Sebanyak 81 Hakim Ad Hoc Pengadilan Hubungan Industrial (PHI) mengunjungi Badan Strategi Kebijakan dan Pendidikan dan Pelatihan Hukum dan Peradilan Mahkamah Agung Republik Indonesia (BSDK MA), pada Kamis 24 September 2026. Kunjungan tersebut menjadi momentum untuk memperkuat wawasan kelembagaan sekaligus meneguhkan kembali tugas, tanggung jawab, dan komitmen para Hakim Ad Hoc PHI dalam menjalankan amanah peradilan.
Kunjungan ini merupakan bagian dari rangkaian kegiatan Bimbingan Teknis Pembekalan Hakim AdHoc PHI yang diselenggarakan oleh Derektorat Jenderal Badan Peradilan Umum (Ditjen Badilum) bersama Kementrian Ketenagakerjaan (Kemnaker) RI tanggal 21-25 September 2026. Sebanyak 81 peserta yang hadir berasal dari berbagai wilayah di Indonesia dan memiliki peran strategis dalam penyelesaian perselisihan hubungan industrial melalui jalur peradilan. Kegiatan berlangsung dalam suasana hangat dan interaktif. Para peserta tidak hanya memperoleh pemahaman mengenai BSDK dan perannya dalam pengembangan kompetensi aparatur peradilan, tetapi juga diajak melihat secara langsung lingkungan dan berbagai fasilitas yang mendukung pelaksanaan tugas pendidikan, pelatihan, serta pembinaan di lingkungan BSDK.

Mengingatkan Kembali Amanah Hakim Ad Hoc
Kegiatan diawali dengan sambutan Hakim Tinggi Yustisial R. Heru Wibowo Sukaten, S.H., M.H., yang mewakili Plt. Kepala BSDK. Dalam sambutannya, Heru mengingatkan bahwa menjadi Hakim Ad Hoc PHI bukan sekadar menjalankan fungsi untuk menyelesaikan sengketa antara pekerja dan pengusaha. Di balik setiap perkara hubungan industrial terdapat kepentingan, harapan, dan kehidupan manusia yang harus dipertimbangkan secara objektif berdasarkan hukum dan keadilan. Ia menekankan pentingnya para hakim memahami secara sungguh-sungguh tugas dan tanggung jawab yang melekat pada profesi hakim. Penguasaan hukum harus berjalan beriringan dengan integritas, independensi, imparsialitas, serta kemampuan untuk menilai fakta dan alat bukti secara cermat. “Ketika duduk di kursi hakim, yang dibawa bukan kepentingan pekerja ataupun kepentingan pengusaha, melainkan fakta, hukum, integritas, dan komitmen terhadap keadilan,” pesan Heru.
Menurut Heru, dinamika hubungan industrial terus berkembang seiring perubahan regulasi, dunia usaha, teknologi, dan pola hubungan kerja. Kondisi tersebut menuntut Hakim Ad Hoc PHI untuk terus belajar dan memperbarui kompetensinya. Ia juga mengajak para peserta menjadikan kegiatan kunjungan ke BSDK sebagai kesempatan untuk memperluas perspektif dan melihat bahwa pembelajaran hakim tidak berhenti setelah mengikuti pendidikan dan pelatihan.

