“Life can only be understood backwards; but it must be lived forwards.”
— Søren Kierkegaard
Ada keheningan yang megah ketika saya memandang langit malam dari puncak Gunung Rinjani. Di balik kerlip bintang, miliaran galaksi bergerak dalam bentangan kosmos yang nyaris tak terbayangkan. Bumi berputar mengelilingi Matahari, tata surya mengitari pusat Bima Sakti, sementara alam semesta terus mengembang. Semuanya bergerak dalam keteraturan yang tidak pernah meminta persetujuan manusia.
Ketika kita memilih duduk mematung di sudut kamar, meratapi kehilangan, menyesali masa lalu atau menolak melakukan apa pun, sesungguhnya kita tetap menjadi bagian dari perjalanan kosmis yang luar biasa.
Bahkan di dalam tubuh manusia yang duduk diam sendiri itu jantungnya terus memompa darah, paru-paru menghirup udara, sel-sel menjalankan metabolisme, dan pikiran berpindah dari satu ingatan menuju ingatan lainnya. Semua bekerja tanpa menunggu perintah pemilik tubuh.
Diam, sering kali hanyalah persoalan sudut pandang. Sedangkan hidup berlangsung dalam gerak (move), dan gerak adalah anugerah, naluri, sekaligus takdir yang berjalan beriringan dengan waktu.
Kita boleh menolak perubahan, membenci keadaan, atau kecewa pada kenyataan. Tetapi ada satu hal yang tidak pernah meminta persetujuan kita: waktu terus berjalan. Besok akan datang tanpa menunggu kesiapan kita. Lusa menyusul tanpa mengirim undangan. Hakim tidak bisa membuat penetapan menunda datangnya besok hari Senin. Bahkan orang paling berkuasa sekalipun tidak dapat menerbitkan keputusan untuk menunda datangnya hari tua.
Manusia, kadang tergoda melawan kenyataan itu. Dalam film The Curious Case of Benjamin Button (2008), seorang pembuat jam yang buta, Monsieur Gateau, kehilangan putra tercintanya dalam Perang Dunia I. Kesedihan membawanya menciptakan jam besar untuk sebuah stasiun kereta api. Namun, jarum jam itu sengaja dibuatnya bergerak mundur. Ia membayangkan seandainya waktu dapat diputar kembali, anaknya dan anak-anak muda yang gugur dalam perang mungkin bisa pulang, bekerja, menikah, mempunyai keturunan, dan menjalani kehidupan yang telah direnggut dari mereka.
Betapa pilunya seorang ayah yang mencoba mengalahkan waktu dengan membuat jam berjalan terbalik. Tetapi waktu tidak pernah berunding dengan jarum jam. Kalender dapat dibalik, foto lama dapat dicetak kembali, tetapi kehidupan yang telah berlalu tidak dapat dipanggil pulang.
Kisah Benjamin Button sendiri menghadirkan paradoks. Ia terlahir dengan tubuh menyerupai orang yang sangat tua, kemudian seiring bertambahnya usia ia terlihat semakin muda. Pada akhir kehidupannya, ia meninggal sebagai bayi yang tidak berdaya. Tubuhnya bergerak menuju kemudaan, tetapi hidupnya tetap menuju kematian.
Film fantasi romantis itu mengingatkan saya pada kitab Qur’an Surah Yasin ayat 68, yang menggambarkan manusia yang dipanjangkan umurnya akan dikembalikan kepada awal kejadiannya. Seperti Bayi memulai kehidupan dalam ketidakberdayaan. Setelah dewasa, manusia memperoleh kekuatan dan kemandirian, tetapi pada usia lanjut manusia (mahluk) kembali melemah. Benjamin menjalani arah biologis yang berlawanan, namun awal dan akhir kehidupannya memperlihatkan kerapuhan yang sama.
Kehidupan seolah sedang mempermainkan kesombongan manusia. Kita menghabiskan sebagian besar waktu untuk menjadi kuat, mandiri, dan berkuasa atas keadaan, tetapi pada akhirnya menyadari bahwa kemandirian itu tidak pernah mutlak.
