Close Menu
Suara BSDKSuara BSDK
  • Beranda
  • Artikel
  • Berita
  • Features
  • Sosok
  • Filsafat
  • Roman
  • Satire
  • Video
  • Liputan Khusus

Subscribe to Updates

Get the latest creative news from FooBar about art, design and business.

What's Hot

Menimbang Kembali Pemidanaan Anak: Ketika Perundungan Berujung Kematian

October 31, 2026

Lompatan Mutu Kebijakan Peradilan: BSDK MA RI Evaluasi 30 Naskah Rekomendasi Strategis di Jakarta

October 31, 2026

Di Balik Asap Karhutla: Menelusuri Potensi Pencucian Uang dalam Green Financial Crime

October 31, 2026
Instagram YouTube
Suara BSDKSuara BSDK
  • Beranda
  • Artikel
  • Berita
  • Features
  • Sosok
  • Filsafat
  • Roman
  • Satire
  • Video
  • Liputan Khusus
Suara BSDKSuara BSDK
  • Beranda
  • Artikel
  • Berita
  • Features
  • Sosok
  • Filsafat
  • Roman
  • Satire
  • Video
  • Liputan Khusus
Home » Manusia Lahir dari Cinta, Hidup dengan Cinta, Matipun karena Cinta

Manusia Lahir dari Cinta, Hidup dengan Cinta, Matipun karena Cinta

Khoiruddin HasibuanBy Khoiruddin HasibuanApril 5, 2026 · 07:33 WIB8 Mins ReadNo Comments
Share
Facebook Twitter Threads Telegram WhatsApp

Ada sesuatu yang sunyi, namun paling hakiki dalam kehidupan manusia, ialah cinta. Ia tidak selalu berisik seperti puisi, tidak selalu tampak seperti pelukan, dan tidak selalu hadir dalam kata-kata yang indah. Tetapi, justru dalam diam itulah ia bekerja. Ia menggerakkan, menghidupkan, bahkan menentukan arah keberadaan manusia. Jika ditelusuri secara jujur, manusia lahir dari cinta, hidup dengan cinta, dan pada akhirnya, mati pun karena cinta. Namun ironisnya, justru dalam kehidupan sehari-hari, cinta sering kali menjadi konsep yang paling disempitkan, direduksi hanya pada relasi romantis, atau bahkan dianggap kelemahan, ketika dibawa ke dalam dunia kerja.

Padahal, jika kita menelusuri lebih dalam, cinta adalah fondasi eksistensial manusia. Ia bukan sekadar perasaan, melainkan energi spiritual yang menghidupkan makna. Dalam perspektif yang lebih tinggi, cinta bukan hanya soal manusia dengan manusia, tetapi juga manusia dengan seluruh makhluk, manusia dengan pekerjaannya, bahkan manusia dengan Tuhannya. Inilah yang oleh A. Helwa dalam Secrets of Divine Love disebut sebagai divine love. Cinta ilahiah yang menuntut totalitas, ketundukan, bahkan “perbudakan,” dalam arti spiritual: menjadi “bucin” kepada cinta itu sendiri.

Namun, menjadi “bucin” dalam konteks ini bukanlah kehilangan akal sehat, melainkan menemukan kesadaran tertinggi bahwa hidup tanpa cinta adalah kehampaan. Menjadi budak cinta berarti menyerahkan ego, menundukkan kesombongan, dan mengakui bahwa nilai hidup tidak ditentukan oleh posisi, jabatan, atau pengakuan, melainkan oleh seberapa dalam kita mencintai dan memaknai setiap peran yang kita jalani.

Lahir dari cinta bukan sekadar ungkapan sentimental. Ia adalah kenyataan ontologis. Seorang anak tidak hadir dari kehampaan, melainkan dari pertemuan dua manusia yang dalam satu atau lain bentuk, digerakkan oleh rasa kasih. Bahkan dalam kondisi yang paling sederhana sekalipun, ada energi kehidupan yang bekerja, yang oleh banyak tradisi spiritual disebut sebagai rahmat. Maka sejak awal, manusia sudah dibentuk oleh cinta. Ia bukan sekadar makhluk biologis, tetapi makhluk relasional, yang keberadaannya bergantung pada keterhubungan.

Namun, persoalan utama manusia bukanlah apakah ia pernah menerima cinta, melainkan apakah ia mampu menghidupkan cinta itu dalam perjalanan hidupnya. Di sinilah banyak orang tersesat. Mereka mencari makna di luar, mengejar status, jabatan, atau pengakuan, tetapi lupa bahwa inti dari semua itu adalah bagaimana mereka mencintai sesama, lingkungan, dan bahkan pekerjaan yang mereka jalani setiap hari.

