Close Menu
Suara BSDKSuara BSDK
  • Beranda
  • Artikel
  • Berita
  • Features
  • Sosok
  • Filsafat
  • Roman
  • Satire
  • Video

Subscribe to Updates

Get the latest creative news from FooBar about art, design and business.

What's Hot

MKR Berhasil, PN Pacitan Jatuhkan Hukuman Penjara Sesuai Masa Tahanan di HUT ke-81 MA

19 August 2026 • 19:44 WIB

SIMPATI : Hadiah BSDK untuk Transformasi Tata Kelola Digital Mahkamah Agung RI

19 August 2026 • 15:40 WIB

Judicial Training On Dispute Resolution In Japan

19 August 2026 • 14:28 WIB
Instagram YouTube
Suara BSDKSuara BSDK
Deskripsi Gambar
  • Beranda
  • Artikel
  • Berita
  • Features
  • Sosok
  • Filsafat
  • Roman
  • Satire
  • Video
Suara BSDKSuara BSDK
Deskripsi Gambar
  • Beranda
  • Artikel
  • Berita
  • Features
  • Sosok
  • Filsafat
  • Roman
  • Satire
  • Video
Home » Teori GONE (Greed, Opportunity, Needs, Exposure) dan Peran Faktor Keserakahan Pemicu Korupsi

Teori GONE (Greed, Opportunity, Needs, Exposure) dan Peran Faktor Keserakahan Pemicu Korupsi

Bintoro Wisnu Prasojo, S.H.Bintoro Wisnu Prasojo, S.H.20 February 2026 • 10:19 WIB7 Mins ReadNo Comments
Share
Facebook Twitter Threads Telegram WhatsApp

Korupsi telah menjadi masalah yang merusak fondasi masyarakat, menghambat pembangunan, dan menciptakan ketidakadilan sosial. Di Indonesia, korupsi terus menjadi tantangan besar yang dihadapi bangsa ini, meskipun berbagai upaya pemberantasan telah dilakukan. Untuk memahami fenomena korupsi secara komprehensif, diperlukan kerangka analitis yang dapat menjelaskan berbagai faktor yang mendorong seseorang melakukan tindakan korup. Salah satu teori yang relevan dan komprehensif adalah Teori GONE (Greed, Opportunity, Needs, Exposure).

Pertanyaan Masyarakat semakin menyeruak Ketika Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) menangkap Katua dan Wakil Ketua Pengadilan Negeri (PN) Depok B dalam Operasi Tangkap Tangan (OTT). Pertanyaan beredar di Media Sosial Bukankah Gaji Hakim sudah dinaikkan oleh Presiden Prabowo apakah masih kurang sehingga masih Tergoda?

Hal ini berkaitan erat dengan teori GONE yang mengidentifikasi empat faktor utama yang berinteraksi dan memicu terjadinya korupsi: Keserakahan (Greed), Peluang (Opportunity), Kebutuhan (Needs), dan Paparan (Exposure). Meskipun keempat faktor ini saling terkait, saya berargumen bahwa faktor mental individu, terutama keserakahan dan kebutuhan psikologis yang sering kali menuntut gaya hidup mewah, merupakan pemicu utama yang paling dominan dalam perilaku korup.

Korupsi tidak terjadi secara kebetulan atau hanya karena ada kesempatan yang terbuka. Di balik setiap tindakan korup, terdapat proses mental yang kompleks yang melibatkan motivasi, rasionalisasi, dan keputusan individu. Ketika seseorang memiliki hasrat berlebihan untuk kekayaan materi, status sosial, atau gaya hidup mewah yang melebihi kemampuan finansialnya, faktor mental ini menjadi “sistem pengapian” yang mengaktifkan potensi korup yang ada dalam dirinya.


