Close Menu
Suara BSDKSuara BSDK
  • Beranda
  • Artikel
  • Berita
  • Features
  • Sosok
  • Filsafat
  • Roman
  • Satire
  • Video
  • Liputan Khusus

Subscribe to Updates

Get the latest creative news from FooBar about art, design and business.

What's Hot

Menimbang Kembali Pemidanaan Anak: Ketika Perundungan Berujung Kematian

October 31, 2026

Lompatan Mutu Kebijakan Peradilan: BSDK MA RI Evaluasi 30 Naskah Rekomendasi Strategis di Jakarta

October 31, 2026

Di Balik Asap Karhutla: Menelusuri Potensi Pencucian Uang dalam Green Financial Crime

October 31, 2026
Instagram YouTube
Suara BSDKSuara BSDK
  • Beranda
  • Artikel
  • Berita
  • Features
  • Sosok
  • Filsafat
  • Roman
  • Satire
  • Video
  • Liputan Khusus
Suara BSDKSuara BSDK
  • Beranda
  • Artikel
  • Berita
  • Features
  • Sosok
  • Filsafat
  • Roman
  • Satire
  • Video
  • Liputan Khusus
Home » 2026: Tahun Penuh Harap Bagi Para Hakim dan Momentum Menulis Ulang Sejarah Kehormatan Lembaga Peradilan

2026: Tahun Penuh Harap Bagi Para Hakim dan Momentum Menulis Ulang Sejarah Kehormatan Lembaga Peradilan

Khoiruddin HasibuanBy Khoiruddin HasibuanDecember 31, 2025 · 13:19 WIB7 Mins ReadNo Comments
Share
Facebook Twitter Threads Telegram WhatsApp

Jika semua berjalan sesuai janji, Januari 2026 atau tahun 2026 akan menjadi tahun yang berbeda bagi para hakim di Indonesia. Para Hakim di Indonesia, terus mengharapkan realisasi janji pemerintah menaikkan tunjangan hakim hingga 280 persen. Jika itu benar terjadi, maka momen tersebut merupakan sebuah lonjakan yang belum pernah terjadi, sejak reformasi birokrasi dimulai, hampir dua dekade lalu.

Bagi para hakim, realisasi tersebut merupakan suatu hal yang menggembirakan. Gaji dan tunjangan, yang selama ini dianggap tidak sepadan dengan beban tanggung jawab moral mereka, akhirnya akan diperbaiki. Para hakim adalah garda terakhir penegak hukum, pelindung konstitusi, dan pengawal rasa keadilan. Bukankah sudah seharusnya mereka hidup layak, tanpa harus mengandalkan “cara lain” untuk bertahan di tengah tekanan ekonomi?

Namun, bagi Sebagian Masyarakat Indonesia, kenaikan tunjangan pejabat negara, betapapun rasionalnya, terasa seperti ironi yang getir. Saat Masyarakat Aceh, Sumatera Utara, dan Sumatera Barat baru saja diguncang bencana alam.

Negeri ini sepertinya sedang berjuang menegakkan kemanusiaan, di reruntuhan rumah dan jalan yang terputus. Lalu di sisi lain, negara juga berupaya menegakkan keadilan, dengan memperbaiki kesejahteraan para penjaganya. Dua hal itu tidak selalu bertentangan, tapi keduanya menuntut kepekaan moral yang sama: tanggung jawab untuk tidak hanya menegakkan hukum, tetapi juga menyentuh nurani manusia.

Hakim dan Rasa Keadilan

Hakim bukan sekadar profesi. Ia adalah peran moral. Dalam setiap putusan, seorang hakim sebenarnya sedang menulis bagian kecil dari sejarah bangsa. Bagian yang menentukan, apakah masyarakat masih percaya, bahwa hukum bisa berpihak pada yang lemah.

Karena itu, menaikkan tunjangan hakim tidak boleh hanya dipahami sebagai kebijakan ekonomi. Ia adalah simbol politik moral negara, dimana keadilan tidak boleh murah, dan integritas tidak boleh dijual murah.