Cinta kepada sesama makhluk hidup adalah bentuk paling nyata dari kemanusiaan. Ia bukan hanya tentang berbuat baik kepada orang yang kita sukai, tetapi justru kepada mereka yang berbeda, yang mungkin tidak kita pahami, bahkan yang pernah melukai kita. Cinta yang sejati tidak selektif, ia inklusif. Ia tidak bertanya, “Apa manfaatnya bagiku?” melainkan “Apa yang bisa aku berikan?”

Dalam konteks yang lebih luas, cinta juga harus meluas kepada lingkungan hidup. Alam bukan sekadar objek eksploitasi, tetapi ruang kehidupan bersama. Ketika manusia merusak lingkungan, pada hakikatnya ia sedang mengkhianati cinta itu sendiri. Ia lupa bahwa udara yang ia hirup, air yang ia minum, dan tanah yang ia injak adalah bagian dari jaringan kehidupan, yang harus dijaga dengan penuh tanggung jawab. Mencintai lingkungan berarti merawat keberlanjutan kehidupan, bukan hanya untuk diri sendiri, tetapi untuk generasi yang akan datang.

Namun, ada satu bentuk cinta yang sering diremehkan, yaitu tentang cinta terhadap pekerjaan yang ia geluti. Banyak orang bekerja, bertujuan hanya untuk menggugurkan kewajiban, sekadar mencari nafkah, atau bahkan dengan rasa terpaksa. Pekerjaan dipandang sebagai beban, bukan sebagai ruang pengabdian. Di sinilah krisis makna terjadi.

Padahal pekerjaan, apa pun bentuknya, adalah salah satu medan paling konkret, untuk mempraktikkan cinta. Tidak ada pekerjaan yang rendah, jika dilakukan dengan niat yang tinggi. Yang membuat suatu pekerjaan menjadi mulia atau tidak, bukanlah jenisnya, melainkan cara manusia menjalaninya. Seorang petugas kebersihan yang bekerja dengan penuh tanggung jawab dan keikhlasan, jauh lebih bermartabat daripada pejabat tinggi, yang bekerja dengan lalai, mempersulit urusan pegawai maupun karyawannya, dan  bekerja hanya untuk memenuhi ambisi dan kepentingan pribadinya.

Baca Juga  Disiplin atau Distrust? Ketika Pimpinan Pengadilan Menghadapi Era Work From Anywhere

Di sinilah konsep “bucin”, budak cinta, perlu direhabilitasi maknanya. Dalam budaya populer, “bucin” sering diasosiasikan dengan ketergantungan emosional yang tidak sehat. Namun dalam perspektif spiritual, menjadi “bucin” justru merupakan puncak kesadaran dan tunduk sepenuhnya kepada cinta yang murni, tanpa pamrih, tanpa manipulasi.

Menjadi bucin dalam arti ini adalah mencintai sesama makhluk hidup, lingkungan, dan pekerjaan dengan totalitas. Ia bekerja bukan karena diawasi, tetapi karena hatinya terpanggil. Ia membantu bukan karena ingin dipuji, tetapi karena ia tidak bisa tidak membantu. Ia menjaga lingkungan bukan karena aturan, tetapi karena ia merasa menjadi bagian darinya.

Dalam dunia kerja, terutama di lingkungan pengadilan, konsep ini menemukan relevansi yang sangat mendalam. Pengadilan bukan sekadar tempat kerja. Ia adalah ruang penegakan keadilan, tempat di mana nasib manusia dipertaruhkan. Setiap keputusan, setiap berkas, setiap prosedur memiliki konsekuensi yang nyata bagi kehidupan orang lain.

Maka, bekerja di pengadilan tidak bisa sekadar melakukan pekerjaan administratif, ia harus bersifat eksistensial. Di sinilah konsep itqan dalam Islam menjadi sangat penting. Itqan berarti bekerja dengan totalitas, ketelitian, dan profesionalisme yang tinggi dan penuh integritas. Ia bukan hanya tentang hasil, tetapi tentang proses yang dilakukan dengan kesungguhan.

Rasulullah SAW pernah bersabda bahwa Allah mencintai seseorang yang ketika bekerja, ia bekerja secara itqan/profesional dan penuh integritas. Ini bukan sekadar anjuran teknis, tetapi perintah moral dan spiritual. Bekerja dengan itqan adalah bentuk ibadah. Ia adalah manifestasi dari rasa syukur kepada Allah SWT.

