Close Menu
Suara BSDKSuara BSDK
  • Beranda
  • Artikel
  • Berita
  • Features
  • Sosok
  • Filsafat
  • Roman
  • Satire
  • Video
  • Liputan Khusus

Subscribe to Updates

Get the latest creative news from FooBar about art, design and business.

What's Hot

Perkuat Kepastian Hukum, Ketua Pengadilan/Mahkamah Syar’iyah se-Aceh dan Panitera Ikuti Pelatihan Eksekusi Riil dan Problematika Penyelesaiannya

November 5, 2026

Merawat Etika Hakim di Ruang Sidang Anak

November 5, 2026

Pengadilan Negeri Sidoarjo Bersama Pemkab Sidoarjo dan KPK Perkuat Integritas serta Pencegahan Suap dan Gratifikasi

November 5, 2026
Instagram YouTube
Suara BSDKSuara BSDK
  • Beranda
  • Artikel
  • Berita
  • Features
  • Sosok
  • Filsafat
  • Roman
  • Satire
  • Video
  • Liputan Khusus
Suara BSDKSuara BSDK
  • Beranda
  • Artikel
  • Berita
  • Features
  • Sosok
  • Filsafat
  • Roman
  • Satire
  • Video
  • Liputan Khusus
Home » Menimbang Secara Kritis Gagasan Penghapusan Pengadilan Khusus dan Hakim Ad Hoc. “marah akan tikus, lumbung padi dibakar“

Menimbang Secara Kritis Gagasan Penghapusan Pengadilan Khusus dan Hakim Ad Hoc. “marah akan tikus, lumbung padi dibakar“

ArsyawalBy ArsyawalJanuary 17, 2026 · 13:00 WIB7 Mins ReadNo Comments
Share
Facebook Twitter Threads Telegram WhatsApp

Tulisan berjudul “Urgensi Penghapusan Pengadilan Khusus dan Hakim Ad Hoc di Bawah Mahkamah Agung” yang dimuat SuaraBSDK.com tanggal 15 Januari 2025 mencoba mengajukan tesis bahwa keberadaan pengadilan khusus dan hakim ad hoc justru melemahkan akses keadilan dan independensi peradilan. Namun, jika ditelaah secara lebih cermat, argumentasi yang dibangun menunjukkan pemahaman yang dangkal terhadap filosofi pembentukan pengadilan khusus, konstruksi ketatanegaraan kekuasaan kehakiman, serta realitas kompleksitas perkara modern.

Secara konseptual, pengadilan khusus tidak lahir dari kehendak politis sesaat, melainkan merupakan respons sistemik terhadap diferensiasi dan spesialisasi perkara. Tipologi perkara korupsi, perselisihan hubungan industrial, perpajakan, perikanan, niaga, dan HAM berat memiliki karakter teknis, pembuktian yang kompleks, serta rezim hukum khusus (lex specialis) yang tidak dapat disederhanakan sebagai “perkara perdata atau pidana biasa”. Mengembalikan seluruh beban tersebut kepada pengadilan umum dengan asumsi bahwa hakim karier dapat menangani semuanya secara setara adalah pendekatan formalis yang mengabaikan realitas yudisial.

Dalam teori organisasi peradilan modern, spesialisasi justru merupakan instrumen untuk meningkatkan kualitas putusan (quality of adjudication), konsistensi, dan efisiensi penanganan perkara. Negara-negara dengan sistem peradilan maju pun mengenal specialized courts atau specialized chambers dalam berbagai bidang. Dengan demikian, memosisikan pengadilan khusus sebagai anomali yang menggerus asas peradilan umum adalah kekeliruan metodologis.

Secara historis, keberadaan pengadilan khusus dan hakim ad hoc di Indonesia tidak dapat dilepaskan dari dinamika reformasi hukum pasca-1998 dan kebutuhan untuk merespons kompleksitas perkara yang tidak lagi dapat ditangani secara memadai oleh struktur peradilan umum konvensional. Akar konseptualnya bahkan telah muncul jauh sebelumnya, ketika hukum acara kolonial pun mengenal peradilan khusus untuk bidang-bidang tertentu (seperti Raad van Arbeid dan Landraad dengan kompetensi spesifik), yang menunjukkan bahwa spesialisasi peradilan bukanlah anomali dalam tradisi hukum Indonesia.

