Close Menu
Suara BSDKSuara BSDK
  • Beranda
  • Artikel
  • Berita
  • Features
  • Sosok
  • Filsafat
  • Roman
  • Satire
  • Video
  • Liputan Khusus

Subscribe to Updates

Get the latest creative news from FooBar about art, design and business.

What's Hot

Mempererat Silaturahmi dan Menjaga Kebugaran: Kemeriahan Senam Pagi Bersama di Gedung Sekretariat Mahkamah Agung RI

November 6, 2026

Dilmil IV-16 Balikpapan Jalin Sinergi dengan SMKN 1 Balikpapan, Buka Peluang PKL dan Edukasi Hukum Bagi Generasi Muda

November 6, 2026

Hakim Anak Dibekali Pemahaman Hak Anak, Pekerja Sosial Kemensos: “Orang Tua Jangan Hanya Sibuk Cari Uang”

November 6, 2026
Instagram YouTube
Suara BSDKSuara BSDK
  • Beranda
  • Artikel
  • Berita
  • Features
  • Sosok
  • Filsafat
  • Roman
  • Satire
  • Video
  • Liputan Khusus
Suara BSDKSuara BSDK
  • Beranda
  • Artikel
  • Berita
  • Features
  • Sosok
  • Filsafat
  • Roman
  • Satire
  • Video
  • Liputan Khusus
Home » Sui Generis Kekhususan Pengadilan Pajak dan Hakim Ad Hoc Pajak dalam Kekuasaan Kehakiman Indonesia

Sui Generis Kekhususan Pengadilan Pajak dan Hakim Ad Hoc Pajak dalam Kekuasaan Kehakiman Indonesia

Agus SuharsonoBy Agus SuharsonoJanuary 18, 2026 · 21:30 WIB10 Mins Read1 Comment
Share
Facebook Twitter Threads Telegram WhatsApp

Pendahuluan

Wacana reformasi peradilan di Indonesia kerap berangkat dari kehendak penyeragaman struktur kelembagaan demi efisiensi dan perluasan akses keadilan. Dalam konteks tersebut, pengadilan khusus dan keberadaan hakim ad hoc acap diposisikan secara seragam, bahkan diajukan sebagai objek penghapusan. Pendekatan generalisasi ini, meskipun dimaksudkan untuk menyederhanakan sistem, berpotensi mengabaikan diferensiasi kelembagaan yang secara konstitusional justru diakui dan dilembagakan dalam desain kekuasaan kehakiman.

Pasal 24 UUD 1945 membuka ruang diferensiasi peradilan melalui pembentukan pengadilan khusus yang diatur dengan undang‑undang. Diferensiasi ini dirancang sebagai respons terhadap kompleksitas perkara modern yang menuntut keahlian tertentu. Dalam kerangka tersebut, Pengadilan Pajak menempati posisi yang khas (sui generis), baik dari segi kompetensi, hukum acara, maupun desain hakimnya. Oleh karena itu, memperlakukan Pengadilan Pajak semata‑mata sebagai bagian dari kategori umum “pengadilan khusus” tanpa penilaian kontekstual berisiko mengarahkan reformasi pada kebijakan yang kurang tepat sasaran.

Tulisan ini bertujuan menunjukkan bahwa Pengadilan Pajak dan hakim ad hoc pajak memiliki karakteristik yang berbeda secara konseptual dan fungsional. Kekhususan hakim ad hoc pajak lahir dari kebutuhan yudisial akan keahlian yang khusus, karena keahlian perpajakan secara umum sudah merupakan kompetensi Hakim Pengadilan Pajak karier.  Dengan demikian, kritik terhadap pengadilan khusus dan hakim ad hoc perlu diletakkan dalam kerangka analisis yang lebih diferensiatif.

Pengadilan Pajak sebagai Pengadilan Khusus

Secara normatif, Pengadilan Pajak tegas dikualifikasikan sebagai pengadilan khusus dalam sistem kekuasaan kehakiman Indonesia. Undang‑Undang Nomor 48 Tahun 2009 tentang Kekuasaan Kehakiman mendefinisikan pengadilan khusus sebagai pengadilan yang dibentuk untuk memeriksa, mengadili, dan memutus perkara tertentu dalam salah satu lingkungan peradilan di bawah Mahkamah Agung. Dalam penjelasan Pasal 27 ayat (1) undang‑undang tersebut, Pengadilan Pajak secara eksplisit ditempatkan dalam lingkungan Peradilan Tata Usaha Negara.

Kekhususan ini diperkuat oleh Undang‑Undang Nomor 14 Tahun 2002 tentang Pengadilan Pajak yang memberikan kompetensi absolut kepada Pengadilan Pajak untuk memeriksa dan memutus sengketa pajak. Undang‑undang ini juga menetapkan bahwa Pengadilan Pajak berfungsi sebagai pengadilan tingkat pertama dan terakhir, dengan hukum acara tersendiri yang terlepas dari hukum acara Pengadilan Tata Usaha Negara. Dengan demikian, Pengadilan Pajak tidak sekadar merupakan variasi dari Pengadilan Tata Usaha Negara, melainkan lembaga yudisial yang dirancang khusus untuk menangani sengketa fiskal dengan karakter teknis dan ekonomis yang tinggi.

