Close Menu
Suara BSDKSuara BSDK
  • Beranda
  • Artikel
  • Berita
  • Features
  • Sosok
  • Filsafat
  • Roman
  • Satire
  • Video
  • Liputan Khusus

Subscribe to Updates

Get the latest creative news from FooBar about art, design and business.

What's Hot

Selaraskah Aspek Hukum Dispensasi Kawin di Indonesia dengan Hukum Internasional?

October 7, 2026

Dispensasi Kawin Sebagai Ultimum Remedium: Wewenang Dan Paradigma Hakim Peradilan Agama

October 7, 2026

Praperadilan dan Batas Kekuasaan

October 7, 2026
Instagram YouTube
Suara BSDKSuara BSDK
Deskripsi Gambar
  • Beranda
  • Artikel
  • Berita
  • Features
  • Sosok
  • Filsafat
  • Roman
  • Satire
  • Video
  • Liputan Khusus
Suara BSDKSuara BSDK
Deskripsi Gambar
  • Beranda
  • Artikel
  • Berita
  • Features
  • Sosok
  • Filsafat
  • Roman
  • Satire
  • Video
  • Liputan Khusus
Home » Omong Kosong Reformasi Birokrasi dan Warisan Budaya Organisasi Orde Lama

Omong Kosong Reformasi Birokrasi dan Warisan Budaya Organisasi Orde Lama

Muhammad Adiguna BimasaktiBy Muhammad Adiguna BimasaktiDecember 20, 2025 · 09:19 WIB7 Mins ReadNo Comments
Share
Facebook Twitter Threads Telegram WhatsApp

Reformasi birokrasi sejak era pasca-Orde Baru kerap dipromosikan sebagai agenda besar untuk menciptakan tata kelola pemerintahan yang profesional, rasional, dan berorientasi pada pelayanan publik. Namun dalam praktiknya, reformasi tersebut sering berhenti pada perubahan administratif dan simbolik, tanpa menyentuh akar persoalan budaya organisasi yang telah mengendap puluhan tahun. Birokrasi Indonesia masih dibayangi pola pikir hierarkis, feodal, dan pseudo-militeristik yang diwariskan dari rezim lama. Fenomena ini memunculkan paradoks antara narasi reformasi yang progresif dengan realitas organisasi yang stagnan. Alih-alih membangun meritokrasi, birokrasi justru mempertahankan logika pangkat, simbol, dan kepatuhan struktural yang berlebihan. Kondisi ini memunculkan pertanyaan mendasar: apakah reformasi birokrasi benar-benar diarahkan pada transformasi nilai, atau sekadar retorika politik untuk menjustifikasi keberlanjutan sistem lama dalam kemasan baru.

Salah satu indikator kuat warisan Orde Lama dalam birokrasi adalah obsesi terhadap pangkat dan simbol jabatan. Dalam banyak institusi sipil, pangkat masih diperlakukan sebagai ukuran legitimasi kepemimpinan, meskipun secara fungsional tidak selalu relevan. Logika ini mencerminkan mentalitas militeristik yang menempatkan hierarki formal di atas kapasitas substantif. Padahal, dalam organisasi sipil modern, kepemimpinan seharusnya ditentukan oleh kompetensi, pengalaman profesional, dan integritas, bukan semata-mata jenjang kepangkatan. Ketika birokrasi sipil mengadopsi pola militer tanpa konteks, maka yang lahir bukan disiplin profesional, melainkan ketaatan semu yang menghambat inovasi. Hal ini memperlihatkan bahwa reformasi birokrasi belum berhasil melepaskan diri dari bayang-bayang budaya komando yang mengekang rasionalitas administratif.