Sementara itu, Direktur Pembinaan Tenaga Teknis Peradilan Umum, Dr. Hasanudin, S.H., M.H., M.M., dalam sambutannya menekankan pentingnya membangun rasa memiliki terhadap Mahkamah Agung di kalangan Hakim Ad Hoc PHI. Menurut Hasanudin, meskipun Hakim Ad Hoc memiliki latar belakang dan pengalaman profesional yang beragam, setelah menjalankan amanah sebagai hakim dalam lingkungan peradilan Mahkamah Agung, terdapat tanggung jawab kelembagaan yang harus dijaga bersama. Rasa memiliki terhadap Mahkamah Agung, menurutnya, akan tercermin dalam sikap, perilaku, integritas, serta komitmen untuk menjaga marwah dan kehormatan lembaga peradilan.
Pesan tersebut menjadi penting karena Hakim Ad Hoc PHI merupakan bagian dari wajah peradilan yang berhadapan langsung dengan masyarakat dan para pencari keadilan. Menjadi bagian dari Mahkamah Agung bukan hanya soal status kelembagaan, tetapi juga tentang rasa tanggung jawab untuk ikut menjaga kepercayaan publik terhadap lembaga peradilan.
Mengenal Lebih Dekat BSDK
Usai sambutan, peserta diajak mengenal lebih dekat BSDK melalui penayangan video profil BSDK yang menggambarkan tugas, fungsi, lingkungan, serta berbagai aktivitas pendidikan dan pelatihan yang diselenggarakan BSDK Mahkamah Agung. Selanjutnya, Hakim Yustisial BSDK MA Syihabudin,S.H.,M.H., memaparkan tugas dan fungsi BSDK, termasuk peran BSDK dalam pengembangan kebijakan strategis serta peningkatan kompetensi sumber daya manusia di lingkungan Mahkamah Agung.
Pemaparan tersebut memberikan gambaran kepada peserta mengenai posisi BSDK dalam mendukung peningkatan kualitas aparatur peradilan melalui pendidikan, pelatihan, pengembangan kompetensi, serta berbagai kegiatan strategis lainnya.
Sesi pemaparan kemudian dilanjutkan dengan diskusi dan tanya jawab. Forum berlangsung dua arah, tidak hanya peserta yang memperoleh informasi mengenai BSDK, tetapi berbagai pengalaman dan persoalan yang disampaikan peserta juga menjadi masukan berharga dalam melihat kebutuhan pengembangan kompetensi hakim ke depan.
Menyusuri Kompleks BSDK Seluas 8 Hektare
Rangkaian kunjungan kemudian dilanjutkan dengan kegiatan yang cukup menarik dan berbeda dari kunjungan kelembagaan pada umumnya. Para peserta diajak berkeliling melihat kompleks BSDK yang memiliki luas sekitar 8 hektare. Rombongan mengunjungi berbagai kawasan dan fasilitas yang berada di lingkungan BSDK, antara lain perpustakaan, ruang sidang semua, taman Hatta Ali, Bagir Manan Sport Center, serta kawasan hijau dan fasilitas lainnya. Peserta juga diajak melihat areal pembuatan pupuk organik, kebun, persawahan dan kolam ikan yang merupakan wujud dari upaya mendukung ekosistem kampus hijau (sustainability)

Suasana kunjungan menjadi semakin cair., dimana para peserta tampak menikmati lingkungan BSDK yang tidak hanya digunakan sebagai pusat pendidikan dan pelatihan, tetapi juga memiliki ruang terbuka hijau dan berbagai fasilitas yang mendukung kenyamanan serta aktivitas warga BSDK.
Bagi sebagian peserta, keberadaan areal perkebunan, persawahan dan kolam ikan di tengah kompleks BSDK menjadi pengalaman yang menarik. Lingkungan tersebut memperlihatkan bahwa BSDK tidak hanya memiliki fasilitas pembelajaran yang memadai, tetapi juga memiliki lingkungan yang asri dan memberikan ruang bagi aktivitas fisik, rekreasi, serta interaksi informal.
Dari BSDK untuk Keadilan
Kunjungan 81 Hakim Ad Hoc PHI tersebut akhirnya tidak hanya menjadi kegiatan untuk mengenal lingkungan BSDK. Lebih dari itu, kegiatan ini menjadi momentum untuk menguatkan kembali kesadaran bahwa pengembangan kompetensi hakim harus bermuara pada kualitas pelayanan peradilan dan kualitas putusan. Para peserta memperoleh gambaran yang lebih utuh mengenai BSDK, baik dari sisi kelembagaan maupun lingkungan dan fasilitas yang dimilikinya. Antusiasme dan kepuasan peserta terlihat dari respons positif selama mengikuti rangkaian kegiatan, termasuk saat berkeliling melihat berbagai fasilitas di lingkungan BSDK. Kunjungan tersebut juga memberikan semangat baru untuk terus meningkatkan kapasitas dan memberikan yang terbaik dalam menjalankan tugas sebagai Hakim Ad Hoc PHI.
Pada akhirnya, seluruh proses pembelajaran, penguatan kompetensi, dan wawasan kelembagaan memiliki satu tujuan yang sama: menghadirkan peradilan yang mampu memberikan keadilan bagi para pencari keadilan. Sebagaimana pesan yang mengemuka dalam kegiatan tersebut, seorang hakim tidak hanya dituntut untuk mengetahui hukum, tetapi juga harus memiliki integritas dan keberanian untuk mengadili dan memutus berdasarkan kebenaran dan keadilan. Dari BSDK, pesan itu kembali diteguhkan: “Terus belajar, jaga integritas, dan berikan yang terbaik dalam setiap perkara. Karena di balik setiap perkara, ada manusia yang menunggu keadilan.”
Untuk Mendapatkan Berita Terbaru Suara BSDK, Follow Channel WhatsApp: SUARABSDKMARI