Teori GONE: Kerangka Analitis Korupsi

Teori GONE pertama kali dikembangkan sebagai kerangka untuk memahami berbagai faktor yang berkontribusi terhadap terjadinya kecurangan dan korupsi dalam organisasi maupun masyarakat. Menurut perspektif GONE, korupsi tidak disebabkan oleh satu faktor tunggal, melainkan hasil interaksi dari empat elemen kunci: Keserakahan (Greed), Peluang (Opportunity), Kebutuhan (Needs), dan Paparan (Exposure). Berikut merupakan penjelasan GONE :

  1. Greed (Keserakahan)
    • Keserakahan merujuk pada hasrat individu untuk memiliki lebih banyak daripada yang dibutuhkan atau pantas diterima. Dalam konteks korupsi, keserakahan sering kali muncul dari dorongan psikologis untuk mengakumulasi kekayaan tanpa batas, mencari status sosial yang lebih tinggi, atau mendapatkan pengakuan melalui simbol-simbol materi. Keserakahan bukanlah sifat alamiah manusia, melainkan konstruksi sosial yang diperkuat oleh lingkungan dan nilai-nilai yang diinternalisasi individu.
  2. Opportunity (Peluang)
    • Peluang mengacu pada kondisi sistem atau organisasi yang memungkinkan terjadinya tindakan korup. Ini termasuk sistem pengawasan yang lemah, struktur organisasi yang kompleks, kurangnya transparansi, atau prosedur yang tidak jelas. Peluang menciptakan “celah” yang dapat dimanfaatkan oleh mereka yang memiliki motivasi untuk bertindak korup.
  3. Needs (Kebutuhan)
    • Kebutuhan dalam Teori GONE mencakup berbagai bentuk tekanan yang dialami individu, mulai dari kebutuhan finansial yang mendesak hingga tekanan sosial untuk mencapai standar hidup tertentu. Penting untuk dicatat bahwa “kebutuhan” di sini tidak terbatas pada kebutuhan dasar fisiologis, melainkan juga mencakup kebutuhan psikologis dan sosial yang sering kali bersifat relatif dan konstruktif.
  4. Exposure (Paparan)
    • Paparan mengacu pada tingkat keterpaparan individu terhadap lingkungan atau budaya korup. Ketika seseorang secara terus-menerus terpapar dengan praktik korup yang dianggap “normal” atau “lumrah” dalam lingkungannya, toleransi terhadap perilaku korup cenderung meningkat. Paparan juga dapat berupa pengaruh dari orang lain yang terlibat dalam korupsi, menciptakan efek “kontagion” atau penularan perilaku tidak etis.
    • Keempat elemen ini saling berinteraksi dan menciptakan kondisi yang kondusif bagi timbulnya korupsi. Namun, seperti yang akan dijelaskan dalam artikel ini, tidak semua elemen memiliki bobot yang sama dalam memicu tindakan korup. Faktor mental individu, khususnya keserakahan dan kebutuhan psikologis, sering kali menjadi pemicu utama yang menggerakkan seseorang untuk memanfaatkan peluang yang ada dan merasionalisasi perilaku korup mereka.
Baca Juga  Kemana Perginya?

Greed (Keserakahan): Akar Psikologis Korupsi

Dari keempat elemen Teori GONE, Keserakahan (Greed) merupakan faktor yang paling fundamental dan sering kali menjadi pemicu utama korupsi. Keserakahan bukanlah sekadar keinginan untuk memiliki lebih banyak, melainkan hasrat yang tidak terkendali untuk mengakumulasi kekayaan dan status jauh melebihi kebutuhan rasional. Secara psikologis, keserakahan berkaitan erat dengan konsep diri, narsisisme, dan kebutuhan akan pengakuan.

