Close Menu
Suara BSDKSuara BSDK
  • Beranda
  • Artikel
  • Berita
  • Features
  • Sosok
  • Filsafat
  • Roman
  • Satire
  • Video
  • Liputan Khusus

Subscribe to Updates

Get the latest creative news from FooBar about art, design and business.

What's Hot

Menimbang Kembali Pemidanaan Anak: Ketika Perundungan Berujung Kematian

October 31, 2026

Lompatan Mutu Kebijakan Peradilan: BSDK MA RI Evaluasi 30 Naskah Rekomendasi Strategis di Jakarta

October 31, 2026

Di Balik Asap Karhutla: Menelusuri Potensi Pencucian Uang dalam Green Financial Crime

October 31, 2026
Instagram YouTube
Suara BSDKSuara BSDK
  • Beranda
  • Artikel
  • Berita
  • Features
  • Sosok
  • Filsafat
  • Roman
  • Satire
  • Video
  • Liputan Khusus
Suara BSDKSuara BSDK
  • Beranda
  • Artikel
  • Berita
  • Features
  • Sosok
  • Filsafat
  • Roman
  • Satire
  • Video
  • Liputan Khusus
Home » Inspirasi Sang Sahabat

Inspirasi Sang Sahabat

Tri IndroyonoBy Tri IndroyonoJanuary 6, 2026 · 11:33 WIB9 Mins ReadNo Comments
Share
Facebook Twitter Threads Telegram WhatsApp

Sang Sahabat
Aku mengenalnya sejak lama bukan sejak kami duduk sebangku, bukan pula sejak saling bertukar nomor telepon, melainkan sejak aku belajar memahami arti diam yang bekerja dan tindakan yang tidak ingin dipuji. Ia bukan siapa-siapa dalam daftar jabatan, bukan pula nama yang sering disebut dalam sambutan atau laporan tahunan. Tetapi entah mengapa, dalam banyak perkara kehidupan, justru dialah yang paling sering hadir tanpa undangan, tanpa pamrih.

Kami memanggilnya Sang Sahabat.

Ia tidak pernah keberatan dengan sebutan itu, meski aku tahu ia tidak terlalu suka kata yang terlalu besar. “Sahabat itu tugas berat,” katanya suatu hari. “Ia menuntut kejujuran, bahkan ketika kita ingin berbohong pada diri sendiri.”

Kalimat itu menggangguku lama.

Sang Sahabat adalah sosok yang sederhana. Pakaian kerjanya selalu rapi, tetapi tidak pernah mencolok. Sepatunya bersih, tetapi tidak mengkilap berlebihan. Ia datang lebih awal dari banyak orang, pulang lebih akhir dari kebanyakan yang lain. Anehnya, ia tidak pernah terlihat lelah atau mungkin lelahnya disimpan rapi di antara doa-doa yang tidak diucapkan keras-keras.

Jalan Sunyi Sang Sahabat
Dalam sebuah lingkungan yang gemar mengukur keberhasilan dari banyaknya bicara dan cepatnya naik jabatan, Sang Sahabat memilih jalan sunyi: bekerja tanpa banyak suara. Ia tahu benar bahwa tidak semua kebenaran perlu diumumkan, dan tidak semua kebaikan harus disaksikan manusia.

Aku sering bertanya-tanya, dari mana ia belajar semua itu.

Suatu hari, ketika hujan turun tanpa jeda, kami duduk di beranda kecil sambil menunggu waktu Magrib. Hujan di kota ini selalu membawa kenangan tentang doa-doa yang pernah naik bersama uap tanah basah. Aku memberanikan diri bertanya, “Kenapa kamu tidak pernah marah, bahkan ketika diperlakukan tidak adil?”

Ia tersenyum, senyum orang yang sudah lama berdamai dengan dirinya sendiri.

“Karena marah itu mahal,” katanya pelan. “Dan tidak semua hal layak dibayar dengan hati.”

Aku terdiam.

Di zaman ketika orang berlomba menuntut pengakuan, Sang Sahabat justru sibuk memperbaiki niat. Ketika banyak orang sibuk mencari panggung, ia sibuk mencari arah kiblat. Ia tahu benar bahwa hidup ini bukan kompetisi popularitas, melainkan perjalanan pulang.

Namun jangan salah. Ia bukan orang yang pasif. Ia tahu kapan harus bicara, dan lebih tahu kapan harus diam. Dalam rapat, suaranya jarang terdengar pertama. Tetapi ketika ia berbicara, ruangan mendadak hening. Bukan karena suaranya keras, melainkan karena kata-katanya jujur.