Namun, di situlah letak paradoksnya. Kesejahteraan hakim yang meningkat, tidak otomatis membuat keadilan semakin nyata. Karena integritas bukanlah hasil dari besarnya gaji, melainkan dari kedalaman tanggung jawab. Hakim yang adil, tidak lahir dari nominal, melainkan dari kesadaran, bahwa setiap ketukan palu adalah janji.

Negara dan Cermin Etiknya

Keadilan adalah wajah dari negara. Ketika hakim-hakimnya sejahtera, tetapi masyarakatnya menderita, wajah itu menjadi retak. Itu sebabnya, kenaikan tunjangan sebesar 280 persen, seharusnya bukan akhir dari perjuangan, tetapi awal dari pembuktian baru.

Para hakim harus membuktikan kepada rakyat, bahwa kesejahteraan itu tidak mengubah jarak antara mereka dan keadilan yang diwakilinya. Bahwa tunjangan yang naik, bukan membuat mereka semakin tinggi di menara gading, tapi justru mendekatkan langkah mereka ke tanah, ke realitas sosial yang hari ini masih penuh luka.

Di Aceh, Sumut, dan Sumbar, ribuan warga kehilangan rumah. Di pengungsian, hukum terasa jauh. Masyarakat yang tinggal di pengungsian, masih berjibaku mencari air bersih, makanan, dan selimut untuk anak-anak mereka. Tapi justru di tempat seperti itulah keadilan diuji: Apakah para hakim, pemerintah dan para penegak hukum, masih mampu melihat wajah keadilan yang sederhana di balik reruntuhan? Keadilan, dalam makna terdalamnya, bukan hanya soal putusan pengadilan. Ia juga soal membuktikan keberpihakan moral kepada yang rapuh.

Baca Juga  Penjaga Keseimbangan Kekuasan: Putusan Hakim adalah Putusan Tuhan

Kesejahteraan dan Martabat

Tidak bisa dipungkiri, selama bertahun-tahun, banyak hakim hidup dalam tekanan ekonomi yang tidak layak dibandingkan dengan beban tanggung jawabnya.
Tunjangan kecil, biaya hidup tinggi, sementara mereka diminta untuk hidup bersih dan tidak tergoda oleh iming-iming pihak berperkara.

Karena itu, kenaikan tunjangan adalah bentuk pemulihan martabat. Namun martabat bukan hanya soal apa yang diberikan negara kepada hakim, tetapi juga membuktikan apa yang hakim kembalikan kepada negara.

Kenaikan 280 persen itu, betapa pun besarnya, seharusnya menjadi perjanjian moral baru antara hakim dan rakyat. Rakyat membiayai kehidupan hakim agar mereka tidak goyah. Sebagai balasan, hakim harus menjamin dan membuktikan bahwa tidak ada keadilan yang bisa dibeli. Jika itu bisa dijaga, maka kebijakan ini bukan sekadar kenaikan gaji, melainkan pembuktian revolusi nilai dalam sistem hukum.

Menjadi hakim di Indonesia hari ini,  berarti hidup di antara dua dunia: dunia ideal hukum yang menjunjung tinggi asas keadilan universal, dan dunia nyata di mana keadilan sering kali terasa seperti kemewahan.

Di satu sisi, hakim dituntut memegang teguh independensi. Di sisi lain, mereka hidup dalam sistem birokrasi yang masih sering tumpang tindih, di bawah sorotan publik yang tajam. Dalam kondisi seperti ini, kesejahteraan memang menjadi faktor penting untuk menjaga keseimbangan batin.

Namun, kesejahteraan hanyalah syarat perlu, bukan syarat cukup bagi lahirnya integritas. Hakim yang sejahtera, tapi lupa kepada rakyat, adalah hakim yang kehilangan makna panggilannya. Dan rakyat yang kehilangan kepercayaan kepada hakim, adalah bangsa yang kehilangan arah moralnya.

Keadilan Sosial di Tengah Bencana

Mungkin, di tengah gemuruh harapan kenaikan tunjangan itu, para Hakim perlu berhenti sejenak dan menengok ke Aceh, ke Sumatera Utara, ke Sumatera Barat. Di sana, ribuan warga sedang berjuang memulihkan hidup. Ada ibu yang kehilangan anak, ada petani yang ladangnya tertimbun longsor, ada nelayan yang perahunya hanyut.