Keserakahan memiliki beberapa dimensi psikologis yang kompleks. Pertama, keserakahan sering kali berakar pada rasa ketidakcukupan diri atau inferioritas yang mendalam. Individu yang merasa tidak memiliki cukup pengakuan atau status dalam mungkin mencoba mengkompensasinya melalui akumulasi kekayaan materi. Kekayaan dan simbol-simbol kemewahan menjadi pengganti untuk rasa percaya diri yang sejati. Kedua, keserakahan terkait dengan konsep “narsisisme kolektif” di mana seseorang mengidentifikasi diri dengan kelompok elit yang memiliki standar hidup mewah. Dalam masyarakat konsumtif modern, media dan iklan terus-menerus menampilkan gaya hidup mewah sebagai sesuatu yang diidamkan, menciptakan keinginan untuk meniru pola konsumsi tersebut, bahkan jika harus melalui cara tidak etis. Ketiga, keserakahan juga dapat dipahami sebagai bentuk “kecanduan” terhadap sensasi memiliki dan mengkonsumsi. Seperti kecanduan lainnya, keserakahan menciptakan siklus di mana individu terus membutuhkan lebih banyak untuk merasa puas, yang pada akhirnya tidak pernah tercapai. Kondisi ini mendorong individu untuk mencari cara-cara ekstrem, termasuk korupsi, untuk memenuhi hasrat yang tidak terbatas ini. Salah satu manifestasi paling jelas dari keserakahan dalam konteks korupsi adalah keinginan untuk gaya hidup mewah yang melebihi kapasitas finansial yang sah. Fenomena ini sering kali terlihat pada kasus-kasus korupsi di Indonesia, di mana pelaku memiliki aset-aset mewah seperti mobil mewah, properti di lokasi elit, atau perhiasan mahal yang jelas-jelas tidak sebanding dengan penghasilan resmi mereka.

Dalam konteks Indonesia, fenomena ini diperburuk oleh budaya “gengsi” yang sangat menekankan pentingnya penampilan dan status sosial dalam masyarakat. Individu merasa tertekan untuk menunjukkan kesuksesan materi agar diakui dalam lingkungannya, bahkan jika harus melalui cara-cara tidak etis seperti korupsi.

Baca Juga  Dari Bengkulu ke Puncak Nilai Tertinggi: Di Balik Candaan Arison, Ada Mimpi Besar yang sedang Diperjuangkan

Studi Kasus: Keserakahan dalam Praktik

Kasus korupsi yang melibatkan pejabat publik di Indonesia sering kali mencerminkan dinamika keserakahan ini. Misalnya, dalam analisis praktik korupsi aparat pemerintah di Indonesia, ditemukan bahwa banyak pelaku korupsi didorong oleh keinginan untuk menampilkan status sosial melalui gaya hidup mewah . Aset-aset mewah yang diperoleh dari hasil korupsi bukan sekadar untuk konsumsi pribadi, melainkan juga sebagai simbol status dan kekuasaan dalam lingkungan sosial mereka. Keserakahan juga sering kali muncul dalam bentuk “mentalitas bandar” di mana individu melihat jabatan atau posisi kekuasaan bukan sebagai amanat untuk melayani masyarakat, melainkan sebagai sarana untuk mengakumulasi kekayaan pribadi. Pandangan ini jelas bertentangan dengan nilai-nilai etika publik dan prinsip-prinsip good governance, namun sayangnya masih banyak ditemukan dalam praktik birokrasi di Indonesia.

Terdapat beberapa alasan mengapa faktor mental individu (keserakahan dan kebutuhan psikologis) sering kali menjadi pemicu utama korupsi:

  1. Pertama, faktor mental adalah “sumber energi” yang mendorong perilaku. Tanpa motivasi internal yang kuat, individu tidak akan memiliki cukup dorongan untuk mencari dan memanfaatkan peluang korup, apalagi menghadapi risiko hukum dan sosial yang terkait dengan korupsi.
  2. Kedua, faktor mental menentukan bagaimana individu menanggapi peluang dan paparan. Dua individu yang dihadapkan pada peluang dan paparan yang sama mungkin merespons secara sangat berbeda tergantung pada tingkat keserakahan, tekanan kebutuhan psikologis, dan integritas pribadi mereka.
  3. Ketiga, faktor mental sering kali menjadi akar dari rasionalisasi yang memungkinkan individu untuk melanggar norma etis. Proses rasionalisasi ini penting untuk mengurangi ketegangan psikologis (cognitive dissonance) yang timbul ketika perilaku tidak sesuai dengan nilai yang dianut.