Dalam kehidupan sering kali ia sampaikan dengan cara yang paling lembut.

“Lucu ya,” katanya suatu ketika, “orang ingin terlihat paling sibuk, padahal yang paling sibuk seharusnya adalah hati sibuk memperbaiki diri.”

Aku tertawa kecil, meski tahu kalimat itu seperti cermin yang memantulkan wajahku sendiri.

Sang Sahabat tidak menghakimi. Ia tidak gemar memberi nasihat panjang. Tetapi kehadirannya sendiri sudah cukup menjadi pengingat. Ketika seseorang tergoda jalan pintas, ia hadir sebagai rambu yang diam. Ketika seseorang hampir menyerah, ia hadir sebagai kursi kosong yang siap diduduki untuk sekadar menghela napas.

Ia pernah berkata, “Kita ini sering sibuk membenarkan diri, lupa bertanya: apakah Allah ridha?”

Kalimat itu kembali menghantuiku.

Tuhan Tempat Bergantung dan Tempat Kembali
Dalam kehidupan sosial, kita sering memoles dosa dengan istilah-istilah cantik. Keserakahan disebut ambisi, ketidakjujuran disebut keluwesan, dan kelalaian disebut kesibukan. Sang Sahabat melihat semua itu, tetapi tidak dengan sinisme. Ia melihatnya dengan sedih yang produktif, yang melahirkan doa.

Ia percaya bahwa perubahan tidak selalu dimulai dari teriakan, melainkan dari keteladanan. Ia percaya bahwa iman bukan sekadar hafalan, melainkan kebiasaan yang diulang dalam tindakan kecil.

Setiap pagi, sebelum memulai aktivitas, ia selalu menyempatkan diri membaca beberapa ayat. Tidak lama, tidak pula panjang. “Sekadar mengingatkan diri,” katanya, “bahwa aku ini bukan pemilik hari ini.”

Aku sering mengejeknya dalam hati. Dalam dunia yang menuntut kecepatan, kebiasaan itu terasa seperti kemewahan. Tetapi anehnya, justru ia yang paling tenang menghadapi tekanan.

Suatu ketika, ia menjadi sasaran kesalahpahaman. Namanya disebut-sebut dalam bisik-bisik yang tidak enak. Banyak orang menyarankan agar ia membela diri, meluruskan cerita, bahkan menyerang balik. Ia hanya mengangguk.

“Jika aku benar,” katanya, “kebenaran tidak membutuhkan aku untuk berteriak. Jika aku salah, aku yang harus belajar.”

Aku tidak tahu apakah itu keberanian atau kepasrahan tingkat tinggi.

Hari-hari berlalu. Sang Sahabat tetap seperti itu. Dunia di sekelilingnya berubah cepat, penuh kegaduhan, penuh tuntutan instan. Ia tetap berjalan dengan langkah yang sama pelan, tetapi pasti.

Pada suatu malam, aku bertanya, “Apakah kamu tidak takut tertinggal?”

Ia tertawa kecil. “Takut tertinggal dari apa? Dunia ini sementara. Yang menakutkan justru tertinggal dari ampunan.”

Jawaban itu menamparku pelan.

Cerita tentang Konsistensi
Cerita tentang Sang Sahabat sebenarnya bukan cerita tentang kehebatan. Ini cerita tentang konsistensi sesuatu yang sering kita kagumi, tetapi jarang kita tiru. Ia tidak sempurna. Ia pernah kecewa, pernah sedih, pernah merasa sendirian. Tetapi ia tidak membiarkan perasaan itu mengendalikan akhlaknya.

Ia tahu bahwa hidup adalah ujian niat, bukan lomba citra.

Dalam sebuah percakapan terakhir sebelum kami berpisah arah, ia berkata, “Jika suatu hari aku tidak ada, jangan ingat aku sebagai orang baik. Ingat aku sebagai orang yang terus belajar menjadi lebih baik.”

Aku menunduk. Kata-kata itu terasa seperti doa.

Kini, setiap kali aku tergoda untuk mencari jalan mudah, aku teringat Sang Sahabat. Setiap kali aku ingin mengeluh, aku teringat ketenangannya. Setiap kali aku ingin diakui, aku teringat caranya menghilang dari sorotan.

Mungkin itulah makna sahabat yang sesungguhnya: bukan yang selalu ada di samping, tetapi yang selalu hadir dalam keputusan-keputusan penting hidup kita.

