Close Menu
Suara BSDKSuara BSDK
  • Beranda
  • Artikel
  • Berita
  • Features
  • Sosok
  • Filsafat
  • Roman
  • Satire
  • Video
  • Liputan Khusus

Subscribe to Updates

Get the latest creative news from FooBar about art, design and business.

What's Hot

Kepedulian Sebagai Wujud Nyata Pembangunan Zona Integritas (ZI) di Lingkungan Pengadilan Militer

November 1, 2026

MOVE!

November 1, 2026 · 19:22 WIB

Menimbang Kembali Pemidanaan Anak: Ketika Perundungan Berujung Kematian

October 31, 2026
Instagram YouTube
Suara BSDKSuara BSDK
  • Beranda
  • Artikel
  • Berita
  • Features
  • Sosok
  • Filsafat
  • Roman
  • Satire
  • Video
  • Liputan Khusus
Suara BSDKSuara BSDK
  • Beranda
  • Artikel
  • Berita
  • Features
  • Sosok
  • Filsafat
  • Roman
  • Satire
  • Video
  • Liputan Khusus
Home » MOVE!

MOVE!

Waktu, Takdir, dan Keberanian Melangkah ke Depan
Syamsul AriefBy Syamsul AriefNovember 1, 2026 · 19:22 WIB8 Mins ReadNo Comments
Share
Facebook Twitter Threads Telegram WhatsApp

“Life can only be understood backwards; but it must be lived forwards.”
— Søren Kierkegaard

Ada keheningan yang megah ketika saya memandang langit malam dari puncak Gunung Rinjani. Di balik kerlip bintang, miliaran galaksi bergerak dalam bentangan kosmos yang nyaris tak terbayangkan. Bumi berputar mengelilingi Matahari, tata surya mengitari pusat Bima Sakti, sementara alam semesta terus mengembang. Semuanya bergerak dalam keteraturan yang tidak pernah meminta persetujuan manusia.

Ketika kita memilih duduk mematung di sudut kamar, meratapi kehilangan, menyesali masa lalu atau menolak melakukan apa pun, sesungguhnya kita tetap menjadi bagian dari perjalanan kosmis yang luar biasa.

Bahkan di dalam tubuh manusia yang duduk diam sendiri itu jantungnya terus memompa darah, paru-paru menghirup udara, sel-sel menjalankan metabolisme, dan pikiran berpindah dari satu ingatan menuju ingatan lainnya. Semua bekerja tanpa menunggu perintah pemilik tubuh.

Diam, sering kali hanyalah persoalan sudut pandang. Sedangkan hidup berlangsung dalam gerak (move), dan gerak adalah anugerah, naluri, sekaligus takdir yang berjalan beriringan dengan waktu.

Kita boleh menolak perubahan, membenci keadaan, atau kecewa pada kenyataan. Tetapi ada satu hal yang tidak pernah meminta persetujuan kita: waktu terus berjalan. Besok akan datang tanpa menunggu kesiapan kita. Lusa menyusul tanpa mengirim undangan. Hakim tidak bisa membuat penetapan menunda datangnya besok hari Senin. Bahkan orang paling berkuasa sekalipun tidak dapat menerbitkan keputusan untuk menunda datangnya hari tua.

Manusia, kadang tergoda melawan kenyataan itu. Dalam film The Curious Case of Benjamin Button (2008), seorang pembuat jam yang buta, Monsieur Gateau, kehilangan putra tercintanya dalam Perang Dunia I. Kesedihan membawanya menciptakan jam besar untuk sebuah stasiun kereta api. Namun, jarum jam itu sengaja dibuatnya bergerak mundur. Ia membayangkan seandainya waktu dapat diputar kembali, anaknya dan anak-anak muda yang gugur dalam perang mungkin bisa pulang, bekerja, menikah, mempunyai keturunan, dan menjalani kehidupan yang telah direnggut dari mereka.

Betapa pilunya seorang ayah yang mencoba mengalahkan waktu dengan membuat jam berjalan terbalik. Tetapi waktu tidak pernah berunding dengan jarum jam. Kalender dapat dibalik, foto lama dapat dicetak kembali, tetapi kehidupan yang telah berlalu tidak dapat dipanggil pulang.