Kekhususan tersebut menunjukkan bahwa keberadaan Pengadilan Pajak didasarkan pada pertimbangan yuridis dan fungsional yang matang. Spesialisasi ini bertujuan menjaga kualitas, konsistensi, dan ketepatan putusan dalam bidang perpajakan. Oleh karena itu, setiap agenda reformasi yang menyamakan Pengadilan Pajak dengan pengadilan khusus lain tanpa memperhatikan basis normatifnya berpotensi mengaburkan rasionalitas pembentukan Pengadilan Pajak.

Hakim Ad Hoc Pajak dan Rasionalitas Keahlian Khusus

Salah satu manifestasi kekhususan Pengadilan Pajak tercermin dalam desain hakimnya, khususnya melalui pengaturan mengenai hakim ad hoc pajak. Undang‑Undang Nomor 14 Tahun 2002 tentang Pengadilan Pajak mengatur secara limitatif kemungkinan penunjukan hakim ad hoc dalam sengketa pajak tertentu yang memerlukan keahlian khusus. Pengaturan ini secara konseptual membedakan hakim ad hoc pajak dari hakim ad hoc pada pengadilan khusus lain yang umumnya diangkat untuk suatu periode jabatan tertentu. Dalam rezim Pengadilan Pajak, hakim ad hoc tidak ditunjuk secara periodik, melainkan bersifat kasuistik, yakni hanya ditugaskan untuk menangani sengketa pajak tertentu dan berakhir seiring dengan selesainya pemeriksaan serta putusan atas sengketa tersebut.

Pengaturan tersebut menunjukkan bahwa sengketa pajak pada umumnya berada dalam lingkup kompetensi hakim Pengadilan Pajak dari kalangan hakim karier. Hakim ad hoc pajak tidak dimaksudkan untuk menggantikan fungsi hakim karier, melainkan untuk melengkapi majelis hakim ketika suatu sengketa menuntut keahlian teknis yang bersifat khusus. Sengketa pajak tertentu kerap melibatkan karakter transaksi bisnis, struktur industri, atau aktivitas ekonomi yang bersifat unik dan kompleks, sehingga pemeriksaannya memerlukan pemahaman teknis yang tidak selalu tercakup dalam latar belakang yudisial hakim karier.

Dalam konteks tersebut, fungsi utama hakim ad hoc pajak adalah memperkaya proses pemeriksaan dan pertimbangan majelis melalui keahlian teknis substantif yang relevan dengan objek sengketa. Kehadiran hakim ad hoc pajak memberikan perspektif keahlian non‑yudisial yang dibutuhkan untuk menautkan norma hukum pajak dengan realitas ekonomi yang menjadi dasar sengketa. Oleh karena itu, hakim ad hoc pajak berperan sebagai instrumen pelengkap keahlian khusus dalam proses adjudikasi, bukan sebagai pengganti atau pesaing hakim Pengadilan Pajak dari kalangan karier.

Baca Juga  Gelap Sunyi Malam Saksi Getir Hakim Daerah Ditengah Keterbatasan

Secara empiris, hingga saat ini belum pernah dilakukan penunjukan hakim ad hoc pajak dalam praktik persidangan di Pengadilan Pajak. Fakta ini menunjukkan bahwa keberadaan pengaturan mengenai hakim ad hoc pajak lebih mencerminkan desain normatif yang bersifat antisipatif terhadap kemungkinan munculnya sengketa pajak dengan tingkat kompleksitas teknis tertentu. Dengan konstruksi demikian, Pengadilan Pajak tetap menempatkan hakim karier sebagai pilar utama peradilan, sekaligus menyediakan mekanisme keahlian tambahan apabila kebutuhan yudisial secara objektif menghendakinya.

Kekeliruan Analogi terhadap Kritik Hakim Ad Hoc

Kritik terhadap keberadaan hakim ad hoc pada umumnya berangkat dari kekhawatiran akan potensi bias yang bersumber dari latar belakang sosial, profesional, atau kepentingan tertentu. Kritik semacam ini menemukan relevansinya pada pengadilan khusus yang sejak awal dibangun di atas logika representasi, seperti Pengadilan Hubungan Industrial, di mana hakim ad hoc dimaksudkan untuk mencerminkan kepentingan pihak‑pihak tertentu dalam hubungan kerja. Dalam konteks tersebut, isu keberpihakan dan independensi hakim ad hoc memang patut menjadi perhatian. Namun, menerapkan kerangka kritik yang sama secara langsung terhadap hakim ad hoc pajak mengandung kekeliruan analitis.

