Close Menu
Suara BSDKSuara BSDK
  • Beranda
  • Artikel
  • Berita
  • Features
  • Sosok
  • Filsafat
  • Roman
  • Satire
  • Video

Subscribe to Updates

Get the latest creative news from FooBar about art, design and business.

What's Hot

Wujudkan Generasi Berakhlak dan Bertakwa, Dharmayukti Karini Cabang Dataran Hunipopu Bagikan Beasiswa BDBS

31 July 2026 • 23:19 WIB

Perbandingan KUHAP Lama dengan KUHAP Baru serta Implikasi SEMA Nomor 2 Tahun 2026

31 July 2026 • 18:53 WIB

Wujudkan Peradilan Cepat dan Murah, Aparat Penegak Hukum Sosialisasi MoU Sidang Pidana Elektronik

31 July 2026 • 13:21 WIB
Instagram YouTube
Suara BSDKSuara BSDK
Deskripsi Gambar
  • Beranda
  • Artikel
  • Berita
  • Features
  • Sosok
  • Filsafat
  • Roman
  • Satire
  • Video
Suara BSDKSuara BSDK
Deskripsi Gambar
  • Beranda
  • Artikel
  • Berita
  • Features
  • Sosok
  • Filsafat
  • Roman
  • Satire
  • Video
Home » Antara Kealpaan, Pemulihan, dan Pemaafan Hakim: Catatan atas Putusan PN Merauke Nomor 27/Pid.B/2026/PN Mrk
Artikel

Antara Kealpaan, Pemulihan, dan Pemaafan Hakim: Catatan atas Putusan PN Merauke Nomor 27/Pid.B/2026/PN Mrk

Membaca penerapan keadilan restoratif, pengakuan bersalah, dan pemaafan hakim dalam wajah baru peradilan pidana Indonesia.
Unggul SenoajiUnggul Senoaji2 May 2026 • 14:21 WIB7 Mins Read
Share
Facebook Twitter Threads Telegram WhatsApp

Kealpaan yang Berujung Petaka

Ada perkara pidana yang tidak lahir dari niat jahat, melainkan dari satu kelengahan yang berakibat serius bagi orang lain. Tidak ada dendam. Tidak ada rencana. Tidak ada kehendak untuk melukai. Yang ada hanyalah satu momen kerja yang bergerak terlalu cepat, satu prosedur keselamatan yang luput dijalankan, dan satu akibat yang kemudian membawa manusia ke ruang sidang.

Peristiwa itu terjadi di area kerja perkebunan tebu PT Global Papua Abadi, Merauke. Sore itu, para pekerja sedang menyelesaikan aktivitas. Peralatan kerja dikemas. Drone dan perlengkapannya hendak dipindahkan. Sebuah John Deere/Tractor dengan gandengan tangki air berada di sekitar lokasi. Dalam suasana kerja yang tampak biasa, tiba-tiba terjadi peristiwa yang mengubah semuanya: seorang pekerja, Jujur Renaldi Samosir, terlindas roda gandengan tangki air yang ditarik traktor.

Dari peristiwa itulah Putusan Pengadilan Negeri Merauke Nomor 27/Pid.B/2026/PN Mrk menjadi menarik untuk dibaca. Ia bukan semata perkara kecelakaan kerja. Ia adalah potret kecil dari bagaimana hukum pidana nasional yang baru mulai menemukan bentuk konkretnya dalam ruang sidang. Di dalamnya ada kealpaan, ada penderitaan korban, ada pengakuan bersalah, ada upaya perdamaian, ada ganti kerugian, dan pada akhirnya ada pemaafan hakim.

Terdakwa dalam perkara ini, Asep Seputra Setia Mulya, adalah pekerja berusia 19 tahun. Ia bekerja sebagai operator atau pengemudi traktor. Korban juga merupakan pekerja di lingkungan perusahaan yang sama. Mereka bukan orang yang sedang bermusuhan. Mereka bukan dua pihak yang sejak awal berdiri berhadap-hadapan. Justru karena itulah perkara ini terasa dekat dengan kehidupan sehari-hari: bahwa dalam dunia kerja, kelalaian kecil dapat melahirkan akibat hukum yang besar.