Bagi mereka, kata “keadilan” bukan soal putusan pengadilan. Keadilan adalah rasa bahwa negara hadir, bahwa penderitaan mereka dilihat dan diakui. Maka, jika negara ingin menegakkan keadilan, ia harus menegakkannya di dua ruang sekaligus:
di ruang sidang yang berpendingin udara, dan di tenda-tenda pengungsian yang beratap terpal. Keadilan sejati tidak mengenal batas profesi. Hakim, dokter, tentara, wartawan, relawan, semuanya adalah wajah dari negara.

Momentum Etika Baru

Kenaikan tunjangan hakim bisa menjadi momentum untuk menata ulang hubungan antara kekuasaan dan keadilan. Sebab, kesejahteraan tanpa etika, akan berujung pada kemewahan tanpa makna. Para hakim kini memiliki peluang untuk menulis ulang sejarah kehormatan lembaga peradilan. Mereka bisa membuktikan bahwa integritas bukan sekadar kata yang dipajang di dinding ruang sidang, melainkan napas yang menghidupi profesi itu setiap hari.

Setiap putusan yang adil akan menjadi cara untuk membayar kembali kepercayaan rakyat. Dan setiap sikap sederhana, tidak korup, tidak berpihak, tidak arogan, akan menjadi bentuk “syukur diam” atas rezeki yang meningkat.

Baca Juga  Kewajiban Kehadiran Prinsipal Dalam Perkara Gugatan Sederhana

Ada satu hal yang sering luput dari pembicaraan tentang hukum, bahwa hakim tidak hanya menegakkan pasal, tetapi juga menafsirkan nurani bangsa. Ketika seorang hakim menjatuhkan putusan yang adil, ia sebenarnya sedang berkata kepada rakyat: “Negara ini masih punya hati.” Dan sebaliknya, ketika putusan itu lahir dari kompromi atau ketakutan, rakyat merasa bahwa hati negara telah beku. Setiap putusan hakim yang tidak adil adalah bencana kecil bagi bangsa. Dan mungkin, di negeri yang baru saja dilanda bencana alam, keadilan yang lalai, bisa terasa seperti gempa yang lain: gempa moral.

Karena itu, di tengah harapan realisasi kenaikan tunjangan, para hakim seharusnya tidak hanya mengharapkan perbaikan kesejahteraan, tetapi juga merenungkan beban moral yang besar walaupun tidak ada perbaikan kesejahteraan. Tunjangan boleh naik boleh tidak, tapi tanggung jawab moral tidak boleh menurun.

Menegakkan Keadilan, Merawat Kemanusiaan

Bencana sering kali memperlihatkan wajah sejati sebuah bangsa. Ia menelanjangi kesenjangan, menguji solidaritas, dan memperlihatkan siapa yang benar-benar hadir ketika kata-kata tak lagi cukup. Dalam konteks itu, merealisasikan kenaikan kesejahteraan hakim, tidak boleh membuat negara lupa bahwa keadilan tidak berhenti di pengadilan. Keadilan juga harus hidup dalam tindakan sosial, dalam empati, dalam kesediaan untuk mendengar jeritan mereka yang kehilangan.

Seorang hakim yang baik bukan hanya yang mampu memutus perkara dengan cepat dan tepat, tetapi juga yang mampu melihat wajah manusia di balik berkas perkara. Dan mungkin, setelah adanya realisasi kenaikan tunjangan nanti, inilah waktunya bagi lembaga peradilan untuk turun gunung: mengunjungi masyarakat, memahami akar masalah sosial, dan memastikan hukum benar-benar bekerja untuk rakyat.

Harapan dari Sebuah Realisasi Kenaikan 280

Jika kenaikan tunjangan hakim sebesar 280 persen benar-benar terealisasi, sejarah akan mencatatnya sebagai langkah berani pemerintah untuk memperkuat institusi peradilan. Namun sejarah juga akan menuntut pembuktian: apakah langkah itu berhasil melahirkan peradilan yang lebih adil, lebih bersih, lebih tangguh, dan lebih berbelas kasih.

Karena, rakyat tidak meminta hakim menjadi malaikat. Rakyat hanya ingin hakim menjadi manusia yang jujur, adil, berintegritas, dan peka terhadap kehidupan. Terutama saat banyak warga negara masih harus menata harapan di tengah puing, kehilangan, dan ketidakpastian.