Bayangkan seorang pegawai pengadilan yang datang setelah libur Panjang, setelah cuti bersama, setelah menikmati waktu bersama keluarga. Ia melangkahkan kaki ke kantor dengan perasaan berat, menganggap pekerjaan sebagai beban. Dalam kondisi seperti ini, pekerjaan akan dilakukan sekadarnya, tanpa jiwa, tanpa semangat. Namun, jika ia memahami bahwa pekerjaannya adalah manifestasi dari rasa syukur kepada Allah, maka segala sesuatu akan berubah. Ia akan melangkahkan kakinya dari rumah dengan niat untuk bekerja sepenuh hati, sebagai bentuk syukur atas anugerah yang diberi pada hari itu.

Ayat “اعملوا آل داوود شكراً” (Bekerjalah wahai keluarga Daud sebagai bentuk syukur), memberikan pesan yang sangat mendalam. Bekerja bukan sekadar mencari nafkah, tetapi bentuk ibadah. Setiap dokumen yang disusun, setiap perkara yang ditangani, setiap keputusan yang diambil, semuanya adalah wujud syukur atas nikmat kehidupan. Dalam perspektif ini, bekerja dengan asal-asalan bukan hanya persoalan profesionalitas, tetapi juga persoalan spiritual.

Ia berkata dalam hatinya, “Ya Allah, pekerjaan ini adalah amanah-Mu. Aku akan menjalaninya dengan sebaik-baiknya.” Niat ini sederhana, tetapi dampaknya luar biasa. Ia mengubah rutinitas menjadi ibadah, mengubah kewajiban menjadi pengabdian.

Sebaliknya, ketika seseorang bekerja dengan malas, dengan penuh keluhan, dengan sikap tidak peduli terhadap kualitas pekerjaannya, maka pada hakikatnya ia sedang mengingkari nikmat. Ia diberi pekerjaan, diberi kesempatan untuk berkontribusi, tetapi ia tidak menghargainya. Dalam perspektif ini, ketidakprofesionalan bukan hanya masalah teknis, tetapi juga masalah spiritual.

Di lingkungan pengadilan, hal ini menjadi sangat krusial. Baik pimpinan maupun aparatur di level paling bawah memiliki tanggung jawab yang sama dalam menciptakan keharmonisan. Harmoni bukan berarti tanpa perbedaan, tetapi kemampuan untuk mengelola perbedaan dengan bijak.

Baca Juga  Kejahatan Siber: Hakim Harus Cermat Menguji Bukti

Seorang pimpinan yang otoriter, yang tidak menghargai bawahannya, yang menciptakan suasana kerja penuh dengan tekanan, yang bertindaknya semau “gue,”  yang diberi saran atau masukan dianggap hasutan ataupun upaya pembangkangan, dan lain sebagainya, pada dasarnya telah gagal dalam mencintai. Ia mungkin memiliki jabatan, tetapi kehilangan makna. Sebaliknya, seorang pegawai yang bekerja dengan setengah hati, yang tidak peduli terhadap kualitas pekerjaannya, juga telah mengkhianati cinta itu.

Orang-orang yang tidak mampu menciptakan keharmonisan dalam dunia kerjanya adalah mereka yang belum memahami makna syukur. Mereka melihat pekerjaan sebagai beban, bukan sebagai amanah. Mereka bekerja sekadarnya, bukan sepenuhnya. Dalam istilah Islam, mereka belum mencapai derajat itqan.

Al-Qur’an dan hadis memberikan banyak gambaran tentang karakteristik orang-orang yang bekerja dengan itqan. Mereka adalah orang-orang yang jujur (shiddiq), dapat dipercaya (amanah), cerdas (fathanah), dan menyampaikan kebenaran (tabligh). Mereka tidak hanya kompeten secara teknis, tetapi juga memiliki integritas moral.

Mereka tidak menunda pekerjaan tanpa alasan, tidak mengabaikan detail, dan tidak bekerja asal-asalan. Mereka sadar bahwa setiap tindakan mereka diawasi, bukan hanya oleh manusia, tetapi oleh Tuhan. Kesadaran ini melahirkan disiplin yang tidak bergantung pada pengawasan eksternal.

Lebih dari itu, mereka juga memiliki kepekaan sosial. Mereka memahami bahwa pekerjaan mereka berdampak pada orang lain. Seorang panitera yang teliti, seorang hakim yang adil, seorang pegawai administrasi yang responsif, semuanya berkontribusi pada terciptanya keadilan yang substantif.