Kealpaan, Pengakuan Bersalah, dan Pemulihan

Fakta persidangan menunjukkan bahwa terdakwa tidak membunyikan klakson ketika hendak menjalankan traktor. Padahal, berdasarkan Standar Operasional Prosedur, klakson harus dibunyikan satu kali ketika hendak maju dan dua kali ketika hendak mundur. Terdakwa juga tidak memperhatikan spion saat hendak menjalankan kendaraan. Dalam putusan, keadaan ini dinilai sebagai bentuk ceroboh, teledor, dan kurang hati-hati. Dengan kata lain, hukum membaca peristiwa itu sebagai kealpaan.

Namun, kealpaan tidak boleh dipahami sebagai sesuatu yang sepele. Dalam hukum pidana, kelalaian tetap dapat menimbulkan pertanggungjawaban apabila akibat yang dilarang benar-benar terjadi. Dalam perkara ini, korban mengalami luka dan tidak dapat bekerja dalam waktu yang cukup lama. Karena itu, pengadilan menyatakan unsur Pasal 474 ayat (1) Undang-Undang Nomor 1 Tahun 2023 tentang KUHP telah terpenuhi, yakni karena kealpaannya mengakibatkan orang lain luka sehingga timbul halangan menjalankan mata pencaharian selama waktu tertentu.

Di titik ini, putusan tersebut menunjukkan ketegasan hukum. Hakim tidak mengaburkan kesalahan. Tidak pula membiarkan kelalaian larut begitu saja dalam bahasa maaf. Terdakwa tetap dinyatakan terbukti secara sah dan meyakinkan bersalah. Ini penting, karena keadilan bagi korban menuntut pengakuan bahwa suatu peristiwa memang terjadi, suatu kelalaian memang dilakukan, dan suatu penderitaan memang dialami.

Baca Juga  Mengadili untuk Memulihkan Martabat: Human Dignity dan Maqashid Syariah dalam Penyelesaian Sengketa Keluarga

Akan tetapi, hukum yang matang tidak berhenti hanya pada pernyataan bersalah. Ia juga bertanya: apa yang terjadi setelah peristiwa itu? Apakah pelaku menunjukkan tanggung jawab? Apakah korban memperoleh pemulihan? Apakah hubungan sosial yang rusak dapat diperbaiki? Apakah pidana masih menjadi satu-satunya jawaban yang paling adil?

Pertanyaan-pertanyaan inilah yang menjadikan putusan PN Merauke tersebut bernilai lebih dari sekadar putusan pidana biasa. Setelah pembacaan dakwaan, mekanisme keadilan restoratif sempat diupayakan. Pada tahap awal, upaya itu belum berhasil. Kemudian, terdakwa menyatakan pengakuan bersalah. Perkara pun beralih ke acara pemeriksaan singkat sebagaimana mekanisme yang diatur dalam KUHAP 2025.

Dalam pemeriksaan berikutnya, hakim kembali membuka ruang perdamaian. Ruang sidang tidak hanya dipakai untuk menguji unsur pidana, tetapi juga untuk mempertemukan kembali manusia yang terluka oleh peristiwa pidana. Terdakwa meminta maaf. Korban memaafkan. Terdakwa bersedia membayar ganti kerugian sebesar Rp50.000.000, sedangkan biaya pengobatan korban telah ditanggung oleh perusahaan. Dari sana, hakim menilai bahwa secara substansial tujuan keadilan restoratif telah tercapai.

Keadilan Subtantif Terwujud dalam Pemaafan Hakim

Melalui putusan yang dijatuhkan oleh Hakim Pengadilan Negeri Merauke, Ahmad Syah Putra, S.H., perkara ini memperlihatkan bahwa pembaruan hukum pidana tidak berhenti sebagai teks undang-undang. Ia mulai menemukan bentuknya dalam ruang sidang, ketika hakim menimbang kesalahan, mendengar pemulihan, dan menempatkan pidana secara proporsional dalam terang keadilan serta kemanusiaan.