Jika para hakim mampu menjawab amanah ini dengan kesungguhan moral, maka mereka bisa menulis ulang sejarah kehormatan lembaga peradilanitu sendiri, menuju Indonesia yang hukum dan keadilannya bisa menjadi sandaran hidup setiap warganya. Tidak hanya bagi mereka yang kuat dan berada, tetapi juga, dan terutama, bagi mereka yang sedang lemah, terluka, dan berjuang bangkit.

Sebab di situlah inti keadilan itu sendiri: bukan sekadar pasal dan angka, tapi kehangatan antara nurani dan kemanusiaan. Bahwa keadilan di Indonesia bukan hanya hidup di ruang sidang, tetapi juga berdenyut di setiap hati yang tak tega melihat penderitaan.

Khoiruddin Hasibuan
Kontributor
Khoiruddin Hasibuan
Hakim Pengadilan Agama Soreang

Untuk Mendapatkan Berita Terbaru Suara BSDK, Follow Channel WhatsApp: SUARABSDKMARI

artikel tunjangan
Share. Facebook Twitter Threads Telegram WhatsApp Copy Link

Related Posts

Menimbang Kembali Pemidanaan Anak: Ketika Perundungan Berujung Kematian

October 31, 2026

Di Balik Asap Karhutla: Menelusuri Potensi Pencucian Uang dalam Green Financial Crime

October 31, 2026

Problematika Pelaksanaan Eksekusi Pembayaran Sejumlah Uang Terhadap Objek Jaminan Berupa Benda Bergerak

October 30, 2026
Leave A Reply Cancel Reply


Demo
Top Posts

Dari FGD hingga Semangkuk Mi Kuah, BSDK Tunjukkan Wajah Pendidikan Peradilan yang Humanis

October 28, 2026

Adu Domba: Bukan Sekedar Adu Kekuatan

October 23, 2026

Asap di Bumi Serambi Makkah: Jauh dari Titik Api, Dekat dengan Ujian Keadilan

October 20, 2026

Menata Sekretariat, Menjaga Nalar Peradilan

October 19, 2026
Don't Miss

Menimbang Kembali Pemidanaan Anak: Ketika Perundungan Berujung Kematian

By Wilmar Ibni Rusydan and Daniel H. NapitupuluOctober 31, 20260

Kabar meninggalnya seorang siswa sekolah dasar di Pemalang pada awal Oktober 2026 cukup menyita perhatian…

Lompatan Mutu Kebijakan Peradilan: BSDK MA RI Evaluasi 30 Naskah Rekomendasi Strategis di Jakarta

October 31, 2026

Di Balik Asap Karhutla: Menelusuri Potensi Pencucian Uang dalam Green Financial Crime

October 31, 2026

Merawat Janji 1928: Pengadilan Agama Jakarta Pusat Gelar Upacara Sumpah Pemuda Ke-98 Bersama BSDK MA RI

October 31, 2026
Stay In Touch
  • YouTube
  • TikTok
  • WhatsApp
  • Twitter
  • Instagram
Top Trending
Demo

Recent Posts

  • Menimbang Kembali Pemidanaan Anak: Ketika Perundungan Berujung Kematian
  • Lompatan Mutu Kebijakan Peradilan: BSDK MA RI Evaluasi 30 Naskah Rekomendasi Strategis di Jakarta
  • Di Balik Asap Karhutla: Menelusuri Potensi Pencucian Uang dalam Green Financial Crime
  • Merawat Janji 1928: Pengadilan Agama Jakarta Pusat Gelar Upacara Sumpah Pemuda Ke-98 Bersama BSDK MA RI
  • 90 Warga di Gugat, Hakim PN Dataran Hunipopu Cek Langsung Objek Sengketa