F. Scott Fitzgerald, penulis cerita asli Benjamin Button, memperoleh inspirasi dari sebuah gagasan satiris Mark Twain tentang betapa ganjilnya kehidupan yang menempatkan bagian terbaiknya di awal dan bagian paling menyedihkan di akhir. “Life would be infinitely happier if we could only be born at the age of eighty and gradually approach eighteen.” Fitzgerald membalik urutan biologis manusia, tetapi justru memperlihatkan sesuatu yang tidak berubah: perjalanan hidup tetap memiliki batas.
Eric Roth, penulis skenario film The Curious Case of Benjamin Button itu mengubah cerita pendek Fitzgerald itu menjadi elegi yang sunyi, melankolis, dan penuh perenungan mendalam tentang kefanaan manusia.
Didalamnya saya teringat perspektif eksistensialisme Jean-Paul Sartre. Kisah Benjamin dapat dibaca melalui ketegangan antara facticity dan transcendence. Manusia hadir dalam keadaan yang tidak seluruhnya ia pilih: tubuh, kelahiran, sejarah, dan berbagai keterbatasan. Namun, di tengah kenyataan tersebut, manusia tetap memiliki ruang untuk menentukan sikap dan tindakannya.
Benjamin tidak memilih tubuh yang ganjil itu. Tetapi ia memilih menjalani kehidupan, menjadi pelaut, ikut dalam perang dunia ke-II, mencintai, kehilangan, dan menemukan makna dalam pengalaman yang dilaluinya. Fisiknya seolah bergerak mundur, sementara kesadarannya terus melangkah maju.
Di sinilah filsafat Stoikisme menemukan ruangnya untuk berbisik. Kaum Stoik mengajarkan kita tentang Amor Fati, sebuah seni untuk tidak hanya menerima takdir, tetapi mencintainya dengan lapang dada. Kita boleh membenci kenyataan, boleh kecewa pada apa yang telah terjadi, namun ada hal-hal di luar kendali kita yang mutlak, dan waktu adalah rajanya. Ketika kita menolak bergerak karena terjebak dalam penyesalan, kita sedang menyiksa diri atas sesuatu yang sudah membatu menjadi sejarah.
Kata move on relevan dengan ajaran stoikisme ini. Keberanian menerima masa lalu sesakit atau sesesal apa pun kenyataannya dan melanjutkan kehidupan.
Memaafkan diri sendiri dan orang lain adalah cara membebaskan batin dari keinginan mustahil untuk mengubah sesuatu yang sudah terjadi. Kenangan seharusnya menjadi perpustakaan tempat belajar, bukan penjara tempat menghabiskan sisa hidup. Masa lalu adalah alamat pengalaman, bukan tempat tinggal permanen.
Dalam berbagai ajaran agama, pertobatan justru memperlihatkan kemurahan Tuhan yang menyediakan kesempatan bagi manusia untuk berubah.
Kesadaran itu membawa saya kembali pada pemikiran Søren Kierkegaard: hidup hanya dapat dipahami dengan melihat ke belakang, tetapi harus dijalani dengan bergerak ke depan.
Fisika modern pun belum menyediakan tiket pulang ke hari kemarin. Teori relativitas Einstein memang memperlihatkan bahwa laju waktu dapat berbeda karena kecepatan dan gravitasi, tetapi sampai hari ini belum ada teknologi yang terbukti mampu membawa manusia secara fisik kembali ke masa lalu.
Belum ada maskapai penerbangan dengan rute Jakarta–Tahun 1976. Jikalau saja ada, mungkin penumpangnya penuh. Sebagian ingin membeli tanah yang dahulu ditawarkan murah, sebagian ingin memperbaiki keputusan hidup, sebagian ingin membatalkan pernikahan, sebagian lagi ingin membawa lari anak gadis orang di kampung halaman.
Kesadaran tentang gerak juga terlihat pada pemandangan spiritual: tawaf di Makkah. Jutaan umat Islam dari berbagai bangsa dan kedudukan sosial bergerak mengelilingi Ka’bah, berlawanan arah jarum jam. Ka’bah menjadi pusat orientasi ibadah, bukan pusat gravitasi astronomis, tetapi gerakan itu menghadirkan simbolisme tentang manusia yang terus bergerak dalam ketundukan kepada Tuhan.
Pada akhirnya, seluruh perjalanan kehidupan membawa manusia kepada satu kenyataan yang tidak dapat ditawar: kematian. Dalam pengertian biologis, ia merupakan akhir eksistensi makhluk hidup sebagai organisme. Namun, dalam keyakinan spiritual, kematian juga dipahami sebagai gerbang kepulangan menuju Tuhan, Sang Pencipta ruang dan waktu.