Dalam konteks negara hukum modern, pengadilan khusus memperoleh landasan konstitusional yang tegas setelah perubahan UUD 1945. Pasal 24 ayat (2) UUD 1945 secara eksplisit membuka ruang bagi pembentukan “badan peradilan yang berada di bawah Mahkamah Agung” termasuk pengadilan khusus yang diatur dengan undang-undang. Rumusan ini merupakan pengakuan konstitusional bahwa diferensiasi yurisdiksi dan spesialisasi keahlian merupakan bagian sah dari desain kekuasaan kehakiman, sepanjang tetap berada dalam satu atap kekuasaan yudisial (one roof system) di bawah Mahkamah Agung.

Pengadilan Tindak Pidana Korupsi, Pengadilan Hubungan Industrial, Pengadilan Pajak, Pengadilan Perikanan, Pengadilan Niaga, serta Pengadilan HAM merupakan produk dari kebutuhan historis yang berbeda-beda, tetapi memiliki satu benang merah: munculnya jenis sengketa atau kejahatan dengan kompleksitas teknis, dampak sosial-ekonomi yang luas, serta rezim hukum khusus yang menuntut kompetensi substantif di luar hukum acara umum. Pembentukan pengadilan-pengadilan tersebut selalu diawali oleh kritik terhadap ketidakmampuan peradilan umum menghasilkan putusan yang konsisten, cepat, dan berkualitas dalam bidang-bidang tersebut.

Dalam konteks inilah konsep hakim ad hoc memperoleh relevansinya. Secara historis, model hakim non-karier dengan keahlian khusus bukanlah hal baru dalam tradisi hukum komparatif. Sistem juri di negara common law, lay judges di Jerman, atau industrial judges di beberapa negara Skandinavia menunjukkan bahwa keterlibatan unsur non-karier dalam fungsi mengadili merupakan mekanisme untuk memperkaya perspektif dan meningkatkan kualitas penilaian terhadap fakta-fakta teknis dan sosiologis.

Baca Juga  Hakim Ad Hoc Phi Pilar Permanen Yang Mustahil Tergantikan Hakim Karier

Di Indonesia, hakim ad hoc pertama kali memperoleh posisi strategis dalam Pengadilan Tindak Pidana Korupsi pasca pembentukan Komisi Pemberantasan Korupsi. Pengalaman menunjukkan bahwa kejahatan korupsi bersifat sistemik, melibatkan rekayasa administratif, keuangan, dan kebijakan publik yang tidak selalu mudah dipahami melalui pendekatan hukum pidana klasik. Oleh karena itu, legislator merancang komposisi majelis yang menggabungkan hakim karier dengan hakim ad hoc yang memiliki latar belakang keahlian tertentu, guna menjamin kualitas analisis dan integritas putusan.

Model serupa kemudian diadopsi dalam Pengadilan Hubungan Industrial. Sengketa perburuhan modern tidak hanya menyangkut norma undang-undang, tetapi juga praktik hubungan industrial, perjanjian kerja bersama, struktur organisasi perusahaan, hingga dinamika pasar tenaga kerja. Sejarah pembentukan PHI menunjukkan bahwa sistem ini dirancang sebagai koreksi atas keterbatasan peradilan perdata umum yang cenderung terlalu formalistik dan kurang sensitif terhadap karakter khas hubungan kerja. Hakim ad hoc dihadirkan bukan sebagai representasi kepentingan, melainkan sebagai pembawa pengetahuan kontekstual yang diperlukan agar putusan tidak terlepas dari realitas industrial.

Pengangkatan hakim ad hoc sendiri bukanlah proses politik bebas nilai, melainkan diatur secara ketat melalui undang-undang. Mereka harus memenuhi persyaratan integritas, kompetensi, dan pengalaman, melalui seleksi yang melibatkan Mahkamah Agung dan lembaga negara terkait, serta diangkat dengan keputusan presiden. Dalam menjalankan fungsi yudisial, hakim ad hoc mengucapkan sumpah jabatan yang sama, tunduk pada Kode Etik dan Pedoman Perilaku Hakim, serta berada dalam rezim pengawasan Komisi Yudisial dan Mahkamah Agung. Secara yuridis, mereka bukan “hakim kelas dua”, melainkan bagian integral dari kekuasaan kehakiman.