Recent Comments

  1. Rizka on Problematika Pelaksanaan Eksekusi Pembayaran Sejumlah Uang Terhadap Objek Jaminan Berupa Benda Bergerak
  2. Auzir on KUHAP Baru: Menanggalkan Jubah Interogator, Transformasi Menuju Sistem Adversarial
  3. Budi Santoso on Titian Panjang Pengabdian Prajurit Setia Hingga Akhir
  4. PrP on Kajian Green Victimology Sebagai Pendekatan Perlindungan Hukum Korban Kebakaran Hutan di Indonesia
  5. Grace Hall on Abhinaya Upangga Wisesa: Ketika Kerja Sunyi Menjadi Penjaga Martabat Peradilan
Hubungi Kami

Badan Strategi Kebijakan dan Pendidikan dan Pelatihan Hukum dan Peradilan Hukum dan Peradilan
Mahkamah Agung RI

Kantor: Jl. Cikopo Selatan Desa Sukamaju, Kec. Megamendung
Bogor, Jawa Barat 16770

Kirimkan reportase berita, opini, features dan artikel lainnya ke email suarabsdk.com : 
redpelsuarabsdk@gmail.com

Telepon: (0251) 8249520, 8249522, 8249531, 8249539

Kategori
Beranda Artikel Berita Features Sosok KRITERIA TULISAN
Filsafat Roman Satire Video BALACADAS
Connect With Us
  • Instagram
  • YouTube
  • WhatsApp
Aplikasi Internal
Logo 1 Logo 2 Logo 3 Logo 3 Logo 5
Logo 4 Logo 4 Logo 4 Logo 5 Logo 5 Logo 5
Kontributor
  • Avatar photo Ahmad Junaedi
  • Avatar photo Mohammad Khairul Muqorobin
  • Avatar photo Aman
  • Avatar photo Irvan Mawardi
  • Avatar photo Cecep Mustafa
  • Avatar photo Khoiruddin Hasibuan
  • Avatar photo Yudhistira Ary Prabowo
  • Avatar photo Ari Gunawan
  • Avatar photo Muamar Azmar Mahmud Farig
  • Avatar photo Syailendra Anantya Prawira
  • Avatar photo Ghesa Agnanto Hutomo
  • Avatar photo Johanes
  • Avatar photo Muhammad Rizqi Hengki
  • Avatar photo Syamsul Arief
  • Avatar photo Agus Digdo Nugroho
  • Avatar photo Timbul Bonardo Siahaan
  • Avatar photo Muhammad Adiguna Bimasakti
  • Avatar photo Dahlan Suherlan
  • Avatar photo Jatmiko Wirawan
  • Avatar photo Muhammad Zuchri Nasuha Lubis
  • Avatar photo Syihabuddin
  • Avatar photo Cik Basir
  • Avatar photo Taufikurrahman
  • Avatar photo Zulfahmi
  • Avatar photo Maria Fransiska Walintukan
  • Avatar photo Unggul Senoaji
  • Avatar photo Anton Ahmad Sogiri
  • Avatar photo M. Natsir Asnawi
  • Avatar photo Abdi Munawar Daeng Mangagang
  • Avatar photo Adji Prakoso
  • Avatar photo Bintoro Wisnu Prasojo
  • Avatar photo Yoshito Siburian
  • Avatar photo Iqbal Lazuardi
  • Avatar photo Sriti Hesti Astiti
  • Avatar photo Abdul Azis Ali Ramdlani
  • Avatar photo Galang Adhe Sukma
  • Avatar photo Harun Maulana
  • Avatar photo Ahmad Syahrus Sikti
  • Avatar photo Bagus Partha Wijaya
  • Avatar photo Layla Windy Puspita Sari
  • Avatar photo Muhammad Hanif Ramadhan
  • Avatar photo Anisa Yustikaningtiyas
  • Avatar photo Binsar Parlindungan Tampubolon
  • Avatar photo Ferdian Permadi
  • Avatar photo Ganjar Prima Anggara
  • Avatar photo I Gusti Lanang Ngurah Sidemen Putra
  • Avatar photo Eliyas Eko Setyo
  • Avatar photo Firzi Ramadhan
  • Avatar photo Itsnaatul Lathifah
  • Avatar photo Jarkasih
  • Avatar photo Sudiyo
