Kami tidak sedang meramal. Tak ada di kepala kami bahwa 32 tahun kemudian, anak muda plontos itu akan menjadi Hakim Agung Republik Indonesia.

Tetapi, ada sesuatu yang sejak awal menarik perhatian saya. Bukan cuma bacaannya. Namun, sorot matanya.

Sorot mata yang saya tafsirkan sebagai mata yang “melawan”. Bukan melawan supaya terlihat gagah. Melainkan mata seseorang yang sulit menerima jawaban, hanya karena orang yang memberikan jawaban itu lebih tua, lebih senior, lebih berpangkat atau lebih terkenal.

Ia selalu membutuhkan satu jawaban lagi: Mengapa? Dan bila belum masuk akal, ia bertanya lagi. Barangkali di situlah segala kerepotan dimulai.

Mengapa Botak?

Pada masa mahasiswa, Arief sangat sering tampil dengan kepala plontos. Bersih. Nyaris tak menyisakan rambut. Maka jadilah: Arief Botak.

Lucunya, lebih dari tiga dekade berselang, saya belum pernah benar-benar bertanya:

“Rief, sebenarnya kenapa dulu loe botak?”

Mungkin jawabannya akan menghancurkan seluruh filsafat saya.

Barangkali ia cuma akan menjawab: “Panas.” Atau: “Biar gampang.”

Kalau begitu tamatlah teori besar saya mengenai kepala Syamsul Arief.

Tetapi, karena belum pernah saya tanyakan, saya mempunyai tafsir sendiri. Dalam tradisi monastik Buddhisme, para bhikkhu dan bhikkhuni mencukur rambut antara lain sebagai lambang pelepasan keterikatan duniawi, penurunan ego, kesederhanaan dan disiplin spiritual.

Saya tidak mengatakan itulah alasan Arief membotaki kepalanya. Itu tafsir saya. Tetapi waktu itu saya memang melihat semacam totalitas dalam dirinya. Seolah-olah yang hendak dibuang bukan hanya rambut. Melainkan rasa takut. Kepatuhan buta. Rasa segan yang berlebihan kepada otoritas. Keinginan menyenangkan semua orang.

Kepalanya bersih dari rambut. Pikirannya justru penuh pertanyaan. Dan kalau idealismenya terganggu, keluarlah tabiat yang kami kenal betul: ngeyel.

Ngeyel sebagai Kemewahan Intelektual. Saya harus memberi penjelasan kepada kata ngeyel itu. Bukan keras kepala karena kurang membaca. Arief justru ngeyel karena membaca dan ingin memahami. Senior didebat. Dosen ditanya. Aktivis yang lebih tua diuji argumentasinya.

Pejabat bukan alasan untuk kehilangan suara. Kadang saya malah rada takut kalau Arief sudah bergerak. Bukan takut kepadanya. Saya khawatir pada tingkat kenekatannya. Sebab kita sedang berbicara tentang 1994, 1995, 1996, 1997, hingga awal 1998. Itu bukan Orde Baru yang sudah menjadi bab pelajaran sejarah. Itu Orde Baru yang masih hidup. Kampus diawasi. Aktivitas politik dicurigai. Demonstrasi tidak dilakukan agar viral. Tidak ada TikTok. Tidak ada Instagram Live. Yang dibawa orang ke jalan adalah tubuhnya sendiri, dan tubuh itu pula yang menanggung akibat apabila negara tidak menyukai apa yang diteriakkannya.

Baca Juga  Jejak Aktivis Syamsul Arief dalam Ingatan Sahabat

Saya beberapa kali melihat keberanian Arief melampaui kalkulasi keamanan dirinya. Belakangan saya menyadari: barangkali ia takut seperti manusia lain. Hanya saja ia mempunyai tabiat buruk yang sangat berguna bagi sejarah: meskipun takut, ia tetap maju.

Rumah di Jalan Tamin, Lebak Budi

Kalau ingin sedikit memahami manusia, lihatlah rumah tempat ia pertama kali belajar menjadi manusia. Pada masa mahasiswa, beberapa kali saya datang ke rumah Arief di Jalan Tamin, kawasan Lebak Budi, Tanjungkarang, Bandar Lampung, sekitar depan Jalan Balai Desa.

Saya masih mengingat rumah itu. Bangunan lama.

Dalam ingatan saya, karakter bangunannya seperti rumah dari sekitar era 1960-an. Tidak ada kemewahan yang hendak dipertontonkan.

Rumah sederhana. Tetapi hangat. Ada kekeluargaan. Ada disiplin. Ada adab. Dan ada religiusitas.

