Close Menu
Suara BSDKSuara BSDK
  • Beranda
  • Artikel
  • Berita
  • Features
  • Sosok
  • Filsafat
  • Roman
  • Satire
  • Video
  • Liputan Khusus

Subscribe to Updates

Get the latest creative news from FooBar about art, design and business.

What's Hot

AI dalam Tugas Yudisial: Membantu, Bukan Menggantikan Hakim

October 27, 2026

Transformasi Asas Keterbukaan Pengadilan dan Digitalisasi Peradilan: Perspektif Konstitusionalisme Hak Atas Informasi

October 27, 2026

Apresiasi dan Lomba Meriahkan Peringatan HUT ke-8 PN Pangkalan Balai

October 27, 2026
Instagram YouTube
Suara BSDKSuara BSDK
Deskripsi Gambar
  • Beranda
  • Artikel
  • Berita
  • Features
  • Sosok
  • Filsafat
  • Roman
  • Satire
  • Video
  • Liputan Khusus
Suara BSDKSuara BSDK
Deskripsi Gambar
  • Beranda
  • Artikel
  • Berita
  • Features
  • Sosok
  • Filsafat
  • Roman
  • Satire
  • Video
  • Liputan Khusus
Home » Dialektika Upaya Hukum: Analisis Pemeriksaan Sidang, Pengakuan Bersalah, dan Restriksi Kasasi dalam KUHAP BARU

Dialektika Upaya Hukum: Analisis Pemeriksaan Sidang, Pengakuan Bersalah, dan Restriksi Kasasi dalam KUHAP BARU

Muhammad Hanif RamadhanFirzi RamadhanBy Muhammad Hanif Ramadhan and Firzi RamadhanMarch 10, 2026 · 08:48 WIB9 Mins ReadNo Comments
Share
Facebook Twitter Threads Telegram WhatsApp

Kehadiran Undang-Undang Nomor 20 Tahun 2025 tentang Kitab Undang-Undang Hukum Acara Pidana (KUHAP Baru) menandai babak baru sejarah penegakan hukum pidana di Indonesia, yang secara resmi mulai berlaku efektif pada tanggal 2 Januari 2026. Perubahan sistemik ini bukan sekadar upaya administratif untuk menggantikan Undang-Undang Nomor 8 Tahun 1981 (KUHAP Lama) yang telah berusia lebih dari empat dekade, melainkan sebuah reorientasi filosofis yang mendalam terhadap paradigma keadilan di Indonesia.

Salah satu diskursus paling fundamental yang muncul dalam implementasi awal undang-undang ini adalah mengenai restrukturisasi upaya hukum, khususnya pembatasan terhadap pemeriksaan kasasi bagi putusan bebas dan putusan yang dihasilkan melalui mekanisme acara pemeriksaan singkat sebagai konsekuensi dari pengakuan bersalah (plea bargain). Fenomena ini menciptakan tantangan yuridis yang signifikan, terutama ketika dihadapkan pada Yurisprudensi Mahkamah Agung dan Putusan Mahkamah Konstitusi Nomor 114/PUU-X/2012 yang pernah membuka jalan terhadap kasasi atas putusan bebas dalam KUHAP lama.

Paradigma Baru: Antara Sistem Hakim Aktif dan Adversarial Berimbang

KUHAP Baru membawa pergeseran paradigma dari sistem yang cenderung inkuisitorial pada era KUHAP Lama menuju perpaduan antara sistem hakim aktif dan adversarial yang berimbang, sebagaimana ditegaskan dalam Pasal 4 UU No. 20 Tahun 2025. Dalam sistem ini, hakim tidak lagi diposisikan sebagai “pengadil pasif” yang hanya menerima bukti dari penuntut umum, namun diwajibkan menjadi Ratio Suma atau nalar tertinggi yang aktif dalam menggali fakta dan mengendalikan kualitas pembuktian di persidangan.

Perubahan ini berimplikasi pada sistem pembuktian yang kini bersifat terbuka (open evidentiary system). Kategori alat bukti berkembang, dan Hakim memiliki peran sebagai gatekeeper yang harus menguji setiap alat bukti. Hal ini memastikan bahwa setiap putusan yang dihasilkan baik itu pemidanaan, bebas, lepas, pemaafan hakim, maupun tindakan, didasarkan pada kualitas pembuktian yang autentik dan tidak sekadar mengambil alih narasi dari Berita Acara Pemeriksaan (BAP) penyidikan.

Mekanisme Pengakuan Bersalah (Plea Bargain) dan Konsekuensi Proseduralnya

Salah satu inovasi paling progresif dalam KUHAP Baru adalah pengenalan mekanisme pengakuan bersalah atau plea bargain. Langkah ini diambil untuk mewujudkan prinsip peradilan yang sederhana, cepat, dan berbiaya ringan guna mengatasi penumpukan perkara.