Pengadilan Pajak tidak dibangun di atas prinsip keterwakilan kepentingan, melainkan atas kebutuhan fungsional akan keahlian teknis yang bersifat khusus. Sengketa pajak tertentu kerap melibatkan persoalan yang kompleks dan sangat teknis, sehingga ketidakadilan justru berpotensi muncul apabila majelis hakim tidak memiliki pemahaman yang memadai atas karakter transaksi, struktur industri, atau mekanisme fiskal yang dipersengketakan. Dalam konteks ini, kehadiran hakim ad hoc pajak tidak ditujukan untuk membawa kepentingan eksternal ke dalam proses peradilan, melainkan untuk melengkapi kapasitas keahlian majelis hakim dalam menilai sengketa pajak tertentu secara lebih tepat dan proporsional.

Menyamakan hakim ad hoc pajak dengan hakim ad hoc pada pengadilan khusus lainnya berarti mengabaikan perbedaan basis normatif dan tujuan pembentukannya. Generalisasi kritik semacam itu berpotensi melahirkan kebijakan reformasi yang tidak mempertimbangkan kebutuhan substantif penyelesaian sengketa pajak tertentu, serta dapat mengurangi kualitas adjudikasi dalam perkara yang memerlukan keahlian teknis khusus. Oleh karena itu, penunjukan hakim ad hoc pajak seharusnya dipahami dan ditempatkan sebagai mekanisme pelengkap yang bersifat terbatas, kasuistik, dan berbasis kebutuhan objektif, dengan parameter yang selaras dengan fungsi Pengadilan Pajak sebagaimana diatur dalam Undang‑Undang Pengadilan Pajak.

Hakim Karier, Sertifikasi, dan Relasi Komplementer

Peningkatan kapasitas hakim karier melalui pendidikan dan sertifikasi merupakan bagian yang tidak terpisahkan dari agenda reformasi peradilan, termasuk bagi Hakim Pengadilan Pajak karier. Upaya tersebut diperlukan untuk memastikan bahwa hakim memiliki pemahaman hukum pajak yang mutakhir serta kemampuan yudisial yang memadai dalam menghadapi dinamika sengketa perpajakan yang terus berkembang. Namun demikian, dalam konteks Pengadilan Pajak, peningkatan kapasitas hakim karier tersebut tidak dapat diposisikan sebagai pengganti sepenuhnya terhadap peran hakim ad hoc pajak. Undang‑Undang Nomor 14 Tahun 2002 secara tegas memberikan ruang bagi penunjukan hakim ad hoc pajak dalam sengketa pajak tertentu yang memerlukan keahlian khusus, yang menunjukkan bahwa pengaturannya bersifat fungsional dan kasuistik, bukan struktural maupun periodik.

Hakim ad hoc pajak hadir untuk melengkapi hakim karier yang pada dasarnya telah memiliki kompetensi hukum pajak, dengan membawa pengetahuan dan keahlian teknis yang spesifik ke dalam proses musyawarah majelis hakim dalam perkara tertentu. Keahlian tersebut dibutuhkan terutama ketika sengketa pajak menyangkut aspek teknis yang kompleks dan khas, seperti karakteristik industri tertentu, struktur transaksi bisnis yang tidak lazim, atau persoalan fiskal yang memerlukan pemahaman lintas disiplin. Dalam hubungan ini, relasi antara Hakim Pengadilan Pajak karier dan hakim ad hoc pajak bersifat komplementer, bukan substitutif, karena masing‑masing menjalankan fungsi yang berbeda namun saling melengkapi dalam mencapai kualitas putusan yang optimal.

Dengan konfigurasi demikian, tujuan utama pengaturan mengenai hakim ad hoc pajak bukanlah untuk memperbanyak jenis atau kategori hakim dalam Pengadilan Pajak, melainkan untuk memastikan presisi adjudikasi ketika suatu perkara menuntut kedalaman keahlian tertentu di luar kompetensi yudisial umum. Model ini mencerminkan upaya menjaga keseimbangan antara profesionalisme yudisial hakim karier dan kebutuhan akan spesialisasi substantif dalam penyelesaian sengketa pajak tertentu. Dalam kerangka kekuasaan kehakiman, pendekatan tersebut sejalan dengan prinsip peradilan yang efektif dan adil, yaitu peradilan yang tidak hanya independen secara kelembagaan, tetapi juga mampu memberikan putusan yang tepat dan beralasan secara substantif sesuai dengan kompleksitas perkara yang diperiksa.

Baca Juga  Rekor Baru PA Baturaja: Sengketa Waris Fantastis Berakhir Damai di Ruang Mediasi

Posisi Pengadilan Pajak Pasca Putusan Mahkamah Konstitusi

Perdebatan mengenai eksistensi Pengadilan Pajak dan pengaturan hakim ad hoc pajak kerap diarahkan pada persoalan kekhususan kelembagaan. Dalam berbagai diskursus reformasi peradilan, kekhususan tersebut sering dipandang sebagai anomali yang perlu diseragamkan. Namun, Mahkamah Konstitusi melalui Putusan Nomor 26/PUU‑XXI/2023 menegaskan bahwa titik persoalan yang sesungguhnya bukan terletak pada ada atau tidaknya kekhususan Pengadilan Pajak, melainkan pada desain pembinaan kelembagaan yang selama ini masih bersifat dualistis. Menurut Mahkamah, pembagian pembinaan organisasi, administrasi, dan keuangan yang sebagian masih berada dalam ranah eksekutif berpotensi mengurangi independensi peradilan sebagai salah satu pilar negara hukum.

