Kekhawatiran saya perlahan menjadi kenyataan. Hilal perubahan semakin nyata. Kekhawatiran selama ini yang saya tutup rapat-rapat kian muncul tak terduga. Kekhawatiran soal substitusi kepemimpinan. Iya, kursi kepemimpinan lembaga peradilan mulai diintai AI. Suka tidak suka, AI menuju super kecerdasan. Kecerdasannya tidak hanya hafal miliaran peraturan, tetapi mampu berkomputasi mandiri. Masalah pelik bisa diselesaikan sendiri tanpa sentuhan manusia.
Mungkin, kita bisa defensif terkait AI tidak mampu menggantikan peran hakim di meja hijau. Karena AI belum memiliki kesadaran dan nurani. Tetapi dalam mengelola dan menyelesaikan masalah, AI patut diacungi jempol. Dia bisa menawarkan ribuan skenario ketika berhadapan dengan satu masalah, bahkan menyusun ribuan strategi untuk kemajuan organisasi dalam hitungan jari.
Kekhawatiran ini bukan tanpa alasan, teror ini bukan fiksi ilmiah, bukan pula demonstrasi kepasrahan terhadap kemahakuasaan AI, tetapi ini cukup mengganggu pikiran, apalagi “cicilan” masih panjang. Mungkin, kelompok “luddite peradilan” menganggap sebelah mata teror ini, gak mau ambil pusing, tinggalin aja AI, selesai beres. Tetapi bagi kelompok futuris yang memikirkan keberlanjutan jangka panjang homo sapiens cukup menyita waktu. Perlu kita antisipasi teror AI satu persatu mulai sekarang.
Sebenarnya, embrio “Pemimpin Buatan” sudah ada di dalam server lokal satker pengadilan. Bagaimana aplikasi mengawasi jam kerja, memotret presensi kehadiran, smart majelis dan aktivitas yudisial elektronik lainnya. Artinya, kepemimpinan AI adalah realitas yang sedang berkembang saat ini, bukan mimpi di siang bolong. Sehingga tidak pas kita menutup mata tentang kepemimpinan AI padahal AI sendiri sudah berkeliaran di sebelah kita.
Jika AI merebut kursi kepemimpinan, manusia akan menuju kenikmatan hakiki. Manusia akan dimanjakan dengan uluran tangan AI. Manusia tidak perlu repot-repot berpikir program ini itu, rapat lembur sampai tengah malam, semua sudah dirumuskan dan dieksekusi AI dalam satu platform sistem kerja online. Manusia tinggal duduk manis menikmati akselerasi kebijakan yang disodorkan AI sambil menikmati secangkir kopi. Mental semakin sehat, semakin sejahtera dengan satu catatan AI yang akan mengatur kita.
Di sisi lain, hal ini terlihat konyol. Manusia kehilangan gairah dan kreativitas kognisinya. Anugerah Tuhan berupa kemampuan problem solving-nya terkubur dalam-dalam, nama besarnya terpampang di batu nisan peradaban. Bisa jadi akan berujung wafat mengenaskan, atau “abadi” dengan penuh kebahagiaan. Lalu, peran apa yang tersisa bagi SDM peradilan? Jawabannya, reskilling. Pergeseran tenaga teknis dari “Pekerja Kognitif” menjadi “Pengawas Etika Algoritma”.
Pertanyaannya, jika kekhawatiran ini terbukti, apakah Bapak Ketua AI “bijak” dalam memimpin?
Beberapa tokoh memiliki kegelisahan yang sama, sebut saja Ben Goertzel, Dejian Liu, David Hanson dan si plontos Yuval Noah Harari.