Kisah Benjamin Button sendiri menghadirkan paradoks. Ia terlahir dengan tubuh menyerupai orang yang sangat tua, kemudian seiring bertambahnya usia ia terlihat semakin muda. Pada akhir kehidupannya, ia meninggal sebagai bayi yang tidak berdaya. Tubuhnya bergerak menuju kemudaan, tetapi hidupnya tetap menuju kematian.

Film fantasi romantis itu mengingatkan saya pada kitab Qur’an Surah Yasin ayat 68, yang menggambarkan manusia yang dipanjangkan umurnya akan dikembalikan kepada awal kejadiannya. Seperti Bayi memulai kehidupan dalam ketidakberdayaan. Setelah dewasa, manusia memperoleh kekuatan dan kemandirian, tetapi pada usia lanjut manusia (mahluk) kembali melemah. Benjamin menjalani arah biologis yang berlawanan, namun awal dan akhir kehidupannya memperlihatkan kerapuhan yang sama.

Kehidupan seolah sedang mempermainkan kesombongan manusia. Kita menghabiskan sebagian besar waktu untuk menjadi kuat, mandiri, dan berkuasa atas keadaan, tetapi pada akhirnya menyadari bahwa kemandirian itu tidak pernah mutlak.

F. Scott Fitzgerald, penulis cerita asli Benjamin Button, memperoleh inspirasi dari sebuah gagasan satiris Mark Twain tentang betapa ganjilnya kehidupan yang menempatkan bagian terbaiknya di awal dan bagian paling menyedihkan di akhir. “Life would be infinitely happier if we could only be born at the age of eighty and gradually approach eighteen.” Fitzgerald membalik urutan biologis manusia, tetapi justru memperlihatkan sesuatu yang tidak berubah: perjalanan hidup tetap memiliki batas.

Baca Juga  Plt. Kepala BSDK MA Buka Acara Peningkatan Kompetensi, Profesionalisme, dan Kualitas Kinerja Hakim serta Aparatur Sipil Negara (ASN) BSDK MA RI : Apa saja yang Dibahas?

Eric Roth, penulis skenario film The Curious Case of Benjamin Button itu mengubah cerita pendek Fitzgerald itu menjadi elegi yang sunyi, melankolis, dan penuh perenungan mendalam tentang kefanaan manusia.

Didalamnya saya teringat perspektif eksistensialisme Jean-Paul Sartre. Kisah Benjamin dapat dibaca melalui ketegangan antara facticity dan transcendence. Manusia hadir dalam keadaan yang tidak seluruhnya ia pilih: tubuh, kelahiran, sejarah, dan berbagai keterbatasan. Namun, di tengah kenyataan tersebut, manusia tetap memiliki ruang untuk menentukan sikap dan tindakannya.

Benjamin tidak memilih tubuh yang ganjil itu. Tetapi ia memilih menjalani kehidupan, menjadi pelaut, ikut dalam perang dunia ke-II, mencintai, kehilangan, dan menemukan makna dalam pengalaman yang dilaluinya. Fisiknya seolah bergerak mundur, sementara kesadarannya terus melangkah maju.

Di sinilah filsafat Stoikisme menemukan ruangnya untuk berbisik. Kaum Stoik mengajarkan kita tentang Amor Fati, sebuah seni untuk tidak hanya menerima takdir, tetapi mencintainya dengan lapang dada. Kita boleh membenci kenyataan, boleh kecewa pada apa yang telah terjadi, namun ada hal-hal di luar kendali kita yang mutlak, dan waktu adalah rajanya. Ketika kita menolak bergerak karena terjebak dalam penyesalan, kita sedang menyiksa diri atas sesuatu yang sudah membatu menjadi sejarah.

Kata move on relevan dengan ajaran stoikisme ini. Keberanian menerima masa lalu sesakit atau sesesal apa pun kenyataannya dan melanjutkan kehidupan.

Memaafkan diri sendiri dan orang lain adalah cara membebaskan batin dari keinginan mustahil untuk mengubah sesuatu yang sudah terjadi. Kenangan seharusnya menjadi perpustakaan tempat belajar, bukan penjara tempat menghabiskan sisa hidup. Masa lalu adalah alamat pengalaman, bukan tempat tinggal permanen.

Dalam berbagai ajaran agama, pertobatan justru memperlihatkan kemurahan Tuhan yang menyediakan kesempatan bagi manusia untuk berubah.

Kesadaran itu membawa saya kembali pada pemikiran Søren Kierkegaard: hidup hanya dapat dipahami dengan melihat ke belakang, tetapi harus dijalani dengan bergerak ke depan.

