Author: Jatmiko Wirawan

Avatar photo

Hakim Pengadilan Negeri Sidikalang

Perkembangan kecerdasan buatan atau artificial intelligence (AI) kian cepat dan merambah hampir semua bidang kehidupan, termasuk dunia peradilan. Di banyak negara, AI mulai digunakan untuk membantu pencarian yurisprudensi, pengelolaan perkara, hingga analisis risiko. Namun, di balik efisiensi dan kecepatan yang AI tawarkan, muncul pertanyaan mendasar: bagaimana memastikan teknologi ini tidak merusak nilai keadilan itu sendiri? Untuk menjawab kegelisahan tersebut, UNESCO menyusun Guideline for the Use of AI Systems in Courts and Tribunals. Pedoman ini tidak dimaksudkan untuk menolak teknologi, melainkan untuk memastikan bahwa penggunaan AI di pengadilan tetap berpijak pada hak asasi manusia dan prinsip negara hukum. Prinsip pertama dan…

Read More

Perkembangan teknologi data analytics dan kecerdasan buatan (Artificial Intelligence/AI) mulai merambah berbagai bidang, termasuk sistem peradilan. Isu ini mencuat dalam diskusi yang melibatkan hakim-hakim Indonesia dengan Prof. Marion Ho-Dac pada Rabu, 18 Februari 2026 dalam ajang Advanced Courses of The Hague Academy of International Law on the Role of International Law in Advancing Asean Judiciaries di Manila dan Tagaytay City, Filipina. Dalam konteks Indonesia, kehadiran pedoman pemidanaan dalam Kitab Undang-Undang Hukum Pidana (KUHP) Baru, membuka ruang diskusi mengenai pemanfaatan teknologi sebagai alat bantu bagi hakim dalam menjatuhkan pidana yang proporsional dan berkeadilan. Namun, di balik potensi manfaatnya, penggunaan data…

Read More

Plea bargain tengah menjadi perbincangan hangat di Indonesia. Sejak disahkannya Kitab Undang-Undang Hukum Acara Pidana (KUHAP) baru melalui Undang-Undang Nomor 20 Tahun 2025, mekanisme plea bargain dianggap sebagai salah satu wajah baru peradilan pidana. Di tengah diskursus itu, sebuah percakapan ringan terjalin di Kota Tagaytay, Filipina. Meski jauh dari ruang sidang Indonesia, perbincangan tersebut justru memberi perspektif yang berbeda tentang plea bargain. Percakapan tersebut terjadi saat hakim-hakim Indonesia mengikuti Program Advanced Courses 2026 of The Hague Academy of International Law (THAIL) bertajuk The Role of International Law in Advancing ASEAN Judiciaries. Program ini tidak hanya berisi diskusi akademik, tetapi juga…

Read More

Sistem hukum Filipina ibarat kain tenun tua yang dirajut dari benang-benang sejarah yang berbeda warna. Ada jejak hukum sipil dari masa kolonial Spanyol, ada pula pola common law yang ditinggalkan Amerika Serikat. Perpaduan itu tidak sekadar teknis yuridis, melainkan refleksi perjalanan panjang sebuah bangsa yang belajar berdamai dengan masa lalu sambil menata masa depan. Di Filipina, hukum tumbuh bukan di ruang hampa, melainkan dari pengalaman kolektif tentang kekuasaan, perlawanan, dan harapan akan keadilan. Tak seperti kebanyakan negara yang menerapkan sistem hukum eropa continental atau anglo saxon, Filipina memilih untuk menggunakan kedua sistem hukum tersebut secara bersamaan. Kerangka besar sistem ini…

Read More

Di tengah fokus negara-negara ASEAN memerangi tindak pidana berat seperti narkotika, korupsi, dan human trafficking, sebuah fakta menarik mengemuka dari Brunei Darussalam. Negara penghasil minyak di Asia Tenggara itu justru tengah berjibaku dengan kejahatan yang kerap dianggap remeh, namun berdampak sistemik: pencurian kabel. Isu tersebut mengemuka dalam Program Advanced Courses 2026 of The Hague Academy of International Law (THAIL) bertajuk The Role of International Law in Advancing ASEAN Judiciaries. Selain meningkatkan kompetensi di bidang hukum internasional, program ini menjadi ruang strategis bagi para hakim-hakim Indonesia untuk bertukar pengalaman, sekaligus membangun jejaring profesional lintas negara dengan para hakim dan praktisi hukum…

