Close Menu
Suara BSDKSuara BSDK
  • Beranda
  • Artikel
  • Berita
  • Features
  • Sosok
  • Filsafat
  • Roman
  • Satire
  • Video
  • Liputan Khusus

Subscribe to Updates

Get the latest creative news from FooBar about art, design and business.

What's Hot

Pidana Pengawasan di Luar Batas Pasal 75 KUHP Nasional: Antara Diskresi Hakim dan Asas Legalitas Pemidanaan

October 5, 2026

Menapak Jalan Menjadi Hakim: PTUN Banda Aceh Mantapkan Pegawai Hadapi Seleksi

October 5, 2026

PRIMA di Medan Pengabdian, Teguh di Persidangan?

October 5, 2026
Instagram YouTube
Suara BSDKSuara BSDK
Deskripsi Gambar
  • Beranda
  • Artikel
  • Berita
  • Features
  • Sosok
  • Filsafat
  • Roman
  • Satire
  • Video
  • Liputan Khusus
Suara BSDKSuara BSDK
Deskripsi Gambar
  • Beranda
  • Artikel
  • Berita
  • Features
  • Sosok
  • Filsafat
  • Roman
  • Satire
  • Video
  • Liputan Khusus
Home » “Eksekusi yang Dieksekusi”: Mengapa Indonesia Butuh Sheriff dan Court Security ala Victoria

“Eksekusi yang Dieksekusi”: Mengapa Indonesia Butuh Sheriff dan Court Security ala Victoria

Syamsul AriefBy Syamsul AriefNovember 18, 2025 · 23:21 WIB6 Mins ReadNo Comments
Share
Facebook Twitter Threads Telegram WhatsApp

Artikel ini adalah seri dari naskah penelitian yang sedang disusun oleh Tim studi banding BSDK MA Plus BUA, Ditjen Badilum dan Ditjen Miltun tentang pentingnya Court Security Officer dan Sheriff di Victoria State negara bagian Australia.

Disclaimer : Saya menulis artikel ini dengan gaya satire yang tajam bukan untuk dimaksudkan tidak mencintai lembaga peradilan tapi untuk membuka kenyataan sebagai bentuk kecintaan saya untuk menguatkan peradilan Indonesia dalam konteks protokol pengamanan persidangan pengadilan melalui Court Security dan revitalisasi tugas juru sita / Bailif sebagaimana Sheriff di Victoria Australia.

Di Indonesia, ruang sidang sering terasa seperti panggung drama tanpa sutradara. Ada terdakwa yang mengamuk, keluarga korban yang menerobos barikade, saksi yang gemetar seperti mahasiswa salah masuk kelas, dan juru sita yang lebih sering menjadi penyampai kopi daripada eksekutor keadilan.

Dalam kondisi begini, kita bertanya: apakah pengadilan kita benar-benar tempat yang aman?, atau jangan-jangan arena Koloseum? sebuah amfiteater elips yang megah tempat pertarungan gladiator.

Sementara itu, di Victoria, Australia, mereka sudah lama sadar bahwa pengadilan tidak bisa diserahkan pada “nasib baik”. Mereka menciptakan model dua serdadu keadilan:
• Court Security Officers (CSO), pasukan keamanan profesional yang bertugas penuh waktu menjaga ruang sidang.
• Sheriff Victoria , juru sita versi upgrade, yang tidak cuma mengetuk pintu orang, tapi juga menyita aset, mengeksekusi denda, dan mengembalikan ratusan juta dolar ke kas negara.

Di sana, keamanan bukan urusan satpam pinjaman; itu protokol negara. Dan eksekusi putusan bukan formalitas; itu jaminan negara bahwa hukum bukan sekadar dekorasi di dinding ruang sidang.

Bandingkan dengan Indonesia. Disini, keamanan sidang sering mengandalkan insting, keberuntungan, dan, sesekali, keributan viral yang membuat petugas sadar: “Oh iya, harusnya kita jaga.”