Bagian paling penting dari putusan ini terletak pada keberanian untuk membedakan antara kesalahan yang harus diakui dan pidana yang belum tentu harus dijatuhkan. Dalam konstruksi KUHP Nasional, hakim diberi ruang untuk mempertimbangkan ringannya perbuatan, keadaan pribadi pelaku, keadaan pada saat tindak pidana dilakukan, serta keadaan yang terjadi setelahnya. Bahkan, dalam keadaan tertentu, hakim dapat menyatakan terdakwa terbukti bersalah, tetapi tidak menjatuhkan pidana atau tindakan.

Di sinilah pemaafan hakim memperoleh tempatnya. Pemaafan hakim bukan berarti perbuatan terdakwa dianggap benar. Bukan pula berarti korban diabaikan. Justru sebaliknya, pemaafan hakim hanya mungkin bernilai apabila kesalahan telah dinyatakan, korban telah didengar, dan pemulihan telah sungguh-sungguh diperhatikan. Ia bukan penghapusan peristiwa, melainkan penilaian yang lebih utuh terhadap manusia, akibat, tanggung jawab, dan masa depan.

Dalam perkara ini, hakim mempertimbangkan bahwa terdakwa baru pertama kali melakukan tindak pidana. Perbuatan terjadi karena kealpaan, bukan karena niat jahat. Setelah mengetahui korban terlindas, terdakwa tidak melarikan diri. Ia berusaha menghentikan kendaraan, membantu korban, meminta maaf, dan membayar ganti kerugian. Korban pun menerima permintaan maaf tersebut. Keadaan-keadaan inilah yang kemudian membentuk dasar bagi pemberian pemaafan hakim.

Baca Juga  Landasan Penjatuhan Putusan Lepas dalam KUHAP Baru

Putusan ini menjadi menarik karena memperlihatkan hukum pidana yang tidak kehilangan arah kemanusiaannya. Di satu sisi, hukum tetap menjaga pesan penting bahwa keselamatan kerja bukan perkara kecil. Standar Operasional Prosedur bukan sekadar formalitas administrasi perusahaan. Ia adalah pagar keselamatan manusia. Ketika pagar itu diabaikan, akibatnya dapat melukai tubuh, pekerjaan, dan kehidupan orang lain.

Namun, di sisi lain, putusan ini juga mengingatkan bahwa pidana penjara tidak selalu menjadi jawaban terbaik bagi setiap kesalahan. Terutama ketika perbuatan lahir dari kealpaan, pelaku menunjukkan tanggung jawab, korban memperoleh pemulihan, dan hubungan sosial telah diperbaiki. Dalam keadaan demikian, hukum pidana tidak perlu selalu berbicara dengan bahasa penjeraan. Kadang, ia justru lebih bermartabat ketika berbicara dengan bahasa pemulihan.

Pembaruan hukum pidana nasional memang tidak cukup dibaca dari perubahan pasal. Ia harus dibaca dari perubahan cara pandang. KUHP Nasional dan KUHAP 2025 membawa pesan bahwa pemidanaan bukan reaksi otomatis atas terpenuhinya unsur delik. Hakim diberi ruang untuk menimbang secara lebih jernih: tujuan pemidanaan, keadaan pelaku, kepentingan korban, pemulihan sosial, serta rasa keadilan yang hidup dalam masyarakat.

Putusan PN Merauke ini memperlihatkan bagaimana gagasan besar itu bekerja dalam perkara konkret. Dari sebuah kecelakaan kerja di kebun tebu, hukum menemukan pelajaran penting tentang proporsionalitas. Dari satu kelalaian, pengadilan menunjukkan bahwa kesalahan tetap harus disebut sebagai kesalahan. Tetapi dari penyesalan, pemaafan, dan ganti kerugian, pengadilan juga menunjukkan bahwa keadilan tidak harus selalu berakhir pada penghukuman.