Rumah itu mengajarkan kepada saya sesuatu yang kelak semakin saya yakini: kesederhanaan benda tidak berarti kemiskinan nilai.

Anak mengenal keadilan, jauh sebelum membaca undang-undang. Ia belajar dari bagaimana ayah dan ibunya memperlakukan anak-anak. Anak mengenal disiplin, sebelum mengenal teori manajemen. Ia melihat bagaimana orang tuanya bangun, bekerja dan bertanggung jawab. Anak mengenal Tuhan, sebelum mampu membuat uraian teologis. Ia melihat bagaimana orang-orang di rumahnya berdoa dan menjaga adab. Itulah tanah tempat Arief tumbuh.

Ia bukan anak keluarga yang saya kenal mempunyai dinasti kekuasaan. Tidak ada silsilah hakim yang menyediakan pintu samping menuju Mahkamah Agung. Tidak ada warisan jabatan. Tidak ada karpet merah. Karena itulah saya mempunyai istilah sendiri: SYAMSUL ARIEF BUKAN DARAH BIRU. IA DARAH JUANG. Darah biru dibawa seseorang ketika lahir. Darah juang dibentuk benturan kehidupan.

Dari Kampus, Gerakan Turun ke Jalan

Setelah menjadi kader HMI, kami semakin sering bertemu dalam lingkaran-lingkaran diskusi, anehnya diluar lingkaran HMI bahkan.

Arief menulis. Membaca. Berdebat. Namun pada suatu titik, kami jenuh. Kampus terlalu kecil untuk kegelisahan zaman itu. Dari Universitas Lampung, pergaulan gerakan meluas ke UBL, IAIN Raden Intan, A2L, STIAL, dan berbagai simpul mahasiswa lainnya.

Lalu teori bertemu perkara nyata. Petani. Tanah. Penggusuran. Kemiskinan. Represi. Hubungan modal dan kekuasaan. Hukum yang tadinya tinggal dalam kitab mulai memiliki wajah manusia.

Universitas Kedua Bernama Rakyat

Tahun 1995, Arief kemudian semakin sering bersentuhan dengan aktivitas diskusi dan pendampingan di lingkungan LBH Bandar Lampung, yang pada masa itu berkembang dalam tradisi bantuan hukum struktural YLBHI.

Salah satu perkara yang paling melekat dalam ingatan saya adalah konflik tanah antara PT. Bumi Waras dengan rakyat desa Way Hui dan Jatimulyo, Lampung Selatan. Kami mengenalnya sebagai: “Kasus Tanah Lima Perak.” Lima perak (Rp5).

Sebuah angka yang dalam ingatan gerakan kami menjadi lambang betapa murah kehidupan rakyat dapat dinilai ketika berhadapan dengan kekuatan modal dan kekuasaan.

Di situlah mahasiswa hukum memperoleh universitas keduanya. Namanya bukan Unila. Namanya: RAKYAT.

Di kampus, hukum ada di dalam buku. Di kampung, hukum datang sebagai surat yang dapat membuat sebuah keluarga kehilangan tanah. Di kampus, semua subjek hukum tampak sama. Di lapangan, ada pihak yang datang bersama modal, pengacara, jaringan, dokumen dan kekuasaan; ada pula yang hanya membawa cerita bahwa kakek mereka sudah menanam pohon di tanah itu sebelum Republik berdiri.

Berdebat dengan Bang Buyung

Sekitar 1995, di kantor LBH Bandar Lampung di Jalan Hayam Wuruk, hadir Adnan Buyung Nasution.

Untuk mahasiswa hukum masa itu, bertemu Bang Buyung saja sudah cukup membuat dada agak mengembang. Arief rupanya tidak puas hanya mendengar. Dia berdebat.

Anak muda. Kepala botak. Berhadapan dengan salah satu raksasa advokasi hukum Indonesia. Mendalami soal politik hukum. Mengajukan pertanyaan. Tidak tampak gentar.

Di situ saya kembali melihat sesuatu yang sejak screening LK-I sudah kelihatan: Arief tidak mudah silau kepada nama besar.

Ia dapat menghormati orang, tanpa menyerahkan kemerdekaan berpikirnya.

Lampung Tidak Datang Terlambat kepada Reformasi

Foto Syamsul Arief (memegang Toa) sedang aksi, bersama rektor Unila Prof Alhusni Duki Hamin (baju batik) didampingi Gubernur Lampung Oemarsoni (Pakai Peci)

Kalau sejarah Reformasi hanya dibaca dari Jakarta, orang dapat keliru menganggap daerah sekadar penonton. Lampung bukan penonton.