Read More

Pada era ini ada sebuah adagium populer yang berbunyi, “Data is the new mining.” Data adalah tambang baru, komoditas berharga yang dapat menjadi penentu arah hidup manusia modern. Namun, selayaknya tambang yang juga menyimpan potensi bencana, data ibarat pedang bermata dua. Di satu sisi, ia menawarkan kemudahan. Namun di sisi yang lain, ia juga membuka celah ancaman dan intimidasi Dalam diskursus perlindungan hakim, kita acap kali terjebak pada definisi keamanan yang bersifat konvensional. Imaji tentang perlindungan masih berkutat pada aparat berseragam yang senantiasa memberi pengawalan di sisi hakim. Padahal, ancaman eksistensial bagi independensi hakim hari ini tidak hanya berupa serangan…

Read More

Di ruang kerja yang diselimuti senyap, seorang pria paruh baya menghempaskan tubuh tambunnya ke kursi kulit cokelat yang megah. Kemeja safarinya yang tercekik kini melonggar, seiring kancing teratas yang ia lepas. Di hadapannya, foto-foto formal Presiden dan Wakil Presiden, mengapit Garuda Pancasila yang gagah, seolah menjadi saksi bisu kelelahan yang menyelimutinya. Dari saku celananya, kotak rokok muncul. Sebatang diselipkan di antara bibir gelapnya. Api keluar dari ujung mancis membakar batang kretek. Asap mengepul, dihirup dalam-dalam sembari mata terpejam, seolah mencari ketenangan dalam pekatnya tembakau. Meja kerjanya, baru beberapa menit lalu dirapikan asisten pribadinya, kini terhampar rapi. Dokumen-dokumen penting, pulpen tinta…

Read More

Film dokumenter Downfall: The Case against Boeing di Netflix dibuka dengan ketegangan berlapis: pesawat Boeing 737 Max yang digadang sebagai babak baru teknologi penerbangan justru menuai petaka. Teknologi baru bernama MCAS disematkan untuk menstabilkan pesawat, namun tanpa petunjuk pelaksanaan yang memadai bagi para pilot. Instrumen itu bekerja melawan kendali manusia, menarik hidung pesawat ke bawah tanpa peringatan. Alih-alih menjadi lompatan kemajuan, teknologi itu berubah menjadi badai yang merenggut nyawa. Downfall menunjukkan satu pelajaran pahit: inovasi tanpa pemahaman adalah kokpit gelap yang dapat menjerumuskan. Analogi itu dapat disematkan pada KUHP Nasional yang akan berlaku 2 Januari 2026. Undang-Undang ini membawa segudang…

Read More

Sulit menemukan sosok sastrawan Indonesia yang dipuja sekaligus dicurigai sedalam Pramoedya Ananta Toer. Ia adalah paradoks yang berjalan dengan tenang: seorang yang karyanya dibaca dari Seoul sampai Stockholm, tapi dibungkam di tanah kelahirannya sendiri. Dialah rumah bagi segala pujian dan sekaligus segala larangan. Dalam diri Pram, kemasyhuran dan kesunyian duduk berdampingan seperti dua lampu yang tak pernah padam, saling menyorot bayangan satu sama lain. Karya-karya Pram sejak lama menjadi cermin bagi mereka yang bergelut dengan dunia hukum. Meski ia bukan ahli hukum, kehidupannya justru ditempa oleh proses hukum atau setidaknya oleh sesuatu yang diklaim sebagai proses hukum. Dari satu sel…

Read More

Di Pulau Ubin, laut bukan sekadar hamparan biru yang menelan cakrawala—ia adalah ibu, napas, dan nadi kehidupan. Di situlah Dorman dilahirkan, di antara desir angin asin dan nyanyian ombak yang tak pernah tidur. Leluhurnya berasal dari Buton, para pelaut tangguh yang tersesat dalam badai berabad-abad silam, lalu menemukan pulau kecil itu, memeluknya, dan menyebutnya rumah. Sejak saat itu, darah laut mengalir dalam setiap anak keturunannya. Dorman tumbuh bersama laut. Ia piawai membaca arah angin dari riak air, tahu kapan ikan akan datang dari aroma garam yang berubah di udara. Ia meyakini laut memiliki jiwa, “Ibu Bahari” begitu leluhurnya menyebutnya roh…

Read More