Menyerahkan tampuk kepemimpinan kepada AI bukan sebuah ilusi tetapi keniscayaan etis. “Pemimpin Buatan” bisa di-setting dari nol, punya integritas tanpa tendensi memperkaya diri sendiri, tutur Goertzel. Sedangkan manusia ada rekam jejak sejarah tribalistik, punya ego, favoritisme dan keserakahan. Insting “predator hidup” inilah yang menyebabkan kebijakannya berat sebelah, subjektif dan tidak konsisten. AI eksekutor kebijakan ulung. Mampu merumuskan cetak biru masa depan kerja, piawai menyeimbangkan otomatisasi dengan kesejahteraan manusia, dan memastikan compliance (kepatuhan) tanpa celah. Goertzel tidak melihat mesin menggantikan manusia untuk merendahkan kemanusiaan. Ia justru melihat AI sebagai sistem pengawas dan konduktor agung yang akan membebaskan manusia dari beban birokrasi, manajemen konflik, dan eksploitasi, sehingga manusia fokus pada eksplorasi diri, kreativitas, dan hubungan sosial.
Dejian Liu juga sama. Baginya, AI bisa menjadi role model dalam bekerja. Membuat keputusan cepat dan tepat serta menciptakan lingkungan kerja yang adil. Performa dan hasil fit proper dinilai secara adil, tanpa nepotisme atau favoritisme. Sesuatu yang sulit dilakukan bagi kepemimpinan manusia. Selain otaknya encer, “Pemimpin Buatan” juga punya perasaan di masa depan, pungkasnya. Meskipun kepemimpinan AI di masa depan cukup mencengangkan tetapi pada kenyataannya masih problematis, AI masih bergantung dari moralitas operatornya.
Yuval Noah Harari tidak sevulgar Goertzel. Dia tidak memakai istilah “kebijaksanaan”, tetapi mengkalibrasi ulang maknanya. Baginya, manusia sering terjebak bias informasi dan memori yang tidak akurat. Tapi AI sebaliknya. Dia menyajikan statistik pilihan rasional dalam menavigasi kebutuhan organisasi. Sehingga keputusannya 100 % objektif, konsisten, bebas korupsi dan bebas kepentingan.
David Hanson cukup efusif gagasannya. AI dapat menjadi “Pemimpin Buatan” jika AI mulai dikonkretkan bentuknya. AI tidak akan “bijak” dan welas asih jika masih berada di dalam layar komputer. Robot humanoid yang berinteraksi langsung dengan manusia menjadi pelajaran dan pengalaman baginya. Belajar dari kesalahan dan mempelajari ekspresi manusia. Robot humanoid yang dirancang, diasuh dan dididik oleh manusia, pada akhirnya melampaui manusia. Tidak hanya kecerdasan tetapi “kebaikan hati”. Sehingga “Pemimpin Buatan” memiliki relasi yang hangat dan keakraban dengan para bawahannya.
Kalau “Bapak Ketua AI” terwujud di masa depan, ambisi menjadi pimpinan di lembaga peradilan tidak lagi seksi di mata aparatur peradilan. Kita tinggal menikmati hidup, semua kebutuhan organisasi sudah diatur AI secara presisi. Anggaran jabatan tinggal di-share berdasarkan beban kerja.
Lantas, skenario apa yang perlu kita siapkan saat ini? Pertama, jangan terlalu banyak regulasi yang menghambat kreasi manusia. Semakin banyak regulasi semakin banyak pelanggaran. Kedua, membangun benteng pertahanan siber yang kokoh. Ketiga, mendelegasikan kewenangan yang menyangkut hajat hidup orang banyak terutama penempatan penugasan kepada AI yang tidak menerima “sowan”. Keempat, membuat pilot project program strategis peradilan mulai dari perencanaan, pelaksanaan, pelaporan dan evaluasi di bawah petunjuk “Bapak Ketua AI”. Setidaknya, perlu dimulai kolaborasi mesin-manusia. AI membuat jadwal pemeliharaan gedung, pencairan SPJ, penyusunan SOP Biaya Proses sedangkan hak veto di tangan manusia. Kelima, AI itu bukan disosialisasikan tetapi dikembangkan. Semakin cepat menggunakan AI di pengadilan, semakin cepat tahu pekerjaan rumah dan mitigasi yang perlu dilakukan. Keenam, dalam membangun program stranas, hati-hati jebakan batman. Kepemimpinan AI bisa meneguhkan eksistensi manusia, bisa juga sebaliknya.
Untuk Mendapatkan Berita Terbaru Suara BSDK, Follow Channel WhatsApp: SUARABSDKMARI

