SUARA BSDK — Rabu, 28 Oktober 2026, menjadi hari yang cukup istimewa bagi Badan Strategi Kebijakan dan Pendidikan dan Pelatihan Hukum dan Peradilan Mahkamah Agung RI (BSDK MA). Seusai pelaksanaan upacara peringatan Hari Sumpah Pemuda ke-98, sekitar pukul 08.45 WIB, BSDK menerima kunjungan tim Kementerian Koordinator Bidang Politik dan Keamanan melalui Asisten Deputi Koordinasi Penegakan Hukum yang bekerja sama dengan Persada Academy for Justice Reform.
Rombongan yang dipimpin oleh Ladito Risang Bagaskoro, S.H., M.H., bersama tim tersebut diterima oleh Koordinator Hakim Yustisial Peradilan Umum, R. Heru Wibowo Sukaten, S.H., M.H., didampingi para hakim yustisial yaitu Mayor Laut (H) Ahmad Junaedi, S.H., M.H., Syihabuddin, S.H., M.H. dan Dr. Eddy Daulatta Sembiring, S.H., M.H. serta didampingi Kabid Program dan Kabid Penyelenggara BSDK. Kunjungan ini bukan sekadar silaturahmi kelembagaan, melainkan bagian dari upaya menghimpun masukan untuk penyusunan Kajian Komprehensif Standar Kurikulum Pendidikan dan Pelatihan Lintas Lembaga Penegak Hukum.
Dalam forum diskusi kelompok terarah atau focus group discussion (FGD), pembahasan diarahkan pada kondisi penyelenggaraan pendidikan dan pelatihan aparat penegak hukum, mulai dari aspek regulasi, tata kelola kelembagaan, kurikulum, standar kompetensi, metode pembelajaran, hingga mekanisme evaluasi. Kajian tersebut juga bertujuan mengidentifikasi kesenjangan dan kebutuhan kompetensi bersama (common core competence) sebagai dasar penyusunan rekomendasi harmonisasi standar kurikulum lintas lembaga penegak hukum. Kesamaan kompetensi dipandang penting untuk memperkuat koordinasi dan pemahaman bersama dalam penegakan hukum.

Namun, harmonisasi bukan berarti menyeragamkan seluruh proses pendidikan. Setiap lembaga tetap memiliki karakteristik, kewenangan, dan tanggung jawab profesi yang harus dihormati, termasuk independensi kekuasaan kehakiman. Dengan demikian, standar bersama semestinya menjadi jembatan kolaborasi, bukan instrumen yang mengaburkan perbedaan mandat kelembagaan.
Sekitar pukul 11.30 WIB, FGD berakhir. Akan tetapi, kunjungan hari itu belum selesai. Rombongan kemudian diajak melihat secara langsung sarana dan prasarana pendidikan yang tersedia di lingkungan BSDK. Dari tempat pendidikan dan penginapan peserta yang bersih dan nyaman, ruang transit narasumber, hakim yustisial, serta widyaiswara, hingga lingkungan yang tertata, sejuk, dan dipenuhi beragam jenis tumbuhan, semuanya memberikan gambaran bahwa pendidikan yang berkualitas memerlukan dukungan lingkungan yang memadai.
Suasana alam di kawasan BSDK menjadi nilai tersendiri. Jalur joging yang membentang di antara pepohonan, mata air yang muncul di kawasan bambu, serta kolam ikan menghadirkan suasana yang jauh dari kesan kaku sebuah lingkungan kedinasan. Dalam kunjungan itu, kekaguman rombongan beberapa kali terungkap melalui ungkapan sederhana, “Luar biasa.”
