Close Menu
Suara BSDKSuara BSDK
  • Beranda
  • Artikel
  • Berita
  • Features
  • Sosok
  • Filsafat
  • Roman
  • Satire
  • Video
  • Liputan Khusus

Subscribe to Updates

Get the latest creative news from FooBar about art, design and business.

What's Hot

Perkuat Kepastian Hukum, Ketua Pengadilan/Mahkamah Syar’iyah se-Aceh dan Panitera Ikuti Pelatihan Eksekusi Riil dan Problematika Penyelesaiannya

November 5, 2026

Merawat Etika Hakim di Ruang Sidang Anak

November 5, 2026

Pengadilan Negeri Sidoarjo Bersama Pemkab Sidoarjo dan KPK Perkuat Integritas serta Pencegahan Suap dan Gratifikasi

November 5, 2026
Instagram YouTube
Suara BSDKSuara BSDK
  • Beranda
  • Artikel
  • Berita
  • Features
  • Sosok
  • Filsafat
  • Roman
  • Satire
  • Video
  • Liputan Khusus
Suara BSDKSuara BSDK
  • Beranda
  • Artikel
  • Berita
  • Features
  • Sosok
  • Filsafat
  • Roman
  • Satire
  • Video
  • Liputan Khusus
Home » Dispensasi Kawin : Keselarasan antara Hukum Nasional dan Hukum Adat Dayak Ngaju Berdasarkan Perspektif Gender dan Kepentingan Terbaik bagi Anak

Dispensasi Kawin : Keselarasan antara Hukum Nasional dan Hukum Adat Dayak Ngaju Berdasarkan Perspektif Gender dan Kepentingan Terbaik bagi Anak

Mohammad Khairul MuqorobinBy Mohammad Khairul MuqorobinDecember 18, 2025 · 09:28 WIB8 Mins ReadNo Comments
Share
Facebook Twitter Threads Telegram WhatsApp

Pendahuluan

Perlindungan hukum bagi perempuan dan anak telah mengalami perkembangan signifikan, baik di tingkat internasional maupun nasional. Tonggak penting dimulai dengan diterbitkannya Konvensi Penghapusan Segala Bentuk Diskriminasi terhadap Perempuan (CEDAW) oleh PBB pada tahun 1979, yang diratifikasi Indonesia melalui Undang-Undang Nomor 7 Tahun 1984. CEDAW mewajibkan negara anggota untuk menyediakan perlindungan hukum efektif bagi perempuan dan menghapus praktik yang diskriminatif. Sepuluh tahun kemudian, PBB menerbitkan Konvensi Hak Anak (1989) yang diratifikasi Indonesia melalui Keputusan Presiden Nomor 36 Tahun 1990. Konvensi ini menekankan pemenuhan hak anak di semua aspek, dengan prinsip “kepentingan terbaik anak” (Pasal 3) dan perlindungan dari segala bentuk kekerasan (Pasal 19). Kedua konvensi ini menjadi landasan bagi kerangka hukum perlindungan perempuan dan anak di Indonesia, yang kemudian diperkuat oleh konstitusi, UUD 1945, khususnya pada Pasal 28B ayat (2), Pasal 28H ayat (2), dan Pasal 28I ayat (2). 

Sebagai konsekuensi dari ratifikasi dan amanat konstitusi di atas, maka segala kebijakan baik dalam kebijakan formulasi (pembentukan hukum) maupun kebijakan aplikasi (penerapan / penegakan hukum) harus menjunjung tinggi prinsip-prinsip perlindungan tersebut. Merespon hal ini, Mahkamah Agung telah mengakomodir prinsip-prinsip tersebut ke dalam Peraturan Mahkamah Agung (PERMA), antara lain dengan disahkannya PERMA Nomor 3 Tahun 2017 tentang Pedoman Mengadili Perkara Perempuan Berhadapan dengan Hukum dan PERMA Nomor 5 Tahun 2019 tentang Pedoman Mengadili Permohonan Dispensasi Kawin. Permohonan dispensasi kawin sendiri merupakan perkara yang kerap melibatkan perempuan dan anak yang menghadirkan kompleksitas multi-dimensi karena melibatkan aspek yuridis (hukum positif), sosiologis (hukum adat), dan keagamaan (hukum agama). Tulisan ini akan membahas dispensasi kawin dengan fokus pada dualism kewenangan antara kewenangan Pengadilan dan hukum adat Dayak Ngaju di Kalimantan Tengah (sebagai tempat dimana penulis bertugas), serta mengulas bagaimana prinsip perlindungan perempuan dan anak harus diwujudkan dalam pertimbangan penjatuhan penetapan.