Dan eksekusi putusan? Banyak putusan perdata yang akhirnya cuma menjadi fosil hukum—dilaporkan, diputus, dipublikasikan, tapi tidak pernah disentuh juru sita. Seorang hakim sampai pernah satire: “Putusan kita itu laksana puisi. Indah dibacakan, tapi tak pernah diwujudkan.”

Di Australia, khususnya Victoria, pengadilan berdiri seperti institusi modern: tertib, aman, dan dihormati. Di Indonesia? banyak yang mengkritik, sering kali pengadilan lebih mirip arena spontanitas sosial: tidak ada standar keamanan, tidak ada pengamanan ruang sidang, dan ketika hari eksekusi tiba, juru sita kita justru menjadi pihak yang paling membutuhkan perlindungan.

Mari kita bandingkan.

Victoria: Keamanan Profesional, Putusan Berwibawa

Dengan jumlah sekitar 370 Court Security Officers (CSO) dari G4S, pihak ketiga hubungan kontrak, yang ditempatkan di lebih dari 70 pengadilan di seluruh Victoria, setiap ruang sidang dijaga seperti seharusnya: serius.

G4S mengisi 64 CSO hanya untuk County Court Melbourne, mengamankan 54 ruang sidang lengkap dengan kontrol akses, metal detector, pemeriksaan barang, dan pemantauan CCTV 24 jam.

Baca Juga  Court Security System : Pelajaran dari lantai 27 Victoria Police Centre

Di Victoria, security bukan sekadar “orang berseragam” – mereka petugas terlatih, bersertifikat, paham hukum dasar, dan tahu prosedur keselamatan pengadilan.

Lalu ada Sheriff Victoria, juru sita yang benar-benar punya otoritas:

  • menyita properti,
  • menarik denda pidana,
  • melakukan lelang aset,
  • melaksanakan warrant penangkapan bagi penghindar denda.

Dan hal yang paling mengejutkan bagi standar Indonesia:
“Biaya eksekusi perdata cukup sekitar AUD 300 saja atau 3.269.000 Rupiah”, ucap Julie Brown Chief Victoria Sheriff dalam sesi tanya jawab diruang sidang Nomor 2 di County Court Melbourne siang tadi (18/11/2025)

Saya terperangah dari penjelasan Chief Sheriff Victoria. Perempuan paruh baya berbadan tegap bersuara bariton itu : tidak ada biaya tak terduga, tidak ada amplop, tidak ada “tambahan untuk pengamanan”. Sistem bekerja karena dirancang untuk bekerja.

Indonesia: Ketika Juru Sita Malah Perlu Diselamatkan

Sheriff Victoria bukan sekadar juru sita. Ia adalah lembaga penegak putusan. Ia menyita mobil dengan teknologi ANPR, melelang aset, memaksa denda dibayar, dan memastikan negara tidak dirugikan oleh kelalaian warga yang “lupa” dengan kewajibannya.

Sementara di Indonesia, juru sita sering menjadi tokoh dengan tugas paling ironis: ia tahu hukum, tetapi ia tidak diberi alat untuk menegakkannya. Ia diperintahkan untuk mengeksekusi, tapi tidak diberi kewenangan paksa yang cukup.
Akibatnya, banyak putusan perdata dibiarkan menggantung seperti lampu mati: menunggu listrik yang tak kunjung datang.

Pada hari eksekusi, seorang juru sita muncul dengan penetapan eksekusi yang dibacakan cepat-cepat—bukan karena buru-buru mengejar efisiensi, tapi karena takut waktu terlalu siang dan polisi belum tentu datang. Begitu polisi datang pun, sering kali hanya dua orang, tanpa peralatan memadai, karena:

  • “Tidak ada personel,”
  • “Banyak kegiatan lain,”
  • atau alasan klasik birokrasi: “Belum ada surat permohonan baru.”
    Akibatnya, sudah menjadi pola nasional:
    juru sita Indonesia dianggap musuh publik nomor satu oleh pihak tereksekusi.
    Tidak jarang:
  • dikejar,
  • diteriaki,
  • dilempari,
  • atau bahkan disandera secara emosional oleh keluarga pihak kalah.

Ini bukan karikatur. Ini realitas.
Realitas ketika negara meminta putusan ditegakkan, tetapi tidak menyediakan perangkat untuk menegakkannya.