Kesan tersebut semakin kuat ketika rombongan melihat berbagai fasilitas olahraga yang tersedia. Lapangan golf mini, tempat kebugaran, lapangan bulu tangkis, tenis meja, bola voli, futsal, hingga lapangan tenis semi-indoor menjadi bagian dari fasilitas pendukung kegiatan pendidikan dan kebugaran. Dari kawasan lapangan tenis, pemandangan Gunung Pangrango dan Gunung Salak menambah keistimewaan lingkungan BSDK. Fasilitas tersebut bukan semata-mata pelengkap untuk memperindah kawasan, melainkan bagian dari upaya menciptakan lingkungan belajar yang mendukung keseimbangan antara kegiatan intelektual, kesehatan fisik, dan pemulihan pikiran. Pendidikan yang baik memang membutuhkan keseriusan, tetapi keseriusan tidak harus selalu berlangsung dalam suasana yang kaku. Lingkungan yang nyaman dapat membantu peserta membangun konsentrasi, menjaga kebugaran, dan berinteraksi secara lebih terbuka.

Pengalaman yang paling berkesan justru hadir ketika rombongan mengunjungi kebun yang ditanami beragam tanaman, antara lain cabai, terong, talas Bogor, sawi, dan padi. Di kawasan itu juga tersedia kolam pemancingan serta sebuah saung yang sederhana, tetapi tertata apik dan menyatu dengan lingkungan sekitarnya. Di tempat inilah para tamu beristirahat sejenak bersama para hakim yustisial dan pejabat BSDK.
Obrolan berlangsung lebih santai, ditemani kopi dan semangkuk mi kuah hangat yang disajikan dengan telur. Bagi yang menyukai rasa pedas, cabai segar dapat dipetik langsung dari kebun.
Hujan rintik-rintik turun, angin berembus perlahan, dan uap mi mengepul di tengah udara sejuk.
Percakapan yang sebelumnya berlangsung dalam forum resmi kini mencair dalam suasana kebersamaan yang sederhana. Tidak ada kemewahan hidangan, tetapi ada kehangatan yang tidak selalu dapat ditemukan dalam pertemuan formal.
Momen tersebut memperlihatkan sisi lain BSDK yang tidak kalah penting dari kelengkapan fasilitasnya. Di tengah pembicaraan mengenai standar kompetensi, kurikulum, dan harmonisasi pendidikan aparat penegak hukum, kebersamaan di saung kebun menghadirkan ruang untuk saling mengenal sebagai sesama manusia dan rekan pengabdian.
Semangkuk mi kuah mungkin tampak sederhana, tetapi dalam suasana seperti itu, kesederhanaan justru menjadi sumber kenikmatan. Rasa pedas cabai segar, udara yang sejuk, suara hujan, dan percakapan tanpa sekat jabatan membentuk pengalaman yang berkesan bagi para tamu.
Ada pelajaran yang dapat ditarik dari suasana tersebut: kerja sama kelembagaan tidak hanya tumbuh melalui dokumen dan kesepakatan formal, tetapi juga melalui komunikasi yang terbuka, rasa saling menghormati, dan pengalaman bersama yang membangun kepercayaan.
Pada akhirnya, kunjungan Kementerian Koordinator Bidang Politik dan Keamanan bersama Persada Academy for Justice Reform memberikan dua gambaran yang saling melengkapi tentang BSDK MA. Di satu sisi, BSDK menjadi ruang pertukaran gagasan untuk memperkuat kualitas pendidikan dan pelatihan aparat penegak hukum.
Di sisi lain, lingkungan yang asri, fasilitas yang memadai, serta suasana kebersamaan menunjukkan pentingnya pendekatan yang humanis dalam membangun sumber daya manusia peradilan. BSDK tidak hanya dituntut menyiapkan ruang belajar yang baik, tetapi juga menempa manusia yang mampu berpikir jernih, bekerja profesional, dan menjaga integritas.
Inilah semangat CADAS—Cerdas dan Berintegritas—yang harus tumbuh bukan hanya di ruang kelas, melainkan dalam seluruh budaya kerja dan kehidupan kelembagaan. Sebab, pendidikan peradilan yang bermutu tidak hanya menghasilkan aparatur yang mengetahui hukum, tetapi juga manusia yang memahami tanggung jawab, menghargai sesama, dan mampu bekerja bersama demi tegaknya keadilan.
Untuk Mendapatkan Berita Terbaru Suara BSDK, Follow Channel WhatsApp: SUARABSDKMARI