Perbandingan Mekanisme Pengakuan Bersalah dalam KUHAP Baru:
AspekTahap Penuntutan (Pasal 78)Tahap Persidangan (Pasal 205)Pasca Pembacaan Dakwaan (Pasal 234)
Kriteria Ancaman PidanaMaksimal 5 tahun penjara atau denda kategori VMaksimal 5 tahun penjara (sebagai alternatif jika restorative justice gagal)Antara 5 hingga 7 tahun penjara
Tujuan UtamaKesepakatan di luar pengadilan sebelum persidanganEfisiensi prosedural saat keadilan restoratif gagalMemberikan keringanan bagi terdakwa yang kooperatif
Konsekuensi HukumanDialihkan pemeriksaan acara singkat dan putusan sesuai kesepakatan (Pasal 78 ayat 12).Perkara langsung dialihkan dari Acara Biasa ke Acara Pemeriksaan Singkat (Pasal 205 ayat 3).Pidana yang dijatuhkan maksimal 2/3 dari ancaman maksimal pasal (Pasal 234 ayat 5).

Mekanisme ini mengubah dinamika pemeriksaan di persidangan secara drastis. Ketika seorang terdakwa mengakui kesalahannya, perkara tersebut dapat dialihkan ke sidang acara pemeriksaan singkat. Namun, undang-undang menetapkan syarat ketat: penerimaan pengakuan bersalah harus didasarkan pada keyakinan Hakim yang didukung oleh minimal 2 (dua) alat bukti yang sah.

Keniscayaan Logis: Mustahilnya Putusan Bebas/Lepas dalam Acara Singkat

Pada pemberlakuan KUHP Baru sering muncul kekhawatiran: bagaimana jika dalam acara pemeriksaan singkat yang didasarkan pada pengakuan bersalah, Hakim justru menjatuhkan putusan bebas atau lepas? Secara dogmatik dan konstruksi hukum KUHAP Baru, kekhawatiran ini adalah sebuah kemustahilan. Jika kita meneliti secara komprehensif ketentuan Pasal 78 ayat (12) KUHAP Baru, syarat mutlak bagi Penuntut Umum dan/atau Hakim dalam menerima pengakuan bersalah adalah adanya keyakinan yang didukung sekurang-kurangnya 2 (dua) alat bukti yang sah.

Baca Juga  Dilema Eksploitasi Komoditas dan Menjaga Komunitas : Tantangan Peran Hakim Muda dalam Mewujudkan Keadilan Iklim

Demikian pula merujuk pada ketentuan Pasal 205 ayat (2), (3), dan (4), Hakim diwajibkan memeriksa pengakuan terdakwa secara saksama. Untuk menentukan bahwa suatu perkara sah dialihkan untuk diperiksa dengan acara singkat, Hakim harus sudah pada tahap “yakin” bahwa persyaratan pembuktian minimum dan pengakuan sukarela telah terpenuhi.

Dengan telah terbentuknya keyakinan Hakim atas kesalahan terdakwa yang dikuatkan oleh 2 alat bukti sah di fase awal sebelum memutus dengan acara singkat, maka secara logika hukum formil, tidak mungkin lagi proses tersebut berujung pada putusan lepas (ontslag), apalagi putusan bebas (vrijspraak). Jika sedari awal Hakim meragukan pembuktian atau pengakuan tersebut, KUHAP Baru mewajibkan Hakim untuk menolak mekanisme acara singkat dan memerintahkan perkara diperiksa dengan acara biasa.

Oleh karena itu, restriksi (pembatasan) kasasi terhadap perkara yang diperiksa dengan acara singkat (Pasal 299 huruf e) adalah sangat masuk akal dan proporsional. Putusan tersebut adalah hasil dari mutual agreement atas dasar fakta yang sudah tidak terbantahkan, sehingga tidak relevan lagi untuk diperdebatkan di tingkat judex juris.

Perbandingan: Larangan Kasasi Putusan Bebas dalam KUHAP Baru vs. Putusan MK dan Yurisprudensi MA

Isu yang kemudian memicu perdebatan adalah dengan berlakunya Pasal 299 ayat (2) huruf a KUHAP Baru, yang secara tegas menyatakan bahwa permohonan pemeriksaan kasasi tidak dapat diajukan terhadap putusan bebas. Ketentuan ini seolah mengembalikan penegakan hukum ke era awal KUHAP Lama, menciptakan benturan langsung dengan dua pilar hukum yang selama ini dipegang oleh para praktisi.