Jika di Victoria sheriff mengeksekusi putusan, di Indonesia juru sita sering justru yang “dieksekusi” oleh amarah warga.

Mengapa Indonesia Harus Belajar dari Victoria

  1. Keamanan Adalah Prasyarat Keadilan
    Ruang sidang yang aman berarti hakim dapat memutus tanpa tekanan, saksi berani bicara, dan pihak berperkara merasa dihormati.
  2. Di Indonesia, keamanan ruang sidang sering diserahkan pada satpam biasa atau polisi yang datang hanya ketika “dirasa perlu”.
  3. Eksekusi Harus Punya Otoritas Nyata
    Kalau putusan tidak bisa dieksekusi, itu bukan putusan—itu sekadar kalimat.
    Sheriff Victoria memiliki kewenangan yang terukur, transparan, dan dihormati.
  4. Beban Eksekusi Tidak Membunuh Akses Keadilan
    Dengan biaya eksekusi sekitar AUD 200–300, pihak menang tidak disuruh bangkrut dulu sebelum realisasi keadilan.
  5. Profesionalisme Pengamanan Melindungi Semua Orang
    Security di Victoria bekerja dengan standar, bukan dengan improvisasi.
    Indonesia perlu Court Security Unit yang bukan satpam biasa, melainkan petugas tersertifikasi seperti CSO G4S.
Baca Juga  Judicial Security Reflections – Special Edition

Langkah Praktis

  1. Pilot Project Court Security Unit Pada Pengadilan-Pengadilan Negeri di Kota besar dengan jumlah perkara yang banyak dan resistensi tinggi.
  1. Revisi UU yang memberi status hukum baru Court Security Officers di Pengadilan termasuk kerjasama pada pihak ketiga melalui kontrak dan membetuk sheriff atau marshal pengadilan Indonesia yang bertugas sebagai Jurusita mengeksekusi denda dalam Putusan Pidana dan mengeksekusi Putusan perdata .
  2. Pada jangka pendek bisa juga bekerjasama dengan TNI yang ditambahkan personelnya melalui Pengadilan Militer yang sudah menjadi bagian dari MA dan peradilan Indonesia sejak 80 tahun lamanya
  3. Personel TNI yang ditambahkan di Badan Peradilan Militer itu kemudian dilatih menjadi Court Security Officers untuk menegakan protokol pengamanan sidang di Pengadilan sekaligus dilatih menjadi Juru Sita Pengadilan melaksanakan eksekusi putusan hakim.
  4. Penambahan anggaran khusus untuk keamanan sidang di pengadilan dan eksekusi

Kesimpulan

Negara Harus Hadir, Jangan Membiarkan Hakim Sendirian
Karena kita tidak bisa terus memelihara ilusi bahwa pengadilan kita aman hanya karena ada pagar dan petugas berseragam partikelir saat ini.
Karena kita tidak bisa terus membiarkan putusan hakim menjadi esai legal yang dibacakan dengan serius tetapi tidak berdaya di lapangan.

Karena hukum tanpa eksekusi adalah kebohongan; dan pengadilan tanpa keamanan adalah panggung ketakutan.

Model Victoria menawarkan jalan keluar yang elegan:

  • Profesionalisasi keamanan pengadilan
  • Penguatan lembaga juru sita menjadi Sheriff Indonesia
  • Teknologi modern untuk keamanan dan eksekusi
  • Struktur komando yang jelas dan bertanggung jawab
    Ini bukan soal meniru Australia. Ini soal sadar diri:
    bangunan keadilan Indonesia terlalu rapuh jika fondasinya tidak diperbaiki.

Kita butuh pengadilan yang tidak takut ribut.
Kita butuh putusan yang tidak mati muda.
Kita butuh negara yang tahu cara menegakkan hukum, bukan hanya menuliskannya.
Keadilan bukan hanya diputuskan di atas meja hakim—tapi ditegakkan di lapangan.

