Close Menu
Suara BSDKSuara BSDK
  • Beranda
  • Artikel
  • Berita
  • Features
  • Sosok
  • Filsafat
  • Roman
  • Satire
  • Video
  • Liputan Khusus

Subscribe to Updates

Get the latest creative news from FooBar about art, design and business.

What's Hot

Tiga Pesan Penting Ketua PTA Palembang dalam Pelantikan Hakim Tinggi dan Panitera Pengganti

November 2, 2026

Menatap Wajah Keadilan dalam Penegakan Hukum Jinayat: Dialektika Syariat Lokal, Asas Hukum, dan Pembaruan Hukum Pidana Nasional

November 2, 2026

BSDK Buka Diklat SPPA Gelombang 2, Cetak Hakim Anak yang Humanis dan Berintegritas

November 2, 2026
Instagram YouTube
Suara BSDKSuara BSDK
  • Beranda
  • Artikel
  • Berita
  • Features
  • Sosok
  • Filsafat
  • Roman
  • Satire
  • Video
  • Liputan Khusus
Suara BSDKSuara BSDK
  • Beranda
  • Artikel
  • Berita
  • Features
  • Sosok
  • Filsafat
  • Roman
  • Satire
  • Video
  • Liputan Khusus
Home » Menelusuri Absennya Peran Korban Dalam Mekanisme Pengakuan Bersalah

Menelusuri Absennya Peran Korban Dalam Mekanisme Pengakuan Bersalah

Rafi Muhammad AveBy Rafi Muhammad AveMarch 7, 2026 · 21:16 WIB10 Mins ReadNo Comments
Share
Facebook Twitter Threads Telegram WhatsApp

Dalam Undang-Undang Nomor 20 Tahun 2025 tentang Hukum Acara Pidana (selanjutnya disebut KUHAP), mekanisme Pengakuan Bersalah diatur dalam tiga tahap yang berbeda. Pertama, pengakuan bersalah dapat diajukan sebelum persidangan pokok perkara dimulai sebagaimana diatur dalam Pasal 78 ayat (4) KUHAP Baru. Kedua, pengakuan bersalah dapat diajukan setelah Terdakwa dan Korban tidak bersepakat untuk melakukan perdamaian dalam mekanisme Keadilan Restoratif sebagaimana diatur dalam Pasal 205 ayat (1) KUHAP. dan Ketiga, pengakuan bersalah dapat diajukan saat Terdakwa mengakui semua perbuatan di dalam dakwaan yang telah dibacakan oleh Penuntut Umum sebagaimana diatur dalam Pasal 234 ayat (1) KUHAP. Dalam ketiga tahap tersebut, Pengakuan Bersalah dilakukan atas dasar kesepakatan antara Penuntut Umum dan Terdakwa yang nantinya akan dituangkan dalam suatu berita acara pengakuan bersalah.

Persoalan yang menjadi fokus tulisan ini adalah bahwa dari ketiga tahap tersebut, tidak satu pun ketentuan yang mensyaratkan keterlibatan Korban di dalamnya. Padahal dalam suatu perkara pidana, Korban merupakan pihak yang paling langsung merasakan akibat dari tindak pidana tersebut. Namun demikian, dalam ketentuan Pengakuan Bersalah, Korban tidak diprasyaratkan untuk dilibatkan, tidak diwajibkan untuk diberitahu sebelum kesepakatan selesai, ataupun tidak diberi ruang untuk menyampaikan pendapatnya kepada hakim, padahal berita acara pengakuan bersalah tersebut dapat menjadi dasar keyakinan hakim dalam memberikan suatu putusan.

Ketiadaan peran Korban dalam mekanisme Pengakuan Bersalah penting untuk dipersoalkan mengingat instrumen internasional telah menegaskan hak Korban untuk berpartisipasi dalam proses peradilan yang menyangkut perkaranya. Declaration of Basic Principles of Justice for Victims of Crime and Abuse of Power (Resolusi Majelis Umum PBB 40/34 Tahun 1985) telah menegaskan adanya perlakuan adil bagi Korban. Prinsip internasional tersebut memberi landasan normatif bagi kedudukan Korban yang mana bukan diperlakukan sekadar sebagai objek dalam proses peradilan, melainkan pihak yang kepentingannya harus didengar, termasuk dalam mekanisme pengakuan bersalah yang nantinya menentukan keyakinan hakim atas perbuatan maupun pertanggungjawaban pidana pelaku. Berdasarkan latar belakang tersebut, tulisan ini akan mengkaji tiga rumusan masalah sebagai berikut:

  1. Bagaimana pengaturan mekanisme pengakuan bersalah dalam Pasal 78, Pasal 205, dan Pasal 234 KUHAP ditinjau dari kedudukan Korban dalam proses peradilan pidana?
  2. Apa implikasi hukum dari tidak dilibatkannya Korban dalam mekanisme pengakuan bersalah tersebut terhadap pemenuhan prinsip perlakuan yang adil bagi Korban?
  3. Bagaimana mekanisme Pengakuan Bersalah dapat memberikan ruang bagi Korban dalam proses peradilan pidana?