Untuk memahami anatomi ketidaksesuaian ini, kita harus membandingkan tiga fase historis:

  1. Yurisprudensi “Bebas Tidak Murni” (Pasca 1983): Meskipun Pasal 244 KUHAP 1981 melarang kasasi putusan bebas, Mahkamah Agung melalui Putusan No. 275 K/Pid/1983 (Perkara Natalegawa) menciptakan contra legem. Contra legem adalah tindakan hakim dalam hukum yang mengesampingkan peraturan perundang-undangan tertulis demi menegakkan keadilan substantif. MA menerima kasasi dengan dalih membedakan antara “bebas murni” (fakta) dan “bebas tidak murni” (kesalahan penerapan hukum). Ini menjadi yurisprudensi tetap selama puluhan tahun.
  2. Putusan MK Nomor 114/PUU-X/2012: Mahkamah Konstitusi membatalkan frasa larangan kasasi putusan bebas dalam KUHAP Lama. MK menilai larangan tersebut menciptakan ketidakpastian hukum, sehingga sejak 2012, seluruh putusan bebas secara resmi dan sah dapat dikasasi oleh Penuntut Umum.
  3. KUHAP Baru (UU No. 20/2025): Pembentuk undang-undang kembali “menutup” pintu kasasi bagi putusan bebas. Alasan filosofisnya adalah untuk menegaskan pemisahan fungsi judex facti (pengadilan negeri/tinggi yang menilai fakta) dan judex juris (MA yang menilai penerapan hukum). Karena putusan bebas sejatinya adalah produk dari “tidak terbuktinya fakta perbuatan”, maka ia murni ranah judex facti.

Berdasarkan anatomi historis tersebut, terdapat tiga alasan fundamental mengapa pembatasan kasasi dalam UU No. 20 Tahun 2025 harus ditinjau ulang secara yuridis:

  1. Pertentangan Putusan MK No. 114/PUU-X/2012
    • Mahkamah Konstitusi melalui Putusan No. 114/PUU-X/2012 telah menyatakan bahwa frasa “kecuali terhadap putusan bebas” dalam Pasal 244 KUHAP Lama bersifat inkonstitusional karena menghambat pencarian keadilan materiil. Mengingat substansi Pasal 299 ayat (2) huruf a KUHAP Baru memiliki redaksi yang sama dengan Pasal 244 KUHAP Lama, maka secara hukum sifat mengikat (final and binding) dari putusan MK tersebut seharusnya tetap berlaku. Memunculkan kembali norma yang telah dibatalkan MK tanpa perubahan fundamental merupakan bentuk ketidakpatuhan terhadap hierarki norma hukum, yang mengakibatkan Penuntut Umum kehilangan instrumen koreksi atas kemungkinan kesalahan penerapan hukum (error in iudicando).
  2. Kedudukan Mahkamah Agung sebagai Judex Juris
    • Sebagai pemeriksaan di tingkat Judex Juris, kasasi memiliki fungsi utama untuk menjamin kesatuan penerapan hukum di tingkat terakhir. Kasasi tidak lagi memeriksa fakta, melainkan menguji apakah hakim di tingkat bawah telah menerapkan hukum secara benar. Jika akses kasasi terhadap putusan bebas ditutup, maka kesalahan penafsiran unsur pasal atau kekeliruan dalam penerapan hukum acara tidak akan dapat dikoreksi. Hal ini berisiko menciptakan standar hukum yang keliru yang kemudian diikuti dalam perkara lain, sehingga merusak kepastian hukum secara nasional.
  3. Pemulihan Hak Korban dan Akses terhadap Keadilan
    • Sistem peradilan pidana tidak hanya bertujuan melindungi hak terdakwa, tetapi juga menjamin hak korban atas keadilan. Putusan bebas yang dijatuhkan secara tidak tepat atau akibat kesalahan prosedur materiil merugikan kepentingan hukum korban dan masyarakat. Penutupan pintu kasasi menghilangkan satu-satunya mekanisme evaluasi yudisial untuk menguji apakah pembebasan tersebut telah didasarkan pada pertimbangan hukum yang sah dan akuntabel. Tanpa adanya kontrol dari Mahkamah Agung, prinsip keseimbangan dalam peradilan pidana (due process of law) tidak terpenuhi.
Baca Juga  Maladministrasi: Tidak Memberikan Pelayanan dan Penundaan Berlarut

Penguatan Praperadilan sebagai Kompensasi Sistemik

Menyadari tertutupnya pintu kasasi bagi putusan bebas berpotensi menimbulkan celah “kebebasan” karena kualitas penyidikan yang buruk, KUHAP Baru telah menyiapkan mekanisme checks and balances yang kuat sedari awal.