Victoria membuktikan hal itu dengan sheriff yang bekerja, security yang terlatih, dan biaya eksekusi yang masuk akal. Di Victoria negara hadir untuk memberi keamanan di pengadilan melalui UU (Security Court Act 2017) dan budget anggaran yang memadai.

Jika Indonesia ingin pengadilan dihormati, maka pengadilan harus berwujud sebagai institusi kuat, bukan tempat pertemuan spontan dengan standar keamanan seadanya. Saatnya kita belajar dari Victoria. Karena keadilan tidak cukup diputuskan — keadilan harus dijaga, dan harus dieksekusi.

Melbourne, 18/11/2025

Syamsul Arief
Kontributor
Syamsul Arief
Hakim Agung Kamar Pidana & Plt. Kepala BSDK MA

Untuk Mendapatkan Berita Terbaru Suara BSDK, Follow Channel WhatsApp: SUARABSDKMARI

australia
Share. Facebook Twitter Threads Telegram WhatsApp Copy Link

Related Posts

Pidana Pengawasan di Luar Batas Pasal 75 KUHP Nasional: Antara Diskresi Hakim dan Asas Legalitas Pemidanaan

October 5, 2026

PRIMA di Medan Pengabdian, Teguh di Persidangan?

October 5, 2026

Mengapa Hakim Harus Melampaui Positivisme Hukum: Menghidupkan Keadilan Rasional dan Humanis dalam Putusan Peradilan

October 5, 2026
Leave A Reply Cancel Reply


Demo
Top Posts

Di mana Kesaktian Pancasila Diuji?

October 1, 2026

Senja di Losari dengan Secangkir Saraba dan Sepiring Pisang Epe

September 16, 2026

Siasat Tiada Henti Penjaga Keadilan

September 13, 20261,511 Views

Titah Leviathan

September 11, 2026
Don't Miss

Pidana Pengawasan di Luar Batas Pasal 75 KUHP Nasional: Antara Diskresi Hakim dan Asas Legalitas Pemidanaan

By Gerry Geovant Supranata KabanOctober 5, 20260

Pendahuluan Berlakunya Undang-Undang Nomor 1 Tahun 2023 tentang Kitab Undang-Undang Hukum Pidana (KUHP Nasional) sejak…

Menapak Jalan Menjadi Hakim: PTUN Banda Aceh Mantapkan Pegawai Hadapi Seleksi

October 5, 2026

PRIMA di Medan Pengabdian, Teguh di Persidangan?

October 5, 2026

Pembukaan Pelatihan Dispensasi Kawin : Utamakan Kepentingan Terbaik Anak

October 5, 2026
Stay In Touch
  • YouTube
  • TikTok
  • WhatsApp
  • Twitter
  • Instagram
Top Trending
Demo

Recent Posts

  • Pidana Pengawasan di Luar Batas Pasal 75 KUHP Nasional: Antara Diskresi Hakim dan Asas Legalitas Pemidanaan
  • Menapak Jalan Menjadi Hakim: PTUN Banda Aceh Mantapkan Pegawai Hadapi Seleksi
  • PRIMA di Medan Pengabdian, Teguh di Persidangan?
  • Pembukaan Pelatihan Dispensasi Kawin : Utamakan Kepentingan Terbaik Anak
  • Mengapa Hakim Harus Melampaui Positivisme Hukum: Menghidupkan Keadilan Rasional dan Humanis dalam Putusan Peradilan

Recent Comments

  1. Anton Yikwa on Penganugerahan Lomba Layanan Pengadilan Tahun 2026: Membangun Budaya Kinerja dan Pelayanan Prima di Lingkungan Peradilan Militer dan Tata Usaha Negara
  2. Syihabuddin on Sebuah Ulasan atas Film ‘Ghost In The Cell’
  3. Tomas on Sebuah Ulasan atas Film ‘Ghost In The Cell’
  4. Nancy on “Spionase Bayangan” Mengupas dibalik Profiling Integritas dan Mystery Shopper Mahkamah Agung
  5. Yeheskel Haurissa on Ketika Pekerja Meninggal, Mengapa Ahli Waris Harus Menggugat?
Hubungi Kami