Penegasan tersebut diwujudkan secara konkret dalam amar putusan Mahkamah Konstitusi yang menyatakan frasa “Departemen Keuangan” dalam Pasal 5 ayat (2) Undang‑Undang Nomor 14 Tahun 2002 tentang Pengadilan Pajak bertentangan dengan Undang‑Undang Dasar Negara Republik Indonesia Tahun 1945 secara bersyarat. Mahkamah menentukan bahwa frasa tersebut harus dimaknai menjadi “Mahkamah Agung”, dengan tenggat waktu implementasi paling lambat 31 Desember 2026. Putusan ini sekaligus mengafirmasi kedudukan Pengadilan Pajak sebagai bagian dari kekuasaan kehakiman yang berada di bawah Mahkamah Agung, serta mengarahkan agenda reformasi peradilan pada penyempurnaan desain institusional yang konsisten dengan prinsip kemandirian peradilan.

Implikasi lebih lanjut dari putusan tersebut adalah perlunya integrasi pembinaan Pengadilan Pajak ke dalam kerangka one roof system di bawah Mahkamah Agung. Integrasi ini dimaksudkan untuk memastikan kesatuan pembinaan yudisial, organisasi, administrasi, dan keuangan, tanpa mengurangi kekhususan substansial Pengadilan Pajak sebagai pengadilan khusus. Dengan demikian, arah reformasi yang tepat bukanlah penghapusan Pengadilan Pajak atau penyamaan secara simplifikatif dengan pengadilan lain, melainkan penataan kelembagaan yang menjamin independensi, akuntabilitas, dan kualitas putusan dalam penyelesaian sengketa fiskal.

Dalam konteks tersebut, penting pula ditegaskan kedudukan hakim pada Pengadilan Pajak. Meskipun Pengadilan Pajak merupakan pengadilan khusus, hakimnya pada hakikatnya adalah hakim karier dalam lingkungan kekuasaan kehakiman. Keberadaan hakim ad hoc pajak secara normatif tidak dimaksudkan sebagai pengganti hakim karier, melainkan sebagai unsur komplementer yang berbasis pada kebutuhan penanganan sengketa pajak tertentu yang memerlukan keahlian teknis khusus. Pengaturan ini menunjukkan bahwa penggunaan hakim ad hoc bersifat fungsional dan kasuistik, bukan berbasis periode waktu atau pemeriksaan sengketa pajak secara umum. Dengan konstruksi demikian, desain Pengadilan Pajak tetap menjaga keseimbangan antara profesionalisme yudisial dan kebutuhan akan spesialisasi teknis, sejalan dengan prinsip-prinsip independensi dan efektivitas peradilan.

Penutup

Pengadilan Pajak dan pengaturan mengenai hakim ad hoc pajak memiliki karakter sui generis yang tidak dapat diperlakukan secara seragam dengan pengadilan khusus maupun hakim ad hoc dalam pengadilan khusus lainnya. Kekhususan tersebut tidak lahir dari pertimbangan representatif atau kompromi kebijakan, melainkan dari kebutuhan yudisial yang objektif akan keahlian teknis tertentu dalam penyelesaian sengketa pajak yang bersifat spesifik dan kompleks. Oleh karena itu, pendekatan reformasi yang didasarkan pada generalisasi terhadap seluruh pengadilan khusus berpotensi menyimpang dari tujuan pembaruan apabila tidak dilandasi analisis normatif dan kontekstual yang memadai.

Reformasi peradilan yang berorientasi pada peningkatan kualitas keadilan menuntut ketelitian konseptual dalam membedakan antara persoalan desain kelembagaan dan fungsi yudisial yang dijalankan. Dalam konteks Pengadilan Pajak, penyempurnaan desain kelembagaan melalui integrasi pembinaan di bawah Mahkamah Agung, sebagaimana diarahkan oleh Mahkamah Konstitusi, perlu disertai dengan pemeliharaan relasi yang bersifat komplementer antara hakim Pengadilan Pajak dari kalangan hakim karier dan hakim ad hoc pajak. Hakim ad hoc pajak tetap ditempatkan sebagai instrumen keahlian yang digunakan secara fungsional untuk sengketa pajak tertentu, sementara hakim karier menjalankan fungsi inti peradilan secara berkesinambungan.

Dengan pendekatan demikian, kekhususan Pengadilan Pajak tidak hanya dipertahankan, tetapi juga disempurnakan dalam kerangka kekuasaan kehakiman yang independen dan bertanggung jawab. Penataan kelembagaan yang tepat, disertai pembagian peran hakim yang proporsional dan berbasis keahlian, memungkinkan terciptanya putusan yang lebih adil, berkualitas, dan selaras dengan keadilan substantif. Pada akhirnya, reformasi peradilan di bidang perpajakan hendaknya diarahkan untuk memastikan bahwa independensi peradilan, kompetensi hakim, dan responsivitas terhadap kompleksitas sengketa pajak tetap terjaga sebagai tujuan utama negara hukum.