Fisika modern pun belum menyediakan tiket pulang ke hari kemarin. Teori relativitas Einstein memang memperlihatkan bahwa laju waktu dapat berbeda karena kecepatan dan gravitasi, tetapi sampai hari ini belum ada teknologi yang terbukti mampu membawa manusia secara fisik kembali ke masa lalu.

Belum ada maskapai penerbangan dengan rute Jakarta–Tahun 1976. Jikalau saja ada, mungkin penumpangnya penuh. Sebagian ingin membeli tanah yang dahulu ditawarkan murah, sebagian ingin memperbaiki keputusan hidup, sebagian ingin membatalkan pernikahan, sebagian lagi ingin membawa lari anak gadis orang di kampung halaman.

Kesadaran tentang gerak juga terlihat pada pemandangan spiritual: tawaf di Makkah. Jutaan umat Islam dari berbagai bangsa dan kedudukan sosial bergerak mengelilingi Ka’bah, berlawanan arah jarum jam. Ka’bah menjadi pusat orientasi ibadah, bukan pusat gravitasi astronomis, tetapi gerakan itu menghadirkan simbolisme tentang manusia yang terus bergerak dalam ketundukan kepada Tuhan.

Pada akhirnya, seluruh perjalanan kehidupan membawa manusia kepada satu kenyataan yang tidak dapat ditawar: kematian. Dalam pengertian biologis, ia merupakan akhir eksistensi makhluk hidup sebagai organisme. Namun, dalam keyakinan spiritual, kematian juga dipahami sebagai gerbang kepulangan menuju Tuhan, Sang Pencipta ruang dan waktu.

Kematian bukanlah antrean rapi tempat orang tua selalu berjalan lebih dahulu. Ia lebih menyerupai lemparan dadu yang hasilnya tidak dapat kita ketahui. Kematian tidak memilih urutan berdasarkan usia. Ia dapat menjemput bayi yang baru lahir, remaja yang penuh mimpi, atau lansia yang telah kenyang mencicipi asam garam dunia.

Baca Juga  Kepala BSDK MA Dorong Ekosistem Riset Khas Kekuasaan Yudisial

Barangkali karena itulah waktu menjadi begitu berharga. Bukan karena kita mampu menyimpannya, melainkan justru karena kita tidak pernah sanggup menahannya.

Albert Einstein pernah menulis kepada putranya, Eduard, pada 1930: “Life is like riding a bicycle. To keep your balance, you must keep moving.” Hidup seperti mengendarai sepeda. Untuk menjaga keseimbangan, kita harus terus bergerak.

Quote terkenal Einsten ini mengajarkan bahwa dalan gerak kita mendapat keseimbangan. Namun, gerak saja tidak cukup. Sepeda membutuhkan arah dan kendali. Kita harus tahu kapan mengayuh, mengerem, atau berbelok. Einstein mengajarkan keseimbangan, bukan kebut-kebutan.

Pada akhirnya, kata move membawa kita pada perjalanan makna yang menarik. Ia bermula dari move, gerak sebagai kenyataan naluriah kehidupan. Menjadi moving, sesuatu yang terus berlangsung sekaligus mampu menggerakkan perasaan. Kemudian move on, keberanian berdamai dengan masa lalu dan melanjutkan kehidupan. Hingga akhirnya menjadi movement, ketika kesadaran individu bertemu dengan kesadaran kolektif untuk mengubah keadaan.

Sejarah peradaban mencatat bagaimana gerakan kemerdekaan India, perjuangan hak-hak sipil Amerika Serikat, gerakan anti-apartheid Afrika Selatan, hingga perjuangan kemerdekaan dan Reformasi di Indonesia memperlihatkan kekuatan manusia yang bergerak bersama untuk mengubah tatanan sosial, hukum, dan politik.

Perubahan tidak cukup hanya diharapkan. Ia membutuhkan gagasan, keberanian, pengorbanan, dan kesetiaan pada nilai yang diperjuangkan. Sebab tidak setiap gerakan menghasilkan kemajuan. Sejarah juga mengenal gerakan yang membawa penindasan dan kehancuran. Gerak menjadi bermakna ketika memiliki arah moral yang jelas.

Gerak adalah kenyataan alamiah. Kemajuan adalah pilihan moral.