Pembahasan

Kedudukan Korban dalam Pengaturan Mekanisme Pengakuan Bersalah Menurut KUHAP

KUHAP mendefinisikan Pengakuan Bersalah dalam Pasal 1 angka 16 sebagai mekanisme hukum bagi Terdakwa untuk mengakui kesalahannya dalam suatu tindak pidana dan bersikap kooperatif dalam pemeriksaan dengan menyampaikan bukti yang mendukung pengakuannya. Substansi mekanisme pengakuan bersalah bukan semata-mata tentang penentuan ringan-beratnya pidana, melainkan tentang proses yudisial atas kebenaran dan kesukarelaan dari pengakuan yang disampaikan Terdakwa.

Pada tahap pertama (Pasal 78 KUHAP), Pengakuan Bersalah dapat diajukan sebelum persidangan pokok perkara dimulai. Pasal 78 ayat (8) KUHAP menegaskan bahwa hakim wajib menilai apakah Pengakuan Bersalah dilakukan secara sukarela, tanpa paksaan, dan dengan pemahaman penuh dari Terdakwa. Apabila hakim memperoleh keyakinan bahwa pengakuan tersebut memenuhi seluruh syarat yang ditentukan dan didukung dengan dua alat bukti yang sah, barulah hakim memberikan putusan sesuai kesepakatan dalam berita acara sebagaimana ditentukan dalam Pasal 78 ayat (12) KUHAP.

Pada tahap kedua (Pasal 205 KUHAP), Pengakuan Bersalah diajukan setelah Terdakwa dan Korban tidak bersepakat untuk melakukan perdamaian dalam mekanisme Keadilan Restoratif. Pasal 205 ayat (3) menempatkan hakim sebagai pihak yang memeriksa keabsahan pengakuan sebelum perkara dilanjutkan dengan acara pemeriksaan singkat.

Pada tahap ketiga (Pasal 234 KUHAP), Pengakuan Bersalah diajukan saat Terdakwa mengakui semua perbuatan di dalam dakwaan yang telah dibacakan oleh Penuntut Umum. Pasal 234 ayat (3) dan (4) mengatur bahwa hakim memeriksa keabsahan pengakuan bersalah sebelum perkara dilanjutkan dengan acara pemeriksaan singkat.

Secara prosedural, KUHAP mengatur bahwa pihak dalam kesepakatan Pengakuan Bersalah adalah Penuntut Umum dan Terdakwa, dengan hakim sebagai pihak yang memeriksa dan menyetujuinya. Hal tersebut tercantum dalam Pasal 78 ayat (6) yang menyatakan bahwa perjanjian tertulis dibuat antara Penuntut Umum dan Terdakwa dengan persetujuan Hakim, sementara Pasal 78 ayat (7) merinci bahwa substansi kesepakatan memuat hasil perundingan antara Penuntut Umum, Terdakwa, dan Advokat. Berdasarkan ketentuan-ketentuan tersebut, tampak jelas bahwa Korban tidak memiliki posisi secara prosedural yang jelas dalam satu pun dari ketiga jalur tersebut.

Baca Juga  Tolak Permohonan Plea Bargaining, PN Wangi-Wangi Perintahkan Sidang Pemeriksaan Biasa

Memang benar bahwa Pasal 78 ayat (1) huruf c mencantumkan syarat bahwa Terdakwa bersedia membayar Ganti Rugi atau Restitusi sebagai salah satu persyaratan Pengakuan Bersalah. Namun demikian, frasa “bersedia membayar” bersifat deklaratif, yakni sekadar pernyataan kesediaan tanpa kewajiban pembuktian bahwa restitusi telah atau pasti akan dipenuhi. Di samping itu, syarat tersebut dirumuskan secara alternatif dengan kata hubung “dan/atau”, sehingga dapat dikesampingkan sepenuhnya apabila syarat lain terpenuhi. Dengan demikian, Terdakwa dapat saaj menempuh jalur Pengakuan Bersalah dan memperoleh manfaat dari mekanisme pengakuan bersalah tersebut tanpa ada jaminan bahwa kepentingan pemulihan terhadap Korban akan terpenuhi.

Dari analisis ketentuan di atas, penulis meyimpulkan bahwa konstruksi normatif mekanisme Pengakuan Bersalah dalam KUHAP Baru tidak menempatkan Korban sebagai pihak yang memiliki kedudukan prosedural. Korban bukan pihak dalam perjanjian, tidak ada kewajiban untuk memberitahunya sebelum kesepakatan selesai, dan restitusi dapat dikesampingkan karena sifatnya yang alternatif dan deklaratif.

Implikasi Hukum Tidak Dilibatkannya Korban Terhadap Pemenuhan Prinsip Perlakuan Yang Adil

Ketiadaan Korban dalam mekanisme Pengakuan Bersalah menimbulkan implikasi hukum yang serius, baik terhadap prinsip-prinsip perlindungan Korban yang telah diakui secara internasional maupun terhadap konsistensi internal KUHAP Baru itu sendiri.