Dengan memahami sejarah tersebut, menjadi jelas bahwa pengadilan khusus dan hakim ad hoc bukanlah produk eksperimental yang lahir tanpa dasar teoritik dan konstitusional. Keduanya merupakan hasil evolusi institusional sistem peradilan dalam merespons kompleksitas masyarakat modern. Oleh karena itu, wacana penghapusan yang tidak bertumpu pada pembacaan sejarah kelembagaan ini berisiko jatuh pada simplifikasi ahistoris: menilai struktur yang lahir dari kebutuhan nyata dengan kacamata formalisme abstrak.

Penolakan terhadap pengadilan khusus dan hakim ad hoc tanpa menimbang latar historis dan rasionalitas pembentukannya sama artinya dengan menafikan proses belajar institusional (institutional learning) yang telah berlangsung panjang dalam sistem peradilan Indonesia. Reformasi boleh dan bahkan perlu, tetapi menghapus fondasi yang dibangun melalui pengalaman sejarah justru berpotensi mengulangi kesalahan masa lalu yang melahirkan institusi-institusi tersebut.

Kritik terhadap hakim ad hoc yang dianggap rentan bias juga dibangun di atas asumsi yang tidak presisi. Hakim ad hoc bukanlah “wakil kepentingan”, melainkan hakim yang diangkat karena kompetensi substantifnya di bidang tertentu dan tunduk sepenuhnya pada kode etik, hukum acara, serta independensi yudisial yang sama dengan hakim karier. Dalam Pengadilan Hubungan Industrial, misalnya, kehadiran hakim ad hoc justru dimaksudkan untuk memastikan bahwa kompleksitas hubungan kerja, praktik industri, dan dinamika perundingan kolektif dipahami secara kontekstual, bukan sekadar normatif tekstual. Tentang bagaimana YM ketua Mahkamah Agung memandang keberadaan Hakim Adhoc ini mungkin penulis diatas perlu menyelami dan menghayati apa yang disampaikan beliau dalam moment Pembinaan Bidang Teknis dan Administrasi Yudisial, yang diselenggarakan Mahkamah Agung dan diikuti oleh lebih dari 470 Hakim Ad Hoc dari seluruh Indonesia pertengahan tahun lalu. https://marinews.mahkamahagung.go.id/artikel/terapi-konstitusional-di-titik-nadir-kepercayaan-publik-0rn

Menilai potensi keberpihakan hanya dari latar belakang profesi merupakan pendekatan reduksionis yang tidak sejalan dengan doktrin judicial impartiality, yang bertumpu pada integritas personal dan sistem pengawasan etik, bukan pada asal-usul sosial semata. Apabila logika ini diterima, maka setiap hakim dengan latar belakang jaksa, advokat, atau akademisi pun harus dicurigai membawa bias struktural.

Baca Juga  Indonesia Tidak Butuh Pengadilan Khusus dan Hakim Ad Hoc (Suatu Bantahan atas Bantahan)

Lebih jauh, argumentasi mengenai akses keadilan yang dikaitkan dengan keterbatasan jumlah pengadilan khusus juga tidak ditempatkan dalam kerangka proporsional. Akses tidak semata-mata diukur dari jarak geografis, melainkan dari kemampuan sistem menghasilkan putusan yang tepat, adil, dan dapat dipertanggungjawabkan. Putusan yang keliru karena ketidakpahaman terhadap substansi khusus justru merupakan bentuk ketidakadilan yang lebih serius dibanding hambatan administratif.

Gagasan bahwa penguatan sertifikasi hakim karier dapat menggantikan sepenuhnya peran hakim ad hoc pun bersifat simplistik. Pendidikan dan sertifikasi memang penting, tetapi tidak serta-merta menggantikan pengalaman praktis bertahun-tahun dalam bidang tertentu. Dunia perburuhan, perpajakan, atau kejahatan korupsi memiliki dimensi sosiologis dan teknokratis yang tidak selalu dapat direplikasi melalui pelatihan singkat. Disini penulis artikel tersebut diatas  mencoba menyandingkan dan menyetarakan pengalaman 10 – 15 tahun dalam tataran praktis dengan kapabilitas yang diperoleh dari pelatihan dalam hitungan bulan atau mungkin bahkan cuma minggu dan berasumsi seolah-olah akan menghasilkan suatu kualitas yang sama.