Kita tidak dapat menghentikan waktu, tetapi dapat menentukan apa yang hendak diperjuangkan selama waktu masih diberikan. Kita tidak mampu memutar kembali masa lalu, tetapi dapat menggunakan hari ini untuk memperbaiki akibatnya. Kita pun tidak mengetahui kapan perjalanan hidup berakhir, tetapi masih dapat memilih nilai apa yang ingin ditinggalkan.

Kierkegaard mengingatkan bahwa kehidupan harus dijalani ke depan. Einstein mengajarkan keseimbangan melalui sepeda yang terus bergerak. Benjamin Button memperlihatkan bahwa bahkan tubuh yang bergerak menuju kemudaan tidak mampu menghindari akhir kehidupan. Sementara jam Monsieur Gateau memberi pelajaran paling menyentuh: cinta yang begitu besar sekalipun tidak selalu mampu mengembalikan sesuatu yang telah hilang.

Maka bergeraklah. Bukan semata-mata untuk mengejar waktu, melainkan untuk memberi makna pada waktu yang tersisa. Bergeraklah dengan pikiran yang terbuka, hati yang hidup, dan keberanian memperbaiki keadaan.

Sebab pada akhirnya, hidup bukan tentang seberapa jauh kita telah bergerak, melainkan apa yang telah berubah menjadi lebih baik karena kita pernah hadir di dunia.

Waktu akan terus bergerak tanpa memerlukan kita. Tetapi selama kita masih diberi waktu, pastikan ada kebaikan yang ikut bergerak karena kehadiran kita.

Move. Keep moving.
Garut, 21 Oktober 2026

Syamsul Arief

SYAMSUL ARIEF adalah Hakim Agung Kamar Pidana. Ia adalah hakim karir yang menjalani 20 tahun menjadi hakim tingkat pertama dan ditambah 4 tahun menjalani pekerjaan non judisial sebagai Kapusdiklat Teknis Peradilan dan Kepala Badan Strategi Kebijakan Diklat Kumdil MA.

Dia adalah peminat Filsafat dan mengasuh kelas Pelatihan Filsafat Keadilan bagi Hakim di BSDK MA.

Dia pelari trail, pendaki gunung, petani kopi dan durian, senang menyelam, bersepeda, pecinta sastra, musik, film dan teater serta penggemar hutan, sungai, gunung dan laut.

Untuk Mendapatkan Berita Terbaru Suara BSDK, Follow Channel WhatsApp: SUARABSDKMARI

Amor Fati Filosofi Kehidupan MOVE Move On Søren Kierkegaard Stoikisme Syamsul Arief
Share. Facebook Twitter Threads Telegram WhatsApp Copy Link

Related Posts

Perkuat Kebijakan Berbasis Bukti, Mahkamah Agung Evaluasi Naskah Rekomendasi Kebijakan Tahun 2026

October 28, 2026

Kepala BSDK MA Dorong Ekosistem Riset Khas Kekuasaan Yudisial

October 27, 2026

Pembukaan Diklat Hakim PTUN Pengadaan Tanah Berdasarkan Hak Asasi Manusia

October 26, 2026
Leave A Reply Cancel Reply


Demo
Top Posts

Dari FGD hingga Semangkuk Mi Kuah, BSDK Tunjukkan Wajah Pendidikan Peradilan yang Humanis

October 28, 2026

Adu Domba: Bukan Sekedar Adu Kekuatan

October 23, 2026

Asap di Bumi Serambi Makkah: Jauh dari Titik Api, Dekat dengan Ujian Keadilan

October 20, 2026

Menata Sekretariat, Menjaga Nalar Peradilan

October 19, 2026
Don't Miss

Kepedulian Sebagai Wujud Nyata Pembangunan Zona Integritas (ZI) di Lingkungan Pengadilan Militer

By Bagus Partha WijayaNovember 1, 20260

Sebagai implementasi nyata sekaligus inisiasi program kepedulian dilingkungan Pengadilan Militer dibawah kepemimpinan Kolonel Laut (H)…

MOVE!