  • Avatar photo Afifah Dwiandini
  • Avatar photo Febby Fajrurrahman
  • Avatar photo Garin Purna Sanjaya
  • Avatar photo Marulam J Sembiring
  • Avatar photo Tri Indroyono
  • Avatar photo Letkol Chk Agustono, S.H., M.H.
  • Avatar photo Ardiansyah Iksaniyah Putra
  • Avatar photo Buang Yusuf
  • Avatar photo Henri Setiawan
  • Avatar photo Irene Cristna Silalahi
  • Avatar photo Marsudin Nainggolan
  • Avatar photo Maulana Aulia
  • Avatar photo Riki Perdana Raya Waruwu
  • Avatar photo Siti Nadhiroh
  • Avatar photo Dr. Syofyan Iskandar, S.H., M.H.
  • Avatar photo Muhamad Zaky Albana
  • Avatar photo Fauzan Prasetya
  • Avatar photo Irwan Rosady
  • Avatar photo Khoiriyah Roihan
  • Avatar photo Redaktur SuaraBSDK
  • Avatar photo Yasin Prasetia
  • Avatar photo Audrey Kartika Putri
  • Avatar photo Cok Istri Bhagawanthi Pemayun
  • Avatar photo Eddy Daulatta Sembiring
  • Avatar photo Fitriyel Hanif
  • Avatar photo Gerry Michael Purba
  • Avatar photo K.G. Raegen
  • Avatar photo Rafi Muhammad Ave
  • Avatar photo Rangga Lukita Desnata
  • Avatar photo Rikatama Budiyantie
  • Avatar photo Silveria Supanti
  • Avatar photo Sugiarto
  • Avatar photo Teguh Setiyawan
  • Avatar photo Achmad Fikri Oslami
  • Avatar photo Agenda Citra Muhammad
  • Avatar photo Ahmad Fuad Noor Ghufron
  • Avatar photo Achmad Nurul Huda
  • Avatar photo Andro Riski Pradipta
  • Avatar photo Anggi Permana
  • Avatar photo Ang Rijal Amin
  • Avatar photo Armansyah
  • Avatar photo David Pasaribu
  • Avatar photo Dedi Putra
  • Avatar photo Dewi Maharati
  • Avatar photo Edi Hudiata
  • Avatar photo Gerry Geovant Supranata Kaban
  • Avatar photo Herjuna Praba Wiesesa
  • Avatar photo Hermanto
  • Avatar photo Indarka PP
  • Avatar photo Muhamad Fadillah
  • Avatar photo Nugraha Medica Prakasa
  • Avatar photo Ria Marsella
  • Avatar photo Rizal Arif Fitria
  • Avatar photo Sadana
  • Avatar photo Sahram
  • Avatar photo Saut Erwin Hartono A. Munthe
  • Avatar photo Yusuf Sodhiqin
  • Avatar photo Achmad Pratomo
  • Avatar photo Dr. H. Achmad Setyo Pudjoharsoyo., SH., M.Hum
  • Avatar photo Ahmad Muzayyin Destuladoe
  • Avatar photo Ahmad Faiz Shobir Alfikri
  • Avatar photo Ahmad Farhan Subhi
  • Avatar photo Arie Fitriansyah
  • Avatar photo Bismo Jiwo Agung
  • Avatar photo Dharma Setiawan Negara
  • Avatar photo Epri Wahyudi
  • Avatar photo Fajar Widodo
  • Avatar photo Fariz Prasetyo Aji
  • Avatar photo Fauzan Arrasyid
  • Avatar photo Fauzia Rohmah
  • Avatar photo Febry Indra Gunawan Sitorus
  • Avatar photo Hartanto Ariesyandi
  • Avatar photo Mardi Candra
  • Avatar photo Muhammad Irfan Syahputra
  • Avatar photo Muhammad Amin Putra
  • Avatar photo Niko Wijaya
  • Avatar photo Putra Nova A.S
  • Avatar photo Raden Heru Wibowo Sukaten
  • Avatar photo Rahmad Ramadhan Hasibuan
  • Avatar photo Satria Perdana
  • Avatar photo Trisoko Sugeng Sulistyo
  • Avatar photo Umar Dani
  • Avatar photo Wahyu Budi Santoso
  • Avatar photo Wilmar Ibni Rusydan