Inilah bentuk nyata dari cinta dalam dunia kerja, yaitu bekerja dengan kesadaran bahwa apa yang kita lakukan memiliki makna bagi kehidupan orang lain. Ketika kesadaran ini hadir, maka pekerjaan tidak lagi terasa hampa. Ia menjadi ruang aktualisasi diri, sekaligus jalan menuju kedekatan dengan Tuhan.

Pada akhirnya, manusia akan kembali kepada asalnya. Ia akan meninggalkan dunia ini, tetapi yang tersisa adalah jejak cinta yang ia tinggalkan. Apakah ia pernah membuat orang lain merasa dihargai? Apakah ia pernah menjaga lingkungan dengan penuh tanggung jawab? Apakah ia pernah bekerja dengan sepenuh hati?

Jawaban atas pertanyaan-pertanyaan ini, akan menentukan bagaimana ia dikenang. Sebab pada akhirnya, manusia tidak diukur dari apa yang ia miliki, tetapi dari bagaimana ia mencintai.

Maka, menjadi “bucin” dalam arti yang sejati bukanlah sesuatu yang memalukan. Justru itulah bentuk tertinggi dari kemanusiaan. Menjadi budak cinta berarti membebaskan diri dari ego, dari kepentingan sempit, dari sikap acuh tak acuh. Ia adalah jalan menuju kehidupan yang lebih bermakna.

Menjadi “bucin” terhadap cinta ilahiah berarti menjadikan cinta sebagai pusat kehidupan. Ia bukan sekadar emosi, tetapi prinsip hidup. Ia menuntun cara kita berpikir, bersikap, dan bertindak. Ia mengubah pekerjaan menjadi ibadah, relasi menjadi keberkahan, dan kehidupan menjadi perjalanan menuju Tuhan.

Dalam dunia pengadilan, di mana keadilan seharusnya menjadi nilai utama, cinta justru menjadi fondasi yang sering dilupakan. Padahal, tanpa cinta, hukum bisa menjadi kaku, prosedur bisa menjadi dingin, dan keadilan bisa kehilangan ruhnya.

Sudah saatnya kita mengembalikan cinta ke dalam setiap aspek kehidupan, termasuk dalam pekerjaan. Bekerja dengan cinta, dengan itqan, dan dengan rasa Syukur, bukan hanya akan meningkatkan kualitas kerja, tetapi juga akan membawa ketenangan batin.

Manusia lahir dari cinta. Hidup dengan cinta. Dan ketika ia mati, ia akan kembali kepada cinta itu. Pertanyaannya hanya satu: selama hidup, apakah ia benar-benar telah mencinta?

Khoiruddin Hasibuan
Kontributor
Khoiruddin Hasibuan
Hakim Pengadilan Agama Soreang

Untuk Mendapatkan Berita Terbaru Suara BSDK, Follow Channel WhatsApp: SUARABSDKMARI

artikel cinta lahir manusia mati
Share. Facebook Twitter Threads Telegram WhatsApp Copy Link

Related Posts

Menimbang Kembali Pemidanaan Anak: Ketika Perundungan Berujung Kematian

October 31, 2026

Di Balik Asap Karhutla: Menelusuri Potensi Pencucian Uang dalam Green Financial Crime

October 31, 2026

Problematika Pelaksanaan Eksekusi Pembayaran Sejumlah Uang Terhadap Objek Jaminan Berupa Benda Bergerak

October 30, 2026
Leave A Reply Cancel Reply


Demo
Top Posts

Dari FGD hingga Semangkuk Mi Kuah, BSDK Tunjukkan Wajah Pendidikan Peradilan yang Humanis

October 28, 2026

Adu Domba: Bukan Sekedar Adu Kekuatan

October 23, 2026

Asap di Bumi Serambi Makkah: Jauh dari Titik Api, Dekat dengan Ujian Keadilan

October 20, 2026

Menata Sekretariat, Menjaga Nalar Peradilan

October 19, 2026
Don't Miss

Menimbang Kembali Pemidanaan Anak: Ketika Perundungan Berujung Kematian

By Wilmar Ibni Rusydan and Daniel H. NapitupuluOctober 31, 20260

Kabar meninggalnya seorang siswa sekolah dasar di Pemalang pada awal Oktober 2026 cukup menyita perhatian…

Lompatan Mutu Kebijakan Peradilan: BSDK MA RI Evaluasi 30 Naskah Rekomendasi Strategis di Jakarta

October 31, 2026

Di Balik Asap Karhutla: Menelusuri Potensi Pencucian Uang dalam Green Financial Crime