Secara kualitatif, Lampung menjadi salah satu daerah yang memasok aktivis, jaringan, gagasan dan tenaga gerakan mahasiswa-rakyat yang keras ditempa.

Gerakan itu tidak muncul mendadak pada Mei 1998. Ia mempunyai pendahulu.

Dalam salah satu catatan retrospektif gerakan Lampung, disebut rangkaian mulai dari mogok sopir angkutan kota pada 1996, penyebaran selebaran bawah tanah “Turunkan Soeharto”, sampai mogok makan mahasiswa FH Unila dan bentrokan 19 Maret 1998 didepan Pintu masuk Unila

Soal mogok angkot, ribuan sopir angkot Bandar Lampung berlangsung 10-12 Desember 1996, dipicu kenaikan retribusi 100 persen, dari Rp400 menjadi Rp800.  Tetapi substansinya sama, “bara sudah ada jauh sebelum Mei 1998”.

Baca Juga  Aktivisme Intelektual di Jantung Pendidikan Hakim

19 Maret 1998: Ketika Gedong Meneng Berdarah

Kemudian datang 19 Maret 1998. Kampus Universitas Lampung, Gedong Meneng. Mahasiswa, pemuda, pelajar, wartawan, pengacara dan berbagai unsur masyarakat berkumpul.

Aksi yang semula membawa tuntutan reformasi berhadapan dengan aparat keamanan. Bentrokan pecah. Tercatat 72 demonstran ditangkap. Dalam ketegangan setelahnya, mahasiswa bahkan menahan 4 perwira polisi untuk dipertukarkan dengan kawan-kawan mereka yang ditahan. Peristiwa itu kemudian dikenang sebagai “Gedong Meneng Berdarah.”

Angka 72 itu jangan dibaca hanya sebagai statistik. Setiap angka adalah manusia. Ada kepala yang dipukul. Ada ibu yang menunggu anak pulang. Ada mahasiswa yang sehari sebelumnya masih duduk di kelas lalu hari berikutnya berhadapan dengan negara. Peristiwa 19 Maret itu bukan menghentikan gelombang, namun justru memperbesarnya.

Dari sana, gerakan mengalami konsolidasi dan perdebatan mengenai strategi. Salah satu kekuatan yang kemudian tumbuh adalah Keluarga Mahasiswa, Pemuda, Pelajar dan Rakyat Lampung (KMPPRL), yang memilih garis gerakan kerakyatan.

Arief berada dalam pusaran itu. Toa masih di tangannya. Dan rasa takut tampaknya masih belum berhasil menjadi tuannya.

Puncak: 20-21 Mei 1998

Lalu datanglah Mei. Jakarta bergolak. Trisakti berdarah. Gedung DPR/MPR diduduki mahasiswa. Tetapi Bandar Lampung juga mendidih.

Catatan akademik Unila menyebut pada 20 Mei 1998, KMPPRL bersama ribuan massa bergerak dari kawasan kampus Universitas Lampung dan Universitas Bandar Lampung menuju DPRD Provinsi Lampung. Sumber lain yang mengutip catatan gerakan 1998, menyebut puluhan ribu mahasiswa memenuhi Jalan Z.A. Pagar Alam sampai area UBL, dan tidak kurang dari 20.000 massa kemudian memadati kawasan DPRD Lampung.

Dalam ingatan saya, gelombang itu mencapai puncaknya pada 21 Mei 1998, di depan kawasan Kampus UBL, Kedaton, Bandar Lampung, dan di DPRD Provinsi Lampung tanggal yang juga dicatat dalam refleksi sejarah gerakan Lampung.

Tetapi tentang satu hal, ingatan saya tidak kabur: massanya lautan manusia. Mahasiswa. Pemuda. Pelajar. Rakyat. Puluhan ribu. Dan Arief berada di antara mereka yang berdiri di depan, menjadi penggerak dan pemimpin lapangan bersama jaringan kolektif gerakan.

Toa berada di tangannya. Suara serak diterbangkan pengeras suara: Reformasi! Turunkan Soeharto! Tegakkan keadilan!

Dulu Puluhan Ribu Massa, Sekarang Satu Palu

Bagian inilah yang paling membuat saya merenung, ketika melihat Arief sekarang memakai toga Hakim Agung.

Dulu, pada usia sekitar 22 tahun, ia berada di hadapan puluhan ribu mahasiswa dan rakyat. Mereka berteriak tentang kebenaran. Mereka menuntut keadilan. Mereka ingin kekuasaan mendengar rakyat.