Agus Suharsono
Kontributor
Agus Suharsono
Hakim Pengadilan Pajak

Untuk Mendapatkan Berita Terbaru Suara BSDK, Follow Channel WhatsApp: SUARABSDKMARI

Hakim Ad Hoc Pajak Kekuasaan Kehakiman mahkamah agung pengadilan khusus Pengadilan Pajak Sengketa Pajak
Share. Facebook Twitter Threads Telegram WhatsApp Copy Link

Related Posts

Notoir Feiten dan Relevansinya Dalam Personalisasi Pengetahuan Era Kini

November 6, 2026

Merawat Etika Hakim di Ruang Sidang Anak

November 5, 2026

Penggunaan Artificial Intelligence dalam Peradilan: Pelajaran dari Pedoman Internasional bagi Mahkamah Agung Indonesia

November 5, 2026

1 Comment

  1. Pingback: Mengenal Kekhususan Pengadilan Pajak - Dudi Wahyudi

Leave A Reply Cancel Reply


Demo
Top Posts

Notoir Feiten dan Relevansinya Dalam Personalisasi Pengetahuan Era Kini

November 6, 2026

Dari FGD hingga Semangkuk Mi Kuah, BSDK Tunjukkan Wajah Pendidikan Peradilan yang Humanis

October 28, 2026

Adu Domba: Bukan Sekedar Adu Kekuatan

October 23, 2026

Asap di Bumi Serambi Makkah: Jauh dari Titik Api, Dekat dengan Ujian Keadilan

October 20, 2026
Don't Miss

Mempererat Silaturahmi dan Menjaga Kebugaran: Kemeriahan Senam Pagi Bersama di Gedung Sekretariat Mahkamah Agung RI

By JohanesNovember 6, 20260

Jakarta, 6 November 2026 – Sejumlah pejabat dan pegawai di lingkungan Gedung Sekretariat Mahkamah Agung…

Dilmil IV-16 Balikpapan Jalin Sinergi dengan SMKN 1 Balikpapan, Buka Peluang PKL dan Edukasi Hukum Bagi Generasi Muda

November 6, 2026

Hakim Anak Dibekali Pemahaman Hak Anak, Pekerja Sosial Kemensos: “Orang Tua Jangan Hanya Sibuk Cari Uang”

November 6, 2026

Notoir Feiten dan Relevansinya Dalam Personalisasi Pengetahuan Era Kini

November 6, 2026
Stay In Touch
  • YouTube
  • TikTok
  • WhatsApp
  • Twitter
  • Instagram
Top Trending
Demo

Recent Posts

  • Mempererat Silaturahmi dan Menjaga Kebugaran: Kemeriahan Senam Pagi Bersama di Gedung Sekretariat Mahkamah Agung RI
  • Dilmil IV-16 Balikpapan Jalin Sinergi dengan SMKN 1 Balikpapan, Buka Peluang PKL dan Edukasi Hukum Bagi Generasi Muda
  • Hakim Anak Dibekali Pemahaman Hak Anak, Pekerja Sosial Kemensos: “Orang Tua Jangan Hanya Sibuk Cari Uang”
  • Notoir Feiten dan Relevansinya Dalam Personalisasi Pengetahuan Era Kini
  • Ini Empat Lembaga Penting bagi Anak Berhadapan dengan Hukum

Recent Comments

  1. Aman on Kejahatan Siber: Hakim Harus Cermat Menguji Bukti
  2. Dr. Sakwanah on Ketua MS Aceh Apresiasi Pelatihan BSDK, Harapkan Diklat Khusus Hukum Acara Jinayat
  3. Herman on Di Balik Mangrove, Ada Keadilan yang Harus Diperjuangkan
  4. Abdul Mustopa on MOVE!
  5. Rizka on Problematika Pelaksanaan Eksekusi Pembayaran Sejumlah Uang Terhadap Objek Jaminan Berupa Benda Bergerak
Hubungi Kami

Badan Strategi Kebijakan dan Pendidikan dan Pelatihan Hukum dan Peradilan Hukum dan Peradilan
Mahkamah Agung RI

Kantor: Jl. Cikopo Selatan Desa Sukamaju, Kec. Megamendung
Bogor, Jawa Barat 16770

Kirimkan reportase berita, opini, features dan artikel lainnya ke email suarabsdk.com : 
redpelsuarabsdk@gmail.com