Dekonstruksi UU Perkawinan dan PERMA sebagai Instrumen Perlindungan

Secara normatif, Undang-Undang Nomor 16 Tahun 2019 tentang Perkawinan menetapkan batas usia minimum perkawinan menjadi 19 tahun bagi laki-laki dan perempuan dalam Pasal 7 ayat (1). Pasal 7 ayat (2) mengatur bahwa perkawinan di bawah usia tersebut hanya dapat dilangsungkan setelah memperoleh dispensasi dari pengadilan atas “alasan sangat mendesak” dengan “bukti-bukti pendukung yang cukup”, sebagaimana dijelaskan dalam penjelasan pasal tersebut. Lebih lanjut, PERMA Nomor 5 Tahun 2019 telah memberikan pedoman rinci bagi hakim. Pasal 2 PERMA tersebut telah menetapkan asas-asas yang harus dipegang, seperti kepentingan terbaik bagi anak, hak hidup dan tumbuh kembang anak, non-diskriminasi, kesetaraan gender, dan keadilan. Lebih lanjut dalam Pasal 3-nya juga mewajibkan hakim untuk memperhatikan tujuan dispensasi kawin demi menjamin sistem peradilan yang melindungi hak anak, dan mengidentifikasi ada tidaknya paksaan dalam prose permohonannya.

Dalam mewujudkan asas dan tujuan di atas, maka seyogyanya proses persidangan yang dilaksanakan harus dilakukan dengan cara yang ramah anak. Pasal 11 PERMA Nomor 5 Tahun 2019 mengatur bahwa hakim harus menggunakan bahasa dan metode yang mudah dimengerti anak, dan tidak memakai atribut persidangan. Lebih krusial, Pasal 12 mewajibkan hakim memberikan nasihat kepada pemohon, anak, calon suami/isteri, dan orang tua/wali tentang risiko perkawinan, seperti terhentinya pendidikan, dampak psikologis, dan potensi kekerasan. Jika hakim tidak memberikan nasihat dan nasihat tersebut tidak dicantumkan dalam pertimbangannya, maka penetapan tersebut batal demi hukum. Selain itu, Pasal 16 mengatur pemeriksaan yang memperhatikan kepentingan terbaik anak, dengan menggali latar belakang, persetujuan anak, dan mempertimbangkan kondisi psikologis, sosiologis, budaya, pendidikan, serta kesehatan dengan melibatkan ahli. Pasal 17 menegaskan bahwa dalam penetapan, hakim harus mempertimbangkan nilai-nilai hukum dan kearifan lokal, serta konvensi internasional terkait perlindungan anak. Kerangka prosedural ini menjadi kunci pelaksanaan proses persidangan perkara dispensasi kawin, memastikan bahwa asas-asas perlindungan anak tidak hanya menjadi retorika dalam pertimbangan hukum, tetapi diwujudkan dalam setiap interaksi dan dinamika persidangan itu sendiri.

Baca Juga  Harmonisasi Instrumen Hukum Internasional Tentang Perlindungan Anak dalam Yurisprudensi Dispensasi Kawin di Pengadilan Agama

Sementara itu, PERMA Nomor 3 Tahun 2017 memberikan pedoman khusus dalam mengadili perkara yang melibatkan perempuan. Pasal 4 PERMA tersebut mengharuskan hakim mengidentifikasi ketidaksetaraan status sosial, relasi kuasa, serta ketidakberdayaan fisik dan psikis anak perempuan dengan menggunakan analisis gender. Pasal 5 melarang hakim bersikap merendahkan atau menggunakan stereotip gender, sementara Pasal 6-nya mengharuskan hakim menggali nilai-nilai hukum dan kearifan lokal yang sejalan dengan kesetaraan gender. Dengan demikian, dalam mengadili perkara dispensasi kawin, pedoman ini memastikan bahwa pertimbangan hakim tidak boleh terjebak pada norma sosial yang diskriminatif, melainkan berfokus pada kondisi riil, kerentanan, dan agensi dari anak perempuan yang menjadi subjek hukum dalam perkara tersebut.