Di sanalah nilai putusan ini. Ia tidak melemahkan hukum pidana. Justru ia menguatkannya, karena hukum yang kuat bukanlah hukum yang selalu keras, melainkan hukum yang mampu membedakan dengan jernih. Kapan pidana harus dijatuhkan. Kapan pemulihan harus diutamakan. Kapan seseorang harus dihukum. Dan kapan seseorang yang bersalah, setelah bertanggung jawab dan dimaafkan, masih layak diberi kesempatan untuk memperbaiki hidupnya.

Pada akhirnya, perkara ini mengingatkan bahwa ruang sidang bukan hanya tempat negara menyatakan salah dan benar. Ia juga tempat manusia dipertemukan kembali dengan tanggung jawab, dengan akibat perbuatannya, dan dengan kemungkinan untuk menjadi lebih baik. Dalam wajah baru hukum pidana Indonesia, keadilan tidak lagi dipahami semata sebagai pidana yang dijatuhkan, tetapi juga sebagai keseimbangan yang dipulihkan.

Dari Merauke, putusan ini memberi pesan yang tenang tetapi kuat: hukum pidana tetap harus tegas terhadap kelalaian, tetapi tidak boleh kehilangan kelembutan terhadap pemulihan. Sebab, keadilan yang sejati bukan hanya menghukum manusia karena kesalahannya, melainkan juga memberi ruang agar manusia belajar dari kesalahan itu tanpa kehilangan martabatnya.

Sumber: Putusan Pengadilan Negeri Merauke Nomor 27/Pid.B/2026/PN Mrk.

Unggul Senoaji
Kontributor
Unggul Senoaji
Hakim Ad Hoc Pengadilan Negeri Merauke

Untuk Mendapatkan Berita Terbaru Suara BSDK, Follow Channel WhatsApp: SUARABSDKMARI

hukum pidana Keadilan Restoratif Keadilan Substantif KUHP Baru pemaafan hakim Pemulihan Korban pengakuan bersalah Peradilan Indonesia Putusan PN Merauke Reformasi Hukum
Share. Facebook Twitter Threads Telegram WhatsApp Copy Link

Related Posts

Perbandingan KUHAP Lama dengan KUHAP Baru serta Implikasi SEMA Nomor 2 Tahun 2026

31 July 2026 • 18:53 WIB

Mahasiswa Magang, Bagian Konsumsi…Bikin Kopi atau Membuat Aplikasi

31 July 2026 • 08:14 WIB

Hakim, Iklim, dan Hati Nurani

30 July 2026 • 22:11 WIB
Leave A Reply

Demo
Top Posts

Dari Monitoring Hingga Titik Nol: Sebuah Perjalanan Tentang Pengabdian

30 July 2026 • 15:00 WIB49 Views

Sebelum Karangan Bunga Berikutnya Dikirim

27 July 2026 • 12:12 WIB26 Views

Menepi Sejenak di Tambak Bandeng

11 July 2026 • 09:06 WIB2 Views

Prediksi Juara World Cup 2026 Dari Pusdiklat Menpim

6 July 2026 • 21:16 WIB0 Views
Don't Miss

Wujudkan Generasi Berakhlak dan Bertakwa, Dharmayukti Karini Cabang Dataran Hunipopu Bagikan Beasiswa BDBS

By Yudhistira Ary Prabowo31 July 2026 • 23:19 WIB21 Views0

Jum’at 24 Juli 2026, Dharmayukti Karini Cabang Dataran Hunipopu yang terdiri dari Pengadilan Negeri dan…

Perbandingan KUHAP Lama dengan KUHAP Baru serta Implikasi SEMA Nomor 2 Tahun 2026

31 July 2026 • 18:53 WIB

Wujudkan Peradilan Cepat dan Murah, Aparat Penegak Hukum Sosialisasi MoU Sidang Pidana Elektronik

31 July 2026 • 13:21 WIB

Permudah Akses Hukum di Daerah Terpencil, PN Dataran Hunipopu Selenggarakan Sidang Keliling