Untuk menggerakkan puluhan ribu orang, Arief membutuhkan toa. Sekarang cukup satu palu berada di tangannya.

Palu itu kecil. Jauh lebih kecil daripada massa yang memenuhi jalan pada 1998. Tidak perlu puluhan ribu orang untuk membuatnya berbunyi. Cukup satu tangan. Satu ketukan. Tetapi, akibat hukumnya dapat menjangkau kehidupan manusia jauh lebih dalam daripada teriakan sebuah demonstrasi.

Dulu, ia bersama puluhan ribu orang meminta keadilan kepada kekuasaan. Hari ini, sebagai Hakim Agung, negara memberinya bagian dari kekuasaan untuk memberikan keadilan.

Ada ironi sejarah yang indah sekaligus mengerikan di sana. Dulu toa di tangan. Kini palu di tangan. Dulu ia berteriak agar negara mendengar. Sekarang orang lain datang kepada negara berharap Arief yang mendengar.

Arief, Tebing dan Gunung

Saya juga mengenalnya sebagai pemanjat tebing dan pendaki gunung. Setidaknya saya pernah melihat dia memanjat tebing di Gunung Batu di daerah Kantor Dinas Sosial Bandar Lampung. Karena itu saya tidak heran melihat kerasnya jalan yang ditempuh. Pemanjat tebing bukan manusia yang tidak takut. Pemanjat justru sangat paham akibat jatuh.

Ia melihat batu. Mencari celah. Mengukur pijakan. Menguji pegangan. Menimbang berat tubuh. Mengatur napas. Kemudian naik.

Arief memang seperti itu.  Dari rumah sederhana di Lebak Budi menuju universitas. Dari universitas menuju gerakan rakyat. Dari jalanan menuju profesi hukum. Dari hakim daerah menuju pimpinan pengadilan. Dari pimpinan pengadilan ke pusat pendidikan. Dari Pusdiklat menuju Kepala BSDK. Dari Kepala BSDK menuju Mahkamah Agung sebagai Hakim Agung. Bukan hanya tebing batu secara lahiriah yang dipanjatnya. Ia memanjat tebing kehidupan secara maknawiah. Selamat memanjat tebing yang baru, Arief Botak. Semoga setinggi apa pun puncak gunung yang kau daki, engkau tidak pernah lupa tanah pertama tempat kakimu berpijak: Jalan Tamin, Lebak Budi, Tanjungkarang.

Artikel Lain dalam Liputan Ini :

  • Aktivisme Intelektual di Jantung Pendidikan Hakim

    Aktivisme Intelektual di Jantung Pendidikan Hakim

  • “Datang dari Langit Mana Anak Ini?” Kesaksian Zaid Burhan Ibrahim tentang Syamsul Arief

    “Datang dari Langit Mana Anak Ini?” Kesaksian Zaid Burhan Ibrahim tentang Syamsul Arief

  • Jejak Aktivis Syamsul Arief dalam Ingatan Sahabat

    Jejak Aktivis Syamsul Arief dalam Ingatan Sahabat

  • Perjalanan Sunyi Syamsul Arief Menjadi Hakim Agung

    Perjalanan Sunyi Syamsul Arief Menjadi Hakim Agung

  • Arief yang Saya Kenal: Dari Jalanan Lampung ke Kursi Hakim Agung

    Arief yang Saya Kenal: Dari Jalanan Lampung ke Kursi Hakim Agung

  • Syamsul Arief : Mahasiswa Pertama yang Membela TEMPO Ketika Dibredel

    Syamsul Arief : Mahasiswa Pertama yang Membela TEMPO Ketika Dibredel

  • Arief Botak : Dulu Memimpin Puluhan Ribu Dengan TOA, Kini Satu Palu di Tangan

    Arief Botak : Dulu Memimpin Puluhan Ribu Dengan TOA, Kini Satu Palu di Tangan

Penta Peturun
Kontributor
Penta Peturun
Tenaga Ahli Kementerian Hak Asasi Manusia

Untuk Mendapatkan Berita Terbaru Suara BSDK, Follow Channel WhatsApp: SUARABSDKMARI

Jejak Syamsul Arief Menuju Hakim Agung
Share. Facebook Twitter Threads Telegram WhatsApp Copy Link
Demo
Top Posts