Korupsi tidak terjadi secara kebetulan atau hanya karena ada peluang yang terbuka. Di balik setiap tindakan korup, terdapat proses mental yang kompleks yang melibatkan motivasi, rasionalisasi, dan keputusan individu. Ketika seseorang memiliki hasrat berlebihan untuk kekayaan materi, status sosial, atau gaya hidup mewah yang melebihi kemampuan finansialnya, faktor mental ini menjadi “sistem pengapian” yang mengaktifkan potensi korup yang ada dalam dirinya.

Selain upaya perbaikan sistem untuk menutup peluang korupsi, diperlukan juga pendekatan yang menargetkan akar masalah psikologis dan kultural yang mendorong perilaku korup. Ini termasuk pendidikan karakter dan etika, promosi gaya hidup sederhana, reformasi kultural, dan intervensi psikologis jika diperlukan.Pada akhirnya, perjuangan melawan korupsi tidak hanya tentang memperbaiki sistem, tetapi juga tentang mentransformasi mentalitas dan nilai-nilai yang mendasari perilaku individu dan masyarakat.

Bintoro Wisnu Prasojo, S.H.
Kontributor
Bintoro Wisnu Prasojo, S.H.
Hakim Pengadilan Negeri Serui

Untuk Mendapatkan Berita Terbaru Suara BSDK, Follow Channel WhatsApp: SUARABSDKMARI

korupsi roman teori GONE
Share. Facebook Twitter Threads Telegram WhatsApp Copy Link

Related Posts

Sayap Patah dan Keadilan Yang Tersisa Bagi Elang

15 August 2026 • 14:32 WIB

Secangkir Cocopresso dari Seorang Yang Mulia

15 August 2026 • 12:22 WIB

Dari Monitoring Hingga Titik Nol: Sebuah Perjalanan Tentang Pengabdian

30 July 2026 • 15:00 WIB
Leave A Reply


Demo
Top Posts

Sayap Patah dan Keadilan Yang Tersisa Bagi Elang

15 August 2026 • 14:32 WIB

Secangkir Cocopresso dari Seorang Yang Mulia

15 August 2026 • 12:22 WIB

Dari Monitoring Hingga Titik Nol: Sebuah Perjalanan Tentang Pengabdian

30 July 2026 • 15:00 WIB

Sebelum Karangan Bunga Berikutnya Dikirim

27 July 2026 • 12:12 WIB
Don't Miss

MKR Berhasil, PN Pacitan Jatuhkan Hukuman Penjara Sesuai Masa Tahanan di HUT ke-81 MA

By Muhammad Irfan Syahputra19 August 2026 • 19:44 WIB0

Pacitan — Pengadilan Negeri (PN) Pacitan yang mengadili perkara pidana Nomor 28/Pid.B/2026/PN Pct telah menerapkan Mekanisme…

SIMPATI : Hadiah BSDK untuk Transformasi Tata Kelola Digital Mahkamah Agung RI

19 August 2026 • 15:40 WIB

Judicial Training On Dispute Resolution In Japan

19 August 2026 • 14:28 WIB

Pengadilan Negeri Namlea dan Pengadilan Agama Namlea menggelar upacara bendera bersama dalam rangka memperingati Hari Ulang Tahun Ke-81 Mahkamah Agung Republik Indonesia Dalam Semangat Solidaritas, Profesional Dan Transformasi Peradilan

19 August 2026 • 13:48 WIB
Stay In Touch
  • YouTube
  • TikTok
  • WhatsApp
  • Twitter
  • Instagram
Top Trending
Demo

Recent Posts

  • MKR Berhasil, PN Pacitan Jatuhkan Hukuman Penjara Sesuai Masa Tahanan di HUT ke-81 MA
  • SIMPATI : Hadiah BSDK untuk Transformasi Tata Kelola Digital Mahkamah Agung RI
  • Judicial Training On Dispute Resolution In Japan
  • Pengadilan Negeri Namlea dan Pengadilan Agama Namlea menggelar upacara bendera bersama dalam rangka memperingati Hari Ulang Tahun Ke-81 Mahkamah Agung Republik Indonesia Dalam Semangat Solidaritas, Profesional Dan Transformasi Peradilan
  • KMA: Peradilan yang Luhur Menjadi Fondasi Kemakmuran Rakyat