Di titik inilah tampak bahwa artikel tersebut lebih digerakkan oleh preferensi normatif tentang “keseragaman peradilan” ketimbang analisis yuridis-institusional yang mendalam. Alih-alih menawarkan peta jalan reformasi yang komprehensif, penulis justru melompat pada kesimpulan ekstrem: penghapusan pengadilan khusus dan hakim ad hoc. Pendekatan demikian berpotensi menyesatkan diskursus publik, karena mengabaikan rasionalitas konstitusional di balik pembentukan peradilan khusus sebagaimana diatur dalam Pasal 24 UUD 1945 dan berbagai undang-undang sektoral.

Reformasi peradilan tentu diperlukan, termasuk evaluasi terhadap efektivitas pengadilan khusus dan mekanisme rekrutmen hakim ad hoc. Namun, evaluasi tersebut harus berbasis data empiris, kajian perbandingan, serta analisis yuridis yang utuh, bukan sekadar kecurigaan normatif yang bersifat tendensius.

Dengan demikian, alih-alih menghapus, agenda yang lebih relevan adalah memperkuat: memperbaiki seleksi, meningkatkan kualitas etik, memperjelas kewenangan, dan menyempurnakan hukum acara. Penghapusan secara menyeluruh justru berisiko mereduksi kapasitas sistem peradilan dalam menghadapi kompleksitas hukum modern.

Singkatnya, wacana yang dibangun dalam artikel tersebut belum mencerminkan kedalaman analisis yang memadai untuk sebuah isu konstitusional strategis. Kritik terhadap pengadilan khusus dan hakim ad hoc sah untuk diajukan, tetapi harus dilakukan secara objektif, berbasis ilmu, dan bebas dari generalisasi yang menyederhanakan persoalan yang pada hakikatnya sangat kompleks. Disini pulalah perlunya kita memiliki kemampuan dan wawasan “helicopter view” dalam menelisih suatu persoalan yang. Jangan sampai terjadi ibarat kata pepatah, “marah akan tikus lumbung padi dibakar”. (Bumi Lancang Kuning-17012026)

Arsyawal
Kontributor
Arsyawal
Hakim Adhoc Pengadilan Hubungan Industrial pada Pengadilan Negeri Pekanbaru

Untuk Mendapatkan Berita Terbaru Suara BSDK, Follow Channel WhatsApp: SUARABSDKMARI

hakim ad hoc
Share. Facebook Twitter Threads Telegram WhatsApp Copy Link

Related Posts

Merawat Etika Hakim di Ruang Sidang Anak

November 5, 2026

Penggunaan Artificial Intelligence dalam Peradilan: Pelajaran dari Pedoman Internasional bagi Mahkamah Agung Indonesia

November 5, 2026

Cepat dan Cermat: Cara Mahkamah Agung Menyelesaikan Perkara

November 4, 2026
Leave A Reply Cancel Reply


Demo
Top Posts

Dari FGD hingga Semangkuk Mi Kuah, BSDK Tunjukkan Wajah Pendidikan Peradilan yang Humanis

October 28, 2026

Adu Domba: Bukan Sekedar Adu Kekuatan

October 23, 2026

Asap di Bumi Serambi Makkah: Jauh dari Titik Api, Dekat dengan Ujian Keadilan

October 20, 2026

Menata Sekretariat, Menjaga Nalar Peradilan

October 19, 2026
Don't Miss

Perkuat Kepastian Hukum, Ketua Pengadilan/Mahkamah Syar’iyah se-Aceh dan Panitera Ikuti Pelatihan Eksekusi Riil dan Problematika Penyelesaiannya

By Wafa'November 5, 20260

Seluruh peserta Pelatihan, baik dari Ketua Pengadilan/Mahkamah Syar’iyah se-Aceh dan Panitera mengikuti materi “Eksekusi Riil…

Merawat Etika Hakim di Ruang Sidang Anak

November 5, 2026

Pengadilan Negeri Sidoarjo Bersama Pemkab Sidoarjo dan KPK Perkuat Integritas serta Pencegahan Suap dan Gratifikasi

November 5, 2026

Penggunaan Artificial Intelligence dalam Peradilan: Pelajaran dari Pedoman Internasional bagi Mahkamah Agung Indonesia

November 5, 2026
Stay In Touch
  • YouTube
  • TikTok
  • WhatsApp
  • Twitter
  • Instagram
Top Trending
Demo