Dan mungkin, inspirasi terbesar bukan datang dari mereka yang bersuara paling keras, melainkan dari mereka yang paling khusyuk menjaga hati.

Sang Sahabat telah mengajarkanku satu hal penting:

bahwa hidup yang baik bukan tentang seberapa sering kita dipuji manusia,
tetapi seberapa sering kita jujur di hadapan Tuhan.

Dan sejak itu, aku mulai belajar pelan-pelan menjadi sahabat bagi diriku sendiri.

Tentang Kejujuran, Integritas, dan Keberanian
Beberapa orang menyebutnya naif. Sebagian lain menganggapnya terlalu lurus untuk dunia yang gemar berbelok. Di lorong-lorong sempit tempat keputusan kecil sering berdampak besar, Sang Sahabat kerap menjadi bahan perbincangan bukan karena kesalahannya, melainkan karena keteguhannya yang terasa asing.

“Apa gunanya jujur kalau yang lain licik tapi selamat?” tanya seseorang suatu siang.

Sang Sahabat tidak menjawab dengan debat. Ia hanya menatap sebentar, lalu berkata, “Keselamatan itu bukan hanya soal hari ini.”

Kalimat itu menggantung lama di udara.

Di tempat kami bekerja, banyak orang pandai berbicara tentang integritas, tetapi hanya sedikit yang mau hidup bersama risikonya. Spanduk-spanduk moral terpajang rapi, slogan-slogan kejujuran dicetak besar, namun sering kali hati manusianya tertinggal di belakang meja. Di sinilah dalam kehidupan bekerja tanpa perlu ditertawakan.

Sang Sahabat paham betul ironi itu.

Ia pernah berkata lirih, “Kita rajin menulis visi, tapi lupa menuliskannya di perilaku.”

Aku tersenyum pahit. Kalimat itu terlalu tepat untuk dibantah.

Dalam praktik keseharian, godaan tidak selalu berbentuk uang atau fasilitas. Kadang ia hadir sebagai pembenaran: semua orang juga begitu, ini demi kelancaran, atau yang penting hasil. Sang Sahabat selalu mengingatkan tanpa ceramah bahwa kelancaran tanpa keberkahan hanyalah percepatan menuju penyesalan.

Suatu pagi, ketika suasana kantor mulai dipenuhi wajah lelah dan target yang menumpuk, ia mengutip ayat dengan sangat sederhana, seolah sedang berbicara pada dirinya sendiri:

“Bukankah Allah telah berfirman bahwa Dia bersama orang-orang yang sabar?”

Tidak ada nada menggurui. Hanya pengingat.

Ia percaya bahwa sabar bukan sikap pasif, melainkan kemampuan menahan diri agar tidak tergelincir saat ada kesempatan. Dalam dunia yang mengagungkan hasil, Sang Sahabat justru sibuk menjaga proses.

Paling sunyi ketika ia tetap mematuhi aturan, sementara yang lain sibuk mencari celah. Anehnya, justru ia yang sering dianggap memperlambat. Padahal, ia sedang memastikan arah tidak salah.

“Lebih baik lambat asal selamat,” katanya suatu hari, “daripada cepat tapi kehilangan makna dan martabat.”

Hari itu, aku sadar: keberanian tidak selalu bersuara lantang. Kadang ia hadir sebagai penolakan halus terhadap hal yang biasa, tetapi salah.

Sang Sahabat tidak anti perubahan. Ia hanya menolak perubahan yang mengorbankan nilai. Ia tahu zaman bergerak cepat, teknologi memudahkan banyak hal, tetapi ia juga tahu bahwa akhlak tidak bisa di-upgrade jika niatnya rusak.

Dalam satu percakapan sore, ia berkata, “Kita ini sering sibuk mengamankan karier, lupa mengamankan akhirat.”

Aku terdiam lama.

Ia sering mengingatkan hadis Nabi tentang Amanah bahwa setiap kita adalah pemimpin, dan setiap kepemimpinan akan dimintai pertanggungjawaban. Tetapi ia menyampaikannya bukan sebagai ancaman, melainkan sebagai pengingat cinta.

“Kalau amanah terasa berat,” katanya, “itu tanda iman masih bekerja.”

Ketika konflik muncul antara prosedur dan kepentingan, antara aturan dan tekanan Sang Sahabat memilih berdiri di tengah badai dengan tenang. Ia tidak merasa paling benar, tetapi ia menolak menjadi bagian dari yang salah.

Beberapa orang menjauh. Beberapa lain mendekat diam-diam, mencari kekuatan dari ketenangannya.