Telepon: (0251) 8249520, 8249522, 8249531, 8249539

Kategori
Beranda Artikel Berita Features Sosok KRITERIA TULISAN
Filsafat Roman Satire Video BALACADAS
Connect With Us
  • Instagram
  • YouTube
  • WhatsApp
Aplikasi Internal
Logo 1 Logo 2 Logo 3 Logo 3 Logo 5
Logo 4 Logo 4 Logo 4 Logo 5 Logo 5 Logo 5
Kontributor
  • Avatar photo Ahmad Junaedi
  • Avatar photo Mohammad Khairul Muqorobin
  • Avatar photo Aman
  • Avatar photo Irvan Mawardi
  • Avatar photo Cecep Mustafa
  • Avatar photo Yudhistira Ary Prabowo
  • Avatar photo Khoiruddin Hasibuan
  • Avatar photo Ari Gunawan
  • Avatar photo Muamar Azmar Mahmud Farig
  • Avatar photo Syailendra Anantya Prawira
  • Avatar photo Ghesa Agnanto Hutomo
  • Avatar photo Johanes
  • Avatar photo Muhammad Rizqi Hengki
  • Avatar photo Agus Digdo Nugroho
  • Avatar photo Syamsul Arief
  • Avatar photo Jatmiko Wirawan
  • Avatar photo Timbul Bonardo Siahaan
  • Avatar photo Muhammad Adiguna Bimasakti
  • Avatar photo Syihabuddin
  • Avatar photo Dahlan Suherlan
  • Avatar photo Muhammad Zuchri Nasuha Lubis
  • Avatar photo Taufikurrahman
  • Avatar photo Cik Basir
  • Avatar photo Zulfahmi
  • Avatar photo Maria Fransiska Walintukan
  • Avatar photo M. Natsir Asnawi
  • Avatar photo Unggul Senoaji
  • Avatar photo Anton Ahmad Sogiri
  • Avatar photo Bagus Partha Wijaya
  • Avatar photo Abdi Munawar Daeng Mangagang
  • Avatar photo Adji Prakoso
  • Avatar photo Bintoro Wisnu Prasojo
  • Avatar photo Yoshito Siburian
  • Avatar photo Galang Adhe Sukma
  • Avatar photo Iqbal Lazuardi
  • Avatar photo Sriti Hesti Astiti
  • Avatar photo Ahmad Syahrus Sikti
  • Avatar photo Abdul Azis Ali Ramdlani
  • Avatar photo Harun Maulana
  • Avatar photo Layla Windy Puspita Sari
  • Avatar photo Muhammad Hanif Ramadhan
  • Avatar photo Anisa Yustikaningtiyas
  • Avatar photo Binsar Parlindungan Tampubolon
  • Avatar photo Ferdian Permadi
  • Avatar photo Ganjar Prima Anggara
  • Avatar photo I Gusti Lanang Ngurah Sidemen Putra
  • Avatar photo Eliyas Eko Setyo
  • Avatar photo Firzi Ramadhan
  • Avatar photo Itsnaatul Lathifah
  • Avatar photo Jarkasih
  • Avatar photo Sudiyo
  • Avatar photo Afifah Dwiandini
  • Avatar photo Buang Yusuf
  • Avatar photo Febby Fajrurrahman
  • Avatar photo Garin Purna Sanjaya
  • Avatar photo Marulam J Sembiring
  • Avatar photo Tri Indroyono
  • Avatar photo Letkol Chk Agustono, S.H., M.H.
  • Avatar photo Ardiansyah Iksaniyah Putra
  • Avatar photo Henri Setiawan
  • Avatar photo Irene Cristna Silalahi
  • Avatar photo Marsudin Nainggolan
  • Avatar photo Maulana Aulia
  • Avatar photo Riki Perdana Raya Waruwu
  • Avatar photo Siti Nadhiroh
  • Avatar photo Dr. Syofyan Iskandar, S.H., M.H.
  • Avatar photo Muhamad Zaky Albana
  • Avatar photo Fauzan Prasetya
  • Avatar photo Irwan Rosady
  • Avatar photo Khoiriyah Roihan
  • Avatar photo Redaktur SuaraBSDK
  • Avatar photo Yasin Prasetia
  • Avatar photo Audrey Kartika Putri
  • Avatar photo Cok Istri Bhagawanthi Pemayun
  • Avatar photo Eddy Daulatta Sembiring
  • Avatar photo Fitriyel Hanif
  • Avatar photo Gerry Michael Purba
  • Avatar photo K.G. Raegen
  • Avatar photo Rafi Muhammad Ave
  • Avatar photo Rangga Lukita Desnata
  • Avatar photo Rikatama Budiyantie
  • Avatar photo Silveria Supanti
  • Avatar photo Sugiarto
  • Avatar photo Teguh Setiyawan
  • Avatar photo Achmad Fikri Oslami
  • Avatar photo Agenda Citra Muhammad
  • Avatar photo Ahmad Fuad Noor Ghufron
  • Avatar photo Achmad Nurul Huda
  • Avatar photo Andro Riski Pradipta
  • Avatar photo Anggi Permana
  • Avatar photo Ang Rijal Amin
  • Avatar photo Armansyah
  • Avatar photo Azalia Purbayanti Sabana
  • Avatar photo David Pasaribu