Recent Posts

  • Perkuat Kepastian Hukum, Ketua Pengadilan/Mahkamah Syar’iyah se-Aceh dan Panitera Ikuti Pelatihan Eksekusi Riil dan Problematika Penyelesaiannya
  • Merawat Etika Hakim di Ruang Sidang Anak
  • Pengadilan Negeri Sidoarjo Bersama Pemkab Sidoarjo dan KPK Perkuat Integritas serta Pencegahan Suap dan Gratifikasi
  • Penggunaan Artificial Intelligence dalam Peradilan: Pelajaran dari Pedoman Internasional bagi Mahkamah Agung Indonesia
  • Siapkan Generasi Hukum di Era AI, Pustrajak dan UIN Raden Intan Lampung Perkuat Sinergi

Recent Comments

  1. Dr. Sakwanah on Ketua MS Aceh Apresiasi Pelatihan BSDK, Harapkan Diklat Khusus Hukum Acara Jinayat
  2. Herman on Di Balik Mangrove, Ada Keadilan yang Harus Diperjuangkan
  3. Abdul Mustopa on MOVE!
  4. Rizka on Problematika Pelaksanaan Eksekusi Pembayaran Sejumlah Uang Terhadap Objek Jaminan Berupa Benda Bergerak
  5. Auzir on KUHAP Baru: Menanggalkan Jubah Interogator, Transformasi Menuju Sistem Adversarial
Hubungi Kami

Badan Strategi Kebijakan dan Pendidikan dan Pelatihan Hukum dan Peradilan Hukum dan Peradilan
Mahkamah Agung RI

Kantor: Jl. Cikopo Selatan Desa Sukamaju, Kec. Megamendung
Bogor, Jawa Barat 16770

Kirimkan reportase berita, opini, features dan artikel lainnya ke email suarabsdk.com : 
redpelsuarabsdk@gmail.com