Aku menyaksikan sendiri bagaimana ia pernah kalah secara duniawi. Kesempatan yang seharusnya ia dapatkan berpindah ke tangan lain yang lebih pandai bersiasat. Banyak yang menyayangkan, lebih banyak lagi yang berbisik, “Seandainya dia mau sedikit fleksibel.”

Ia hanya tersenyum.

“Mungkin Allah sedang mengajariku ikhlas,” katanya.

Kalimat itu sederhana, tetapi sulit ditiru.

Di tengah semua itu, Sang Sahabat tetap menjaga kebiasaan kecilnya: shalat tepat waktu, menyapa petugas paling bawah dengan hormat yang sama, dan tidak pernah memulai hari tanpa doa. Ia yakin bahwa keberhasilan sejati tidak diukur dari seberapa tinggi posisi, melainkan seberapa bersih hati saat berada di posisi apa pun.

Suatu malam, saat kami berjalan pulang, aku bertanya, “Apa yang paling kamu takuti?”

Ia berhenti sejenak. Menatap langit yang gelap.

“Aku takut terbiasa dengan yang salah,” jawabnya.

Jawaban itu membuatku menggigil.

Kini aku mengerti, Sang Sahabat bukan sekadar tokoh dalam hidupku. Ia adalah cermin yang kadang membuatku tidak nyaman karena memperlihatkan apa adanya. Ia adalah satire hidup yang berjalan, tanpa harus menertawakan siapa pun.

Ia mengajarkanku bahwa iman tidak selalu tampak heroik. Kadang ia hanya berupa pilihan kecil yang konsisten.

Bahwa inspirasi sejati tidak lahir dari kata-kata indah, melainkan dari kesetiaan pada nilai saat tidak ada yang melihat.

Dan aku percaya, di negeri ini, kita tidak kekurangan orang pintar. Kita hanya sering kekurangan Sang Sahabat, mereka yang bersedia menjaga nurani di tengah riuhnya kepentingan.

Jika suatu hari kau bertanya padaku, siapa orang paling berpengaruh dalam hidupku, aku tidak akan menyebut nama besar. Aku akan menyebut seseorang yang mengajarkanku satu hal sederhana namun mahal:

Bahwa hidup yang lurus mungkin tidak selalu membuat kita cepat sampai,
tetapi ia memastikan kita tidak tersesat.

Dan itulah warisan terbesar Sang Sahabat inspirasi yang tidak berisik, iman yang tidak dipamerkan, dan kejujuran yang tetap tegak meski dunia sering mengajarkan sebaliknya.

Tri Indroyono
Kontributor
Tri Indroyono
Panitera Pengadilan Negeri Garut

Untuk Mendapatkan Berita Terbaru Suara BSDK, Follow Channel WhatsApp: SUARABSDKMARI

Share. Facebook Twitter Threads Telegram WhatsApp Copy Link

Related Posts

Ketika Kemerdekaan Berhenti di Tiang Bendera

August 17, 2026

Bentrokan Dua Tekad :  Harapan Naruto ditengah Tirani Danzo

August 10, 2026

Part II Babak Baru Kisah Dua Serigala : Saga Abadi Para Penjaga hingga Lumbung yang Kian Membusuk

August 2, 2026
Leave A Reply Cancel Reply


Demo
Top Posts

Dari FGD hingga Semangkuk Mi Kuah, BSDK Tunjukkan Wajah Pendidikan Peradilan yang Humanis

October 28, 2026

Adu Domba: Bukan Sekedar Adu Kekuatan

October 23, 2026

Asap di Bumi Serambi Makkah: Jauh dari Titik Api, Dekat dengan Ujian Keadilan

October 20, 2026

Menata Sekretariat, Menjaga Nalar Peradilan

October 19, 2026
Don't Miss

Menimbang Kembali Pemidanaan Anak: Ketika Perundungan Berujung Kematian

By Wilmar Ibni Rusydan and Daniel H. NapitupuluOctober 31, 20260

Kabar meninggalnya seorang siswa sekolah dasar di Pemalang pada awal Oktober 2026 cukup menyita perhatian…

Lompatan Mutu Kebijakan Peradilan: BSDK MA RI Evaluasi 30 Naskah Rekomendasi Strategis di Jakarta

October 31, 2026

Di Balik Asap Karhutla: Menelusuri Potensi Pencucian Uang dalam Green Financial Crime

October 31, 2026

Merawat Janji 1928: Pengadilan Agama Jakarta Pusat Gelar Upacara Sumpah Pemuda Ke-98 Bersama BSDK MA RI