Perbandingan antara lembaga peradilan dan institusi penegakan hukum lain memperlihatkan kontras yang signifikan dalam pembinaan sumber daya manusia. Di satu sisi, terdapat model yang menekankan masa jabatan, pengalaman yudisial, dan rekam jejak profesional sebagai dasar kepemimpinan. Di sisi lain, masih banyak institusi yang meniru struktur militer secara simbolik, mulai dari seragam hingga tanda pangkat. Peniruan ini tidak selalu berbanding lurus dengan peningkatan profesionalisme. Justru, simbol-simbol tersebut sering menjadi alat legitimasi kekuasaan internal yang tidak akuntabel. Budaya organisasi semacam ini menunjukkan kegagalan reformasi birokrasi dalam membedakan karakter lembaga sipil dan militer. Akibatnya, birokrasi kehilangan identitas sipilnya dan terjebak dalam ritual organisasi yang lebih mementingkan penampilan ketimbang substansi kinerja.

Penggunaan seragam dan atribut pangkat dalam birokrasi sipil patut dikritisi secara serius. Di banyak negara demokrasi, aparatur sipil negara tidak dibebani simbol-simbol hierarki visual yang kaku. Mereka bekerja sebagai profesional dengan identitas fungsional, bukan sebagai anggota korps bersenjata. Sebaliknya, di Indonesia, seragam justru menjadi alat homogenisasi dan kontrol sosial. Aparatur didorong untuk “tampak patuh” alih-alih berpikir kritis. Kondisi ini memperkuat budaya senioritas dan menumpulkan keberanian moral. Reformasi birokrasi yang sejati seharusnya membebaskan aparatur dari simbol-simbol yang mengekang kebebasan berpikir. Selama seragam dan pangkat masih dijadikan instrumen kekuasaan psikologis, maka birokrasi akan terus mereproduksi budaya Orde Lama dalam wajah yang tampak modern.

Baca Juga  Plea Bargain dan Pengakuan terhadap Dakwaan dalam KUHAP 2025: Kunci Prosedural, Bukan Bukti Kesalahan Substantif

Budaya hierarkis dalam birokrasi juga tercermin dalam relasi komunikasi internal. Prosedur perizinan yang berlapis, rasa canggung dalam berinteraksi lintas jabatan, serta ketakutan berpendapat di hadapan atasan menunjukkan kuatnya mentalitas feodal. Dalam lingkungan akademik maupun birokrasi, komunikasi sering kali lebih didasarkan pada posisi struktural daripada kualitas argumen. Hal ini berlawanan dengan prinsip organisasi modern yang menekankan dialog rasional dan pertukaran gagasan. Reformasi birokrasi seharusnya menciptakan ruang deliberatif yang sehat, bukan mempertebal jarak sosial antarjabatan. Ketika setiap komunikasi harus “mohon izin” secara berlebihan, maka birokrasi berubah menjadi mesin kepatuhan, bukan institusi pelayanan publik yang adaptif dan responsif.

Fenomena militerisasi simbolik birokrasi tidak dapat dilepaskan dari sejarah panjang kekuasaan Orde Baru. Selama lebih dari tiga dekade, negara dikelola dengan pendekatan keamanan yang menempatkan militer sebagai aktor sentral. Warisan ini tidak serta-merta hilang pascareformasi. Ia menjelma dalam cara berpikir aparatur, desain organisasi, dan simbol-simbol institusional. Reformasi birokrasi yang tidak disertai dekonstruksi sejarah kekuasaan hanya akan melanggengkan pola lama. Oleh karena itu, kritik terhadap reformasi birokrasi harus diarahkan pada dimensi kultural, bukan sekadar struktural. Tanpa keberanian untuk memutus mata rantai budaya Orde Lama, birokrasi akan terus mengulang praktik-praktik usang dalam bingkai regulasi baru.

Aspek lain yang menunjukkan kegagalan reformasi birokrasi adalah penempatan pejabat strategis yang tidak selalu berbasis merit. Meskipun secara normatif sistem merit telah diadopsi, dalam praktiknya pertimbangan non-profesional masih dominan. Penempatan sering kali dipengaruhi oleh kedekatan struktural, senioritas formal, atau simbol prestise jabatan. Padahal, jabatan strategis membutuhkan figur dengan kapasitas pengendalian, visi institusional, dan keberanian etik. Ketika jabatan diperlakukan sebagai simbol status, bukan amanah profesional, maka birokrasi kehilangan daya korektifnya. Reformasi birokrasi yang gagal mengoreksi pola ini hanya akan menghasilkan elit administratif yang menjaga status quo, bukan agen perubahan.