October 31, 2026

Merawat Janji 1928: Pengadilan Agama Jakarta Pusat Gelar Upacara Sumpah Pemuda Ke-98 Bersama BSDK MA RI

October 31, 2026
Stay In Touch
  • YouTube
  • TikTok
  • WhatsApp
  • Twitter
  • Instagram
Top Trending
Demo

Recent Posts

  • Menimbang Kembali Pemidanaan Anak: Ketika Perundungan Berujung Kematian
  • Lompatan Mutu Kebijakan Peradilan: BSDK MA RI Evaluasi 30 Naskah Rekomendasi Strategis di Jakarta
  • Di Balik Asap Karhutla: Menelusuri Potensi Pencucian Uang dalam Green Financial Crime
  • Merawat Janji 1928: Pengadilan Agama Jakarta Pusat Gelar Upacara Sumpah Pemuda Ke-98 Bersama BSDK MA RI
  • 90 Warga di Gugat, Hakim PN Dataran Hunipopu Cek Langsung Objek Sengketa

Recent Comments

  1. Rizka on Problematika Pelaksanaan Eksekusi Pembayaran Sejumlah Uang Terhadap Objek Jaminan Berupa Benda Bergerak
  2. Auzir on KUHAP Baru: Menanggalkan Jubah Interogator, Transformasi Menuju Sistem Adversarial
  3. Budi Santoso on Titian Panjang Pengabdian Prajurit Setia Hingga Akhir
  4. PrP on Kajian Green Victimology Sebagai Pendekatan Perlindungan Hukum Korban Kebakaran Hutan di Indonesia
  5. Grace Hall on Abhinaya Upangga Wisesa: Ketika Kerja Sunyi Menjadi Penjaga Martabat Peradilan
Hubungi Kami

Badan Strategi Kebijakan dan Pendidikan dan Pelatihan Hukum dan Peradilan Hukum dan Peradilan
Mahkamah Agung RI

Kantor: Jl. Cikopo Selatan Desa Sukamaju, Kec. Megamendung
Bogor, Jawa Barat 16770

Kirimkan reportase berita, opini, features dan artikel lainnya ke email suarabsdk.com : 
redpelsuarabsdk@gmail.com