31 July 2026 • 13:15 WIB
Stay In Touch
  • Facebook
  • YouTube
  • TikTok
  • WhatsApp
  • Twitter
  • Instagram
Top Trending
Demo

Recent Posts

  • Wujudkan Generasi Berakhlak dan Bertakwa, Dharmayukti Karini Cabang Dataran Hunipopu Bagikan Beasiswa BDBS
  • Perbandingan KUHAP Lama dengan KUHAP Baru serta Implikasi SEMA Nomor 2 Tahun 2026
  • Wujudkan Peradilan Cepat dan Murah, Aparat Penegak Hukum Sosialisasi MoU Sidang Pidana Elektronik
  • Permudah Akses Hukum di Daerah Terpencil, PN Dataran Hunipopu Selenggarakan Sidang Keliling
  • Pusdiklat Teknis MA Gelar Monev Diklat Hakim Lingkungan Hidup di PTUN Denpasar

Recent Comments

  1. StevenEdind on Di Balik 157 Predikat WBK: Seberapa Dalam Integritas Meresap?
  2. Scottphofe on Teori GONE (Greed, Opportunity, Needs, Exposure) dan Peran Faktor Keserakahan Pemicu Korupsi
  3. Scottphofe on Fenomena “Cashless Only”: Benturan Regulasi dan Realitas Sosial
  4. fintechbase on Teori GONE (Greed, Opportunity, Needs, Exposure) dan Peran Faktor Keserakahan Pemicu Korupsi
  5. Dice spiel online on Irah-Irah Putusan Hakim: Jejak Pancasila dalam Ruang Sidang
Hubungi Kami

Badan Strategi Kebijakan dan Pendidikan dan Pelatihan Hukum dan Peradilan Hukum dan Peradilan
Mahkamah Agung RI

Kantor: Jl. Cikopo Selatan Desa Sukamaju, Kec. Megamendung
Bogor, Jawa Barat 16770

Kirimkan reportase berita, opini, features dan artikel lainnya ke email suarabsdk.com : 
redpelsuarabsdk@gmail.com