  • Avatar photo Dedi Putra
  • Avatar photo Dewi Maharati
  • Avatar photo Edi Hudiata
  • Avatar photo Gerry Geovant Supranata Kaban
  • Avatar photo Herjuna Praba Wiesesa
  • Avatar photo Hermanto
  • Avatar photo Indarka PP
  • Avatar photo Muhamad Fadillah
  • Avatar photo Nugraha Medica Prakasa
  • Avatar photo Ria Marsella
  • Avatar photo Rizal Arif Fitria
  • Avatar photo Sadana
  • Avatar photo Sahram
  • Avatar photo Saut Erwin Hartono A. Munthe
  • Avatar photo Yusuf Sodhiqin
  • Avatar photo Achmad Pratomo
  • Avatar photo Dr. H. Achmad Setyo Pudjoharsoyo., SH., M.Hum
  • Avatar photo Ahmad Muzayyin Destuladoe
  • Avatar photo Ahmad Faiz Shobir Alfikri
  • Avatar photo Ahmad Farhan Subhi
  • Avatar photo Arie Fitriansyah
  • Avatar photo Arie Guntoro
  • Avatar photo Bismo Jiwo Agung
  • Avatar photo Dharma Setiawan Negara
  • Avatar photo Epri Wahyudi
  • Avatar photo Fajar Widodo
  • Avatar photo Fariz Prasetyo Aji
  • Avatar photo Fauzan Arrasyid
  • Avatar photo Fauzia Rohmah
  • Avatar photo Febry Indra Gunawan Sitorus
  • Avatar photo Hartanto Ariesyandi
  • Avatar photo Mardi Candra
  • Avatar photo Muhammad Irfan Syahputra
  • Avatar photo Muhammad Amin Putra
  • Avatar photo Niko Wijaya
  • Avatar photo Putra Nova A.S
  • Avatar photo Raden Heru Wibowo Sukaten
  • Avatar photo Rahmad Ramadhan Hasibuan
  • Avatar photo Satria Perdana
  • Avatar photo Trisoko Sugeng Sulistyo
  • Avatar photo Umar Dani
  • Avatar photo Wahyu Budi Santoso
  • Avatar photo Wilmar Ibni Rusydan
  • Avatar photo Abdul Hadi
  • Avatar photo Abiandri Fikri Akbar
  • Avatar photo Abi Zaky Azizi
  • Avatar photo Adimas Leo Firmansah
  • Avatar photo Agus Suharsono
  • Avatar photo Andi Akram
  • Avatar photo Anggiyansyah Nurmanta
  • Avatar photo Arsyawal
  • Avatar photo Ashhab Triono
  • Avatar photo Aulia Rochmani Lazuardi
  • Avatar photo Bagus Sujatmiko
  • Avatar photo Bayu Akbar Wicaksono
  • Avatar photo Chandra Khoirunnas
  • Avatar photo Cuhandi
  • Avatar photo Daniel H. Napitupulu
  • Avatar photo Deka Rachman Budihanto
  • Avatar photo Dendi Sutiyoso
  • Avatar photo Dhea Sutaryana
  • Avatar photo Enrico Simanjuntak
  • Avatar photo Fadhilah Fauzan, S.H.
  • Avatar photo Fahri Gunawan Siagian
  • Avatar photo Fauziah Rahmah
  • Avatar photo Fery Rochmad Ramadhan
  • Avatar photo Ida Masnita Sigalingging
  • Avatar photo Idik Saeful Bahri
  • Avatar photo Imaniar
  • Avatar photo Karell Mawla Ibnu Kamali
  • Avatar photo Khalilurrahman
  • Avatar photo Khoirul Anwar
  • Avatar photo Mentari Wahyudihati
  • Avatar photo Misbah
  • Avatar photo Muhamad Ridwan
  • Avatar photo Muhammad Fadllullah
  • Avatar photo Muhamad Iqbal
  • Avatar photo Nia Chasanah
  • Avatar photo Novritsar Hasintongan Pakpahan
  • Avatar photo Nugraha Wisnu Wijaya
  • Avatar photo Pandu Pradana Wicaksono, S.H.
  • Avatar photo Raden Anggara Kurniawan
  • Avatar photo Rahimulhuda Rizki Alwi
  • Avatar photo Ranggi Adiwangsa Yusron
  • Avatar photo Rifda Aprilia Rusfayanti
  • Avatar photo Muhammad Rijaldy Alwy
  • Avatar photo Rohim
  • Avatar photo Romi Hardhika
  • Avatar photo Samsul Zakaria
  • Avatar photo Siti Anis
  • Avatar photo Sri Nurmina Sari
  • Avatar photo Stefanus Dwi Putra Medisa
  • Avatar photo Sugiri Wiryandono
  • Avatar photo Tri Cahya Indra Permana
  • Avatar photo Yudhi Reksa Perdana
  • Avatar photo Abdul Ghani
  • Avatar photo Ach. Jufri
  • Avatar photo Achmad Cholil
  • Avatar photo Adhlan Fadhilla Ahmad
  • Avatar photo Afif Muchshon
  • Avatar photo Ahmad Efendi
  • Avatar photo Ahmad Hodri
  • Avatar photo Ahmad Rikfi Fuadi
  • Avatar photo Ahmad Rizza Habibi
  • Avatar photo Aidil Akbar