November 1, 2026 · 19:22 WIB

Menimbang Kembali Pemidanaan Anak: Ketika Perundungan Berujung Kematian

October 31, 2026

Lompatan Mutu Kebijakan Peradilan: BSDK MA RI Evaluasi 30 Naskah Rekomendasi Strategis di Jakarta

October 31, 2026
Stay In Touch
  • YouTube
  • TikTok
  • WhatsApp
  • Twitter
  • Instagram
Top Trending
Demo

Recent Posts

  • Kepedulian Sebagai Wujud Nyata Pembangunan Zona Integritas (ZI) di Lingkungan Pengadilan Militer
  • MOVE!
  • Menimbang Kembali Pemidanaan Anak: Ketika Perundungan Berujung Kematian
  • Lompatan Mutu Kebijakan Peradilan: BSDK MA RI Evaluasi 30 Naskah Rekomendasi Strategis di Jakarta
  • Di Balik Asap Karhutla: Menelusuri Potensi Pencucian Uang dalam Green Financial Crime

Recent Comments

  1. Rizka on Problematika Pelaksanaan Eksekusi Pembayaran Sejumlah Uang Terhadap Objek Jaminan Berupa Benda Bergerak
  2. Auzir on KUHAP Baru: Menanggalkan Jubah Interogator, Transformasi Menuju Sistem Adversarial
  3. Budi Santoso on Titian Panjang Pengabdian Prajurit Setia Hingga Akhir
  4. PrP on Kajian Green Victimology Sebagai Pendekatan Perlindungan Hukum Korban Kebakaran Hutan di Indonesia
  5. Grace Hall on Abhinaya Upangga Wisesa: Ketika Kerja Sunyi Menjadi Penjaga Martabat Peradilan
Hubungi Kami

Badan Strategi Kebijakan dan Pendidikan dan Pelatihan Hukum dan Peradilan Hukum dan Peradilan
Mahkamah Agung RI

Kantor: Jl. Cikopo Selatan Desa Sukamaju, Kec. Megamendung
Bogor, Jawa Barat 16770

Kirimkan reportase berita, opini, features dan artikel lainnya ke email suarabsdk.com : 
redpelsuarabsdk@gmail.com