Telepon: (0251) 8249520, 8249522, 8249531, 8249539

Kategori
Beranda Artikel Berita Features Sosok KRITERIA TULISAN
Filsafat Roman Satire Video BALACADAS
Connect With Us
  • Instagram
  • YouTube
  • WhatsApp
Aplikasi Internal
Logo 1 Logo 2 Logo 3 Logo 3
Logo 4 Logo 4 Logo 4 Logo 5 Logo 5
Kontributor
  • Avatar photo Ahmad Junaedi
  • Avatar photo Mohammad Khairul Muqorobin
  • Avatar photo Irvan Mawardi
  • Avatar photo Aman
  • Avatar photo Cecep Mustafa
  • Avatar photo Ari Gunawan
  • Avatar photo Muamar Azmar Mahmud Farig
  • Avatar photo Khoiruddin Hasibuan
  • Avatar photo Syailendra Anantya Prawira
  • Avatar photo Agus Digdo Nugroho
  • Avatar photo Muhammad Rizqi Hengki
  • Avatar photo Muhammad Adiguna Bimasakti
  • Avatar photo Ghesa Agnanto Hutomo
  • Avatar photo Dahlan Suherlan
  • Avatar photo Yudhistira Ary Prabowo
  • Avatar photo Timbul Bonardo Siahaan
  • Avatar photo Syamsul Arief
  • Avatar photo Taufikurrahman
  • Avatar photo Jatmiko Wirawan
  • Avatar photo Maria Fransiska Walintukan
  • Avatar photo Zulfahmi
  • Avatar photo Cik Basir
  • Avatar photo M. Natsir Asnawi
  • Avatar photo Unggul Senoaji
  • Avatar photo Abdi Munawar Daeng Mangagang
  • Avatar photo Iqbal Lazuardi
  • Avatar photo Syihabuddin
  • Avatar photo Yoshito Siburian
  • Avatar photo Galang Adhe Sukma
  • Avatar photo Adji Prakoso
  • Avatar photo Harun Maulana
  • Avatar photo I Gusti Lanang Ngurah Sidemen Putra
  • Avatar photo Muhammad Hanif Ramadhan
  • Avatar photo Ahmad Syahrus Sikti
  • Avatar photo Anton Ahmad Sogiri
  • Avatar photo Eliyas Eko Setyo
  • Avatar photo Firzi Ramadhan
  • Avatar photo Sriti Hesti Astiti
  • Avatar photo Anisa Yustikaningtiyas
  • Avatar photo Jarkasih
  • Avatar photo Sudiyo
  • Avatar photo Tri Indroyono
  • Avatar photo Letkol Chk Agustono, S.H., M.H.
  • Avatar photo Binsar Parlindungan Tampubolon
  • Avatar photo Johanes
  • Avatar photo Marulam J Sembiring
  • Avatar photo Riki Perdana Raya Waruwu
  • Avatar photo Dr. Syofyan Iskandar, S.H., M.H.
  • Avatar photo Afifah Dwiandini
  • Avatar photo Ardiansyah Iksaniyah Putra
  • Avatar photo Febby Fajrurrahman
  • Avatar photo Ganjar Prima Anggara
  • Avatar photo Khoiriyah Roihan
  • Avatar photo Redaktur SuaraBSDK
  • Avatar photo Yasin Prasetia
  • Avatar photo Muhamad Zaky Albana
  • Avatar photo Buang Yusuf
  • Avatar photo Garin Purna Sanjaya
  • Avatar photo Henri Setiawan
  • Avatar photo Irwan Rosady
  • Avatar photo Itsnaatul Lathifah
  • Avatar photo Layla Windy Puspita Sari
  • Avatar photo Marsudin Nainggolan
  • Avatar photo Rafi Muhammad Ave
  • Avatar photo Rikatama Budiyantie
  • Avatar photo Siti Nadhiroh
  • Avatar photo Teguh Setiyawan
  • Avatar photo Abdul Azis Ali Ramdlani
  • Avatar photo Achmad Fikri Oslami
  • Avatar photo Ahmad Fuad Noor Ghufron
  • Avatar photo Achmad Nurul Huda
  • Avatar photo Ang Rijal Amin
  • Avatar photo Audrey Kartika Putri
  • Avatar photo Dedi Putra
  • Avatar photo Fitriyel Hanif
  • Avatar photo Hermanto
  • Avatar photo Indarka PP
  • Avatar photo Irene Cristna Silalahi
  • Avatar photo Nugraha Medica Prakasa
  • Avatar photo K.G. Raegen
  • Avatar photo Rangga Lukita Desnata
  • Avatar photo Ria Marsella
  • Avatar photo Sahram
  • Avatar photo Saut Erwin Hartono A. Munthe