Perbandingan dengan praktik birokrasi di negara lain memperkuat kritik terhadap kondisi Indonesia. Di banyak negara, aparatur sipil bekerja tanpa seragam khusus dan tanpa atribut pangkat yang mencolok. Identitas profesional dibangun melalui keahlian, bukan simbol. Penegak hukum pun diposisikan sebagai profesional hukum, bukan bagian dari struktur komando. Perbedaan ini menunjukkan bahwa profesionalisme tidak lahir dari atribut visual, melainkan dari sistem akuntabilitas dan budaya organisasi. Ketika Indonesia tetap mempertahankan simbol-simbol Orde Lama, reformasi birokrasi kehilangan relevansi globalnya. Birokrasi menjadi terisolasi dalam logika internal yang tidak kompatibel dengan praktik pemerintahan modern.

Keberadaan organisasi korps dalam birokrasi sipil juga layak dipersoalkan. Ketika aparatur negara diwajibkan mengenakan atribut organisasi tertentu, batas antara negara dan masyarakat menjadi kabur. Negara seharusnya bersifat netral dan inklusif, bukan terikat pada identitas korporatif yang menyerupai organisasi kemasyarakatan. Fenomena ini memperlihatkan inkonsistensi dalam memahami konsep aparatur sipil negara. Reformasi birokrasi yang tidak mengoreksi anomali ini justru memperkuat kebingungan institusional. Aparatur tidak lagi diposisikan sebagai pelayan publik, melainkan sebagai anggota korps yang loyal pada simbol, bukan pada nilai konstitusional.

Baca Juga  Manusia Lahir dari Cinta, Hidup dengan Cinta, Matipun karena Cinta

Militerisasi budaya birokrasi juga berdampak pada pola kepemimpinan. Kepemimpinan sering dipahami sebagai kemampuan memberi perintah, bukan mengelola pengetahuan dan sumber daya manusia. Model ini efektif dalam situasi darurat, tetapi tidak relevan untuk administrasi publik yang kompleks. Akibatnya, birokrasi menjadi kaku dan lamban merespons perubahan. Reformasi birokrasi yang gagal mentransformasi paradigma kepemimpinan hanya akan menghasilkan pimpinan administratif yang otoriter secara simbolik namun lemah secara substantif. Kondisi ini semakin menjauhkan birokrasi dari prinsip good governance.

Budaya organisasi Orde Lama juga tercermin dalam cara birokrasi memandang kritik. Kritik sering dianggap sebagai pembangkangan, bukan sebagai masukan konstruktif. Pola ini memperlihatkan ketidakdewasaan institusional dan ketakutan terhadap perubahan. Reformasi birokrasi seharusnya menciptakan iklim organisasi yang toleran terhadap perbedaan pendapat. Tanpa itu, inovasi akan mati sebelum berkembang. Ketika aparatur lebih sibuk menjaga citra hierarki daripada memperbaiki kinerja, reformasi birokrasi kehilangan makna substantifnya.

Retorika reformasi birokrasi sering kali menekankan efisiensi dan transparansi, tetapi mengabaikan aspek emansipasi aparatur. Aparatur yang terbelenggu budaya feodal sulit diharapkan menjadi agen perubahan. Oleh karena itu, reformasi birokrasi harus dimulai dari pembongkaran relasi kuasa internal. Tanpa perubahan relasi ini, regulasi reformasi hanya menjadi dokumen administratif. Budaya organisasi yang sehat membutuhkan kesetaraan profesional, bukan kesetiaan simbolik.

Dalam konteks ini, reformasi birokrasi dapat disebut sebagai “omong kosong” apabila tidak menyentuh dimensi kultural. Istilah ini bukan sekadar provokasi, melainkan kritik terhadap ketimpangan antara narasi dan praktik. Reformasi yang sejati menuntut keberanian politik dan intelektual untuk mengakui kegagalan masa lalu. Tanpa refleksi kritis, birokrasi akan terus terjebak dalam romantisme stabilitas Orde Lama yang semu.