KUHAP Baru memperluas objek praperadilan secara signifikan. Hal ini bukan lagi sekadar wacana, melainkan telah diatur secara tegas dan jelas di dalam KUHAP Baru (Pasal 89 jo. Pasal 158). Objek praperadilan kini mencakup pengujian keabsahan penetapan tersangka, penyitaan, hingga pemblokiran aset. Tujuannya adalah untuk memastikan tidak ada penyalahgunaan wewenang sejak tahap penyidikan. Dengan filter praperadilan yang ketat, perkara yang maju ke persidangan diharapkan adalah perkara yang matang secara pembuktian, sehingga meminimalisir putusan bebas karena alasan prosedural.

Penutup

Pemberlakuan KUHAP Baru membawa perubahan mendasar dalam sistem peradilan pidana Indonesia. Sistem ini beralih dari inkuisitorial menuju adversarial berimbang, di mana hakim berperan lebih aktif dalam memeriksa alat bukti. Undang-undang ini juga menawarkan efisiensi prosedural melalui mekanisme pengakuan bersalah (plea bargain) yang berlanjut pada acara pemeriksaan singkat. 

Mengenai kemungkinan perkara yang dialihkan dari acara biasa menjadi acaara singkat untuk diputus lepas atau bebas, secara normatif, mekanisme tersebut menurut Penulis tidak mungkin menghasilkan putusan bebas atau lepas, mengingat penerimaan pengakuan bersalah, mensyaratkan keyakinan hakim yang telah didukung minimal dua alat bukti sah sejak awal.

Di sisi lain, implementasi KUHAP Baru memunculkan perdebatan terkait pembatasan pengajuan kasasi terhadap putusan bebas. Ketentuan ini dinilai tidak sejalan dengan Putusan Mahkamah Konstitusi Nomor 114/PUU-X/2012 dan yurisprudensi tetap Mahkamah Agung. Pembatasan kasasi ini juga menafikan kewenangan Mahkamah Agung sebagai judex juris dalam menilai, mengoreksi dan/atau menyeragamkan penerapan hukum, yang tentunya akan berdampak pada pemenuhan hak keadilan materiil bagi korban.

Untuk mengimbangi pembatasan upaya hukum tersebut, undang-undang memperkuat instrumen pengawasan di tahap awal penyidikan. Hal ini diwujudkan melalui pengoptimalan wewenang Praperadilan (Pasal 158) guna menguji keabsahan penetapan tersangka, penyitaan, dan upaya paksa lainnya. Ketentuan dalam KUHAP Baru menuntut peningkatan kualitas penanganan perkara oleh penyidik dan penuntut umum. Bukti-bukti harus dipastikan validitasnya sejak tahap pra-penuntutan, sehingga perkara yang dilimpahkan ke pengadilan memang sudah teruji dan matang secara pembuktian.

REFERENSI: 

I. Peraturan Perundang-undangan
  1. Undang-Undang Nomor 8 Tahun 1981 tentang Kitab Undang-Undang Hukum Acara Pidana.
  2. Undang-Undang Nomor 20 Tahun 2025 tentang Kitab Undang-Undang Hukum Acara Pidana.
  3. Undang-Undang Nomor 48 Tahun 2009 tentang Kekuasaan Kehakiman.
II. Putusan
  1. Putusan Mahkamah Konstitusi Nomor 114/PUU-X/2012 terkait Pengujian Konstitusionalitas Pasal 244 UU No. 8 Tahun 1981.
  2. Putusan Mahkamah Agung RI Nomor 275 K/Pid/1983 dalam perkara Terdakwa Natalegawa.
III. Literatur
  1. Harahap, M. Yahya. (2012). Pembahasan Permasalahan dan Penerapan KUHAP. Jakarta: Sinar Grafika.
  2. Chazawi, Adami. (2008). Hukum Pembuktian Perkara Pidana. Jakarta: Alumni.

Muhammad Hanif Ramadhan
Kontributor
Muhammad Hanif Ramadhan
Hakim Pengadilan Negeri Tanjung Redeb
Firzi Ramadhan
Kontributor
Firzi Ramadhan
Hakim Pengadilan Negeri Tanjung Redeb

Untuk Mendapatkan Berita Terbaru Suara BSDK, Follow Channel WhatsApp: SUARABSDKMARI

Acara Singkat artikel contra legem Jenis Pengakuan Bersalah Kasasi pengakuan bersalah plea bargain Praperadilan Upaya Hukum Kasasi
Share. Facebook Twitter Threads Telegram WhatsApp Copy Link

Related Posts

AI dalam Tugas Yudisial: Membantu, Bukan Menggantikan Hakim

October 27, 2026

Transformasi Asas Keterbukaan Pengadilan dan Digitalisasi Peradilan: Perspektif Konstitusionalisme Hak Atas Informasi

October 27, 2026

Urgensi Pembatasan Perkara Perdata dalam Pembaharuan Hukum Acara Perdata Nasional