Tantangan Pluralisme Hukum: Tuntutan proporsionalitas antara Negara (Pengadilan) dan Adat (Kedamangan)  

Penerapan kedua pedoman ini (PERMA di atas) dihadapkan pada realitas pluralisme hukum Indonesia, yang secara konstitusional juga mengakui eksistensi hukum adat sebagai bagian dari Hukum Nasional menurut Pasal 18B ayat (2) UUD 1945. Sebagai contoh, Masyarakat Adat Dayak Ngaju di Kalimantan Tengah, menganut suatu konsep “Belom Bahadat” (hidup beradat) yang mengharuskan perkawinan melalui tahapan adat sebelum dilakukan menurut hukum agama. Perkawinan secara adat, sama sekali tidak dimaksudkan untuk meniadakan perkawinan menurut hukum agama maupun negara, namun semata-mata untuk pemenuhan hukum adat Dayak. Kenyataan  lain menunjukan bahwa  masyarakat Dayak memiliki identitas yang membuat orang Dayak dan budayanya mampu bertahan dan tetap eksis seperti adanya organisasi sosial religius yang khas yang disebut dengan “kedamangan”. Lembaga adat “Kedamangan” tersebut telah diakui eksistensinya melalui Peraturan Daerah Provinsi Kalimantan Tengah Nomor 16 Tahun 2008. Lembaga ini berperan sebagai mediator dan penerbit surat keterangan perkawinan adat. Persoalan muncul karena dalam hukum adat Dayak tidak menentukan batas usia minimum perkawinan, sehingga perkawinan di bawah umur kerap terjadi berdasarkan kriteria adat, dan seringkali dilangsungkan sebelum memperoleh dispensasi dari pengadilan. Dari sudut pandang yuridis, situasi ini menciptakan konflik normatif, karena dalam pandangan formalistik-positivistis, dispensasi kawin adalah izin “untuk melangsungkan perkawinan” (Pasal 1 angka 5 PERMA No. 5 Th. 2019), yang artinya ketika permohonan diajukan, Perkawinan haruslah belum dilangsungkan (baik secara adat maupun agama). Jika perkawinan sudah dilangsungkan secara adat atau agama, permohonan dispensasi kawin bisa dianggap tidak memenuhi syarat formil karena objek permohonan tersebut menjadi hilang. Namun, penolakan atas dasar pandangan formalisme ini justru akan menimbulkan dampak buruk yang lebih besar bagi perlindungan perempuan dan anak, karena bagi pemohon dispensasi kawin yang sudah dilangsungkan secara adat tidak ada mekanisme pengesahan lain selain daripada adanya izin pengadilan, kecuali harus menunggu cukup umur untuk dilakukan pembaharuan nikah. Namun, pembaharuan nikah ini bukanlah solusi yang efektif, mengingat terjadi kekosongan status perkawinan selama masih di bawah umur justru berpotensi terabaikannya hak-hak anak yang lain. Tanpa pengakuan yang sah dari negara, pasangan, terutama perempuan dan anak, akan menghadapi berbagai hambatan, diantaranya kesulitan mengakses pendidikan, kesulitan administratif kependudukan, status anak yang dilahirkan sebagai anak luar kawin, serta kerentanan terhadap kekerasan dan ketidakadilan dalam rumah tangga yang mana hambatan-hambatan tersebut justru bertentangan dengan prinsip kepentingan terbaik bagi anak itu sendiri. Oleh karena itu, Hakim dituntut untuk melampaui pendekatan formalistik-positivistis menuju pendekatan yang lebih substantif-holistik yang berperspektif pada perlindungan gender dan kepentingan terbaik bagi anak. Hakim harus secara komprehensif memahami persoalan yang dihadapi dengan menerapkan semua asas dan ketentuan dalam PERMA Nomor 3 Tahun 2017 dan PERMA Nomor 5 Tahun 2019 secara proporsional dan kontekstual. Hal ini termasuk melakukan analisis gender, menghindari stereotip, memberikan nasihat yang komprehensif, melakukan pemeriksaan mendalam dengan melibatkan ahli seperti kedokteran maupun psikolog, serta mempertimbangkan kearifan lokal yang progresif. Dalam konteks perkawinan adat yang sudah terjadi, pengadilan harus berfungsi sebagai lembaga penyelamat yang memberikan keabsahan hukum ex post facto untuk mencegah dampak buruk yang lebih luas, dengan tetap memprioritaskan perlindungan terhadap perempuan dan kepentingan terbaik anak sebagai pertimbangan utamanya. 