Resensi Game: Final Fantasy VII

September 7, 2026

Menanam Nilai, Menjaga Masa Depan

September 1, 2026

Sayap Patah dan Keadilan Yang Tersisa Bagi Elang

August 15, 2026

Secangkir Cocopresso dari Seorang Yang Mulia

August 15, 2026
Don't Miss

Menegaskan Batas Upaya Hukum atas Putusan Bebas: PT Kepulauan Riau Terapkan SEMA Nomor 4 Tahun 2026

By ZulfahmiSeptember 7, 20260

TANJUNGPINANG, 7 September 2026 — Pengadilan Tinggi Kepulauan Riau melalui Putusan Nomor 11/PID.SUS-TPK/2026/PT TPG menyatakan…

Tekankan Peradilan yang Berkeadilan, Adaptif, dan Visioner dalam Transisi Hukum Pidana Nasional

September 7, 2026

Laporan Kegiatan Penyusunan Naskah Kebijakan Wajib Dilaporkan Secara Menyeluruh

September 7, 2026

Resensi Game: Final Fantasy VII

September 7, 2026
Stay In Touch
  • YouTube
  • TikTok
  • WhatsApp
  • Twitter
  • Instagram
Top Trending
Demo

Recent Posts

  • Menegaskan Batas Upaya Hukum atas Putusan Bebas: PT Kepulauan Riau Terapkan SEMA Nomor 4 Tahun 2026
  • Tekankan Peradilan yang Berkeadilan, Adaptif, dan Visioner dalam Transisi Hukum Pidana Nasional
  • Laporan Kegiatan Penyusunan Naskah Kebijakan Wajib Dilaporkan Secara Menyeluruh
  • Resensi Game: Final Fantasy VII
  • Cermin di Balik Layar Kaca: Filosofi Gawai, Kepribadian, dan Manajemen Peradilan Modern

Recent Comments

  1. Burhan on Dari Prajurit Hukum ke Mahkamah Agung: Letkol Chk Sudiyo Pesan ‘Menulis dan Menulislah’
  2. Vanimut on Ketua PTA Kepri Buka Pendampingan Monev KIP Tahun 2026
  3. Ekasari on BSDK MA Run 2026: 10 Kilometer Pelari CADAS, Berlari Bersama Menjaga Semangat Pengabdian dan Integritas
  4. Abdul Hafid PP PA Sleman on Alumni Bersuara dari PA Sleman : Diklat Panitera Pengganti Harus Update, Merata, dan Berbasis Praktik
  5. kumalasari on Di Mana Negara Menempatkan, Di Sana Pengabdian Dijalankan: Kisah PNS Non-Homebase Menemukan Arti Ketulusan di Tanah yang Jauh dari Rumah
Hubungi Kami

Badan Strategi Kebijakan dan Pendidikan dan Pelatihan Hukum dan Peradilan Hukum dan Peradilan
Mahkamah Agung RI

Kantor: Jl. Cikopo Selatan Desa Sukamaju, Kec. Megamendung
Bogor, Jawa Barat 16770

Kirimkan reportase berita, opini, features dan artikel lainnya ke email suarabsdk.com : 
redpelsuarabsdk@gmail.com