October 27, 2026
Leave A Reply Cancel Reply


Demo
Top Posts

Adu Domba: Bukan Sekedar Adu Kekuatan

October 23, 2026

Asap di Bumi Serambi Makkah: Jauh dari Titik Api, Dekat dengan Ujian Keadilan

October 20, 2026

Menata Sekretariat, Menjaga Nalar Peradilan

October 19, 2026

Belajar Keadilan Iklim dari Secangkir Kopi: Setiap Daerah Punya Cerita, Alam Punya Keunikan

October 15, 2026
Don't Miss

AI dalam Tugas Yudisial: Membantu, Bukan Menggantikan Hakim

By Ahmad JunaediOctober 27, 20260

BOGOR, SUARA BSDK — Pemanfaatan kecerdasan artifisial (Artificial Intelligence/AI) dalam dunia peradilan bukan lagi persoalan…

Transformasi Asas Keterbukaan Pengadilan dan Digitalisasi Peradilan: Perspektif Konstitusionalisme Hak Atas Informasi

October 27, 2026

Apresiasi dan Lomba Meriahkan Peringatan HUT ke-8 PN Pangkalan Balai

October 27, 2026

Kemakmuran Warga Menjadi Ukuran Penguasaan Negara atas Tanah

October 27, 2026
Stay In Touch
  • YouTube
  • TikTok
  • WhatsApp
  • Twitter
  • Instagram
Top Trending
Demo

Recent Posts

  • AI dalam Tugas Yudisial: Membantu, Bukan Menggantikan Hakim
  • Transformasi Asas Keterbukaan Pengadilan dan Digitalisasi Peradilan: Perspektif Konstitusionalisme Hak Atas Informasi
  • Apresiasi dan Lomba Meriahkan Peringatan HUT ke-8 PN Pangkalan Balai
  • Kemakmuran Warga Menjadi Ukuran Penguasaan Negara atas Tanah
  • Urgensi Pembatasan Perkara Perdata dalam Pembaharuan Hukum Acara Perdata Nasional

Recent Comments

  1. Auzir on KUHAP Baru: Menanggalkan Jubah Interogator, Transformasi Menuju Sistem Adversarial
  2. Budi Santoso on Titian Panjang Pengabdian Prajurit Setia Hingga Akhir
  3. PrP on Kajian Green Victimology Sebagai Pendekatan Perlindungan Hukum Korban Kebakaran Hutan di Indonesia
  4. Grace Hall on Abhinaya Upangga Wisesa: Ketika Kerja Sunyi Menjadi Penjaga Martabat Peradilan
  5. Abdul Mustopa on Membedah Rahasia Keberhasilan Wakai dan Chotei untuk Mediasi Indonesia
Hubungi Kami

Badan Strategi Kebijakan dan Pendidikan dan Pelatihan Hukum dan Peradilan Hukum dan Peradilan
Mahkamah Agung RI

Kantor: Jl. Cikopo Selatan Desa Sukamaju, Kec. Megamendung
Bogor, Jawa Barat 16770

Kirimkan reportase berita, opini, features dan artikel lainnya ke email suarabsdk.com : 
redpelsuarabsdk@gmail.com