Recent Comments

  1. sobat pengadilan on Judicial Training On Dispute Resolution In Japan
  2. kumalasari on Mengakhiri Mediasi yang Efektif, Peserta Pelatihan Mediasi Dilatih Penyusunan Kesepakatan Perdamaian
  3. kumalasari on Ketika Perkawinan Tidak Tercatat : Isbat Nikah sebagai Jalan Menuju Perlindungan Hak Anak
  4. Kumalasari on PT Manado Beri Masukan atas Rancangan PERMA Pemenuhan Hak Perempuan dan Anak Pasca Perceraian
  5. Noezafri Amar on Peran dan Kedudukan Juru Bahasa Asing dalam Pemenuhan Hak Fair Trial bagi Terdakwa Warga Negara Asing Menurut KUHAP Baru
Hubungi Kami

Badan Strategi Kebijakan dan Pendidikan dan Pelatihan Hukum dan Peradilan Hukum dan Peradilan
Mahkamah Agung RI

Kantor: Jl. Cikopo Selatan Desa Sukamaju, Kec. Megamendung
Bogor, Jawa Barat 16770

Kirimkan reportase berita, opini, features dan artikel lainnya ke email suarabsdk.com : 
redpelsuarabsdk@gmail.com

Telepon: (0251) 8249520, 8249522, 8249531, 8249539

Kategori
Beranda Artikel Berita Features Sosok KRITERIA TULISAN
Filsafat Roman Satire Video BALACADAS
Connect With Us
  • Instagram
  • YouTube
  • WhatsApp
Aplikasi Internal
Logo 1 Logo 2 Logo 3 Logo 3 Logo 5
Logo 4 Logo 4 Logo 4 Logo 5 Logo 5 Logo 5
Kontributor
  • Avatar photo Ahmad Junaedi
  • Avatar photo Mohammad Khairul Muqorobin
  • Avatar photo Irvan Mawardi
  • Avatar photo Aman
  • Avatar photo Cecep Mustafa
  • Avatar photo Khoiruddin Hasibuan
  • Avatar photo Muamar Azmar Mahmud Farig
  • Avatar photo Ari Gunawan
  • Avatar photo Yudhistira Ary Prabowo
  • Avatar photo Syailendra Anantya Prawira
  • Avatar photo Muhammad Rizqi Hengki
  • Avatar photo Ghesa Agnanto Hutomo
  • Avatar photo Agus Digdo Nugroho
  • Avatar photo Muhammad Adiguna Bimasakti
  • Avatar photo Dahlan Suherlan
  • Avatar photo Timbul Bonardo Siahaan
  • Avatar photo Syamsul Arief
  • Avatar photo Jatmiko Wirawan
  • Avatar photo Taufikurrahman
  • Avatar photo Cik Basir
  • Avatar photo Maria Fransiska Walintukan
  • Avatar photo Syihabuddin
  • Avatar photo Zulfahmi
  • Avatar photo M. Natsir Asnawi
  • Avatar photo Unggul Senoaji
  • Avatar photo Anton Ahmad Sogiri
  • Avatar photo Abdi Munawar Daeng Mangagang
  • Avatar photo Iqbal Lazuardi
  • Avatar photo Johanes
  • Avatar photo Yoshito Siburian
  • Avatar photo Galang Adhe Sukma
  • Avatar photo Adji Prakoso
  • Avatar photo Anisa Yustikaningtiyas
  • Avatar photo Harun Maulana
  • Avatar photo I Gusti Lanang Ngurah Sidemen Putra
  • Avatar photo Muhammad Hanif Ramadhan
  • Avatar photo Ahmad Syahrus Sikti
  • Avatar photo Eliyas Eko Setyo
  • Avatar photo Firzi Ramadhan
  • Avatar photo Jarkasih
  • Avatar photo Sriti Hesti Astiti
  • Avatar photo Binsar Parlindungan Tampubolon
  • Avatar photo Layla Windy Puspita Sari
  • Avatar photo Sudiyo
