Tentang Kopi, Keteladanan, dan Kerendahan Hati
Sore itu terasa berbeda.
Langit cerah menaungi kompleks Badan Strategi Kebijakan dan Pendidikan dan Pelatihan Hukum dan Peradilan Mahkamah Agung RI. Di sebuah ruangan yang sehari-hari menjadi tempat lahirnya berbagai keputusan dan kebijakan, sore itu tidak ada pembicaraan berat tentang program, anggaran, strategi, ataupun target organisasi.
Yang ada justru aroma kopi.
Sehari sebelumnya, Dr. H. Syamsul Arief, S.H., M.H., Kepala Badan Strategi Kebijakan dan Pendidikan dan Pelatihan Hukum dan Peradilan, baru saja dinyatakan lulus dalam Fit and proper test oleh DPR RI untuk mengemban amanah sebagai Hakim Agung.
Sebuah pencapaian besar. Sebuah amanah yang tidak semua orang dapat meraihnya.
Namun sore itu, tidak tampak jarak antara seorang pimpinan dengan bawahannya. Tidak ada suasana seremonial yang berlebihan. Tidak pula cerita panjang tentang keberhasilan yang baru saja diraih.
Justru beliau berdiri meracik kopi untuk kami.
Ketika Seorang Pimpinan Menjadi Barista
Biji Arabika Mandailing menjadi pilihannya.
Dengan ketelitian seorang pencinta kopi sejati, beliau menyeduh dan mengubah karakter rasa secangkir kopi.
Namun racikan sore itu bukan kopi biasa.
Air kelapa dipanaskan pada suhu sekitar 90 derajat Celsius, kemudian perlahan dituangkan melalui metode V60, bertemu dengan bubuk Arabika Mandailing yang telah dipersiapkan.
Perlahan tetesan kopi jatuh ke dalam wadah.
Aromanya memenuhi ruangan.
Beliau menyebut racikan itu dengan sebuah nama yang terdengar sederhana namun unik :
“Cocopresso.”
Satu demi satu cangkir kemudian dituangkan.
Dan tangan seorang pimpinan yang sehari-hari menandatangani berbagai kebijakan itu, sore tersebut justru sibuk menuangkan kopi kepada para bawahannya.
Pemandangan sederhana, tetapi meninggalkan kesan yang dalam.
Seperti seorang ayah yang menyuguhkan minuman terbaik kepada anak-anaknya, beliau memastikan kami semua mencicipinya.
Tak ada sekat jabatan.
Tak ada jarak antara pimpinan dan bawahan.
Yang ada hanyalah kebersamaan.
Filosofi dari Sebiji Kopi
Di antara kepulan aroma kopi, percakapan mengalir.
Beliau bercerita tentang kopi, tentang bagaimana menemukan kopi yang baik, tentang proses pengolahan, suhu air, teknik penyeduhan, hingga bagaimana setiap tahapan menentukan rasa akhirnya.
Namun entah mengapa, sore itu cerita tentang kopi terasa seperti sedang berbicara tentang kehidupan.
Sebab kopi tidak pernah tiba-tiba menjadi nikmat.
Ia bermula dari sebuah biji kecil.
Ditanam, dirawat, menunggu waktu untuk matang, dipetik, diproses, dikeringkan, disangrai, digiling, lalu diseduh dengan cara yang tepat.
Ada perjalanan panjang sebelum akhirnya ia hadir dalam sebuah cangkir.
Begitu pula manusia.
Tidak ada keberhasilan yang lahir dalam satu malam. Di balik sebuah pencapaian selalu ada perjalanan panjang, kerja keras, kesabaran, kegagalan, pembelajaran, pengorbanan, dan ketekunan yang mungkin tidak pernah diketahui banyak orang.
Bahkan rasa pahit pun memiliki tempatnya sendiri.
Sebab tanpa pahit, mungkin kita tidak akan pernah benar-benar memahami arti sebuah kenikmatan.
Dan seperti kopi terbaik, manusia tidak dinilai hanya dari bagaimana ia memulai perjalanan, tetapi dari proses yang membentuk karakter dan bagaimana akhirnya ia memberi manfaat kepada orang lain.
“Yang Mulia…”
Di tengah percakapan hangat itu, terbesit spontan sebuah panggilan kepada beliau.
“Yang Mulia…”
Sebuah sapaan yang kelak akan melekat pada amanah baru yang akan beliau emban sebagai Hakim Agung.
Namun seperti biasa, beliau tidak membiarkan suasana menjadi terlalu formal.
Dengan caranya yang sederhana, beliau justru mengingatkan kami pada sebuah lagu dari Iwan Fals.
Bukan tentang “Yang Mulia”.
Tetapi tentang:
“Yang Terlupakan.”
Kami tersenyum.
Namun di balik gurauan itu tersimpan sebuah pesan yang jauh lebih dalam.
Seolah beliau hendak mengatakan bahwa setinggi apa pun seseorang melangkah, jangan pernah terlalu sibuk dengan kemuliaan hingga melupakan perjalanan yang pernah dilalui, orang-orang yang pernah berjalan bersama, serta nilai-nilai sederhana yang membentuk diri kita.
Jabatan dapat berubah.
Ruang kerja dapat berganti.
Sapaan seseorang pun mungkin berubah.
Tetapi kerendahan hati seharusnya tetap tinggal.
Secangkir Kopi dan Sebuah Keteladanan
Sore semakin beranjak.
Cocopresso dalam cangkir perlahan habis. Namun cerita dan kesan yang ditinggalkan justru terasa semakin kuat.
Barangkali beberapa tahun mendatang kami akan lupa berapa tepatnya suhu air kelapa sore itu. Kami mungkin lupa berapa gram Arabika Mandailing yang digunakan atau berapa menit kopi tersebut diseduh.
Namun ada satu hal yang mungkin akan sulit dilupakan, seorang pimpinan yang sehari setelah dinyatakan lulus menjadi Hakim Agung, justru berdiri meracik dan menuangkan kopi dengan tangannya sendiri untuk para bawahannya.
Itulah kepemimpinan yang terkadang tidak ditemukan dalam buku-buku manajemen.
Bahwa kewibawaan tidak selalu dibangun dengan jarak.
Penghormatan tidak selalu lahir dari jabatan.
Dan kebesaran seseorang tidak selalu terlihat ketika ia berada di tempat tertinggi, tetapi justru dari bagaimana ia memperlakukan orang-orang di sekelilingnya ketika kesempatan untuk menjadi tinggi itu datang.
Kelak, ketika panggilan “Yang Mulia” benar-benar mengiringi langkah beliau dalam menjalankan amanah sebagai Hakim Agung, bagi kami ada satu kenangan sederhana yang akan tetap tinggal.
Tentang sebuah sore yang cerah.
Tentang Arabika Mandailing.
Tentang air kelapa bersuhu 90 derajat.
Tentang V60 dan secangkir Cocopresso.
Dan tentang seorang pimpinan yang mengajarkan bahwa semakin tinggi seseorang melangkah, seharusnya semakin rendah hati ia menunduk.
Karena pada akhirnya, seperti kopi, kehidupan bukan hanya tentang seberapa kuat rasa yang kita miliki, tetapi seberapa hangat kesan yang kita tinggalkan.
Untuk Mendapatkan Berita Terbaru Suara BSDK, Follow Channel WhatsApp: SUARABSDKMARI