Kematian bukanlah antrean rapi tempat orang tua selalu berjalan lebih dahulu. Ia lebih menyerupai lemparan dadu yang hasilnya tidak dapat kita ketahui. Kematian tidak memilih urutan berdasarkan usia. Ia dapat menjemput bayi yang baru lahir, remaja yang penuh mimpi, atau lansia yang telah kenyang mencicipi asam garam dunia.
Barangkali karena itulah waktu menjadi begitu berharga. Bukan karena kita mampu menyimpannya, melainkan justru karena kita tidak pernah sanggup menahannya.
Albert Einstein pernah menulis kepada putranya, Eduard, pada 1930: “Life is like riding a bicycle. To keep your balance, you must keep moving.” Hidup seperti mengendarai sepeda. Untuk menjaga keseimbangan, kita harus terus bergerak.
Quote terkenal Einsten ini mengajarkan bahwa dalan gerak kita mendapat keseimbangan. Namun, gerak saja tidak cukup. Sepeda membutuhkan arah dan kendali. Kita harus tahu kapan mengayuh, mengerem, atau berbelok. Einstein mengajarkan keseimbangan, bukan kebut-kebutan.
Pada akhirnya, kata move membawa kita pada perjalanan makna yang menarik. Ia bermula dari move, gerak sebagai kenyataan naluriah kehidupan. Menjadi moving, sesuatu yang terus berlangsung sekaligus mampu menggerakkan perasaan. Kemudian move on, keberanian berdamai dengan masa lalu dan melanjutkan kehidupan. Hingga akhirnya menjadi movement, ketika kesadaran individu bertemu dengan kesadaran kolektif untuk mengubah keadaan.
Sejarah peradaban mencatat bagaimana gerakan kemerdekaan India, perjuangan hak-hak sipil Amerika Serikat, gerakan anti-apartheid Afrika Selatan, hingga perjuangan kemerdekaan dan Reformasi di Indonesia memperlihatkan kekuatan manusia yang bergerak bersama untuk mengubah tatanan sosial, hukum, dan politik.
Perubahan tidak cukup hanya diharapkan. Ia membutuhkan gagasan, keberanian, pengorbanan, dan kesetiaan pada nilai yang diperjuangkan. Sebab tidak setiap gerakan menghasilkan kemajuan. Sejarah juga mengenal gerakan yang membawa penindasan dan kehancuran. Gerak menjadi bermakna ketika memiliki arah moral yang jelas.
Gerak adalah kenyataan alamiah. Kemajuan adalah pilihan moral.
Kita tidak dapat menghentikan waktu, tetapi dapat menentukan apa yang hendak diperjuangkan selama waktu masih diberikan. Kita tidak mampu memutar kembali masa lalu, tetapi dapat menggunakan hari ini untuk memperbaiki akibatnya. Kita pun tidak mengetahui kapan perjalanan hidup berakhir, tetapi masih dapat memilih nilai apa yang ingin ditinggalkan.
Kierkegaard mengingatkan bahwa kehidupan harus dijalani ke depan. Einstein mengajarkan keseimbangan melalui sepeda yang terus bergerak. Benjamin Button memperlihatkan bahwa bahkan tubuh yang bergerak menuju kemudaan tidak mampu menghindari akhir kehidupan. Sementara jam Monsieur Gateau memberi pelajaran paling menyentuh: cinta yang begitu besar sekalipun tidak selalu mampu mengembalikan sesuatu yang telah hilang.
Maka bergeraklah. Bukan semata-mata untuk mengejar waktu, melainkan untuk memberi makna pada waktu yang tersisa. Bergeraklah dengan pikiran yang terbuka, hati yang hidup, dan keberanian memperbaiki keadaan.
Sebab pada akhirnya, hidup bukan tentang seberapa jauh kita telah bergerak, melainkan apa yang telah berubah menjadi lebih baik karena kita pernah hadir di dunia.
Waktu akan terus bergerak tanpa memerlukan kita. Tetapi selama kita masih diberi waktu, pastikan ada kebaikan yang ikut bergerak karena kehadiran kita.
Move. Keep moving.
Garut, 21 Oktober 2026
Untuk Mendapatkan Berita Terbaru Suara BSDK, Follow Channel WhatsApp: SUARABSDKMARI