Badan Strategi Kebijakan dan Pendidikan dan Pelatihan Hukum dan Peradilan Hukum dan Peradilan
Mahkamah Agung RI

Kantor: Jl. Cikopo Selatan Desa Sukamaju, Kec. Megamendung
Bogor, Jawa Barat 16770

Kirimkan reportase berita, opini, features dan artikel lainnya ke email suarabsdk.com : 
redpelsuarabsdk@gmail.com

Telepon: (0251) 8249520, 8249522, 8249531, 8249539

Kategori
Beranda Artikel Berita Features Sosok KRITERIA TULISAN
Filsafat Roman Satire Video BALACADAS
Connect With Us
  • Instagram
  • YouTube
  • WhatsApp
Aplikasi Internal
Logo 1 Logo 2 Logo 3 Logo 3 Logo 5
Logo 4 Logo 4 Logo 4 Logo 5 Logo 5 Logo 5
Kontributor
  • Avatar photo Ahmad Junaedi
  • Avatar photo Mohammad Khairul Muqorobin
  • Avatar photo Aman
  • Avatar photo Irvan Mawardi
  • Avatar photo Cecep Mustafa
  • Avatar photo Khoiruddin Hasibuan
  • Avatar photo Yudhistira Ary Prabowo
  • Avatar photo Ari Gunawan
  • Avatar photo Muamar Azmar Mahmud Farig
  • Avatar photo Ghesa Agnanto Hutomo
  • Avatar photo Syailendra Anantya Prawira
  • Avatar photo Muhammad Rizqi Hengki
  • Avatar photo Agus Digdo Nugroho
  • Avatar photo Timbul Bonardo Siahaan
  • Avatar photo Dahlan Suherlan
  • Avatar photo Muhammad Adiguna Bimasakti
  • Avatar photo Syamsul Arief
  • Avatar photo Johanes
  • Avatar photo Jatmiko Wirawan
  • Avatar photo Cik Basir
  • Avatar photo Taufikurrahman
  • Avatar photo Syihabuddin
  • Avatar photo Zulfahmi
  • Avatar photo Maria Fransiska Walintukan
  • Avatar photo Unggul Senoaji
  • Avatar photo Anton Ahmad Sogiri
  • Avatar photo M. Natsir Asnawi
  • Avatar photo Yoshito Siburian
  • Avatar photo Abdi Munawar Daeng Mangagang
  • Avatar photo Adji Prakoso
  • Avatar photo Sriti Hesti Astiti
  • Avatar photo Iqbal Lazuardi
  • Avatar photo Galang Adhe Sukma
  • Avatar photo Harun Maulana
  • Avatar photo Layla Windy Puspita Sari
  • Avatar photo Muhammad Hanif Ramadhan
  • Avatar photo Ahmad Syahrus Sikti
  • Avatar photo Anisa Yustikaningtiyas
  • Avatar photo I Gusti Lanang Ngurah Sidemen Putra
  • Avatar photo Binsar Parlindungan Tampubolon
  • Avatar photo Bintoro Wisnu Prasojo
  • Avatar photo Eliyas Eko Setyo
  • Avatar photo Firzi Ramadhan
  • Avatar photo Ganjar Prima Anggara
  • Avatar photo Jarkasih
  • Avatar photo Sudiyo
  • Avatar photo Febby Fajrurrahman
  • Avatar photo Garin Purna Sanjaya
  • Avatar photo Itsnaatul Lathifah
  • Avatar photo Marulam J Sembiring
  • Avatar photo Tri Indroyono
  • Avatar photo Letkol Chk Agustono, S.H., M.H.
  • Avatar photo Ardiansyah Iksaniyah Putra
  • Avatar photo Buang Yusuf
  • Avatar photo Ferdian Permadi
  • Avatar photo Irene Cristna Silalahi
  • Avatar photo Marsudin Nainggolan
  • Avatar photo Maulana Aulia
  • Avatar photo Riki Perdana Raya Waruwu
  • Avatar photo Siti Nadhiroh
  • Avatar photo Dr. Syofyan Iskandar, S.H., M.H.
  • Avatar photo Muhamad Zaky Albana