Telepon: (0251) 8249520, 8249522, 8249531, 8249539

Kategori
Beranda Artikel Berita Features Sosok KRITERIA TULISAN
Filsafat Roman Satire Video BALACADAS
Connect With Us
  • Instagram
  • YouTube
  • WhatsApp
Aplikasi Internal
Logo 1 Logo 2 Logo 3 Logo 3 Logo 5
Logo 4 Logo 4 Logo 4 Logo 5 Logo 5 Logo 5
Kontributor
  • Avatar photo Ahmad Junaedi
  • Avatar photo Mohammad Khairul Muqorobin
  • Avatar photo Aman
  • Avatar photo Irvan Mawardi
  • Avatar photo Cecep Mustafa
  • Avatar photo Khoiruddin Hasibuan
  • Avatar photo Yudhistira Ary Prabowo
  • Avatar photo Ari Gunawan
  • Avatar photo Muamar Azmar Mahmud Farig
  • Avatar photo Syailendra Anantya Prawira
  • Avatar photo Ghesa Agnanto Hutomo
  • Avatar photo Johanes
  • Avatar photo Muhammad Rizqi Hengki
  • Avatar photo Syamsul Arief
  • Avatar photo Agus Digdo Nugroho
  • Avatar photo Timbul Bonardo Siahaan
  • Avatar photo Muhammad Adiguna Bimasakti
  • Avatar photo Dahlan Suherlan
  • Avatar photo Jatmiko Wirawan
  • Avatar photo Muhammad Zuchri Nasuha Lubis
  • Avatar photo Syihabuddin
  • Avatar photo Cik Basir
  • Avatar photo Taufikurrahman
  • Avatar photo Zulfahmi
  • Avatar photo Maria Fransiska Walintukan
  • Avatar photo Unggul Senoaji
  • Avatar photo Anton Ahmad Sogiri
  • Avatar photo M. Natsir Asnawi
  • Avatar photo Abdi Munawar Daeng Mangagang
  • Avatar photo Adji Prakoso
  • Avatar photo Bintoro Wisnu Prasojo
  • Avatar photo Yoshito Siburian
  • Avatar photo Iqbal Lazuardi
  • Avatar photo Sriti Hesti Astiti
  • Avatar photo Abdul Azis Ali Ramdlani
  • Avatar photo Bagus Partha Wijaya
  • Avatar photo Galang Adhe Sukma
  • Avatar photo Harun Maulana
  • Avatar photo Ahmad Syahrus Sikti
  • Avatar photo Layla Windy Puspita Sari
  • Avatar photo Muhammad Hanif Ramadhan
  • Avatar photo Anisa Yustikaningtiyas
  • Avatar photo Binsar Parlindungan Tampubolon
  • Avatar photo Ferdian Permadi
  • Avatar photo Ganjar Prima Anggara
  • Avatar photo I Gusti Lanang Ngurah Sidemen Putra
  • Avatar photo Eliyas Eko Setyo
  • Avatar photo Firzi Ramadhan
  • Avatar photo Itsnaatul Lathifah
  • Avatar photo Jarkasih
  • Avatar photo Sudiyo
  • Avatar photo Afifah Dwiandini
  • Avatar photo Febby Fajrurrahman
  • Avatar photo Garin Purna Sanjaya
  • Avatar photo Marulam J Sembiring
  • Avatar photo Tri Indroyono
  • Avatar photo Letkol Chk Agustono, S.H., M.H.
  • Avatar photo Ardiansyah Iksaniyah Putra
  • Avatar photo Buang Yusuf
  • Avatar photo Henri Setiawan
  • Avatar photo Irene Cristna Silalahi
  • Avatar photo Marsudin Nainggolan
  • Avatar photo Maulana Aulia
  • Avatar photo Riki Perdana Raya Waruwu
  • Avatar photo Siti Nadhiroh
  • Avatar photo Dr. Syofyan Iskandar, S.H., M.H.
  • Avatar photo Muhamad Zaky Albana
  • Avatar photo Fauzan Prasetya
  • Avatar photo Irwan Rosady
  • Avatar photo Khoiriyah Roihan
  • Avatar photo Redaktur SuaraBSDK
  • Avatar photo Yasin Prasetia
  • Avatar photo Audrey Kartika Putri
  • Avatar photo Cok Istri Bhagawanthi Pemayun
  • Avatar photo Eddy Daulatta Sembiring
  • Avatar photo Fitriyel Hanif
  • Avatar photo Gerry Michael Purba
  • Avatar photo K.G. Raegen
  • Avatar photo Rafi Muhammad Ave
  • Avatar photo Rangga Lukita Desnata
  • Avatar photo Rikatama Budiyantie
  • Avatar photo Silveria Supanti
  • Avatar photo Sugiarto
  • Avatar photo Teguh Setiyawan
  • Avatar photo Achmad Fikri Oslami
  • Avatar photo Agenda Citra Muhammad
  • Avatar photo Ahmad Fuad Noor Ghufron
  • Avatar photo Achmad Nurul Huda
  • Avatar photo Andro Riski Pradipta
  • Avatar photo Anggi Permana
  • Avatar photo Ang Rijal Amin
  • Avatar photo Armansyah
  • Avatar photo David Pasaribu
  • Avatar photo Dedi Putra
  • Avatar photo Dewi Maharati