Pertama, pada tataran instrumen internasional, Declaration of Basic Principles of Justice for Victims of Crime and Abuse of Power (Resolusi PBB 40/34 Tahun 1985) pada prinsip ke-6 huruf b menegaskan bahwa Korban berhak untuk memberikan tanggapan dalam mekanisme peradilan “allowing the views and concerns of victims to be presented and considered at appropriate stages of the proceedings where their personal interests are affected”. Instrumen tersebut tidak sekadar merupakan pernyataan aspiratif, melainkan juga menjadi standar normatif yang dapat dijadikan rujukan dalam pembangunan sistem peradilan pidana yang berorientasi pada perlindungan Korban. Menurut penulis, mekanisme Pengakuan Bersalah yang tidak memberikan ruang bagi Korban untuk menyampaikan pandangan maupun kepentingannya dapat dinilai bertentangan dengan standar tersebut.

Kedua, pada tataran hukum nasional, Pasal 144 KUHAP memang menjamin sejumlah hak Korban, di antaranya hak atas informasi perkembangan perkara (huruf f), informasi putusan pengadilan (huruf g), pengajuan restitusi (huruf l), dan penyampaian victim impact statement (huruf x). Namun demikian, hak-hak tersebut tidak secara langsung menempatkan Korban pada posisi untuk menyampaikan pernyataan atau pendapat dalam mekanisme Pengakuan Bersalah, karena tidak terdapat ketentuan yang mengaitkan hak-hak tersebut dengan proses sebagaimana diatur dalam Pasal 78, Pasal 205, maupun Pasal 234 KUHAP. Dengan demikian, hak-hak Korban yang diatur dalam Pasal 144 pada dasarnya berdiri secara terpisah tanpa adanya mekanisme pelaksanaan yang terintegrasi dengan mekanisme Pengakuan Bersalah. Kondisi ini menyebabkan ketentuan mengenai hak Korban yang tidak memiliki akses masuk ke dalam proses mekanisme Pengakuan Bersalah berpotensi hanya menjadi jaminan normatif yang tidak berfungsi secara substantif.

Ketiga, terdapat inkonsistensi internal dalam KUHAPapabila dibandingkan dengan mekanisme Keadilan Restoratif dalam Pasal 79 sampai dengan Pasal 88 KUHAP. Dalam mekanisme Keadilan Restoratif, kesepakatan penyelesaian perkara wajib ditandatangani oleh Tersangka, Korban, dan Penuntut Umum sebagaimana diatur Pasal 85 ayat (2). Pencabutan laporan pun baru dapat dilakukan setelah pelaku memenuhi seluruh kesepakatan yang telah dibuat bersama Korban (Pasal 79 ayat 4 KUHAP). Hal ini menunjukkan bahwa dalam mekanisme Keadilan Restoratif, Korban diperlakukan sebagai pihak yang memiliki kedudukan prosedural yang tidak dapat diabaikan.

Ketimpangan ini mencerminkan inkonsistensi filosofis di dalam satu undang-undang yang mengklaim berpihak pada Korban. Mekanisme Pengakuan Bersalah yang memberi keringanan lebih besar kepada Terdakwa (berupa penyederhanaan proses dan potensi adanya pengurangan pidana) justru tidak mensyaratkan keterlibatan Korban, di sisi lain, mekanisme Keadilan Restoratif yang prosesnya lebih komprehensif, Korban justru diposisikan sebagai pihak yang harus diperhatikan. Implikasinya, Korban berpotensi kehilangan kesempatan untuk menyuarakan kepentingannya justru pada saat perkaranya diselesaikan melalui mekanisme Pengakuan Bersalah tersebut.

Rekonstruksi Mekanisme Pengakuan Bersalah yang Mengakomodasi Hak Korban

Persoalannya bukan apakah mekanisme Pengakuan Bersalah layak untuk dipertahankan. Mekanisme Pengakuan Bersalah memiliki justifikasi yang sah sebagai instrumen efisiensi peradilan. Persoalannya adalah bahwa mekanisme tersebut didesain seolah-olah perkara pidana hanya melibatkan negara dan Terdakwa, tanpa ada Korban yang ikut menanggung akibatnya. Oleh karena itu, diperlukan rekonstruksi yang mengakomodasi hak Korban tanpa menghilangkan esensi efisiensi dari mekanisme Pengakuan Bersalah.

Baca Juga  Keadilan Restoratif dalam KUHAP Baru (Undang-Undang Nomor 20 Tahun 2025)

Perbaikan yang diusulkan tidak memerlukan perubahan terhadap undang-undang tersebut. Pasal 205 ayat (5) dan Pasal 366 KUHAP telah mengamanatkan pengaturan teknis lebih lanjut melalui Peraturan Pemerintah, dengan tenggat waktu paling lambat satu tahun sejak undang-undang ini berlaku pada 2 Januari 2026. Amanah tersebut seharusnya dapat dimanfaatkan untuk mengisi kekosongan normatif yang ada. Oleh karena itu, terdapat dua aspek yang perlu diatur, yaitu:

  1. Pertama, kewajiban notifikasi kepada Korban. Korban harus diberitahu segera setelah ada permohonan Pengakuan Bersalah diajukan. Korban berhak mengetahui bahwa proses ini sedang berjalan sebelum kesepakatan selesai. Ini adalah pemenuhan konkret atas prinsip ke-6 huruf b Deklarasi PBB 1985 yang mewajibkan proses peradilan untuk memungkinkan pandangan Korban disampaikan pada tahap yang tepat (“at appropriate stages of the proceedings”). Tanpa notifikasi, Korban tidak akan pernah memiliki kesempatan untuk menyampaikan pandangannya karena ia bahkan tidak mengetahui bahwa proses tersebut sedang berlangsung.
  2. Kedua, victim impact statement sebagai bagian wajib dari berkas perkara. Victim impact statement harus dijadikan bagian wajib dari berkas perkara yang dipertimbangkan hakim sebelum mengesahkan Pengakuan Bersalah. Hakim tidak perlu terikat oleh pernyataan tersebut, tetapi ia harus membacanya dan mencantumkan pertimbangannya dalam putusan, sehingga suara Korban dapat hadir dalam proses yang menentukan sah atau tidaknya suatu Pengakuan Bersalah Terdakwa. Ketentuan tersebut sejalan dengan Pasal 144 huruf x KUHAP yang telah menjamin hak Korban untuk menyampaikan victim impact statement, namun perlu diperkuat dengan mekanisme yang mengintegrasikannya ke dalam proses Pengakuan Bersalah.

Penutup

Berdasarkan pembahasan di atas, dapat ditarik beberapa kesimpulan dalam penulisan ini, yakni:

  1. Pertama, pengaturan mekanisme Pengakuan Bersalah dalam Pasal 78, Pasal 205, dan Pasal 234 KUHAP tidak menempatkan Korban sebagai pihak yang memiliki kedudukan prosedural. Korban bukan pihak dalam perjanjian, tidak ada kewajiban untuk memberitahunya sebelum kesepakatan selesai, dan restitusi dapat dikesampingkan karena sifatnya yang alternatif dan deklaratif.
  2. Kedua, tidak dilibatkannya Korban dalam mekanisme Pengakuan Bersalah menimbulkan implikasi hukum berupa pertentangan dengan standar internasional perlindungan Korban, terputusnya hak-hak Korban dalam Pasal 144 KUHAP dari mekanisme pelaksanaannya, serta inkonsistensi dengan mekanisme Keadilan Restoratif yang mensyaratkan adanya persetujuan dari Korban dalam kesepakatan tersebut.
  3. Ketiga, mekanisme Pengakuan Bersalah dapat memberikan ruang bagi Korban melalui pengaturan dalam Peraturan Pemerintah yang diamanatkan Pasal 205 ayat (5) dan Pasal 366 KUHAP. Peraturan tersebut harus secara tegas mengatur, yakni (a) notifikasi wajib kepada Korban segera setelah permohonan Pengakuan Bersalah diajukan dan (b) kewajiban penyampaian victim impact statement kepada hakim sebagai bagian dari proses verifikasi Pengakuan Bersalah;

Bibliografi

Kurniawan, K. D., Hapsari, D. R. I., dan Prasetya, I. E. “Pemberlakuan Plea Bargaining System sebagai Alternatif Penyelesaian Perkara Pidana untuk Tujuan Menyelesaikan Konflik.” Jurnal Jurisprudence 10, No. 2 (2021): 183–199.

Maulana, Aby. “Konsep Pengakuan Bersalah Terdakwa pada ‘Jalur Khusus’ Menurut RUU KUHAP dan Perbandingannya dengan Praktek Plea Bargaining di Beberapa Negara.” Jurnal Cita Hukum 3, No. 1 (2015): 43–60.

Ramadhan, Choky R. “Peningkatan Efisiensi Peradilan melalui Mekanisme Jalur Khusus dalam RUU KUHAP.” Jurnal Teropong 2 (2014): 140–158.

Resolusi Majelis Umum PBB 40/34 Tahun 1985, Declaration of Basic Principles of Justice for Victims of Crime and Abuse of Power.

Sabrina, Nahdiya. “Perlindungan dan Pemenuhan Hak Korban Tindak Pidana dalam Sistem Peradilan Pidana.” Jurnal Cakrawala Hukum 7, No. 2 (2016): 229–237.

Siregar, Nella Octaviany. “Plea Bargaining dalam Sistem Peradilan Pidana di Beberapa Negara.” Wajah Hukum 3, No. 1 (2019): 1–9.

Sirjon, Lade, La Ode Muhamad Sulihin, dan Yan Fathahillah Purnama. “Perbandingan Mekanisme Pengakuan Bersalah pada Jalur Khusus dalam RUU KUHAP dan Konsep Plea Bargaining Ditinjau dari Asas Non-Self Incrimination.” Halu Oleo Law Review 7, No. 2 (2023): 224–235.

Undang-Undang Nomor 13 Tahun 2006 tentang Perlindungan Saksi dan Korban sebagaimana diubah dengan Undang-Undang Nomor 31 Tahun 2014.

Undang-Undang Nomor 20 Tahun 2025 tentang Kitab Undang-Undang Hukum Acara Pidana.