Baca Juga  Dinamika Ujian Akhir Hingga Pamitan Hangat Peserta Diklat Teknis Yudisial Dispensasi Kawin Bagi Hakim Peradilan Agama Seluruh Indonesia

Penutup

Perkara dispensasi kawin menguji kemampuan Hakim tidak hanya dalam mengadili suatu perkara namun  lebih dari itu dituntut untuk melindungi kelompok rentan (perempuan dan anak) dalam tenggang realitas pluralisme hukum yang ada. Kerangka hukum yang ada, melalui UU Perkawinan dan kedua PERMA yang telah disebutkan di atas, telah menyediakan instrumen yang memadai untuk pendekatan yang berperspektif terhadap perlindungan perempuan dan anak. Kunci keberhasilannya terletak pada kapasitas hakim untuk menerapkan pedoman tersebut secara progresif dan proporsional, dengan keberpihakan yang jelas pada perlindungan hak-hak substantif perempuan dan anak. Diperlukan juga sinergi antara pengadilan, pemerintah daerah, dan lembaga adat untuk sosialisasi dan harmonisasi norma terkait, supaya pencegahan perkawinan anak dapat dilakukan secara efektif tanpa mengabaikan nilai-nilai adat dan budaya yang telah diakui eksistensinya secara konstitusional. Di sisi lain, diperlukan juga upaya penyesuaian hukum adat dengan standar norma positif yang telah terlegitimasi secara nasional untuk menghindari kesenjangan atau konflik norma diantara pluralisme hukum yang ada. Dengan demikian, negara dalam hal ini Pengadilan dapat hadir secara nyata, tidak hanya sebagai pemberi stempel perizinan yang sifatnya administratif-prosedural, namun harus lebih dari itu, Pengadilan harus menunjukan sifat ke-inklusifan-nya dalam menyelesaikan persoalan yang ada. Hakim sebagai wujud konkrit dari Pengadilan itu sendiri harus mencerminkan nilai-nilai berbasis gender dan mengutamakan kepentingan terbaik bagi anak sebagai dasar memeriksa dan mengadili suatu perkara.

Referensi

Arianto, G. N., Maharani, M., Assyifa, A., Puteri, B. P. T., Azzahro, S. S., Ashila, B. I., Sahara, F. V., & Harini, N. S. (2025). Kajian pemantauan dan evaluasi implementasi kebijakan penanganan perempuan dan anak berhadapan dengan hukum: Peraturan Mahkamah Agung No. 3 Tahun 2017 dan Peraturan Mahkamah Agung No. 5 Tahun 2019. Indonesia Judicial Research Society (IJRS). https://ijrs.or.id/

Jaya, Imanuel, Febriomico Griando Rasan, dan Edward Melio Bertho. “Peran Damang Kepala Adat Dalam Perkawinan Adat Dayak Ngaju Di Kecamatan Jekan Raya Kota Palangka Raya Provinsi Kalimantan Tengah.” Edusociata: Jurnal Pendidikan Sosiologi 7, no. 1 (2024): 977-984.

Judiasih, Sonny Dewi, Susilowati S. Dajaan, dan Bambang Daru Nugroho. “Kontradiksi antara Dispensasi Kawin dengan Upaya Meminimalisir Perkawinan Bawah Umur di Indonesia.” Acta Diurnal: Jurnal Ilmu Hukum Kenotariatan Fakultas Hukum Unpad 3, no. 2 (Juni 2020): 203-222. http://jurnal.fh.unpad.ac.id/index.php/acta/issue/archive.

Mohammad Khairul Muqorobin
Kontributor
Mohammad Khairul Muqorobin
Hakim Pengadilan Negeri Pulang Pisau

Untuk Mendapatkan Berita Terbaru Suara BSDK, Follow Channel WhatsApp: SUARABSDKMARI

Dispensasi Kawin Hukum Adat Dayak Ngaju Perlindungan Hukum Perempuan dan Anak PERMA 3/2017 dan PERMA 5/2019 Pluralisme Hukum Indonesia
Share. Facebook Twitter Threads Telegram WhatsApp Copy Link

Related Posts

Merawat Etika Hakim di Ruang Sidang Anak

November 5, 2026

Penggunaan Artificial Intelligence dalam Peradilan: Pelajaran dari Pedoman Internasional bagi Mahkamah Agung Indonesia

November 5, 2026

Cepat dan Cermat: Cara Mahkamah Agung Menyelesaikan Perkara

November 4, 2026
Leave A Reply Cancel Reply


Demo
Top Posts

Dari FGD hingga Semangkuk Mi Kuah, BSDK Tunjukkan Wajah Pendidikan Peradilan yang Humanis

October 28, 2026

Adu Domba: Bukan Sekedar Adu Kekuatan

October 23, 2026

Asap di Bumi Serambi Makkah: Jauh dari Titik Api, Dekat dengan Ujian Keadilan

October 20, 2026

Menata Sekretariat, Menjaga Nalar Peradilan

October 19, 2026
Don't Miss

Perkuat Kepastian Hukum, Ketua Pengadilan/Mahkamah Syar’iyah se-Aceh dan Panitera Ikuti Pelatihan Eksekusi Riil dan Problematika Penyelesaiannya