Telepon: (0251) 8249520, 8249522, 8249531, 8249539

Kategori
Beranda Artikel Berita Features Sosok KRITERIA TULISAN
Filsafat Roman Satire Video BALACADAS
Connect With Us
  • Instagram
  • YouTube
  • WhatsApp
Aplikasi Internal
Logo 1 Logo 2 Logo 3 Logo 3 Logo 5
Logo 4 Logo 4 Logo 4 Logo 5 Logo 5 Logo 5
Kontributor
  • Avatar photo Ahmad Junaedi
  • Avatar photo Mohammad Khairul Muqorobin
  • Avatar photo Irvan Mawardi
  • Avatar photo Aman
  • Avatar photo Cecep Mustafa
  • Avatar photo Khoiruddin Hasibuan
  • Avatar photo Muamar Azmar Mahmud Farig
  • Avatar photo Ari Gunawan
  • Avatar photo Syailendra Anantya Prawira
  • Avatar photo Yudhistira Ary Prabowo
  • Avatar photo Muhammad Rizqi Hengki
  • Avatar photo Ghesa Agnanto Hutomo
  • Avatar photo Agus Digdo Nugroho
  • Avatar photo Muhammad Adiguna Bimasakti
  • Avatar photo Timbul Bonardo Siahaan
  • Avatar photo Dahlan Suherlan
  • Avatar photo Syamsul Arief
  • Avatar photo Jatmiko Wirawan
  • Avatar photo Taufikurrahman
  • Avatar photo Cik Basir
  • Avatar photo Johanes
  • Avatar photo Maria Fransiska Walintukan
  • Avatar photo Zulfahmi
  • Avatar photo Syihabuddin
  • Avatar photo Unggul Senoaji
  • Avatar photo M. Natsir Asnawi
  • Avatar photo Adji Prakoso
  • Avatar photo Anton Ahmad Sogiri
  • Avatar photo Yoshito Siburian
  • Avatar photo Abdi Munawar Daeng Mangagang
  • Avatar photo Iqbal Lazuardi
  • Avatar photo Galang Adhe Sukma
  • Avatar photo Anisa Yustikaningtiyas
  • Avatar photo Harun Maulana
  • Avatar photo I Gusti Lanang Ngurah Sidemen Putra
  • Avatar photo Muhammad Hanif Ramadhan
  • Avatar photo Ahmad Syahrus Sikti
  • Avatar photo Eliyas Eko Setyo
  • Avatar photo Firzi Ramadhan
  • Avatar photo Jarkasih
  • Avatar photo Sriti Hesti Astiti
  • Avatar photo Sudiyo
  • Avatar photo Binsar Parlindungan Tampubolon
  • Avatar photo Garin Purna Sanjaya
  • Avatar photo Layla Windy Puspita Sari
  • Avatar photo Marulam J Sembiring
  • Avatar photo Tri Indroyono
  • Avatar photo Letkol Chk Agustono, S.H., M.H.
  • Avatar photo Ardiansyah Iksaniyah Putra
  • Avatar photo Febby Fajrurrahman
  • Avatar photo Ganjar Prima Anggara
  • Avatar photo Irene Cristna Silalahi
  • Avatar photo Marsudin Nainggolan
  • Avatar photo Maulana Aulia
  • Avatar photo Riki Perdana Raya Waruwu
  • Avatar photo Dr. Syofyan Iskandar, S.H., M.H.
  • Avatar photo Afifah Dwiandini
  • Avatar photo Itsnaatul Lathifah
  • Avatar photo Khoiriyah Roihan
  • Avatar photo Redaktur SuaraBSDK
  • Avatar photo Yasin Prasetia
  • Avatar photo Muhamad Zaky Albana
  • Avatar photo Audrey Kartika Putri
  • Avatar photo Bintoro Wisnu Prasojo, S.H.
  • Avatar photo Buang Yusuf
  • Avatar photo Fitriyel Hanif
  • Avatar photo Henri Setiawan
  • Avatar photo Irwan Rosady
  • Avatar photo K.G. Raegen
  • Avatar photo Rafi Muhammad Ave
  • Avatar photo Rangga Lukita Desnata
  • Avatar photo Rikatama Budiyantie
  • Avatar photo Siti Nadhiroh
  • Avatar photo Teguh Setiyawan
  • Avatar photo Abdul Azis Ali Ramdlani
  • Avatar photo Achmad Fikri Oslami
  • Avatar photo Ahmad Fuad Noor Ghufron
  • Avatar photo Achmad Nurul Huda
  • Avatar photo Anggi Permana
  • Avatar photo Ang Rijal Amin
  • Avatar photo Cok Istri Bhagawanthi Pemayun
  • Avatar photo Dedi Putra
  • Avatar photo Dewi Maharati
  • Avatar photo Gerry Michael Purba
  • Avatar photo Herjuna Praba Wiesesa
  • Avatar photo Hermanto
  • Avatar photo Indarka PP
  • Avatar photo Muhamad Fadillah
  • Avatar photo Nugraha Medica Prakasa