Telepon: (0251) 8249520, 8249522, 8249531, 8249539

Kategori
Beranda Artikel Berita Features Sosok KRITERIA TULISAN
Filsafat Roman Satire Video BALACADAS
Connect With Us
  • Instagram
  • YouTube
  • WhatsApp
Aplikasi Internal
Logo 1 Logo 2 Logo 3 Logo 3 Logo 5
Logo 4 Logo 4 Logo 4 Logo 5 Logo 5 Logo 5
Kontributor
  • Avatar photo Ahmad Junaedi
  • Avatar photo Mohammad Khairul Muqorobin
  • Avatar photo Aman
  • Avatar photo Irvan Mawardi
  • Avatar photo Cecep Mustafa
  • Avatar photo Yudhistira Ary Prabowo
  • Avatar photo Khoiruddin Hasibuan
  • Avatar photo Ari Gunawan
  • Avatar photo Muamar Azmar Mahmud Farig
  • Avatar photo Syailendra Anantya Prawira
  • Avatar photo Ghesa Agnanto Hutomo
  • Avatar photo Johanes
  • Avatar photo Muhammad Rizqi Hengki
  • Avatar photo Agus Digdo Nugroho
  • Avatar photo Syamsul Arief
  • Avatar photo Timbul Bonardo Siahaan
  • Avatar photo Jatmiko Wirawan
  • Avatar photo Muhammad Adiguna Bimasakti
  • Avatar photo Dahlan Suherlan
  • Avatar photo Muhammad Zuchri Nasuha Lubis
  • Avatar photo Syihabuddin
  • Avatar photo Taufikurrahman
  • Avatar photo Cik Basir
  • Avatar photo Zulfahmi
  • Avatar photo Maria Fransiska Walintukan
  • Avatar photo M. Natsir Asnawi
  • Avatar photo Unggul Senoaji
  • Avatar photo Anton Ahmad Sogiri
  • Avatar photo Abdi Munawar Daeng Mangagang
  • Avatar photo Adji Prakoso
  • Avatar photo Bintoro Wisnu Prasojo
  • Avatar photo Yoshito Siburian
  • Avatar photo Bagus Partha Wijaya
  • Avatar photo Galang Adhe Sukma
  • Avatar photo Iqbal Lazuardi
  • Avatar photo Sriti Hesti Astiti
  • Avatar photo Ahmad Syahrus Sikti
  • Avatar photo Abdul Azis Ali Ramdlani
  • Avatar photo Harun Maulana
  • Avatar photo Layla Windy Puspita Sari
  • Avatar photo Muhammad Hanif Ramadhan
  • Avatar photo Anisa Yustikaningtiyas
  • Avatar photo Binsar Parlindungan Tampubolon
  • Avatar photo Ferdian Permadi
  • Avatar photo Ganjar Prima Anggara
  • Avatar photo I Gusti Lanang Ngurah Sidemen Putra
  • Avatar photo Eliyas Eko Setyo
  • Avatar photo Firzi Ramadhan
  • Avatar photo Itsnaatul Lathifah
  • Avatar photo Jarkasih
  • Avatar photo Sudiyo
  • Avatar photo Afifah Dwiandini
  • Avatar photo Buang Yusuf
  • Avatar photo Febby Fajrurrahman
  • Avatar photo Garin Purna Sanjaya
  • Avatar photo Marulam J Sembiring
  • Avatar photo Tri Indroyono
  • Avatar photo Letkol Chk Agustono, S.H., M.H.
  • Avatar photo Ardiansyah Iksaniyah Putra
  • Avatar photo Henri Setiawan
  • Avatar photo Irene Cristna Silalahi
  • Avatar photo Marsudin Nainggolan
  • Avatar photo Maulana Aulia
  • Avatar photo Riki Perdana Raya Waruwu
  • Avatar photo Siti Nadhiroh
  • Avatar photo Dr. Syofyan Iskandar, S.H., M.H.
  • Avatar photo Muhamad Zaky Albana
  • Avatar photo Fauzan Prasetya
  • Avatar photo Irwan Rosady
  • Avatar photo Khoiriyah Roihan
  • Avatar photo Redaktur SuaraBSDK
  • Avatar photo Yasin Prasetia
  • Avatar photo Audrey Kartika Putri
  • Avatar photo Cok Istri Bhagawanthi Pemayun
  • Avatar photo Eddy Daulatta Sembiring
  • Avatar photo Fitriyel Hanif
  • Avatar photo Gerry Michael Purba
  • Avatar photo K.G. Raegen
  • Avatar photo Rafi Muhammad Ave
  • Avatar photo Rangga Lukita Desnata
  • Avatar photo Rikatama Budiyantie
  • Avatar photo Silveria Supanti
  • Avatar photo Sugiarto
  • Avatar photo Teguh Setiyawan
  • Avatar photo Achmad Fikri Oslami
  • Avatar photo Agenda Citra Muhammad
  • Avatar photo Ahmad Fuad Noor Ghufron
  • Avatar photo Achmad Nurul Huda
  • Avatar photo Andro Riski Pradipta
  • Avatar photo Anggi Permana
  • Avatar photo Ang Rijal Amin
  • Avatar photo Armansyah
  • Avatar photo Azalia Purbayanti Sabana
  • Avatar photo David Pasaribu