  • Avatar photo Tri Indroyono
  • Avatar photo Letkol Chk Agustono, S.H., M.H.
  • Avatar photo Ganjar Prima Anggara
  • Avatar photo Garin Purna Sanjaya
  • Avatar photo Irene Cristna Silalahi
  • Avatar photo Marulam J Sembiring
  • Avatar photo Riki Perdana Raya Waruwu
  • Avatar photo Dr. Syofyan Iskandar, S.H., M.H.
  • Avatar photo Afifah Dwiandini
  • Avatar photo Ardiansyah Iksaniyah Putra
  • Avatar photo Febby Fajrurrahman
  • Avatar photo Itsnaatul Lathifah
  • Avatar photo Khoiriyah Roihan
  • Avatar photo Maulana Aulia
  • Avatar photo Redaktur SuaraBSDK
  • Avatar photo Yasin Prasetia
  • Avatar photo Muhamad Zaky Albana
  • Avatar photo Buang Yusuf
  • Avatar photo Fitriyel Hanif
  • Avatar photo Henri Setiawan
  • Avatar photo Irwan Rosady
  • Avatar photo Marsudin Nainggolan
  • Avatar photo Rafi Muhammad Ave
  • Avatar photo Rikatama Budiyantie
  • Avatar photo Siti Nadhiroh
  • Avatar photo Teguh Setiyawan
  • Avatar photo Abdul Azis Ali Ramdlani
  • Avatar photo Achmad Fikri Oslami
  • Avatar photo Ahmad Fuad Noor Ghufron
  • Avatar photo Achmad Nurul Huda
  • Avatar photo Anggi Permana
  • Avatar photo Ang Rijal Amin
  • Avatar photo Audrey Kartika Putri
  • Avatar photo Bintoro Wisnu Prasojo, S.H.
  • Avatar photo Cok Istri Bhagawanthi Pemayun
  • Avatar photo Dedi Putra
  • Avatar photo Dewi Maharati
  • Avatar photo Gerry Michael Purba
  • Avatar photo Herjuna Praba Wiesesa
  • Avatar photo Hermanto
  • Avatar photo Indarka PP
  • Avatar photo Nugraha Medica Prakasa
  • Avatar photo K.G. Raegen
  • Avatar photo Rangga Lukita Desnata
  • Avatar photo Ria Marsella
  • Avatar photo Sahram
  • Avatar photo Saut Erwin Hartono A. Munthe
  • Avatar photo Silveria Supanti
  • Avatar photo Sugiarto
  • Avatar photo Yusuf Sodhiqin
  • Avatar photo Achmad Pratomo
  • Avatar photo Ahmad Faiz Shobir Alfikri
  • Avatar photo Andro Riski Pradipta
  • Avatar photo Arie Fitriansyah
  • Avatar photo Bismo Jiwo Agung
  • Avatar photo Epri Wahyudi
  • Avatar photo Fajar Widodo
  • Avatar photo Fariz Prasetyo Aji
  • Avatar photo Fauzan Arrasyid
  • Avatar photo Fauzia Rohmah
  • Avatar photo Febry Indra Gunawan Sitorus
  • Avatar photo Gerry Geovant Supranata Kaban
  • Avatar photo Mardi Candra
  • Avatar photo Muhamad Fadillah
  • Avatar photo Muhammad Amin Putra
  • Avatar photo Niko Wijaya
  • Avatar photo Putra Nova A.S
  • Avatar photo Rizal Arif Fitria
  • Avatar photo Trisoko Sugeng Sulistyo
  • Avatar photo Umar Dani
  • Avatar photo Abiandri Fikri Akbar
  • Avatar photo Abi Zaky Azizi
  • Avatar photo Dr. H. Achmad Setyo Pudjoharsoyo., SH., M.Hum
  • Avatar photo Agenda Citra Muhammad
  • Avatar photo Andi Akram
  • Avatar photo Arsyawal
  • Avatar photo Aulia Rochmani Lazuardi
  • Avatar photo Bagus Partha Wijaya