  • Avatar photo Edi Hudiata
  • Avatar photo Gerry Geovant Supranata Kaban
  • Avatar photo Herjuna Praba Wiesesa
  • Avatar photo Hermanto
  • Avatar photo Indarka PP
  • Avatar photo Muhamad Fadillah
  • Avatar photo Nugraha Medica Prakasa
  • Avatar photo Ria Marsella
  • Avatar photo Rizal Arif Fitria
  • Avatar photo Sadana
  • Avatar photo Sahram
  • Avatar photo Saut Erwin Hartono A. Munthe
  • Avatar photo Yusuf Sodhiqin
  • Avatar photo Achmad Pratomo
  • Avatar photo Dr. H. Achmad Setyo Pudjoharsoyo., SH., M.Hum
  • Avatar photo Ahmad Muzayyin Destuladoe
  • Avatar photo Ahmad Faiz Shobir Alfikri
  • Avatar photo Ahmad Farhan Subhi
  • Avatar photo Arie Fitriansyah
  • Avatar photo Bismo Jiwo Agung
  • Avatar photo Dharma Setiawan Negara
  • Avatar photo Epri Wahyudi
  • Avatar photo Fajar Widodo
  • Avatar photo Fariz Prasetyo Aji
  • Avatar photo Fauzan Arrasyid
  • Avatar photo Fauzia Rohmah
  • Avatar photo Febry Indra Gunawan Sitorus
  • Avatar photo Hartanto Ariesyandi
  • Avatar photo Mardi Candra
  • Avatar photo Muhammad Irfan Syahputra
  • Avatar photo Muhammad Amin Putra
  • Avatar photo Niko Wijaya
  • Avatar photo Putra Nova A.S
  • Avatar photo Raden Heru Wibowo Sukaten
  • Avatar photo Rahmad Ramadhan Hasibuan
  • Avatar photo Satria Perdana
  • Avatar photo Trisoko Sugeng Sulistyo
  • Avatar photo Umar Dani
  • Avatar photo Wahyu Budi Santoso
  • Avatar photo Wilmar Ibni Rusydan
  • Avatar photo Abdul Hadi
  • Avatar photo Abiandri Fikri Akbar
  • Avatar photo Abi Zaky Azizi
  • Avatar photo Adimas Leo Firmansah
  • Avatar photo Andi Akram
  • Avatar photo Anggiyansyah Nurmanta
  • Avatar photo Arsyawal
  • Avatar photo Ashhab Triono
  • Avatar photo Aulia Rochmani Lazuardi
  • Avatar photo Azalia Purbayanti Sabana
  • Avatar photo Bagus Sujatmiko
  • Avatar photo Bayu Akbar Wicaksono
  • Avatar photo Chandra Khoirunnas
  • Avatar photo Cuhandi
  • Avatar photo Daniel H. Napitupulu
  • Avatar photo Deka Rachman Budihanto
  • Avatar photo Dendi Sutiyoso
  • Avatar photo Dhea Sutaryana
  • Avatar photo Enrico Simanjuntak
  • Avatar photo Fadhilah Fauzan, S.H.
  • Avatar photo Fahri Gunawan Siagian
  • Avatar photo Fauziah Rahmah
  • Avatar photo Fery Rochmad Ramadhan
  • Avatar photo Ida Masnita Sigalingging
  • Avatar photo Idik Saeful Bahri
  • Avatar photo Imaniar
  • Avatar photo Karell Mawla Ibnu Kamali
  • Avatar photo Khalilurrahman
  • Avatar photo Khoirul Anwar
  • Avatar photo Mentari Wahyudihati
  • Avatar photo Misbah
  • Avatar photo Muhamad Ridwan
  • Avatar photo Muhammad Fadllullah
  • Avatar photo Muhamad Iqbal
  • Avatar photo Nia Chasanah
  • Avatar photo Novritsar Hasintongan Pakpahan
  • Avatar photo Nugraha Wisnu Wijaya
  • Avatar photo Pandu Pradana Wicaksono, S.H.
  • Avatar photo Raden Anggara Kurniawan
  • Avatar photo Rahimulhuda Rizki Alwi
  • Avatar photo Ranggi Adiwangsa Yusron
  • Avatar photo Rifda Aprilia Rusfayanti
  • Avatar photo Muhammad Rijaldy Alwy
  • Avatar photo Rohim
  • Avatar photo Romi Hardhika
  • Avatar photo Samsul Zakaria
  • Avatar photo Siti Anis
  • Avatar photo Sri Nurmina Sari
  • Avatar photo Stefanus Dwi Putra Medisa
  • Avatar photo Sugiri Wiryandono
  • Avatar photo Tri Cahya Indra Permana
  • Avatar photo Yudhi Reksa Perdana
  • Avatar photo Abdul Ghani
  • Avatar photo Ach. Jufri
  • Avatar photo Achmad Cholil
  • Avatar photo Adhlan Fadhilla Ahmad
  • Avatar photo Afif Muchshon
  • Avatar photo Agus Suharsono
  • Avatar photo Ahmad Efendi
  • Avatar photo Ahmad Hodri
  • Avatar photo Ahmad Rikfi Fuadi
  • Avatar photo Ahmad Rizza Habibi
  • Avatar photo Aidil Akbar
  • Avatar photo Alep Priyoambodo
  • Avatar photo Alfajar Nugraha