Telepon: (0251) 8249520, 8249522, 8249531, 8249539

Kategori
Beranda Artikel Berita Features Sosok KRITERIA TULISAN
Filsafat Roman Satire Video BALACADAS
Connect With Us
  • Instagram
  • YouTube
  • WhatsApp
Aplikasi Internal
Logo 1 Logo 2 Logo 3 Logo 3 Logo 5
Logo 4 Logo 4 Logo 4 Logo 5 Logo 5 Logo 5
Kontributor
  • Avatar photo Ahmad Junaedi
  • Avatar photo Mohammad Khairul Muqorobin
  • Avatar photo Aman
  • Avatar photo Irvan Mawardi
  • Avatar photo Cecep Mustafa
  • Avatar photo Khoiruddin Hasibuan
  • Avatar photo Yudhistira Ary Prabowo
  • Avatar photo Ari Gunawan
  • Avatar photo Muamar Azmar Mahmud Farig
  • Avatar photo Syailendra Anantya Prawira
  • Avatar photo Ghesa Agnanto Hutomo
  • Avatar photo Johanes
  • Avatar photo Muhammad Rizqi Hengki
  • Avatar photo Syamsul Arief
  • Avatar photo Agus Digdo Nugroho
  • Avatar photo Timbul Bonardo Siahaan
  • Avatar photo Muhammad Adiguna Bimasakti
  • Avatar photo Dahlan Suherlan
  • Avatar photo Jatmiko Wirawan
  • Avatar photo Muhammad Zuchri Nasuha Lubis
  • Avatar photo Syihabuddin
  • Avatar photo Cik Basir
  • Avatar photo Taufikurrahman
  • Avatar photo Zulfahmi
  • Avatar photo Maria Fransiska Walintukan
  • Avatar photo Unggul Senoaji
  • Avatar photo Anton Ahmad Sogiri
  • Avatar photo M. Natsir Asnawi
  • Avatar photo Abdi Munawar Daeng Mangagang
  • Avatar photo Adji Prakoso
  • Avatar photo Bintoro Wisnu Prasojo
  • Avatar photo Yoshito Siburian
  • Avatar photo Iqbal Lazuardi
  • Avatar photo Sriti Hesti Astiti
  • Avatar photo Abdul Azis Ali Ramdlani
  • Avatar photo Galang Adhe Sukma
  • Avatar photo Harun Maulana
  • Avatar photo Ahmad Syahrus Sikti
  • Avatar photo Bagus Partha Wijaya
  • Avatar photo Layla Windy Puspita Sari
  • Avatar photo Muhammad Hanif Ramadhan
  • Avatar photo Anisa Yustikaningtiyas
  • Avatar photo Binsar Parlindungan Tampubolon
  • Avatar photo Ferdian Permadi
  • Avatar photo Ganjar Prima Anggara
  • Avatar photo I Gusti Lanang Ngurah Sidemen Putra
  • Avatar photo Eliyas Eko Setyo
  • Avatar photo Firzi Ramadhan
  • Avatar photo Itsnaatul Lathifah
  • Avatar photo Jarkasih
  • Avatar photo Sudiyo
  • Avatar photo Afifah Dwiandini
  • Avatar photo Febby Fajrurrahman
  • Avatar photo Garin Purna Sanjaya
  • Avatar photo Marulam J Sembiring
  • Avatar photo Tri Indroyono
  • Avatar photo Letkol Chk Agustono, S.H., M.H.
  • Avatar photo Ardiansyah Iksaniyah Putra
  • Avatar photo Buang Yusuf
  • Avatar photo Henri Setiawan
  • Avatar photo Irene Cristna Silalahi
  • Avatar photo Marsudin Nainggolan
  • Avatar photo Maulana Aulia
  • Avatar photo Riki Perdana Raya Waruwu
  • Avatar photo Siti Nadhiroh
  • Avatar photo Dr. Syofyan Iskandar, S.H., M.H.
  • Avatar photo Muhamad Zaky Albana
  • Avatar photo Fauzan Prasetya
  • Avatar photo Irwan Rosady
  • Avatar photo Khoiriyah Roihan
  • Avatar photo Redaktur SuaraBSDK
  • Avatar photo Yasin Prasetia
  • Avatar photo Audrey Kartika Putri
  • Avatar photo Cok Istri Bhagawanthi Pemayun
  • Avatar photo Eddy Daulatta Sembiring
  • Avatar photo Fitriyel Hanif
  • Avatar photo Gerry Michael Purba
  • Avatar photo K.G. Raegen
  • Avatar photo Rafi Muhammad Ave
  • Avatar photo Rangga Lukita Desnata
  • Avatar photo Rikatama Budiyantie
  • Avatar photo Silveria Supanti
  • Avatar photo Sugiarto
  • Avatar photo Teguh Setiyawan
  • Avatar photo Achmad Fikri Oslami
  • Avatar photo Agenda Citra Muhammad
  • Avatar photo Ahmad Fuad Noor Ghufron
  • Avatar photo Achmad Nurul Huda
  • Avatar photo Andro Riski Pradipta
  • Avatar photo Anggi Permana
  • Avatar photo Ang Rijal Amin
  • Avatar photo Armansyah
  • Avatar photo David Pasaribu
  • Avatar photo Dedi Putra
  • Avatar photo Dewi Maharati