  • Avatar photo Dedi Putra
  • Avatar photo Dewi Maharati
  • Avatar photo Edi Hudiata
  • Avatar photo Gerry Geovant Supranata Kaban
  • Avatar photo Herjuna Praba Wiesesa
  • Avatar photo Hermanto
  • Avatar photo Indarka PP
  • Avatar photo Muhamad Fadillah
  • Avatar photo Nugraha Medica Prakasa
  • Avatar photo Ria Marsella
  • Avatar photo Rizal Arif Fitria
  • Avatar photo Sadana
  • Avatar photo Sahram
  • Avatar photo Saut Erwin Hartono A. Munthe
  • Avatar photo Yusuf Sodhiqin
  • Avatar photo Achmad Pratomo
  • Avatar photo Dr. H. Achmad Setyo Pudjoharsoyo., SH., M.Hum
  • Avatar photo Ahmad Muzayyin Destuladoe
  • Avatar photo Ahmad Faiz Shobir Alfikri
  • Avatar photo Ahmad Farhan Subhi
  • Avatar photo Arie Fitriansyah
  • Avatar photo Arie Guntoro
  • Avatar photo Bismo Jiwo Agung
  • Avatar photo Dharma Setiawan Negara
  • Avatar photo Epri Wahyudi
  • Avatar photo Fajar Widodo
  • Avatar photo Fariz Prasetyo Aji
  • Avatar photo Fauzan Arrasyid
  • Avatar photo Fauzia Rohmah
  • Avatar photo Febry Indra Gunawan Sitorus
  • Avatar photo Hartanto Ariesyandi
  • Avatar photo Mardi Candra
  • Avatar photo Muhammad Irfan Syahputra
  • Avatar photo Muhammad Amin Putra
  • Avatar photo Niko Wijaya
  • Avatar photo Putra Nova A.S
  • Avatar photo Raden Heru Wibowo Sukaten
  • Avatar photo Rahmad Ramadhan Hasibuan
  • Avatar photo Satria Perdana
  • Avatar photo Trisoko Sugeng Sulistyo
  • Avatar photo Umar Dani
  • Avatar photo Wahyu Budi Santoso
  • Avatar photo Wilmar Ibni Rusydan
  • Avatar photo Abdul Hadi
  • Avatar photo Abiandri Fikri Akbar
  • Avatar photo Abi Zaky Azizi
  • Avatar photo Adimas Leo Firmansah
  • Avatar photo Agus Suharsono
  • Avatar photo Andi Akram
  • Avatar photo Anggiyansyah Nurmanta
  • Avatar photo Arsyawal
  • Avatar photo Ashhab Triono
  • Avatar photo Aulia Rochmani Lazuardi
  • Avatar photo Bagus Sujatmiko
  • Avatar photo Bayu Akbar Wicaksono
  • Avatar photo Chandra Khoirunnas
  • Avatar photo Cuhandi
  • Avatar photo Daniel H. Napitupulu
  • Avatar photo Deka Rachman Budihanto
  • Avatar photo Dendi Sutiyoso
  • Avatar photo Dhea Sutaryana
  • Avatar photo Enrico Simanjuntak
  • Avatar photo Fadhilah Fauzan, S.H.
  • Avatar photo Fahri Gunawan Siagian
  • Avatar photo Fauziah Rahmah
  • Avatar photo Fery Rochmad Ramadhan
  • Avatar photo Ida Masnita Sigalingging
  • Avatar photo Idik Saeful Bahri
  • Avatar photo Imaniar
  • Avatar photo Karell Mawla Ibnu Kamali
  • Avatar photo Khalilurrahman
  • Avatar photo Khoirul Anwar
  • Avatar photo Mentari Wahyudihati
  • Avatar photo Misbah
  • Avatar photo Muhamad Ridwan
  • Avatar photo Muhammad Fadllullah
  • Avatar photo Muhamad Iqbal
  • Avatar photo Nia Chasanah
  • Avatar photo Novritsar Hasintongan Pakpahan
  • Avatar photo Nugraha Wisnu Wijaya
  • Avatar photo Pandu Pradana Wicaksono, S.H.
  • Avatar photo Raden Anggara Kurniawan
  • Avatar photo Rahimulhuda Rizki Alwi
  • Avatar photo Ranggi Adiwangsa Yusron
  • Avatar photo Rifda Aprilia Rusfayanti
  • Avatar photo Muhammad Rijaldy Alwy
  • Avatar photo Rohim
  • Avatar photo Romi Hardhika
  • Avatar photo Samsul Zakaria
  • Avatar photo Siti Anis
  • Avatar photo Sri Nurmina Sari
  • Avatar photo Stefanus Dwi Putra Medisa
  • Avatar photo Sugiri Wiryandono
  • Avatar photo Tri Cahya Indra Permana
  • Avatar photo Yudhi Reksa Perdana
  • Avatar photo Abdul Ghani
  • Avatar photo Ach. Jufri
  • Avatar photo Achmad Cholil
  • Avatar photo Adhlan Fadhilla Ahmad
  • Avatar photo Afif Muchshon
  • Avatar photo Ahmad Efendi
  • Avatar photo Ahmad Hodri
  • Avatar photo Ahmad Rikfi Fuadi
  • Avatar photo Ahmad Rizza Habibi
  • Avatar photo Aidil Akbar