  • Avatar photo Bayu Akbar Wicaksono
  • Avatar photo Chandra Khoirunnas
  • Avatar photo Cuhandi
  • Avatar photo David Pasaribu
  • Avatar photo Dendi Sutiyoso
  • Avatar photo Dhea Sutaryana
  • Avatar photo Edi Hudiata
  • Avatar photo Enrico Simanjuntak
  • Avatar photo Fauzan Prasetya
  • Avatar photo Fauziah Rahmah
  • Avatar photo Fery Rochmad Ramadhan
  • Avatar photo Hartanto Ariesyandi
  • Avatar photo Idik Saeful Bahri
  • Avatar photo Karell Mawla Ibnu Kamali
  • Avatar photo Khalilurrahman
  • Avatar photo Khoirul Anwar
  • Avatar photo Mentari Wahyudihati
  • Avatar photo Muhamad Ridwan
  • Avatar photo Muhamad Iqbal
  • Avatar photo Muhammad Irfan Syahputra
  • Avatar photo Nia Chasanah
  • Avatar photo Novritsar Hasintongan Pakpahan
  • Avatar photo Nugraha Wisnu Wijaya
  • Avatar photo Raden Anggara Kurniawan
  • Avatar photo Raden Heru Wibowo Sukaten
  • Avatar photo Rahimulhuda Rizki Alwi
  • Avatar photo Rahmad Ramadhan Hasibuan
  • Avatar photo Ranggi Adiwangsa Yusron
  • Avatar photo Muhammad Rijaldy Alwy
  • Avatar photo Rohim
  • Avatar photo Sadana
  • Avatar photo Samsul Zakaria
  • Avatar photo Tri Cahya Indra Permana
  • Avatar photo Wilmar Ibni Rusydan
  • Avatar photo Yudhi Reksa Perdana
  • Avatar photo Abdul Ghani
  • Avatar photo Dr. Drs. H. Abdul Hadi, M.H.I.
  • Avatar photo Ach. Jufri
  • Avatar photo Adimas Leo Firmansah
  • Avatar photo Afif Muchshon
  • Avatar photo Agus Suharsono
  • Avatar photo Ahmad Efendi
  • Avatar photo Ahmad Hodri
  • Avatar photo Ahmad Rizza Habibi
  • Avatar photo Alep Priyoambodo
  • Avatar photo Alfajar Nugraha
  • Avatar photo Anderson Peruzzi Simanjuntak
  • Avatar photo Andhika Prayoga
  • Avatar photo Andi Muhammad Galib
  • Avatar photo Andi Aswandi Tashar
  • Avatar photo Andrie Gunawan
  • Avatar photo Anna Yulina
  • Avatar photo Annisa Nur Alam
  • Avatar photo Arga Febrian
  • Avatar photo Arief Sapto Nugroho
  • Avatar photo Mayor Chk Arif Dwi Prasetyo
  • Avatar photo Armansyah
  • Avatar photo Aryaniek Andayani
  • Avatar photo Ashhab Triono
  • Avatar photo Bilma Diffika
  • Avatar photo Bony Daniel
  • Avatar photo Budi Hermanto
  • Avatar photo Budi Suhariyanto
  • Avatar photo Christopher Hutapea
  • Avatar photo Daniel H. Napitupulu
  • Dedi Wigandi
  • Avatar photo Deka Rachman Budihanto
  • Avatar photo Eddy Sembiring
  • Avatar photo Effendi Mukhtar
  • Avatar photo Egia Rasido Tarigan
  • Avatar photo Eka Sentausa
  • Avatar photo Enos Syahputra Sipahutar, S.H., M.H.
  • Avatar photo Dr. Fahmiron
  • Avatar photo Fahri Bachmid
  • Avatar photo Fahri Gunawan Siagian
  • Avatar photo Fahri Soleh
  • Avatar photo Fakhir Tashin Baaj
  • Avatar photo Fatkul Mujib, S.H.I., M.H.
  • Avatar photo Febriansyah Rozarius
  • Avatar photo Friska Ariesta Aritedi