  • Avatar photo Silveria Supanti
  • Avatar photo Sugiarto
  • Avatar photo Yusuf Sodhiqin
  • Avatar photo Achmad Pratomo
  • Avatar photo Ahmad Faiz Shobir Alfikri
  • Avatar photo Anggi Permana
  • Avatar photo Arie Fitriansyah
  • Avatar photo Bintoro Wisnu Prasojo, S.H.
  • Avatar photo Bismo Jiwo Agung
  • Avatar photo Cok Istri Bhagawanthi Pemayun
  • Avatar photo Dewi Maharati
  • Avatar photo Epri Wahyudi
  • Avatar photo Fajar Widodo
  • Avatar photo Fariz Prasetyo Aji
  • Avatar photo Fauzan Arrasyid
  • Avatar photo Febry Indra Gunawan Sitorus
  • Avatar photo Gerry Geovant Supranata Kaban
  • Avatar photo Gerry Michael Purba
  • Avatar photo Mardi Candra
  • Avatar photo Maulana Aulia
  • Avatar photo Muhamad Fadillah
  • Avatar photo Muhammad Amin Putra
  • Avatar photo Niko Wijaya
  • Avatar photo Putra Nova A.S
  • Avatar photo Trisoko Sugeng Sulistyo
  • Avatar photo Umar Dani
  • Avatar photo Abiandri Fikri Akbar
  • Avatar photo Abi Zaky Azizi
  • Avatar photo Dr. H. Achmad Setyo Pudjoharsoyo., SH., M.Hum
  • Avatar photo Andi Akram
  • Avatar photo Andro Riski Pradipta
  • Avatar photo Arsyawal
  • Avatar photo Aulia Rochmani Lazuardi
  • Avatar photo Bagus Partha Wijaya
  • Avatar photo Bayu Akbar Wicaksono
  • Avatar photo Cuhandi
  • Avatar photo David Pasaribu
  • Avatar photo Dendi Sutiyoso
  • Avatar photo Dhea Sutaryana
  • Avatar photo Edi Hudiata
  • Avatar photo Enrico Simanjuntak
  • Avatar photo Fauzan Prasetya
  • Avatar photo Fauziah Rahmah
  • Avatar photo Fery Rochmad Ramadhan
  • Avatar photo Hartanto Ariesyandi
  • Avatar photo Herjuna Praba Wiesesa
  • Avatar photo Idik Saeful Bahri
  • Avatar photo Karell Mawla Ibnu Kamali
  • Avatar photo Khoirul Anwar
  • Avatar photo Mentari Wahyudihati
  • Avatar photo Muhamad Ridwan
  • Avatar photo Muhamad Iqbal
  • Avatar photo Novritsar Hasintongan Pakpahan
  • Avatar photo Nugraha Wisnu Wijaya
  • Avatar photo Raden Anggara Kurniawan
  • Avatar photo Raden Heru Wibowo Sukaten
  • Avatar photo Rahimulhuda Rizki Alwi
  • Avatar photo Rahmad Ramadhan Hasibuan
  • Avatar photo Ranggi Adiwangsa Yusron
  • Avatar photo Rohim
  • Avatar photo Samsul Zakaria
  • Avatar photo Tri Cahya Indra Permana
  • Avatar photo Yudhi Reksa Perdana
  • Avatar photo Abdul Ghani
  • Avatar photo Dr. Drs. H. Abdul Hadi, M.H.I.
  • Avatar photo Ach. Jufri
  • Avatar photo Adimas Leo Firmansah
  • Avatar photo Afif Muchshon
  • Avatar photo Agenda Citra Muhammad
  • Avatar photo Agus Suharsono
  • Avatar photo Ahmad Efendi
  • Avatar photo Ahmad Rizza Habibi
  • Avatar photo Alep Priyoambodo
  • Avatar photo Alfajar Nugraha
  • Avatar photo Anderson Peruzzi Simanjuntak
  • Avatar photo Andhika Prayoga
  • Avatar photo Andi Muhammad Galib
  • Avatar photo Andi Aswandi Tashar
  • Avatar photo Andrie Gunawan
  • Avatar photo Anna Yulina
  • Avatar photo Annisa Nur Alam
  • Avatar photo Arga Febrian
  • Avatar photo Arief Sapto Nugroho
  • Avatar photo Mayor Chk Arif Dwi Prasetyo
  • Avatar photo Armansyah
  • Avatar photo Aryaniek Andayani
  • Avatar photo Ashhab Triono
  • Avatar photo Bilma Diffika
  • Avatar photo Bony Daniel
  • Avatar photo Budi Hermanto
  • Avatar photo Budi Suhariyanto
  • Avatar photo Chandra Khoirunnas