  • Avatar photo Edi Hudiata
  • Avatar photo Gerry Geovant Supranata Kaban
  • Avatar photo Herjuna Praba Wiesesa
  • Avatar photo Hermanto
  • Avatar photo Indarka PP
  • Avatar photo Muhamad Fadillah
  • Avatar photo Nugraha Medica Prakasa
  • Avatar photo Ria Marsella
  • Avatar photo Rizal Arif Fitria
  • Avatar photo Sadana
  • Avatar photo Sahram
  • Avatar photo Saut Erwin Hartono A. Munthe
  • Avatar photo Yusuf Sodhiqin
  • Avatar photo Achmad Pratomo
  • Avatar photo Dr. H. Achmad Setyo Pudjoharsoyo., SH., M.Hum
  • Avatar photo Ahmad Muzayyin Destuladoe
  • Avatar photo Ahmad Faiz Shobir Alfikri
  • Avatar photo Ahmad Farhan Subhi
  • Avatar photo Arie Fitriansyah
  • Avatar photo Bismo Jiwo Agung
  • Avatar photo Dharma Setiawan Negara
  • Avatar photo Epri Wahyudi
  • Avatar photo Fajar Widodo
  • Avatar photo Fariz Prasetyo Aji
  • Avatar photo Fauzan Arrasyid
  • Avatar photo Fauzia Rohmah
  • Avatar photo Febry Indra Gunawan Sitorus
  • Avatar photo Hartanto Ariesyandi
  • Avatar photo Mardi Candra
  • Avatar photo Muhammad Irfan Syahputra
  • Avatar photo Muhammad Amin Putra
  • Avatar photo Niko Wijaya
  • Avatar photo Putra Nova A.S
  • Avatar photo Raden Heru Wibowo Sukaten
  • Avatar photo Rahmad Ramadhan Hasibuan
  • Avatar photo Satria Perdana
  • Avatar photo Trisoko Sugeng Sulistyo
  • Avatar photo Umar Dani
  • Avatar photo Wahyu Budi Santoso
  • Avatar photo Wilmar Ibni Rusydan
  • Avatar photo Abdul Hadi
  • Avatar photo Abiandri Fikri Akbar
  • Avatar photo Abi Zaky Azizi
  • Avatar photo Adimas Leo Firmansah
  • Avatar photo Andi Akram
  • Avatar photo Anggiyansyah Nurmanta
  • Avatar photo Arsyawal
  • Avatar photo Ashhab Triono
  • Avatar photo Aulia Rochmani Lazuardi
  • Avatar photo Azalia Purbayanti Sabana
  • Avatar photo Bagus Sujatmiko
  • Avatar photo Bayu Akbar Wicaksono
  • Avatar photo Chandra Khoirunnas
  • Avatar photo Cuhandi
  • Avatar photo Daniel H. Napitupulu
  • Avatar photo Deka Rachman Budihanto
  • Avatar photo Dendi Sutiyoso
  • Avatar photo Dhea Sutaryana
  • Avatar photo Enrico Simanjuntak
  • Avatar photo Fadhilah Fauzan, S.H.
  • Avatar photo Fahri Gunawan Siagian
  • Avatar photo Fauziah Rahmah
  • Avatar photo Fery Rochmad Ramadhan
  • Avatar photo Ida Masnita Sigalingging
  • Avatar photo Idik Saeful Bahri
  • Avatar photo Imaniar
  • Avatar photo Karell Mawla Ibnu Kamali
  • Avatar photo Khalilurrahman
  • Avatar photo Khoirul Anwar
  • Avatar photo Mentari Wahyudihati
  • Avatar photo Misbah
  • Avatar photo Muhamad Ridwan
  • Avatar photo Muhammad Fadllullah
  • Avatar photo Muhamad Iqbal
  • Avatar photo Nia Chasanah
  • Avatar photo Novritsar Hasintongan Pakpahan
  • Avatar photo Nugraha Wisnu Wijaya
  • Avatar photo Pandu Pradana Wicaksono, S.H.
  • Avatar photo Raden Anggara Kurniawan
  • Avatar photo Rahimulhuda Rizki Alwi
  • Avatar photo Ranggi Adiwangsa Yusron
  • Avatar photo Rifda Aprilia Rusfayanti
  • Avatar photo Muhammad Rijaldy Alwy
  • Avatar photo Rohim
  • Avatar photo Romi Hardhika
  • Avatar photo Samsul Zakaria
  • Avatar photo Siti Anis
  • Avatar photo Sri Nurmina Sari
  • Avatar photo Stefanus Dwi Putra Medisa
  • Avatar photo Sugiri Wiryandono
  • Avatar photo Tri Cahya Indra Permana
  • Avatar photo Yudhi Reksa Perdana
  • Avatar photo Abdul Ghani
  • Avatar photo Ach. Jufri
  • Avatar photo Achmad Cholil
  • Avatar photo Adhlan Fadhilla Ahmad
  • Avatar photo Afif Muchshon
  • Avatar photo Agus Suharsono
  • Avatar photo Ahmad Efendi
  • Avatar photo Ahmad Hodri
  • Avatar photo Ahmad Rikfi Fuadi
  • Avatar photo Ahmad Rizza Habibi
  • Avatar photo Aidil Akbar
  • Avatar photo Alep Priyoambodo
  • Avatar photo Alfajar Nugraha