  • Avatar photo Afifah Dwiandini
  • Avatar photo Henri Setiawan
  • Avatar photo Khoiriyah Roihan
  • Avatar photo Redaktur SuaraBSDK
  • Avatar photo Yasin Prasetia
  • Avatar photo Audrey Kartika Putri
  • Avatar photo Eddy Daulatta Sembiring
  • Avatar photo Fauzan Prasetya
  • Avatar photo Fitriyel Hanif
  • Avatar photo Gerry Michael Purba
  • Avatar photo Irwan Rosady
  • Avatar photo K.G. Raegen
  • Avatar photo Rafi Muhammad Ave
  • Avatar photo Rangga Lukita Desnata
  • Avatar photo Rikatama Budiyantie
  • Avatar photo Sugiarto
  • Avatar photo Teguh Setiyawan
  • Avatar photo Abdul Azis Ali Ramdlani
  • Avatar photo Achmad Fikri Oslami
  • Avatar photo Ahmad Fuad Noor Ghufron
  • Avatar photo Achmad Nurul Huda
  • Avatar photo Andro Riski Pradipta
  • Avatar photo Anggi Permana
  • Avatar photo Ang Rijal Amin
  • Avatar photo Armansyah
  • Avatar photo Cok Istri Bhagawanthi Pemayun
  • Avatar photo Dedi Putra
  • Avatar photo Dewi Maharati
  • Avatar photo Gerry Geovant Supranata Kaban
  • Avatar photo Herjuna Praba Wiesesa
  • Avatar photo Hermanto
  • Avatar photo Indarka PP
  • Avatar photo Muhamad Fadillah
  • Avatar photo Nugraha Medica Prakasa
  • Avatar photo Ria Marsella
  • Avatar photo Sadana
  • Avatar photo Sahram
  • Avatar photo Saut Erwin Hartono A. Munthe
  • Avatar photo Silveria Supanti
  • Avatar photo Yusuf Sodhiqin
  • Avatar photo Achmad Pratomo
  • Avatar photo Agenda Citra Muhammad
  • Avatar photo Ahmad Faiz Shobir Alfikri
  • Avatar photo Arie Fitriansyah
  • Avatar photo Bismo Jiwo Agung
  • Avatar photo David Pasaribu
  • Avatar photo Epri Wahyudi
  • Avatar photo Fajar Widodo
  • Avatar photo Fariz Prasetyo Aji
  • Avatar photo Fauzan Arrasyid
  • Avatar photo Fauzia Rohmah
  • Avatar photo Febry Indra Gunawan Sitorus
  • Avatar photo Mardi Candra
  • Avatar photo Muhammad Irfan Syahputra
  • Avatar photo Muhammad Amin Putra
  • Avatar photo Muhammad Zuchri Nasuha Lubis
  • Avatar photo Niko Wijaya
  • Avatar photo Putra Nova A.S
  • Avatar photo Raden Heru Wibowo Sukaten
  • Avatar photo Rizal Arif Fitria
  • Avatar photo Trisoko Sugeng Sulistyo
  • Avatar photo Umar Dani
  • Avatar photo Wahyu Budi Santoso
  • Avatar photo Abdul Hadi
  • Avatar photo Abiandri Fikri Akbar
  • Avatar photo Abi Zaky Azizi
  • Avatar photo Dr. H. Achmad Setyo Pudjoharsoyo., SH., M.Hum
  • Avatar photo Adimas Leo Firmansah
  • Avatar photo Andi Akram
  • Avatar photo Arsyawal
  • Avatar photo Ashhab Triono
  • Avatar photo Aulia Rochmani Lazuardi
  • Avatar photo Bagus Partha Wijaya
  • Avatar photo Bagus Sujatmiko
  • Avatar photo Bayu Akbar Wicaksono
  • Avatar photo Chandra Khoirunnas
  • Avatar photo Cuhandi
  • Avatar photo Deka Rachman Budihanto
  • Avatar photo Dendi Sutiyoso
  • Avatar photo Dharma Setiawan Negara
  • Avatar photo Dhea Sutaryana
  • Avatar photo Edi Hudiata