Membangun birokrasi modern memerlukan pemutusan simbolik dan praktis dari warisan Orde Lama. Hal ini mencakup penghapusan simbol-simbol militeristik, restrukturisasi sistem kepemimpinan, serta pembentukan budaya dialogis. Reformasi birokrasi harus dipahami sebagai proyek peradaban, bukan sekadar agenda administratif. Tanpa visi ini, birokrasi akan terus memproduksi kepatuhan tanpa kecerdasan.

Kesimpulannya, reformasi birokrasi di Indonesia masih menghadapi hambatan kultural yang serius. Warisan budaya organisasi Orde Lama tetap hidup dalam bentuk hierarki simbolik, militerisasi sipil, dan relasi feodal. Selama reformasi hanya menyentuh permukaan, birokrasi akan terus terjebak dalam kontradiksi antara slogan dan realitas. Oleh karena itu, diperlukan reformasi yang berani, kritis, dan berorientasi pada transformasi nilai. Tanpa itu, reformasi birokrasi akan tetap menjadi omong kosong dalam sejarah administrasi publik Indonesia.

Muhammad Adiguna Bimasakti
Kontributor
Muhammad Adiguna Bimasakti
Hakim Pengadilan Tata Usaha Negara Mataram

Untuk Mendapatkan Berita Terbaru Suara BSDK, Follow Channel WhatsApp: SUARABSDKMARI

artikel birokrasi budaya reformasi
Share. Facebook Twitter Threads Telegram WhatsApp Copy Link

Related Posts

Selaraskah Aspek Hukum Dispensasi Kawin di Indonesia dengan Hukum Internasional?

October 7, 2026

Praperadilan dan Batas Kekuasaan

October 7, 2026

Dispensasi Kawin Sebagai Ultimum Remedium: Wewenang Dan Paradigma Hakim Peradilan Agama

October 7, 2026
Leave A Reply Cancel Reply


Demo
Top Posts

Di mana Kesaktian Pancasila Diuji?

October 1, 2026

Senja di Losari dengan Secangkir Saraba dan Sepiring Pisang Epe

September 16, 2026

Siasat Tiada Henti Penjaga Keadilan

September 13, 20261,526 Views

Titah Leviathan

September 11, 2026
Don't Miss

Selaraskah Aspek Hukum Dispensasi Kawin di Indonesia dengan Hukum Internasional?

By Abdul Azis Ali RamdlaniOctober 7, 20260

Diklat Teknis Yudisial Dispensasi Kawin hingga hari ketiga ini, Rabu, 7 Oktober 2026, masih berlangsung…

Dispensasi Kawin Sebagai Ultimum Remedium: Wewenang Dan Paradigma Hakim Peradilan Agama

October 7, 2026

Praperadilan dan Batas Kekuasaan

October 7, 2026

Dispensasi Kawin Sebagai Ultimum Remedium: Wewenang Dan Paradigma Hakim Peradilan Agama

October 7, 2026
Stay In Touch
  • YouTube
  • TikTok
  • WhatsApp
  • Twitter
  • Instagram
Top Trending
Demo

Recent Posts

  • Selaraskah Aspek Hukum Dispensasi Kawin di Indonesia dengan Hukum Internasional?
  • Dispensasi Kawin Sebagai Ultimum Remedium: Wewenang Dan Paradigma Hakim Peradilan Agama
  • Praperadilan dan Batas Kekuasaan
  • Dispensasi Kawin Sebagai Ultimum Remedium: Wewenang Dan Paradigma Hakim Peradilan Agama
  • Dari Akses, Eksekusi hingga HAM

Recent Comments

  1. indarka pp on Siasat Tiada Henti Penjaga Keadilan
  2. Anton Yikwa on Penganugerahan Lomba Layanan Pengadilan Tahun 2026: Membangun Budaya Kinerja dan Pelayanan Prima di Lingkungan Peradilan Militer dan Tata Usaha Negara
  3. Syihabuddin on Sebuah Ulasan atas Film ‘Ghost In The Cell’
  4. Tomas on Sebuah Ulasan atas Film ‘Ghost In The Cell’
  5. Nancy on “Spionase Bayangan” Mengupas dibalik Profiling Integritas dan Mystery Shopper Mahkamah Agung
Hubungi Kami