October 31, 2026
Stay In Touch
  • YouTube
  • TikTok
  • WhatsApp
  • Twitter
  • Instagram
Top Trending
Demo

Recent Posts

  • Menimbang Kembali Pemidanaan Anak: Ketika Perundungan Berujung Kematian
  • Lompatan Mutu Kebijakan Peradilan: BSDK MA RI Evaluasi 30 Naskah Rekomendasi Strategis di Jakarta
  • Di Balik Asap Karhutla: Menelusuri Potensi Pencucian Uang dalam Green Financial Crime
  • Merawat Janji 1928: Pengadilan Agama Jakarta Pusat Gelar Upacara Sumpah Pemuda Ke-98 Bersama BSDK MA RI
  • 90 Warga di Gugat, Hakim PN Dataran Hunipopu Cek Langsung Objek Sengketa

Recent Comments

  1. Rizka on Problematika Pelaksanaan Eksekusi Pembayaran Sejumlah Uang Terhadap Objek Jaminan Berupa Benda Bergerak
  2. Auzir on KUHAP Baru: Menanggalkan Jubah Interogator, Transformasi Menuju Sistem Adversarial
  3. Budi Santoso on Titian Panjang Pengabdian Prajurit Setia Hingga Akhir
  4. PrP on Kajian Green Victimology Sebagai Pendekatan Perlindungan Hukum Korban Kebakaran Hutan di Indonesia
  5. Grace Hall on Abhinaya Upangga Wisesa: Ketika Kerja Sunyi Menjadi Penjaga Martabat Peradilan
Hubungi Kami

Badan Strategi Kebijakan dan Pendidikan dan Pelatihan Hukum dan Peradilan Hukum dan Peradilan
Mahkamah Agung RI

Kantor: Jl. Cikopo Selatan Desa Sukamaju, Kec. Megamendung
Bogor, Jawa Barat 16770

Kirimkan reportase berita, opini, features dan artikel lainnya ke email suarabsdk.com : 
redpelsuarabsdk@gmail.com