  • Avatar photo Abdul Hadi
  • Avatar photo Abiandri Fikri Akbar
  • Avatar photo Abi Zaky Azizi
  • Avatar photo Adimas Leo Firmansah
  • Avatar photo Andi Akram
  • Avatar photo Anggiyansyah Nurmanta
  • Avatar photo Arsyawal
  • Avatar photo Ashhab Triono
  • Avatar photo Aulia Rochmani Lazuardi
  • Avatar photo Azalia Purbayanti Sabana
  • Avatar photo Bagus Sujatmiko
  • Avatar photo Bayu Akbar Wicaksono
  • Avatar photo Chandra Khoirunnas
  • Avatar photo Cuhandi
  • Avatar photo Daniel H. Napitupulu
  • Avatar photo Deka Rachman Budihanto
  • Avatar photo Dendi Sutiyoso
  • Avatar photo Dhea Sutaryana
  • Avatar photo Enrico Simanjuntak
  • Avatar photo Fadhilah Fauzan, S.H.
  • Avatar photo Fahri Gunawan Siagian
  • Avatar photo Fauziah Rahmah
  • Avatar photo Fery Rochmad Ramadhan
  • Avatar photo Ida Masnita Sigalingging
  • Avatar photo Idik Saeful Bahri
  • Avatar photo Imaniar
  • Avatar photo Karell Mawla Ibnu Kamali
  • Avatar photo Khalilurrahman
  • Avatar photo Khoirul Anwar
  • Avatar photo Mentari Wahyudihati
  • Avatar photo Misbah
  • Avatar photo Muhamad Ridwan
  • Avatar photo Muhammad Fadllullah
  • Avatar photo Muhamad Iqbal
  • Avatar photo Nia Chasanah
  • Avatar photo Novritsar Hasintongan Pakpahan
  • Avatar photo Nugraha Wisnu Wijaya
  • Avatar photo Pandu Pradana Wicaksono, S.H.
  • Avatar photo Raden Anggara Kurniawan
  • Avatar photo Rahimulhuda Rizki Alwi
  • Avatar photo Ranggi Adiwangsa Yusron
  • Avatar photo Rifda Aprilia Rusfayanti
  • Avatar photo Muhammad Rijaldy Alwy
  • Avatar photo Rohim
  • Avatar photo Romi Hardhika
  • Avatar photo Samsul Zakaria
  • Avatar photo Siti Anis
  • Avatar photo Sri Nurmina Sari
  • Avatar photo Stefanus Dwi Putra Medisa
  • Avatar photo Sugiri Wiryandono
  • Avatar photo Tri Cahya Indra Permana
  • Avatar photo Yudhi Reksa Perdana
  • Avatar photo Abdul Ghani
  • Avatar photo Ach. Jufri
  • Avatar photo Achmad Cholil
  • Avatar photo Adhlan Fadhilla Ahmad
  • Avatar photo Afif Muchshon
  • Avatar photo Agus Suharsono
  • Avatar photo Ahmad Efendi
  • Avatar photo Ahmad Hodri
  • Avatar photo Ahmad Rikfi Fuadi
  • Avatar photo Ahmad Rizza Habibi
  • Avatar photo Aidil Akbar
  • Avatar photo Alep Priyoambodo
  • Avatar photo Alfajar Nugraha
  • Avatar photo Ali Sobirin
  • Avatar photo Andi Amirah Humairah Ya'kub
  • Avatar photo Anang Riyan Ramadianto
  • Avatar photo Anderson Peruzzi Simanjuntak
  • Avatar photo Andhika Prayoga
  • Avatar photo Andi Muhammad Galib
  • Avatar photo Andi Aswandi Tashar
  • Avatar photo Andrie Gunawan
  • Avatar photo Anna Yulina
  • Avatar photo Annisa Nur Alam
  • Avatar photo Antok Wibowo
  • Avatar photo Arga Febrian
  • Avatar photo Ariansyah
  • Avatar photo Arief Sapto Nugroho
  • Avatar photo Mayor Chk Arif Dwi Prasetyo
  • Avatar photo Aryaniek Andayani
  • Avatar photo Asep Ridwan Hotoya
  • Avatar photo Bella Puspitawati
  • Avatar photo Bellina Gamelia Sembiring Kembaren
  • Avatar photo Billy Saut Mangoloi