By Wafa'November 5, 20260

Seluruh peserta Pelatihan, baik dari Ketua Pengadilan/Mahkamah Syar’iyah se-Aceh dan Panitera mengikuti materi “Eksekusi Riil…

Merawat Etika Hakim di Ruang Sidang Anak

November 5, 2026

Pengadilan Negeri Sidoarjo Bersama Pemkab Sidoarjo dan KPK Perkuat Integritas serta Pencegahan Suap dan Gratifikasi

November 5, 2026

Penggunaan Artificial Intelligence dalam Peradilan: Pelajaran dari Pedoman Internasional bagi Mahkamah Agung Indonesia

November 5, 2026
Stay In Touch
  • YouTube
  • TikTok
  • WhatsApp
  • Twitter
  • Instagram
Top Trending
Demo

Recent Posts

  • Perkuat Kepastian Hukum, Ketua Pengadilan/Mahkamah Syar’iyah se-Aceh dan Panitera Ikuti Pelatihan Eksekusi Riil dan Problematika Penyelesaiannya
  • Merawat Etika Hakim di Ruang Sidang Anak
  • Pengadilan Negeri Sidoarjo Bersama Pemkab Sidoarjo dan KPK Perkuat Integritas serta Pencegahan Suap dan Gratifikasi
  • Penggunaan Artificial Intelligence dalam Peradilan: Pelajaran dari Pedoman Internasional bagi Mahkamah Agung Indonesia
  • Siapkan Generasi Hukum di Era AI, Pustrajak dan UIN Raden Intan Lampung Perkuat Sinergi

Recent Comments

  1. Dr. Sakwanah on Ketua MS Aceh Apresiasi Pelatihan BSDK, Harapkan Diklat Khusus Hukum Acara Jinayat
  2. Herman on Di Balik Mangrove, Ada Keadilan yang Harus Diperjuangkan
  3. Abdul Mustopa on MOVE!
  4. Rizka on Problematika Pelaksanaan Eksekusi Pembayaran Sejumlah Uang Terhadap Objek Jaminan Berupa Benda Bergerak
  5. Auzir on KUHAP Baru: Menanggalkan Jubah Interogator, Transformasi Menuju Sistem Adversarial
Hubungi Kami

Badan Strategi Kebijakan dan Pendidikan dan Pelatihan Hukum dan Peradilan Hukum dan Peradilan
Mahkamah Agung RI

Kantor: Jl. Cikopo Selatan Desa Sukamaju, Kec. Megamendung
Bogor, Jawa Barat 16770

Kirimkan reportase berita, opini, features dan artikel lainnya ke email suarabsdk.com : 
redpelsuarabsdk@gmail.com