  • Avatar photo Enrico Simanjuntak
  • Avatar photo Fauziah Rahmah
  • Avatar photo Fery Rochmad Ramadhan
  • Avatar photo Hartanto Ariesyandi
  • Avatar photo Idik Saeful Bahri
  • Avatar photo Karell Mawla Ibnu Kamali
  • Avatar photo Khalilurrahman
  • Avatar photo Khoirul Anwar
  • Avatar photo Mentari Wahyudihati
  • Avatar photo Misbah
  • Avatar photo Muhamad Ridwan
  • Avatar photo Muhamad Iqbal
  • Avatar photo Nia Chasanah
  • Avatar photo Novritsar Hasintongan Pakpahan
  • Avatar photo Nugraha Wisnu Wijaya
  • Avatar photo Raden Anggara Kurniawan
  • Avatar photo Rahimulhuda Rizki Alwi
  • Avatar photo Rahmad Ramadhan Hasibuan
  • Avatar photo Ranggi Adiwangsa Yusron
  • Avatar photo Muhammad Rijaldy Alwy
  • Avatar photo Rohim
  • Avatar photo Samsul Zakaria
  • Avatar photo Satria Perdana
  • Avatar photo Siti Anis
  • Avatar photo Tri Cahya Indra Permana
  • Avatar photo Wilmar Ibni Rusydan
  • Avatar photo Yudhi Reksa Perdana
  • Avatar photo Abdul Ghani
  • Avatar photo Ach. Jufri
  • Avatar photo Achmad Cholil
  • Avatar photo Afif Muchshon
  • Avatar photo Agus Suharsono
  • Avatar photo Ahmad Efendi
  • Avatar photo Ahmad Hodri
  • Avatar photo Ahmad Rizza Habibi
  • Avatar photo Aidil Akbar
  • Avatar photo Alep Priyoambodo
  • Avatar photo Alfajar Nugraha
  • Avatar photo Andi Amirah Humairah Ya'kub
  • Avatar photo Anderson Peruzzi Simanjuntak
  • Avatar photo Andhika Prayoga
  • Avatar photo Andi Muhammad Galib
  • Avatar photo Andi Aswandi Tashar
  • Avatar photo Andrie Gunawan
  • Avatar photo Anggiyansyah Nurmanta
  • Avatar photo Anna Yulina
  • Avatar photo Annisa Nur Alam
  • Avatar photo Arga Febrian
  • Avatar photo Arief Sapto Nugroho
  • Avatar photo Mayor Chk Arif Dwi Prasetyo
  • Avatar photo Aryaniek Andayani
  • Avatar photo Bella Puspitawati
  • Avatar photo Bellina Gamelia Sembiring Kembaren
  • Avatar photo Bilma Diffika
  • Avatar photo Bony Daniel
  • Avatar photo Budi Hermanto
  • Avatar photo Budi Suhariyanto
  • Avatar photo Chandra
  • Avatar photo Christopher Hutapea
  • Avatar photo Daniel H. Napitupulu
  • Avatar photo Daniel Saputra
  • Dedi Wigandi
  • Avatar photo Djoni Witanto
  • Avatar photo Effendi Mukhtar
  • Avatar photo Egia Rasido Tarigan
  • Avatar photo Eka Sentausa
  • Avatar photo Enos Syahputra Sipahutar, S.H., M.H.
  • Avatar photo Dr. Fahmiron
  • Avatar photo Fahri Bachmid
  • Avatar photo Fahri Gunawan Siagian
  • Avatar photo Fahri Soleh
  • Avatar photo Fakhir Tashin Baaj
  • Avatar photo Farhan Al Faris
  • Avatar photo Fatkul Mujib, S.H.I., M.H.
  • Avatar photo Dr. Fauziati, S.Ag., M.Ag
  • Avatar photo Febriansyah Rozarius
  • Avatar photo Friska Ariesta Aritedi
  • Avatar photo Gineng Pratidina
  • Avatar photo Hanry Ichfan Adityo
  • Avatar photo Peltu Hartono
  • Avatar photo Hastuti
  • Avatar photo Hendro Yatmoko