Badan Strategi Kebijakan dan Pendidikan dan Pelatihan Hukum dan Peradilan Hukum dan Peradilan
Mahkamah Agung RI

Kantor: Jl. Cikopo Selatan Desa Sukamaju, Kec. Megamendung
Bogor, Jawa Barat 16770

Kirimkan reportase berita, opini, features dan artikel lainnya ke email suarabsdk.com : 
redpelsuarabsdk@gmail.com

Telepon: (0251) 8249520, 8249522, 8249531, 8249539

Kategori
Beranda Artikel Berita Features Sosok KRITERIA TULISAN
Filsafat Roman Satire Video BALACADAS
Connect With Us
  • Instagram
  • YouTube
  • WhatsApp
Aplikasi Internal
Logo 1 Logo 2 Logo 3 Logo 3 Logo 5
Logo 4 Logo 4 Logo 4 Logo 5 Logo 5 Logo 5
Kontributor
  • Avatar photo Ahmad Junaedi
  • Avatar photo Mohammad Khairul Muqorobin
  • Avatar photo Aman
  • Avatar photo Irvan Mawardi
  • Avatar photo Cecep Mustafa
  • Avatar photo Khoiruddin Hasibuan
  • Avatar photo Ari Gunawan
  • Avatar photo Yudhistira Ary Prabowo
  • Avatar photo Muamar Azmar Mahmud Farig
  • Avatar photo Ghesa Agnanto Hutomo
  • Avatar photo Syailendra Anantya Prawira
  • Avatar photo Muhammad Rizqi Hengki
  • Avatar photo Agus Digdo Nugroho
  • Avatar photo Syamsul Arief
  • Avatar photo Timbul Bonardo Siahaan
  • Avatar photo Dahlan Suherlan
  • Avatar photo Johanes
  • Avatar photo Muhammad Adiguna Bimasakti
  • Avatar photo Jatmiko Wirawan
  • Avatar photo Cik Basir
  • Avatar photo Syihabuddin
  • Avatar photo Taufikurrahman
  • Avatar photo Zulfahmi
  • Avatar photo Maria Fransiska Walintukan
  • Avatar photo Unggul Senoaji
  • Avatar photo Anton Ahmad Sogiri
  • Avatar photo M. Natsir Asnawi
  • Avatar photo Yoshito Siburian
  • Avatar photo Abdi Munawar Daeng Mangagang
  • Avatar photo Adji Prakoso
  • Avatar photo Sriti Hesti Astiti
  • Avatar photo Iqbal Lazuardi
  • Avatar photo Galang Adhe Sukma
  • Avatar photo Harun Maulana
  • Avatar photo Layla Windy Puspita Sari
  • Avatar photo Muhammad Hanif Ramadhan
  • Avatar photo Ahmad Syahrus Sikti
  • Avatar photo Anisa Yustikaningtiyas
  • Avatar photo I Gusti Lanang Ngurah Sidemen Putra
  • Avatar photo Abdul Azis Ali Ramdlani
  • Avatar photo Binsar Parlindungan Tampubolon
  • Avatar photo Bintoro Wisnu Prasojo
  • Avatar photo Eliyas Eko Setyo
  • Avatar photo Firzi Ramadhan
  • Avatar photo Ganjar Prima Anggara
  • Avatar photo Jarkasih
  • Avatar photo Sudiyo
  • Avatar photo Febby Fajrurrahman
  • Avatar photo Garin Purna Sanjaya
  • Avatar photo Itsnaatul Lathifah
  • Avatar photo Marulam J Sembiring
  • Avatar photo Tri Indroyono
  • Avatar photo Letkol Chk Agustono, S.H., M.H.
  • Avatar photo Ardiansyah Iksaniyah Putra
  • Avatar photo Buang Yusuf
  • Avatar photo Ferdian Permadi
  • Avatar photo Irene Cristna Silalahi
  • Avatar photo Marsudin Nainggolan
  • Avatar photo Maulana Aulia
  • Avatar photo Riki Perdana Raya Waruwu
  • Avatar photo Siti Nadhiroh
  • Avatar photo Dr. Syofyan Iskandar, S.H., M.H.