  • Avatar photo Ria Marsella
  • Avatar photo Sahram
  • Avatar photo Saut Erwin Hartono A. Munthe
  • Avatar photo Silveria Supanti
  • Avatar photo Sugiarto
  • Avatar photo Yusuf Sodhiqin
  • Avatar photo Achmad Pratomo
  • Avatar photo Ahmad Faiz Shobir Alfikri
  • Avatar photo Andro Riski Pradipta
  • Avatar photo Arie Fitriansyah
  • Avatar photo Bismo Jiwo Agung
  • Avatar photo Epri Wahyudi
  • Avatar photo Fajar Widodo
  • Avatar photo Fariz Prasetyo Aji
  • Avatar photo Fauzan Arrasyid
  • Avatar photo Fauzia Rohmah
  • Avatar photo Febry Indra Gunawan Sitorus
  • Avatar photo Ferdian Permadi
  • Avatar photo Gerry Geovant Supranata Kaban
  • Avatar photo Mardi Candra
  • Avatar photo Muhammad Irfan Syahputra
  • Avatar photo Muhammad Amin Putra
  • Avatar photo Niko Wijaya
  • Avatar photo Putra Nova A.S
  • Avatar photo Rizal Arif Fitria
  • Avatar photo Sadana
  • Avatar photo Trisoko Sugeng Sulistyo
  • Avatar photo Umar Dani
  • Avatar photo Abdul Hadi
  • Avatar photo Abiandri Fikri Akbar
  • Avatar photo Abi Zaky Azizi
  • Avatar photo Dr. H. Achmad Setyo Pudjoharsoyo., SH., M.Hum
  • Avatar photo Adimas Leo Firmansah
  • Avatar photo Agenda Citra Muhammad
  • Avatar photo Andi Akram
  • Avatar photo Arsyawal
  • Avatar photo Aulia Rochmani Lazuardi
  • Avatar photo Bagus Partha Wijaya
  • Avatar photo Bagus Sujatmiko
  • Avatar photo Bayu Akbar Wicaksono
  • Avatar photo Chandra Khoirunnas
  • Avatar photo Cuhandi
  • Avatar photo David Pasaribu
  • Avatar photo Dendi Sutiyoso
  • Avatar photo Dhea Sutaryana
  • Avatar photo Edi Hudiata
  • Avatar photo Enrico Simanjuntak
  • Avatar photo Fauzan Prasetya
  • Avatar photo Fauziah Rahmah
  • Avatar photo Fery Rochmad Ramadhan
  • Avatar photo Hartanto Ariesyandi
  • Avatar photo Idik Saeful Bahri
  • Avatar photo Karell Mawla Ibnu Kamali
  • Avatar photo Khalilurrahman
  • Avatar photo Khoirul Anwar
  • Avatar photo Mentari Wahyudihati
  • Avatar photo Muhamad Ridwan
  • Avatar photo Muhamad Iqbal
  • Avatar photo Nia Chasanah
  • Avatar photo Novritsar Hasintongan Pakpahan
  • Avatar photo Nugraha Wisnu Wijaya
  • Avatar photo Raden Anggara Kurniawan
  • Avatar photo Raden Heru Wibowo Sukaten
  • Avatar photo Rahimulhuda Rizki Alwi
  • Avatar photo Rahmad Ramadhan Hasibuan
  • Avatar photo Ranggi Adiwangsa Yusron
  • Avatar photo Muhammad Rijaldy Alwy
  • Avatar photo Rohim
  • Avatar photo Samsul Zakaria
  • Avatar photo Satria Perdana
  • Avatar photo Tri Cahya Indra Permana
  • Avatar photo Wahyu Budi Santoso
  • Avatar photo Wilmar Ibni Rusydan
  • Avatar photo Yudhi Reksa Perdana
  • Avatar photo Abdul Ghani
  • Avatar photo Ach. Jufri
  • Avatar photo Afif Muchshon
  • Avatar photo Agus Suharsono
  • Avatar photo Ahmad Efendi
  • Avatar photo Ahmad Hodri
  • Avatar photo Ahmad Rizza Habibi
  • Avatar photo Aidil Akbar
  • Avatar photo Alep Priyoambodo
  • Avatar photo Alfajar Nugraha
  • Avatar photo Anderson Peruzzi Simanjuntak
  • Avatar photo Andhika Prayoga
  • Avatar photo Andi Muhammad Galib
  • Avatar photo Andi Aswandi Tashar
  • Avatar photo Andrie Gunawan
  • Avatar photo Anna Yulina
  • Avatar photo Annisa Nur Alam
  • Avatar photo Arga Febrian
  • Avatar photo Arief Sapto Nugroho
  • Avatar photo Mayor Chk Arif Dwi Prasetyo
  • Avatar photo Armansyah
  • Avatar photo Aryaniek Andayani
  • Avatar photo Ashhab Triono
  • Avatar photo Bella Puspitawati
  • Avatar photo Bilma Diffika
  • Avatar photo Bony Daniel