  • Avatar photo Ibnu Abas Ali
  • Avatar photo Ida Masnita Sigalingging
  • Avatar photo I Made Sukadana
  • Indra Tua Hasangapon Harahap
  • Avatar photo Ira Soniawati
  • Avatar photo Irfan Dibar
  • Avatar photo Muhammad Irfansyah
  • Avatar photo Letkol Kum Irwan Tasri, S.H., M.H., M.Han.
  • Avatar photo Iwan Lamganda Manalu
  • Avatar photo Jerymia Seky Tanaem
  • Avatar photo Jimmy Maruli Alfian
  • Avatar photo Jusran Ipandi
  • Avatar photo Khaimi
  • Avatar photo Khoerul Umam
  • Avatar photo Linora Rohayu
  • Avatar photo Made Passek Reza Swandira
  • Avatar photo Marta Satria Putra
  • Avatar photo Marwan Ibrahim Piinga
  • Avatar photo Marwanto
  • Avatar photo Marzha Tweedo Dikky Paraanugrah
  • Avatar photo Maulia Martwenty Ine
  • Avatar photo Mira Maulidar
  • Avatar photo Misbahul Anwar
  • Avatar photo Muhamad Ilham Azizul Haq
  • Avatar photo Muhamad Saptari
  • Avatar photo Muhammad Fadllullah
  • Avatar photo Muhammad Muhyi Arrasyid, S.Psi.
  • Avatar photo Muhammad Bagus Tri Prasetyo
  • Avatar photo Muhammad Yusuf
  • Avatar photo Murdian
  • Avatar photo Nadia Yurisa Adila
  • Avatar photo Nisrina Irbah Sati
  • Avatar photo Letkol CHK Nur Sakdi, S.H, M.H.
  • Avatar photo Nur Latifah Hanum
  • Avatar photo Pandu Pradana Wicaksono, S.H.
  • Avatar photo Piput Milandsari
  • Avatar photo Pita Permatasari
  • Avatar photo H .A.S Pudjoharsoyo
  • Avatar photo Putri Pebrianti
  • Avatar photo R. Deddy Harryanto
  • Avatar photo Radityo Muhammad Harseno
  • Avatar photo Rahmi Fattah
  • Avatar photo Randy Viyatadhika
  • Avatar photo Ratih Gumilang
  • Avatar photo Reindra Jasper H. Sinaga, S.H. Hakim Pengadilan Negeri Tanjung Balai Karimun
  • Avatar photo Muh Ridha Hakim
  • Avatar photo Rifqi Qowiyul Iman
  • Avatar photo Rizal Abdurrahman
  • Avatar photo Penulis adalah Filsuf - Analis Politik dan Kebangsaan
  • Avatar photo Romi Hardhika
  • Avatar photo Rudi Hartoyo
  • Avatar photo Sandro Imanuel Sijabat
  • Avatar photo Sbong Sinarok Martin, S.H., M.H.
  • Avatar photo Selexta Apriliani
  • Avatar photo Septia Putri Riko
  • Avatar photo Septriono Situmorang
  • Avatar photo Slamet Turhamun
  • Avatar photo Sobandi
  • Avatar photo Sri Nurmina Sari
  • Avatar photo Stefanus Dwi Putra Medisa
  • Avatar photo Subiyatno
  • Avatar photo Sugiri Wiryandono
  • Avatar photo Teddy Lahati
  • Avatar photo Tri Baginda Kaisar Abdul Gafur
  • Avatar photo Urif Syarifudin
  • Avatar photo Wanda Rara Farezha,S.H.
  • Avatar photo Wienda Kresnantyo
  • Avatar photo Willsa Suharyadi
  • Avatar photo Wiwid Ariyanto
  • Avatar photo Yoshelsa Wardhana
  • Avatar photo Yukiatiqa Afifah
  • Avatar photo Muhammad Yunus Tazryan
  • Avatar photo Marsekal Muda TNI Dr. Yuwono Agung Nugroho, S.H., M.H.
  • Avatar photo Zidny Taqiyya
Lihat semua kontributor →

Type above and press Enter to search. Press Esc to cancel.