  • Avatar photo Muhamad Zaky Albana
  • Avatar photo Afifah Dwiandini
  • Avatar photo Henri Setiawan
  • Avatar photo Khoiriyah Roihan
  • Avatar photo Redaktur SuaraBSDK
  • Avatar photo Yasin Prasetia
  • Avatar photo Audrey Kartika Putri
  • Avatar photo Eddy Daulatta Sembiring
  • Avatar photo Fauzan Prasetya
  • Avatar photo Fitriyel Hanif
  • Avatar photo Gerry Michael Purba
  • Avatar photo Irwan Rosady
  • Avatar photo K.G. Raegen
  • Avatar photo Rafi Muhammad Ave
  • Avatar photo Rangga Lukita Desnata
  • Avatar photo Rikatama Budiyantie
  • Avatar photo Sugiarto
  • Avatar photo Teguh Setiyawan
  • Avatar photo Achmad Fikri Oslami
  • Avatar photo Ahmad Fuad Noor Ghufron
  • Avatar photo Achmad Nurul Huda
  • Avatar photo Andro Riski Pradipta
  • Avatar photo Anggi Permana
  • Avatar photo Ang Rijal Amin
  • Avatar photo Armansyah
  • Avatar photo Cok Istri Bhagawanthi Pemayun
  • Avatar photo Dedi Putra
  • Avatar photo Dewi Maharati
  • Avatar photo Gerry Geovant Supranata Kaban
  • Avatar photo Herjuna Praba Wiesesa
  • Avatar photo Hermanto
  • Avatar photo Indarka PP
  • Avatar photo Muhamad Fadillah
  • Avatar photo Muhammad Zuchri Nasuha Lubis
  • Avatar photo Nugraha Medica Prakasa
  • Avatar photo Ria Marsella
  • Avatar photo Sadana
  • Avatar photo Sahram
  • Avatar photo Saut Erwin Hartono A. Munthe
  • Avatar photo Silveria Supanti
  • Avatar photo Yusuf Sodhiqin
  • Avatar photo Achmad Pratomo
  • Avatar photo Agenda Citra Muhammad
  • Avatar photo Ahmad Faiz Shobir Alfikri
  • Avatar photo Arie Fitriansyah
  • Avatar photo Bismo Jiwo Agung
  • Avatar photo David Pasaribu
  • Avatar photo Epri Wahyudi
  • Avatar photo Fajar Widodo
  • Avatar photo Fariz Prasetyo Aji
  • Avatar photo Fauzan Arrasyid
  • Avatar photo Fauzia Rohmah
  • Avatar photo Febry Indra Gunawan Sitorus
  • Avatar photo Mardi Candra
  • Avatar photo Muhammad Irfan Syahputra
  • Avatar photo Muhammad Amin Putra
  • Avatar photo Niko Wijaya
  • Avatar photo Putra Nova A.S
  • Avatar photo Raden Heru Wibowo Sukaten
  • Avatar photo Rizal Arif Fitria
  • Avatar photo Trisoko Sugeng Sulistyo
  • Avatar photo Umar Dani
  • Avatar photo Wahyu Budi Santoso
  • Avatar photo Abdul Hadi
  • Avatar photo Abiandri Fikri Akbar
  • Avatar photo Abi Zaky Azizi
  • Avatar photo Dr. H. Achmad Setyo Pudjoharsoyo., SH., M.Hum
  • Avatar photo Adimas Leo Firmansah
  • Avatar photo Ahmad Farhan Subhi
  • Avatar photo Andi Akram
  • Avatar photo Arsyawal
  • Avatar photo Ashhab Triono
  • Avatar photo Aulia Rochmani Lazuardi
  • Avatar photo Bagus Partha Wijaya
  • Avatar photo Bagus Sujatmiko
  • Avatar photo Bayu Akbar Wicaksono
  • Avatar photo Chandra Khoirunnas
  • Avatar photo Cuhandi
  • Avatar photo Deka Rachman Budihanto
  • Avatar photo Dendi Sutiyoso
  • Avatar photo Dharma Setiawan Negara