  • Avatar photo Alep Priyoambodo
  • Avatar photo Alfajar Nugraha
  • Avatar photo Ali Sobirin
  • Avatar photo Andi Amirah Humairah Ya'kub
  • Avatar photo Anang Riyan Ramadianto
  • Avatar photo Anderson Peruzzi Simanjuntak
  • Avatar photo Andhika Prayoga
  • Avatar photo Andi Muhammad Galib
  • Avatar photo Andi Aswandi Tashar
  • Avatar photo Andrie Gunawan
  • Avatar photo Anna Yulina
  • Avatar photo Annisa Nur Alam
  • Avatar photo Antok Wibowo
  • Avatar photo Arga Febrian
  • Avatar photo Ariansyah
  • Avatar photo Arief Sapto Nugroho
  • Avatar photo Mayor Chk Arif Dwi Prasetyo
  • Avatar photo Aryaniek Andayani
  • Avatar photo Asep Ridwan Hotoya
  • Avatar photo Bella Puspitawati
  • Avatar photo Bellina Gamelia Sembiring Kembaren
  • Avatar photo Billy Saut Mangoloi
  • Avatar photo Bilma Diffika
  • Avatar photo Bony Daniel
  • Avatar photo Budi Hermanto
  • Avatar photo Budi Suhariyanto
  • Avatar photo Chandra
  • Avatar photo Christopher Hutapea
  • Avatar photo Daniel Saputra
  • Avatar photo Danny Agus Setiyanto
  • Dedi Wigandi
  • Avatar photo Devita Aulia
  • Avatar photo Dismas Lukito Ornasto
  • Avatar photo Djoni Witanto
  • Avatar photo Effendi Mukhtar
  • Avatar photo Egia Rasido Tarigan
  • Avatar photo Eka Sentausa
  • Avatar photo Engli Thirta Satria
  • Avatar photo Enos Syahputra Sipahutar, S.H., M.H.
  • Avatar photo Dr. Fahmiron
  • Avatar photo Fahri Bachmid
  • Avatar photo Fahri Soleh
  • Avatar photo Fakhir Tashin Baaj
  • Avatar photo Farhan Al Faris
  • Avatar photo Fatkul Mujib, S.H.I., M.H.
  • Avatar photo Dr. Fauziati, S.Ag., M.Ag
  • Avatar photo Febriansyah Rozarius
  • Avatar photo Friska Ariesta Aritedi
  • Avatar photo Gineng Pratidina
  • Avatar photo Hanry Ichfan Adityo
  • Avatar photo Peltu Hartono
  • Avatar photo Hastuti
  • Avatar photo Hendro Yatmoko
  • Humas Pengadilan Negeri Sidoarjo
  • Avatar photo Ibnu Abas Ali
  • Avatar photo Ichsan Muhammad
  • Avatar photo I Made Sukadana
  • Indra Tua Hasangapon Harahap
  • Avatar photo Intan Widiastuti
  • Avatar photo Ira Soniawati
  • Avatar photo Irfan Dibar
  • Avatar photo Muhammad Irfansyah
  • Avatar photo Letkol Kum Irwan Tasri, S.H., M.H., M.Han.
  • Avatar photo Iwan Lamganda Manalu
  • Avatar photo Jerymia Seky Tanaem
  • Avatar photo Jimmy Maruli Alfian
  • Avatar photo Jusran Ipandi
  • Avatar photo Kadek Dwi Krisna Ananda
  • Avatar photo Khaimi
  • Avatar photo Khoerul Umam
  • Avatar photo Linora Rohayu
  • Avatar photo Made Passek Reza Swandira
  • Avatar photo Marta Satria Putra
  • Avatar photo Marwan Ibrahim Piinga
  • Avatar photo Marwanto
  • Avatar photo Marzha Tweedo Dikky Paraanugrah
  • Avatar photo Maulia Martwenty Ine
  • Avatar photo Mira Maulidar
  • Avatar photo Misbahul Anwar
  • Avatar photo Muhamad Deni Saputra
  • Avatar photo Muhamad Ainun Najib
  • Avatar photo Muhamad Ilham Azizul Haq
  • Avatar photo Muhamad Saptari
  • Avatar photo Muhammad Muhyi Arrasyid, S.Psi.
  • Avatar photo Muhammad Bagus Tri Prasetyo
  • Avatar photo Muhammad Yusuf
  • Avatar photo Murdian
  • Avatar photo Nadia Yurisa Adila
  • Avatar photo Nisrina Irbah Sati
  • Avatar photo Noak Mispa Sianturi
  • Avatar photo Noor Ichwan Ichlas Ria Adha
  • Avatar photo Novtri Nelli
  • Avatar photo Letkol CHK Nur Sakdi, S.H, M.H.
  • Avatar photo Nur Latifah Hanum
  • Avatar photo Piput Milandsari
  • Avatar photo Pita Permatasari
  • Avatar photo H .A.S Pudjoharsoyo
  • Avatar photo Putri Pebrianti
  • Avatar photo R. Deddy Harryanto
  • Avatar photo Radityo Muhammad Harseno
  • Avatar photo Rahmi Fattah
Lihat semua kontributor →

Type above and press Enter to search. Press Esc to cancel.