  • Avatar photo Ali Sobirin
  • Avatar photo Andi Amirah Humairah Ya'kub
  • Avatar photo Anang Riyan Ramadianto
  • Avatar photo Anderson Peruzzi Simanjuntak
  • Avatar photo Andhika Prayoga
  • Avatar photo Andi Muhammad Galib
  • Avatar photo Andi Aswandi Tashar
  • Avatar photo Andrie Gunawan
  • Avatar photo Anna Yulina
  • Avatar photo Annisa Nur Alam
  • Avatar photo Antok Wibowo
  • Avatar photo Arga Febrian
  • Avatar photo Ariansyah
  • Avatar photo Arief Sapto Nugroho
  • Avatar photo Mayor Chk Arif Dwi Prasetyo
  • Avatar photo Aryaniek Andayani
  • Avatar photo Asep Ridwan Hotoya
  • Avatar photo Bella Puspitawati
  • Avatar photo Bellina Gamelia Sembiring Kembaren
  • Avatar photo Billy Saut Mangoloi
  • Avatar photo Bilma Diffika
  • Avatar photo Bony Daniel
  • Avatar photo Budi Hermanto
  • Avatar photo Budi Suhariyanto
  • Avatar photo Chandra
  • Avatar photo Christopher Hutapea
  • Avatar photo Daniel Saputra
  • Avatar photo Danny Agus Setiyanto
  • Dedi Wigandi
  • Avatar photo Devita Aulia
  • Avatar photo Djoni Witanto
  • Avatar photo Effendi Mukhtar
  • Avatar photo Egia Rasido Tarigan
  • Avatar photo Eka Sentausa
  • Avatar photo Engli Thirta Satria
  • Avatar photo Enos Syahputra Sipahutar, S.H., M.H.
  • Avatar photo Dr. Fahmiron
  • Avatar photo Fahri Bachmid
  • Avatar photo Fahri Soleh
  • Avatar photo Fakhir Tashin Baaj
  • Avatar photo Farhan Al Faris
  • Avatar photo Fatkul Mujib, S.H.I., M.H.
  • Avatar photo Dr. Fauziati, S.Ag., M.Ag
  • Avatar photo Febriansyah Rozarius
  • Avatar photo Friska Ariesta Aritedi
  • Avatar photo Gineng Pratidina
  • Avatar photo Hanry Ichfan Adityo
  • Avatar photo Peltu Hartono
  • Avatar photo Hastuti
  • Avatar photo Hendro Yatmoko
  • Avatar photo Ibnu Abas Ali
  • Avatar photo Ichsan Muhammad
  • Avatar photo I Made Sukadana
  • Indra Tua Hasangapon Harahap
  • Avatar photo Intan Widiastuti
  • Avatar photo Ira Soniawati
  • Avatar photo Irfan Dibar
  • Avatar photo Muhammad Irfansyah
  • Avatar photo Letkol Kum Irwan Tasri, S.H., M.H., M.Han.
  • Avatar photo Iwan Lamganda Manalu
  • Avatar photo Jerymia Seky Tanaem
  • Avatar photo Jimmy Maruli Alfian
  • Avatar photo Jusran Ipandi
  • Avatar photo Kadek Dwi Krisna Ananda
  • Avatar photo Khaimi
  • Avatar photo Khoerul Umam
  • Avatar photo Linora Rohayu
  • Avatar photo Made Passek Reza Swandira
  • Avatar photo Marta Satria Putra
  • Avatar photo Marwan Ibrahim Piinga
  • Avatar photo Marwanto
  • Avatar photo Marzha Tweedo Dikky Paraanugrah
  • Avatar photo Maulia Martwenty Ine
  • Avatar photo Mira Maulidar
  • Avatar photo Misbahul Anwar
  • Avatar photo Muhamad Deni Saputra
  • Avatar photo Muhamad Ilham Azizul Haq
  • Avatar photo Muhamad Saptari
  • Avatar photo Muhammad Muhyi Arrasyid, S.Psi.
  • Avatar photo Muhammad Bagus Tri Prasetyo
  • Avatar photo Muhammad Yusuf
  • Avatar photo Murdian
  • Avatar photo Nadia Yurisa Adila
  • Avatar photo Nisrina Irbah Sati
  • Avatar photo Noak Mispa Sianturi
  • Avatar photo Noor Ichwan Ichlas Ria Adha
  • Avatar photo Novtri Nelli
  • Avatar photo Letkol CHK Nur Sakdi, S.H, M.H.
  • Avatar photo Nur Latifah Hanum
  • Avatar photo Piput Milandsari
  • Avatar photo Pita Permatasari
  • Avatar photo H .A.S Pudjoharsoyo
  • Avatar photo Putri Pebrianti
  • Avatar photo R. Deddy Harryanto
  • Avatar photo Radityo Muhammad Harseno
  • Avatar photo Rahmi Fattah
  • Avatar photo Randy Viyatadhika
  • Avatar photo Ratih Gumilang
  • Avatar photo Reindra Jasper H. Sinaga, S.H. Hakim Pengadilan Negeri Tanjung Balai Karimun
  • Avatar photo Reynold Mauliate Panggabean
Lihat semua kontributor →

Type above and press Enter to search. Press Esc to cancel.