  • Avatar photo Budi Hermanto
  • Avatar photo Budi Suhariyanto
  • Avatar photo Chandra
  • Avatar photo Christopher Hutapea
  • Avatar photo Daniel H. Napitupulu
  • Dedi Wigandi
  • Avatar photo Deka Rachman Budihanto
  • Avatar photo Eddy Sembiring
  • Avatar photo Effendi Mukhtar
  • Avatar photo Egia Rasido Tarigan
  • Avatar photo Eka Sentausa
  • Avatar photo Enos Syahputra Sipahutar, S.H., M.H.
  • Avatar photo Dr. Fahmiron
  • Avatar photo Fahri Bachmid
  • Avatar photo Fahri Gunawan Siagian
  • Avatar photo Fahri Soleh
  • Avatar photo Fakhir Tashin Baaj
  • Avatar photo Fatkul Mujib, S.H.I., M.H.
  • Avatar photo Dr. Fauziati, S.Ag., M.Ag
  • Avatar photo Febriansyah Rozarius
  • Avatar photo Friska Ariesta Aritedi
  • Avatar photo Gineng Pratidina
  • Avatar photo Peltu Hartono
  • Avatar photo Hastuti
  • Avatar photo Hendro Yatmoko
  • Avatar photo Ibnu Abas Ali
  • Avatar photo I Made Sukadana
  • Indra Tua Hasangapon Harahap
  • Avatar photo Ira Soniawati
  • Avatar photo Irfan Dibar
  • Avatar photo Muhammad Irfansyah
  • Avatar photo Letkol Kum Irwan Tasri, S.H., M.H., M.Han.
  • Avatar photo Iwan Lamganda Manalu
  • Avatar photo Jerymia Seky Tanaem
  • Avatar photo Jusran Ipandi
  • Avatar photo Khaimi
  • Avatar photo Khoerul Umam
  • Avatar photo Linora Rohayu
  • Avatar photo Made Passek Reza Swandira
  • Avatar photo Marta Satria Putra
  • Avatar photo Marwan Ibrahim Piinga
  • Avatar photo Marwanto
  • Avatar photo Marzha Tweedo Dikky Paraanugrah
  • Avatar photo Maulia Martwenty Ine
  • Avatar photo Mira Maulidar
  • Avatar photo Misbah S.T., M.Eng.
  • Avatar photo Misbahul Anwar
  • Avatar photo Muhamad Ilham Azizul Haq
  • Avatar photo Muhamad Saptari
  • Avatar photo Muhammad Fadllullah
  • Avatar photo Muhammad Muhyi Arrasyid, S.Psi.
  • Avatar photo Muhammad Bagus Tri Prasetyo
  • Avatar photo Muhammad Yusuf
  • Avatar photo Muhammad Zuchri Nasuha Lubis
  • Avatar photo Murdian
  • Avatar photo Nadia Yurisa Adila
  • Avatar photo Nisrina Irbah Sati
  • Avatar photo Letkol CHK Nur Sakdi, S.H, M.H.
  • Avatar photo Nur Latifah Hanum
  • Avatar photo Pandu Pradana Wicaksono, S.H.
  • Avatar photo Pita Permatasari
  • Avatar photo H .A.S Pudjoharsoyo
  • Avatar photo Putri Pebrianti
  • Avatar photo R. Deddy Harryanto
  • Avatar photo Radityo Muhammad Harseno
  • Avatar photo Rahmi Fattah
  • Avatar photo Randy Viyatadhika
  • Avatar photo Ratih Gumilang
  • Avatar photo Reindra Jasper H. Sinaga, S.H. Hakim Pengadilan Negeri Tanjung Balai Karimun
  • Avatar photo Muh Ridha Hakim
  • Avatar photo Rifqi Qowiyul Iman
  • Avatar photo Rizal Abdurrahman
  • Avatar photo Romi Hardhika
  • Avatar photo Sandro Imanuel Sijabat
  • Avatar photo Sbong Sinarok Martin, S.H., M.H.
  • Avatar photo Selexta Apriliani
  • Avatar photo Septia Putri Riko
  • Avatar photo Septriono Situmorang
  • Avatar photo Siti Anis
  • Avatar photo Slamet Turhamun
  • Avatar photo Sobandi
  • Avatar photo Stefanus Dwi Putra Medisa
  • Avatar photo Subiyatno
  • Avatar photo Teddy Lahati
  • Avatar photo Tri Baginda Kaisar Abdul Gafur
  • Avatar photo Urif Syarifudin
  • Avatar photo Wanda Rara Farezha,S.H.
  • Avatar photo Wienda Kresnantyo
  • Avatar photo Willsa Suharyadi
  • Avatar photo Yoshelsa Wardhana
  • Avatar photo Yukiatiqa Afifah
  • Avatar photo Marsekal Muda TNI Dr. Yuwono Agung Nugroho, S.H., M.H.
  • Avatar photo Zidny Taqiyya
Lihat semua kontributor →

Type above and press Enter to search. Press Esc to cancel.