Telepon: (0251) 8249520, 8249522, 8249531, 8249539

Kategori
Beranda Artikel Berita Features Sosok KRITERIA TULISAN
Filsafat Roman Satire Video BALACADAS
Connect With Us
  • Instagram
  • YouTube
  • WhatsApp
Aplikasi Internal
Logo 1 Logo 2 Logo 3 Logo 3 Logo 5
Logo 4 Logo 4 Logo 4 Logo 5 Logo 5 Logo 5
Kontributor
  • Avatar photo Ahmad Junaedi
  • Avatar photo Mohammad Khairul Muqorobin
  • Avatar photo Aman
  • Avatar photo Irvan Mawardi
  • Avatar photo Cecep Mustafa
  • Avatar photo Khoiruddin Hasibuan
  • Avatar photo Yudhistira Ary Prabowo
  • Avatar photo Ari Gunawan
  • Avatar photo Muamar Azmar Mahmud Farig
  • Avatar photo Syailendra Anantya Prawira
  • Avatar photo Ghesa Agnanto Hutomo
  • Avatar photo Johanes
  • Avatar photo Muhammad Rizqi Hengki
  • Avatar photo Syamsul Arief
  • Avatar photo Agus Digdo Nugroho
  • Avatar photo Timbul Bonardo Siahaan
  • Avatar photo Muhammad Adiguna Bimasakti
  • Avatar photo Dahlan Suherlan
  • Avatar photo Jatmiko Wirawan
  • Avatar photo Muhammad Zuchri Nasuha Lubis
  • Avatar photo Syihabuddin
  • Avatar photo Cik Basir
  • Avatar photo Taufikurrahman
  • Avatar photo Zulfahmi
  • Avatar photo Maria Fransiska Walintukan
  • Avatar photo Unggul Senoaji
  • Avatar photo Anton Ahmad Sogiri
  • Avatar photo M. Natsir Asnawi
  • Avatar photo Abdi Munawar Daeng Mangagang
  • Avatar photo Adji Prakoso
  • Avatar photo Bintoro Wisnu Prasojo
  • Avatar photo Yoshito Siburian
  • Avatar photo Iqbal Lazuardi
  • Avatar photo Sriti Hesti Astiti
  • Avatar photo Abdul Azis Ali Ramdlani
  • Avatar photo Galang Adhe Sukma
  • Avatar photo Harun Maulana
  • Avatar photo Ahmad Syahrus Sikti
  • Avatar photo Bagus Partha Wijaya
  • Avatar photo Layla Windy Puspita Sari
  • Avatar photo Muhammad Hanif Ramadhan
  • Avatar photo Anisa Yustikaningtiyas
  • Avatar photo Binsar Parlindungan Tampubolon
  • Avatar photo Ferdian Permadi
  • Avatar photo Ganjar Prima Anggara
  • Avatar photo I Gusti Lanang Ngurah Sidemen Putra
  • Avatar photo Eliyas Eko Setyo
  • Avatar photo Firzi Ramadhan
  • Avatar photo Itsnaatul Lathifah
  • Avatar photo Jarkasih
  • Avatar photo Sudiyo
  • Avatar photo Afifah Dwiandini
  • Avatar photo Febby Fajrurrahman
  • Avatar photo Garin Purna Sanjaya
  • Avatar photo Marulam J Sembiring
  • Avatar photo Tri Indroyono
  • Avatar photo Letkol Chk Agustono, S.H., M.H.
  • Avatar photo Ardiansyah Iksaniyah Putra
  • Avatar photo Buang Yusuf
  • Avatar photo Henri Setiawan
  • Avatar photo Irene Cristna Silalahi
  • Avatar photo Marsudin Nainggolan
  • Avatar photo Maulana Aulia
  • Avatar photo Riki Perdana Raya Waruwu
  • Avatar photo Siti Nadhiroh
  • Avatar photo Dr. Syofyan Iskandar, S.H., M.H.
  • Avatar photo Muhamad Zaky Albana
  • Avatar photo Fauzan Prasetya
  • Avatar photo Irwan Rosady
  • Avatar photo Khoiriyah Roihan
  • Avatar photo Redaktur SuaraBSDK
  • Avatar photo Yasin Prasetia
  • Avatar photo Audrey Kartika Putri
  • Avatar photo Cok Istri Bhagawanthi Pemayun
  • Avatar photo Eddy Daulatta Sembiring
  • Avatar photo Fitriyel Hanif
  • Avatar photo Gerry Michael Purba
  • Avatar photo K.G. Raegen
  • Avatar photo Rafi Muhammad Ave
  • Avatar photo Rangga Lukita Desnata
  • Avatar photo Rikatama Budiyantie
  • Avatar photo Silveria Supanti
  • Avatar photo Sugiarto
  • Avatar photo Teguh Setiyawan
  • Avatar photo Achmad Fikri Oslami
  • Avatar photo Agenda Citra Muhammad
  • Avatar photo Ahmad Fuad Noor Ghufron
  • Avatar photo Achmad Nurul Huda
  • Avatar photo Andro Riski Pradipta
  • Avatar photo Anggi Permana
  • Avatar photo Ang Rijal Amin
  • Avatar photo Armansyah
  • Avatar photo David Pasaribu
  • Avatar photo Dedi Putra
  • Avatar photo Dewi Maharati