Yulia, Rena. “Perlindungan Hukum terhadap Korban Tindak Pidana dalam Sistem Peradilan Pidana Indonesia.” Jurnal Hukum & Pembangunan 50, No. 3 (2020): 620–624.

Rafi Muhammad Ave
Kontributor
Rafi Muhammad Ave
Hakim Pengadilan Negeri Blangkejeren

Untuk Mendapatkan Berita Terbaru Suara BSDK, Follow Channel WhatsApp: SUARABSDKMARI

Hak Korban Keadilan Restoratif kuhap 2025 pengakuan bersalah Perlindungan Korban Plea Bargaining Indonesia Reformasi Hukum Acara Pidana Restitusi Korban Sistem Peradilan Pidana Victim Impact Statement
Share. Facebook Twitter Threads Telegram WhatsApp Copy Link

Related Posts

Menatap Wajah Keadilan dalam Penegakan Hukum Jinayat: Dialektika Syariat Lokal, Asas Hukum, dan Pembaruan Hukum Pidana Nasional

November 2, 2026

Menimbang Kembali Pemidanaan Anak: Ketika Perundungan Berujung Kematian

October 31, 2026

Di Balik Asap Karhutla: Menelusuri Potensi Pencucian Uang dalam Green Financial Crime

October 31, 2026
Leave A Reply Cancel Reply


Demo
Top Posts

Dari FGD hingga Semangkuk Mi Kuah, BSDK Tunjukkan Wajah Pendidikan Peradilan yang Humanis

October 28, 2026

Adu Domba: Bukan Sekedar Adu Kekuatan

October 23, 2026

Asap di Bumi Serambi Makkah: Jauh dari Titik Api, Dekat dengan Ujian Keadilan

October 20, 2026

Menata Sekretariat, Menjaga Nalar Peradilan

October 19, 2026
Don't Miss

Tiga Pesan Penting Ketua PTA Palembang dalam Pelantikan Hakim Tinggi dan Panitera Pengganti

By AmanNovember 2, 20260

PALEMBANG — Ketua Pengadilan Tinggi Agama (PTA) Palembang Drs. Nur Khazim, SH, MH secara resmi…

Menatap Wajah Keadilan dalam Penegakan Hukum Jinayat: Dialektika Syariat Lokal, Asas Hukum, dan Pembaruan Hukum Pidana Nasional

November 2, 2026

BSDK Buka Diklat SPPA Gelombang 2, Cetak Hakim Anak yang Humanis dan Berintegritas

November 2, 2026

Kepedulian Sebagai Wujud Nyata Pembangunan Zona Integritas (ZI) di Lingkungan Pengadilan Militer

November 1, 2026
Stay In Touch
  • YouTube
  • TikTok
  • WhatsApp
  • Twitter
  • Instagram
Top Trending
Demo

Recent Posts

  • Tiga Pesan Penting Ketua PTA Palembang dalam Pelantikan Hakim Tinggi dan Panitera Pengganti
  • Menatap Wajah Keadilan dalam Penegakan Hukum Jinayat: Dialektika Syariat Lokal, Asas Hukum, dan Pembaruan Hukum Pidana Nasional
  • BSDK Buka Diklat SPPA Gelombang 2, Cetak Hakim Anak yang Humanis dan Berintegritas
  • Kepedulian Sebagai Wujud Nyata Pembangunan Zona Integritas (ZI) di Lingkungan Pengadilan Militer
  • MOVE!

Recent Comments

  1. Abdul Mustopa on MOVE!
  2. Rizka on Problematika Pelaksanaan Eksekusi Pembayaran Sejumlah Uang Terhadap Objek Jaminan Berupa Benda Bergerak
  3. Auzir on KUHAP Baru: Menanggalkan Jubah Interogator, Transformasi Menuju Sistem Adversarial
  4. Budi Santoso on Titian Panjang Pengabdian Prajurit Setia Hingga Akhir
  5. PrP on Kajian Green Victimology Sebagai Pendekatan Perlindungan Hukum Korban Kebakaran Hutan di Indonesia
Hubungi Kami

Badan Strategi Kebijakan dan Pendidikan dan Pelatihan Hukum dan Peradilan Hukum dan Peradilan
Mahkamah Agung RI

Kantor: Jl. Cikopo Selatan Desa Sukamaju, Kec. Megamendung
Bogor, Jawa Barat 16770

Kirimkan reportase berita, opini, features dan artikel lainnya ke email suarabsdk.com : 
redpelsuarabsdk@gmail.com