Telepon: (0251) 8249520, 8249522, 8249531, 8249539

Kategori
Beranda Artikel Berita Features Sosok KRITERIA TULISAN
Filsafat Roman Satire Video BALACADAS
Connect With Us
  • Instagram
  • YouTube
  • WhatsApp
Aplikasi Internal
Logo 1 Logo 2 Logo 3 Logo 3 Logo 5
Logo 4 Logo 4 Logo 4 Logo 5 Logo 5 Logo 5
Kontributor
  • Avatar photo Ahmad Junaedi
  • Avatar photo Mohammad Khairul Muqorobin
  • Avatar photo Aman
  • Avatar photo Irvan Mawardi
  • Avatar photo Cecep Mustafa
  • Avatar photo Yudhistira Ary Prabowo
  • Avatar photo Khoiruddin Hasibuan
  • Avatar photo Ari Gunawan
  • Avatar photo Muamar Azmar Mahmud Farig
  • Avatar photo Syailendra Anantya Prawira
  • Avatar photo Ghesa Agnanto Hutomo
  • Avatar photo Johanes
  • Avatar photo Muhammad Rizqi Hengki
  • Avatar photo Agus Digdo Nugroho
  • Avatar photo Syamsul Arief
  • Avatar photo Timbul Bonardo Siahaan
  • Avatar photo Jatmiko Wirawan
  • Avatar photo Muhammad Adiguna Bimasakti
  • Avatar photo Dahlan Suherlan
  • Avatar photo Muhammad Zuchri Nasuha Lubis
  • Avatar photo Syihabuddin
  • Avatar photo Taufikurrahman
  • Avatar photo Cik Basir
  • Avatar photo Zulfahmi
  • Avatar photo Maria Fransiska Walintukan
  • Avatar photo M. Natsir Asnawi
  • Avatar photo Unggul Senoaji
  • Avatar photo Anton Ahmad Sogiri
  • Avatar photo Abdi Munawar Daeng Mangagang
  • Avatar photo Adji Prakoso
  • Avatar photo Bintoro Wisnu Prasojo
  • Avatar photo Yoshito Siburian
  • Avatar photo Bagus Partha Wijaya
  • Avatar photo Galang Adhe Sukma
  • Avatar photo Iqbal Lazuardi
  • Avatar photo Sriti Hesti Astiti
  • Avatar photo Ahmad Syahrus Sikti
  • Avatar photo Abdul Azis Ali Ramdlani
  • Avatar photo Harun Maulana
  • Avatar photo Layla Windy Puspita Sari
  • Avatar photo Muhammad Hanif Ramadhan
  • Avatar photo Anisa Yustikaningtiyas
  • Avatar photo Binsar Parlindungan Tampubolon
  • Avatar photo Ferdian Permadi
  • Avatar photo Ganjar Prima Anggara
  • Avatar photo I Gusti Lanang Ngurah Sidemen Putra
  • Avatar photo Eliyas Eko Setyo
  • Avatar photo Firzi Ramadhan
  • Avatar photo Itsnaatul Lathifah
  • Avatar photo Jarkasih
  • Avatar photo Sudiyo
  • Avatar photo Afifah Dwiandini
  • Avatar photo Buang Yusuf
  • Avatar photo Febby Fajrurrahman
  • Avatar photo Garin Purna Sanjaya
  • Avatar photo Marulam J Sembiring
  • Avatar photo Tri Indroyono
  • Avatar photo Letkol Chk Agustono, S.H., M.H.
  • Avatar photo Ardiansyah Iksaniyah Putra
  • Avatar photo Henri Setiawan
  • Avatar photo Irene Cristna Silalahi
  • Avatar photo Marsudin Nainggolan
  • Avatar photo Maulana Aulia
  • Avatar photo Riki Perdana Raya Waruwu
  • Avatar photo Siti Nadhiroh
  • Avatar photo Dr. Syofyan Iskandar, S.H., M.H.
  • Avatar photo Muhamad Zaky Albana
  • Avatar photo Fauzan Prasetya
  • Avatar photo Irwan Rosady
  • Avatar photo Khoiriyah Roihan
  • Avatar photo Redaktur SuaraBSDK
  • Avatar photo Yasin Prasetia
  • Avatar photo Audrey Kartika Putri
  • Avatar photo Cok Istri Bhagawanthi Pemayun
  • Avatar photo Eddy Daulatta Sembiring
  • Avatar photo Fitriyel Hanif
  • Avatar photo Gerry Michael Purba
  • Avatar photo K.G. Raegen
  • Avatar photo Rafi Muhammad Ave
  • Avatar photo Rangga Lukita Desnata
  • Avatar photo Rikatama Budiyantie
  • Avatar photo Silveria Supanti
  • Avatar photo Sugiarto
  • Avatar photo Teguh Setiyawan
  • Avatar photo Achmad Fikri Oslami
  • Avatar photo Agenda Citra Muhammad
  • Avatar photo Ahmad Fuad Noor Ghufron
  • Avatar photo Achmad Nurul Huda
  • Avatar photo Andro Riski Pradipta
  • Avatar photo Anggi Permana
  • Avatar photo Ang Rijal Amin
  • Avatar photo Armansyah
  • Avatar photo Azalia Purbayanti Sabana
  • Avatar photo David Pasaribu