  • Avatar photo Dhea Sutaryana
  • Avatar photo Edi Hudiata
  • Avatar photo Enrico Simanjuntak
  • Avatar photo Fauziah Rahmah
  • Avatar photo Fery Rochmad Ramadhan
  • Avatar photo Hartanto Ariesyandi
  • Avatar photo Idik Saeful Bahri
  • Avatar photo Karell Mawla Ibnu Kamali
  • Avatar photo Khalilurrahman
  • Avatar photo Khoirul Anwar
  • Avatar photo Mentari Wahyudihati
  • Avatar photo Misbah
  • Avatar photo Muhamad Ridwan
  • Avatar photo Muhamad Iqbal
  • Avatar photo Nia Chasanah
  • Avatar photo Novritsar Hasintongan Pakpahan
  • Avatar photo Nugraha Wisnu Wijaya
  • Avatar photo Raden Anggara Kurniawan
  • Avatar photo Rahimulhuda Rizki Alwi
  • Avatar photo Rahmad Ramadhan Hasibuan
  • Avatar photo Ranggi Adiwangsa Yusron
  • Avatar photo Muhammad Rijaldy Alwy
  • Avatar photo Rohim
  • Avatar photo Romi Hardhika
  • Avatar photo Samsul Zakaria
  • Avatar photo Satria Perdana
  • Avatar photo Siti Anis
  • Avatar photo Tri Cahya Indra Permana
  • Avatar photo Wilmar Ibni Rusydan
  • Avatar photo Yudhi Reksa Perdana
  • Avatar photo Abdul Ghani
  • Avatar photo Ach. Jufri
  • Avatar photo Achmad Cholil
  • Avatar photo Afif Muchshon
  • Avatar photo Agus Suharsono
  • Avatar photo Ahmad Efendi
  • Avatar photo Ahmad Hodri
  • Avatar photo Ahmad Rizza Habibi
  • Avatar photo Aidil Akbar
  • Avatar photo Alep Priyoambodo
  • Avatar photo Alfajar Nugraha
  • Avatar photo Andi Amirah Humairah Ya'kub
  • Avatar photo Anderson Peruzzi Simanjuntak
  • Avatar photo Andhika Prayoga
  • Avatar photo Andi Muhammad Galib
  • Avatar photo Andi Aswandi Tashar
  • Avatar photo Andrie Gunawan
  • Avatar photo Anggiyansyah Nurmanta
  • Avatar photo Anna Yulina
  • Avatar photo Annisa Nur Alam
  • Avatar photo Arga Febrian
  • Avatar photo Arief Sapto Nugroho
  • Avatar photo Mayor Chk Arif Dwi Prasetyo
  • Avatar photo Aryaniek Andayani
  • Avatar photo Bella Puspitawati
  • Avatar photo Bellina Gamelia Sembiring Kembaren
  • Avatar photo Bilma Diffika
  • Avatar photo Bony Daniel
  • Avatar photo Budi Hermanto
  • Avatar photo Budi Suhariyanto
  • Avatar photo Chandra
  • Avatar photo Christopher Hutapea
  • Avatar photo Daniel H. Napitupulu
  • Avatar photo Daniel Saputra
  • Dedi Wigandi
  • Avatar photo Djoni Witanto
  • Avatar photo Effendi Mukhtar
  • Avatar photo Egia Rasido Tarigan
  • Avatar photo Eka Sentausa
  • Avatar photo Enos Syahputra Sipahutar, S.H., M.H.
  • Avatar photo Dr. Fahmiron
  • Avatar photo Fahri Bachmid
  • Avatar photo Fahri Gunawan Siagian
  • Avatar photo Fahri Soleh
  • Avatar photo Fakhir Tashin Baaj
  • Avatar photo Farhan Al Faris
  • Avatar photo Fatkul Mujib, S.H.I., M.H.
  • Avatar photo Dr. Fauziati, S.Ag., M.Ag
  • Avatar photo Febriansyah Rozarius
  • Avatar photo Friska Ariesta Aritedi
  • Avatar photo Gineng Pratidina
  • Avatar photo Hanry Ichfan Adityo