  • Avatar photo Ali Sobirin
  • Avatar photo Andi Amirah Humairah Ya'kub
  • Avatar photo Anang Riyan Ramadianto
  • Avatar photo Anderson Peruzzi Simanjuntak
  • Avatar photo Andhika Prayoga
  • Avatar photo Andi Muhammad Galib
  • Avatar photo Andi Aswandi Tashar
  • Avatar photo Andrie Gunawan
  • Avatar photo Anna Yulina
  • Avatar photo Annisa Nur Alam
  • Avatar photo Antok Wibowo
  • Avatar photo Arga Febrian
  • Avatar photo Ariansyah
  • Avatar photo Arief Sapto Nugroho
  • Avatar photo Mayor Chk Arif Dwi Prasetyo
  • Avatar photo Aryaniek Andayani
  • Avatar photo Asep Ridwan Hotoya
  • Avatar photo Bella Puspitawati
  • Avatar photo Bellina Gamelia Sembiring Kembaren
  • Avatar photo Billy Saut Mangoloi
  • Avatar photo Bilma Diffika
  • Avatar photo Bony Daniel
  • Avatar photo Budi Hermanto
  • Avatar photo Budi Suhariyanto
  • Avatar photo Chandra
  • Avatar photo Christopher Hutapea
  • Avatar photo Daniel Saputra
  • Avatar photo Danny Agus Setiyanto
  • Dedi Wigandi
  • Avatar photo Devita Aulia
  • Avatar photo Djoni Witanto
  • Avatar photo Effendi Mukhtar
  • Avatar photo Egia Rasido Tarigan
  • Avatar photo Eka Sentausa
  • Avatar photo Engli Thirta Satria
  • Avatar photo Enos Syahputra Sipahutar, S.H., M.H.
  • Avatar photo Dr. Fahmiron
  • Avatar photo Fahri Bachmid
  • Avatar photo Fahri Soleh
  • Avatar photo Fakhir Tashin Baaj
  • Avatar photo Farhan Al Faris
  • Avatar photo Fatkul Mujib, S.H.I., M.H.
  • Avatar photo Dr. Fauziati, S.Ag., M.Ag
  • Avatar photo Febriansyah Rozarius
  • Avatar photo Friska Ariesta Aritedi
  • Avatar photo Gineng Pratidina
  • Avatar photo Hanry Ichfan Adityo
  • Avatar photo Peltu Hartono
  • Avatar photo Hastuti
  • Avatar photo Hendro Yatmoko
  • Avatar photo Ibnu Abas Ali
  • Avatar photo Ichsan Muhammad
  • Avatar photo I Made Sukadana
  • Indra Tua Hasangapon Harahap
  • Avatar photo Intan Widiastuti
  • Avatar photo Ira Soniawati
  • Avatar photo Irfan Dibar
  • Avatar photo Muhammad Irfansyah
  • Avatar photo Letkol Kum Irwan Tasri, S.H., M.H., M.Han.
  • Avatar photo Iwan Lamganda Manalu
  • Avatar photo Jerymia Seky Tanaem
  • Avatar photo Jimmy Maruli Alfian
  • Avatar photo Jusran Ipandi
  • Avatar photo Kadek Dwi Krisna Ananda
  • Avatar photo Khaimi
  • Avatar photo Khoerul Umam
  • Avatar photo Linora Rohayu
  • Avatar photo Made Passek Reza Swandira
  • Avatar photo Marta Satria Putra
  • Avatar photo Marwan Ibrahim Piinga
  • Avatar photo Marwanto
  • Avatar photo Marzha Tweedo Dikky Paraanugrah
  • Avatar photo Maulia Martwenty Ine
  • Avatar photo Mira Maulidar
  • Avatar photo Misbahul Anwar
  • Avatar photo Muhamad Deni Saputra
  • Avatar photo Muhamad Ilham Azizul Haq
  • Avatar photo Muhamad Saptari
  • Avatar photo Muhammad Muhyi Arrasyid, S.Psi.
  • Avatar photo Muhammad Bagus Tri Prasetyo
  • Avatar photo Muhammad Yusuf
  • Avatar photo Murdian
  • Avatar photo Nadia Yurisa Adila
  • Avatar photo Nisrina Irbah Sati
  • Avatar photo Noak Mispa Sianturi
  • Avatar photo Noor Ichwan Ichlas Ria Adha
  • Avatar photo Novtri Nelli
  • Avatar photo Letkol CHK Nur Sakdi, S.H, M.H.
  • Avatar photo Nur Latifah Hanum
  • Avatar photo Piput Milandsari
  • Avatar photo Pita Permatasari
  • Avatar photo H .A.S Pudjoharsoyo
  • Avatar photo Putri Pebrianti
  • Avatar photo R. Deddy Harryanto
  • Avatar photo Radityo Muhammad Harseno
  • Avatar photo Rahmi Fattah
  • Avatar photo Randy Viyatadhika
  • Avatar photo Ratih Gumilang
  • Avatar photo Reindra Jasper H. Sinaga, S.H. Hakim Pengadilan Negeri Tanjung Balai Karimun
  • Avatar photo Reynold Mauliate Panggabean
Lihat semua kontributor →

Type above and press Enter to search. Press Esc to cancel.