Telepon: (0251) 8249520, 8249522, 8249531, 8249539

Kategori
Beranda Artikel Berita Features Sosok KRITERIA TULISAN
Filsafat Roman Satire Video BALACADAS
Connect With Us
  • Instagram
  • YouTube
  • WhatsApp
Aplikasi Internal
Logo 1 Logo 2 Logo 3 Logo 3 Logo 5
Logo 4 Logo 4 Logo 4 Logo 5 Logo 5 Logo 5
Kontributor
  • Avatar photo Ahmad Junaedi
  • Avatar photo Mohammad Khairul Muqorobin
  • Avatar photo Aman
  • Avatar photo Irvan Mawardi
  • Avatar photo Cecep Mustafa
  • Avatar photo Khoiruddin Hasibuan
  • Avatar photo Ari Gunawan
  • Avatar photo Muamar Azmar Mahmud Farig
  • Avatar photo Yudhistira Ary Prabowo
  • Avatar photo Syailendra Anantya Prawira
  • Avatar photo Ghesa Agnanto Hutomo
  • Avatar photo Muhammad Rizqi Hengki
  • Avatar photo Johanes
  • Avatar photo Agus Digdo Nugroho
  • Avatar photo Timbul Bonardo Siahaan
  • Avatar photo Syamsul Arief
  • Avatar photo Muhammad Adiguna Bimasakti
  • Avatar photo Dahlan Suherlan
  • Avatar photo Jatmiko Wirawan
  • Avatar photo Syihabuddin
  • Avatar photo Cik Basir
  • Avatar photo Taufikurrahman
  • Avatar photo Muhammad Zuchri Nasuha Lubis
  • Avatar photo Zulfahmi
  • Avatar photo Maria Fransiska Walintukan
  • Avatar photo Unggul Senoaji
  • Avatar photo Anton Ahmad Sogiri
  • Avatar photo M. Natsir Asnawi
  • Avatar photo Abdi Munawar Daeng Mangagang
  • Avatar photo Adji Prakoso
  • Avatar photo Bintoro Wisnu Prasojo
  • Avatar photo Yoshito Siburian
  • Avatar photo Iqbal Lazuardi
  • Avatar photo Sriti Hesti Astiti
  • Avatar photo Abdul Azis Ali Ramdlani
  • Avatar photo Galang Adhe Sukma
  • Avatar photo Harun Maulana
  • Avatar photo Ahmad Syahrus Sikti
  • Avatar photo Layla Windy Puspita Sari
  • Avatar photo Muhammad Hanif Ramadhan
  • Avatar photo Anisa Yustikaningtiyas
  • Avatar photo Binsar Parlindungan Tampubolon
  • Avatar photo Ferdian Permadi
  • Avatar photo Ganjar Prima Anggara
  • Avatar photo I Gusti Lanang Ngurah Sidemen Putra
  • Avatar photo Eliyas Eko Setyo
  • Avatar photo Firzi Ramadhan
  • Avatar photo Itsnaatul Lathifah
  • Avatar photo Jarkasih
  • Avatar photo Sudiyo
  • Avatar photo Afifah Dwiandini
  • Avatar photo Bagus Partha Wijaya
  • Avatar photo Febby Fajrurrahman
  • Avatar photo Garin Purna Sanjaya
  • Avatar photo Marulam J Sembiring
  • Avatar photo Tri Indroyono
  • Avatar photo Letkol Chk Agustono, S.H., M.H.
  • Avatar photo Ardiansyah Iksaniyah Putra
  • Avatar photo Buang Yusuf
  • Avatar photo Irene Cristna Silalahi
  • Avatar photo Marsudin Nainggolan
  • Avatar photo Maulana Aulia
  • Avatar photo Riki Perdana Raya Waruwu
  • Avatar photo Siti Nadhiroh
  • Avatar photo Dr. Syofyan Iskandar, S.H., M.H.
  • Avatar photo Muhamad Zaky Albana
  • Avatar photo Henri Setiawan
  • Avatar photo Irwan Rosady
  • Avatar photo Khoiriyah Roihan
  • Avatar photo Redaktur SuaraBSDK
  • Avatar photo Yasin Prasetia
  • Avatar photo Audrey Kartika Putri
  • Avatar photo Cok Istri Bhagawanthi Pemayun
  • Avatar photo Eddy Daulatta Sembiring
  • Avatar photo Fauzan Prasetya
  • Avatar photo Fitriyel Hanif
  • Avatar photo Gerry Michael Purba
  • Avatar photo K.G. Raegen
  • Avatar photo Rafi Muhammad Ave
  • Avatar photo Rangga Lukita Desnata
  • Avatar photo Rikatama Budiyantie
  • Avatar photo Sugiarto
  • Avatar photo Teguh Setiyawan
  • Avatar photo Achmad Fikri Oslami
  • Avatar photo Agenda Citra Muhammad
  • Avatar photo Ahmad Fuad Noor Ghufron
  • Avatar photo Achmad Nurul Huda
  • Avatar photo Andro Riski Pradipta
  • Avatar photo Anggi Permana
  • Avatar photo Ang Rijal Amin
  • Avatar photo Armansyah
  • Avatar photo David Pasaribu
  • Avatar photo Dedi Putra
  • Avatar photo Dewi Maharati
  • Avatar photo Edi Hudiata