Telepon: (0251) 8249520, 8249522, 8249531, 8249539

Kategori
Beranda Artikel Berita Features Sosok KRITERIA TULISAN
Filsafat Roman Satire Video BALACADAS
Connect With Us
  • Instagram
  • YouTube
  • WhatsApp
Aplikasi Internal
Logo 1 Logo 2 Logo 3 Logo 3 Logo 5
Logo 4 Logo 4 Logo 4 Logo 5 Logo 5 Logo 5
Kontributor
  • Avatar photo Ahmad Junaedi
  • Avatar photo Mohammad Khairul Muqorobin
  • Avatar photo Aman
  • Avatar photo Irvan Mawardi
  • Avatar photo Cecep Mustafa
  • Avatar photo Khoiruddin Hasibuan
  • Avatar photo Yudhistira Ary Prabowo
  • Avatar photo Ari Gunawan
  • Avatar photo Muamar Azmar Mahmud Farig
  • Avatar photo Syailendra Anantya Prawira
  • Avatar photo Ghesa Agnanto Hutomo
  • Avatar photo Johanes
  • Avatar photo Muhammad Rizqi Hengki
  • Avatar photo Syamsul Arief
  • Avatar photo Agus Digdo Nugroho
  • Avatar photo Timbul Bonardo Siahaan
  • Avatar photo Muhammad Adiguna Bimasakti
  • Avatar photo Dahlan Suherlan
  • Avatar photo Jatmiko Wirawan
  • Avatar photo Muhammad Zuchri Nasuha Lubis
  • Avatar photo Syihabuddin
  • Avatar photo Cik Basir
  • Avatar photo Taufikurrahman
  • Avatar photo Zulfahmi
  • Avatar photo Maria Fransiska Walintukan
  • Avatar photo Unggul Senoaji
  • Avatar photo Anton Ahmad Sogiri
  • Avatar photo M. Natsir Asnawi
  • Avatar photo Abdi Munawar Daeng Mangagang
  • Avatar photo Adji Prakoso
  • Avatar photo Bintoro Wisnu Prasojo
  • Avatar photo Yoshito Siburian
  • Avatar photo Iqbal Lazuardi
  • Avatar photo Sriti Hesti Astiti
  • Avatar photo Abdul Azis Ali Ramdlani
  • Avatar photo Bagus Partha Wijaya
  • Avatar photo Galang Adhe Sukma
  • Avatar photo Harun Maulana
  • Avatar photo Ahmad Syahrus Sikti
  • Avatar photo Layla Windy Puspita Sari
  • Avatar photo Muhammad Hanif Ramadhan
  • Avatar photo Anisa Yustikaningtiyas
  • Avatar photo Binsar Parlindungan Tampubolon
  • Avatar photo Ferdian Permadi
  • Avatar photo Ganjar Prima Anggara
  • Avatar photo I Gusti Lanang Ngurah Sidemen Putra
  • Avatar photo Eliyas Eko Setyo
  • Avatar photo Firzi Ramadhan
  • Avatar photo Itsnaatul Lathifah
  • Avatar photo Jarkasih
  • Avatar photo Sudiyo
  • Avatar photo Afifah Dwiandini
  • Avatar photo Febby Fajrurrahman
  • Avatar photo Garin Purna Sanjaya
  • Avatar photo Marulam J Sembiring
  • Avatar photo Tri Indroyono
  • Avatar photo Letkol Chk Agustono, S.H., M.H.
  • Avatar photo Ardiansyah Iksaniyah Putra
  • Avatar photo Buang Yusuf
  • Avatar photo Henri Setiawan
  • Avatar photo Irene Cristna Silalahi
  • Avatar photo Marsudin Nainggolan
  • Avatar photo Maulana Aulia
  • Avatar photo Riki Perdana Raya Waruwu
  • Avatar photo Siti Nadhiroh
  • Avatar photo Dr. Syofyan Iskandar, S.H., M.H.
  • Avatar photo Muhamad Zaky Albana
  • Avatar photo Fauzan Prasetya
  • Avatar photo Irwan Rosady
  • Avatar photo Khoiriyah Roihan
  • Avatar photo Redaktur SuaraBSDK
  • Avatar photo Yasin Prasetia
  • Avatar photo Audrey Kartika Putri
  • Avatar photo Cok Istri Bhagawanthi Pemayun
  • Avatar photo Eddy Daulatta Sembiring
  • Avatar photo Fitriyel Hanif
  • Avatar photo Gerry Michael Purba
  • Avatar photo K.G. Raegen
  • Avatar photo Rafi Muhammad Ave
  • Avatar photo Rangga Lukita Desnata
  • Avatar photo Rikatama Budiyantie
  • Avatar photo Silveria Supanti
  • Avatar photo Sugiarto
  • Avatar photo Teguh Setiyawan
  • Avatar photo Achmad Fikri Oslami
  • Avatar photo Agenda Citra Muhammad
  • Avatar photo Ahmad Fuad Noor Ghufron
  • Avatar photo Achmad Nurul Huda
  • Avatar photo Andro Riski Pradipta
  • Avatar photo Anggi Permana
  • Avatar photo Ang Rijal Amin
  • Avatar photo Armansyah
  • Avatar photo David Pasaribu
  • Avatar photo Dedi Putra
  • Avatar photo Dewi Maharati