  • Avatar photo Dedi Putra
  • Avatar photo Dewi Maharati
  • Avatar photo Edi Hudiata
  • Avatar photo Gerry Geovant Supranata Kaban
  • Avatar photo Herjuna Praba Wiesesa
  • Avatar photo Hermanto
  • Avatar photo Indarka PP
  • Avatar photo Muhamad Fadillah
  • Avatar photo Nugraha Medica Prakasa
  • Avatar photo Ria Marsella
  • Avatar photo Rizal Arif Fitria
  • Avatar photo Sadana
  • Avatar photo Sahram
  • Avatar photo Saut Erwin Hartono A. Munthe
  • Avatar photo Yusuf Sodhiqin
  • Avatar photo Achmad Pratomo
  • Avatar photo Dr. H. Achmad Setyo Pudjoharsoyo., SH., M.Hum
  • Avatar photo Ahmad Muzayyin Destuladoe
  • Avatar photo Ahmad Faiz Shobir Alfikri
  • Avatar photo Ahmad Farhan Subhi
  • Avatar photo Arie Fitriansyah
  • Avatar photo Arie Guntoro
  • Avatar photo Bismo Jiwo Agung
  • Avatar photo Dharma Setiawan Negara
  • Avatar photo Epri Wahyudi
  • Avatar photo Fajar Widodo
  • Avatar photo Fariz Prasetyo Aji
  • Avatar photo Fauzan Arrasyid
  • Avatar photo Fauzia Rohmah
  • Avatar photo Febry Indra Gunawan Sitorus
  • Avatar photo Hartanto Ariesyandi
  • Avatar photo Mardi Candra
  • Avatar photo Muhammad Irfan Syahputra
  • Avatar photo Muhammad Amin Putra
  • Avatar photo Niko Wijaya
  • Avatar photo Putra Nova A.S
  • Avatar photo Raden Heru Wibowo Sukaten
  • Avatar photo Rahmad Ramadhan Hasibuan
  • Avatar photo Satria Perdana
  • Avatar photo Trisoko Sugeng Sulistyo
  • Avatar photo Umar Dani
  • Avatar photo Wahyu Budi Santoso
  • Avatar photo Wilmar Ibni Rusydan
  • Avatar photo Abdul Hadi
  • Avatar photo Abiandri Fikri Akbar
  • Avatar photo Abi Zaky Azizi
  • Avatar photo Adimas Leo Firmansah
  • Avatar photo Agus Suharsono
  • Avatar photo Andi Akram
  • Avatar photo Anggiyansyah Nurmanta
  • Avatar photo Arsyawal
  • Avatar photo Ashhab Triono
  • Avatar photo Aulia Rochmani Lazuardi
  • Avatar photo Bagus Sujatmiko
  • Avatar photo Bayu Akbar Wicaksono
  • Avatar photo Chandra Khoirunnas
  • Avatar photo Cuhandi
  • Avatar photo Daniel H. Napitupulu
  • Avatar photo Deka Rachman Budihanto
  • Avatar photo Dendi Sutiyoso
  • Avatar photo Dhea Sutaryana
  • Avatar photo Enrico Simanjuntak
  • Avatar photo Fadhilah Fauzan, S.H.
  • Avatar photo Fahri Gunawan Siagian
  • Avatar photo Fauziah Rahmah
  • Avatar photo Fery Rochmad Ramadhan
  • Avatar photo Ida Masnita Sigalingging
  • Avatar photo Idik Saeful Bahri
  • Avatar photo Imaniar
  • Avatar photo Karell Mawla Ibnu Kamali
  • Avatar photo Khalilurrahman
  • Avatar photo Khoirul Anwar
  • Avatar photo Mentari Wahyudihati
  • Avatar photo Misbah
  • Avatar photo Muhamad Ridwan
  • Avatar photo Muhammad Fadllullah
  • Avatar photo Muhamad Iqbal
  • Avatar photo Nia Chasanah
  • Avatar photo Novritsar Hasintongan Pakpahan
  • Avatar photo Nugraha Wisnu Wijaya
  • Avatar photo Pandu Pradana Wicaksono, S.H.
  • Avatar photo Raden Anggara Kurniawan
  • Avatar photo Rahimulhuda Rizki Alwi
  • Avatar photo Ranggi Adiwangsa Yusron
  • Avatar photo Rifda Aprilia Rusfayanti
  • Avatar photo Muhammad Rijaldy Alwy
  • Avatar photo Rohim
  • Avatar photo Romi Hardhika
  • Avatar photo Samsul Zakaria
  • Avatar photo Siti Anis
  • Avatar photo Sri Nurmina Sari
  • Avatar photo Stefanus Dwi Putra Medisa
  • Avatar photo Sugiri Wiryandono
  • Avatar photo Tri Cahya Indra Permana
  • Avatar photo Yudhi Reksa Perdana
  • Avatar photo Abdul Ghani
  • Avatar photo Ach. Jufri
  • Avatar photo Achmad Cholil
  • Avatar photo Adhlan Fadhilla Ahmad
  • Avatar photo Afif Muchshon
  • Avatar photo Ahmad Efendi
  • Avatar photo Ahmad Hodri
  • Avatar photo Ahmad Rikfi Fuadi
  • Avatar photo Ahmad Rizza Habibi
  • Avatar photo Aidil Akbar