  • Avatar photo Edi Hudiata
  • Avatar photo Gerry Geovant Supranata Kaban
  • Avatar photo Herjuna Praba Wiesesa
  • Avatar photo Hermanto
  • Avatar photo Indarka PP
  • Avatar photo Muhamad Fadillah
  • Avatar photo Nugraha Medica Prakasa
  • Avatar photo Ria Marsella
  • Avatar photo Rizal Arif Fitria
  • Avatar photo Sadana
  • Avatar photo Sahram
  • Avatar photo Saut Erwin Hartono A. Munthe
  • Avatar photo Yusuf Sodhiqin
  • Avatar photo Achmad Pratomo
  • Avatar photo Dr. H. Achmad Setyo Pudjoharsoyo., SH., M.Hum
  • Avatar photo Ahmad Muzayyin Destuladoe
  • Avatar photo Ahmad Faiz Shobir Alfikri
  • Avatar photo Ahmad Farhan Subhi
  • Avatar photo Arie Fitriansyah
  • Avatar photo Bismo Jiwo Agung
  • Avatar photo Dharma Setiawan Negara
  • Avatar photo Epri Wahyudi
  • Avatar photo Fajar Widodo
  • Avatar photo Fariz Prasetyo Aji
  • Avatar photo Fauzan Arrasyid
  • Avatar photo Fauzia Rohmah
  • Avatar photo Febry Indra Gunawan Sitorus
  • Avatar photo Hartanto Ariesyandi
  • Avatar photo Mardi Candra
  • Avatar photo Muhammad Irfan Syahputra
  • Avatar photo Muhammad Amin Putra
  • Avatar photo Niko Wijaya
  • Avatar photo Putra Nova A.S
  • Avatar photo Raden Heru Wibowo Sukaten
  • Avatar photo Rahmad Ramadhan Hasibuan
  • Avatar photo Satria Perdana
  • Avatar photo Trisoko Sugeng Sulistyo
  • Avatar photo Umar Dani
  • Avatar photo Wahyu Budi Santoso
  • Avatar photo Wilmar Ibni Rusydan
  • Avatar photo Abdul Hadi
  • Avatar photo Abiandri Fikri Akbar
  • Avatar photo Abi Zaky Azizi
  • Avatar photo Adimas Leo Firmansah
  • Avatar photo Andi Akram
  • Avatar photo Anggiyansyah Nurmanta
  • Avatar photo Arsyawal
  • Avatar photo Ashhab Triono
  • Avatar photo Aulia Rochmani Lazuardi
  • Avatar photo Azalia Purbayanti Sabana
  • Avatar photo Bagus Sujatmiko
  • Avatar photo Bayu Akbar Wicaksono
  • Avatar photo Chandra Khoirunnas
  • Avatar photo Cuhandi
  • Avatar photo Daniel H. Napitupulu
  • Avatar photo Deka Rachman Budihanto
  • Avatar photo Dendi Sutiyoso
  • Avatar photo Dhea Sutaryana
  • Avatar photo Enrico Simanjuntak
  • Avatar photo Fadhilah Fauzan, S.H.
  • Avatar photo Fahri Gunawan Siagian
  • Avatar photo Fauziah Rahmah
  • Avatar photo Fery Rochmad Ramadhan
  • Avatar photo Ida Masnita Sigalingging
  • Avatar photo Idik Saeful Bahri
  • Avatar photo Imaniar
  • Avatar photo Karell Mawla Ibnu Kamali
  • Avatar photo Khalilurrahman
  • Avatar photo Khoirul Anwar
  • Avatar photo Mentari Wahyudihati
  • Avatar photo Misbah
  • Avatar photo Muhamad Ridwan
  • Avatar photo Muhammad Fadllullah
  • Avatar photo Muhamad Iqbal
  • Avatar photo Nia Chasanah
  • Avatar photo Novritsar Hasintongan Pakpahan
  • Avatar photo Nugraha Wisnu Wijaya
  • Avatar photo Pandu Pradana Wicaksono, S.H.
  • Avatar photo Raden Anggara Kurniawan
  • Avatar photo Rahimulhuda Rizki Alwi
  • Avatar photo Ranggi Adiwangsa Yusron
  • Avatar photo Rifda Aprilia Rusfayanti
  • Avatar photo Muhammad Rijaldy Alwy
  • Avatar photo Rohim
  • Avatar photo Romi Hardhika
  • Avatar photo Samsul Zakaria
  • Avatar photo Siti Anis
  • Avatar photo Sri Nurmina Sari
  • Avatar photo Stefanus Dwi Putra Medisa
  • Avatar photo Sugiri Wiryandono
  • Avatar photo Tri Cahya Indra Permana
  • Avatar photo Yudhi Reksa Perdana
  • Avatar photo Abdul Ghani
  • Avatar photo Ach. Jufri
  • Avatar photo Achmad Cholil
  • Avatar photo Adhlan Fadhilla Ahmad
  • Avatar photo Afif Muchshon
  • Avatar photo Agus Suharsono
  • Avatar photo Ahmad Efendi
  • Avatar photo Ahmad Hodri
  • Avatar photo Ahmad Rikfi Fuadi
  • Avatar photo Ahmad Rizza Habibi
  • Avatar photo Aidil Akbar
  • Avatar photo Alep Priyoambodo
  • Avatar photo Alfajar Nugraha