  • Avatar photo Edi Hudiata
  • Avatar photo Gerry Geovant Supranata Kaban
  • Avatar photo Herjuna Praba Wiesesa
  • Avatar photo Hermanto
  • Avatar photo Indarka PP
  • Avatar photo Muhamad Fadillah
  • Avatar photo Nugraha Medica Prakasa
  • Avatar photo Ria Marsella
  • Avatar photo Rizal Arif Fitria
  • Avatar photo Sadana
  • Avatar photo Sahram
  • Avatar photo Saut Erwin Hartono A. Munthe
  • Avatar photo Yusuf Sodhiqin
  • Avatar photo Achmad Pratomo
  • Avatar photo Dr. H. Achmad Setyo Pudjoharsoyo., SH., M.Hum
  • Avatar photo Ahmad Muzayyin Destuladoe
  • Avatar photo Ahmad Faiz Shobir Alfikri
  • Avatar photo Ahmad Farhan Subhi
  • Avatar photo Arie Fitriansyah
  • Avatar photo Bismo Jiwo Agung
  • Avatar photo Dharma Setiawan Negara
  • Avatar photo Epri Wahyudi
  • Avatar photo Fajar Widodo
  • Avatar photo Fariz Prasetyo Aji
  • Avatar photo Fauzan Arrasyid
  • Avatar photo Fauzia Rohmah
  • Avatar photo Febry Indra Gunawan Sitorus
  • Avatar photo Hartanto Ariesyandi
  • Avatar photo Mardi Candra
  • Avatar photo Muhammad Irfan Syahputra
  • Avatar photo Muhammad Amin Putra
  • Avatar photo Niko Wijaya
  • Avatar photo Putra Nova A.S
  • Avatar photo Raden Heru Wibowo Sukaten
  • Avatar photo Rahmad Ramadhan Hasibuan
  • Avatar photo Satria Perdana
  • Avatar photo Trisoko Sugeng Sulistyo
  • Avatar photo Umar Dani
  • Avatar photo Wahyu Budi Santoso
  • Avatar photo Wilmar Ibni Rusydan
  • Avatar photo Abdul Hadi
  • Avatar photo Abiandri Fikri Akbar
  • Avatar photo Abi Zaky Azizi
  • Avatar photo Adimas Leo Firmansah
  • Avatar photo Andi Akram
  • Avatar photo Anggiyansyah Nurmanta
  • Avatar photo Arsyawal
  • Avatar photo Ashhab Triono
  • Avatar photo Aulia Rochmani Lazuardi
  • Avatar photo Azalia Purbayanti Sabana
  • Avatar photo Bagus Sujatmiko
  • Avatar photo Bayu Akbar Wicaksono
  • Avatar photo Chandra Khoirunnas
  • Avatar photo Cuhandi
  • Avatar photo Daniel H. Napitupulu
  • Avatar photo Deka Rachman Budihanto
  • Avatar photo Dendi Sutiyoso
  • Avatar photo Dhea Sutaryana
  • Avatar photo Enrico Simanjuntak
  • Avatar photo Fadhilah Fauzan, S.H.
  • Avatar photo Fahri Gunawan Siagian
  • Avatar photo Fauziah Rahmah
  • Avatar photo Fery Rochmad Ramadhan
  • Avatar photo Ida Masnita Sigalingging
  • Avatar photo Idik Saeful Bahri
  • Avatar photo Imaniar
  • Avatar photo Karell Mawla Ibnu Kamali
  • Avatar photo Khalilurrahman
  • Avatar photo Khoirul Anwar
  • Avatar photo Mentari Wahyudihati
  • Avatar photo Misbah
  • Avatar photo Muhamad Ridwan
  • Avatar photo Muhammad Fadllullah
  • Avatar photo Muhamad Iqbal
  • Avatar photo Nia Chasanah
  • Avatar photo Novritsar Hasintongan Pakpahan
  • Avatar photo Nugraha Wisnu Wijaya
  • Avatar photo Pandu Pradana Wicaksono, S.H.
  • Avatar photo Raden Anggara Kurniawan
  • Avatar photo Rahimulhuda Rizki Alwi
  • Avatar photo Ranggi Adiwangsa Yusron
  • Avatar photo Rifda Aprilia Rusfayanti
  • Avatar photo Muhammad Rijaldy Alwy
  • Avatar photo Rohim
  • Avatar photo Romi Hardhika
  • Avatar photo Samsul Zakaria
  • Avatar photo Siti Anis
  • Avatar photo Sri Nurmina Sari
  • Avatar photo Stefanus Dwi Putra Medisa
  • Avatar photo Sugiri Wiryandono
  • Avatar photo Tri Cahya Indra Permana
  • Avatar photo Yudhi Reksa Perdana
  • Avatar photo Abdul Ghani
  • Avatar photo Ach. Jufri
  • Avatar photo Achmad Cholil
  • Avatar photo Adhlan Fadhilla Ahmad
  • Avatar photo Afif Muchshon
  • Avatar photo Agus Suharsono
  • Avatar photo Ahmad Efendi
  • Avatar photo Ahmad Hodri
  • Avatar photo Ahmad Rikfi Fuadi
  • Avatar photo Ahmad Rizza Habibi
  • Avatar photo Aidil Akbar
  • Avatar photo Alep Priyoambodo
  • Avatar photo Alfajar Nugraha