  • Avatar photo Bilma Diffika
  • Avatar photo Bony Daniel
  • Avatar photo Budi Hermanto
  • Avatar photo Budi Suhariyanto
  • Avatar photo Chandra
  • Avatar photo Christopher Hutapea
  • Avatar photo Daniel Saputra
  • Avatar photo Danny Agus Setiyanto
  • Dedi Wigandi
  • Avatar photo Devita Aulia
  • Avatar photo Djoni Witanto
  • Avatar photo Effendi Mukhtar
  • Avatar photo Egia Rasido Tarigan
  • Avatar photo Eka Sentausa
  • Avatar photo Engli Thirta Satria
  • Avatar photo Enos Syahputra Sipahutar, S.H., M.H.
  • Avatar photo Dr. Fahmiron
  • Avatar photo Fahri Bachmid
  • Avatar photo Fahri Soleh
  • Avatar photo Fakhir Tashin Baaj
  • Avatar photo Farhan Al Faris
  • Avatar photo Fatkul Mujib, S.H.I., M.H.
  • Avatar photo Dr. Fauziati, S.Ag., M.Ag
  • Avatar photo Febriansyah Rozarius
  • Avatar photo Friska Ariesta Aritedi
  • Avatar photo Gineng Pratidina
  • Avatar photo Hanry Ichfan Adityo
  • Avatar photo Peltu Hartono
  • Avatar photo Hastuti
  • Avatar photo Hendro Yatmoko
  • Avatar photo Ibnu Abas Ali
  • Avatar photo Ichsan Muhammad
  • Avatar photo I Made Sukadana
  • Indra Tua Hasangapon Harahap
  • Avatar photo Intan Widiastuti
  • Avatar photo Ira Soniawati
  • Avatar photo Irfan Dibar
  • Avatar photo Muhammad Irfansyah
  • Avatar photo Letkol Kum Irwan Tasri, S.H., M.H., M.Han.
  • Avatar photo Iwan Lamganda Manalu
  • Avatar photo Jerymia Seky Tanaem
  • Avatar photo Jimmy Maruli Alfian
  • Avatar photo Jusran Ipandi
  • Avatar photo Kadek Dwi Krisna Ananda
  • Avatar photo Khaimi
  • Avatar photo Khoerul Umam
  • Avatar photo Linora Rohayu
  • Avatar photo Made Passek Reza Swandira
  • Avatar photo Marta Satria Putra
  • Avatar photo Marwan Ibrahim Piinga
  • Avatar photo Marwanto
  • Avatar photo Marzha Tweedo Dikky Paraanugrah
  • Avatar photo Maulia Martwenty Ine
  • Avatar photo Mira Maulidar
  • Avatar photo Misbahul Anwar
  • Avatar photo Muhamad Deni Saputra
  • Avatar photo Muhamad Ilham Azizul Haq
  • Avatar photo Muhamad Saptari
  • Avatar photo Muhammad Muhyi Arrasyid, S.Psi.
  • Avatar photo Muhammad Bagus Tri Prasetyo
  • Avatar photo Muhammad Yusuf
  • Avatar photo Murdian
  • Avatar photo Nadia Yurisa Adila
  • Avatar photo Nisrina Irbah Sati
  • Avatar photo Noak Mispa Sianturi
  • Avatar photo Noor Ichwan Ichlas Ria Adha
  • Avatar photo Novtri Nelli
  • Avatar photo Letkol CHK Nur Sakdi, S.H, M.H.
  • Avatar photo Nur Latifah Hanum
  • Avatar photo Piput Milandsari
  • Avatar photo Pita Permatasari
  • Avatar photo H .A.S Pudjoharsoyo
  • Avatar photo Putri Pebrianti
  • Avatar photo R. Deddy Harryanto
  • Avatar photo Radityo Muhammad Harseno
  • Avatar photo Rahmi Fattah
  • Avatar photo Randy Viyatadhika
  • Avatar photo Ratih Gumilang
  • Avatar photo Reindra Jasper H. Sinaga, S.H. Hakim Pengadilan Negeri Tanjung Balai Karimun
  • Avatar photo Reynold Mauliate Panggabean
Lihat semua kontributor →

Type above and press Enter to search. Press Esc to cancel.