  • Avatar photo Gerry Geovant Supranata Kaban
  • Avatar photo Herjuna Praba Wiesesa
  • Avatar photo Hermanto
  • Avatar photo Indarka PP
  • Avatar photo Muhamad Fadillah
  • Avatar photo Nugraha Medica Prakasa
  • Avatar photo Ria Marsella
  • Avatar photo Sadana
  • Avatar photo Sahram
  • Avatar photo Saut Erwin Hartono A. Munthe
  • Avatar photo Silveria Supanti
  • Avatar photo Yusuf Sodhiqin
  • Avatar photo Achmad Pratomo
  • Avatar photo Dr. H. Achmad Setyo Pudjoharsoyo., SH., M.Hum
  • Avatar photo Ahmad Faiz Shobir Alfikri
  • Avatar photo Arie Fitriansyah
  • Avatar photo Bismo Jiwo Agung
  • Avatar photo Dharma Setiawan Negara
  • Avatar photo Epri Wahyudi
  • Avatar photo Fajar Widodo
  • Avatar photo Fariz Prasetyo Aji
  • Avatar photo Fauzan Arrasyid
  • Avatar photo Fauzia Rohmah
  • Avatar photo Febry Indra Gunawan Sitorus
  • Avatar photo Hartanto Ariesyandi
  • Avatar photo Mardi Candra
  • Avatar photo Muhammad Irfan Syahputra
  • Avatar photo Muhammad Amin Putra
  • Avatar photo Niko Wijaya
  • Avatar photo Putra Nova A.S
  • Avatar photo Raden Heru Wibowo Sukaten
  • Avatar photo Rizal Arif Fitria
  • Avatar photo Trisoko Sugeng Sulistyo
  • Avatar photo Umar Dani
  • Avatar photo Wahyu Budi Santoso
  • Avatar photo Abdul Hadi
  • Avatar photo Abiandri Fikri Akbar
  • Avatar photo Abi Zaky Azizi
  • Avatar photo Adimas Leo Firmansah
  • Avatar photo Ahmad Muzayyin Destuladoe
  • Avatar photo Ahmad Farhan Subhi
  • Avatar photo Andi Akram
  • Avatar photo Anggiyansyah Nurmanta
  • Avatar photo Arsyawal
  • Avatar photo Ashhab Triono
  • Avatar photo Aulia Rochmani Lazuardi
  • Avatar photo Azalia Purbayanti Sabana
  • Avatar photo Bagus Sujatmiko
  • Avatar photo Bayu Akbar Wicaksono
  • Avatar photo Chandra Khoirunnas
  • Avatar photo Cuhandi
  • Avatar photo Deka Rachman Budihanto
  • Avatar photo Dendi Sutiyoso
  • Avatar photo Dhea Sutaryana
  • Avatar photo Enrico Simanjuntak
  • Avatar photo Fadhilah Fauzan, S.H.
  • Avatar photo Fahri Gunawan Siagian
  • Avatar photo Fauziah Rahmah
  • Avatar photo Fery Rochmad Ramadhan
  • Avatar photo Ida Masnita Sigalingging
  • Avatar photo Idik Saeful Bahri
  • Avatar photo Imaniar
  • Avatar photo Karell Mawla Ibnu Kamali
  • Avatar photo Khalilurrahman
  • Avatar photo Khoirul Anwar
  • Avatar photo Mentari Wahyudihati
  • Avatar photo Misbah
  • Avatar photo Muhamad Ridwan
  • Avatar photo Muhammad Fadllullah
  • Avatar photo Muhamad Iqbal
  • Avatar photo Nia Chasanah
  • Avatar photo Novritsar Hasintongan Pakpahan
  • Avatar photo Nugraha Wisnu Wijaya
  • Avatar photo Pandu Pradana Wicaksono, S.H.
  • Avatar photo Raden Anggara Kurniawan
  • Avatar photo Rahimulhuda Rizki Alwi
  • Avatar photo Rahmad Ramadhan Hasibuan
  • Avatar photo Ranggi Adiwangsa Yusron
  • Avatar photo Rifda Aprilia Rusfayanti
  • Avatar photo Muhammad Rijaldy Alwy
  • Avatar photo Rohim
  • Avatar photo Romi Hardhika
  • Avatar photo Samsul Zakaria
  • Avatar photo Satria Perdana
  • Avatar photo Siti Anis
  • Avatar photo Sri Nurmina Sari
  • Avatar photo Stefanus Dwi Putra Medisa
  • Avatar photo Sugiri Wiryandono
  • Avatar photo Tri Cahya Indra Permana
  • Avatar photo Wilmar Ibni Rusydan
  • Avatar photo Yudhi Reksa Perdana
  • Avatar photo Abdul Ghani
  • Avatar photo Ach. Jufri
  • Avatar photo Achmad Cholil
  • Avatar photo Adhlan Fadhilla Ahmad
  • Avatar photo Afif Muchshon
  • Avatar photo Agus Suharsono
  • Avatar photo Ahmad Efendi
  • Avatar photo Ahmad Hodri
  • Avatar photo Ahmad Rikfi Fuadi
  • Avatar photo Ahmad Rizza Habibi
  • Avatar photo Aidil Akbar
  • Avatar photo Alep Priyoambodo
  • Avatar photo Alfajar Nugraha
  • Avatar photo Ali Sobirin