  • Avatar photo Ali Sobirin
  • Avatar photo Andi Amirah Humairah Ya'kub
  • Avatar photo Anang Riyan Ramadianto
  • Avatar photo Anderson Peruzzi Simanjuntak
  • Avatar photo Andhika Prayoga
  • Avatar photo Andi Muhammad Galib
  • Avatar photo Andi Aswandi Tashar
  • Avatar photo Andrie Gunawan
  • Avatar photo Anna Yulina
  • Avatar photo Annisa Nur Alam
  • Avatar photo Antok Wibowo
  • Avatar photo Arga Febrian
  • Avatar photo Ariansyah
  • Avatar photo Arief Sapto Nugroho
  • Avatar photo Mayor Chk Arif Dwi Prasetyo
  • Avatar photo Aryaniek Andayani
  • Avatar photo Asep Ridwan Hotoya
  • Avatar photo Bella Puspitawati
  • Avatar photo Bellina Gamelia Sembiring Kembaren
  • Avatar photo Billy Saut Mangoloi
  • Avatar photo Bilma Diffika
  • Avatar photo Bony Daniel
  • Avatar photo Budi Hermanto
  • Avatar photo Budi Suhariyanto
  • Avatar photo Chandra
  • Avatar photo Christopher Hutapea
  • Avatar photo Daniel Saputra
  • Avatar photo Danny Agus Setiyanto
  • Dedi Wigandi
  • Avatar photo Devita Aulia
  • Avatar photo Djoni Witanto
  • Avatar photo Effendi Mukhtar
  • Avatar photo Egia Rasido Tarigan
  • Avatar photo Eka Sentausa
  • Avatar photo Engli Thirta Satria
  • Avatar photo Enos Syahputra Sipahutar, S.H., M.H.
  • Avatar photo Dr. Fahmiron
  • Avatar photo Fahri Bachmid
  • Avatar photo Fahri Soleh
  • Avatar photo Fakhir Tashin Baaj
  • Avatar photo Farhan Al Faris
  • Avatar photo Fatkul Mujib, S.H.I., M.H.
  • Avatar photo Dr. Fauziati, S.Ag., M.Ag
  • Avatar photo Febriansyah Rozarius
  • Avatar photo Friska Ariesta Aritedi
  • Avatar photo Gineng Pratidina
  • Avatar photo Hanry Ichfan Adityo
  • Avatar photo Peltu Hartono
  • Avatar photo Hastuti
  • Avatar photo Hendro Yatmoko
  • Avatar photo Ibnu Abas Ali
  • Avatar photo Ichsan Muhammad
  • Avatar photo I Made Sukadana
  • Indra Tua Hasangapon Harahap
  • Avatar photo Intan Widiastuti
  • Avatar photo Ira Soniawati
  • Avatar photo Irfan Dibar
  • Avatar photo Muhammad Irfansyah
  • Avatar photo Letkol Kum Irwan Tasri, S.H., M.H., M.Han.
  • Avatar photo Iwan Lamganda Manalu
  • Avatar photo Jerymia Seky Tanaem
  • Avatar photo Jimmy Maruli Alfian
  • Avatar photo Jusran Ipandi
  • Avatar photo Kadek Dwi Krisna Ananda
  • Avatar photo Khaimi
  • Avatar photo Khoerul Umam
  • Avatar photo Linora Rohayu
  • Avatar photo Made Passek Reza Swandira
  • Avatar photo Marta Satria Putra
  • Avatar photo Marwan Ibrahim Piinga
  • Avatar photo Marwanto
  • Avatar photo Marzha Tweedo Dikky Paraanugrah
  • Avatar photo Maulia Martwenty Ine
  • Avatar photo Mira Maulidar
  • Avatar photo Misbahul Anwar
  • Avatar photo Muhamad Deni Saputra
  • Avatar photo Muhamad Ilham Azizul Haq
  • Avatar photo Muhamad Saptari
  • Avatar photo Muhammad Muhyi Arrasyid, S.Psi.
  • Avatar photo Muhammad Bagus Tri Prasetyo
  • Avatar photo Muhammad Yusuf
  • Avatar photo Murdian
  • Avatar photo Nadia Yurisa Adila
  • Avatar photo Nisrina Irbah Sati
  • Avatar photo Noak Mispa Sianturi
  • Avatar photo Noor Ichwan Ichlas Ria Adha
  • Avatar photo Novtri Nelli
  • Avatar photo Letkol CHK Nur Sakdi, S.H, M.H.
  • Avatar photo Nur Latifah Hanum
  • Avatar photo Piput Milandsari
  • Avatar photo Pita Permatasari
  • Avatar photo H .A.S Pudjoharsoyo
  • Avatar photo Putri Pebrianti
  • Avatar photo R. Deddy Harryanto
  • Avatar photo Radityo Muhammad Harseno
  • Avatar photo Rahmi Fattah
  • Avatar photo Randy Viyatadhika
  • Avatar photo Ratih Gumilang
  • Avatar photo Reindra Jasper H. Sinaga, S.H. Hakim Pengadilan Negeri Tanjung Balai Karimun
  • Avatar photo Reynold Mauliate Panggabean
Lihat semua kontributor →

Type above and press Enter to search. Press Esc to cancel.