  • Avatar photo Alep Priyoambodo
  • Avatar photo Alfajar Nugraha
  • Avatar photo Ali Sobirin
  • Avatar photo Andi Amirah Humairah Ya'kub
  • Avatar photo Anang Riyan Ramadianto
  • Avatar photo Anderson Peruzzi Simanjuntak
  • Avatar photo Andhika Prayoga
  • Avatar photo Andi Muhammad Galib
  • Avatar photo Andi Aswandi Tashar
  • Avatar photo Andrie Gunawan
  • Avatar photo Anna Yulina
  • Avatar photo Annisa Nur Alam
  • Avatar photo Antok Wibowo
  • Avatar photo Arga Febrian
  • Avatar photo Ariansyah
  • Avatar photo Arief Sapto Nugroho
  • Avatar photo Mayor Chk Arif Dwi Prasetyo
  • Avatar photo Aryaniek Andayani
  • Avatar photo Asep Ridwan Hotoya
  • Avatar photo Bella Puspitawati
  • Avatar photo Bellina Gamelia Sembiring Kembaren
  • Avatar photo Billy Saut Mangoloi
  • Avatar photo Bilma Diffika
  • Avatar photo Bony Daniel
  • Avatar photo Budi Hermanto
  • Avatar photo Budi Suhariyanto
  • Avatar photo Chandra
  • Avatar photo Christopher Hutapea
  • Avatar photo Daniel Saputra
  • Avatar photo Danny Agus Setiyanto
  • Dedi Wigandi
  • Avatar photo Devita Aulia
  • Avatar photo Djoni Witanto
  • Avatar photo Effendi Mukhtar
  • Avatar photo Egia Rasido Tarigan
  • Avatar photo Eka Sentausa
  • Avatar photo Engli Thirta Satria
  • Avatar photo Enos Syahputra Sipahutar, S.H., M.H.
  • Avatar photo Dr. Fahmiron
  • Avatar photo Fahri Bachmid
  • Avatar photo Fahri Soleh
  • Avatar photo Fakhir Tashin Baaj
  • Avatar photo Farhan Al Faris
  • Avatar photo Fatkul Mujib, S.H.I., M.H.
  • Avatar photo Dr. Fauziati, S.Ag., M.Ag
  • Avatar photo Febriansyah Rozarius
  • Avatar photo Friska Ariesta Aritedi
  • Avatar photo Gineng Pratidina
  • Avatar photo Hanry Ichfan Adityo
  • Avatar photo Peltu Hartono
  • Avatar photo Hastuti
  • Avatar photo Hendro Yatmoko
  • Humas Pengadilan Negeri Sidoarjo
  • Avatar photo Ibnu Abas Ali
  • Avatar photo Ichsan Muhammad
  • Avatar photo I Made Sukadana
  • Indra Tua Hasangapon Harahap
  • Avatar photo Intan Widiastuti
  • Avatar photo Ira Soniawati
  • Avatar photo Irfan Dibar
  • Avatar photo Muhammad Irfansyah
  • Avatar photo Letkol Kum Irwan Tasri, S.H., M.H., M.Han.
  • Avatar photo Iwan Lamganda Manalu
  • Avatar photo Jerymia Seky Tanaem
  • Avatar photo Jimmy Maruli Alfian
  • Avatar photo Jusran Ipandi
  • Avatar photo Kadek Dwi Krisna Ananda
  • Avatar photo Khaimi
  • Avatar photo Khoerul Umam
  • Avatar photo Linora Rohayu
  • Avatar photo Made Passek Reza Swandira
  • Avatar photo Marta Satria Putra
  • Avatar photo Marwan Ibrahim Piinga
  • Avatar photo Marwanto
  • Avatar photo Marzha Tweedo Dikky Paraanugrah
  • Avatar photo Maulia Martwenty Ine
  • Avatar photo Mira Maulidar
  • Avatar photo Misbahul Anwar
  • Avatar photo Muhamad Deni Saputra
  • Avatar photo Muhamad Ainun Najib
  • Avatar photo Muhamad Ilham Azizul Haq
  • Avatar photo Muhamad Saptari
  • Avatar photo Muhammad Muhyi Arrasyid, S.Psi.
  • Avatar photo Muhammad Bagus Tri Prasetyo
  • Avatar photo Muhammad Yusuf
  • Avatar photo Murdian
  • Avatar photo Nadia Yurisa Adila
  • Avatar photo Nisrina Irbah Sati
  • Avatar photo Noak Mispa Sianturi
  • Avatar photo Noor Ichwan Ichlas Ria Adha
  • Avatar photo Novtri Nelli
  • Avatar photo Letkol CHK Nur Sakdi, S.H, M.H.
  • Avatar photo Nur Latifah Hanum
  • Avatar photo Piput Milandsari
  • Avatar photo Pita Permatasari
  • Avatar photo H .A.S Pudjoharsoyo
  • Avatar photo Putri Pebrianti
  • Avatar photo R. Deddy Harryanto
  • Avatar photo Radityo Muhammad Harseno
  • Avatar photo Rahmi Fattah
  • Avatar photo Randy Viyatadhika
Lihat semua kontributor →

Type above and press Enter to search. Press Esc to cancel.