  • Avatar photo Alep Priyoambodo
  • Avatar photo Alfajar Nugraha
  • Avatar photo Ali Sobirin
  • Avatar photo Andi Amirah Humairah Ya'kub
  • Avatar photo Anang Riyan Ramadianto
  • Avatar photo Anderson Peruzzi Simanjuntak
  • Avatar photo Andhika Prayoga
  • Avatar photo Andi Muhammad Galib
  • Avatar photo Andi Aswandi Tashar
  • Avatar photo Andrie Gunawan
  • Avatar photo Anna Yulina
  • Avatar photo Annisa Nur Alam
  • Avatar photo Antok Wibowo
  • Avatar photo Arga Febrian
  • Avatar photo Ariansyah
  • Avatar photo Arief Sapto Nugroho
  • Avatar photo Mayor Chk Arif Dwi Prasetyo
  • Avatar photo Aryaniek Andayani
  • Avatar photo Asep Ridwan Hotoya
  • Avatar photo Bella Puspitawati
  • Avatar photo Bellina Gamelia Sembiring Kembaren
  • Avatar photo Billy Saut Mangoloi
  • Avatar photo Bilma Diffika
  • Avatar photo Bony Daniel
  • Avatar photo Budi Hermanto
  • Avatar photo Budi Suhariyanto
  • Avatar photo Chandra
  • Avatar photo Christopher Hutapea
  • Avatar photo Daniel Saputra
  • Avatar photo Danny Agus Setiyanto
  • Dedi Wigandi
  • Avatar photo Devita Aulia
  • Avatar photo Djoni Witanto
  • Avatar photo Effendi Mukhtar
  • Avatar photo Egia Rasido Tarigan
  • Avatar photo Eka Sentausa
  • Avatar photo Engli Thirta Satria
  • Avatar photo Enos Syahputra Sipahutar, S.H., M.H.
  • Avatar photo Dr. Fahmiron
  • Avatar photo Fahri Bachmid
  • Avatar photo Fahri Soleh
  • Avatar photo Fakhir Tashin Baaj
  • Avatar photo Farhan Al Faris
  • Avatar photo Fatkul Mujib, S.H.I., M.H.
  • Avatar photo Dr. Fauziati, S.Ag., M.Ag
  • Avatar photo Febriansyah Rozarius
  • Avatar photo Friska Ariesta Aritedi
  • Avatar photo Gineng Pratidina
  • Avatar photo Hanry Ichfan Adityo
  • Avatar photo Peltu Hartono
  • Avatar photo Hastuti
  • Avatar photo Hendro Yatmoko
  • Humas Pengadilan Negeri Sidoarjo
  • Avatar photo Ibnu Abas Ali
  • Avatar photo Ichsan Muhammad
  • Avatar photo I Made Sukadana
  • Indra Tua Hasangapon Harahap
  • Avatar photo Intan Widiastuti
  • Avatar photo Ira Soniawati
  • Avatar photo Irfan Dibar
  • Avatar photo Muhammad Irfansyah
  • Avatar photo Letkol Kum Irwan Tasri, S.H., M.H., M.Han.
  • Avatar photo Iwan Lamganda Manalu
  • Avatar photo Jerymia Seky Tanaem
  • Avatar photo Jimmy Maruli Alfian
  • Avatar photo Jusran Ipandi
  • Avatar photo Kadek Dwi Krisna Ananda
  • Avatar photo Khaimi
  • Avatar photo Khoerul Umam
  • Avatar photo Linora Rohayu
  • Avatar photo Made Passek Reza Swandira
  • Avatar photo Marta Satria Putra
  • Avatar photo Marwan Ibrahim Piinga
  • Avatar photo Marwanto
  • Avatar photo Marzha Tweedo Dikky Paraanugrah
  • Avatar photo Maulia Martwenty Ine
  • Avatar photo Mira Maulidar
  • Avatar photo Misbahul Anwar
  • Avatar photo Muhamad Deni Saputra
  • Avatar photo Muhamad Ainun Najib
  • Avatar photo Muhamad Ilham Azizul Haq
  • Avatar photo Muhamad Saptari
  • Avatar photo Muhammad Muhyi Arrasyid, S.Psi.
  • Avatar photo Muhammad Bagus Tri Prasetyo
  • Avatar photo Muhammad Yusuf
  • Avatar photo Murdian
  • Avatar photo Nadia Yurisa Adila
  • Avatar photo Nisrina Irbah Sati
  • Avatar photo Noak Mispa Sianturi
  • Avatar photo Noor Ichwan Ichlas Ria Adha
  • Avatar photo Novtri Nelli
  • Avatar photo Letkol CHK Nur Sakdi, S.H, M.H.
  • Avatar photo Nur Latifah Hanum
  • Avatar photo Piput Milandsari
  • Avatar photo Pita Permatasari
  • Avatar photo H .A.S Pudjoharsoyo
  • Avatar photo Putri Pebrianti
  • Avatar photo R. Deddy Harryanto
  • Avatar photo Radityo Muhammad Harseno
  • Avatar photo Rahmi Fattah
  • Avatar photo Randy Viyatadhika
Lihat semua kontributor →

Type above and press Enter to search. Press Esc to cancel.