  • Avatar photo Peltu Hartono
  • Avatar photo Hastuti
  • Avatar photo Hendro Yatmoko
  • Avatar photo Ibnu Abas Ali
  • Avatar photo Ida Masnita Sigalingging
  • Avatar photo I Made Sukadana
  • Indra Tua Hasangapon Harahap
  • Avatar photo Ira Soniawati
  • Avatar photo Irfan Dibar
  • Avatar photo Muhammad Irfansyah
  • Avatar photo Letkol Kum Irwan Tasri, S.H., M.H., M.Han.
  • Avatar photo Iwan Lamganda Manalu
  • Avatar photo Jerymia Seky Tanaem
  • Avatar photo Jimmy Maruli Alfian
  • Avatar photo Jusran Ipandi
  • Avatar photo Khaimi
  • Avatar photo Khoerul Umam
  • Avatar photo Linora Rohayu
  • Avatar photo Made Passek Reza Swandira
  • Avatar photo Marta Satria Putra
  • Avatar photo Marwan Ibrahim Piinga
  • Avatar photo Marwanto
  • Avatar photo Marzha Tweedo Dikky Paraanugrah
  • Avatar photo Maulia Martwenty Ine
  • Avatar photo Mira Maulidar
  • Avatar photo Misbahul Anwar
  • Avatar photo Muhamad Ilham Azizul Haq
  • Avatar photo Muhamad Saptari
  • Avatar photo Muhammad Fadllullah
  • Avatar photo Muhammad Muhyi Arrasyid, S.Psi.
  • Avatar photo Muhammad Bagus Tri Prasetyo
  • Avatar photo Muhammad Yusuf
  • Avatar photo Murdian
  • Avatar photo Nadia Yurisa Adila
  • Avatar photo Nisrina Irbah Sati
  • Avatar photo Letkol CHK Nur Sakdi, S.H, M.H.
  • Avatar photo Nur Latifah Hanum
  • Avatar photo Pandu Pradana Wicaksono, S.H.
  • Avatar photo Piput Milandsari
  • Avatar photo Pita Permatasari
  • Avatar photo H .A.S Pudjoharsoyo
  • Avatar photo Putri Pebrianti
  • Avatar photo R. Deddy Harryanto
  • Avatar photo Radityo Muhammad Harseno
  • Avatar photo Rahmi Fattah
  • Avatar photo Randy Viyatadhika
  • Avatar photo Ratih Gumilang
  • Avatar photo Reindra Jasper H. Sinaga, S.H. Hakim Pengadilan Negeri Tanjung Balai Karimun
  • Avatar photo Peltu Ricko Rikardo, S.H
  • Avatar photo Muh Ridha Hakim
  • Avatar photo Rifqi Qowiyul Iman
  • Avatar photo Rizal Abdurrahman
  • Avatar photo Penulis adalah Filsuf - Analis Politik dan Kebangsaan
  • Avatar photo Rudi Hartoyo
  • Avatar photo Sandro Imanuel Sijabat
  • Avatar photo Sbong Sinarok Martin, S.H., M.H.
  • Avatar photo Selexta Apriliani
  • Avatar photo Septia Putri Riko
  • Avatar photo Septriono Situmorang
  • Avatar photo Slamet Turhamun
  • Avatar photo Sobandi
  • Avatar photo Sri Nurmina Sari
  • Avatar photo Stefanus Dwi Putra Medisa
  • Avatar photo Subiyatno
  • Avatar photo Sugiri Wiryandono
  • Avatar photo Teddy Lahati
  • Avatar photo Tri Baginda Kaisar Abdul Gafur
  • Avatar photo Urif Syarifudin
  • Avatar photo Wanda Rara Farezha,S.H.
  • Avatar photo Wienda Kresnantyo
  • Avatar photo Willsa Suharyadi
  • Avatar photo Wisnu Indradi
  • Avatar photo Wiwid Ariyanto
  • Avatar photo Yoshelsa Wardhana
  • Avatar photo Yukiatiqa Afifah
Lihat semua kontributor →

Type above and press Enter to search. Press Esc to cancel.