  • Avatar photo Christopher Hutapea
  • Dedi Wigandi
  • Avatar photo Deka Rachman Budihanto
  • Avatar photo Eddy Sembiring
  • Avatar photo Effendi Mukhtar
  • Avatar photo Egia Rasido Tarigan
  • Avatar photo Eka Sentausa
  • Avatar photo Enos Syahputra Sipahutar, S.H., M.H.
  • Avatar photo Fahri Bachmid
  • Avatar photo Fahri Gunawan Siagian
  • Avatar photo Fahri Soleh
  • Avatar photo Fakhir Tashin Baaj
  • Avatar photo Fatkul Mujib, S.H.I., M.H.
  • Avatar photo Febriansyah Rozarius
  • Avatar photo Friska Ariesta Aritedi
  • Avatar photo Gineng Pratidina
  • Avatar photo Hastuti
  • Avatar photo Hendro Yatmoko
  • Avatar photo Ibnu Abas Ali
  • Avatar photo I Made Sukadana
  • Indra Tua Hasangapon Harahap
  • Avatar photo Ira Soniawati
  • Avatar photo Irfan Dibar
  • Avatar photo Muhammad Irfansyah
  • Avatar photo Letkol Kum Irwan Tasri, S.H., M.H., M.Han.
  • Avatar photo Iwan Lamganda Manalu
  • Avatar photo Jerymia Seky Tanaem
  • Avatar photo Jusran Ipandi
  • Avatar photo Khaimi
  • Avatar photo Khoerul Umam
  • Avatar photo Linora Rohayu
  • Avatar photo Marta Satria Putra
  • Avatar photo Marwan Ibrahim Piinga
  • Avatar photo Marwanto
  • Avatar photo Marzha Tweedo Dikky Paraanugrah
  • Avatar photo Maulia Martwenty Ine
  • Avatar photo Mira Maulidar
  • Avatar photo Misbah S.T., M.Eng.
  • Avatar photo Misbahul Anwar
  • Avatar photo Muhamad Ilham Azizul Haq
  • Avatar photo Muhamad Saptari
  • Avatar photo Muhammad Fadllullah
  • Avatar photo Muhammad Irfan Syahputra
  • Avatar photo Muhammad Muhyi Arrasyid, S.Psi.
  • Avatar photo Muhammad Bagus Tri Prasetyo
  • Avatar photo Muhammad Yusuf
  • Avatar photo Murdian
  • Avatar photo Nadia Yurisa Adila
  • Avatar photo Nia Chasanah
  • Avatar photo Nisrina Irbah Sati
  • Avatar photo Letkol CHK Nur Sakdi, S.H, M.H.
  • Avatar photo Nur Latifah Hanum
  • Avatar photo Pita Permatasari
  • Avatar photo H .A.S Pudjoharsoyo
  • Avatar photo Putri Pebrianti
  • Avatar photo R. Deddy Harryanto
  • Avatar photo Radityo Muhammad Harseno
  • Avatar photo Rahmi Fattah
  • Avatar photo Randy Viyatadhika
  • Avatar photo Ratih Gumilang
  • Avatar photo Reindra Jasper H. Sinaga, S.H. Hakim Pengadilan Negeri Tanjung Balai Karimun
  • Avatar photo Muh Ridha Hakim
  • Avatar photo Rifqi Qowiyul Iman
  • Avatar photo Rizal Abdurrahman
  • Avatar photo Rizal Arif Fitria
  • Avatar photo Romi Hardhika
  • Avatar photo Sandro Imanuel Sijabat
  • Avatar photo Dr. Satria Perdana, S.H., M.H.
  • Avatar photo Sbong Sinarok Martin, S.H., M.H.
  • Avatar photo Selexta Apriliani
  • Avatar photo Septia Putri Riko
  • Avatar photo Septriono Situmorang
  • Avatar photo Siti Anis
  • Avatar photo Slamet Turhamun
  • Avatar photo Sobandi
  • Avatar photo Stefanus Dwi Putra Medisa
  • Avatar photo Subiyatno
  • Avatar photo Teddy Lahati
  • Avatar photo Tri Baginda Kaisar Abdul Gafur
  • Avatar photo Urif Syarifudin
  • Avatar photo Wanda Rara Farezha,S.H.
  • Avatar photo Wienda Kresnantyo
  • Avatar photo Wilmar Ibni Rusydan
  • Avatar photo Willsa Suharyadi
  • Avatar photo Yoshelsa Wardhana
  • Avatar photo Yukiatiqa Afifah
  • Avatar photo Marsekal Muda TNI Dr. Yuwono Agung Nugroho, S.H., M.H.
Lihat semua kontributor →

Type above and press Enter to search. Press Esc to cancel.