  • Avatar photo Gineng Pratidina
  • Avatar photo Peltu Hartono
  • Avatar photo Hastuti
  • Avatar photo Hendro Yatmoko
  • Avatar photo Ibnu Abas Ali
  • Avatar photo I Made Sukadana
  • Indra Tua Hasangapon Harahap
  • Avatar photo Ira Soniawati
  • Avatar photo Irfan Dibar
  • Avatar photo Muhammad Irfansyah
  • Avatar photo Letkol Kum Irwan Tasri, S.H., M.H., M.Han.
  • Avatar photo Iwan Lamganda Manalu
  • Avatar photo Jerymia Seky Tanaem
  • Avatar photo Jusran Ipandi
  • Avatar photo Khaimi
  • Avatar photo Khoerul Umam
  • Avatar photo Linora Rohayu
  • Avatar photo Made Passek Reza Swandira
  • Avatar photo Marta Satria Putra
  • Avatar photo Marwan Ibrahim Piinga
  • Avatar photo Marwanto
  • Avatar photo Marzha Tweedo Dikky Paraanugrah
  • Avatar photo Maulia Martwenty Ine
  • Avatar photo Mira Maulidar
  • Avatar photo Misbah S.T., M.Eng.
  • Avatar photo Misbahul Anwar
  • Avatar photo Muhamad Ilham Azizul Haq
  • Avatar photo Muhamad Saptari
  • Avatar photo Muhammad Fadllullah
  • Avatar photo Muhammad Muhyi Arrasyid, S.Psi.
  • Avatar photo Muhammad Bagus Tri Prasetyo
  • Avatar photo Muhammad Yusuf
  • Avatar photo Muhammad Zuchri Nasuha Lubis
  • Avatar photo Murdian
  • Avatar photo Nadia Yurisa Adila
  • Avatar photo Nisrina Irbah Sati
  • Avatar photo Letkol CHK Nur Sakdi, S.H, M.H.
  • Avatar photo Nur Latifah Hanum
  • Avatar photo Pandu Pradana Wicaksono, S.H.
  • Avatar photo Pita Permatasari
  • Avatar photo H .A.S Pudjoharsoyo
  • Avatar photo Putri Pebrianti
  • Avatar photo R. Deddy Harryanto
  • Avatar photo Radityo Muhammad Harseno
  • Avatar photo Rahmi Fattah
  • Avatar photo Randy Viyatadhika
  • Avatar photo Ratih Gumilang
  • Avatar photo Reindra Jasper H. Sinaga, S.H. Hakim Pengadilan Negeri Tanjung Balai Karimun
  • Avatar photo Muh Ridha Hakim
  • Avatar photo Rifqi Qowiyul Iman
  • Avatar photo Rizal Abdurrahman
  • Avatar photo Romi Hardhika
  • Avatar photo Sandro Imanuel Sijabat
  • Avatar photo Dr. Satria Perdana, S.H., M.H.
  • Avatar photo Sbong Sinarok Martin, S.H., M.H.
  • Avatar photo Selexta Apriliani
  • Avatar photo Septia Putri Riko
  • Avatar photo Septriono Situmorang
  • Avatar photo Siti Anis
  • Avatar photo Slamet Turhamun
  • Avatar photo Sobandi
  • Avatar photo Stefanus Dwi Putra Medisa
  • Avatar photo Subiyatno
  • Avatar photo Teddy Lahati
  • Avatar photo Tri Baginda Kaisar Abdul Gafur
  • Avatar photo Urif Syarifudin
  • Avatar photo Wanda Rara Farezha,S.H.
  • Avatar photo Wienda Kresnantyo
  • Avatar photo Willsa Suharyadi
  • Avatar photo Yoshelsa Wardhana
  • Avatar photo Yukiatiqa Afifah
  • Avatar photo Marsekal Muda TNI Dr. Yuwono Agung Nugroho, S.H., M.H.
  • Avatar photo Zidny Taqiyya
Lihat semua kontributor →

Type above and press Enter to search. Press Esc to cancel.