  • Avatar photo Ali Sobirin
  • Avatar photo Andi Amirah Humairah Ya'kub
  • Avatar photo Anang Riyan Ramadianto
  • Avatar photo Anderson Peruzzi Simanjuntak
  • Avatar photo Andhika Prayoga
  • Avatar photo Andi Muhammad Galib
  • Avatar photo Andi Aswandi Tashar
  • Avatar photo Andrie Gunawan
  • Avatar photo Anna Yulina
  • Avatar photo Annisa Nur Alam
  • Avatar photo Antok Wibowo
  • Avatar photo Arga Febrian
  • Avatar photo Ariansyah
  • Avatar photo Arief Sapto Nugroho
  • Avatar photo Mayor Chk Arif Dwi Prasetyo
  • Avatar photo Aryaniek Andayani
  • Avatar photo Asep Ridwan Hotoya
  • Avatar photo Bella Puspitawati
  • Avatar photo Bellina Gamelia Sembiring Kembaren
  • Avatar photo Billy Saut Mangoloi
  • Avatar photo Bilma Diffika
  • Avatar photo Bony Daniel
  • Avatar photo Budi Hermanto
  • Avatar photo Budi Suhariyanto
  • Avatar photo Chandra
  • Avatar photo Christopher Hutapea
  • Avatar photo Daniel Saputra
  • Avatar photo Danny Agus Setiyanto
  • Dedi Wigandi
  • Avatar photo Devita Aulia
  • Avatar photo Djoni Witanto
  • Avatar photo Effendi Mukhtar
  • Avatar photo Egia Rasido Tarigan
  • Avatar photo Eka Sentausa
  • Avatar photo Engli Thirta Satria
  • Avatar photo Enos Syahputra Sipahutar, S.H., M.H.
  • Avatar photo Dr. Fahmiron
  • Avatar photo Fahri Bachmid
  • Avatar photo Fahri Soleh
  • Avatar photo Fakhir Tashin Baaj
  • Avatar photo Farhan Al Faris
  • Avatar photo Fatkul Mujib, S.H.I., M.H.
  • Avatar photo Dr. Fauziati, S.Ag., M.Ag
  • Avatar photo Febriansyah Rozarius
  • Avatar photo Friska Ariesta Aritedi
  • Avatar photo Gineng Pratidina
  • Avatar photo Hanry Ichfan Adityo
  • Avatar photo Peltu Hartono
  • Avatar photo Hastuti
  • Avatar photo Hendro Yatmoko
  • Avatar photo Ibnu Abas Ali
  • Avatar photo Ichsan Muhammad
  • Avatar photo I Made Sukadana
  • Indra Tua Hasangapon Harahap
  • Avatar photo Intan Widiastuti
  • Avatar photo Ira Soniawati
  • Avatar photo Irfan Dibar
  • Avatar photo Muhammad Irfansyah
  • Avatar photo Letkol Kum Irwan Tasri, S.H., M.H., M.Han.
  • Avatar photo Iwan Lamganda Manalu
  • Avatar photo Jerymia Seky Tanaem
  • Avatar photo Jimmy Maruli Alfian
  • Avatar photo Jusran Ipandi
  • Avatar photo Kadek Dwi Krisna Ananda
  • Avatar photo Khaimi
  • Avatar photo Khoerul Umam
  • Avatar photo Linora Rohayu
  • Avatar photo Made Passek Reza Swandira
  • Avatar photo Marta Satria Putra
  • Avatar photo Marwan Ibrahim Piinga
  • Avatar photo Marwanto
  • Avatar photo Marzha Tweedo Dikky Paraanugrah
  • Avatar photo Maulia Martwenty Ine
  • Avatar photo Mira Maulidar
  • Avatar photo Misbahul Anwar
  • Avatar photo Muhamad Deni Saputra
  • Avatar photo Muhamad Ilham Azizul Haq
  • Avatar photo Muhamad Saptari
  • Avatar photo Muhammad Muhyi Arrasyid, S.Psi.
  • Avatar photo Muhammad Bagus Tri Prasetyo
  • Avatar photo Muhammad Yusuf
  • Avatar photo Murdian
  • Avatar photo Nadia Yurisa Adila
  • Avatar photo Nisrina Irbah Sati
  • Avatar photo Noak Mispa Sianturi
  • Avatar photo Noor Ichwan Ichlas Ria Adha
  • Avatar photo Novtri Nelli
  • Avatar photo Letkol CHK Nur Sakdi, S.H, M.H.
  • Avatar photo Nur Latifah Hanum
  • Avatar photo Piput Milandsari
  • Avatar photo Pita Permatasari
  • Avatar photo H .A.S Pudjoharsoyo
  • Avatar photo Putri Pebrianti
  • Avatar photo R. Deddy Harryanto
  • Avatar photo Radityo Muhammad Harseno
  • Avatar photo Rahmi Fattah
  • Avatar photo Randy Viyatadhika
  • Avatar photo Ratih Gumilang
  • Avatar photo Reindra Jasper H. Sinaga, S.H. Hakim Pengadilan Negeri Tanjung Balai Karimun
  • Avatar photo Reynold Mauliate Panggabean
Lihat semua kontributor →

Type above and press Enter to search. Press Esc to cancel.