  • Avatar photo Andi Amirah Humairah Ya'kub
  • Avatar photo Anang Riyan Ramadianto
  • Avatar photo Anderson Peruzzi Simanjuntak
  • Avatar photo Andhika Prayoga
  • Avatar photo Andi Muhammad Galib
  • Avatar photo Andi Aswandi Tashar
  • Avatar photo Andrie Gunawan
  • Avatar photo Anna Yulina
  • Avatar photo Annisa Nur Alam
  • Avatar photo Arga Febrian
  • Avatar photo Ariansyah
  • Avatar photo Arief Sapto Nugroho
  • Avatar photo Mayor Chk Arif Dwi Prasetyo
  • Avatar photo Aryaniek Andayani
  • Avatar photo Asep Ridwan Hotoya
  • Avatar photo Bella Puspitawati
  • Avatar photo Bellina Gamelia Sembiring Kembaren
  • Avatar photo Billy Saut Mangoloi
  • Avatar photo Bilma Diffika
  • Avatar photo Bony Daniel
  • Avatar photo Budi Hermanto
  • Avatar photo Budi Suhariyanto
  • Avatar photo Chandra
  • Avatar photo Christopher Hutapea
  • Avatar photo Daniel H. Napitupulu
  • Avatar photo Daniel Saputra
  • Dedi Wigandi
  • Avatar photo Devita Aulia
  • Avatar photo Djoni Witanto
  • Avatar photo Effendi Mukhtar
  • Avatar photo Egia Rasido Tarigan
  • Avatar photo Eka Sentausa
  • Avatar photo Enos Syahputra Sipahutar, S.H., M.H.
  • Avatar photo Dr. Fahmiron
  • Avatar photo Fahri Bachmid
  • Avatar photo Fahri Soleh
  • Avatar photo Fakhir Tashin Baaj
  • Avatar photo Farhan Al Faris
  • Avatar photo Fatkul Mujib, S.H.I., M.H.
  • Avatar photo Dr. Fauziati, S.Ag., M.Ag
  • Avatar photo Febriansyah Rozarius
  • Avatar photo Friska Ariesta Aritedi
  • Avatar photo Gineng Pratidina
  • Avatar photo Hanry Ichfan Adityo
  • Avatar photo Peltu Hartono
  • Avatar photo Hastuti
  • Avatar photo Hendro Yatmoko
  • Avatar photo Ibnu Abas Ali
  • Avatar photo Ichsan Muhammad
  • Avatar photo I Made Sukadana
  • Indra Tua Hasangapon Harahap
  • Avatar photo Intan Widiastuti
  • Avatar photo Ira Soniawati
  • Avatar photo Irfan Dibar
  • Avatar photo Muhammad Irfansyah
  • Avatar photo Letkol Kum Irwan Tasri, S.H., M.H., M.Han.
  • Avatar photo Iwan Lamganda Manalu
  • Avatar photo Jerymia Seky Tanaem
  • Avatar photo Jimmy Maruli Alfian
  • Avatar photo Jusran Ipandi
  • Avatar photo Kadek Dwi Krisna Ananda
  • Avatar photo Khaimi
  • Avatar photo Khoerul Umam
  • Avatar photo Linora Rohayu
  • Avatar photo Made Passek Reza Swandira
  • Avatar photo Marta Satria Putra
  • Avatar photo Marwan Ibrahim Piinga
  • Avatar photo Marwanto
  • Avatar photo Marzha Tweedo Dikky Paraanugrah
  • Avatar photo Maulia Martwenty Ine
  • Avatar photo Mira Maulidar
  • Avatar photo Misbahul Anwar
  • Avatar photo Muhamad Deni Saputra
  • Avatar photo Muhamad Ilham Azizul Haq
  • Avatar photo Muhamad Saptari
  • Avatar photo Muhammad Muhyi Arrasyid, S.Psi.
  • Avatar photo Muhammad Bagus Tri Prasetyo
  • Avatar photo Muhammad Yusuf
  • Avatar photo Murdian
  • Avatar photo Nadia Yurisa Adila
  • Avatar photo Nisrina Irbah Sati
  • Avatar photo Noak Mispa Sianturi
  • Avatar photo Noor Ichwan Ichlas Ria Adha
  • Avatar photo Novtri Nelli
  • Avatar photo Letkol CHK Nur Sakdi, S.H, M.H.
  • Avatar photo Nur Latifah Hanum
  • Avatar photo Piput Milandsari
  • Avatar photo Pita Permatasari
  • Avatar photo H .A.S Pudjoharsoyo
  • Avatar photo Putri Pebrianti
  • Avatar photo R. Deddy Harryanto
  • Avatar photo Radityo Muhammad Harseno
  • Avatar photo Rahmi Fattah
  • Avatar photo Randy Viyatadhika
  • Avatar photo Ratih Gumilang
  • Avatar photo Reindra Jasper H. Sinaga, S.H. Hakim Pengadilan Negeri Tanjung Balai Karimun
  • Avatar photo Reynold Mauliate Panggabean
  • Avatar photo Reza Kresna Adipraya
  • Avatar photo Peltu Ricko Rikardo, S.H
  • Avatar photo Muh Ridha Hakim
Lihat semua kontributor →

Type above and press Enter to search. Press Esc to cancel.